1,720,974 research outputs found
Illocutionary Force Behind the Status of Mark Manson
ABSTRAK
Kajian tentang kekuatan ilokusi di balik status Mark Manson di Twitter-nya dibahas dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya pragmatik dalam tweet Mark Manson dan maksud dari tweet tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasional dengan non partisipan menurut Sudaryanto (1993). Data dianalisis dengan mengacu pada teori Illocutionary Force Indicatoring Devices (IFIDs) oleh Yule (1969) dan niat yang dikemukakan oleh Dyer (2008). Hasil analisis disajikan secara deskriptif. Mark Manson menggunakan tiga jenis IFID, yaitu: Performative Verb (22,72%), Stress (24,24%), Intonation (53,03%). Penelitian menunjukkan jenis IFID yang dominan digunakan oleh Mark Manson adalah intonation sebanyak 35 kali (53,03%). Ia cenderung menggunakan tipe ini untuk memperkuat ekspresi dan dapat dipahami oleh pemirsa. Selain itu, ada lima Intensi yang digunakan dalam tweet-nya, yaitu: The face of creativity (12,12%), the face of kindness (15,15%), the face of beauty (6,07%), the face of expansion (51%), dan the face of receptivity (15,15%). Intensi yang paling banyak digunakan adalah the face of expansion sebanyak 35 kali (53,03%), Ia cenderung menggunakan intensi ini untuk memotivasi dan mengarahkan orang menuju versi yang lebih baik. Dapat disimpulkan bahwa kekuatan ilokusi di balik status Mark Manson digunakan untuk membuat pemirsa mengerti dengan mendapatkan makna yang jelas dari tweet dengan intonasi dan dapat memotivasi mereka dengan intensi the face of expansion.
Kata kunci: Kekuatan ilokusi di balik tweet Mark Manson, IFIDs, Intensi ucapa
TOXIC RELATIONSHIP MAINTENANCE DALAM PERNIKAHAN UNTUK MENCEGAH KASUS KDRT PRESPEKTIF MARK MANSON DAN MU’ĀSYARAH BIL MA’RŪF
Toxic relationship maintenance dalam pernikahan adalah suatu pemeliharaan pernikahan terhadap hubungan yang tidak sehat, sehingga pernikahan tersebut dapat dilindungi dan terjaga. Tindakan ini dilakukan sebab, ketika toxic relationship tidak diatasi dengan baik, maka akan berkembang menjadi kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hal ini membuat salah satu pasangan secara sadar melukai atau merugikan pasangannya baik secara fisik, emosional, seksual, atau psikologis. Menghimpun data dari Komnas Perempuan, jumlah kasus KDRT terbilang masih tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh tentang toxic relationship maintenance sebagai upaya pencegahan kasus KDRT tersebut, maka peneliti mencoba melakukan analisis permasalahan ini dengan prespektif Mark Manson dan mu’āsyarah bil ma’rūf.
Penelitian ini dilakukan guna menjawab pertanyaan: Bagaimana konsep toxic relationship maintenance menurut Mark Manson dan mu’āsyarah bil ma’rūf dan bagaimana hubungan toxic relationship maintenance dalam upaya pencegahan KDRT. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep toxic relationship maintenance menurut Mark Manson dan mu’āsyarah bil ma’rūf, serta untuk memahami hubungan toxic relationship maintenance untuk pencegahan KDRT.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Sumber primer dari penelitian ini menggunakan e-book Mark Manson berjudul Healty Relationships dan The Guide to Relationships, sedangkan data sekundernya berasal dari penelitian terdahulu, jurnal, skripsi, dasar hukum, dan sumber ilmiah. Metode pengumpulan data ini diperoleh dari observasi dan dokumentasi. Adapun data yang diperoleh diolah menggunakan metode analisis tematik dengan pendekatan kualitatif berdasarkan teori Mark Manson dan hukum Islam.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: Pertama, toxic relationship maintenance menurut Mark Manson dan mu’āsyarah bil ma’rūf dilakukan dengan menjauhkan hubungan dari perilaku toksik dan menjalankan hak serta kewajiban pernikahan secara seimbang. Kedua konsep ini dapat dijalankan oleh suami-istri, agar dapat terhindar dari hubungan tidak sehat dan pernikahan dapat terjaga. Kedua, hubungan toxic relationship maintenance sebagai upaya pencegahan KDRT memiliki hubungan implikatif. Toxic relationship maintenance menjadi pondasi dalam pemeliharaan hubungan yang tidak sehat, sebab jika diabaikan perilaku ini dapat meningkat menjadi KDRT
Translation Techniques and Readability of Imperative Senteces in The Subtle Art of Not Giving a Fuck a Book by Mark Manson
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik-teknik penerjemahan dan tingkat
keterbacaan kalimat-kalimat imperatif dalam The Subtle Art of Not Giving a Fuck
by Mark Manson. Penelitian ini menggunakan teori teknik-teknik penerjemahan
oleh Molina dan Albir (2002) dan penilaian kualitas terjemahan oleh Nababan,
Nuraeni, and Sumardiono (2012). Data dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat
imperative yang ditemukan baik dalam buku versi bahasa Inggris dan bahasa
Indonesia. Sementara sumber data dalam penelitian ini adalah buku The Subtle Art
of Not Giving a Fuck by Mark Manson dan versi terjemahannya Sebuah Seni untuk
Bersikap Bodo Amat. Penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, ditemukan 3
jenis-jenis kalimat imperatif yakni command 44 data (57,14%), direction 21 data
(27,27%) dan prohibition 12 data (15,59%). Kedua, ditemukan amplification
technique 22 data (28,58%), established equivalent 20 data (25,97%), literal
translation 12 data (15,59%), reduction 9 data (11,69%), transposition 8 data
(10,38%), and modulation 6 data (7,79%). Teknik yang paling banyak digunakan
adalah amplification technique karena kalimat-kalimat imperative dalam buku ini
memiliki banyak makna implikasi yang tak disebutkan dalam bahasa sumber.
Ketiga, ditemukan bahwa high readability adalah tingkat keterbacaan kalimat
imperatif yang paling dominan ditemukan. Dalam penelitian ini, teknik-teknik
penerjemahan tertentu seperti amplification, established equivalent, literal
translation dan reduction mempengaruhi hasil terjemahan dan juga tingkat
keterbacaan. Sebagai contoh, data 14 yang diterjemahkan dengan teknik
amplification memperoleh skor sempurna yakni 3 dari para responden karena
terjemahannya mudah untuk dipahami. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa
teknik-teknik penerjemahan yang diaplikasikan mempengaruhi tingkat keterbacaan
hasil terjemaha
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Sebuah seni untuk bersikap bodo mat : Pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik = The Subtle art of not giving a fock
Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat merupakan sebuah buku tentang menemukan apa yang benar-benar penting bagi kita dan melepaskan segala hal lainnya. Saat ini masyarakat menjadikan media sosial sebagai ajang pamer. Kemudian dari hal tersebut lahirlah generasi manusia yang percaya bahwa memiliki pengalaman negatif (rasa cemas, takut, bersalah) adalah sesuatu yang sangat tidak baik. Ketika melihat feed Facebook, kita akan menjumpai bahwa setiap orang di sana menjalani saat yang menyenangkan sehingga seakan-akan kita akan merasa dibombardir dengan 350 gambar orang-orang yang benar-benar gembira, seperti menikah, berlibur, dan sebagainya. Sementara itu, kita terjebak di rumah. Kita mau tidak mau berpikir bahwa hidup kita sepuluh kali lebih menyebalkan dari yang semua kita kira. Pada akhirnya, kita merasa bersalah atas rasa salah itu sendiri. Kita jadi marah gara-gara amarah yang menyulut. Lalu apa yang salah dengan diri kita?Dalam buku pengembangan diri yang mewakili generasi ini, seorang bloger superstar menunjukkan pada kita bahwa kunci untuk menjadi orang yang lebih kuat, lebih bahagia adalah dengan mengerjakan segala tantangan dengan lebih baik dan berhenti memaksa diri untuk menjadi "positif" di setiap saat.Selama beberapa tahun belakangan, Mark Manson-melalui blognya yang sangat populer-telah membantu mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik mengenai diri kita sendiri maupun dusia. Ia kini menuangkan buah pikirannya yang keren itu di dalam buku hebat ini.vii + 246 hlm. 14 x 21 c
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
