117,431 research outputs found
FORMULASI SEDIAAN LOSIO DARI EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus L. (Merr)) SEBAGAI TABIR SURYA
FORMULASI SEDIAAN LOSIO DARI EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus L. (Merr)) SEBAGAI TABIR SURYA Helen Eliska Trianti Gurning1), Adeanne C. Wullur1), Widya Astuty Lolo1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Pineapple rind (Ananas comosus L. (Merr).) contains flavonoid and tanin that can be used as sunscreen. This research aims to make sunscreen lotio from pineapple rind extract with concentration of 8, 10 and 12% base on lotio requirements including organoleptic test, homogeneity test, pH test, dispersive test and examine the pineapple rind extract lotion as sunscreen by measurement of Sun Protection Factor (SPF) value in vitro. Pineapple rind with concentration at 8, 10 and 12% can be formulated as lotion. The lotion were made based on lotion requirements including organoleptic test with semisolid phase, greenish yellow in color and specific fragrance of pineapple. Homogeneity test with the absence of small particles through out all the lotion; pH test was 6 which still within skin pH interval of 4-7,5 and dispersive test with dispersive diameter width of 6-7 cm indicated the semisolid consistency which is comfortable in use. The effectiveness of the sunscreen were carried out by the determination of SPF value using Spectrophotometer UV-Vis method. All the lotion meet the requirements as sunscreen with SPF value of 2,66; 2,72 and 2,83 respectively. Keywords : Lotion, Pineapple Rind, Sunscreen, SPF ABSTRAK Kulit buah Nanas (Ananas comosus L. Merr) mengandung flavonoid dan tanin yang mampu bekerja sebagai tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan losio tabir surya dari ekstrak kulit buah Nanas dengan konsentrasi 8, 10 dan 12%, menguji sediaan losio ekstrak kulit buah Nanas berdasarkan persyaratan sediaan losio meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH dan uji daya sebar dan menguji sediaan losio ekstrak kulit buah Nanas sebagai sediaan tabir surya dengan pengukuran nilai Sun Protection Factor (SPF) secara in vitro. Kulit buah Nanas konsentrasi 8, 10 dan 12% dapat diformulasikan sebagai sediaan losio. Losio yang dibuat memenuhi persyaratan sediaan losio meliputi uji organoleptik dengan bentuk semisolid, warna kuning-kehijauan dan bau khas buah Nanas. Uji homogenitas dengan tidak terdapatnya partikel-partikel kecil pada seluruh sediaan losio; uji pH dengan nilai pH 6 yang masih dalam interval pH kulit yaitu 4-7,5 dan uji daya sebar dengan luas diameter sebar 6-7 cm yang menunjukkan konsistensi semisolid yang sangat nyaman dalam penggunaan. Efektivitas sediaan tabir surya dilakukan dengan penentuan SPF menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Seluruh losio memenuhi syarat sebagai tabir surya dengan nilai SPF berturut-turut 2,66; 2,72 dan 2,83. Kata kunci: Losio, Kulit Buah Nanas, Tabir Surya, SPF Â Â
FORMULASI DAN UJI EVALUASI FISIK SEDIAAN LOSIO DARI EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum africanum L.) SEBAGAI PENOLAK NYAMUK Aedes aegypti
Daun kemangi (Ocimum africanum L.) memiliki kandungan metabolit skunder seperti flavonoid, saponin, tanin dan minyak atsiri yang berpotensi sebagai penolak nyamuk Aedes aegypti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak daun kemangi efektif sebagai penolak nyamuk Aedes aegypti yang dibuat menjadi sediaan losio dengan variasi konsentrasi asam stearat yaitu 2%, 3% dan 5%. Ekstraksi daun kemangi menggunakan metode perkolasi dengan pelarut etil asetat. Hasil ekstraksi daun kemangi diperoleh rendemen 6,4%, kemudian diformulasikan menjadi sediaan losio dan di uji evaluasi fisik sediaan. Hasil evalusi sediaan losio ekstrak daun kemangi dari ketiga formulasi memenuhi persyaratan homogenitas, pH, daya sebar dan iritasi. Uji efektivitas sebagai penolak nyamuk Aedes aegypti, formulasi 1 efektif pada jam ke 1 sampai jam ke 5 dengan persyaratan persentase daya tolak nyamuk >80%.. Data yang didapat lalu diuji menggunakan uji Repeated Measures ANOVA diperoleh nilai (sig) 0,000 <0,05 sehingga diketahui adanya pengaruh dari waktu-waktu dan waktu-perlakuan. Kata Kunci : Daun Kemangi (Ocimum africanum L.), losio, repellan, Aedes aegypti
UJI EFEKTIVITAS FORMULASI LOSIO EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH (Allium cepa L.) SEBAGAI REPELAN TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti
Kulit bawang merah (Allium cepa (L.)) yang kurang termanfaatkan memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai repelan terhadap nyamuk Aedes aegypti. Losio merupakan sediaan yang dapat digunakan sebagai produk repelan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah sediaan losio ekstrak kulit bawang merah efektif sebagai repelan dalam pengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti dan untuk mengetahui pada konsentrasi berapa ekstrak kulit bawang merah yang efektif dalam sediaan losio sebagai repelan terhadap nyamuk Aedes aegypti. Ekstraksi kulit bawang merah menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% dan ekstrak yang diperoleh diformulasikan sebagai losio dan diuji sebagai repelan terhadap nyamuk Aedes aegypti. Hasil ekstraksi kulit bawang merah diperoleh rendemen 19,8% yang telah diuji skrining fitokimia mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Hasil evaluasi sediaan fisik losio ekstrak kulit bawang merah telah memenuhi persyaratan sebuah losio. Sediaan losio ekstrak kulit bawang merah belum memiliki efektivitas sebagai repelan terhadap Aedes aegypti pada F3 dengan konsentrasi 2% memiliki daya tolak nyamuk sebesar 95,97% pada 30 detik dan 77,19% pada 6 jam perlakuan. Hasil analisis statistik SPSS diperoleh nilai signifikansi <0,05 yang berarti ketiga formulasi losio memiliki perbedaan bermakna dengan kontrol positif
FORMULASI DAN PENENTUAN NILAI SPF DARI SEDIAAN LOSIO EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH PISANG GOROHO (Musa acuminafe L.)
FORMULASI DAN PENENTUAN NILAI SPF DARI SEDIAAN LOSIO EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH PISANG GOROHO Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â (Musa acuminafe L.) Susanti Wenur 1), Paulina V.Y Yamlean1),Sri sudewi1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Skin part of Goroho Banana (Musa acuminafe L.) contain flavonoids which could be benefited as a sunscreen. The purpose of this study was to formulated and determinates the value of the stocks SPF sunscreen lotion skin part extract of goroho banana (Musa acuminafe L.) with a concentration of 2.5, 5 and 7.5%, respectively. The results of this study indicated that skin part of Goroho Banana (Musa acuminafe L.) could be formulated as stocks of sunscreen lotion and to meet the requirements of preparative lotion, including organoleptic evaluation, evaluation of homogeneity, pH evaluation, and evaluation of the spread. Determination of the SPF value was done by means of in vitro using UV-Vis spectrophotometer. The results shown that lotion preparations of Goroho Banana peel extract (Musa acuminafe L.) with a concentration of 2.5, 5 and 7.5% given value of 3.2; 3.8; 4.4 respectively and this value still in the minimum protection value. Keywords: skin of Banana Goroho, flavonoids, sunscreen lotion, SPF. Â ABSTRAK Kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) mengandung flavonoid yang dapat digunakan sebagai tabir surya. Tujuan penelitian ini yaitu menformulasikan dan menentukan nilai SPF sediaan losio tabir surya ekstrak kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) dengan konsentrasi 2,5 , 5 dan 7,5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) dapat diformulasikan sebagai sediaan lotio tabir surya dan memenuhi persyaratan sediaan losio, di antaranya evaluasi organoleptis, evaluasi homogenitas, evaluasi pH, evaluasi daya sebar. Penentuan nilai SPF dilakukan dengan cara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-vis. Hasil yang di dapat menunjukkan sediaan losio ekstrak kulit pisang goroho (Musa acuminafe L.) dengan konsentrasi 2,5 , 5 dan 7,5% nilainya 3,2; 3,8; 4,4 termasuk dalam proteksi minimal Kata kunci: Kulit buah pisang goroho, flavonoid, losio tabir surya, SP
Uji Aktivitas Inhibitor Enzim Tirosinase dan Antioksidan Tagetes erecta L. sebagai Whitening Agent Formulasi Losio Pencerah Kulit
Pencerah kulit merupakan salah satu produk kosmetik yang digunakan dengan tujuan untuk mencerahkan dan merubah warna kulit yang tidak diinginkan. Dewasa ini produk pemutih yang mengandung bahan kimia berbahaya dan menimbulkan banyak dampak negatif banyak digunakan secara jangka panjang. Tanaman yang diduga dapat menjadi tanaman obat dan kosmetik adalah tanaman gemitir (Tagetes erecta L.). Bunga gemitir memiliki kandungan metabolit sekunder berupa terpenoid, minyak atsiri, flavonoid dan karotenoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antioksidan dan inhibitor tyrosinase bunga gemitir (Tagetes erecta L.) sebagai whitening agent baru dari bahan alam, serta mengetahui kestabilan dari sediaan losio dari ekstrak bunga gemitir (Tagetes erecta L.). Penelitian dilakukan secara eksperimental, uji aktivitas antioksidan dan inhibitor tyrosinase dilakukan pada hasil ekstrasi bunga gemitir dari dua jenis pelarut yang berbeda yaitu metanol 96% dan etilasetat. Uji evaluasi sediaan formulasi losio dilakukan dengan uji stabilitas fisik dan uji hedonik menggunakan 30 orang panelis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol 96% dan ethyl asetat bunga gemitir (Tagetes erecta L.) tidak memiliki aktivitas penghambat enzim tyrosinase yang baik. Ekstrak metanol 96% dan ethyl asetat bunga gemitir (Tagetes erecta L.) memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 yaitu 17,24 µg/mL dan 17,04 µg/mL. Losio ekstrak metanol dan ekstrak etilasetat bunga gemitir (Tagetes erecta L.) yang diformulasikan memiliki stabilitas yang baik
Pengaruh Variasi Karagenan dan Virgin Coconut Oil Terhadap Evaluasi Fisik dan Aktivitas Antioksidan Sediaan Losio Bunga Telang (Clitoria ternatea L.)
Antioksidan ialah suatu zat yang dalam konsentrasi kecil dapat mencegah atau menghambat oksidasi pada sebuah substrat yang dihasilkan oleh senyawa radikal bebas. Bunga telang suatu tumbuhan yang memiliki sifat antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi karagenan dan VCO dalam sediaan losio ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L.) terhadap uji evaluasi fisik dan aktivitas antioksidan. Ekstraksi bunga telang memakai teknik maserasi dengan pelarut air lalu di freeze dry pada suhu -50°C selama 48 jam. Hasil rendemen ekstrak yang didapat yaitu 29,33%. Hasil uji evaluasi fisik sediaan losio bunga telang dengan variasi karagenan dan VCO pada F I, F II, dan F III mempengaruhi uji evaluasi fisik diamati dari hasil yang memenuhi persyaratan sesuai dengan SNI-16-3499-1996. Sediaan losio bunga telang dengan variasi karagenan dan VCO memiliki pengaruh terhadap aktivitas antioksidan diamati dari nilai IC50, dan sediaan losio bunga telang dengan variasi karagenan 1% dan VCO 5% memiliki nilai IC50 yang paling baik sebesar 23,92 ppm yang jika dilihat berarti memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat pada seri konsentrasi <50 ppm. Namun jika dari hasil analisis statistik menunjukkan bahwa sediaan losio formula I, formula II, dan formula III memiliki pengaruh sebesar 26% dari variasi karagenan dan VCO terhadap aktivitas antioksidan
FORMULASI DAN UJI EVALUASI FISIK SEDIAAN LOSIO MINYAK ATSIRI BATANG SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L.) SEBAGAI REPELAN TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu penyakit yang di sebabkan oleh virus dengue yang dapat kapan saja bisa menular melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ke manusia yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Dibutuhkan produk repellan yang aman yang berasal dari tanaman yang aman salah satunya yaitu batang serai wangi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui evaluasi fisik sediaan losio dan untuk mengetahui berapakah konsentrasi ekstrak batang serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dalam sediaan losio yang memiliki efektivitas sebagai daya tolak terhadap nyamuk Aedes aegypti. Ekstraksi menggunakan metode destiasi uap air dengan pelarut aquades. Hasil rendemen yang didapat dari metode destilasi yaitu 0,035. Sediaan losio ekstrak daun serai wangi (Cymbopogen nardus L.) dengan konsentrasi 0,5% memenuhi persyaratan uji evaluasi fisik yang baik meliputi uji organoleptik, homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat, uji iritasi, dan uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan losio formula III dengan konsentrasi 1,5% merupakan sediaan yang paling baik karena memiliki efektivitas terhadap nyamuk aedes aegypti pada 30 detik dan tidak efektif pada jam ke 6 dengan syarat diatas 80% kemudian data diuji menggunakan repeated measures ANOVA yang diperoleh nilai signifikan yaitu <0,05
Formulasi Sediaan Losio Ekstrak Etanol Meniran (Phyllanthus niruri L.) Sebagai Penumbuh Rambut Terhadap Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan Galur Wistar
ABSTRACT
Meniran (Phyllanthus niruri L.) is a plant used to promote hair growth. In this research, ethanolic extract of P.niruri was formulated into lotion because it was more evenly distributed and non sticky in use compared to cream and gel. The aims of this research is to determine the hair growth activity of the ethanolic extract of P.niruri and the effect of using menthol 1% as an enhancer in lotion formulation. In this research two formula were being tested where Formula I (F1) without menthol 1% and Formula II (F2) with menthol 1%. The 5% of extract was being used in the formulation. The lotion was applied to the rats skin and the hair length was measured on day 7, 14 and 21, while the hair weight was measured on day 21. The results showed that the average hair length on F2 (12.68 3.13 mm) was longer than the F1 (11.21 2.58 mm) although there was no significant difference between both formulas. The average hair weight on F2 (23.00 10.74 mg) was greater that the F1 which was only 15.83 6.11 mg. Both formulas have a longer hair growth activity compared to normal controls (10.74 0.86 mm). It can be concluded that the lotion of ethanolic extract of P. niruri could promote hair growth in white wistar rats and the addition of 1% menthol as an enhancer gave better hair growth activity in F2 group.
ABSTRAK
Meniran (Phyllanthus niruri L.) adalah tanaman yang digunakan sebagai penumbuh rambut. Pada penelitian ini, ekstrak etanol meniran diformulasikan dalam sediaan losio karena penyebarannya lebih merata dan tidak lengket dalam penggunaanya dibandingkan sediaan krim dan gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sediaan losio ekstrak etanol meniran dan pengaruh penambahan mentol 1% dalam sediaan losio sebagai penumbuh rambut terhadap tikus putih jantan galur wistar. Pada penelitian ini digunakan 2 formula yaitu Formula I (F1) tanpa mentol 1% dan Formula II (F2) dengan penambahan mentol 1%. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 5%. Sediaan losio kemudian diaplikasikan pada kulit tikus secara topikal dan selanjutnya panjang rambut diukur pada hari ke-7, 14 dan 21 sedangkan bobot rambut diukur pada hari ke-21. Hasil pengujian aktivitas pertumbuhan rambut pada hari ke-21 menunjukkan rata-rata panjang rambut, pada F2 memiliki aktivitas pertumbuhan rambut yang lebih panjang yaitu 12,68 3,13 mm dari pada F1 yaitu 11,21 2,58 mm meskipun perbedaannya tidak signifikan dan bobot rambut F2 sebesar 23,0010,74 mg lebih berat dari pada F1 yaitu 15,836,11 mg. Kedua formula memiliki aktivitas penumbuh rambut yang lebih panjang dibandingkan dengan kontrol normal (10,740,86 mm). Kesimpulan dari penelitian ini adalah sediaan losio ekstrak etanol P.niruri memiliki aktivitas sebagai penumbuh rambut dan adanya penambahan mentol 1% sebagai enhancer memberikan pertumbuhan rambut yang lebih baik pada kelompok F2
Formulasi Sediaan Losio Ekstrak Etanol Meniran (Phyllanthus niruri L.) Sebagai Penumbuh Rambut Terhadap Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan Galur Wistar
ABSTRACTMeniran (Phyllanthus niruri L.) is a plant used to promote hair growth. In this research, ethanolic extract of P.niruri was formulated into lotion because it was more evenly distributed and non sticky in use compared to cream and gel. The aims of this research is to determine the hair growth activity of the ethanolic extract of P.niruri and the effect of using menthol 1% as an enhancer in lotion formulation. In this research two formula were being tested where Formula I (F1) without menthol 1% and Formula II (F2) with menthol 1%. The 5% of extract was being used in the formulation. The lotion was applied to the rat�s skin and the hair length was measured on day 7, 14 and 21, while the hair weight was measured on day 21. The results showed that the average hair length on F2 (12.68 � 3.13 mm) was longer than the F1 (11.21 � 2.58 mm) although there was no significant difference between both formulas. The average hair weight on F2 (23.00 � 10.74 mg) was greater that the F1 which was only 15.83 � 6.11 mg. Both formulas have a longer hair growth activity compared to normal controls (10.74 � 0.86 mm). It can be concluded that the lotion of ethanolic extract of P. niruri could promote hair growth in white wistar rats and the addition of 1% menthol as an enhancer gave better hair growth activity in F2 group.�ABSTRAKMeniran (Phyllanthus niruri L.) adalah tanaman yang digunakan sebagai penumbuh rambut. Pada penelitian ini, ekstrak etanol meniran diformulasikan dalam sediaan losio karena penyebarannya lebih merata dan tidak lengket dalam penggunaanya dibandingkan sediaan krim dan gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sediaan losio ekstrak etanol meniran dan pengaruh penambahan mentol 1% dalam sediaan losio sebagai penumbuh rambut terhadap tikus putih jantan galur wistar. Pada penelitian ini digunakan 2 formula yaitu Formula I (F1) tanpa mentol 1% dan Formula II (F2) dengan penambahan mentol 1%. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 5%. Sediaan losio kemudian diaplikasikan pada kulit tikus secara topikal dan selanjutnya panjang rambut diukur pada hari ke-7, 14 dan 21 sedangkan bobot rambut diukur pada hari ke-21. Hasil pengujian aktivitas pertumbuhan rambut pada hari ke-21 menunjukkan rata-rata panjang rambut, pada F2 memiliki aktivitas pertumbuhan rambut yang lebih panjang yaitu 12,68 � 3,13 mm dari pada F1 yaitu 11,21 � 2,58 mm meskipun perbedaannya tidak signifikan dan bobot rambut F2 sebesar 23,00�10,74 mg lebih berat dari pada F1 yaitu 15,83�6,11 mg. Kedua formula memiliki aktivitas penumbuh rambut yang lebih panjang dibandingkan dengan kontrol normal (10,74�0,86 mm). Kesimpulan dari penelitian ini adalah sediaan losio ekstrak etanol P.niruri memiliki aktivitas sebagai penumbuh rambut dan adanya penambahan mentol 1% sebagai enhancer memberikan pertumbuhan rambut yang lebih baik pada kelompok F2
Toward Block Copolymers from Nonliving Isospecific Single-Site Catalytic Systems
Ethene/1-olefin blocky copolymers were obtained through nonliving insertion copolymerizations promoted by an isospecific single site catalyst. Propene or 4-methyl-1-pentene were copolymerized with ethene with metallocenes endowed with different stereospecificity in propene polymerization: (i) aspecific "constrained geometry" half-sandwich complex, {eta(1):eta(5)-([tert-butylamido)dimethylsilyl](2,3,4,5-tetramethyl-1-cyclopentadienyl)}titanium dichloride [Me(2)Si(Me(4)Cp)(N-(t)Bu)TiCl(2)] (CG), (ii) moderately isospecific rac-ethylenebis(indenyl)zirconium dichloride [rac-(EBI)ZrCl(2)] (EBI), (iii) slightly more isospecific hydrogenated homologue, rac-ethylenebis(tetrahydroindenyl) zirconium dichloride [rac-(EBTHI)ZrCl(2)] (EBTHI), (iv) highly iso-specific rac-[methylenebis(3-tert-butyl-1-indeny)]zirconium dichloride [rac-H(2)C-(3-(t)Bulnd)(2)ZrCl(2)] (TBI), (v) most isospecific rac-lisopropylidene-bis(3-tert-butyl-cyclopentadienAzirconium dichloride [rac-Me(2)C-(3-(t)BuCp)(2)ZrCl(2)] (TBC). Copolymerizations were described by a 2(nd) order Markovian copolymerization model and data are proposed to correlate the formation of 1-olefin sequences with catalytic site isospecificity, made by the cooperation of organometallic complex and growing chain. Blocky copolymers were prepared over wide ranges of compositions: with any of the isospecific metallocenes when 4-methyl-1-pentene was the 1-olefin and only with the highly isospecific ones (TBI, TBC) when propene was the comonomer. A penultimate unit effect was observed with TBI as the metallocene, whereas a 1 order Markov model described the ethene/propene copolymerization from TBC. A moderately isospecific metallocene, such as EBI, is shown to be able to prepare blocky ethene copolymers with 4-methyl-1-pentene. These results pave the way for the synthesis of new ethene based materials
- …
