176 research outputs found
Tafsir Kultural Jawa: Studi Penafsiran Surat Luqman Menurut KH. Bisri Musthofa
Penelitian ini menelaah Penafsiran Surat Luqman menurut Perpektif KH Bisri Musthofa dalam kitab Tafsir Al-Ibriz. Pertanyaan penting yang diajukan meliputi Historisitas Surat Luqman, biografi KH Bisri Musthofa, sejarah al-Ibriz, dan bagaimana Kontektualisasi Penafsiran Mauizah dalam Surat Lukman kaitannya dengan Budaya Lokal dalam pandangan KH. Bisri Musthofa. Metode analisis yang digunakan adalah metode konten analisis untuk menjelaskan perspektif KH Bisri Musthofa terhadap konsep Mauizah dalam surat Luqman dan hubungannnya dengan Tafsir Tradisi Kultural Jawa
PENCIPTAAN MANUSIA PERSPEKTIF KH. BISRI MUSTHOFA DALAM TAFSIR AL-IBRIZ
ABSTRAK
Penelitian dengan judul “ Penciptaan Manusia Perspektif KH. Bisri Musthofa Dalam Tafsir Al-Ibriz” ini ditulis oleh Alfi Khoirudin, NIM. 126301201001, Pembimbing Bapak M. Fajrul Munawir, M.Ag
Kata Kunci: Penciptaan Manusia, Tafsir al-Ibriz, Hermeneutika George Gadamer
Teori penciptaan manusia menurut ilmuwan dan al-Qur’an terdapat perbedaan. Teori evolusi Darwin bahwa manusia berkembang dari nenek moyang primata melalui proses evolusi yang melibatkan perubahan genetik dan seleksi alam. Al-Qur’an menjelaskan bahwa penciptaan manusia dari tanah, mani, daging dan ditiupkan ruh. Penafsiraan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an nampaknya juga terdapat perbedaan. Hal ini dilatarbelakangi oleh keluarganya, pendidikannya dan lingkungan kehidupannya. Seperti kitab Tafsir Al-Ibriz yang dikarang oleh KH Bisri Musthofa yang menafsirkan dengan bahasa Jawanya. Penelitian ini akan menjelaskan penciptaan manusia perspektif kitab tafsir al-Ibriz. Tujuannya mengetahui penjelasan proses penciptaan manusia dan substansinya dengan bahasa Jawa yang mudah dipahami. Fokus masalah yang terjadi pada penelitian ini adalah (1) Bagaimana perspektif K.H Bisri Musthofa tentang penciptaan manusia dalam kitab tafsir Al-Ibriz ? (2) Bagaimana perspektif K.H Bisri Musthofa tentang penciptaan manusia ditinjau dari teori hermenueutika Hans George Gardamer? Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teori hermeneutika Hans George Gadamer yang berhubungan dengan penciptaan manusia Perspektif KH. Bisri Musthofa. Penelitian ini menghasilkan (1) Penggunaan bahasa dalam kitab Tafsir Al-Ibriz adalah bahasa Jawa. Penciptaan manusia berasal dari lemah, mani, getih meringkil, daging sak perongkol dan dilahirkan dari ibu. (2) Teori hermeneutika Hans George Gardamer meliputi pemahaman horizon teks dan horizon pembaca, penggabungan kedua horizon (fusion of horizon), dan juga penggunaan analogi modern. Melalui horizon teks, manusia tugasnya adalah melampaui proses yang terjadi dalam kehidupannya dan hasil dari semua tersebut yang menentukkan adalah Allah Swt. Horizon pembaca, nilai-nilai Jawa yang mengatur urusan manusia, mulai dari fase bayi, dewasa dan tua akan selalu dipegang oleh masyarakat Jawa. Pola pikir masyarakat Jawa dipengaruhi hasil pemikiran leluhur. Hal tersebut tetap dilaksanakan, selama tidak bertentangan dengan aturan agama. Dalam fusion of horizonnya Penafsiran Bisri Musthofa, khususnya dalam konteks pembaca Jawa, menyoroti konsep penciptaan manusia dengan menggunakan analogi yang lebih dekat dan dipahami oleh masyarakat Jawa. Dalam analisisnya terhadap ayat-ayat tertentu seperti QS. Al-Hajj: 5, QS. Ghafir: 67, QS. Al-Hijr: 26, dan QS. Fatir: 11, ia mengaitkan proses penciptaan manusia dari bahan dasar seperti tanah, air mani, darah, dan daging dengan siklus kehidupan yang dikenal luas oleh pembaca Jawa. Penggunaan analogi modern Bisri Musthafa menggambarkan penciptaaan manusia seperti sebuah film bahwa tidak ada yang dapat ditampilkan, kecuali sudah diciptakan oleh pengarang film
SUMBER PENAFSIRAN TAFSIR AL-IBRIZ KARYA BISRI MUSTHOFA (Studi Tematik Surat Al-Fatihah)
Abstrak
Al-Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad dengan latar belakang berbahasa Arab. Kemudian diajarkan dan dipelajari oleh seluruh umat Islam dari berbagai negara dan bahasa yang berbeda yang belum tentu mengerti dengan bahasa Arab. Sehingga para mufassir – utamanya mufassir Nusantara – mencoba memberikan alternatif bagi mereka yang ingin mempelajari Al-Qur’an tetapi masih awam dengan bahasa Arab, yaitu dengan tafsir Al-Qur’an berbahasa Indonesia, Melayu ataupun Jawa seperti tafsir Al-Ibriz karya Bisri Musthofa. Tafsir al-Ibriz yang ditulis dengan bahasa Jawa menjadi kontribusi besar dalam kajian tafsir karena mampu menyuguhkan al-Qur’an dengan kearifan lokal (berbahasa Jawa). Lebih penting daripada itu, tafsir al-Ibriz yang ditulis dalam bahasa Jawa ini disebutkan oleh Bisri Musthofa sendiri dalam muqaddimah kitab tafsirnya merujuk pada kitab-kitab tafsir berbahasa Arab seperti, tafsir Jalalain, tafsir al-Baidlowi, tafsir al-Khazin dan kitab-kitab lainnya. Sehingga artikel ini akan membahas sumber penafsiran kitab tafsir al-Ibriz karya Bisri Musthofa yang pembahasan akan difokuskan pada surat al-Fatihah dan juga membahas seberapa jauh pengaruh dari sumber yang dijadikan rujukan oleh Bisri Musthofa dalam tafsir al-Ibriz.
Metode penelitian yang digunakan adalah tematik tokoh. Adapun Langkah-langkah teknisnya yaitu: Pertama, menetapkan tokoh yang dikaji dan objek formal yang menjadi fokus kajian, yaitu tokoh Bisri Musthofa, dengan objek formal kajiannnya tentang sumber penafsiran kitab tafsir al-Ibriz. Kedua, mengumpulkan data terkait dengan tema. Ketiga, menyajikan penafsiran kitab tafsir al-Ibriz dan kitab tafsir yang disebutkan sebagai sumber penafsiran dalam kitab tafsir al-Ibriz. Keempat, melakukan analisis data melalui metode deskriptif. Kelima, membuat kesimpulan terhadap hasil kajian.
Hasil temuan dari analisis artikel ini adalah bahwa penafsiran Bisri Musthofa dalam Tafsir al-Ibriz disebutkan merujuk pada tiga kitab yaitu, Tafsir al-Jalalain, Tafsir al- Baidlowi, Tafsir al-Khazin dan kitab-kitab lainnya. Namun, dari analisis yang dilakukan pada ketiga kitab tafsir yang disebutkan oleh Bisri Musthofa tersebut tidak semua penafsirannya diambil, melainkan hanya mengambil beberapa saja dan terkadang ada tambahan penjelasan dari Bisri Musthofa sendiri. Sehingga artikel ini menunjukkan bahwa Bisri Musthofa dalam menafsirkan surat al-Fatihah mengikuti model penafsiran dari tiga tafsir yang disebutkan menjadi sumber rujukan tafsir al- Ibriz.
Keywords: Bisri Musthofa, Tafsir al-Ibriz, al-Fatiha
Etika Muslim dalam Kitab Mitra Sejati Karangan KH. Bisri Musthofa Rembang
Penelitian ini membahas tentang etika muslim yang tertera pada kitab Mitra Sejati karangan dari KH Bisri Musthofa Rembang. Sebab itu maka penelitian ini akan memfokuskan pada dua rumusan masalah berikut; (1) Siapakah Sosok KH Bisri Musthofa?, (2) Bagaimana Etika Muslim yang Dijelaskan dalam Kitab Mitra Sejati?. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian kualitatif, dengan menggunakan metode pendekatan sosial pengetahuan untuk menganalisis bagaimana pandangan agama islam yang disampaikan dalam kitab tersebut. KH Bisri Musthofa merupakan seseorang ulama terkemuka yang berasal dari Rembang dan anak dari pasanganl H Zaenal Musthofa dan Chatijah pada tahun 1915. Beliau memiliki banyak karya yang diantaranya adalah kitab Mitra Sejati yang ditulis dengan menggunakan bahasa Arab Pegon. Didalam kitab tersebut menyajikan tentang pentingnya akhlak yang baik dalam berinteraksi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KH Bisri Musthofa mengarang kitab Mitra Sejati dipengaruhi dengan dinamika sosial, politik, dan budaya yang terjadi pada saat itu. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis bagaimana etika seorang muslim yang dijelaskan dalam kitab Mitra Sejati.
Kata Kunci: Kitab Mitra Sejati, KH. Bisri Musthofa, Etika Muslim
Israiliyat dalam tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa: studi analisis tentang kisah kaum 'Aad dan kaum Tsamud
Ada beberapa ayat yang KH. Bisri Musthofa tafsirkan tentang kisah Kaum „Aad dan Kaum Tsamud. KH. Bisri Musthofa menafsirkannya dengan mencantumkan kisah-kisah Israiliyat. Menurut KH. Bisri Musthofa Israiliyat itu berupa sejarah atau hikmah bukan hukum ataupun akidah. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui keberadaan riwayat Israiliyat beserta sumber-sumbernya di dalam Tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa.
Penelitian ini bertolak dari pemikiran umat Islam yang menjadikan Alquran dan hadits sebagai tolak ukur terhadap segala sesuatu, begitu juga terhadap persoalan Israiliyat; pandangannya haruslah dilihat sebagaimana pandangannya Alquran dan hadis terhadapnya. Persoalan yang mendasar yang berkaitan dengan Israiliyat bukan hanya terletak pada boleh dan tidaknya mempelajarinya. Namun, persoalannya menjadi lain ketika Israiliyat telah dijadikan sebagai salah satu sumber penafsir Alquran.
Penelitian dilakukan dengan metode analisis isi pada Tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa, dengan menggunakan teori adz-Dzahabi. Analisis dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan ayat-ayat Alquran yang memungkinkan ditafsirkan dengan riwayat-riwayat Israiliyat, terutama yang ditandai dengan kata “kisah, hikayat atau faidah” untuk kemudian dipisahkan sebagaimana klasifikasi Israiliyat dari berbagai pandangan yang telah dirumuskan oleh para ulama. Hasil penelitian terhadap Tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa menunjukkan bahwa Israiliyat yang ditemukan kebanyakan adalah Israiliyat yang sesuai dengan syariat Islam serta Israiliyat yang di diamkan, dan tidak ditemukan Israiliyat yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Kemudian dilihat dari sumbersumber Israiliyat, Bisri Musthofa tidak mencantumkan sumbernya. Hasil penelitian dapat diambil kesimpulan, bahwa maksud tujuan KH. Bisri Musthofa mengemukakan riwayat-riwayat Israiliyat didalam Tafsir al-Ibriz adalah dimaksudkan untuk menjelaskan kandungan ayat-ayat Alquran. Terlihat jelas ketika KH. Bisri Musthofa menafsirkan suatu ayat kemudian diberikan keterangan “Kisah, Hikayat atau Faidah” di setiap ayat yang mengandung Israiliyat dan Israiliyat nya itu tidak ada yang bertentangan dengan Alquran
STUDI TAFSIR PESANTREN: ANALISIS SURAH ALFA >TIH }AH DALAM PEMIKIRAN KH. AHMAD YASIN ASYMUNI DAN KH. BISRI MUSTHOFA
Penelitian dengan judul “Studi Tafsir Pesantren: Analisis Surah al-Fatihah Dalam Pemikiran KH Ahmad Yasin Asymuni dan KH Bisri Musthofa” ini ditulis oleh Siti Nur Halimatus Sa’diyah, NIM 126301201008 dengan pembimbing Dr. Ubaidillah, M. Hum.
Kata Kunci: Al-Fatihah, Ahmad Yasin, Bisri Musthofa
Surah al-Fatihah merupakan salah satu surah al-Qur’an yang mempunyai keutamaan dan kelebihan yang luar biasa. Salah satu keutamaan dari surah tersebut ialah meliputi tujuan pokok dalam al-Qur’an. Disamping itu surah alFatihah mengandung dasar-dasar islam. Surah yang dibaca minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam. Guna memahami penafsiran surah al-Fatihah penulis tertarik untuk mengkaji penafsiran surah al-fatihah karya KH Ahmad Yasin Asymuni dan KH Bisri Musthofa.
Penelitian ini memiliki tiga fokus penelitian yaitu, 1) bagaimana penafsiran surat al-Fatihah menurut KH Ahmad Yasin Asymuni dan KH Bisri Musthofa. 2) bagaimana metode dan corak penafsiran surat al-Fatihah menurut KH Ahmad Yasin Asymuni dan KH Bisri Musthofa. 3) bagaimana persamaan dan perbedaan penafsiran surah al-Fatihah menurut KH Ahmad Yasin Asymuni dan KH Bisri Musthofa. Adapun tujuan penelitian ini adalah 1) menjelaskan penafsiran surah al-Fatihah menurut KH Ahmad Yasin Asymuni dan KH Bisri Musthofa, 2) menjelaskan penafasiran surah al-Fatihah menurut KH Ahmad Yasin Asymuni dan KH Bisri Musthofa, 3) menjelaskan persamaan dan perbedaan penafsiran surah al-Fatihah menurut KH Ahmad Yasin Asymuni dan KH Bisri Musthofa.
Penelitian ini menggunakan research library. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode kajian pustaka, yaitu mencari data yang berupa catatan, transkip, buku, majalah dan sebagainya. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data yaitu muqaran atau komparasi.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa, Sumber penafsian yang dipakai Ahmad Yasin Asymuni merupakan tafsir bi al- Matsur. Metode penafsiran metode tahlili. Corak penafsiran bercorak tafsir lughawi. Sedangkan sumber penafsiran yang dipakai KH Bisri Musthofa tafsir bil ra’yi. Metode penafsiran menggunakan metode tahlili. corak penafsiran menggunakan antara fiqhi, sosial kemasyarakatan dan sufi. ideologi mufasir yang ditemukan dalam penafsiran KH Ahmad Yasin yakni sunni. Sedangkan dalam penafsiran KH Bisri Musthofa dari segi aliran dan bentuk tafsir, tafsir beliau termasuk beraliran tradisional dan ma’tsur. dalam artian yang sederhana. Aktualisasi dari penafsiran kedua tokoh tersebut dapat dihubungkan dalam konteks kehidupan yaitu; nilai syukur, nilai tanggungjawaban, nilai ibadah
Terapi ruqyah ayat-ayat Al-Qur’an menurut K.h. Bisri Musthofa dalam tafsi<>r al-ibri<z
Al-Qur’an merupakan kitab yang tidak ada habisnya untuk dibahas, termasuk pembahasan dalam skripsi ini yaitu membahas terapi ruqyah dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Berangkat dari sebuah fenomena kian maraknya tren praktik terapi ruqyah di masyarakat. Skripsi ini akan membahas lebih mendalam melalui kitab tafsi<r Al-Ibri<z yaitu sebuah kitab tafsir yang mempunyai corak adab al-Ijtima’i dimana penafsiran kitab ini menyesuaikan dengan kondisi sosial kemasyarakatan.
Penelitian ini berangkat dari pertanyaan apa saja ayat yang menjelaskan terapi ruqyah dalam tafsi<r Al-Ibri<z? dan bagaimana penafsiran K.H. Bisri Musthofa atas ayat-ayat terapi ruqyah?. Sesuai dengan pertanyaan diatas penelitian ini bertujuan untuk megetahui ayat yang menjelaskan terapi ruqyah dalam tafsi<r Al-Ibri<z beserta penafsiran K.H. Bisri Musthofa atas ayat tersebut.
Model penelitian dalam skripsi ini yaitu penelitian kualitatif dengan menggunakan sumber data yang berbasis kepustakaan (library research). Sumber rujukan utama dalam penelitian ini yaitu kitab Al-Ibri>z Lil Ma'rifat Tafsi>r Al-Qur'an Al-Azi>z yang ditulis oleh K.H. Bisri Musthofa. Kemudian dari data yang didapatkan akan dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis).
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa menurut K.H. Bisri Musthofa ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya sebagai ruqyah bagi penyakit rohani melainkan terdapat pula penyembuhan penyakit jasmani yang merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an. Dimana dalam penafsirannya K.H. Bisri Musthofa menjelaskan khasiat suatu bacaan yang dapat menjadi media pengobatan untuk penyakit-penyakit tersebut
Eklektisisme Tafsir Indonesia: studi Tafsir al Ibrīz karya Bisri Musthofa
Penelitian ini ingin mengelaborasi metode eklektisisme penafsiranBisri Musthofa dalam karyanya, al-Ibrīz li Ma‘rifat Tafsīr al-Qur’ān al-Azīz. Dalam konteks penafsiran al-Qur’ān, eklektisisme bisa dipahami sebagai pilihan metode-metode yang diterapkan mufasir ketika melakukan proses penafsiran untuk disesuaikan dengan orientasi sang mufasir serta kebutuhan masyarakat yang menjadi tolak ukurnya. Oleh karena karakteristik karya tafsir dalam wacana ilmu tafsir –paling tidak– bisa dilihat dari sumber, metode, dan corak penafsirannya, maka penelitian ini ingin menemukan metode ekletisisme Bisri yang terefleksikan dalam tiga technical term tersebut. Di samping,menemukan faktor yang melatarbelakangi Bisri menulis al-Ibrīz serta pilihan bahasa pengantar karya tafsirnya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan menggunakan cara penyajian deskriptif dan analitis. Sesuai dengan tujuan tersebut, data primer yang digunakan berasal dari karya Bisri, utamanya al-Ibrīz li Ma‘rifat Tafsīr al-Qur’ān al-Azīzdan data skunder yang berasal dari buku atau artikel yang ditulis orang lain tentang pemikiran Bisri serta data-data pendukung yang relevan dengan penelitianini. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode content analysis dengan pendekatan hermeneutika dan fenomenologi. Hasil penelitian menemukan bahwa dalam memilih sumber penafsiran, Bisri lebih tertarik mengadopsi kisah sejarah dan isrā’ilīyāt. Dia jarang menggunakan hadīth, pendapat sahabat dan tabi‘īn, kalaupun itu dilakukan, Bisri hanya menjadikannya sebagai legitimasi. Padahal salah satu rujukan Bisri adalah Lubāb al-Ta’wīl fī Ma‘ān al-Tanzil karya al-Khāzin yang di dalamnya dipenuhi dengan riwayat. Selanjutnya, langkah penafsirannya dilakukan dengan tiga tahapan: [1] memberi makna setiap kata dengan makna gandul; [2] melakukan terjemah ayat secara tafsīrīyah; dan [3] memberikan keterangan tambahan dengan term qissah, tanbīh, muhimmah, dan lainnya. Sementara corak tafsirnya diwarnai nilai-nilai budaya Jawa dan kondisi sosial masyarakat Indonesia pada umumnya. Karakteristik al-Ibrīz yang demikian tentu bukan kebetulan tanpa tendensi, mengingat sosok Bisri yang notabene sebagai kiai pesantren, mubalig, organisatoris ormas, dan politikus.Paling tidak ada tiga alasan yang bisa dijadikan argumentasi dalam membaca metode eklektisisme Bisri Musthofa: [1] orientasi Bisri ingin menyuguhkan sebuah penafsiran al-Qur’ān dengan cara yang sederhana, ringan, serta mudah dipahami; [2] spesialisasi keilmuan Bisri bukan di bidang hadīth;[3] kondisi mayoritas umat Islam di Indonesia yang masih dibilang awam tentang kajian tafsir al-Qur’ān
PENAFSIRAN BISRI MUSTHOFA TENTANG ANXIETY (Kontribusinya Dalam Upaya Preventif Terhadap Anxiety Disorder)
Anxiety adalah rasa cemas yang kemunculannya merupakan fitrah bagi setiap
manusia, di sisi lain bisa menjadi penyebab gangguan kesehatan mental jika tidak ada pengendalian yang baik. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan konsep
anxiety secara umum, mengidentifikasi makna anxiety perspektif Bisri Musthofa
yang termaktub dalam Al-Qur’an, dan menganalisis penafsiran Bisri Musthofa
dalam upaya mengatasi dan mencegah anxiety disorder. Dengan menggunakan
metode tafsir tematik, artikel ini mengidentifikasi lafaz-lafaz yang memiliki
padanan makna dengan anxiety, yaitu halu’a, jazu’a, hazina, dan khouf. Dari
identifikasi tersebut ditemukan penyebab anxiety bisa terjadi kepada manusia, ciriciri
orang yang mengalami anxiety, serta cara mengatasi anxiety. Anxiety hadir
dalam diri seseorang sebagai fitrah ketika mengalami kejadian kurang
menyenangkan. Orang yang mengalami anxiety memiliki gejala secara psikis dan
fisik. Solusi yang diberikan oleh Bisri Musthofa berupa praktik rohani seperti
bersabar, berdzikir, dan berpuasa. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, Bisri
Musthofa memberikan kontribusinya dalam upaya pencegahan terhadap anxiety
disorder. Signifikansi penelitian ini memberikan kontribusi sebagai panduan untuk
menghindari anxiety disorder melalui proses pengendalian jiwa dengan metode
pendekatan spiritual.
Kata kunci : Kecemasan, Anxiety Disorder, Al-Qur’an, Tafsir Al-Ibri
TIPOLOGI LAHAN PERTANIAN MENURUT KH. BISRI MUSTHOFA DALAM KITAB TAFSIR AL-IBRIZ
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Tipologi Lahan Peirtanian Meinurut KH. Bisri Musthofa dalam Kitab Tafsir Al Ibriz” dengan rumusan masalah : (1) bagaimana tipologi lahan peirtanian pada tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa? dan (2) bagaimana corak peinafsiran KH. Bisri Musthofa pada ayat-ayat teintang lahan peirtanian?. Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian kualitatif yang mengambil pendekatan penelitian kepustakaan (library research), dalam menyusun skripsi ini penulis menggunakan metode tematik dengan merujuk pada kitab tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa dan mencari buku, jurnal-jurnal yang berkaitan dengan materi pembahasan sebagai data sekunder. Adapun hasil penelitian ini penulis menemukan pertama, tipologi lahan pertanian dalam tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa terdiri dari ardhu, balad dan jannah. Ardhu diartikan sebagai bumi. Yang dimaksud adalah bagian tanah dari bumi tersebut. Tipe ardhu menunjukkan bahwa terdapat tanah yang beirgandeingan, satu bagian beirsifat subur dan bagian yang lain tidak subur. Kemudian tanah yang ada di bumi awalnya mati, kering, dapat tumbuh dan bergerak diseibabkan oleih turunnya hujan. Balad diartikan sebagai negara atau tanah. Negara yang dimaksud disini adalah bagian tanah dari negara tersebut. Tipe balad menunjukkan bahwa terdapat tanah yang baik, yaitu tanah yang dapat tumbuh subur seidangkan tanah yang tidak baik tidak dapat meinumbuhkan apapun. Kemudian tanah pada neigara yang tandus, geirsang, keiring, mati, akan hidup keimbali seiteilah diturunkannya hujan. Jannah diartikan sebagai kebun. Kebun disini berarti sebagai lahan pertanian yang terdapat tumbuhan di dalamnya. Tipe jannah menunjukkan bahwa keibun yang beirada di dataran tinggi apabila teirkeina hujan leibat akan meinghasilkan buah dua kali lipat. Kemudian pada saat meimasuki keibun dianjurkan untuk meingucapkan “Maa syaa Allah, laa quwwata illaa billaah”. Pada tafsir al-Ibriz ditafsirkan deingan meinggunakan bahasa daeirah yang artinya “aku tidak beirdaya dan kuat apa-apa, tidak ada keikuatan keicuali deingan peirtolongan Allah Ta‟ala”. Kedua, corak penafsiran ayat-ayat lahan pertanian dalam kitab tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa memiliki corak adabi ij‟timai. Dimana dalam penafsirannya menggunakan Bahasa Jawa yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu disebutkan komoditas tanaman tertentu dalam menafsirkan ayat-ayat lahan pertanian.
Kata kunci: Lahan, Pertanian, al-Ibriz, Cora
- …
