70 research outputs found

    Metode bimbingan agama Maulana Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya dalam menumbuhkan bela negara

    No full text
    Bela negara merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap warga negara. Semangat bela negara perlu terus dibina sehingga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap terjaga. Sikap bela negara sangat bermanfaat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Manfaat tersebut diantaranya negara akan aman dan damai, pembangunan negara dapat berjalan lancar dan pendapatan negara akan meningkat. Untuk menumbuhkan bela negara tersebut di butuhkan bimbingan agama dengan menggunakan metode yang khusus pula. Agar masyarakat terbimbing dapat memahami esensi dari bela negara. Sehingga pada gilirannya akan tumbuh semangat dan sikap dalam membangun negara. Dari sekian banyak ulama-ulama yang berperan menumbuhkan sikap bela negara, Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya merupakan salah satu ulama yang mendidikasikan kehidupannya dalam membimbing dan membina bangsa ini dengan kemampuan dan keilmuan serta dunia pendidikan yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang metode bimbingan agama Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam menumbuhkan bela negara. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. Adapun pengumpulan data penelitiannya dilakukan dengan wawancara dan observasi yang diperoleh langsung dari sasaran penelitian berupa catatan, rekaman dan data-data dari sumber yang terkait dengan penelitian. Penelitian ini dilakukan di berbagai kota dan daerah di Indonesia. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode bimbingan agama yang dilakukan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya yang diberikan kepada WNI dalam menumbuhkan bela negara, yaitu dengan metode langsung dan tidak langsung. Pertama, metode langsung seperti: metode individu dan metode kelompok. Pendekatan kelompok yang dilakukan menggunakan beberapa teknik, yakni metode ceramah, metode tanya jawab, metode cerita sejarah dan metode menyanyikan lagu. Kedua, metode tidak langsung dalam hal ini Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya memberikan keteladanan yang baik serta melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan bela negara kepada WNI seperti kegiatan: Kirab Merah Putih, Kirab Panjang Jimat, daftar ilmiah, radio dan sosial internet

    Peran K.H. Luthfi Bashori dalam pembelajaran akidah di masyarakat Singosari

    Full text link
    INDONESIA: Peran seorang guru dalam setiap pembelajaran sangatlah penting. Meskipun dalam perkembangan jaman seperti sekarang ini, bejar tidak harus melakukan tatap muka antara guru dan murid. Apalagi dalam pembelajaran akidah yang menuntut untuk lebih banyak pertemuan antara guru dan murid karena menyangkut masalah kepercayaan. Akhir-akhir ini pendangkalan terhadap akidah sangat banyak kita temui di masyarakat. Baik itu lewat tayangan televisi maupun lewat pengaruh yang dilakukan oleh orang-orang yang menginginkan keimanan masyarakat menipis bahkan hilang. Oleh karena itu dibutuhkanlah peran dari segelintir masyarakat untuk menanggulangi pendangkalan akidah yang terjadi di masyarakat. Fokus masalah dalam penelitian ini adalah (1) peran K.H. Luthfi Bashori dalam meningkatkan akidah di masyarakat Singosari, (2) metode yang dilakukan oleh K.H. Luthfi Bashori dalam meningkatkan akidah masyarakat Singosari, dan (3) mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan dari metode-metode yang dilakukan oleh K.H. Luthfi Bashori dalam meningkatkan akidah masyarakat Singosari. Penelitian ini merupakan penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif karena cara penggalian datanya menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi yang kemudian dikaitkan dengan teori-teori yang dirasa sesuai dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran K.H. Bashori dalam meningkatkan akidah di masyarakat ada tiga yaitu (1) mendirikan pengajian rutin, (2) menerjunkan santri ke masyarakat, dan (3) menyebarkan akidah lewat beberapa media. Dan juga menggunakan empat metode yaitu: (1) Metode ceramah, (2) Metode tanya jawab, (3) Metode menggunakan media sosial, dan (4) metode latihan. ENGLISH: The role of a teacher in every lesson is very important. Even though in today's development, learning does not have to make face-to-face meetings between teachers and students. Moreover, in the learning of the faith which demands more meetings between teachers and students because it involves issues of trust. Lately, we have encountered so many silencing of faith in society. Either through television broadcasts or through the influence of people who want the people's faith to diminish or even disappear. Therefore it takes the role of a handful of people to overcome the silting of faith that occurs in society. The focus of the problem in this study is (1) the role of K.H. Luthfi Bashori in improving faith in the Singosari community, (2) the method used by K.H. Luthfi Bashori in improving the beliefs of the Singosari people, and (3) knowing what are the advantages and disadvantages of the methods used by K.H. Luthfi Bashori in improving the faith of the Singosari people. This research is a research using descriptive qualitative research method because the way of extracting data uses observation, interviews, and documentation which are then linked to theories that are deemed appropriate to the focus of the study. The results showed that the role of K.H. Bashori in improving the faith in society, there are three, namely (1) establishing routine recitation, (2) sending students to the community, and (3) spreading the faith through several media. And also using four methods, namely: (1) lecture method, (2) question and answer method, (3) method using social media, and (4) training method

    KODIFIKASI HADIS DAN RESPON MUHAMMAD MUSTHAFA AZAMI TERHADAP KELOMPOK MUNKIR AS-SUNNAH

    Full text link
    The controversy about the time of codification of hadith has existed since the Prophet Muhammad was still alive and seems to be an unresolved issue until now. This problem is further complicated when the western orientalists accuse the current hadith texts of inauthentic origin from the Prophet with the argument that there is a prohibition on the writing of hadith, they expressly deny the hadith (munkir as-sunnah). This study aims to analyze how the response of Muhammad Mustafa Azami to deny the group of munkir as-sunnah. This research is a literature study based on literature data, a qualitative approach is used to comprehensively describe how the arguments given by Azami to break the opinion of the group of munkir as-sunnah, especially on the aspect of hadith codification. The results of this study indicate that the writing of hadith existed when the Prophet Muhammad was still alive, supported by the evidence of hadith writings that had been written by many of companions Prophet Muhammad in the early period of Islam. This evidence automatically invalidates the opinion of the munkir as-sunnah group which states that the hadith is not from the Prophet Muhammad.   Perdebatan tentang waktu kodifikasi hadis sudah ada sejak Nabi masih hidup dan seolah menjadi persoalan yang tidak kunjung selesai sampai sekarang. Fenomena tersebut semakin rumit ketika kelompok orientalis barat menuduh teks hadis yang ada saat ini tidak autentik berasal dari Rasulullah dengan argumen adanya larangan penulisan hadis, mereka secara tegas mengingkari hadis (munkir as-sunnah). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa lebih jauh mengenai respon Muhammad Musthafa Azami untuk menyangkal kelompok munkir as-sunnah. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang didasarkan pada data-data literatur, pendekatan kualitatif digunakan untuk menggambarkan secara komprehensif bagaimana argumen yang diberikan Azami untuk mematahkan pendapat kelompok munkir as-sunnah, terutama pada aspek kodifikasi hadis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penulisan hadis telah ada pada saat Rasulullah masih hidup, didukung dengan adanya bukti-bukti tulisan hadis yang telah ditulis oleh sejumlah sahabat pada masa awal Islam. Bukti tersebut secara otomatis mematahkan pendapat kelompok munkir as-sunnah yang menyatakan hadis bukan dari Rasulullah

    Menyemai wawasan moderat pada siswa-siswi MAN 1 Kota Kediri melalui seminar moderasi beragama

    Full text link
    Community service through the Student Work Course (KKM) at UIN Maulana Malik Ibrahim Malang aims to improve human resources and community welfare. One of the KKM activities is a religious moderation seminar at MAN 1 Kota Kediri on May 4, 2024. This seminar, attended by 30 participants from various student organizations, aims to strengthen the understanding of religious moderation among students to address social and religious challenges. The seminar planning includes selecting speakers, themes, event structure, and target participants. Luthfi Dharmawan, an expert in religious moderation, was the main speaker. The seminar, themed "Talking Religion Without Drama: Navigating Moderation in Everyday Life," lasted two hours and discussed the importance of understanding, truth, and wisdom in religion. The results showed increased student awareness of religious moderation and helped the madrasa disseminate moderation values. Recommendations include expanding the seminar's reach in the future

    Gaya Kepemimpinan Militeristik Dan Paternalistik Gubernur Ahmad Luthfi Dalam Pemerintahan Daerah Jawa Tengah

    Full text link
    Penelitian ini membahas gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang memadukan karakteristik militeristik dan paternalistik dalam praktik pemerintahannya. Tujuan kajian ini adalah menganalisis bagaimana kedua gaya kepemimpinan tersebut tercermin dalam kebijakan, komunikasi politik, serta respons masyarakat. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan dokumentasi dari media massa serta referensi akademik, penelitian ini menemukan bahwa Ahmad Luthfi menerapkan gaya militeristik melalui pendekatan top-down, ketegasan, dan sentralisasi komando, sementara gaya paternalistik tercermin dalam pendekatan emosional, komunikasi informal, dan kedekatan dengan rakyat. Implikasi dari gaya tersebut meliputi peningkatan efisiensi birokrasi dan jaminan keamanan yang dirasakan masyarakat, namun juga menimbulkan kekhawatiran atas potensi otoritarianisme dan lemahnya partisipasi publik dalam demokrasi lokal. Studi ini memberikan wawasan tentang tantangan kepemimpinan eks-aparat dalam sistem demokratis dan kontribusinya terhadap tata kelola daerah yang efektif

    Periodesasi Perkembangan Studi Hadits (Dari Tradisi Lisan/Tulisan Hingga berbasis Digital)

    Full text link
    The history of the study of hadith from time to time experiencing a very significant development, beginning the study of hadith from oral to oral evolved into writing changes by others as a form of concern about the loss of traditions of the Prophet Muhammad, the development of tradition reached its peak when entering the period of the Successors exactly rule caliph Umar bin Abdul Aziz, where the tradition at this time officially codified in order to cope with the spread of false traditions pioneered by the heretics. Furthermore, after the tradition codified development be very rapid, with the birth of the canonical books of hadith to appear the terms scholarly tradition oriented as selectors hadith (criticism sanad hadith) and there are also books Sharh hadith as explanatory traditions of the Prophet Muhammad, Until the next period the study of hadith switch does not just dwell on criticism sanad but has entered the criticism of honor. In fact, along with the times that has entered the digital age, tradition began in containers therein to present assessment traditions more easily.[Sejarah kajian hadis dari masa ke masa mengalamai perkembangan yang sangat signifikan, mulanya kajian hadis dari lisan ke lisan berkembang menjadi tulisan, perubahan tersebut tak lain sebagai bentuk kekhawatiran akan hilangnya hadis-hadis Nabi SAW, perkembangan hadis mencapai puncaknya ketika memasuki periode tabiin tepatnya pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz, dimana hadis pada masa ini resmi dikodifikasi guna menanggulangi tersebarnya hadis-hadis palsu yang di pelopori oleh para pelaku bid’ah. Lebih lanjut, setelah hadis dikodifikasi perkembanganya menjadi sangat pesat, dengan lahirnya kitab-kitab kanonik hadis hingga muncul term-term keilmuwan hadis yang berorientasi sebagai penyeleksi hadis (kritik sanad hadis) serta muncul pula kitab-kitab syarh hadis sebagai penjelas hadis-hadis Nabi SAW. Hingga periode selanjutnya kajian hadis beralih tidak hanya berkutat pada kritik sanad melainkan sudah memasuki kritik terhadap matan. Bahkan seiring dengan perkembangan zaman yang sudah memasuki era digital, hadis mulai di kemas di dalamnya guna mengdirkan pengkajian hadis dengan lebih mudah.

    Nilai-nilai kewirausahaan dalam buku ensiklopedia berjudul Nabi Muhammad SAW Sebagai Wirausahawan karya Zaidah Kusumawati

    Full text link
    INDONESIA: Nilai kewirausahaan merupakan sebuah norma atau aturan yang dianggap penting oleh setiap individu ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan bisnis. Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang telah diutus untuk menyempurnakan ajaran nabi terdahulu dan menjadi penutup dari para nabi, serta menjadi panutan bagi seluruh umat manusia. Semasa hidupnya dia telah melakukan banyak kegiatan bisnis yang didalamnya menerapkan nilai-nilai luhur. Akan tetapi nilai-nilai kewirausahaan yang dulu telah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW kini mulai luntur secara perlahan. Buku ensiklopedia berjudul Nabi Muhammad SAW sebagai wirausahawan karya Zaidah Kusumawati termasuk kedalam salah satu buku yang menjelaskan biografi Nabi Muhammad secara lengkap, khususnya pada jlid 8 menjelaskan tentang perjalanan bisnis yang telah dilakukanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : (1) Memaparkan nilai-nilai kewirausahaan Nabi Muhammad SAW yang terdapat dalam buku ensiklopedia tersebut. (2) Mendeskripsikan nilai-nilai kewirausahaan yang masih relevan pada masa ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan (library research) dengan jenis penelitian kualitatif. Sumber data utama pada penelitian ini adalah buku ensiklopedia berjudul Nabi Muhammad SAW sebagai wirausahawan jilid 8, dan beberapa sumber yang lain sebagai pendukung. Dalam penelitian ini teknik analisis data yang dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini memaparkan bahwa terdapat 22 nilai-nilai kewirausahaan yang dapat dimunculkan dari buku ensiklopedia berjudul Nabi Muhammad Sebagai Wirausahawan jilid 8, diantaranya adalah kejujuran, kepercayaan, kedisiplinan, Bertanggung jawab, percaya diri, kesabaran, bekerja keras, efisiensi waktu, optimalisasi sumberdaya, berjiwa kepemimpinan, analisis peluang, berani mengambil resiko, adaptasi dengan kondisi dan lingkungan, menepati janji, analisis kondisi pasar, memaksimalkan kesempatan, berfikir kreatif, bertindak cepat, berinovasi pada masa depan, memberikan kepuasan pelanggan, membangun relasi atau berjejaring, mencintai pekerjaan yang dilakukan. Namun dari jumlah tersebut hanya 14 nilai-nilai yang relevan pada masa ini. ENGLISH: The value of entrepreneurship is a norm or rule that is considered important by every individual when carrying out activities related to business. Prophet Muhammad SAW is a messenger of Allah who has been sent to perfect the teachings of the previous prophet and be the closing of the prophets, as well as being a role model for all mankind. During his lifetime he has carried out many business activities in which he applies noble values. However, the entrepreneurial values that had once been applied by the Prophet Muhammad SAW are now starting to fade slowly. The encyclopedia book entitled Prophet Muhammad SAW as an entrepreneur by Zaidah Kusumawati is included in one of the books that explains the biography of the Prophet Muhammad in full, especially in jlid 8 explaining the business trips he has done. The purpose of this study is to: (1) Explain the entrepreneurial values of prophet Muhammad SAW contained in the encyclopedia book. (2) Describe the values of entrepreneurship that are still relevant at this time. To achieve this goal, this research uses a library research approach with a qualitative type of research. The main data sources in this study are an encyclopedia book entitled Prophet Muhammad SAW as an entrepreneur volume 8, and several other sources as support. In this study, data analysis techniques were carried out by means of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study explain that there are 22 entrepreneurial values that can be raised from an encyclopedia book entitled Prophet Muhammad as an Entrepreneur volume 8, including honesty, trust, discipline, responsibility, self-confidence, patience, hard work, time efficiency, resource optimization, leadership spirit, opportunity analysis, dare to take risks, adapt to conditions and the environment, keep promises, analyze market conditions, maximize opportunity, think creatively, act quickly, innovate in the future, provide customer satisfaction, build relationships or network, love the work done. But of these only 14 values are relevant at this time. ARABIC: قيمة ريادة الأعمال هي قاعدة يعتبرها كل فرد مهمة عند تنفيذ الأنشطة المتعلقة بالأعمال. النبي محمد صلى الله عليه وسلم هو رسول الله الذي أرسل لاستكمال تعاليم النبي السابق ويكون خاتمة الأنبياء ، فضلا عن كونه نموذجا يحتذى به للبشرية جمعاء. خلال حياته ، قام بالعديد من الأنشطة التجارية التي يطبق فيها القيم النبيلة. ومع ذلك ، فإن قيم ريادة الأعمال التي كان يطبقها النبي محمد صلى الله عليه وسلم بدأت الآن في التلاشي ببطء. تم تضمين الكتاب الموسوعي بعنوان النبي محمد صلى الله عليه وسلم كرائد أعمال لزيدة كوسوماواتي في أحد الكتب التي تشرح سيرة النبي محمد بالكامل ، خاصة في جليد ٨ يشرح رحلات العمل التي قام بها. الغرض من هذه الدراسة هو: (١) شرح القيم الريادية للنبي محمد صلى الله عليه وسلم الواردة في كتاب الموسوعة. (٢) وصف قيم ريادة الأعمال التي لا تزال ذات صلة في هذا الوقت. ولتحقيق هذا الهدف، يستخدم هذا البحث منهج البحث المكتبي مع نوع نوعي من البحوث. مصادر البيانات الرئيسية في هذه الدراسة هي كتاب موسوعة بعنوان النبي محمد شهد كرائد أعمال المجلد ٨ ، والعديد من المصادر الأخرى كدعم. في هذه الدراسة ، تم تنفيذ تقنيات تحليل البيانات عن طريق تقليل البيانات وعرضها واستخلاص الاستنتاجات. توضح نتائج هذه الدراسة أن هناك ٢٢ قيمة ريادية يمكن تربيتها من كتاب موسوعي بعنوان النبي محمد كرائد أعمال المجلد ٨، بما في ذلك الصدق والثقة والانضباط والمسؤولية والثقة بالنفس والصبر والعمل الجاد وكفاءة الوقت وتحسين الموارد وروح القيادة وتحليل الفرص والجرأة على المخاطرة والتكيف مع الظروف والبيئة والوفاء بالوعود وتحليل ظروف السوق وتعظيم الفرصة ، والتفكير الإبداعي ، والتصرف بسرعة ، والابتكار في المستقبل ، وتوفير رضا العملاء ، وبناء العلاقات أو الشبكة ، وحب العمل المنجز. ولكن من بين هذه القيم ١٤ فقط ذات صلة في هذا الوقت

    Komparasi pemikiran Muhammad Abduh dan K.H. Ahmad Dahlan tentang pembaharuan pendidikan islam

    Full text link
    ABSTRAK Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa terlepas dari pendidikan. Ini mencerminkan bahwa pendidikan memegang peranan yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Dan pendidikan Islam menjadi pondasi yang kuat untuk kehidupan umat Islam. Berangkat dari pemikiran diatas, maka kami bermaksud melakukan pembahasan terhadap dua tokoh pendidikan Islam, yaitu Muhammad Abduh dan K.H. Ahmad Dahlan. Keduanya merupakan tokoh pendidikan Islam post-modern. Dengan harapan, konsepsi pendidikan Islam yang ditawarkan oleh kedua tokoh tersebut mampu menginspirasikan elemen pelaksana pendidikan dalam rangka mengembangkan pendidikan Islam agar kemudian pendidikan Islam mampu menjawab tantangan globalisasi dengan tetap mendasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam. Fokus masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pembaharuan Pendidikan Islam dalam perspektif kedua tokoh, persamaan dan perbedaan pendidikan Islam menurut Muhammad Abduh dan K.H. Ahmad Dahlan, serta relevansi pembaharuan Pendidikan Islam dalam prespektif Muhammad Abduh dan K.H. Ahmad Dahlan terhadap Pendidikan Islam saat ini. Dari fokus masalah yang sudah disebutkan tadi, penulis mengambil langkah untuk kemudian menganalisis atau menelitinya dengan tujan mampu mengetahui, memahami, dan mampu mengambil kesimpulan dari pemikiran pendidikan Islam Muhammad Abduh dan K.H. Ahmad Dahlan, sehingga hasil dari telaah tersebut mampu dijadikan kontribusi dalam terselenggaranya dan berkembangnya pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif dengan jenis library research. Sedangkan metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi dalam rangka mencari sumber dan data yang menunjang dalam penulisan ini. Kemudian dari dokumentasi tersebut dianalisis dengan menggunakan metode content analysis dan interpretasi sumber dan data yang didapat. Pembaharuan yang dilakukan Muhammad Abduh untuk kemajuan al-Azhar. Sedangkan K.H Ahmad Dahlan telah mengadakan pembaharuan pendidikan agama dengan modernisasi dalam sistemnya. Dengan menukar sistem pondok dan pesantren dengan pendidikan yang modern sesuai dengan tuntunan dan kehendak zaman. Persamaan pemikiran pendidikan Islam menurut Muhammad Abduh dan K.H Ahmad Dahlan adalah sama-sama mengusung modernisasi pendidikan. Adapun Perbedaan dalam pemikiran pendidikan Islam menurut kedua tokoh ini adalah Muhammad Abduh yang merubah sistem pendidikan di Al-Azhar sesuai dengan konsep yang sudah dia bangun sebelumnya berdasarkan pengalaman dan pemikiran beliau. Sedangkan Dahlan, dalam megimplementasikan konsep dan ide-idenya beliau dengan mendirikan lembaga pendidikan yang mampu dijangkau oleh masyarakat umum. Adapun pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan Muhammad Abduh yang masih relevan sampai saat ini antara lain tersedianya perpustakaan yang ada di instansi-instansi pendidikan dan pemakaian mata pelajaran Berhitung, Aljabar, Sejarah Islam, Bahasa dan Sastra dan Prinsip-prinsip Geometri dan Geografi. Sedangkan K.H. Ahmad Dahlan pembaharuan yang sampai hari ini masih dapat ditemukan, dirasakan, dan bahkan masih dapat dinikmati, yakni dengan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan Islam yang tersebar diseluruh Indonesia. ABSTRACT Education plays a very important things in human life, there is nothing in the world that can be separated from education. This reflects the fact that education plays a very vital for human life. And Islamic education was be a strong foundation for the lives of Muslims. Departing from the idea above, we intend to conduct discussions on the two figures of Islamic education, namely Muhammad Abduh and KH Ahmad Dahlan. Both are figures of post-modern Islamic education. With hope, the conception of Islamic education offered by the two men were able to inspire the execution element of education in order to develop Islamic education so then Islamic education is able to meet the challenges of globalization to fixed based on the moral values of Islam. The focus of this research is how to reform Islamic education in the perspective of two men, the similarities and differences of Islamic education according to Muhammad Abduh and KH Ahmad Dahlan, as well as the relevance of education reform in the perspective of Islam Muhammad Abduh and KH Ahmad Dahlan against Islamic Education currently. Of the focus problems that have been mentioned earlier, the authors take a step and then analyze or examine it with the aim of to know, to understand, and to conclusion from the Islamic educational thought KH Muhammad Abduh and Ahmad Dahlan, so the results of the study can be used as contribution in the implementation and development of Islamic education. This study uses a qualitative descriptive approach with library research type. While the method of data collection using the documentation in order to find the source and the data in this paper support. Then the documentation were analyzed using content analysis and interpretation of the sources and data obtained. Reforms were made by Muhammad Abduh to the advancement of al-Azhar. While KH Ahmad Dahlan held a renewal of religious education with the modernization of the system. By swapping the lodge and boarding systems with modern education in accordance with the guidance and demands of the time. Equation of Islamic educational thought by Muhammad Abduh and KH Ahmad Dahlan was brought together education modernization. The difference in the thinking of Islamic education in the two figures is Muhammad Abduh who changes the education system in the Al-Azhar University consistent with the concept that he had up earlier based on his experiences and thoughts. While Dahlan, in implementing the concept and his ideas by establishing educational institutions that could be reached by the general public. The reforms did Muhammad Abduh that are still relevant today include the availability of libraries in educational institutions and still use Numeracy, Algebra, History of Islam, Language and Literature, Principles of Geometry and Geography. While K.H. Ahmad Dahlan renewal which to this day is still to be found, felt, and even still to be enjoyed, that the establishment of Islamic educational institutions spread all over Indonesia

    Isolasi dan Identifikasi Sekuen Parsial Gen Monokarboksilat Transporter-like pada Ikan Gurami Osphronemus goramy

    No full text
    Ikan gurami merupakan salah satu spesies ikan budidaya air tawar di Indonesia. Ikan gurami berpotensi untuk dijadikan ikan model untuk studi metabolisme karbohidrat dan respons terhadap cekaman lingkungan. Gen monokarboksilat transporter (MKT) diduga bertanggung jawab dalam metabolisme karbohidrat dan saat oksigen terlarut rendah di perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan mengidentifikasi sekuen parsial gen monokarboksilat transporter-like pada ikan gurami. RNA total diekstraksi dari organ hati ikan gurami. Primer oligonukleotida diperoleh dengan menyejajarkan sekuen gen ikan koki Carassius auratus, “grass carp” Ctenopharyngodon idella, “sheepshead minnow” Cyprinodon variegatus, ikan mas Cyprinus carpio, ikan nila Oreochromis niloticus, ikan gapi Poecilia reticulata, dan ikan “rainbow trout” Oncorhynchus mykiss menggunakan perangkat lunak Bioedit v7.2. Dari analisis sekuensing diperoleh susunan nukleotida berukuran 922 bp yang menyandikan 299 asam amino residu. Analisis sekuen dengan BLAST® menunjukkan sekuen gen yang berhasil diisolasi memiliki kesamaan dengan gen MKT ikan kuwe batu Seriola dumerili, kakap putih Lates calcarifer, dan Larimichthys croacea dengan persentase kesamaan berkisar antara 81 86%. Pada sekuen asam amino residu tersebut ditemukan domain protein major facilitator superfamily (MFS) famili 1, 11, dan 13. Analisis pohon filogenetik menunjukkan bahwa sekuen gen parsial yang diisolasi tersebut berada dalam kelompok teleost dengan nilai bootstrap 56%, terpisah dengan kelompok mamalia dengan nilai bootstrap 100%. Hasil ini membuktikan bahwa gen yang diisolasi merupakan gen MKT

    Analysis of Ibn Khaldun's Sociological Concepts in the Soap Opera Si Doel Anak Sekolahan

    No full text
    Sinetron Si Doel Anak Sekolahan pada umumnya mengangkat cerita kehidupan orang pinggiran kota Jakarta dengan latar budaya Betawi. Oleh karenanya, peneliti menanggap bahwa sinetron Si Doel Anak Sekolahan dapat dijadikan replika mini objek penelitian terhadap nilai-nilai yang terkandung pada konsep sosiologi yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun. Tujuan melakukan penelitian ini ialah menganalisis nilai-nilai sosiologi yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun agar dapat di implementasikan di kehidupan sosial saat ini. Melalui penelitian ini, dapat dilihat bahwa sinetron Si Doel Anak Sekolahan memiliki beberapa variabel nilai-nilai sosiologi Ibnu Khaldun seperti ashabiyyah, perilaku masyarakat Badui-Hadar, dinamika masyarakat perkotaan dan pedesaan, serta nilai perubahan sosial
    corecore