1,720,964 research outputs found

    Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi di MTs Almaarif 02 Singosari Malang

    No full text
    ABSTRAK Pengajaran ekonomi berfungsi untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menelaah dan menilai peristiwa dan masalah ekonomi. Namun pembelajaran pada mata pelajaran ekonomi yang ada di sekolah saat ini masih kurang menarik bagi siswa. Dalam penelitian ini terdapat dua rumusan masalah yaitu:l. Fakror yang mempengaruhi kesulitan belajr siswa pada mata pelajaran ekonomi dan 2. Upayah guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa. Berpijak dari rumusan masalah diatas perlu mengadakan penelitain mengenai ،،Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa. Adapun tujuan penelitian ini yaitu bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa pada mata pelajam ekonomi serta uapaya guru dalam mengatasi kesuliatn belajar siswa. Penelitia ini menggunakan metode kuantitatif, dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif, sedangkan dalam pengumpulan data digunakan metode Observasi, metode angket, Metode Interview, Metode Dokumentasi. Dan untuk mengelolah data yang terkumpul penulis menggunakan analisis deskriptif dan diperkuat dengan perhitugan prosentase dengan Rumus Sebagai berikut: Dari analisis tersebut diatas, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa dapat dilihat dari faktor Internal: Minat Belajar Ekonomi, Persepsi Terhadap Bahan pelajaran Ekonomi, Cara Belajar siswa, dan Motivasi. Sedangkan faktor eksternal adalah: Cara guru mengajar, Ketersediaan buku-buku pelajaran,- Hubugan guru dan siswa, Situasi sekolah. 2. Upaya guru dalam mengatasi kesuliatn belajar siswa, dalam factor Internal dilakukan melalui: 1. Meningkatkan minat belajar siswa untuk Pelajar IPS (Ekonomi) dengan mengaitkan kebutuhan dinamika perekonomian masyarakat sekitar. 2. Mengupayakan dengan membangun persepsi positif dengan belajar ekonomi dengan muda. 3. Cara belajar siswa dihubungkan dengan belajar kelompok atau Tiem Work. 4. Meningkatkan motivasi belajar dengan Reword bagi siswa yang mendapatkan nilai baik, menetapkan standart pencapaian kompetensi belajar. Sedangkan Upaya mengatasi factor Eksternal dilakukan oleh guru: 1. Cara guru mengajar dikembangkan dengan menggunakan metode menagajar berfariasi seperti Actif Learning CTL dan sebagainya 2. Dan dalam mengatasi kesulitan buku dibidang atau dibuku LKS dengan Pengaruh buku ekonomi diperpustakaan

    PAKOM APLIKASICOOPERATIVE LEARNING UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI SMA DAN SMK MUHAMMADIYAH SE-SURAKARTA

    Full text link
    The objective of this community serves is to give a workshop to English teachers using cooperative learning method in particular the techniques of Student Teams Achievement Division (STAD), Team-Games-Tournaments (TGT) andJigsaw STAD. This activity is also to enhance the quality of teachers in language teaching method in the class. Cooperative learning is teaching method using small group which provide students to help each other to discuss and understand lessons given by their teacher. The subject of this activity is English teachers of Muhammadiyah Senior High Schools, and Muhammadiyah Vocational schools in Surakarta. The output of this activity is participants understand and master the techniques that trained to them during the workshop. The teachers perceived that this activity is positive and very beneficial for them. They intended to implement those teaching techniques in their real English classroom

    Pelaksanaan Metode Pembiasaan Melalui Program Shalat Dzuhur Berjamaah Dalam Membentuk Moral Siswa Di MTs Miftahul Huda Tayu

    No full text
    Penelitian ini dilatar belakangi bahwa banyak peserta didik yang ketika dirumah jarang sekali memperhatikan shalatnya, apalagi shalat dzuhur. Selain faktor malas, mereka juga lebih mengedepankan bermainnya daripada sholatnya. Tujuan penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui pelaksanaan metode pembiasaan melalui program shalat dzuhur berjamaah dalam membentuk moral siswa MTs Miftahul Huda Tayu, (2) Untuk mengetahui faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan metode pembiasaan melalui program shalat dzuhur berjamaah dalam membentuk moral siswa MTs Miftahul Huda Tayu. Jenis penelitian ini yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif studi kasus. Subjek penelitian ini yaitu 3 orang guru yang terdiri dari Kepala Madrasah, Waka Kesiswaan dan Koordinator program pembiasaan, serta perwakilan peserta didik kelas VII-IX. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Pelaksanaan metode pembiasaan melalui program shalat dzuhur berjamaah dalam membentuk moral siswa di MTs Miftahul Huda Tayu pelaksanaan shalat dzuhur berjamaahnyaterpantau langsung oleh bapak dan ibu guru MTs Miftahul Huda Tayu, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan baik dan tertib. Bagi para peserta didik yang melanggar atau tidak mengikuti program tersebut, maka akan dikenai sanksi yaitu dengan melaksanakan shalat seketika itu juga dihadapan bapak dan ibu guru, serta menghafal surat-surat pendek. (2). Faktor pendorong dan penghambat Pelaksanaan metode pembiasaan melalui program shalat dzuhur berjamaah dalam membentuk moral siswa di MTs Miftahul Huda yaitu adanya faktor dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti kesadaran diri peserta didik untuk selalu melaksanakan program shalat dzuhur berjamaah. Faktor lingkungan madrasah, seperti bapak dan ibu guru MTs Miftahul Huda Tayu sangat berperan dalam pelaksanaan program tersebut. Faktor lingkungan keluarga, seperti banyak keluarga yang kurang memperhatikan putra-putrinya ketika dirumah untuk melaksanakan ibadah shalat. Faktor alam, seperti adanya hujan dan juga kekeringan

    ORAL ENGLISH PROFICIENCY: OBSTACLES AND SOLUTION FOR UNIVERSITY STUDENTS ON MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF SURAKARTA

    No full text
    The objectives of this study are to describe the obstacles in oral English proficiency and to describe the ways in overcoming the obstacles. The respondents were university students of English Department of Teacher Training and Education of Muhammadiyah University of Surakarta Indonesia. The samples consist of 31 male students and 42 female students. The instruments used to collect were questionnaire, in depth interview and class observation. This study used qualitative descriptive analysis. The results showed that obstacles that came from cognitive factors were the lack of vocabularies, grammar mastery, and pronunciation problems. From affective factors were anxiety, fear, shame, and lack of confidence. The obstacles in speaking English came from the students’ negative perception that speaking English was difficult, and the students’ laziness, they rarely practiced speaking English and the environment was not conducive. The solutions to solve the problems in practicing speaking English, for male and female students were improving vocabularies regularly, practicing speaking English independently, listening Western songs, watching English movies, practicing speaking English with each other or foreigners, reading English novels, English newspapers or English magazines, taking English course, and writing diary. The findings contribute to an understanding of obstacles and solutions of male and female students in speaking English in Indonesian context. Keywords: oral English proficiency, obstacle

    STATUS HUKUM HARTA WAKAF DI KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NO. 41 TAHUN 2004

    Full text link
    Skripsi ini dengan menggunakan penelitian lapangan (field research). Tujuan dari skripsi ini adalah untuk menjelaskan tentang status hukum harta wakaf di Kecamatan Sayung Kabupaten Demak dalam perspektif Undang-Undang No. 41 tahun 2004. Sedangkan yang dimaksud dengan status hukum di sini adalah pencatatan dan pendaftaran tanah wakaf. Dalam UU No. 41 Tahun 2004 pasal 17 sudah dijelaskna bahwa tanah yang sudah diwakafkan harus diikrarkan. Setelah dilaksanakannya pengikraran, maka harus melaksanakan Pembuatan Akta Ikrar Wakaf yang dijelaskan dalam UU No. 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU N0. 41 Tahun 2004 terdapat dalam pasal 28. Sedangkan dalam pendaftaran sertifikat tanah wakaf dijelaskan dalam UU No. 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU No. 41 tahun 2004 dalam pasal 39. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa status hukum harta wakaf itu sangat penting. Jika tanah yang sudah diwakafkan namun belum diikrarkan ataupun belum didaftarkan maka tidak akan mempunyai kekuatan hukum yang jelas, dan jika suatu saat terjadi persengketaan maka tidak mempunyai bukti otentik untuk dapat membuktikannya. Oleh karena itu, tanah wakaf yang sudah melaksanakan sesuai dengan Undang-Undang di atas, maka akan mempunyai status hukum yang jelas dan juga mempunyai yang jelas. Guna untuk mengatisipasi terjadi adanya persengketaan. Kata Kunci : Status Hukum, Harta Wakaf, Undang-Undang No. 41 tahun 200

    English Online Learning in the Age of Global Pandemic: How Do Teachers and Students Feel?

    No full text
    Numerous researchers examine teachers' and students’ experiences in online learning at the college level. But there are a few sources that explore the implementation of English online classes at a Vocational high level. This issue is highly needed since the theory and researches dealing with this topic at this level still rare. The present study aims to close the gap by investigating the implementation of English online classes. The participants were six female English teachers and one hundred and seventy students at one state vocational high school in Central Java, Indonesia. The current research analyzes not only numerical data but also narrative data, which is customary for qualitative research to address the research questions. The instruments use questionnaires and a semi-structured interview. The overall results revealed that technology could help both teachers and students in conducting teaching and learning activities, even though some constraints such as limited data plan, network difficulties, and lack of teacher-students engagement. Furthermore, understanding materials became top rank challenged for participants during the online class. The current study contributes theoretical and practical benefits to improve the implementation of online learning in the age of global pandemics.

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    The Process and Problems of EFL Learners in English Writing

    Full text link
    The objectives of the study were to investigate the process of English writing from students of undergraduate international class, to describe problems faced by students in writing English, and to find out the factors which inhibit and improve their writing skills. There were six female respondents in international class. The study used documentation from the students’ work, open-ended questionnaire and interview as the instruments for data gathering. All the data were analyzed by using descriptive qualitative approach. The results of this study showed that all students used four stages in the process of English writing: planning, drafting, editing and final revision. The students’ English writing problems covered content, organization, vocabulary, language use and mechanic. The factors which inhibit them in writing English included not being confident in writing English, not mastering grammar and vocabulary, and lack of practice in writing. The aspects which encourage them to write English were due to the demands as international class students, watching English movie, reading English books or journals, listening English songs and having ambition to acquire scholarship overseas.&nbsp
    corecore