1,720,972 research outputs found

    FORMULASI SIRUP EKSTRAK BUNGA KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L.) VARIETAS WARNA MERAH MUDA dan UJI AKTIVITAS MUKOLITIKNYA pada MUKUS SALURAN PERNAFASAN SAPI SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Tanaman kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) banyak digunakan dimasyarakat secara tradisional sebagai peluruh dahak (mukolitik). Sudah terbukti bahwa ekstrak etanolik bunga kembang sepatu varietas warna merah mempunyai aktivitas mukolitik secara in vitro dan mengandung golongan alkaloid sebagai marker. Tanaman kembang sepatu ini memiliki banyak varietas, antara lain kembang sepatu merah, putih, merah muda dan kuning. Perbedaan varietas ini memunculkan dugaan bahwa efek mukolitik yang dihasilkan pun berbeda antar varietas. Oleh karena itu, perlu penelitin lebih lanjut mengenai efek mukolitik yang dihasilkan varietas merah muda serta formulasinya dalam sirup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi kadar ekstrak bunga kembang bunga sepatu varietas warna merah muda dalam sirup terhadap aktivitas mukolitik secara in vitro (aktivitas pengenceran mukus) pada mukus saluran pernafasan sapi. Penelitian dilakukan dengan ekstraksi serbuk bunga kembang sepatu warna merah muda dalam etanol 70%. Sirup yang dibuat lalu diuji stabilitas fisik dan aktivitas mukolitik secara in vitro terhadap mukus sapi. Sirup tersebut dibuat dengan variasi kadar ekstrak etanolik bunga kembang sepatu dan variasi pada komposisi gliserin dan sorbitol. Data yang didapat diuji dengan Kolmogorov-Smirnov dilanjutkan uji ANAVA dan uji t dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sirup ekstrak etanolik bunga kembang sepatu warna merah muda konsentrasi 1,5% dan 2,0% secara in vitro menunjukkan adanya aktivitas pengenceran mukus saluran pernafasan sapi sebanding dengan aktivitas pengenceran mukus oleh sirup asetisistein 0,1%. Kata kunci: sirup, ekstrak, mukolitik, in vitr

    PENGARUH PENAMBAHAN CARBOMER 934 DAN SETIL ALKOHOLSEBAGAI EMULGATOR DALAM SEDIAAN KRIM EKSTRAK ETANOLIK BUNGA KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinenis L.) TERHADAP SIFAT FISIK DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI PADA Staphylococcus aureus

    Get PDF
    Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) merupakan antibakteri dari alam. Bunga kembang sepatu mempunyai khasiat antiradang, antipiretik serta antivirus. Ekstrak etanolik bunga kembang sepatu dibuat sediaan krim untuk meningkatkan efektifitas terapetik serta kenyamanan saat digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan carbomer 934 dan setil alkohol sebagai emulgator dalam sediaan krim ekstrak etanolik bunga kembang sepatu terhadap sifat fisik serta pengaruhnya terhadap aktivitas antibakteri pada Staphylococcus aureus.            Bunga kembang sepatu diekstraksi dengan etanol 70% menggunakan metode maserasi. Formula krim ekstrak etanolik bunga kembang sepatu dengan perbedaan konsentrasi penambahan carbomer 934 yaitu untuk formula 1 tanpa penambahan carbomer, formula 2 (carbomer 0,15%), formula 3 (carbomer 0,30%) dan formula 4(carbomer 0,45%), kemudian untuk setil alkohol adalah formula 5 tanpa setil alkohol, formula 6 (setil alkohol 2,00%), formula 7 (setil alkohol 3,50%) dan formula 8 (setil alkohol 5,00%) dengan uji sifat fisik krim yang dilakukan adalah uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji daya sebar, dan  uji daya lekat. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi padat (sumuran) dengan mengukur diameter zona hambat pada media. Sebagai kontrol positif digunakan krim gentamicin 0,1%. Data yang didapat diuji dengan korelasi regresi.Hasil menunjukkan adanya pengaruh kenaikan konsentrasi carbomer 934 tehadap  sifat fisik, yaitu  meningkatkan viskositas dan daya sebar serta menurunkan daya lekat krim. Pada uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa penambahan carbomer 934  menurunkan aktivitas antibakteri krim ekstrak etanolik bunga kembang sepatu. Sedangkan adanya penambahan setil alkohol meningkatkan viskositas pada konsentrasi 2% tetapi menurunkan pada 5%, daya sebar menurun pada konsentrasi 2% tetapi meningkat pada konsentrasi 5% serta daya lekat semakin menurun dan aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus semakin menurun. Kata kunci: ekstrak, krim,  Staphylococcus aureus, Carbomer 934, setil alkoho

    EFEK PEMBERIAN FRAKSI YANG MENGANDUNG ALKALOID DARI BUNGA KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L.) VARIETAS MERAH TUNDUK TERHADAP AKTIVITAS MUKOLITIK SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Hibiscus flower (Hibiscus rosa-sinensis L.) is efficacious in cough remedies. This flower has many variations , one of which is a red flower with a crown subject.  Ethanolic extract of the hibiscus flower has been studied and shown to have mucolytic activity. Fractionation will be closer in the process of finding active compounds. This study aimed to determine the effect of fractions containing alkaloids of red hibiscus flower varieties subject as mucolytics in vitro and determine the range of concentrations of the fractions equivalent to acetylcysteine effect of 0,1 %. This study included maceration, fractionation by VLC, the identification of fractions containing alkaloids, and mucolytic activity test fractions containing alkaloids. Mucolytic activity assay performed in vitro to decrease the viscosity of mucus cow. Test solutions were made with concentrations of fractions 0,4;0,6; and 0,8 %. Acetylcysteine 0,1 % was used as a positive control. Viscosity values were analyzed statistically using one -way ANOVA test , followed by the LSD test level of 95 % to determine differences between treatment groups. The results showed that the fraction containing alkaloids of hibiscus flower with a concentration of 0,4 % has not shown mucolytic activity, whereas at a concentration of 0,6 % and 0,8 % has been demonstrated in vitro mucolytic activity. Fractions containing alkaloids of hibiscus flower with a concentration of 0,6 % and 0,8 % have mucolytic activity equivalent to 0,1 % acetylcysteine in vitro.Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) berkhasiat sebagai obat batuk. Bunga ini memiliki banyak variasi, salah satunya yaitu bunga berwarna merah dengan bentuk mahkota tunduk. Ekstrak etanolik bunga kembang sepatu tersebut telah diteliti dan terbukti memiliki aktivitas mukolitik. Fraksinasi akan lebih mendekatkan dalam proses pencarian senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek fraksi yang mengandung alkaloid dari bunga kembang sepatu varietas merah tunduk sebagai mukolitik secara in vitro dan mengetahui kisaran konsentrasi fraksi yang memberikan efek setara dengan efek asetilsistein 0,1%. Penelitian ini meliputi maserasi, fraksinasi dengan KCV, identifikasi fraksi yang mengandung alkaloid, dan uji aktivitas mukolitik fraksi yang mengandung alkaloid. Uji aktivitas mukolitik dilakukan secara in vitro terhadap penurunan viskositas mukus sapi. Larutan uji dibuat dengan konsentrasi fraksi 0,4; 0,6; dan 0,8%. Asetilsistein 0,1% digunakan sebagai kontrol positif. Nilai viskositas yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan uji ANAVA satu arah, dilanjutkan uji LSD dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui perbedaan antar kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi yang mengandung alkaloid dari bunga kembang sepatu dengan konsentrasi 0,4% belum menunjukkan aktivitas mukolitik, sedangkan pada konsentrasi 0,6% dan 0,8% telah menunjukkan aktivitas mukolitik secara in vitro. Fraksi yang mengandung alkaloid dari bunga kembang sepatu dengan konsentrasi 0,6% dan 0,8% memiliki aktivitas mukolitik setara dengan asetilsistein 0,1% secara in vitro

    Pengaruh Hidrofili dan Rantai Lipofil Surfaktan terhadap Solubilisasi Miseler Sulfadiasina

    No full text
    Telah diteliti pengaruh berbagai faktor seperti panjang rantai lipofil, hidrofili dan konsentrasi dari surfaktan derivat sorbitan polietilenoksida terhadap solubilisasi misel sulfadiazina. Surfaktan yang dipergunakan adalah sorbitan monostearat dan sorbitan monopalmitat masing-masing pada HLB 10 dan 15 pada berbagai konsentrasi yaitu 0,02; 0,1; 0,5 dan 2,5%. Kadar sulfadiazina yang terlarut ditetapkan dengan menetapkan sisa yang tidak terlarut dengan cara gravimetri. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa : 1. Hidrofili surfaktan akan mempermudah kelarutan sulfadiazina. 2. Panjang rantai lipofil akan menaikkan jumlah sulfadiazina yang terlarut. 3. Makin tinggi konsentrasi surfaktan yang digunakan makin banyak jumlah sulfadiazina yang terlarut. 4. Konsentrasi surfaktan akan menaikkan viskositas larutan, walaupun hidrofili mempunyai pengaruh yang tidak tentu terhadap viskositasnya

    Stabilitas Kimiawi Sirup Ekstrak Etanolik Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)

    Get PDF
    The ethanolic extract of hibiscus flower (Hibiscus rosa-sinensis L.) on concentration 1,25% had mucolytic effect (Septyani 2009) with alkaloid as its marker substances. Syrup was suitable because its local effect so mucus will be able to go off easily. The aim of this research was to determined chemical stability of syrup based on optimum formulation by reduction value of alkaloid as its parameter.  Hibiscus powder was extracted using maceration method with PE and its residue remacerated by ethanol 70%. Standard curve was made from isolate of alkaloid with various concentration on 5; 2,5; 1,25; 0,625; and 0,3125 μg/μl with regressional equation Y = -2,225 + 16,777 x. Syrup has been made in 3 formulation with various extract concentration on 1,00; 1,25; and 1,50%. Its physical stability including viscosity and decanted easily test has been checked then the chemical stability has been done by heated syrup on increasing term from 40º, 55ºC and 70ºC.   The  reduction of stability known by  reduction  of  alkaloid  value  as  AUC  from densitometer. It was analyzed using Anova two ways followed by Dunnett T3 with significancy (p 0,05). The result showed that increasing term was influence to reduction of alkaloid value but various extract concentrations were not. So it was concluded that syrup with 1,25% extract concentration had the best stability.Ekstrak etanolik bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) pada konsentrasi 1,25% berkhasiat sebagai mukolitik (Septyani 2009) dengan zat penanda alkaloid. Sirup dianggap cocok sebagai sediaan karena diharapkan berefek lokal sehingga mempermudah keluarnya mukus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas kimiawi dari sirup yang sudah diketahui formula optimumnya dengan parameter penurunan kadar alkaloid yang terbaca pada densitometer. Ekstraksi dilakukan dengan petroleum eter kemudian residu dimaserasi dengan etanol 70%. Kurva baku dibuat dari isolat dengan konsentrasi 5; 2,5; 1,25; 0,625; dan 0,3125 μg/μl dan didapatkan persamaan Y = -2,225 + 16,777 x. Pembuatan sirup menjadi 3 formula konsentrasi ekstrak yaitu 1,00; 1,25; dan 1,50%. Selanjutnya sirup diuji viskositas dan kemudahan dituangnya sebagai uji mutu fisik. Uji stabilitas kimiawi dilakukan dengan memberi panas terhadap sirup pada suhu 40º, 55º dan 70ºC kemudian penurunan kestabilan dapat diketahui berdasarkan penurunan kadar alkaloid total yang terbaca sebagai luas area puncak pada densitometer. Data dianalisis menggunakan Anova dua jalan dilanjutkan uji Dunnett T3 dengan signifikansi (p 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh kenaikan suhu terhadap penurunan kadar alkaloid, sedangkan perbedaan konsentrasi tidak berpengaruh terhadap penurunan kadar alkaloid. Formula yang paling stabil adalah formula dengan konsentrasi ekstrak etanolik 1,25%

    Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanolik Daun Teh Hijau (Camellia sinesis L.) dalam Sediaan Krim terhadap Sifat Fisik dan Aktivitas Antibakteri

    Get PDF
    Background: Green tea, is one of the herbs that have been proven to be effective as an anti-acne, among others.Green tea leaves contain 30-40% polyphenols known as catechins most of which are antimicrobial. For ease of use, the ethanolic leaf extract of green tea is made in cream. This study aimed to determine the effect of variations in the concentration of ethanolic extract of green tea leaves in cream on the physical properties and antibacterial activity of acne bacteria in particular.Design and Method: In this study, green tea leaf extract condensed obtained by maceration using 50% ethanol solution. Cream formula that is made in five concentration ethanolic extract of green tea leaves 1%, 3%, 5%, 7%, and 9% use a modified formula antiacne cream. Cream tested physical properties include homogenity, percent separation, dispersive power and adhesion. During the antibacterial activity was also tested. The data obtained were analyzed statistically using the non-parametric Kruskal-Wallis test followed by Mann Whitney test with a level of 95%.Results: The preparation cream ethanolic leaf green tea extract at various concentrations have good homogenity and not separate, the greater concentration of cream ethanolic extract of green tea leaves get smaller power and energy dispersive adhesion, whereas the inhibitory against Staphylococcus aureus bacteria is getting biger. Conclusion: Cream ethanolic extract of green tea leaves that are comparable with the positive control (Ristra acne creaming) the physical properties and the antibacterial activity at a concentration of 7% (Sains Medika, 4(2):147-156)

    Hubungan Viskositas Relatif dengan Kecepatan Pelarutan Bahan Obat Tablet Sulfadiazina

    No full text
    Telah dilakukan penelitian tentang hubungan viskositas larutan medium terhadap kecepatan pelarutan bahan obat tablet sulfadiazina. Pembuatan tablet Sulfadiazina dilakukan menurut formula tertentu dengan metode granulasi basah. Hasil penentuan persyaratan baku tablet menunjukkan bahwa tablet yang di buat memenuhi syarat Farmakope Indonesia edisi II dan kekerasan tablet rata-rata 4,5 kg. Penentuan kecepatan pelarutan bahan obat dengan metode "continuous flow" menurut USP.XVIII menunjukkan bahwa pelarutan dalam semua medium tidak memenuhi syarat USP.XVIII tersebut. Tetapi hasilnya dapat diperbandingkan dan dianalisa sehingga memungkinkan pengambilan kesimpulan. Hasil penentuan setelah proses berjalan 20 menit pada kecepatan pemutara 100 putaran per menit adalah sebagai berikut: dalam medium HCl (1:12,5) dengan viskositas 4,55CP= 292,8 mg/tablet, dalam medium sirop 40°/o (5,23cp) = 241,3 mg/tablet, dalam medium sirop 60°/o (5,64 cp) = 241,6 mg/tablet, dalam medium Tween 2°/o (4,22 cp), Tween 5°/o (4,34cp)dan Tween 7°/o(4,47 cp) berturut-turut adalah 277,7 mg/tablet, 279,3 mg/tablet, dan 284,0 mg/tablet, sedang dalam medium Tylose 0,5°/o (6,03 cp) Tylose 0,75°/o (6,87cp) dan Tylose 1°/o (8,65 cp) berturut-turut adalah 158,0 mg/tablet 0,8 mg/tablet dan 0,1 mg/tablet. Hal itu menunjukkan bahwa disamping viskositas medium, macam /homogenitas afinitas partikel medium, ternyata adanya surfaktan juga mempengaruhi pelarutan bahan obat. Berdasarkan hasil-hasil percobaan ternyata kecepatan pelarutan bahan obat bentuk tablet berbanding terbalik dengan viskositas medium dan pada medium yang mengandung surfaktan kecepatan pelarutannya cenderung untuk naik pada kenaikan kadar surfaktan, meskipun viskositas medium juga meningkat sehingga perlu penelitian lebih lanjut tentang pengarus tersebut

    The Influence of Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) on Piroxicam Absorption with Everted Intestinal SAC Method

    Get PDF
    Oral drug absorption was highly influenced by dissolution rate, especially for poorly and insoluble drugs. Piroxicam is a nonsteroidal anti-inflammatory drug that is practically insoluble in water. The oral absorption rate of piroxicam is dependent on its dissolution rate in the GI tract. Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) as surfactant can increase drug solubility by means of a micelle forming mechanism. The aim of the study was to know the influence of addition and variation of Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) on Piroxicam absorption with everted intestinal sac method.  The  concentration of piroxicam solution was prepared by PVP in  1.0,2.0 and 3.0 % respectively. Crane and Wilson tube containing 75 ml of themucosal fluid was taken at 37 0 C in waterbath. Than, serosal solution of 1.5 mlwas added to intestinal sac by turned upside down and tied to a cannula, then put into the tube containing the mucosal fluid and constantly flowing oxygen gas.Serosal solution of 1 ml were taken every 15 minutes and then diluted with 2 ml of Ba (OH) 2 and 2 ml of ZnSO4 then centrifuge until 25 minute. The absorbant of supernatant was measured by UV spectrophotometer and data analyse wascalculated by one-way ANAVA.  PVP at 1%,2% and 3% increased piroxicamabsorption from the phosphate buffer pH 7.5 compared with negative control.According to P app , the values were 2.52 ± 0.43 cm/minute (negative control), 3.41 ± 2.17 cm/minute (1% PVP), 2.75± 1.14 cm/minute (2% PVP) and 4.77 ± 4.93 cm/minute (3% PVP) respectively. In conclusion. Lower doses of the surfactant (1%, 2%, and 3% PVP) significantly increased absorption of the drug by altering the membrane permeability.

    Pigmen Tumbuhan Wortel (Daucus carota) sebagi Bahan Pewarna Tablet Salut Gula

    No full text
    Telah diselidiki pigmen hasil isolasi dari wortel (Daucus carota) sebagai bahan pewarna tablet salut gula. Kadar dari pigmen wortel yaitu 0,87%. Penelitian ini dikerjakan dengan cara sebagai berikut: 1. Isolasi pigmen dari wortel (Daucus carota) dengan jalan didenaturasi dengan etanol, kemudian disari dengan air dan khloroform. 2. Pigmen hasil isolasi diperiksa kelarutannya dalam khloroform, eter, benzena, alkohol, air, asam dan basa. 3. Pigmen hasil isolasi digunakan untuk bahan pewarna tablet salut gula. 4. Stabilitas warnanya diselidiki dengan menyimpan tablet salut gula tersebut dalam berbagai keadaan selama 1,5 bulan. Dari percobaan-percobaan diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa pigmen hasil isolasi dari wortel (Daucus carota) dapat digunakan sebagai bahan pewarna tablet salut gula kalau disimpan dalam botol coklat, tertutup dan terlindung dari cahaya (dalam almari)
    corecore