94 research outputs found

    FUNGSI MANAJEMEN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM KERJA DI DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH INDONESIA PROVINSI LAMPUNG

    Get PDF
    ABSTRAK FUNGSI MANAJEMEN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM KERJA DI DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH INDONESIA PROVINSI LAMPUNG OLEH MUHAMMAD YOPI MARTIN Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung merupakan sebuah Lembaga yayasan sosial yang bergerak sesuai dengan 5 fungsi Dewan Dakwah menjalankan fungsi Dewan Dakwah dalam melaksanakan 5 Fungsi dibagi menjadi bagian bidang dan Biro Laznas. Tujuan yang dimiliki Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung diharapkan mampu menjadi solusi permasalahan agama, ekonomi, dan moral yang ada di Provinsi Lampung khususnya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Dewan Dakwah memiliki beberapa Program Kerja yang akan direncanakan dan dilaksanakan. Program Kerja memiliki rencana strategis dalam mewujudkan dan mencapai tujuan Dewan Dakwah Fokus penulis tentang Bagaimana Fungsi Manajemen Dalam Pelaksanaan Program Kerja Di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode secara operasional menjelaskan secara real bagaimana dan apa yang dilakukan di lapangan. Penelitian bersifat deskriptif, populasi berjumlah 50 personal pengurus dan 30 pengurus aktif. Hasil penelitian menunjukkan sebagian program kerja ada yang belum terlaksana dan belum maksimal, hal ini dikarenakan terkendala situasi pandemi covid-19 dan PPKM oleh pemerintah, yang menyebabkan sebagian program kerja belum terlaksana dengan baik, kegiatan belum terencana dengan baik, terkendala pendanaan yang dimiliki dewan dakwah islamiyah indonesia provinsi lampung, terkendala dengan kesibukan internal dan program kerja yang belum terlaksana dan tidak terlaksana akan tetap dilanjutkan. Pengurus Dewan Dakwah sudah melakukan yang terbaik dalam melaksanakan hasil program kerja dengan baik dan maksimal, semua kegiatan dimulai dari perencanaan, pelaksanaan untuk mendukung semua program kerja tercapainya harapan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung. Kata Kunci : Fungsi Manajemen, Pelaksanaan Program Kerja iii ABSTRACT THE FUNCTION OF MANAGEMENT IN THE IMPLEMENTATION OF THE WORK PROGRAM AT THE DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH INDONESIA PROVINSI LAMPUNG BY MUHAMMAD YOPI MARTIN The Indonesian Islamic Dakwah Council of Lampung Province is a social foundation institution that operates in accordance with the 5 functions of the Da'wah Council carrying out the functions of the Da'wah Council in carrying out 5 functions in the field and Laznas Bureau.The purpose of the Indonesian Islamic Dakwah Council of Lampung Province is expected to be a solution to religious, economic, and moral problems that exist in Lampung Province in particular. To realize this goal, the Dakwah Council has several Work Programs that will be planned and implemented. The Work Program has a strategic plan in realizing and achieving the goals of the Dakwah Council The author's focus is on How Management Functions in the Implementation of Work Programs at the Indonesian Islamic Dakwah Council, Lampung Province?. This type of research uses qualitative methods with data collection techniques using interviews, observation and documentation. In collecting data, the author uses an operational method to explain in real how and what is done in the field. The research is descriptive, with a population of 50 personal administrators and 30 active administrators, free guided interviews and documentation in the form of photos of activities and other important files. The results show that some work programs have not been implemented and have not been maximized, this is because the government is constrained by the Covid-19 pandemic and PPKM, which causes some work programs have not been implemented properly, activities have not been well planned, constrained by funding owned by the dakwah council. Islamiyah Indonesia, Lampung Province, is constrained by internal activities and work programs that have not been implemented and will not continue. The management of the Dakwah Council has done their best in carrying out the results of the work program well and maximally, all activities starting from planning, implementation to support all work programs to achieve the expectations of the Indonesian Islamic Dakwah Council of Lampung Province. Keywords: Management Function, Implementation of Work Program

    Pengelolaan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) (Studi Kasus Pengelolaan BPNT Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia No. 11 Tahun 2018 Tentang Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai di Kelurahan Bandungrejosari Kecamatan Sukun Kota Malang)

    No full text
    This thesis was prepared by La Yopi, 16031000030. Department of Public Administration, Faculty of Social and Political Sciences, Merdeka University Malang. This thesis discusses "THE MANAGEMENT OF NON-CASH FOOD ASSISTANCE PROGRAMS (BPNT) CASE STUDY OF BPNT MANAGEMENT BASED ON DECREE OF THE MINISTRY OF SOCIALITY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NO. 11 OF 2018 CONCERNING DISTRIBUTION OF NON CASH FOOD ASSISTANCE IN BANDUNG REJOSARI VILLAGE, SUKUN SUB-DISTRICT, MALANG CITY. " under the guidance of Mr. Dr.H. Sukardi, M.Si as supervisor I and Mr. Drs.H. Bambang Noorsetya, M.Si as supervisor II. Poverty in Indonesia is a national poverty that is felt by all people in Indonesia, including in Malang, where most people experience an inability to fulfill basic needs such as food, clothing, shelter, education and health. Then coupled with the difficulty of accessing employment opportunities that resulted in an increase in the number of unemployed which allowed the crime rate to occur. So it needs attention from the government So that the Decree of the Minister of Social Affairs of the Republic of Indonesia No. 11 of 2018 concerning Distribution of Non-Cash Food Aid which aims to reduce poverty levels. Of course, support from the local government, including the City Government of Malang, is needed to take steps to empower the poor through social assistance. This study aims to determine the Management of the Non-Cash Food Aid Program (Bpnt). Case Study of Bpnt Management Based on the Decree of the Minister of Social Affairs of the Republic of Indonesia No. 11 of 2018 concerning Distribution of Non-Cash Food Assistance in Bandungrejosari Urban Village. This research is expected to be useful to increase the knowledge and insight of the author and the community about the Management of BPNT in the Bandungrejosari Village, Sukun District, Malang City. This study uses a qualitative descriptive approach, with secondary data collection techniques, observation, interviews, and documentation. This research was conducted in Bandungrejosari Village, Sukun District, Malang City. The informants in this study were Bandungrejosari Urban Village Employees, BPNT Social Welfare Center, e-warong administrators and Bandungrejosari Urban Village residents who experienced the benefits of BPNT social assistance directly. As for the results of this study, the management of BPNT Bandungrejosari Village is still not evenly distributed because there are still many poor people who are less able to not get BPNT social assistance from the total number of poor people. Then the facility in the form of the establishment of an e-warong consisting of only one and one of the existing e-warongs in the village is not activated so that it experiences a slowdown at the time of disbursement each month, while another thing that has not been maximally done is coordination between the parties involved in the distribution of the BPNT. alone

    Unjuk Kerja Gerakan Heaving Kapal Bantuan Pemerintah dan Keberhasilan Operasionalnya, sebagai Dampak Keberadaan Muatan

    No full text
    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) memberikan bantuan berupa kapal penangkap ikan kepada nelayan. Namun kapal bantuan yang ditujukan ke Cilacap memiliki bobot kosong yang lebih berat bila dibandingkan dengan kapal lain yang memiliki dimensi utama kapal yang sama. Kapal yang memiliki bobot kosong lebih berat akan menimbulkan olah gerak yang buruk saat beroperasi dan berkurangnya kapasitas daya tampung kapal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menghitung perbedaan bobot kapal bantuan dan kapal nelayan, menghitung amplitudo heaving kedua kapal, membandingkan amplitudo heaving dan keuntungan operasional kapal bantuan berdasarkan simulasi bobot hasil tangkapan, dan merekomendasikan muatan maksimal yang dapat ditampung oleh kapal bantuan. Penelitian dilakukan terhadap kapal bantuan dan kapal nelayan berukuran panjang x lebar x tinggi yaitu 10,00 m x 1,20 m x 0,90 m berbahan fiberglass yang memiliki bobot kapal berbeda. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bobot kosong kapal bantuan yaitu 277,185 kg dan kapal nelayan 95,417 kg dengan perbedaan antara keduanya yaitu 181,768 kg. Nilai amplitudo heaving kapal nelayan lebih baik dibandingkan kapal bantuan. Nilai amplitudo heaving kapal bantuan setelah dilakukan pengurangan bobot hasil tangkapan yaitu 0,17 m. Estimasi keuntungan operasional pada kondisi muatan 2.937 kg yaitu Rp. 28.806.620

    ANALISIS TERJEMAHAN SIMILE DALAM NOVEL ANGELS & DEMONS KE DALAM MALAIKAT & IBLIS (Pendekatan Stilistika)

    Get PDF
    ABSTRAK Yopi Thahara. S131202007. 2014. Analisis Terjemahan Simile Dalam Novel Angels & Demons Ke Dalam Malaikat & Iblis (Pendekatan Stilistika). Tesis. Pembimbing I: Prof. Drs. M.R. Nababan, M.Ed., M.A., Ph.D. Pembimbing II: Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. Program Studi Linguistik Minat Utama Penerjemahan, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis terjemahan simile dengan pend ekatan stilistika. Penerjemahan simile ditinjau dari segi gaya, teknik penerjemahan, kualitas terjemahan, dan pengaruh teknik terhadap kualitas terjemahan. Penelitian ini merupakan penelitian bidang penerjemahan yang bersifat deskriptif, kualitatif, dan terpancang. Sumber data penelitian ini ialah novel Angels & Demons dan versi terjemahannya serta informasi yang diperoleh dari raters dan responden. Metode pengumpulan data yang digunakan terdiri dari analisis dokumen untuk memperoleh data simile serta kue sioner dan wawancara untuk mendapatkan data tentang kualitas terjemahan simile. Hasil penilitian menunjukkan bahwa terdapat 11 jenis citra simile yang digunakan penulis yaitu event (50 data), artefact (43 data), irrealis 2: entity (28 data), natural object (22 data), nature: animal (20 data), human r ole 2 (14 data), natural phenomenon (6 data), human role 1 (4 data), human r ole 3 (2 data), nature: plant (2 data), dan irrealis 1: event (1 data). Simile yang mengalami perubahan sebanyak 30 data, yaitu: bergeser sebanyak 12 data, direduksi sebanyak 10 data, dan dihilangkan sebanyak 8 data. Kemudian, terdapat 14 teknik penerjemahan yang digunakan, yaitu harfiah 156 (52, 35 %) data, amplifikasi 33 (11,0 7 %) data, peminjaman 21 (7,0 4 %) data, reduksi 17 (5,70%) data, kompresi linguistik 16 (5,3 7 %) data, padanan lazim 10 (3,3 5 %) data, adaptasi 10 (3,3 5 %) data, penghilangan 8 (2,6 8 %) data, generalisasi 7 (2,3 5 %) data, deskripsi 5 (1,68%) data, kompensasi 5 (1,6 8 %) data, modulasi 4 (1,34%) data, amplifikasi linguistik 4 (1,34%) data dan transposisi 2 (0,67%). Untuk kualitas terjemahan dilihat dari aspek keakuratan, sebanyak 171 (89,06%) data tergolong terjemahan akurat, 15 (7,81%) data termasuk terjemahan kurang akurat, dan 6 (3,12%) data merupakan terjemah an tidak akurat. Dilihat dari aspek keberterimaan, sebanyak 177 (92,19%) data termasuk terjemahan yang berterima dan sebanyak 15 (7,81%) data termasuk terjemahan yang kurang berterima. Sementara dari aspek keterbacaan, sebanyak 190 (98,96%) data memiliki t ingkat keterbacaan tinggi dan 2 (1,04%) data memiliki tingkat keterbacaan sedang. Sementara itu, d ampak teknik terhadap kualitas terjemahan menunjukkan bahwa terdapat 12 teknik penerjemahan yang cenderung menghasilkan terjemahan yang berkualitas dan terdapat 2 teknik penerjemahan yang cenderung menghasilkan terjemahan kurang berkualitas. Terdapat tiga proses penerjemahan simile yaitu pergeseran, persebuksian, dan penghilangan. Pergesearan terjadi apabila terdapat pembanding (citra) yang lebih lazim dan mudah dipahami oleh pembaca sasaran atau ketika citra simile dalam BSu tidak lazim sebagai pembanding dalam BSa . Pereduksian diambil sebagai alternatif penerjemah apabila citra simile tidak memiliki padanan dalam bahasa sasaran akan tetapi pesan dari citra tersebut dapat ditangkap. Penghilangan biasanya dilakukan oleh penerjemah ketika ungkapan simile tid ak memiliki padanan, dengan catatan penghilangan simile tersebut tidak mengurangi pesan yang disampaikan. Kata kunci : teknik penerjemahan, kualitas terjemahan, simile, stilistik

    Seleksi Desain Kapal Berdasarkan Teknik Operasional Purse Seine Di Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan

    No full text
    Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan khususnya di Desa Ujung Labuang merupakan salah satu Kabupaten andalan Provinsi Sulawesi Selatan di bidang perikanan khususnya alat tangkap purse seine jumlah armada kapal purse seine di Pinrang mencapai 143 unit (Statistik Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan 2014). Akan tetapi kapal purse seine di Pinrang didominasi oleh kapal-kapal dengan LOA 20 dan 24 m. Umumnya nelayan setempat menggunakan kapal dengan bentuk yang sama dan berbahan dasar kayu. Kapal di Pinrang walaupun berbeda dimensi kapal, jumlah ABK, dimensi alat penangkap ikan, akan tetapi mesin dan daerah penangkapan sama. Berdasarkan hasil pra survei di semua kapal purse seine yang berbeda dimensi itu memiliki hasil tangkapan yang relatife sama. Perbedaan dimensi kapal ini didasari oleh pengetahuan nelayan dalam pembuatan kapal yang masih turun-temurun dan tradisional. Menurut nelayan setempat ukuran kapal dapat mempengaruhi banyaknya hasil tangkapan, dan meningkatkan stabilitas kapal saat menghadapi gelombang di laut. Kapal merupakan moda utama yang digunakan nelayan untuk mengantar ke daerah penangkapan ikan, namun kapal haruslah disesuaikan dengan alat tangkap yang dibawanya serta lokasi daerah penangkapannya. Keberhasilan kapal penangkap ikan adalah apabila memenuhi 3 (tiga) faktor yaitu laik operasi, laik laut, laik simpan. Laik laut sangat berpengaruh terhadap performa kapal di laut seperti kestabilan dari kapal tersebut, laik operasi berpengaruh pada kesuaian alat tangkap yang dibawanya dan yang akan dioperasikan, dan pada laik simpan mempengaruhi terhadap faktor produksi ikan tersebut. Berdasarkan pemaparan di atas, maka perlu dilakukan kajian untuk mengetahui dimensi kapal yang optimal dilihat dari aspek teknis dan ekonomis untuk mengoprasikan purse seine di Kabupaten Pinrang. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi unit penangkap purse seine di Kabupaten Pinrang, (2) menentukan kualitas stabilitas dari tiap dimensi kapal purse seine yang dibuat di Pinrang, (3) merumuskan dimensi kapal yang efektif dan efisien berdasarkan hasil kajian teknis dan ekonomis. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan studi kasus pada 2 jenis kapal yang memiliki LOA (Length Over All) berbeda. Data yang diperoleh dianalisis dengan simulasi numerik, penghitungan keragaan teknis, stabilitas statis dan faktor ekonomi kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal di Pinrang memiliki model kasko yang berbentuk round bottom dan body ramping serta nilai rasio dimensi kapal berada pada rentang nilai kapal kelompok encircling di Indonesia kecuali pada L/D kapal PS2. Nilai stabilitas dari 4 kondisi muatan kapal dengan kretiria IMO, menunjukkan bahwa pada kondisi 1,2, dan 4 memiliki stabilitas yang baik. Namun pada kondisi 3 kedua jenis kapal berada dibawah kreteria IMO. Kajian teknis dari kedua kapal menghasilkan bahwa kapal PS1 lebih baik dari PS2. Hasil kajian ekonomi didapatkan dari biaya pembuatan kapal dan operasional, bahwa kapal PS2 memiliki investasi yang lebih besar dari PS1 akan tetapi pemasukan dari kedua kapal lebih baik PS1 dikarenakan biaya investasi yang tidak terlalu tinggi dan income yang didapatkan sudah menguntungkan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa kapal yang efektif dan efisien yang digunakan di Kabupaten Pinrang adalah kapal berukuran LOA 20 m B 4 m, dan D 1,30 m

    Designing and Constructing Unmanned Surface Vehicle (USV)

    No full text
    Wahana permukaan tak berawak ( unmanned surface vehicle (USV)) merupakan sebuah wahana ( vehicle ) berbentuk kapal di permukaan ( surface ) air yang dapat bergerak tanpa awak di dalamnya . USV dapat digunakan di perairan yang tidak dapat dilalui kapal dengan awak. Perkembangan USV di dunia sudah pesat, namun tidak diimbangi perkembangannya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan membuat USV yang bersifat semi - autonomous seca ra sederhana. Tahapan pembuatannya meliputi perancangan alat, uji laboratorium dan uji lapang. Perancangan alat terdiri dari pembuatan cashing , perancangan elektronik, dan perancangan perangkat lunak. USV yang dibuat dapat bergerak secara otomatis ( autonom ous ) mengikuti waypoint yang telah dibuat dan dapat bergerak secara manual dengan kendali menggunakan remote . Uji laboratorium dilakukan dengan mengukur waktu oleng wahana di atas air dan mengukur akurasi GPS. Uji lapang dilakukan dengan menjalankan wahana pada lintasan berbentuk lurus, zigzag, parallel, dan berbentuk seperti huruf S. Waktu oleng wahana sebesar 3 detik, aku rasi GPS pada CEP 50% sebesar 1, 9377 met er dan pada 2DRMS 95% sebesar 4, 757 meter. Nilai error didapatkan dari selisih jarak antara titik waypoint dengan lintasan aktual yang dilalui oleh wahana terhadap sumbu x dan sumbu y. Nilai error terbesa r pada sumbu x sebesar 4, 82 meter yaitu pada lintasan parallel, s edangkan pada sumbu y sebesar 4, 49 meter yaitu pada lintasan berbentuk huruf S. Pada uji lapang, w ahana melaju dengan kecepatan 0, 822 m/s atau sekitar 1, 59784 knot

    Analisis Penurunan Tanah pada Ruas Jalan Bts. Kota Sidoarjo - Gempol sisi Barat Tanggul Lumpur Sidoarjo

    No full text
    Jalan Ruas Bts. Kota Sidoarjo – Gempol merupakan jalur akses penting pengguna jalan di Jawa Timur. Terjadi semburan lumpur vulkanik yang dikenal Lumpur Sidoarjo (Lusi) pada tahun 2006 yang berdampak pada faktor ekonomi, sosial terutama infrastruktur di sekitar Lusi. Perbedaan penurunan tanah terjadi pada lokasi penelitian dan elevasi terendah permukaan jalan (KM 31+400) pada lokasi penelitian berada sejajar dengan tanggul P10.D. Salah satu dugaan penyebab terjadi permasalahan ini adalah penurunan tanah yang terjadi berdasarkan aspek kondisi tanah lunak dan kondisi geologi regional Lusi. Permasalahan ini berpengaruh terhadap tingkat keselamatan pengguna jalan. Berdasarkan latar belakang permasalahan yang sudah diuraikan perlu dilakukan analisis penurunan tanah untuk mengetahui besar terjadinya penurunan tanah di lokasi tersebut. Diperlukan identifikasi pada parameter fisis dan mekanis tanah untuk mengetahui kondisi tanah lunak. Analisis penurunan tanah dilakukan dengan metode Terzaghi 1-D berdasarkan titik bor SPT BH-2 (sisi barat) dan BH-3 (sisi timur). Analisis numerik Metode Elemen Hingga (MEH) dilakukan dengan pemodelan dari tanggul hingga badan jalan. Hasil analisis konsolidasi Terzaghi 1-D titik BH-2 penurunan total (ΣSc) adalah 12,851 cm dengan waktu penurunan adalah 2,14 cm/tahun. Pada BH-3 penurunan total (ΣSc) adalah 11,145 cm dengan waktu penurunan adalah 2,18 cm/thn. Hasil analisis MEH berdasarkan deformasi vertikal (Uy) pada lokasi badan jalan -9,884 cm. Deformasi (Uy) tanggul pada konsolidasi 122 hari pada analisis MEH adalah 18,27 cm. Berdasarkan data deformasi tanggul pada April 2020 – Agustus 2020 (122 hari) adalah 19,30 cm. Berdasarkan data hasil uji laboratorium, kondisi pada BH-2 kedalaman -4,45 m sd -16,45m merupakan kondisi tanah lempung lunak plastisitas tinggi kecuali pada kedalaman 10,45 m yang merupakan tanah pasir berlanau. Kondisi pada BH-3 kedalaman -6,45 m sd -16,45 m merupakan kondisi tanah lempung lunak plastisitas tinggi. Hasil MEH menunjukkan bahwa kondisi tanggul dan lumpur berpengaruh terhadap deformasi jalan. Berdasarkan perbandingan analisis MEH dengan data deformasi tanggul dapat menjadi acuan analisis penurunan tanah di badan jalan. ================================================================================================================================= National Road of Section Bts. Kota Sidoarjo – Gempol is an important access for road users in East Java. A volcanic mud eruption known as the Lumpur Sidoarjo (Lusi) in 2006 impacted economic and social factors, especially the infrastructure around Lusi. Differential settlement occurs from the research site at the lowest elevation road surface (KM 31+400) near the P10.D levee. One of the assumptions that cause this problem is soil settlement. This problem affects the level of road safety. From this background of the problems that have been described, it is necessary to analyze settlement to determine the causes of soil settlement in that location. Consolidation settlement analysis carries out using the Terzaghi one-dimensional (1-D) method based on SPT data of BH-2 (west side) and BH-3 (east side). Finite Element Method (FEM) numerical analysis is carried out by modeling from the levee to the main road. The results of the Terzaghi 1-D consolidation analysis BH-2 the total settlement is 12,851 cm with the rate of settlement is 2,14 cm/year. The result of the Terzaghi 1-D consolidation analysis (east side), the total settlement is 11,145 cm with a rate of settlement 2,18 cm/year. FEM results showed that vertical deformation (Uy) on the main road is -9,884 cm. FEM results showed that vertical deformation on the levee at 122 days consolidation is 18,27 cm. 19,30 cm vertical deformation from April 2020 – August 2020 (122 days) based on elevation measurements P10.D levee’s elevation. Based on laboratory test data, BH-2 location depth -4,45 m to -16,45 m are soft clay high plasticity conditions expect at a depth of 10,45 m which are silty sand soils. BH-3 location depth -6,45 m to -16,45 m are soft clay high plasticity conditions. FEM results show that the embankment of the levee affects road deformation. Based on a comparison of FEM analysis with embankment deformation data, it can be used as a reference for soil settlement analysis on the road

    PENGARUH JUMLAH MATA SAYAT ENDMILL CUTTER, KEDALAMAN PEMAKANAN DAN KECEPATAN PEMAKANAN (FEEDING) TERHADAP TINGKAT KEKASARAN PERMUKAAN BENDA KERJA PADA MESIN MILING CNC TU-3A DENGAN PROGRAM G01

    Get PDF
    Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi kedalaman pemakanan (0,4 mm; 0,6 mm; 0,8 mm) dan kecepatan pemakanan terhadap tingkat kekasaran permukaan benda kerja aluminium 2036 pada mesin milling CNC TU-3A dengan program absolut G01, mengetahui pengaruh variasi jumlah mata sayat pahat endmill cutter 2 flute dan 4 flute. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium CNC teknik mesin Balai Latihan Kerja Surabaya dan untuk pengujian tingkat kekasaran permukaan benda kerja dilakukan di Laboratorium Pengujian Bahan, Teknik Mesin, Balai Latihan Kerja Surabaya. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kekasaran permukaan benda kerja tersebut adalah surface tester. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Ada pengaruh variasi jumlah mata sayat pahat dan kedalaman pemakanan, yaitu pada kedalaman 0,4 mm; 0,6 mm; dan 0,8 mm dengan jumlah mata sayat 2 flute dihasilkan rata-rata tingkat kekasaran permukaan benda kerja secara berturut-turut adalah 0,83 µm, 0,92 µm, dan 1,25 µm dan jumlah mata sayat 4 flute  adalah 0,75 µm, 0,87 µm, dan 0,93 µm. Jadi semakin dalam pemakanan dan semakin sedikit jumlah mata sayat pahat, maka tingkat kekasaran permukaan benda kerja akan semakin tinggi. (2) Ada pengaruh variasi kecepatan pemakanan, yaitu pada kecepatan 70 mm/menit, 80 mm/menit, 90 mm/menit dengan kedalaman 0,4 mm dan jumlah mata sayat pahat 4 flute dihasilkan rata-rata tingkat kekasaran permukaan benda secara berturut-turut adalah 0,75 µm, 0,87 µm, dan 0,93 µm. Jadi, semakin rendah kecepatan pemakanan, maka semakin rendah tingkat kekasaran permukaan benda kerja. (3) Variasi jumlah mata sayat pahat, kedalaman pemakanan dan kecepatan pemakanan yang menghasilkan benda kerja dengan nilai rata-rata tingkat kekasaran paling rendah adalah pengerjaan dengan mata sayat 4 flute, kedalaman pemakanan 0,4 mm dan kecepatan pemakanan 70 mm/menit, yaitu sebesar 0,75 µm. Kata Kunci: jumlah mata sayat, kedalaman pemakanan, kecepatan pemakanan, kekasaran permukaan, aluminium 2036

    Perlakuan Jamur Entomopatogen Metarhizium Anisopliae pada Ulat Krop Kubis Crocidolomia Pavonana dan Pengaruhnya Terhadap Mortalitas, Pembentukan Pupa dan Pemunculan Imago

    Get PDF
    Jamur Metarhizium anisopliae banyak digunakan untuk pengendalian berbagai jenis serangga hama. Apakah jamur tersebut dapat digunakan untuk membunuh hama ulat krop kubis? Penelitian ini bertujuan untuk : 1) menguji toksisitas M. anisopliae pada ulat Crocidolomia pavonana 2) mengetahui pengaruh sub lethal M. anisopliae terhadap pembentukan pupa dan pemunculan imago. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret sampai dengan Juni 2016 di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan uji adalah larutan jamur konsentrasi 1,0 x 10 6 spora/mL (P1); 1,0 x 10 7 spora/mL (P2); 1,0 x 10 9 spora/mL (P3); 1,0 x 10 11 spora/mL akuades (P4). Variabel yang diamati adalah mortalitas larva, persentase pembentukan pupa, dan persentase kemunculan imago. Data mortalitas larva dianalisis dengan analisis probit dan analisis abbot formula, data lainnya dianalisis menggunakan uji F pada taraf 5%, apabila terdapat perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jamur M. anisopliae menyebabkan kematian pada larva C. pavonana dalam jumlah yang sangat sedikit. Analisis probit menunjukkan konsentrasi 1,4 x 10 17 spora/ml dapat mematikan 50% larva (LC50). Perlakuan tersebut juga tidak berpengaruh negatif terhadap pembentukan pupa. Namun demikian, perlakuan itu berpengaruh negatif terhadap pemunculan imago
    corecore