1,720,975 research outputs found
Implementasi Pembangunan Desa Wisata Batik Desa Babagan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembangunan desa wisata batik Desa Babagan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang dengan fokus penelitian (1) proses pembangunan desa wisata batik, (2) wujud partisipasi dalam pembangunan, (3) faktor pendukung dan penghambat, dan (4) dampak dari pembangunan desa wisata batik.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subyek penelitian adalah pengrajin batik dan kepala desa, sedangkan sebagai informan adalah pembatik, tokoh masyarakat, ketua dewan kerajinan nasional daerah (dekranasda), dan CEO BNI. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Keabsahan data hasil penelitian menggunakan teknik triangulasi sumber, metode dan teori. Teknik analisis data melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
Hasil penelitian adalah sebagai berikut. (1) Proses pembangunan dari perencanaan telah adanya aktivitas membatik di Desa Babagan yang dike lola oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang didukung dengan kontribusi besar oleh pihak BNI melalui program CSR -nya. Pelaksanaan pembangunan terciptanya interaksi antara pengrajin dan pembatik yang terjalin hubungan patron-klien, struktur sosialnya me nunjukkan hubungan kebergantungan, terbentuknya jalinan kerjasama antar pengrajin batik dengan memanfaatkan showroom batik, terjadinya aktivitas kewirausahaan sosial dan masyarakat Desa Babagan dapat dikatakan sebagai masyarakat wirausaha. (2) Wujud partisipasi bersumber dari masyarakat lokal dalam bentuk materi, ide dan tenaga. Sedangkan partisipasi sistem sosial di luar masyarakat bersumber dari pemerintah daerah, pihak BNI, masyarakat secara umum dan Metro TV. (3) Faktor pendukung internal berupa daya dukung fisik dan akses yang representatif, daya dukung sosial, budaya, dan ekonomi. Faktor pendukung eksternal berupa regulasi pemakaian pakaian batik, fasilitas pameran, pelibatan pengrajin batik dalam beberapa kegiatan batik, adanya hari batik nasion al, dan UNESCO yang telah menetapkan batik sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Faktor penghambat internal berupa kondisi fluktuatif permintaan batik, tidak semua warga setempat bisa membatik, kelemahan akses modal dalam jumlah besar, rendahnya motivasi anak muda dalam berwirausaha dan belum optimalnya pokdarwis. (4) Dampak secara fisik adanya peningkatan infrastruktur penunjang desa wisata batik seperti gapura desa, showroom, toko- toko batik, plang-plang petunjuk arah pengrajin batik beserta pla ng keterangan lain, saluran pembuangan limbah batik, dan jalan desa yang telah teraspal. Sedangkan dampak nonfisik terdapatnya peningkatan yang terdiri dari segi pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya
ANALISIS STRUKTUR DAN EKO-KRITIK TERHADAP SASTRA LISAN â€WA NDIU-DIUâ€
This study aims to lift the oral literature Wa Ndiu-Diu are feared to be extinct due to the strong currents of globalization and modernism. Problems seen in this study is the narrative structure of oral literature Wa Ndiu-Diu and relationships as well as the function of oral literature with the natural environment. Those problems were analyzed by using the theory of folklore and eko-kritik, using qualitative methods which consist of primary data that every word, dialogue, as well as actions and events experienced figure in oral literature Wa Ndiu-Diu and secondary data that all matters relating to the object of research. These results indicate that the story Wa Ndiu-Diu has a function and a very significant position in Buton. That function is, first, the function of education (paedagogy), educational functions include education of children, and the function of education to parents. Second, the function of beliefs or myths, and third, the function of the ecological balance or nature conservation.Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat sastra lisan Wa Ndiu-Diu yang dikhawatirkan akan mengalami kepunahan disebabkan oleh kuatnya arus globalisasi dan modernisme. Masalah yang dilihat dalam penelitian ini adalah struktur cerita sastra lisan Wa Ndiu-Diu dan hubungan serta fungsi sastra lisan tersebut dengan lingkungan alam. Permasalahan tersebut dianalisis dengan memanfaatkan teori folklore dan ekokritik, menggunakan metode kualitatif. Data terdiri dari data primer yaitu setiap kata kata, dialog, serta tindakan dan kejadian yang dialami tokoh dalam sastra lisan wandiu-diu dan data sekunder yaitu segala hal yang berkaitan dengan objek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa cerita Wa Ndiu-Diu memiliki fungsi yang sangat signifikan pada masyarakat Buton. Fungsi tersebut adalah, pertama, fungsi pendidikan (paedagogy), fungsi pendidikan ini meliputi pendidikan terhadap anak, dan fungsi pendidikan terhadap orang tua. Kedua, fungsi kepercayaan atau mitos, dan ketiga, fungsi keseimbangan ekologi atau pelestarian alam
ANALISIS IMPLEMENTASI 7 PILAR KONSERVASI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG DI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
Konservasi masih cenderung dimaknai oleh banyak warga Unnes dengan perwujudan kampus yang hijau cenderung bersifat absurd pada sistem yang dibangun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, berusaha mendapatkan informasi selengkap mungkin implementasi 7 pilar konservasi UNNES di FIP. Subjek penelitian adalah civitas akademika di FIP. Teknik pengumpulan data memakai wawancara, dokumentasi dan observasi. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menyimpulkan pemahaman civitas akademika FIP terhadap wacara konservasi belum menujukkan sepenuhnya paham secara menyeluruh dari segi konteks makna koseervasi. Menunjukkan bahwa dari pejabat memiliki pemahaman lebih baik dibanding beberapa civitas akademika lain yang ada di FIP, baik itu mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan maupun tenaga teknis lainnya. Implementasi 7 pilar konservasi yang ada di lingkungan FIP masih menonjolkan beberapa pilar dominan saja yaitu arsitektur hijau dan transportasi internal. Pilar nirkertas; konservasi etika, seni dan budaya; kaderisasi konservasi; keanekaragaman hayati; pengelolaan limbah; dan energi bersih menjadi runtutan rensta sekaligus dimasukkan dalam perioritas yang membutuhkan pengembangan besar ke depan. Sedangkan pada faktor penghambat dan pendukung 7 pilar konservasi menempatkan psikologi mental perhatian utama. Komitmen dan partisipasi bersama menjadi tanggung jawab untuk mendukung, menjaga, memantau dan berkoordinasi dalam mewujudkan universitas konservasi yang unggul, sehat dan sejahtera
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN BERBASIS PENDAMPINGAN PADA USAHA BATIK KABUPATEN PATI
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pendampingan pengrajin batik dengan fokus penelitian; tahapan pendampingan, bentuk, strategi dan peran pendamping. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Responden penelitian adalah ketua wisata batik serta dinas koperasi dan UMKM, sebagai informan adalah pengrajin batik. pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan teori. Analisis data melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa pelaksanaan tahapan pendampingan meliputi peningkatan kesadaran, sosialisasi, pelatihan dan evaluasi. Bentuk pendampingan yang dilaksanakan adalah konsultasi dan pembelajaran. Strategi pendampingan berupa pemberian motivasi dan peningkatan potensi, adapun peran pendamping yaitu terdiri dari peran fasilitasi, pembelajaran, dan penghubung kepihak luar. Kesimpulan penelitian yaitu Pelaksanaan pendampingan ini dapat membantu pengrajin batik dalam pengembangan usaha, potensi serta terbentuknya koperasi. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini yaitu pendamping harus memberikan pembelajaran yang variatif serta pengrajin batik harus lebih fokus dan konsisten dalam mengikuti kegiatan pendampinga
Proses Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Pendidikan Kecakapan Kerja Di LKP Inka Kabupaten Wonosobo
Kabupaten Wonosobo terletak di Provinsi Jawa Tengah, merupakan salah satu wilayah yang menghadapi berbagai tantangan, seperti tingkat kemiskinan yang signifikan, tingkat pendidikan yang masih perlu ditingkatkan, dan keterampilan masyarakat yang belum mencukupi untuk berdaya saing dalam sektor usaha dan industri. Tujuan penelitian ini untuk melihat proses pemberdayaan masyarakat melalui program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) di LKP Inka Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa wawancara, dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pemberdayaan masyarakat pada tahap penyadaran yang meliputi kegiatan sosialisasi dan pemberian motivasi untuk meningkatkan pengetahuan awal terkait program dan memotivasi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran mereka, kemudian tahap transformasi kemampuan yang meliputi pelatihan tatabusana level II dengan pemberian teori dan praktik, ketenaga kerjaan dan pendidikan karakter. Selanjutnya tahap peningkatan kemampuan yang dilakukan untuk memperkuat potensi warga belajar yang mengantarkan pada kemandirian, LKP melakukan penyaluran kerja dan magang dengan mitra yang sudah bekerja sama sehingg sekarang warga belajar sudah memiliki pekerjaan
NOVEL STARDUST KARYA NEIL GAIMAN SEBAGAI MONOMYTH
Penelitian ini bertujuan mengkaji proses perjalanan hero yang bernama Tristan dalam novel Stardust karya Neil Gaiman dengan mengaplikasikan metode penelitian bersifat kualitatif dimana data-data diperoleh dari teks, frase, ekspresi-ekspresi dan visualisasi. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa Struktur perjalanan hero mengikuti struktur monomyth yaitu merupakan simbolisasi dari suatu struktur psike manusia yaitu ketika manusia diperhadapkan dengan rintangan-rintangan atau cobaan-cobaan dalam perjalanan hidupnya sebagai suatu fase atau proses agar menusia mencapai kematangan baik mental maupun rohani atau spritualnya. Pada fase Keberangkatan yang dialami adalah 1) Panggilan untuk Bertualang, 2) Penolakan Panggilan, 3) Bantuan Supernatural, 4) Penyeberangan Threshold Pertama. Tetapi fase ke -.5 yaitu simbolisasi Perut Paus tidak dilalui atau dialaminya. Selanjutnya pada fase Inisiasi: tokoh Tristan mengalami semua peristiwa-peristiwa yang ada dalam fase inisiasi yaitu 2) Jalan Uji Coba, 3) Pertemuan dengan Dewi, 4) Wanita sebagai ujian, 5) Atonement with the Father (Penebusan dengan Bapa), 6) Manusia Setengah Dewa Apotheosis) 7) The Ultimate Boon. Dan yang terakhir adalah fase Kembali, dimana tokoh Tristan mengalami peristiwa-peristiwa: 1) Penolakan Pengembalian, 3) Penyelamatan dari Luar, 5) Master of the Two Worlds, 6) Kebebasan untuk Hidup. Kecuali peristiwa Penerbangan Ajaib dan penyeberangan Threshold. Kembali. Perjalanan hero di atas merupakan simbolisasi psike manusia yakni ketika manusia diperhadapkan dengan rintangan dan cobaan-cobaan sebagai proses latihan dari hero untuk mencapai kematangan pribadi baik secara fisik maupun spiritual.Penelitian ini bertujuan mengkaji proses perjalanan hero yang bernama Tristan dalam novel Stardust karya Neil Gaiman dengan mengaplikasikan metode penelitian bersifat kualitatif dimana data-data diperoleh dari teks, frase, ekspresi-ekspresi dan visualisasi. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa Struktur perjalanan hero mengikuti struktur monomyth yaitu merupakan simbolisasi dari suatu struktur psike manusia yaitu ketika manusia diperhadapkan dengan rintangan-rintangan atau cobaan-cobaan dalam perjalanan hidupnya sebagai suatu fase atau proses agar menusia mencapai kematangan baik mental maupun rohani atau spritualnya. Pada fase Keberangkatan yang dialami adalah 1) Panggilan untuk Bertualang, 2) Penolakan Panggilan, 3) Bantuan Supernatural, 4) Penyeberangan Threshold Pertama. Tetapi fase ke -.5 yaitu simbolisasi Perut Paus tidak dilalui atau dialaminya. Selanjutnya pada fase Inisiasi: tokoh Tristan mengalami semua peristiwa-peristiwa yang ada dalam fase inisiasi yaitu 2) Jalan Uji Coba, 3) Pertemuan dengan Dewi, 4) Wanita sebagai ujian, 5) Atonement with the Father (Penebusan dengan Bapa), 6) Manusia Setengah Dewa Apotheosis) 7) The Ultimate Boon. Dan yang terakhir adalah fase Kembali, dimana tokoh Tristan mengalami peristiwa-peristiwa: 1) Penolakan Pengembalian, 3) Penyelamatan dari Luar, 5) Master of the Two Worlds, 6) Kebebasan untuk Hidup. Kecuali peristiwa Penerbangan Ajaib dan penyeberangan Threshold. Kembali. Perjalanan hero di atas merupakan simbolisasi psike manusia yakni ketika manusia diperhadapkan dengan rintangan dan cobaan-cobaan sebagai proses latihan dari hero untuk mencapai kematangan pribadi baik secara fisik maupun spiritual
POSTMODERNISME SEBAGAI PANDANGAN DUNIA DALAM NOVEL LITTLE WHITE HORSE KARYA ELIZABETH GOUDGE
This paper is an output of Penelitian Dosen Muda PDP entitled Pandangan Dunia Elizabeth Goudge dalam Novel Little White Horse. This research used genetic structuralism point of view where the postmodernism is involved to be the worldview of this novel, since genetic structuralism requires a philosophical point of view to be the companion of its concept. In this case, postmodernism appears to be the worldview of this novel. Since fantasy literature always be treated as merely the popular culture product, then the study about them never involve the spirituality and the philosophical thinking. By applying genetic structuralism point of view in this research, the writer could broaden the scope of study about fantasy work. Some aspects namely the struggle of individual subject against the mainstream can be revealed by utilizing the destructuring concept in genetic structuralism. The kind of data is a qualitative descriptive. The data is collected by reading the novel comprehensively to find the data where the theory is required. The analysis is done by using the whole and the part method from genetic structuralism. The result of this research showed that Little White Horse novel is postmodernism in term of form and ideology. The form of Little White Horse is a collaboration between the contentism and the Coterie fiction and it took Whiteheadian postmodernism as its worldview. Whiteheadian postmodernism concept consists of the immanence of God and the interspecies relationship. This ideology is a result of the destructuring and restructuring of the trans-individual subject integrated in Romantic Novel Association (RNA) where Goudge is involved in opposing the secular and the destructive of modern point of view.
Key words: wordview, genetic structuralism, transindividual subject, postmodernismTulisan ini merupakan luaran dari Penelitian Dosen Pemula (PDP) dengan judul “Pandangan Dunia Elizabeth Goudge dalam Novel Little White Horseâ€. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strukturalisme genetik dan postmodernisme whiteheadian. Dipilihnya dua teori ini karena beberapa alasan; diantaranya adalah untuk melepaskan karya-karya fantasi dari perangkap budaya popular kemudian merambah sisi religiusitas dan filosofisnya serta mengungkapkan sejarah pergulatan subyek kolektif melawan rezim kemapanan dengan menggunakan strategi destrukturasi yang terdapat dalam strukturalisme genetik. Alasan lainnya adalah untuk meluruskan kesalahpahaman dalam pemetaan terhadap strukturalisme genetik itu sendiri utamanya dalam posisinya terhadap postmodernisme. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Metode analisis data memanfaatkan metode keseluruhan-bagian dan bagian keseluruhan yang dirumuskan oleh Goldmann dimana di dalamnya postmodernisme sebagai bentuk dan pandangan dunia karya sastra dapat dielaborasikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa novel Little White Horse memiliki bentuk dan pandangan dunia yang bersifat postmodernis. Bentuk novel Little White Horse perpaduan antara contentism dan coterie fiction, sedangkan pandangan dunianya mengusung filsafat postmodernisme Whiteheadian dimana terdapat imanensi Tuhan dan persaudaraan lintas spesies. Hal ini merupakan hasil destruktrukturasi dan strukturasi dari subjek transindividual yang tergabung dalam Romantic Novel Association (RNA) terhadap pandangan dunia modern yang dianggap bersifat sekuler dan destruktif. RNA adalah kelompok penulis yang di dalamnya Elizabeth Goudge sebagai pengarang Novel Little White Horse tergabung.
Kata kunci:, pandangan dunia, strukturalisme genetik, transindividual, postmodernism
The Portrait of Villain in Horror Movie Await Further Instructions
This research aims to describe the portrait of the villain in the horror movie Await Further Instructions with a formulaic approach by J. G. Cawelti to provide an overview of movie development, especially the villain elements in horror movies. The descriptive-qualitative method was used in this research. This research found four villain elements that are the same as horror villains in general (convention) and two different elements of villain (invention) that depict new sources of fear, such as motive antagonist (constructed by the media) and iconic symbol (mass media). The researcher concluded that in the horror movie Await Further Instructions, there is development in the elements of the villain that depict or represent people today being more afraid of mass media power than supernatural or unexplainable powers, such as ghosts, aliens, monsters, serial killers, and others
Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Program Kursus Komputer Bebas Biaya
This study aims to describe the marketing strategy of the Mizz@comp course and training institute in attracting community participation, the forms of community participation and the factors that influence community participation in organizing free computer course programs. The research design in this research is descriptive qualitative. The results obtained in this study were that LKP Mizz@comp carried out four marketing strategies, namely market segmentation, market targeting, positioning and marketing mix. The forms of community participation in organizing computer courses are that the community does not actively participate in planning, but the community actively participates in implementing and utilizing the results. Factors that influence community participation are internal factors, the desire of course participants, age, gender, level of education, and income level. While the external factors are the intensity of socialization, support from the government and the activeness of the facilitators
Implementasi Pendidikan Kecakapan Hidup Multimedia Di Pkbm Bakti Indonesia
Changes in the world of work from time to time must always be followed by the development of education. The development of education can essentially meet the expectations of the world of work as a provider of labor that has good knowledge, skills and personality. Meanwhile, education graduates are expected to be able to fill available job opportunities with their abilities. This condition is very different from what exists in the field. PKBM Bakti Indonesia is present to develop the potential of learning citizens by providing knowledge and skills of life skills education as well as developing attitudes and skills that they can apply in future life with mastery of multimedia technology. This research design uses descriptive qualitative which means to describe events or events that are happening. The problems in this study were formulated more specifically in order to focus on the research objectives. The results of the study when viewed with the CIPOO (Context, Input, Process, Output, Outcome) approach show that it has been running well, this is indicated by an increase in program graduates who are directly employed. PKBM Bakti Indonesia succeeded in developing the potential of graduates by providing knowledge and skills of life skills education and attitude development. PKBM Bakti Indonesia is a non-formal education institution that has a multimedia life skills program that directly graduates quality graduates who are independent and competitive
- …
