1,720,995 research outputs found

    Nasikh mansukh menurut Mahmoud Muhammad Thaha

    Get PDF
    Konsep nasikh mansukh merupakan tema yang sangat penting dalam studi Alquran dan merupakan pembahasan yang sangat vital bagi seorang mufasir untuk menghindari kekeliruan dan kesalahan dalam memahami maksud Alquran. Masalah nasikh dan mansukh, selama ini masih menjadi perdebatan dikalangan ulama mufasirin, yaitu antara ulama yang mendukung dan menolaknya. Bagaimanapun penetapan suatu hukum Islam, bukan berarti sudah menjadi keputusan akhir, bisa saja keputusan itu berubah seiring perkembangan dan perubahan sejarah. Mahmoud Muhammad Thaha, seorang pemikir Islam yang menjelaskan Nasikh Mansukh dengan cara yang berbeda, ia berpendapat bahwa naskh bukanlah penghapusan “total dan permanen” melainkan penghapusan untuk sementara, menunggu saat yang tepat untuk dilaksanakan. Adapun masalah yang akan dikaji dalam penenlitian ini adalah Bagaimana perspektif Mahmoud Muhammad Thaha tentang nasikh mansukh? Ayat mana saja yang termasuk Mahmoud Muhammad Thaha nasikh mansukh? Tujuan penelitian skripsi ini, untuk mengetahui pandangan Mahmoud Muhammad Thaha terhadap Nasikh Mansukh dan ayat apa saja yang menurut Mahmoud Muhammad Thaha nasikh mansukh. Kegunaannya untuk menambah khazanah keislaman, dan untuk menghindari kekeliruan dalam memahami maksud alquran. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analysis dengan jenis datanya adalah kualitatif. Data penelitiannya diperoleh melalui kajian teks (teks reading) dan selanjutnya dianalisis, yaitu pemaparan apa adanya dalam suatu teks dengan cara mendeskripsikannya dengan bahasa penulis. Serta didukung oleh data primer berupa karya buku Mahmoud Muhammad Thaha, karya tulis ilmiah lainnya yang sesuai dengan masalah yang dikaji. Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa konsep nasikh mansukh dalam pandangan Mahmoud Muhammad Thaha berbeda dengan ulama yang lain. Menurutnya, konsep nasikh mansukh itu bukan menggugurkan melainkan menunda pemberlakuan hukum sampai waktu yang tepat sehingga masyarakat mampu menerima syari’at Islam. Sedangkan menurut pendapat ulama lain yaitu tidak berlakunya lagi hukum suatu ayat karena telah datangnya ayat yang baru. Kemudian ayat yang dinasakh oleh Mahmoud Muhammad Thaha berdasarkan tema-tema berikut yaitu persoalan kebebasan beragama, persoalan perbudakan, persoalan kesetaraan gender, persoalan poligami, dan persoalan keadilan sosial

    Kontekstualisasi Konsep Makkî-madânî dan Nâsikh-mansûkh Mahmoud Muhammad Thaha (1909-1985) terhadap Ayat-ayat Kepemimpinan

    Get PDF
    Kepemimpinan di era kontemporer banyak menimbulkan disharmoni antar umat beragama, sehingga merampas hak-hak esensial orang lain, bahkan menimbulkan diskriminasi dan penindasan karena masalah kepemimpinan. Esensi kebenaran sebuah kepemimpinan dalam sebuah agama adalah terbentuknya tatanan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur (Baldatun Ṭoyyibatun wa Rabbun Ghafûr). Islam tidak memberikan sistem kepemimpinan dan ketatanegaraan secara formal untuk umatnya, Namun demikian Al-Quran sebagai sumber pokok ajaran memberikan prinsip-prinsip universal tentang kepemimpinan dalam kitab sucinya, adapun bentuknya berkutat pada kriteria dan karakteristik pemimpin yang dijelaskan dalam beberapa surat dan ayat Al-Qur'an. Ayat-ayat Al-Qur`an dapat diklasifikasikan dalam kelompok Makkiyah dan Madaniyah. Di saming itu, terkadang satu ayat menghapus konsekuensi hukum ayat yang lain. Konsepsi Makkî-Madânî dan Nâsikh-Mansûkh yang dikemukakan oleh Mahmoud Muhammad Taha menawarkan peninjauan ulang terhadap konsepsi Makkî-Madânî dan Nâsikh-Mansûkh, agar subtansi hukum Islam dapat lebih menemukan relevansi dan siginfikansinya, dan sejalan dengan nilai-nilai universal yang tidak bersifat diskriminatif. Dengan mengkaji ayat-ayat Al-Qur`an tentang kepemimpinan dengan Konsepsi Makkî-Madânî dan Nâsikh-Mansûkh yang dikemukakan oleh Mahmoud Muhammad Taha, rekonsiliaasi hukum Islam dengan isu krusial kepemimpinan kontemporer dapat terwujud. Metodologi naskh yang dibangunMahmoud Muhammad Taha diklaim sebagai metodologi “pembaruan Islam yang memadai” untuk membangun syari'ah Islam yang humanis tanpa mendiskriditkan hubungan antara muslim dan non muslim, laki-laki dan perempuan

    Contextualização e análise da obra A Segunda Mensagem do Islã de Mahmoud Muhammad Taha

    No full text
    Essa dissertação tem como objetivo analisar e contextualizar a obra A Segunda Mensagem do Islã de Mahmoud Muhammad Taha, publicada em 1967, no Sudão. Em 1985, Taha foi considerado culpado de apostasia, por suas ideias, e foi condenado a pena de morte. Analisaremos como sua interpretação do Corão discorda da leitura tradicional do Corão e também verificaremos sua inserção no conceito de Islã liberal e seu impacto. Pretendemos com esse trabalho contribuir com as pesquisas relativas ao Islã liberal no BrasilThis dissertation seeks to analyse and contextualize Mahmoud Muhammad Taha’s book The Second Message of Islam, published in Sudan, in 1967. In 1985, Taha was found guilty on apostasy charges and sentenced to death. The present work goes over how Taha’s interpretation differs from the Qur’an’s traditional reading whilst also discussing its insertion on the concept of liberal Islam and its impact. This work seeks to contribute with the body of researches related to liberal Islam in BrazilCoordenação de Aperfeiçoamento de Pessoal de Nível Superior - CAPESFundação São Paulo - FUNDAS

    Mahmoud Muhammad Taha, a historical study of his life and writings

    Get PDF
    The study of prominent political figures is one of the topics that attracted the attention of resaerchers in order toreveal thir most prominent positives and negatives that accompanied thaeir life path ln sudan the personality of Mahmoud Muhammad taha emerged during the twentieth century among the personalities that emerged and left their clear imprints on contemporaru Sudanese political thought through it he tried to present a new light on the history of this thought lt had a great resonance that transcended thae bordeers of the country of Sudan as it brought strange and new ideas to Islam in which the majority of Muslim scholars disagreed and provoked a wide controversy from the scholars  of the Islamic world between support opposition and rejection which was a reason to present his life to those ideas&nbsp

    TEORI NASKH MAHMOUD MUHAMMAD TAHA DAN SUMBANGSIHNYA BAGI PEMBARUAN HUKUM ISLAM DI DUNIA MODERN

    Get PDF
    Dalam sejarahnya yang panjang, hukum Islam selalu berdialog dan berdialektika dengan realitas zamannya. Hal itu bisa dilihat dari kenyataan bahwa nabi, para sahabat, dan juga para ulama (fuqaha) selalu berusaha (berijtihad) untuk merespons dan mencarikan solusi bagi setiap persoalan hukum yang dihadapi oleh umatnya. Bahkan terdapat fakta bahwa sebagian ayat-ayat hukum juga diturunkan dalam konteks merespons atau memberi jawabatan atas suatu persoalan yang muncul atau dihadapi oleh nabi dan umatnya. Ini menunjukkan bahwa hukum Islam tidaklah statis (berjalan di tempat), melainkan dinamis dan bahkan progresif dalam merespons tuntutan zaman. Progresivitas hukum Islam juga tampak dari kenyataan bahwa para pemikir hukum Islam begitu peka dan responsif terhadap persoalan yang muncul di tengah-tengah umatnya. Mereka telah berusaha secara sungguh-sungguh (berijtihad) untuk menggali kandungan Al-Qur’an dan as-Sunnah demi menjawab problematika yang dihadapi umat. Untuk tujuan itu, tidak jarang dari mereka (para fuqaha) yang kemudian merumuskan metodologi penggalian hukum dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Artikel ini hendak mendiskusikan gagasan dari salah seorang pemikir muslim progresif asal Sudan, Mahmoud Muhammad Thaha, yang boleh dibilang sangat brilian, namun sekaligus kontroversial. Artikel ini akan difokuskan pada teori Naskh yang digagas oleh Muhammad Thaha tersebut bagi pembaruan hukum Islam di dunia modern

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Jāmiʻ al-bayān ʻan taʼwīl al-Qurʼān

    No full text
    The book explains verses by referencing the narrations from the Prophet, his companions, and those who came after them. This book includes 16 parts, each part dedicated to interpreting the surahs and verses of the Holy Qur’an. It was also verified, commented on, and reviewed by both Mahmoud Muhammad Shaker and Ahmed Muhammad Shaker
    corecore