309 research outputs found

    ASN SEBAGAI PELAYAN MASYARAKAT

    Get PDF
    Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah orang yang diangkat pemerintah sebagai pegawai negeri atau BUMN yang tugasnya untuk mengabdi dan melayani berbagai kebutuhan dan tuntutan masyarakat secara menyeluruh baik dari segi sosial, ekonomi, budaya dan lain-lain, maka dari itu ASN dalam berhubungan dengan kepentingan masyarakat perlu mengabid dan melayani secara utuh dan optimal

    E-A-S-I (Exposure-Analogy Visual-Social Action-Impact Writing): PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN LITERASI BERBASIS ANALOGI VISUAL WAYANG SUKURAGA SEBAGAI KONSTRUKSI NILAI DALAM MENULIS REFLEKTIF PADA SISWA SEKOLAH DASAR

    Get PDF
    E-A-S-I (Exposure-Analogy Visual-Social Action-Impact Writing): PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN LITERASI BERBASIS ANALOGI VISUAL WAYANG SUKURAGA SEBAGAI KONSTRUKSI NILAI DALAM MENULIS REFLEKTIF PADA SISWA SEKOLAH DASAR Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran literasi berbasis analogi visual Wayang Sukuraga (Exposure-Analogy Visual-Social Action-Impact Writing/EASI) sebagai konstruksi nilai dalam menulis reflektif pada peserta didik sekolah dasar. EASI mengintegrasikan media analogi visual Wayang Sukuraga dengan pembelajaran menulis reflektif untuk meningkatkan pemahaman dan pembangunan nilai dalam menulis. Belum memadainya program dalam kegiatan literasi di sekolah dasar terutama dalam kemampuan menulis peserta didik yang terintegrasi dengan nilai kearifan lokal menjadi latarbelakang penelitian ini. Sebagai solusi, penulis mengembangkan EASI dan melakukan pengujian terbatas dan efektivitas model ini pada tujuh Sekolah Dasar (SD) di Kota Sukabumi. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan yang melibatkan tahap-tahap pengembangan, validasi, dan implementasi model pembelajaran. Subjek penelitian adalah peserta didik sekolah dasar di tujuh SD di kota Sukabumi, di daerah asal Wayang Sukuraga (WS). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, angket, dan tes tulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis reflektif dan membangun konstruksi nilai pada peserta didik, terutama dalam nilai-nilai kearifan lokal, nilai religius, kejujuran, keberanian, kemandirian, kerjasama, dan kerja keras. Analogi visual wayang sukuraga terbukti sebagai sarana yang efektif dalam memfasilitasi pembelajaran literasi pada peserta didik, sehingga pengembangan model pembelajaran literasi berbasis analogi visual WS dapat menjadi alternatif yang efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis reflektif dan konstruksi nilai pada peserta didik SD di Kota Sukabumi. Selain itu, EASI juga efektif dalam memfasilitasi proses pembelajaran yang lebih aktif, kreatif, dan menyenangkan bagi peserta didik. Pengembangan model pembelajaran literasi ini memberikan manfaat yang signifikan bagi peserta didik SD dalam meningkatkan keterampilan menulis reflektif dan membangun konstruksi nilai yang positif. Kata kunci: Pembelajaran Literasi, Analogi Visual, Wayang Sukuraga, Menulis Reflektif, dan Konstruksi Nilai. E-A-S-I (Exposure-Analogy-Social Action-Impact Writing): DESIGNING A LITERACY LEARNING MODEL BASED ON VISUAL ANALOGY OF WAYANG SUKURAGA AS A VALUE CONSTRUCTION IN REFLECTIVE WRITING FOR ELEMENTARY SCHOOL STUDENT Abstract This research aims to develop a literacy learning model based on the visual analogy of Wayang Sukuraga as a construction of values in reflective writing for elementary school students. EASI integrates the visual analogy media of Wayang Sukuraga with reflective writing learning to enhance understanding and value development in writing. The inadequate literacy programs in elementary schools, especially in students' writing abilities integrated with local wisdom values, became the background of this research. As a solution, the author developed a literacy learning model based on the visual analogy of Wayang Sukuraga and conducted a limited test and effectiveness of this model in seven elementary schools in Sukabumi City. This research used a research and development method involving the stages of development, validation, and implementation of the learning model. The research subjects were elementary school students in seven schools in Sukabumi City, in the area where Wayang Sukuraga originated. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and written tests. The results of the research showed that this model is effective in improving reflective writing skills and constructing values in students, especially in local wisdom values, religious values, honesty, courage, independence, cooperation, and hard work. The visual analogy of Wayang Sukuraga proved to be an effective means of facilitating literacy learning for students, so the development of a literacy learning model based on the visual analogy of Wayang Sukuraga can be an effective alternative for improving reflective writing skills and value construction in elementary school students in Sukabumi City. Furthermore, this model is also effective in facilitating a more active, creative, and enjoyable learning process for students. The development of this literacy learning model provides significant benefits for elementary school students in improving reflective writing skills and building positive value’s construction. Keywords: Literacy Learning, Visual Analogy, Sukuraga Puppetry, Reflective Writing, Value’s Constructio

    ASPEK SOSIAL NOVEL DUA CINTA NEGERI SAKURA KARYA IRENE DYAH

    Get PDF
    AbstractNovel Dua Cinta Negeri Sakura is one of the novels by Irene Dyah. This novel by Irene Dyah does not only tell about romance but an interesting social point of view. What are the values of the social aspects contained in the novel Dua Cinta Negeri Sakura and how do the readers influence society from the social aspects in the novel Dua Cinta Negeri Sakura. The aim is to describe the influence of the social aspects of the novel on the reader. In this study, researchers used descriptive qualitative methods. Then, the technique used by the author is literature study technique. Any data that has been recorded in the form of a page number sentence and the paragraph number listed. The data resulting from this study are in the form of a big picture of several sentences that contain social aspects. Then, describe the influence of the social aspects of the sentence on the reader. The results of this study, the aspects contained in the novel Dua Cinta Negeri Sakura by Irene Dyah, namely the values of religion, culture, morals, education, economy, social environment. Then, the effect obtained on these values can influence it not only in theory, but the reader will apply it in real life or to the surrounding community

    Digital Literacy Learning Model in Digital Era

    No full text

    PEMBELAJARAN MENULIS LAPORAN PENGAMATAN DENGAN PENDEKATAN PROYEK SEBAGAI UPAYA MENUMBUHKEMBANGKAN NILAI-NILAI KARAKTER : Studi Eksperimen Kuasi terhadap Peserta didik Kelas V pada SDN 3 Cipatat di Kabupaten Bandung Barat Tahun Ajaran 2011/2012

    Get PDF
    Bahasa adalah sebuah sistem komunikasi yang memungkinkan kita untuk berekspresi, menampilkan sesuatu, dan membangun makna. Bahasa Indonesia sebagai Pilar Pendidikan Karakter dan sebagai wahana pendidikan karakter perlu direncanakan, dan dibina. Hal ini tentu saja menjadikan bahasa bukan hanya sebagai alat, melainkan menembus batas pikiran dan kehidupan manusia. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen kuasi dengan model non-equivalent control group design terhadap peserta didik kelas V SDN 3 Cipatat Kabupaten Bandung Barat tahun pelajaran 2011/2012. Data penelitian dikumpulkan melalui tes tertulis menulis laporan pengamatan, observasi, angket, dan wawancara. Setelah dilakukan uji-t, hasil penelitian menunjukkan data berupa kemampuan menulis berkarakter dengan menggunakan pendekatan proyek, skor tes akhir diperoleh t hitung = -4,297 dengan signifikansi 0,000 < 0,05, maka dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan skor akhir tes kemampuan menulis laporan pengamatan antara peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol. Skor rata-rata tes akhir kelas eksperimen sebesar 84,93 dan kelas kontrol sebesar 72, 56. N-gain kelas eksperimen 0,5 dan N-gain kelas kontrol 0,2. Hal ini berarti bahwa kemampuan menulis laporan pengamatan peserta didik kelas eksperimen yang menggunakan pendekatan proyek lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran non-pendekatan proyek. Hasil dari penelitian ini memberikan rekomendasi bahwa pembelajaran dengan pendekatan proyek dapat dijadikan sebagai salah satu pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia karena dapat menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan meningkatkan kemampuan komunikasi secara tertulis peserta didik Sekolah Dasar. Selain pendekatan proyek dijadikan sebagai salah satu upaya untuk memotivasi peserta didik dalam meningkatkan kualitas tulisan dan hasil belajar bahasa Indonesia juga sebagai sarana bagi peserta didik dalam melakukan moral action (tindakan moral)

    PEMBELAJARAN MENULIS LAPORAN PENGAMATAN DENGAN PENDEKATAN PROYEK SEBAGAI ALTERNATIF PEMBELAJARAN IPA DALAM PENERAPAN KURIKULUM 2013

    Get PDF
    Saat ini, dalam penerapan kurikulum 2013, proses pembelajaran menjadi sangat penting dilakukan. Pencapaian pendidikan dalam kurikulum 2013 berbasis proses bukan berbasis hasil. Untuk itu diperlukan berbagai model pembelajaran yang berbasis proses dalam memenuhi tujuan kurikulum 2013. Pembelajaran Menulis Laporan Pengamatan IPA dengan Pendekatan Proyek merupakan pembelajaran yang berbasis proses. Menulis laporan pengamatan dalam pembelajaran IPA dengan pendekatan proyek menjadikan IPA sebagai sebuah proses yang terekam dalam tulisan laporan pengamatan yang dilakukan peserta didik. Kegiatan menulis laporan pengamatan IPA berbasis proyek selain memotivasi menulis karya ilmiah, mampu melatih peserta didik dalam mengumpulkan dan mengolah informasi. Sehinga kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut bisa dilakukan secara optimal oleh peserta didik. Dengan demikian pembelajaran secara kontekstual dan bermakna pun tercapai

    DINASTI GIRINDRAWARDHANA DYAH RANAWIJAYA DALAM KAJIAN PRASASTI PETAK TAHUN 1486 M.

    Get PDF
    The aims of this study are: 1) to analyze the Girindrawardhana Dyah Ranawijaya dynasty from several inscriptions from the late Majapahit period; 2) How is the relationship between the Girindrawardhana Dyah Ranawijaya dynasty and the previous kings of Majapahit. The main sources used are inscriptions such as the Petak Inscription, the Trailokyapuri (Jiyu) I Inscription, the Trailokyapuri (Jiyu) II Inscription, and the Trailokyapuri (Jiyu) III Inscription. The primary source obtained by the author is observational data in the field, namely Dusun Hamlet, Petak Village, Pacet District, Mojokerto Regency. The results of the study reject the notion that the figure of Girindrawardhana Dyah Ranawijaya is the new ruler of the Majapahit kingdom from the new dynasty - the Girindrawardhana Dynasty - in the late Majapahit period. But the later kings of Majapahit used the title name Girindrawardhana which means "Successor of Girindra". They are still descendants of the previous Majapahit kings. Thus, in the Majapahit Kingdom there was only one ruling dynasty, namely the Girindra Dynasty (Girindrawansa) or the Rajasa Dynasty (Rajawansa) which was founded by Sri Rangah Rajasa Bhattara San Amurwwabhumi alias Ken Arok. Later Majapahit kings adopted a name with a title Girindrawarddhana which means "successor of Girindra". Keywords: End of Majapahit Period, Girindrawardhana, Petak Inscription

    MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PPKN PADA SISWA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE TALKING STICK

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan pemahaman konsep PPKN melalui model kooperatif tipe talking stick. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan desain penelitian menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart yang dilakukan sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, tindakan dan pengamatan, serta refleksi. Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa kelas 4-A SDN Baros Kencana CBM kota sukabumi Tahun ajaran 2018/2019 dengan komposisi jumlah laki-laki 15 dan perempuan 25 dengan total seluruhnya 40 siswa. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan tes berupa pretest dan postest. Sedangkan teknik non tes berupa observasi, catatan lapangan dan dokumentasi. Pada pra siklus melalui tes indikator pemahaman konsep menunjukkan ketuntasan pemahaman konsep siswa diperoleh dari presentase keberhasilan secara keberhasilan KKM pada pelaksanaan pra siklus sebesar 28% masih ada pada kategori kurang dan belum memenuhi kriteria keberhasilan . Pada siklus I memiliki ketuntasan keberhasilan KKM sebesar 65% secara umum kemampuan pemahaman konsep siswa dalam kategori cukup dan masih belum mencapai presentase keberhasilan yang telah ditentukan. Pada siklus II ketuntasan klasikal sebesar 90% dan memiliki kategori sangat baik pada kemampuan pemahaman konsep siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan pemahaman konsep siswa meningkat melalui model kooperatif tipe talking stick

    PENERAPAN MODEL NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP IPS DI KELAS TINGGI

    Get PDF
    Research through the application of the Numbered Heads Together (NHT) model aims to improve the conceptual understanding of students in the high school elementary school research method used by the author is the class action research (PTK) of the students studied amounting to 40 students in class V. The instruments used in This research is a test instrument, teacher observation sheet and student activity observation sheet. The results of this study indicate that before the implementation of the NHT learning model as many as 7 students (19%) were completed and 33 students (83%) did not complete. However, after using the NHT learning model in cycles I and II, data was obtained that the results of understanding students\u27 concepts increased. The results of the first cycle show that as many as 15 (38%) students complete and as many as 25 (62%) students have not finished. Then the results of the second cycle test showed that as many as 36 (90%) were complete and as many as 4 (10%) were not completed. The increase that occurs in students who have reached (90%) is declared complete
    corecore