49,759 research outputs found
A model to evaluate diabetes self-management programmes
Self-management has emerged as an approach to enhance quality of care for patients suffering from long term conditions, and to control costs of health services. So far, however, the effects of this approach as adopted by the Saudi healthcare system in the early 1990s remain unclear. Although current models define the concept of self-management, they do not provide a systematic development or an explanatory theory of how self management affects the outcomes of care. The objective of this research is to develop a framework applicable to the evaluation of self-management programmes. The evaluation model is built on patient-related intervention. The effectiveness of these interventions is determined by the levels of patient engagement and effective participation. Therefore, studying factors that influence patients‘ adherence to self-management activities is crucial to explain the outcomes of these interventions. We apply this framework to the case of diabetes mellitus, one of the most common chronic conditions in Saudi Arabia, causing huge burdens on patients and healthcare providers.A non-experimental retrospective cross-sectional survey research design has been employed to conduct this research using a self-administered questionnaire. Closed-ended questions were used to measure all study variables related to model construction. One open-ended question was used to investigate barriers to diabetes self-management. A non-probability convenient sample design was used to select diabetes centres participated in this study and a systematic approach for selecting patients in these centres. Research data were collected from five diabetes centres and clinics in the main five regions in Saudi Arabia. Quantitative data were analysed using simple, multiple and logistic regressions, whereas a directed content analysis approach was used to analyse qualitative data.The results of this study revealed that diabetes self-management improves clinical outcomes and reduces utilization of health services. The theoretical approaches underpinning self-management were based on established models from the field of health psychology. By investigating the effect of self-efficacy patients‘ beliefs, and locus of control on self-management, we found that these behavioural theories support the core assumptions of self-management. Self-efficacy was the most significant predictor of self-management followed by patient beliefs. Social support, effective communication between patients and health providers in addition to diabetes knowledge were all important factors to positively influence diabetes self-management. However a new construct, misconception of fatalism from the Islamic point of view, was found to play a negative role in diabetes management. The research model also suggests that diabetes knowledge was influenced by several factors. Education level was the most significant predictor of diabetes knowledge followed by age and diabetes education. It was also found that group education improves diabetes knowledge more than individual education.This model is a valid tool that could be used to evaluate self-management programmes in other chronic diseases. It can be used as a decision making supporting tool; to identify different components of self-management interventions, and to compare outcomes of programmes. It can also be used to group patients into different categories to facilitate providing tailored services suitable for each group. It could assist health providers to plan new interventions or to refine existing ones by allocating efforts and financial resources toward the most influential factors that affect patients‘ adherence to self-management activities.<br/
Paradigma Keilmuan PAI Menurut M. Amin Abdullah
Pendidikan agama Islam memiliki kedudukan yang sangat vital dalam diskursus keilmuan dalam rangka mewujudkan generasi Islam yang kompatebel sesuai dengan tuntunan syariatnya dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Persoalan pendidikan agama Islam muncul kepermukaan ketika dihadapkan dengan berbagai paradigma. Permasalahan dikotomi keilmuan, metodologi, kurikulum dan muatan materi pendidikan agama Islam cenderung selfish, stagnation, linear dan normative. Jika pendidikan Agama Islam bertahan dan komitmen dengan pandangan yang demikian, maka pendidikan agama Islam belum menjadi resolution dalam menjawab berbabagai tantangan kontemporer. Pemikiran seperti ini memiliki keunikan pada intelektual muslim Indonesia M. Amin Abdullah. Sehingga sangat diperlukan penelitian dalam bentuk Tesis ini dengan rumusan sebagai berikut. Bagaimana paradigma keilmuan PAI menurut M. Amin Abdullah? Bagaimana implikasi pemikiran M. Amin Abdullah dalam pendidikan agama Islam? dengan tujuan untuk mengetahui Paradigma keilmuan PAI Menurut M. Amin Abdullah dan untuk mengetahui Implikasi pemikiran M. Amin Abdullah dalam pendidikan Agama Islam. Jenis penelitian ini library research karena itu penelitian ini bersifat diskriftif- analitik dengan pendekatan filosofis. Metode analisis data mendunakan interpretasi analisis dengan pola deduktif dan induktif. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini tentang paradigma keilmuan PAI menurut M. Amin Abdullah dapat disumpulan bahwa. Perlu upaya rekonstruksi kurikulum, metodologi dan materi dengan berbagai pendekatan keilmuan. Pendidikan agama Islam tidak seharunya hanya menekankan pada aspek doktinal-teologis, tetapi harus memperhatikan kondisi historis yang mengitarinya di era kontemporer. Secara kelembagaan implikasi pemikiran M. Amin Abdullah memilik pengaruh yang cukup signifikan terutama pada pendidikan Islam secara umum di berbagai perguruan tinggi Islam. oleh sebab itu pemikirannya banyak dijadikan rujukan oleh banyak kalangan, dosen, guru, peneliti, pemerhati pendidikan, dan akademiki perguruan tinggi Islam dan umum, negeri maupun swasta
UMP kini Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah
Kuantan: Seiring seusia 21 tahun kewujudan Universiti Malaysia Pahang (UMP) menelusuri kegemilangan universiti itu kini dijenamakan sebagai Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA)
Kanvas dan pena : kumpulan makalah tentang Basoeki Abdullah : karya lukis, museum, dan pemikiran seni rupa Indonesia
Karya dan riwayat hidup Basoeki Abdullah telah berhasil menggugah banyak penulis menggerakkan penanya untuk megungkapkan pemikiran-pemikirannya yang kemudian dirampaikan dalam buku ini. Seperti halnya lukisan di atas kanvas yang kaya warna dan kaya ide, penilaian atas karya dan kehidupan Basoeki Abdullah memunculkan berbagai konklusi.
Dalam buku ini, kumpulan makalah tersebut dikelompokkan dalam empat bab, dengan sistematika sebagai berikut, pertama sosok Basoeki Abdullah (Bab I); kemudian ragam pemahaman atas Basoeki Abdullah (bab II); lalu Museum Basoeki Abdullah (Bab Ill); dan Basoeki Abdullah dalam konteks Seni Rupa Indonesia (Bab IV)
Integrasi Agama dan Sains dalam Perspektif M. Amin Abdullah
Integrasi agama dan sains dalam perspektif M. Amin Abdullah menekankan pentingnya pendekatan interkonektif yang melibatkan dialog antara ilmu keislaman, ilmu sosial-humaniora, dan ilmu alam. Menurutnya, dikotomi antara agama dan sains harus diatasi melalui paradigma integratif-interkonektif yang menekankan harmoni antara wahyu, akal, dan pengalaman empiris. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan pemahaman yang holistik terhadap realitas, di mana agama tidak hanya berfungsi sebagai pedoman spiritual, tetapi juga sebagai inspirasi etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan integrasi ini, M. Amin Abdullah mengusulkan pembaharuan pendidikan tinggi Islam melalui rekonstruksi kurikulum yang menggabungkan nilai-nilai agama dengan pendekatan ilmiah untuk menjawab tantangan kontemporer secara komprehensif
TEOLOGI KEBINEKAAN DALAM PEMIKIRAN M. AMIN ABDULLAH
Pembahasan kebinekaan dirasa penting karena pada akhir-akhir ini
beberapa aliran, kelompok, pemahaman, ataupun pandangan ada yang
menginginkan “mono”. Sedang agama dengan cabang ilmunya yang bersentuhan
dengan filsafat dan erat dengan permasalahan realitas adalah teologi atau ilmu
kalam. Adapun toko yang masih berperan penting hingga saat ini yang
menyuarakan kebersamaan dalam keberagaman melalui teologi adalah M. Amin
Abdullah. Kebinekaan merupakan keniscayaan realitas yang tidak dapat
dihindarkan, apalagi ditunjang dengan budaya modernisasi dan globalisasi.
Persentuhan agama dengan realitas kebinekaan berhubungan dengan keadilan,
kedamaian, serta kebersamaan. Wacana kebinekaan yang akan dibahas adalah
pluralisme, multikulturalisme, globalisasi dan postmodern, serta humanisme,
meskipun tidak hanya itu wacana kebinekaan. Pembahasan wacana kebinekaan
dipertemukan dengan teologi (Islam) pemikiran M. Amin Abdullah yang dirasa
sesuai dan mencerahkan pandangan beragama kekinian. Sehingga rumusan
masalahnya adalah, Bagaimana perkembangan isu-isu atau wacana kebinekaan?
Bagaimana pemikiran M. Amin Abdullah tentang kebinekaan dalam konteks
teologi Islam?
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah filsafat (analisiskritis).
Adapun metode pengumpulan data melalui dokumentasi, dan pengolahan
data menggunakan Deskripsi, Interpretasi, dan Analisis. “Deskripsi” digunakan
untuk mengungkapkan atau memaparkan pemikiran M. Amin Abdullah.
“Interpretasi” digunakan untuk menerangkan maksud dari pemikiran M. Amin
Abdullah. Sedang “Analisis” digunakan untuk menguraikan pemikiran M. Amin
Abdullah lebih rinci yang ada hubungannya dengan teologi kebinekaan.
Hasil dari penelitian ini adalah perkembangan dan isu-isu wacana
kebinekaan: Pluralisme terbentuk dari pemahaman dan kepercayaan. Paham
pluralisme adalah sikap toleransi, dialog, menghormati, saling mengerti dan
memahami dalam keberagaman (kebinekaan) dan perbedaan; Multikulturalisme
dari keberagaman budaya menjadi keberagaman cara pandang hidup. Adapun
multikulturalisme dengan perbedaan-perbedaan di dalamnya digolongkan menjadi
empat, yaitu; Cultural Diversity, Imaging Diversity, Minority Diversity, Counter
Of Diversity; Globalisasi dan Postmodern yaitu keberagaman yang muncul dari
ilmu pengetahuan modern dan dinetralkan paradigma postmodern dengan
membongkar hegemoni dan kemutlakan; Humanisme bukan hanya meninggikan
akal, namun juga etika dan agama. Adapun menurut M. Amin Abdullah teologi
adalah rumusan pikiran akal manusia dalam situasi waktu dan sosial tertentu.
Teologi Pluralisme dan Multikulturalisme yaitu adanya persamaan dalam esensi
agama, serta perlunya hubungan doktrinal-teologis, filsafat, dan kulturalsosiologis;
Hermeneutik (Teologi Kebinekaan) yaitu interpretasi dialog antar teks
dan konteks, serta adanya integrasi-interkoneksi; Teologi Humanisme yaitu
pentingnya keseimbangan akal dan spiritual, adanya paham komunitas dunia dan
etika pemihakan kepada kemanusiaan
Maestro, majalah Museum Basoeki Abdullah edisi 3 Desember 2017
Majalah Maaestro edisi ini memberikan informasi tentang Pemajuan Kebudayaan,arsip, dan seputar sosok dan karya Basoeki Abdullah yang syarat akan muatan edukati
INTEGRASI AGAMA DAN SAINS DALAM PERSPEKTIF M. AMIN ABDULLAH
Penelitian ini bertujuan agar para pembaca terutama para Umat Islam mendapatkan bahan bacaan dan referensi sehingga timbul motivasi untuk membahas dan meneliti serta memperdalam kembali tentang Integrasi Agama dan Sains dalam Perspektif M. Amin Abdullah. Agar dengan demikian muncullah sebuah gambaran tentang bagaimana pendidikan Islam dan sains dapat saling melengkapi dan memperkaya satu sama lain, sehingga dapat menciptakan pendidikan yang lebih holistik dan seimbang antara agama dan sains. Jenis penelitian menggunakan Library Research yang berarti riset kepustakaan, yang mana teknik yang digunakan dalam mengumpulkan datanya berdasarkan dokumentasi melalui bukti-bukti peninggalan yang tertulis seperti tulisan yang bersumber dari buku, jurnal, dan lainnya yang mendukung penelitian ini. Berdasarkan penelitian ini ditemukan bahwa M. Amin Abdullah menawarkan pandangan yang memperkuat integrasi antara agama dan sains, menekankan bahwa keduanya dapat saling melengkapi. M. Amin Abdullah menekankan pentingnya interpretasi teks agama yang kontekstual dan dinamis. Ia percaya bahwa pemahaman yang berkembang tentang sains dapat mendorong reinterpretasi ajaran agama, sehingga tidak terjebak dalam dogma. Ini memberikan ruang bagi dialog yang konstruktif antara keduanya. Kesimpulannya, Amin Abdullah mendukung pendekatan holistik yang melihat agama dan sains sebagai dua jalan yang dapat saling mendukung dalam pencarian kebenaran, mendorong umat untuk beradaptasi dan berpikir kritis dalam memahami dunia
Senator Burr and Abdullah Abdullah
Senator Burr and Chief Executive of Afghanistan Abdullah Abdullah meeting in the D.C. offic
Pemikiran M. Amin Abdullah tentang Pendidikan Islam dalam Pendekatan Integrasi-Interkoneksi
The dynamics of Islamic education in Indonesia shows a dichotomy, both Islamic education and general education. Islamic education is often named only for the benefit of those who are poor or poor, produce exclusive, fanatical people, and even at a very sad level, terrorism is considered to be from Islamic education institutions. This is called the marginalization of Islamic education. Besides that the quality of Islamic education is called very underdeveloped or lacking in quality. M. Amin Abdullah\u27s view of Islamic education in the integration-interconnection approach breaks down the basis of the approach, namely the historical-philosophical, normative-theological approach. Having a very clear root in the world of science the position of Islamic education includes hadlarah al-nash, hadlarah al-‘ilm, and hadlarah al-falsafah is an effort to reconnect between Islamic sciences and general sciences
- …
