240 research outputs found
Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Atas Tindakan Fraud Yang Dilakukan Oleh Pegawai Bank Legal Protection Against Customers for Fraud Committed by Bank Employees
Di Indonesia, lembaga perbankan memiliki misi dan fungsi sebagai agen
pembangunan (agent of development), yaitu sebagai lembaga yang bertujuan
menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan
pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah peningkatan
kesejahteraan rakyat banyak. Tidak ragu lagi, bahwa perbankan telah menunjukkan
pelayanan khusus dan bermanfaat terhadap masyarakat dan tidak Ada masyarakat
modern yang dapat mencapai kemajuan pesat atau bahkan dapat mempertahankan
angka pertumbuhan tanpa bank. Bank memperoleh keuntungan berdasarkan prinsip
kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat, keuntungan tersebut didapat dari hasil
selisih bunga antara dana yang masuk dari masyarakat dengan dana yang dikeluarkan,
perinsip kepercayaan ditekankan atau dimaksudkan agar masyarakat sukarela
melakukan transaksi di bank. Guna mengekalkan kepercayaan masyarakat terhadap
bank pemerintah harus berusaha melindungi masyarakat dari tindakan lembaga
ataupun oknum pegawai bank yang tidak bertanggungjawab dan merusak sendi
kepercayaan masyrakat. Salah satu penyimpangan dalam dunia perbankan dikenal
dengan istilah fraud. Yang dimaksud dengan Fraud dalam ketentuan ini adalah
tindakan penyimpangan atau pembiaran yang sengaja dilakukan untuk mengelabui,
menipu, atau memanipulasi bank, nasabah, atau pihak lain, yang terjadi di lingkungan
Bank dan/atau menggunakan sarana bank sehingga mengakibatkan bank, nasabah,
atau pihak lain menderita kerugian dan/atau pelaku Fraud memperoleh keuntungan
keuangan baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis merasa tertarik untuk
mengkaji dan menganalisis secara mendalam, selanjutnya diaplikasikan dalam suatu
karya ilmiyah yang berbentuk skripsi yang berjudul “Perlindungan Hukum
Terhadap Nasabah Atas Tindakan Fraud Yang Dilakukan Oleh Pegawai Bank”.
Berdasarkan rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini ialah Apakah tindakan
fraud yang dilakukan pegawai bank tidak melanggar prinsip kepercayaan, Bagaimana
perlindungan hukum nasabah yang dapat dilakukan untuk mengatasi tindakan fraud
yang dilakukan oleh pegawai bank, Apa tindakan yang dilakukan oleh bank terhadap
pegawai bank yang melakukan tindakan fraud. Tujuan dari penelitian untuk
mengetahui dan mengalisa tindakan fraud terkait dengan prinsip kepercayaan dalam
bank, untuk mengetahui dan memahami perlindungan hukum yang dapat dilakukan
untuk mengatasi tindakan fraud yang dilakukan oleh pegawai bank, untuk
mengetahui dan memahami upaya penyelesaian yang dilakukan bank untuk tindakan
fraud yang dilakukan pegawai bank. Metode penelitian meliputi tipe penelitian yang
bersifat yuridis normatif, pendekatan masalah adalah pendekatan Undang-undang dan
pendekatan konseptual. Sumber bahan hukum yang digunakan dalam penyusunan
skripsi ini, menggunakan sumber bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan
bahan non hukum. Analisa bahan hukum dengan beberapa tahapan yang selanjutnya
hasil analisis bahan penelitian tersebut diuraikan dalam pembahasan guna menjawab
permasalahan yang diajukan hingga sampai pada kesimpulan. Tinjauan Pustaka yang terdapat dalam skripsi ini menguraikan tentang
perlindungan hukum yang terdiri dari pengertian perlindungan hukum dan bentuk
bentuk perlindungan hukum. tinjauan juga menguraikan mengenai lembaga keuangan
yang terdiri dari pengertian bank dan bukan bank, nasabah yang terdiri dari jenis
nasabah serta hak dan kewajiban nasabah, pengertian fraud.
Pembahasan dalam skripsi ini yang pertama adalah Fraud melanggar prinsip
kepercayaan karena fraud merupakan suatu perbuatan melawan hukum yang
membuat keadaan bank menjadi tidak sehat, fraud atas dasar kesengajaan atau niat,
dengan tujuan untuk menguntungkan individu maupun organisasi yang melaksanakan
tindakan tersebut dan dapat mengakibatkan timbulnya suatu kerugian secara materiil
maupun non materiil perbankan khususnya. Kedua adalah Perlindungan Hukum
Terhadap Nasabah Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengatasi Tindakan Fraud Yang
Dilakukan Oleh Pegawai Bank secara preventif dan represif. pencegahan fraud
(preventif) meliputi pengendalian secara intern meliputi unsur lingkungan
pengendalian, penaksiran resiko, aktivitas, pengendalian, informasi, dan komunikasi
dan pemantauan yang dapat meminimalisir adanya tindakan fraud. secara represif
menggunakan Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan.Ketiga adalah
Tindakan Bank Terhadap Pegawai Bank Yang Melakukan Tindakan Fraud dengan
cara melakukan sosialisasi tindakan fraud Melakukan Pengawasan juga merupakan
tindakan yang dapat dilakukan oleh bank untuk tindakan fraud yang dilakukan oleh
pegawai bank.
Berdasarkan analisa dan pembahasan yang telah dilakukan maka, kesimpulan
yang dapat ditarik adalah sebagai berikut : pertama, Fraud melanggar prinsip
kepercayaan karena fraud merupakan suatu perbuatan melawan hukum yang
membuat keadaan bank menjadi tidak sehat. Kedua, Perlindungan Hukum Terhadap
Nasabah Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengatasi Tindakan Fraud Yang Dilakukan
Oleh Pegawai Bank secara preventif dan represif. Ketiga, Tindakan Bank Terhadap
Pegawai Bank Yang Melakukan Tindakan Fraud dengan cara melakukan sosialisasi
tindakan fraud dan Melakukan Pengawasan. Saran yang diberikan penulis kepada
nasabah untuk menghindari tindakan fraud yaitu Hendaknya bagi nasabah untuk
menghindari tidakan fraud yang dilakukan oleh pegawai bank lebih baik
memperhatikan dan mencari setiap informasi terlebih dahulu untuk menggunakan
jasa bank tersebut. Penulis juga menyarankan Hendaknya bagi pihak bank sebagai
lembaga yang di percayai nasabah tidak lalai dalam pengawasan bank serta memberi
contoh itikad baik pada pegawai bank agar tidak melakukan tindakan fraud yang
dapat merugikan pihak bank ataupun pihak nasabah agar bank dapat menjamin rasa
aman dan nyaman terhadap nasabah
Perlindungan Hukum Pengguna Jasa Kecantikan Perawatan Wajah yang Tertular Human Immunodeficiency Virus (HIV) akibat Alat Perawatan Wajah yang Tidak Steril
Seiring perkembangan industri yang semakin pesat memberikan dorongan
kepada pelaku usaha untuk berlomba menawarkan produk dan jasa salah satunya
adalah jasa kecantikan. Banyak jasa kecantikan yang menjamur di berbagai daerah
dan kota besar. Sebagian tempat kecantikan tersebut telah memiliki standarat
operasiaonal dan ijin usaha namun tak jarang banyak jasa kecantikan yang tidak
memiliki standart operasional namun juga tidak memiliki surat ijin usaha.
Pengetahuan dan kesadaran konsumen yang belum memadai dalam memilih atau
menggunakan jasa kecantikan perawatan wajah sering kali mengkhawatirkan.
Upaya untuk mempercantik diri dengan cara dan prinsip kesehatan yang tidak
sesuai dapat merugikan konsumen. ketidaksterilan alat yang digunakan dalam
tindakan perawatan wajah bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan
misalnya saja timbulnya penyakit atau bahkan kematian. Kasus yang pernah
terjadi dimasyarakat terkait penyebaran virus HIV dan hepatitis yang yang diduga
terinfeksi dari alat perawatan wajah yang tidak di sterilisasi selain itu penggunaan
alat cukur secara bergantian dapat memicu terinfeksi virus tersebut. Maka
konsumenlah menjadi sasaran konsekuensi dari kasus tersebut. Berdasarkan
uraian latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut karya
ilmiah berbentuk skripsi dengan judul “PERLINDUNGAN HUKUM
PENGGUNA JASA KECANTIKAN PERAWATAN WAJAH YANG
TERTULAR HUMAN IMODEVICIANCY VIRUS (HIV) AKIBAT ALAT
PERAWATAN WAJAH YANG TIDAK STERIL” Rumusan masalah dalam
penelitian skripsi ini ada tiga yaitu : pertama bagaimana tanggung jawab pelaku
jasa kecantikan karena kelalaiannya menggunakan alat perawatan wajah yang
tidak steril berakibat merugikan konsumen; kedua, bagaimana tanggung jawab
pemerintah terhadap pelaku usaha jasa kecantikan yang merugikan konsumen;
ketiga, bagaimana penyelesaian sengketa konsumen yang tertular Human
Imunodoficiency Virus (HIV) akibat penggunaan alat perawatan wajah yang tidak
steril. Tujuan umum dalam penulisan skripsi ini yaitu: Untuk memenuhi dan
melengkapi persyaratan akademis dalam memperoleh gelar Sarjana Hukum pada
Fakultas Hukum Universitas Jember; Untuk mengembangkan dan menerapkan
ilmu pengetahuan yang telah diperoleh diperkuliahan dengan kasus yang terjadi
dalam kehidupan masyarakat. Metode penelitian dalam penulisan skripsi ini
melalui tipe penelitian yuridis normatif dan menggunakan pendekatan
permasalahan perundang-undangan dan pendekatan konsep. Bahan hukum yang
digunakan dalam penulisan ini adalah Bahan hukum primer, Bahan hukum
sekunder, dan Bahan non hokum yang sesuai dengan tema skripsi ini dengan
analisis bahan hukum deduksi.
Tinjauan pustaka dari skripsi ini membahas yang pertama perlindungan
hukum, pengertian, tujuan, dan bentuk perlindungan hukum yang kedua
perlindungan konsumnen, pengertian, asas dan tujuan perlindungan konsumen
yang ketiga konsumen dan pelaku usaha, pengertian konsumen, hak dan
kewajiban konsumen, pengertian pelaku usha, hak dan kewajiban pelaku usaha
yang keempat perawatan wajah, pengertian perawatan wajah, macam-macam
perawatan wajah, manfaat perawatan wajah, alat perawatan wajah, yang kelima
virus HIV, pengertian virus HIV, penyebaran virus HIV, dampak tertular HIV
Pada pembahasan skripsi ini menjelaskan yang pertama tanggung jawab
pelaku usaha jasa kecantikan karena kelalaiannya yang berakibat merugikan
konsumen memungkinkan pelaku usaha memberikan ganti kerugian konsumen
yang tertular HIV akibat alat perawatan wajah yang tidak steril berupa perawatan,
santunan, atau penggantian suatu produk dan besaran ganti rugi diatur pada pasal
1356 KUHPerdata, yang kedua tanggung jawab pemerintah terhadap pelaku usaha
jasa kecantikan dan konsumen yaitu dengan melakukan pembinaan dan
pengawasan penyelenggaraan baik kepada pelaku usaha maupun pada konsumen,
dengan tujuan agar masyarakat lebih selektif dalam menggungakan jasa atau
barang. Yang ketiga upaya penyelesainan yang dilakukan oleh pihak yang
bersengketa terkait kasus penyebaran HIV dari alat perawatan wajah yang tidak
steril, dilakukan dengan cara penyelesaian secara non litigasi dan litigasi termuat
pada Pasal 45 Undang-Undnag Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen
Kesimpulan dari skripsi ini adalah Tanggung jawab pelaku usaha
pengguna jasa kecantikan perawatan wajah yang terlular HIV akibat alat yang
tidak steril diatur pada pasal 19 nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan
konsumen, diperkuat kembali atas ganti kerugian pada Pasal 1365 Kitab Undang
Undang Hukum Perdata selain itu, Pasal 58 Ayat (1) Undang Undang Nomor 36
Tahun 2009 Tentang kesehatan mengatur bahwa setiap orang berhak menuntut
kerugian terhadap seorang tenanag kesehatan atau penyelengara kesehatan yang
timbul akibat kelalalaian dalam pelayayan kesehatan. Bentuk tanggung jawab
yang di berikan kepada konsumen berupa, penggantian produk, pemeberian biaya
perawatan hingga konsumen sehat seperti semula dan pemberian santunan.
Sedangkan tanggung jawab pemerintah terhadap kerugian pengguna jasa
kecantikan yang berakibat tertular HIV akibat alat perawatan wajah yang tidak
steril adalah dengan melakukan pembinaan dan pengawasan tertuang pada Pasal 9
(1) Dan Pasal 30 (1) Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen, Adapula Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2001 Tentang
Pengawasan Dan Pembinaan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen. Dalam
hal ini upaya hukum penyelesaian konsumen di luar pengadilan yang dilakukan
dengan mediasi, konsiliasi, atau abitrase. Sedangkan upaya penyelesaian sengketa
konsumen di pengadilan umum dengan dilakukan gugatan ke Pengadilan Negeri.
Saran skripsi ini konsumen lebih bijak, teliti, dan waspada ketika menggunakan
jasa kecantiakan, kemudian pelaku usaha haruslah melengkapi perijinan dan
memperhatikan sistem operasional khususunya dalam jasa kecantikan. Adapula
peran pemerintah yaitu memberikan sosiliasi kepada konsumen tentang
pemahaman memilih barang atau jasa khususnya perawatan wajah selain itu
konsumen perlu diberi pemahaman mengenai aspek hukum misalnya pemahaman
tentang hak konsumen serta bentuk upaya hukum yang dapat dilakukan ketika
mengalami kerugian. Saran untuk pemerintah yaitu perlu adanaya regulasi baru
yang tegas untuk menagatur lebih jelas mengenai tanggung jawab pelaku usaha
dan besaran ganti kerugian khususnya di bidang jasa kecantikan apabila pihak dari
pelaku usaha lalai dalam melakukan tindakan perawatan wajah kepada konsumen
Data Mining : Klasifikasi Menggunakan Algoritma C4.5
Data mining merupakan bagian dari tahapan proses Knowledge Discovery in Database (KDD). Dengan data mining, kita dapat melakukan pengklasifikasian, memprediksi, memperkirakan dan mendapatkan informasi lain yang bermanfaat dari kumpulan data dalam jumlah yang besar. Klasifikasi dalam data mining dapat dilakukan dengan menggunakan algoritma C4.5. Dengan algoritma C4.5, akan didapatkan sebuah pohon keputusan yang mudah dipahami dan mudah dimengerti
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Lama Hari Rawat Pasien BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Metro
Latar Belakang: Lama rawat inap (LOS) merupakan salah satu indikator keberhasilan perawatan pasien di rumah sakit. Rawat inap yang lama menyebabkan meningkatnya biaya perawatan sebaliknya rawat inap yang terlalu pendek akan meningkatkan risiko rawat berulang pasien. Mayoritas pasien rawat inap di Indonesia adalah pasien BPJS Kesehatan dengan sistem pembayaran berbasis paket klaim ina-cbgs berupaya mempersingkat waktu rawat pasien untuk menghindari kerugian ekonomi sehingga nilai LOS masih di bawah 6-9 hari.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan lama hari rawat pasien BPJS kesehatan di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Metro.
Metode: Jenis Penelitian observational analysis dengan mengumpulkan data secara retrospektif menggunakan desain cross-sectional. Teknik total sampling digunakan dalam penelitian ini yaitu seluruh peserta BPJS Kesehatan yang dirawat di RS Mardi Waluyo Kota Metro pada tahun 2022 sebanyak 13.903 pasien. Data dianalisis dengan uji Chi Square.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara umur (p=<0,001); jenis kelamin (p=<0,001); kelas perawatan (p=0,001), jenis penyakit (p=0,001); dan jumlah diagnosis penyakit (p=<0,001) dengan lama hari rawat (LOS).
Kesimpulan: Disarankan pada rumah sakit untuk melakukan analisis yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan lama hari rawat agar pelayanan yang diberikan kepada pasien lebih efektif dan efisien serta dapat meningkatkan kepuasan pasie
MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG PENTINGNYA REKAM MEDIS PADA FASILITAS KESEHATAN
Hal pertama yang harus dilakukan sebelum ada tindakan terhadap pasien pada fasilitas kesehatan sangat erat kaitannya dengan rekam medis, seperti melengkapi data pasien, keluhan pasien dan lain sebagainya. Namun, banyak diantara masyarakat kita tidak memahami hal tersebut. Data rekam medis dan semua isi yang terdapat didalamnya merupakan data pribadi yang tidak boleh disebarluaskan kepada siapa saja. Di era BPJS saat ini, rekam medis menjadi sangat penting bagi fasilitas kesehatan, sehingga diperlukan juga pofesional rekam medis yang handal diposisi tersebut. Rekam medis tidak sekedar mengisi data medis pasien, tapi juga melakukan pengodean penyakit yang juga merupakan bagian dari rekam medis. Pengodean dilakukan agar fasilitas kesehatan dapat mengklaim biaya yang dikeluarkannya dalam menangani seorang pasien di fasilitas kesehatan tersebut. Untuk itu, perlu kiranya diberikan pengetahuan tentang rekam medis kepada masyarakat sehingga diharapkan nantinya lebih banyak masyarakat yang mengerti dan memahami betapa pentingnya rekam medis bagi pasien dan fasilitas kesehatan. Dalam hal ini, tahap awal pengetahuan tentang rekam medis diberikan kepada siswa-siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Padang. Dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat yang berobat ke fasilitas kesehatan lebih peduli dan tidak berbelit-belit dalam memberikan keterangan tentang hal-hal yang ditanyakan petugas medis di fasilitas kesehatan, sehingga proses pengobatan dapat berjalan dengan baik.
Kata kunci : Rekam Medis, Pasien, Fasilitas Kesehatan
ABSTRACT
The first thing that must be done before there is action on patients in health facilities is very closely related to medical records, such as completing patient data, patient complaints and so on. However, several people do not understand this. Medical record data and all contents contained in it are personal data that cannot be disseminated to anyone. In the current BPJS era, medical records are very important for health facilities, so that professional medical records are also needed in that position. Medical records not only fill the patient's medical data but also encode the disease which is also part of the medical record. The coding is done so that health facilities can claim the costs incurred in handling a patient at the health facility. For this reason, it is necessary to provide knowledge about medical records to the community so that it is hoped that more people will understand the importance of medical records for patients and health facilities. In this case, the initial stage of knowledge about medical records is given to students of the State 2 Madrasah Aliyah (MAN) Padang. With this activity, it is expected that the people who seek treatment at health facilities are more caring and convoluted in giving information about matters that are asked by medical staff in health facilities so that the treatment process can run well.
Keyword : Medical Records, Patients, Health Facilitie
PELATIHAN KOMPUTERISASI DATA REKAM MEDIS MENGGUNAKAN PROGRAM VISUAL FOXPRO-9 PADA KLINIK ANDURING PADANG
The training activities are based on the staff of medical records in this Anduring Clinic, in terms of data processing and making reports still using a computer manually, namely making letters, typing and making reports using Microsoft Excel, while in terms of computerized data processing there is no or still being done manually, so the computers in this clinic are only used as far as typing and reporting. The purpose of this activity is carried out to improve medical record staff in their skills and expertise, in processing and processing patient data, doctor data, disease data and patient history data and making reports desired by the Anduring clinic, so that the data can be processed and made in a manner quickly and precisely to those who need information. This activity was carried out for one day with 9 participants, including general staff and doctors. The method used is training accompanied by lectures, demonstrations, hands-on practice in front of the computer. The results of the training showed that the medical record staff was able to use and practice the Medical Record Data Compuerization (KDRM) application program in terms of data processing and medical record reporting in the clinic. With this training, it shows that there is a significant influence in training computerized medical record data on improving performance and time efficiency in the processing of data and medical record reports at the clinic
NASKAH PRIMBON HIRZ AL-YAMANI (Suntingan dan Kajian Isi Teks)
Yuli Tri Hastuti. 2018. Primbon Text Hirz Al-Yamani: (Editing and Study of Text Content) Thesis. Indonesian Literature Department, Faculty of Cultural Sciences. Diponegoro University. Semarang. Advisor: Dr. Muh. Abdullah, MA The Primbon Hirz Al-Yamani manuscript is a collection of the National Library of the Republic of Indonesia (PNRI) with the catalog number Br7 which reads Arabic Pegon. The Primbon Hirz Al-Yamani manuscript is a form of prose which contains the functions and benefits of hirz prayer. In this study, data sources are divided into two, namely primary data and secondary data. Primary data sourced from Primbon Hirz Al-Yamani texts obtained through catalog studies in museums or libraries. Secondary data comes from books or other sources that are located as supporting research. The theory used in this study is the theory of philology and mimeic theory. Philological theory is used to get translations and edits of text. The text editing method used in this study is the standard method. In addition, to find out the contents contained in the Primbon Hirz Al-Yamani text, the authors use mimetic theory. The mimetic model used in this study is mimetic according to Abrams. Based on the analysis conducted by the author, the Primbon Hirz Al-Yamani text is a pesantren literary text containing Isim A'zhom in it. To get a practice, Hizib must go through a diploma directly to a teacher and ask for his guidance directly. Keywords: Primbon Hirz Al-Yamani manuscript, philology, mimetic
Problems of Russian Theatrical Reception of Shakespeare in Criticism of Yuli Eichenwald
The problem of this study lies in evaluating the methodological approach of Yuli Eichenwald (1872—1928) as a theatrical critic and theorist, specifically his writings on Shakespearean productions both in Russia and abroad. Known primarily as a literary critic, Eichenwald also wrote about theater, but his works in this area have been largely unexplored. The aim of this study is to shed light on Eichenwald's principles of theatrical criticism. The material used consists of little-known articles by Eichenwald on theater theory and Shakespearean productions from 1903 to 1927. The research employs hermeneutic and comparative methods. The findings reveal that Eichenwald demonstrates a literature-centric position in his articles on theater, according to which theater is merely an illustration of literary works. He increasingly uses productions as a pretext to discuss Shakespeare, often without mentioning the actors or directors. Eichenwald’s perception of theater as a mediator, as an auxiliary device between the play and the reader, leads to his rejection of the concept of directorial theater and the denial of the director as the author of the production. The authors conclude that Eichenwald’s theatrical criticism is a logical outcome of literature-centric judgments about theater, from Aristotle to Hegel, where theater is considered as part of literature
Data Mining Rekam Medis Untuk Menentukan Penyakit Terbanyak Menggunakan Decision Tree C4.5
Data rekam medis yang terdapat di rumah sakit jarang sekali digunakan untuk penelitian dan menambah pengetahuan. Data rekam medis tersebut sangat banyak dan hanya memenuhi media penyimpanan yang ada di rumah sakit, baik itu penyimpanan secara elektronik ataupun penyimpanan secara fisik berupa kertas. Penggunaan data mining dalam mengolah data rekam medis bisa diterapkan untuk menggali pengetahuan dan pengambilan keputusan. Salah satu metode yang digunakan dalam data mining adalah klasifikasi. Dengan klasifikasi, keputusan dapat dibuat dalam bentuk desicion tree. Dengan menerapkan metode decision tree algoritma c4.5, kita dapat mengklasifikasi sebaran penyakit disuatu wilayah tertentu dengan mengacu pada variabel-variabel jenis kelamin, usia dan kecamatan. Dari data mining yang diperoleh di Rumah Sakit Umum Citra BMC Padang yang berobat pada bulan Januari 2013, dilakukan analisis dan tahapan-tahapan dalam proses klasifikasi baik secara manual maupun menggunakan software Knime sehingga didapatkan sebaran penyakit terbanyak terdapat pada BAB XVIII (R00-R99) yaitu sebanyak 8 orang dari 21 pasien rawat inap yang berobat di rumah sakit umum Citra BMC Padang.Medical record data in hospitals is rarely used for research and increase knowledge. Medical record data stored electronically or stored in the form of archives, periodically will be removed by the hospital according to existing rules, because the data is considered waste that will burden the storage media only. The main purpose of this research is how to utilize the medical record data that is considered to be a waste in order to give positive contribution for all parties both for hospital in making policy, for health facility, and for government in handling health. From data mining obtained at Citra BMC Padang General Hospital in January 2013, data analysis, data classification and decision tree making using algortima c4.5 were used, so that from total of 21 patients who got treatment got total entrophy 2,5061441 with amount most cases were found in CHAPTER XVIII (R00-R99) as many as 8 patients from 21, with sex details (female 5 patients and 3 men), age (elderly 5 patients, young and adults 1 patient, infant and child 2 patient), address (Padang Timur 4 patients, North Padang 1 patient, Lubuk Begalung 2 patient and Padang Barat 1 patient)
Flood prevention on the lower reaches of the Rellow River
Proceedings of a congerence in Zhenzhou, China, 1990: Gong Shiyan, Wu Zhiyao: Introduction. Bao Zicheng, Zhang Mingde, Wang Rudiu: Strenghtening of dykes by Warping. Cheng Zidao, Liu Yuli: To remedy hidden defects in dykes by probing with pointed steed rods and subsequent grouting. Hu Yisan: River training works on the lower reaches of the Yellow River. Shen Hongxin, Xu Fuling: Engineering structures for river correction on the lower reaches of the Yellow River. Bao Xicheng, Zho Guangming, Wang Hongxiang: Ice dam on the lower reaches of the Yellow River. Liu7 Ruyun, Tong Linlang: Organizing for flood protection on the lower reaches fo the Yellow river. A brief account of Dongpinghu detention reservoir
- …
