1,721,160 research outputs found

    PELAPISAN SOSIAL-BUDAYA PESISIR KELURAHAN MANGKANGKULON, SEMARANG

    No full text
    SERAFIM KUDU MAMBANG LIN GABRIEL

    FUNGSI DAN MAKNA LAGU GUBANG DALAM UPACARA SIAR MAMBANG PADA MASYARAKAT TANJUNGBALAI

    Full text link
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi, fungsi, makna dan tanggapan masyarakat mengenai lagu gubang pada Upacara Siar Mambang di Tanjungbalai, Sumatera Utara. Teori yang digunakan adalah fungsi, makna, Gubang, dan Siar Mambang. Fungsi merupakan kegunaan gubang pada upacara Siar Mambang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, sedangkan yang menjadi informan penelitian terdiri dari 13 orang yang terdiri dari tokoh adat 1 orang, pemusik 5 orang, penari 2 orang, masyarakat kota Tanjungbalai 5 orang. Alat yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gubang adalah komposisi musik melayu berupa ensambel musik. Siar Mambang adalah upacara pengobatan untuk orang sakit. Dalam susunananya, adanya sebuah lagu yang bertempo semakin cepat untuk menciptakan keadaan trance (kerasukan roh) pada upacara Siar Mambang dan lagu tersebut adalah lagu gubang. Instrumen musik yang dimainkan pada upacara siar mambang ini antara lain gendang, tawak-tawak, dan bangsi faktor yang menyebabkan semakin jarang dilaksanakan upacara siar mambang ialah kondisi keagamaan, ekonomi, sistem pengobatan modern. Kata Kunci: Fungsi, Makna, Gubang, Siar Mambang

    UJI COBA TANAH LIAT DESA MAMBANG KECAMATAN PLANDAAN KABUPATEN JOMBANG UNTUK KERAMIK BAKARAN TINGGI

    Full text link
    Abstrak Desa Mambang merupakan salah satu desa di kabupaten Jombang yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai pembuat gerabah.Perajin gerabah di desa Mambang sudah menjalani pekerjaan ini secara turun temurun.Gerabah yang dibuat di desa Mambang meliputi cobek, kendil, dan kendi/ceret (tempat air minum). Bahan baku yang digunakan berasal dari tanah di desa Mambang itu sendiri. Dengan penanganan yang tepat serta penambahan bahan tambahan seperti kaolin, kwarsa, felpdspar, ballclay dan grog, tanah Mambang dapat dijadikan keramik bakaran tinggi antara 1000OC sampai 1200OC. tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data formula bahan yang tepat untuk pembuatan keramik bakaran tinggi dari bahan baku tanah liat Mambang. Metode penelitian ini adalah metode eksperimen dengan tahap studi pendahuluan menerapkan pendekatan teknik diskriptif kualitatif. Melalui serangkaian proses uji coba bahan, didapatkan formula keramik dengan keadaan baik untuk membuat keramik bakaran tinggi. Formula pertama dari serangkaian uji coba tes pieces adalah formula yang paling baik. Komposisi campurannya adalah tanah Mambang 50%, bahan bantu seperti kaolin 20%, kwarsa 10%, feldspar 10%, ballclay 5%, dan grog 5%. Pengaplikasian formula bahan pertama ini berupa produk keramik dengan teknik cetak dan putar seperti mangkuk, cangkir, tutup cangkir dan alas cangkir.Pemilihan desain produk ini didasarkan nilai ekonomis yang dihasilkan jika benar-benar diaplikasikan oleh pengrajin di desa tersebut. Kata Kunci :Uji coba, tanah liat Mambang, Keramik, Bakaran Tingg

    Gerabah Mambang-Jombang: Tradisi Prasejarah yang Masih Berlangsung sampai Sekarang sebagai Wujud Enkulturasi.

    No full text
    ABSTRAK Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli diketahui bahwa gerabah sudah mulai dikenal sejak masa bercocok tanam. Pembuatan gerabah merupakan usaha yang telah berlangsung secara turun-temurun. Salah satu gerabah yang berlangsung secara turun-temurun adalah Gerabah Mambang. Teknik pembuatan gerabah Mambang masih menggunakan alat-alat tradisional. Walaupun sebagian besar pekerjaan masyarakat Mambang adalah bertani, namun pembuatan gerabah masih dilakukan sebagai usaha sampingan guna membantu perekonomian mereka. Dalam regenerasi, mereka mengajarkan teknik pembuatan gerabah kepada anaknya lewat pendidikan informal. Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi: (1) Bagaimana teknik pembuatan gerabah tradisional Mambang-Jombang? (2) Faktor-faktor apa yang menyebabkan gerabah tradisional Mambang-Jombang masih dapat bertahan sampai sekarang? (3) Bagaimana proses enkulturasi pada pembuatan gerabah tradisional Mambang-Jombang? Dengan tujuan penilitian: (1) Mengetahui teknik pembuatan gerabah tradisional Mambang-Jombang. (2) Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan gerabah tradisional Mambang-Jombang masih dapat bertahan sampai sekarang. (3) Menjelaskan proses enkulturasi pada pembuatan gerabah tradisional Mambang-Jombang. Pada penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitiannya adalah deskriptif, dan menggunakan kajian etnoarkeologi. Adapun tahap-tahap penelitiannya, yaitu; tahap persiapan, tahap penelitian lapangan, dan tahap penyelesaian. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa: (1) Teknik pembuatan gerabah di Mambang menggunakan metode roda putar. Alat-alat yang digunakan, yaitu perbot, tetep, watu, kerik, dan dalim. (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi gerabah Mambang masih dapat bertahan sampai sekarang, yaitu; perubahan fungsi gerabah, tidak boleh kerja jauh, tingkat pendidikan rendah dan tidak ada pekerjaan lain, satu-satunya keahlian yang dimiliki, petani dan buruh tani yang memiliki banyak waktu luang, dan respon pasar yang baik. (3) Proses enkulturasi terlihat ketika anak dikenalkan bahan-bahan, alat pembuatan dan pewarnaan, proses penjemuran, dan proses pembakaran

    SYAIR MAMBANG JAUHARI: TELAAH STRUKRURAL-SEMIOTIK

    Full text link
    Syair Mambang Jauhari (Mambang Jauhari verse) is one of the traditional Malay Literacy works. The components built in  SMJ indicate closed and functional relationship. The components of rhythm, rhyme, line, and couplet function to struggle narrative structure and total meaning of the text for the society. The components of plot, background, point of view, form, theme, message, and integration have capacity to organize, form and maintain the relationships among the components inducing integration, strong structure, and meaning in the SMJ. The most dominant meaning of SMJ is that in creating the harmony in life, it is better to start from creating the micro-cosmos harmony among individuals and continue to macro-cosmos involving harmony in the social life, cultural life, political life, harmony in economic life, and in defense

    TRANSFORMASI DEO KAYANGAN MENJADI TARI MAMBANG DEO-DEO KAYANGAN DI PEKANBARU

    Full text link
    INTISARI Deo Kayangan merupakan ritual pengobatan penyakit yang disebabkan oleh kekuatan gaib. Ritual ini ada di Kelurahan Tebing Tinggi Okura, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Ritual tersebut dipimpin oleh seorang batin, (seseorang yang memiliki kemampuan supranatural) bernama Tuk Damai. Tuk Damai diminta oleh masyarakat untuk menjadikan ritual tersebut sebagai hiburan dengan membuat imitasi Deo Kayangan yang diberi nama Badeo. Realitas tersebut menginspirasi seorang koreografer muda bernama Wan Harun Ismail untuk mentransformasi bentuk Deo Kayangan sehingga menghasilkan bentuk baru yaitu tari Mambang Deo-Deo Kayangan. Fenomena ini kemudian menjadi sebuah topik pembicaraan yang hangat di Pekanbaru sejak tarian karya Wan Harun Ismail tersebut tampil di acara Parade Tari dan Pemilihan Bujang Dara Kota Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena tersebut secara runut. Mulai dari bentuk asli ritual Deo Kayangan hingga menjadi tari Mambang Deo-Deo Kayangan, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi sosok Wan Harun Ismail sebagai seniman yang melakukan transformasi Deo Kayangan menjadi tari Mambang Deo-Deo Kayangan, serta menjelaskan tanggapan masyarakat terhadap transformasi bentuk Deo Kayangan menjadi tari Mambang Deo-Deo Kayangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnokoreologi sebagai pendekatan utama. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi data tertulis dan studi lapangan. Analisis dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tari Mambang Deo-Deo Kayangan mengadopsi pola gerakan dari aktivitas Deo Kayangan. Semua gerakan diformulasi menjadi bentuk baru dan diwujudkan menjadi tari Mambang Deo-Deo Kayangan. Transformasi dari bentuk Deo Kayangan menjadi tari Mambang Deo-Deo Kayangan disebabkan atas faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari latar belakang, kreativitas, motivasi dan aktualisasi diri Wan Harun Ismail. Faktor eksternal terdiri dari dukungan pemerintah, keberadaan Sanggar Sembilu Art Entertainment dan dukungan masyarakat. Kehadiran tari Mambang Deo-Deo Kayangan membantu pemerintah menemukan potensi lain di Kelurahan Tebing Tinggi Okura. Upaya konservasi yang dilakukan oleh pemerintah ini berdampak pada meningkatnya antusias masyarakat dalam menyambut progam tersebut, hal ini dibuktikan dengan peran serta masyarakat Tebing Tinggi Okura yang turut menggali potensi desanya. Kata Kunci : Ritual Deo Kayangan, transformasi, Tari Mambang Deo-Deo Kayangan

    Pelaksanaan Perkawinan Adat Pada Masyarakat Adat Di Kanagarian Koto Mambang Sungai Durian Kabupaten Padang Pariaman

    Full text link
    ​In the procession of carrying out marriages for indigenous peoples in Kanagaraian Koto Mambang Sungai Durian there is a tradition called "bajapuik" (pick up), where men get something from women, such as "japuik money" and "lost money". "Japuik money" is different from the cost of the dowry or dowry. Because in this tradition, gifts made by the woman are given before the marriage contract, and the dowry is given after the marriage contract. However, it should be noted that men still give dowries to women, except during the event to visit the mother-in-law's house, men will also return "japuik money" in the form of goods whose value exceeds the "japuik money" given by the woman. In this study the authors have the main problems discussed as follows, How is the implementation of customary marriages in indigenous peoples in Kanagarian Koto Mambang Sungai Durian, Padang Pariaman Regency, What are the legal consequences in implementing customary marriages in indigenous peoples in Kanagarian Koto Mambang Sungai Durian, Padang Pariaman Regency and What are obstacles in the implementation of traditional marriages for indigenous peoples in Kanagarian Koto Mambang Sungai Durian, Padang Pariaman Regency. The research method that the author uses in this research is the type of research that is included in the research method of observation (observational research), the author collects data and looks for information about the activities that will be used as research objects. The results of the research that the authors obtained are that the implementation of customary marriages in indigenous peoples in Kanagarian Koto Mambang Sungai Durian, Padang Pariaman Regency requires conditions that must be met to make a proposal, Japuik money is also a requirement to make a proposal, Baimbang tando is one of the mandatory requirements in the Pariaman community, the conditions are Ring, Delivery, Umbrella and also usually the same as the conditions for wanting to do an engagement in other areas. If these conditions are not met, the family will meet or discuss again, and the reception will be the same as in other areas. other areas, if the reception is not held there is no problem because the reception is not mandatory, only as a notification that both parties are married. And . The legal consequence in the implementation of customary marriages in indigenous peoples in Kenagarian Koto Mambang Sungai Durian, Pariaman City, is that after the marriage the husband/wife has a role as a son-in-law. The male pariaman on the female side is called Sumando (son-in-law), the husband is welcome to stay at his wife's house because in Minangkabau society there is a matrilineal kinship system, but the husband has no role in the wife's property or the wife's family property, Minangkabau customs know what is called wealth High Inheritance and Low Inheritance. every implementation there must be such a thing as obstacles and obstacles in the implementation of traditional marriages in indigenous peoples in Kanagarian Koto Mambang Sungai Durian, Pariaman City, what often happens is when negotiating the amount of japuik money, therefore if a reception encounters a problem, the effort to resolve it is by way of deliberation between the ninik mamak and their extended famil

    Keanekaragaman dan kelimpahan kupu-kupu(superfamili: papilionoidea) di Hutan Rimbe’ Mambang, Desa Dalil, Kabupaten Bangka

    Full text link
    Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman dan kelimpahan kupu-kupu yang tinggi. Hutan Rimbe’ Mambang merupakan hutan yang terletak di kawasan Desa Dalil, Kecamatan Bakam, Kabupaten Bangka. Hutan ini memiliki luas kurang lebih 55,57 hektar dan dibagi menjadi tiga bagian yaitu depan, tengah dan belakang. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keanekaragaman dan kelimpahan kupu-kupu (Superfamili: Papilionoidea) di Hutan Rimbe’ Mambang, Desa Dalil, Kabupaten Bangka. Pengumpulan data menggunakan metode bujur sangkar, yaitu dengan mengamati kupu-kupu yang ada di dalam petak berukuran 50 x 50 meter. Petak diletakkan secara purposive sampling sebanyak 2 petak untuk masing-masing bagian hutan (depan, tengah, belakang) sehingga secara keseluruhan terdapat 6 petak. Data indeks keanekaragaman, kelimpahan, indeks kemerataan dan indeks kekayaan jenis dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan kupu-kupu yang ditemukan termasuk ke dalam 5 famili dengan 43 spesies, yaitu famili Nymphalidae (29 spesies), famili Papilionidae (5 spesies), famili Lycaenidae (4 spesies),famili Hesperiidae (3 spesies), danfamili Pieridae(2 spesies).Nymphalidae merupakan famili dengan spesies terbanyak. Tanaecia pelea danEurema sariditemukan dominan di Hutan Rimbe’ Mambang, terdapat 179 individu dan 135 individu. Nilai indeks keanekaragaman dan kemerataan tertinggi terdapat pada bagian depanHutan Rimbe’ Mambang, sedangkan indeks kekayaan jenis tertinggi dibandingkan lokasi lain terdapat pada bagian tengah.Berdasarkan nilai keanekaragaman, kemerataan dan kekayaan spesies, maka Hutan Rimbe’ Mambang merupakan hutan yang masih alami dan belum terganggu sehingga mendukung keberadaan kupu-kupu didalamny

    REDESAIN MOTIF PUCUK REBUNG KUNTUM MAMBANG DENGAN TEKNIK EMOSS

    Full text link
    ABSTRAK Enita. Ria. 2014. Redesain Motif Pucuk Rebung Kuntum Mambang Dengan Teknik Emboss Program Studi Kriya Tekstil dan Mode. Motif Pucuk Rebung Kuntum Mambang adalah motif asal Riau di mana motif ini hanya di kenal oleh masyarakat Riau saja. Untuk mempopulerkan motif kepada dunia internasional menginspirasi penulis dalam membuat karya yang bertema “Ekletik” adalah penggabungan dua metode atau lebih dalam hal ini penulis menggabungan dua metode yaitu budaya tradisional dengan gaya modern dengan cara mengeksplorasi bahan kulit domba dan dengan teknik emboss serta menggunakan warna hitam dan gold sehingga menimbulkan image edgy bold yaitu kuat dan tegas

    SYAIR MAMBANG JAUHARI: TELAAH STRUKRURAL-SEMIOTIK

    No full text
    Syair Mambang Jauhari (Mambang Jauhari verse) is one of the traditional Malay Literacy works. The components built in  SMJ indicate closed and functional relationship. The components of rhythm, rhyme, line, and couplet function to struggle narrative structure and total meaning of the text for the society. The components of plot, background, point of view, form, theme, message, and integration have capacity to organize, form and maintain the relationships among the components inducing integration, strong structure, and meaning in the SMJ. The most dominant meaning of SMJ is that in creating the harmony in life, it is better to start from creating the micro-cosmos harmony among individuals and continue to macro-cosmos involving harmony in the social life, cultural life, political life, harmony in economic life, and in defense.</jats:p
    corecore