5,519 research outputs found

    An Analysis Of Interpersonal Meaning in Sri Mulyani Indrawati’s Speech

    No full text
    This thesis entitled "An Analysis of Interpersonal Meaning in Sri Mulyani Indrawati's speech". This thesis discusses about how analyze interpersonal meaning in Sri Mulyani Indrawati's speech that delivered at the University of Virginia. In this thesis, the writer had two objectives to achieve. First, this research tried to analyze Interpersonal Meaning through Mood Structures in Sri Mulyani Indrawati's speech. Second, it also tried to analyze Speech Functions and Mood Types in the clauses of Sri Mulyani Indrawati's speech. This research used qualitative method. From the analysis of Interpersonal meaning through mood structures consist of mood element and residue element. In the mood elements, there are 141 Subjects and 158 Finites. In the residue elements, there are 117 predicators, 122 complements, 27 mood adjuncts, 75 circumstantial adjuncts, 3 comment adjuncts and 67 conjunctive adjuncts. And from the analysis of Speech Functions, there are 135 statements, 11 questions and 13 commands.Skripsi ini berjudul "An Analysis of Interpersonal Meaning in Sri Mulyani Indrawati’s speech".Skripsi ini membahas tentangbagaimana menganalisis makna interpersonal dalam pidato Sri Mulyani Indrawati yang disampaikan di Universitas Virginia. Dalam skripsi ini, penulis memiliki dua tujuan untuk dicapai. Pertama, penelitian ini mencoba menganalisis Makna Interpersonal melalui Mood Structures dalam pidato Sri Mulyani Indrawati. Kedua, juga mencoba menganalisis Speech Functions dan Mood Types dalam klausul pidato Sri Mulyani Indrawati. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dari analisis makna interpersonal lewat mood structures terdiri dari mood element dan residue element. Dalam mood element, ada 141 Subject dan 158 Finite. Dalam residue element, ada 117 predicator, 122 complement, 27 mood adjuncts, 75 circumstantial adjuncts, 3 comment adjuncts dan 67 conjunctive adjuncts. Dan dari analisis Speech Functions ada 135 pernyataan, 11 pertanyaan dan 13 perintah.Skripsi Sarjan

    EDHAYA SUKOHARJO PEMADATAN OLEH M.TH. SRI MULYANI

    No full text
    Tari Bedhaya Sukoharjo garap padat merupakan bentuk tari bedhaya yang telah mengalami proses pemadatan. Tarian ini dipadatkan guna untuk memenuhi kebutuhan pertunjukan di luar tembok keraton, yang pertama kali dipentaskan di Taman Budaya Jawa Tengah. Koreografi tari Bedhaya Sukoharjo merupakan bentuk koreografi yang digarap dengan kaidah-kaidah bedhaya, yang memiliki jumlah sembilan penari yang masing-msing memiliki nama dan kedudukan masing-masing. Pada motif gerak telah mengalami pemadatan dengan mengurangi durasi dari jumlah pengulangan motif gerak yang terkait dengan perubahan cakepan dan pengurangan jumlah gong-an. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pemadatan tari Bedhaya Sukoharjo terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal dari dalam diri senimannya yaitu pengalaman. M.TH. Sri Mulyani sebagai penari bedhaya yang ingin menampilkan tari bedhaya yang lebih singkat durasi pertunjukannya hal ini terkait dengan kebutuhan pentas di luar tembok keraton. Faktor eksternal sangat terkait dengan kebutuhan pentas dan masyarakat pada saat ini. Dipengaruhi juga oleh garap-garap pemadatan tari bedhaya lainnya yang juga mengalami pengurangan motif gerak. Hal ini mendorong untuk digarapnya pemadatan tari Bedhaya Sukoharjo. Sehingga pemadatan tari Bedhaya Sukoharjo secara eksternal banyak dipengaruhi oleh bedhaya-bedhaya sebelumnya yang telah mengalami pemadatan yang fungsinya adalah digunakan sebagai suatu bentuk pertunjukan non ritual. Penelitian ini menggunakan metode yang bersifat kualitatif dengan bentuk deskriptif analisis, sehingga ruang lingkup pembahasan meliputi 1) bagaimana proses pemadatan Bedhaya Sukoharjo oleh M.TH. Sri Mulyani, 2) bagaimana koreografi Bedhaya Sukoharjo hasil pemadatan oleh M.TH. Sri Mulyani, 3) bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi Bedhaya Sukoharjo hasil pemadatan oleh M.TH. Sri Mulyani. Analisis data dilakukan dari setiap bagian yang ditemukan. Data yang diperoleh dari observasi, wawancara dan studi pustaka dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analisis dan secara kualitatif sesuai dengan pokok bahasannya. Konsep yang digunakan dalam memadatkan tari Bedhaya Sukoharjo adalah konsep bentuk dalam kajian tari: teks dan konteks dengan memberi inovasi yaitu pertunjukan yang singkat, padat dan menarik. Kata Kunci: Pemadatan, Tari Bedhaya Sukoharjo, Koreografi. The condensed style of dance Bedhaya Sukoharjo represents the form of dance Bedhaya that has been condensed. The dance is condensed to meet the performance outside the palace that firstly presented in Taman Budaya Jawa Tengah. The choreography of Bedhaya Sukoharjo shows a choreography with Bedhaya rules telling that it has nine dancers with their own names and positions. The movement motive has been condensed by reducing the duration of repeating movement motive related to the change of cakepan as well as the gong beating number. The factors that influence the condensing of dance Bedhaya Sukoharjo including internal and external factors. The internal factor comes from the artist’s experience, whose name is M.TH.Sri Mulyani, as a Bedhaya dancer who wants to present a shorter dance Bedhaya. It is related to the need of performance outside the palace. The external factors are closely related to the presentation need and the current society. It is also influenced by condensing treatments of other dance Bedhaya that reduce their movement motives. It leads to the condensing of dance Bedhaya Sukoharjo. It is used as a non-ritual performance. This research applies qualitative method with descriptive analysis. The scope of discussion includes 1) how the process of condensing Bedhaya Sukoharjo by M.TH. Sri Mulyani is, 2) how the choreography of Bedhaya Sukoharjo condensed by M.TH. Sri Mulyani is, 3) how the factors that influence Bedhaya Sukoharjo condensed by M.TH. Sri Mulyani are. The data found through observation, interview, and library study is analyzed by applying descriptive analysis and qualitative method according to the main problem. The concept used in condensingthe dance Bedhaya Sukoharjo is the concept of form in dance study covering text and context innovation called a short, condensed and interesting performance. Keywords: condensing, dance Bedhaya Sukoharjo, choreograph

    KAPITAL POLITIK DALAM KONTESTASI MEMPEREBUTKAN KEKUASAAN (STUDY KASUS PEMENANGAN PASANGAN SRI HARTINI – SRI MULYANI DALAM PILKADA KABUPATEN KLATEN TAHUN 2015)

    Get PDF
    This research reviews about how Sri Hartini – Sri Mulyani couple optimize their political capital in the winning of Klaten General Election in 2015. The triumph of Sri Hartini– Sri Mulyani has a huge political capital influence. There are some important fundamental  considerations, such as: First, Sri Hartini – Sri Mulyani is a figure who is known in Klaten folk because both of them are the wife of the former Regent of Klaten. Second, Sri Hartini – Sri Mulyani is carried by the winning party of general election that is PDIP and supported by some qualify parties for general election as Nasdem, PPP, Hanura and PKS. Third, Sri Hartini – Sri Mulyani has a high financial which is strength enough. The theory which is used in this research is theory of the political Capital of Pierre Bordieu. This research uses descriptive research methods with qualitative approaching. As for the result of this research is Sri Hartini – Sri Mulyani is a couple with the highest capital accumulation than other spouses. From the four political capitals that consist of economic capital, social capital, cultural capital and symbolic capital Sri Hartini – Sri Mulyani couple has a very strong social capital than other candidate, especially in terms of the network that supports both,  network of non formal and formal. PDIP as the party which brings SriHartini – Sri Mulyani is the party with the highest base mass in Klaten. in other hand, the popularity of Sri Hartini – Sri Mulyani as the wife of a former Regent of Klaten and as political figure of women who be able to take the sympathy of the citizens to choose Sri Hartini – Sri Mulyani as head of their  region. The solidarity of political parties and civic organizations that support the role of klaten local elites are able to muster the mass votes to win the couple Sri Hartini – Sri Mulyani in Klaten Election 2015. Key words : political capital, ekonomic capital, social capital, cultural capital, simbolic capital.Penelitian ini membahas tentang bagaimana pasangan Sri Hartini - Sri Mulyani mengoptimalkan modal politiknya dalam kemenangan Pemilu Klaten 2015. Kemenangan Sri Hartini - Sri Mulyani memiliki pengaruh modal politik yang sangat besar. Ada beberapa pertimbangan mendasar yang penting, seperti: Pertama, Sri Hartini - Sri Mulyani adalah sosok yang dikenal di masyarakat Klaten karena sama-sama adalah istri mantan Bupati Klaten. Kedua, Sri Hartini - Sri Mulyani diusung oleh partai pemenang pemilihan umum yaitu PDIP dan didukung oleh beberapa partai yang lolos pemilihan umum seperti Nasdem, PPP, Hanura dan PKS. Ketiga, Sri Hartini - Sri Mulyani memiliki finansial tinggi yang cukup kuat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Modal politik Pierre Bordieu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun hasil dari penelitian ini adalah Sri Hartini - Sri Mulyani merupakan pasangan dengan akumulasi modal tertinggi dibandingkan pasangan lainnya. Dari empat modal politik yang terdiri dari modal ekonomi, modal sosial, modal budaya dan modal simbolis Sri Hartini - pasangan Sri Mulyani memiliki modal sosial yang sangat kuat dibandingkan calon lainnya, terutama dalam hal jaringan yang mendukung baik jaringan non formal maupun nonformal. resmi. PDIP sebagai pihak yang mempertemukan SriHartini - Sri Mulyani merupakan partai dengan basis massa tertinggi di Klaten. Di sisi lain, popularitas Sri Hartini - Sri Mulyani sebagai istri mantan Bupati Klaten dan sebagai tokoh politik perempuan yang mampu mengambil simpati warga untuk memilih Sri Hartini - Sri Mulyani sebagai kepala daerahnya. Solidaritas parpol dan ormas yang mendukung peran elit lokal klaten mampu menghimpun suara massa untuk memenangkan pasangan Sri Hartini - Sri Mulyani pada Pilkada Klaten 2015. Kata Kunci: Modal Politik, Modal Ekonomi, Modal Sosial, Modal Budaya, Modal Simbolik

    THE USE OF CONSONANT ELISION BY SRI MULYANI DURING HER INTERVIEW SESSION WITH THE BANKER

    Get PDF
    This research is entitled “The Use of Consonant Elision by Sri Mulyani During Her Interview Session with The Banker”. The objects of this research are the consonant elisions that are produced by Sri Mulyani when she was interviewed by The Banker. The objectives of this research are to describe and analyze the frequency of consonant elision used by Sri Mulyani and to find out the phonemes that are often being elision-ed by Sri Mulyani in her interview with The Banker. The analysis of this research was done by using descriptive qualitative analysis method. This study uses Carr’s (2008), Giegerich’s (1992), and Roach’s (2001) theories about phonological rules and elision. This study shows that during her interview, Sri Mulyani uses consonant elision for 26 times and she tends to do the omission to the phoneme /t/ (19 times), /d/ (5 times), /r/ (1 times), and /s/ (1 times)

    The Authorized Biography Sri Mulyani Indrawati : no limits reformasi dengan hati

    No full text
    Buku ini menggambarkan perjalanan karier Sri Mulyani dari masa kecil hingga menjadi seorang ekonom terkemuka. Latar belakang pendidikannya di bidang ekonomi dan keterlibatannya dalam berbagai organisasi internasional menjadi fokus penting. buku ini juga menyoroti gaya kepemimpinan Sri Mulyani yang tegas tetapi tetap berempati. Dikenal karena dedikasinya yang kuat terhadap integritas dan etika, Sri Mulyani juga berusaha memimpin dengan pendekatan yang mempertimbangkan sisi kemanusiaan.xiii, 577 p. : col. ill. 23 c

    REKONSTRUKSI TARI BEDHAYA SUKOHARJO OLEH M. TH. SRI MULYANI

    No full text
    rtikel ini dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa Rekonstruksi tari Bedhaya Sukoharjo oleh M.Th. Sri Mulyani yang fungsinya sebagai penyambutan tamu resmi, telah mengalami rekonstruksi melalui (1) penggalian tari, (2) pemadatan tari, (3) peningkatan karyakarya tari dan penyebarluasan. Rekonstruksi tari Bedhaya Sukoharjo mengalami sentuhan kreativitas oleh M.Th. Sri Mulyani salah satu seniman tari di Kraton Surakarta. Bentuk koreografinya dikemas lebih padat dan menarik dikarenakan tari Bedhaya Sukoharjo dalam konteks penyambutan tamu. Perubahan ini lebih ditata pada komponen gerak, tata rias dan busana, desain lantai dan musik tari. Kegiatan penggalian dimaksudkan untuk merekonstruksi tari yang bersumber dari masyarakat, melibatkan penari, pemusik dan penata busana serta seniman di daerah Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode yang bersifat kualitatif dengan bentuk deskriptif analisis, sehingga ruang lingkup pembahasan meliputi 1) bagaimana proses rekonstruksi tari Bedhaya Sukoharjo oleh M.Th. Sri Mulyani, 2) bagaimana bentuk hasil rekonstruksi tari Bedhaya Sukoharjo oleh M.Th. Sri Mulyani, 3) bagaimana faktor-faktor yang mendukung rekonstruksi tari Bedhaya Sukoharjo oleh M.Th. Sri Mulyani. Analisis data dilakukan dari setiap bagian yang ditemukan. Data yang diperoleh dari observasi, wawancara dan studi pustaka dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analisis dan secara kualitatif sesuai dengan pokok bahasannya. Konsep yang digunakan dalam merekonstruksi tari Bedhaya Sukoharjo adalah konsep bentuk dalam kajian tari: teks dan konteks dengan memberi inovasi yaitu pertunjukan yang singkat, padat dan menarik. Maka berdasarkan konsep di atas, tari Bedhaya Sukoharjo dapat menjadi aset seni pertunjukan di Kota Surakarta. Dengan demikian, imajinasi dan realitas kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari komunitas pemiliknya sehingga akan selalu muncul sebagai identitas baru sebagai jati diri personal melalui produksi karya tari visualisasi baru. Kata kunci: rekonstruksi, Tari Bedhaya Sukoharjo, koreografi

    In pursuit of 1 Sri Lanka: Lessons from a Malaysian counterpart

    No full text
    The quest for national unity has become a leadership challenge for successive leaders of both Malaysia and Sri Lanka. While the two countries record significant differences in contexts and background, the similarities are equally striking. The following is an article that is based on a two-country study undertaken by the author to unpackage and explore the "1Malaysia" Programme that was launched in 2009 following the election of Malaysian Prime Minister's, Tun Najib Razak into his first term in office. The author spent a two week resident attachment at the 1Malayisa Foundation in Malaysia in the summer of 2012 to study further the facets of the governance programme that had been formulated with the intention of resolving the ethnic tensions that have plagued Malaysia since it gained independence, or Merdeka. The purpose of the endeavour was three-fold: First, to identify and extract aspects of the 1Malaysia Programme as relevant to the Sri Lankan context so as to formulate a potential 1Sri Lanka programme that is cognizant of the variables at stake. Secondly, the article seeks to critique the already existent framework of the 1Malaysia Programme by providing recommendations for improvement where necessary. Third, to begin dialogue and deliberations on the rich learning and exchange that can be cultivated between the two countries by providing a framework for bilateral cooperation between the Governments of Malaysia and Sri Lanka

    Konstruksi realitas peran Sri Mulyani Indrawati dalam persoalan bank Century di Metro TV

    No full text
    Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui konstruksi realitas peran Sri Mulyani Indrawati dalam persoalan Bank Century. Metro TV sebagai agen konstruksi realitas, menayangkan wawancara eksklusif dengan Sri Mulyani Indrawati pada 3 dan 4 Januari 2010. Teknik analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah Analisis Framing dengan menggunakan model dari Gamson dan Modigliani. Temuan penelitian menunjukkan SMI dikonstruksikan sebagai individu yang mengetahui pihak-pihak yang terlibat dan diselamatkan melalui keputusan bailout Bank Century. Selain itu, Metro TV membingkai peran Sri Mulyani Indrawati sebagai individu yang bertanggung jawab atas keputusan bailout Bank Century dan Metro TV mengkonstruksikan bahwa Sri Mulyani Indrawati melemparkan kesalahan kepada Presiden, Wakil Presiden dan DPR dalam mengambil keputusan bailout Bank Century. Ditemukan dalam tayangan wawancara, pembingkaian dapat dilakukan oleh narasumber melalui jawaban-jawaban yang diberikan. Dalam televisi dan dalam hal ini adalah tayangan wawancara, meski telah dilakukan penyuntingan namun kesempatan narasumber membingkai sebuah realitas menjadi mungkin dilakukan

    PROFILING MENTERI KEUANGAN SRI MULYANI INDRAWATI DALAM PEMBERITAAN DI HARIAN BISNIS INDONESIA (Analisis Framing Pencitraan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Pemberitaan di Harian Bisnis Indonesia edisi 1 Desember 2009- 24 Februari 2010 Terkait dengan Kasus Bank Century)

    Get PDF
    Haryatmoko mengatakan dalam bukunya, obesesi media kini telah bergeser yaitu bukan hanya mencari profit tetapi juga berupaya mempengaruhi dan membentuk citra. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana frame sebuah media dalam melakukan profiling, atau istilah dalam media adalah pencitraan, terhadap seorang tokoh yang notabene pejabat negara. Peneliti memfokuskan penelitian ini dalam sebuah rumusan masalah, yaitu: bagaimana profiling Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam pemberitaan di Harian Bisnis Indonesia edisi 1 Desember 2009 – 24 Februari 2010 terkait dengan kasus Bank Century. Ketika Bank Century menjadi polemik di negeri ini, Sri Mulyani menjabat sebagai Menteri Keuangan. Sosoknya dikenal gemilang dengan berbagai penghargaan yang diberikan media baik nasional maupun internasional, namun ternyata masuk dalam daftar pihak yang harus bertanggung jawab dalam kasus Century. Kemudian menjadi menarik untuk melihat bagaimana media mencitrakan Sri Mulyani dalam konteks Kasus Century ini. Media yang dipilih adalah media yang memiliki segmentasi khusus ekonomi dan bisnis yaitu Harian Bisnis Indonesia. Peneliti menggunakan metode penelitian analisis isi kualitatif untuk membantu penulis menjawab rumusan masalah penelitian ini. Metode ini tidak sekedar meneliti isi komunikasi yang tersurat tapi untuk melihat hal-hal yang tersirat dibaliknya. Sebagai metode analisis penulis menggunakan analisis framing model yang ditawarkan Gamson dan Modigliani. Pada tataran teks, penulis membedah berita-berita yang menjadi obyek penelitian dengan menggunakan perangkat framing Gamson dan Modigliani. Temuan pada level teks, kemudian digunakan untuk menggali informasi lebih lanjut pada tataran konteks. Kemudian, temuan pada level teks dan konteks peneliti analisis dan gabungkan mengacu pada skema dari Dietram A. Schuefele. Pada akhirnya penulis mendapatkan frame dari Bisnis Indonesia dalam melakukan profiling terhadap Sri Mulyani. Bisnis Indonesia memprofilkan Sri Mulyani terkait kasus Century ini, sebagai sosok yang tegas dan percaya diri. Rangkaian kalimat yang tertulis, maupun kutipan yang digunakan dalam berita Harian Bisnis Indonesia lebih memposisikan Sri Mulyani sebagai korban kelalaian Bank Indonesia dalam persoalan Century ini. Hal ini dipengaruhi adanya faktor kedekatan antara media ini dengan Sri Mulyani, juga ideologi yang mendukung perkembangan ekonomi dan bisnis di Indonesia. Dalam hal ini Bisnis Indonesia melihat Sri Mulyani telah berupaya untuk menjaga perekonomian Indonesia agar aman dari bahaya krisis

    Pengaruh mundurnya Sri Mulyani dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan terhadap Abnormal Return Saham BUMN periode Mei 2010

    Get PDF
    ABSTRAK Perubahan harga saham dipengaruhi oleh banyak faktor, baik itu berupa faktor internal yang berasal dari perusahaan itu sendiri maupun faktor ekternal yang berasal dari luar perusahaan. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi harga saham antara lain adalah kondisi negara tersebut, khususnya di bidang ekonomi, politik, dan sosial. Pada tanggal 5 Mei 2010, secara resmi Menteri Keuangan Sri Mulyani mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara abnormal return saham BUMN sebelum dan sesudah mundurnya Sri Mulyani dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan menggunakan data sekunder dan mengambil sampel enam BUMN yang termasuk dalam Jakarta Islamic Index (JII) pada periode April-Mei 2010. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan uji paired sample T-test yang dibantu sistem komputerisasi program SPSS Versi 11.5 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara abnormal return pada saham BUMN sebelum dengan sesudah mundurnya Sri Mulyani dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sig. 2-tailed didapat angka sebesar 0,466 yang lebih besar dari angka signifikansi sebesar 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa mundurnya Sri Mulyani tidak mempunyai kandungan informasi yang mengakibatkan pasar tidak bereaksi terhadap mundurnya Sri Mulyani tersebut, hal ini disebabkan karena informasi mundurnya Sri Mulyani tersebut telah tersebar secara merata di pasar. ABSTRACT Changes in stock prices are influenced by many factors, either internal factors that come from the company itself or external factors originating from outside of the company. The external factors that can affect stock prices including the condition of the country, particularly in the economic, political, and social fields. On May 5, 2010, Finance Minister Sri Mulyani officially resigned from her position as Minister of Finance. This study aims to determine whether there are significant differences or not between the abnormal returns before and after the resignation of Sri Mulyani from her position as Minister of Finance. This research is a quantitative research, using secondary data and take samples of six BUMNs included in the Jakarta Islamic Index (JII) in the period from April to May 2010. The analysis conducted in this research is by using a paired sample T-test assisted by computerized system that is SPSS 11.5 version for windows. The results showed that there were no significant differences between the abnormal return on BUMN stocks before and after the resignation of Sri Mulyani from her position as Minister of Finance. This can be seen from the results of studies showing that sig. 2-tailed obtained figure of 0.466 which is greater than the number of significance of 0.05. Then it can be concluded that the resignation of Sri Mulyani has no information which resulted the market does not give reaction toward the resignation of Sri Mulyani, this is because of the information of Sri Mulyani resignation has been evenly distributed all over the market
    corecore