124,070 research outputs found
Cloning and expression of the metE gene in Escherichia coli
A −transducing phage was isolated that contains the metE gene. This gene codes for N5−methyl−H4−folate:homocysteine methyltransferase (EC 2.1.1.14), an enzyme that catalyzes the terminal reaction in methionine biosynthesis. A 9.1−kb EcoR1 fragment of this phage, containing the metE gene, was then cloned into pBR325. This plasmid, pJ19, was used to transform Escherichia coli strain 2276, a metE mutant, and restore the MetE+ phenotype. Although the transformed cells produced large amounts of the metE protein in vivo, in vitro studies using pJ19 as template showed low synthesis of the metE protei
Metilasi Minyak Kulit Biji Mete dengan Pelarut n-Heksana dan Benzena menggunakan Dimetil Sulfat
ABSTRAK Wahda, M. Ikrom. Bahril. 2012. Metilasi Minyak Kulit Biji Mete dengan Pelarut n-Heksana dan Benzena menggunakan Dimetil Sulfat. Skripsi. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Siti Marfu’ah, M.S,(II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si Kata kunci : minyak kulit biji mete, asam anakardat, metilasi, n-heksana, benzena Asam anakardat dan turunan metilnya bersifat sitotoksik terhadap sel leukemia L1210. Sitotoksisitas asam anakardat dan turunan metilnya berhubungan dengan kepolarannya. Semakin non polar maka semakin toksik senyawa tersebut. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan metilasi asam anakardat dengan pelarut benzena, yang memiliki kelemahan karena benzena bersifat karsinogen. Dengan alasan tersebut maka dilakukan penelitian yakni metilasi menggunakan pelarut yang lebih aman antara lain n-heksana. Metilasi asam anakardat menggunakan dimetil sulfat bertujuan untuk menghasilkan senyawa yang lebih non polar dari asam anakardat. Untuk mengetahui keefektifannya maka metilasi dilakukan dengan dua pelarut yang berbeda yakni menggunakan n-heksana dan benzena. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Tahapan- tahapan dalam penelitian yang dilakukan adalah: (1) isolasi minyak kulit biji mete dari kulit biji mete, (2) Pembentukan kalium anakardat hasil reaksi asam anakardat dengan kalium karbonat, (3) Metilasi minyak kulit biji mete dalam n-heksana maupun dalam benzena, (4) Analisis dan pemisahan senyawa hasil metilasi, (5) Identifikasi dan karakterisasi senyawa hasil metilasi minyak kulit biji mete. Untuk mengetahui struktur senyawa yang dihasilkan, dilakukan identifikasi lebih lanjut dengan menggunakan spektroskopi IR di laboratorium kimia organik FMIPA UB dan 1H-NMR di laboratorium kimia organik UNAIR Surabaya. Hasil analisis dengan eluen n-heksana-dietil eter-asam format (70:30:2) pada senyawa hasil metilasi, baik menggunakan pelarut n-heksana maupun benzena menghasilkan produk yang sama, yaitu ester metil anakardat. Hasil identifikasi dengan menggunakan spektrofotometri IR dan 1H-NMR menunjukkan bahwa senyawa tersebut adalah ester metil anakardat. Pada metilasi dengan menggunakan pelarut n-heksana dihasilkan ester metil anakardat yang lebih sedikit, yakni 0,20 gram dalam 0,60 gram campuran hasil reaksi, sedangkan dengan pelarut benzena diperoleh ester metil anakardat sebanyak 0,25 gram. Namun demikian, penggunaan n-heksana lebih aman karena tidak bersifat karsinogenik
Analisis Pemasaran Jambu Mete di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara
Muna adalah sentra produksi utama jambu mete di provinsi Sulawesi Tenggara . Perkebunan jambu mete di Muna memiliki masalah kualitas seperti produksi yang rendah, pendapatan rendah dan sistem pemasaran yang tidak efisien . Posisi tawar petani lemah karena petani tidak memiliki informasi yang dapat digunakan sebagai harga referensi. Harga ditentukan oleh pedagang jambu mete yang mengakibatkan rendahnya harga jual di tingkat petani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strukur pasar, perilaku pasar dan kinerja pasar jambu mete di Kabupaten Muna. Struktur pasar dianalisis dengan Herfindahl Hirchman Index (HHI). Perilaku pasar digambarkan secara deskriptif sedangkan kinerja pasar dianalisis dengan margin pemasaran, pangsa pasar petani dan integrasi vertikal. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan purpossive yang dilakukan di sentra produksi jambu mete di Kabupaten Muna yakni Kecamatan Tongkuno dan Kecamatan Kabawo dimulai bulan Juli 2013 sampai September 2013 Lembaga pemasaran yang dianalisis adalah petani, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan dan pedagang antar pulau (grosir di tingkat kabupaten). Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur pasar jambu mete merupakan struktur pasar oligopsoni yang mengakibatkan terjadi kolusi antara pedagang dan industri pengolahan jambu mete. Hasil analisis kinerja pasar menunjukkan bahwa pasar petani tidak terintegrasi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa petani jambu mete adalah penerima harga
Perbaikan Proses Pengolahan dan Mutu Kacang Mete: Studi Kasus di Madura, Jawa Timur
Proses pengolahan kacang mete yang saat ini dilakukan petani, khususnya di Madura, menghasilkan produk dengan mutu tergolong rendah (hasil kacang mete utuh 60-75%, warna kusam, kadar air lebih dari 5%, dan kurang higienis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan teknis perbaikan proses pengolahan dan mutu kacang mete yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur pada bulan Oktober sampai Desember 2005. Perbaikan proses pengolahan dilakukan terutama pada tahap persiapan (introduksi proses pengukusan), pengupasan gelondong (introduksi kacip MM-99), dan pengeringan kacang mete berkulit ari (introduksi pengering buatan tipe rak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa introduksi proses pengukusan dapat meningkatkan hasil kacang mete bertesta utuh 24,73%. Kacip MM-99 dapat dioperasikan operator pemula dengan kapasitas pengupasan (23,92 kg/hari) relatif lebih tinggi dibanding kapasitas rata-rata di negara-negara produsen kacang mete (21 kg/hari), dan hasil kacang mete bertesta (berkulit ari) utuh yang tinggi (90,64%). Pengeringan menggunakan pengering tipe rak selama 4 jam menghasilkan kacang mete ose (tanpa kulit ari) berkadar air 4,86%. Proporsi kacang mete ose yang dihasilkan 80-88% dengan penampakan lebih cerah (nilai L 14,51% lebih tinggi, indeks pencokelatan 24,47% lebih rendah) dan bersih dibanding produk lokal. Secara umum produk tersebut memenuhi syarat mutu I Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan karakteristik proksimat sesuai standar Food and Agriculture Organization (FAO). Dengan demikian, perbaikan proses yang dilakukan dapat memperbaiki mutu produk dan secara teknis layak dikembangkan, khususnya di Madura
PEMANFAATAN LIMBAH BUAH JAMBU METE UNTUK PUPUK ORGANIK
Bisnis pupuk organik merupakan salah satu bisnis yang mempunyai pangsa
pasar yang meyakinkan.Tingginya kebutuhan pupuk serta kenaikan harga eceran
tertinggi pupuk kimia menjadi peluang bagi pupuk organik sebagai pupuk
alternatif.selain itu kondisi tanah semakin menurun dan rendah kandungan bahan
organik (BO) dalam tanah sehingga menurunkan produksi.Di sisi lain makin
mahal dan langkahnya harga pupuk dan pestisida,sehingga banyak petani yang
mengeluh dan gundah dengan kondisi demikian.Dengan peluang ini kami ingin
menciptakan sebuah usaha bisnis pupuk organik dengan bahan utama limbah kulit
mete.
Pupuk limbah kulit mete merupakan sebuah pupuk organik yang
mengambil limbah kulit mete sebagai bahan baku utama.pupuk limbah kulit mete
memberikan variasi menarik bagi masyarakat,apalagi selama ini belum banyak
yang menggunakan limbah kulit mete sebagai pupuk organik.padahal jika diolah
lebih lanjut akan menjadi peluang usaha yang besar.
Kadar vitamin C nya cukup tinggi, yaitu ( 147 – 372 mgr/ 100 gr ) kira –
kira 5 kali vitamin C buah jeruk. Selain itu juga mengandung cukup vitamin B1,
B2 dan niasin. Kandungan mineralnya terutama unsur P terdapat dalam jumlah
yang cukup., juga buahnya mengadung karbohidrat yang sebagian besar terdiri
dari gula reduksi ( 6,7 – 10,6 % ) dan pektin serta bersifat Juicy karena banyak
mengandung air.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan BPPT Bali, pemberian pakan
limbah mete terfermentasi bisa meningkatkan bobot ternak secara signifikan. Dari
nilai ekonomisnya, pemberian pakan tersebut bisa memberikan keuntungan
sebesar Rp. 32 ribu per 12 minggu atau sebesar Rp. 11 ribu per bulannya untuk
setiap ekor kambing jika dibandingkan dengan pemeliharaan secara tradisional.
Hasil kajian penggunaan pupuk organik dari limbah kulit mete 2 ton/ha tanpa
menggunakan pupuk nitrogen (N) dan hanya menambahkan sebagian pupuk P dan
K pada tanaman jagung varietas Bima-3 dan Sukmaraga dapat menghasilkan ratarata produktivitas 5,6 ton/ha.
Produk pupuk limbah kulit mete merupakan sebuah usaha dengan peluang
bisnis yang jelas.karena belum banyak orang yang mengetahui kegunaan limbah
kulit mete ini khususnya di wilayah solo.Dengan melihat manfaat dan peluang
usaha ini tentunya produk pupuk dari limbah kulit mete ini akan menjadi bisnis
yang menjanjikan
Rancang Bangun Mesin Pengupas Biji Mete (Anacardium Occidentale) Menggunakan Sistem Pneumatik
Kacang mete adalah salah satu komoditas yang digunakan untuk pembuatan beberapa macam bahan baku makanan. Untuk menghasilkan kacang mete, terlebih dahulu harus mengupas biji mete, dari dulu pengupasan ini dilakukan dengan menggunakan alat yang dinamakan kacip yaitu alat yang masih tradisional dan penggunaannya sendiri masih dalam skala produksi kecil. Dengan menggunakan kacip dalam proses pengupasannya sebelumnya dapat menghasilkan 4 kg/jam. Maka untuk meningkatkan produktifitas, merancang mesin pengupas biji mete menggunakan sistem pneumatik. Metode perancangan yang dilakukan yaitu mencari referensi, membuat sketsa gambar, perhitungan gaya tekan pada mete, perhitungan pada poros, perhitungan diameter silinder, pembuatan komponen, perakitan komponen, pengujian mesin, dan spesifikasi mesin. Dengan menggunakan mesin ini diharapkan pengupasan biji mete dapat dilakukan secara otomatis. Dari hasil pengujian mesin pengupas biji mete didapatkan spesifikasi, panjang 670 mm, lebar 500 mm, tinggi 600 mm, tekanan kompresor 8 bar, gaya tekan mete 24 N, dan kapasitas mesin 6 kg/jam
Vitamin B12-auxotrophy in dinoflagellates caused by incomplete or absent cobalamin-independent methionine synthase genes (metE)
Dinoflagellates are responsible for most marine harmful algal blooms (HABs) and play vital roles in many ocean processes. More than 90% of dinoflagellates are vitamin B12 auxotrophs and that B12 availability can control dinoflagellate HABs, yet the genetic basis of B12 auxotrophy in dinoflagellates in the framework of the ecology of dinoflagellates and particularly HABs, which was the objective of this work. Here, we investigated the presence, phylogeny, and transcription of two methionine synthase genes (B12-dependent metH and B12-independent metE) via searching and assembling transcripts and genes from transcriptomic and genomic databases, cloning 38 cDNA isoforms of the two genes from 14 strains of dinoflagellates, measuring the expression at different scenarios of B12, and comprehensive phylogenetic analyses of more than 100 organisms. We found that 1) metH was present in all 58 dinoflagellates accessible and metE was present in 40 of 58 species, 2) all metE genes lacked N-terminal domains, 3) metE of dinoflagellates were phylogenetically distinct from other known metE genes, and 4) expression of metH in dinoflagellates was responsive to exogenous B12 levels while expression of metE was not responding as that of genuine metE genes. We conclude that most, hypothetically all, dinoflagellates have either non-functional metE genes lacking N-terminal domain for most species, or do not possess metE for other species, which provides the genetic basis for the widespread nature of B12 auxotrophy in dinoflagellates. The work elucidated a fundamental aspect of the nutritional ecology of dinoflagellates
Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Bahan Penstabil terhadap Mutu Selai Kacang Mete
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh jenis dan konsentrasi penstabil terhadap mutu, serta kelayakan usaha selai kacang mete. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RAF), 2 faktor, yaitu: (a) jenis penstabil, yaitu: Span 80 (a1) dan Span 80+Tween 80 (a2); dan (b) konsentrasi penstabil, yaitu 0,5%(b1), 1%(b2), dan 1,5%(b3), dengan 4 kali ulangan. Mutu selai kacang mete yang diuji meliputi: parameter kimia, yaitu kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein dan karbohidrat; parameter fisik, yaitu kekentalan (viskositas); dan parameter organoleptik yaitu uji rasa, warna, aroma dan keseluruhan. Teknoekonomi produk selai kacang mete yang dianalisis dalam penelitian ini, meliputi Break even point (BEP), Payback Period, Return on Invesment (ROI), Benefit Cost ratio (B/C), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan konsentrasi bahan penstabil serta interaksi kedua variabel berpengaruh nyata terhadap kadar lemak selai kacang mete. Kadar air selai kacang mete dipengaruhi oleh jenis penstabil yang digunakan. Konsentrasi bahan penstabil berpengaruh terhadap kadar protein, kadar karbohidrat, viskositas, rasa, warna, aroma dan atribut keseluruhan dari selai kacang mete. Penambahan penstabil Span 80+Tween 80 dengan konsentrasi 1 % (a2b2) memberikan selai kacang mete dengan mutu terbaik. Hasil analisis teknoekonomi menunjukkan usaha selai kacang mete layak untuk dijalankan
Optimasi Formula dan Karakterisasi Produk Cookies Berbahan Dasar Pasta Kacang Mete (Anacardium Occidentale L)
Kacang mete merupakan salah satu komoditas potensial dengan kandungan gizi yang baik dan dapat diolah menjadi aneka produk turunannya. Kacang mete dapat diolah menjadi pasta dan selanjutnya dikembangkan menjadi produk cookies. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh formula yang optimal pada pembuatan cookies berbahan dasar pasta kacang mete dan tepung terigu. Penelitian yang dilakukan meliputi dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan meliputi karakterisasi kacang mete sebelum dan setelah pemanggangan, pembuatan pasta kacang mete, dan penentuan batas atas dan batas bawah untuk penelitian utama melalui uji hedonik. Penelitian utama meliputi optimalisasi formula cookies berbahan dasar pasta kacang mete dan tepung terigu menggunakan program Design Expert 11.0 Metode D-optimal. Berdasarkan analisis dengan program tersebut dihasilkan formula optimal yaitu dengan penggunaan pasta kacang mete sebanyak 12,52% dan tepung terigu sebanyak 23,48% dengan nilai desirability sebesar 0,500. Berdasarkan hasil analisis fisikokimia, mikrobiologi dan organoleptik dapat disimpulkan bahwa formula optimal pada cookies kacang mete telah memenuhi standar mutu berdasarkan SNI 01-2973-2011 mengenai biskuit
EKSTRAKSI MINYAK KULIT BIJI METE DARI LIMBAH KULIT BIJI JAMBU METE (Anacardium occidentale) DENGAN ALAT ULTRASONIC CLEANING BATH
Cashew shell waste can be utilized as a raw material for one of the tile paint and brake oil industries. The conventional extraction process mostly provides less mass transfer, so the extraction process is slow and not maximal. Excessive amounts of solvents are often used but make the process expensive and pollute the environment. The right solution in extracting is with the help of ultrasonic. This study aims to obtain an optimization of cashew oil extraction process using ultrasonic waves with a frequency of 42 kHz. The effect studied was the ratio of cashew powder to n-hexane solvents and extraction time. The surface response method with the design of Central Composite Design was used to obtain a mathematical model that illustrates the relationship between the yield of cashew shell oil to the ratio and time of extraction. The results showed that the optimum condition of cashew nut oil extraction in the comparison composition of cashew skin powder against n-hexane solvent was 1: 3.25 (g / g) for 90 minutes with a yield of 36.15%. Cashew skin oil contains anacardic acid, cardanol, and other phenol compounds.Limbah kulit mete dapat manfaatkan sebagai bahan baku salah satu industri cat genteng dan minyak rem. Proses ekstraksi konvensional sebagian besar kurang memberikan perpindahan massa sehingga proses ekstraksi lambat dan tidak maksimal untuk mendapatkan minyak kulit mete. Pelarut dalam jumlah yang berlebihan sering digunakan namun membuat proses menjadi mahal dan mencemari lingkungan. Solusi yang tepat dalam mengekstraksi yaitu dengan bantuan ultrasonik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan optimasi proses ekstraksi minyak kulit mete dengan mengunakan gelombang ultrasonik dengan fekuensi 42 kHz. Pengaruh yang dipelajari adalah rasio serbuk kulit mete terhadap pelarut n-heksana, dan waktu ekstraksi. Metode permukaan respon dengan rancangan Central Composite Design digunakan untuk memperoleh model matematis yang menggambarkan hubungan antara rendemen minyak kulit mete terhadap rasio dan waktu ekstraksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum ekstraksi minyak kulit mete pada komposisi perbandingan serbuk kulit mete terhadap pelarut n-heksana sebesar 1:3,25 (g/g) selama 90 menit dengan rendemen sebesar 36,15%. Minyak kulit mete mengandung asam anakardat, kardanol, dan senyawa fenol lainnya.Cashew shell waste can be utilized as a raw material for one of the tile paint and brake oil industries. The conventional extraction process mostly provides less mass transfer, so the extraction process is slow and not maximal. Excessive amounts of solvents are often used but make the process expensive and pollute the environment. The right solution in extracting is with the help of ultrasonic. This study aims to obtain an optimization of cashew oil extraction process using ultrasonic waves with a frequency of 42 kHz. The effect studied was the ratio of cashew powder to n-hexane solvents and extraction time. The surface response method with the design of Central Composite Design was used to obtain a mathematical model that illustrates the relationship between the yield of cashew shell oil to the ratio and time of extraction. The results showed that the optimum condition of cashew nut oil extraction in the comparison composition of cashew skin powder against n-hexane solvent was 1: 3.25 (g / g) for 90 minutes with a yield of 36.15%. Cashew skin oil contains anacardic acid, cardanol, and other phenol compounds
- …
