Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia (JMPI)
Not a member yet
    334 research outputs found

    Formulasi dan Evaluasi Produk Gigi Mouthwash Ekstrak Rimpang Walay (Zingiberaceae) untuk Pengobatan Plak dan Karies Gigi

    No full text
    Zingiberaceae merupakan salah satu family tumbuhan terbesar yang diyakini memiliki potensi aktivitas biologis yang tinggi untuk mengatasi berbagai penyakit. Beberapa generasi Zingiberaceae, seperti Cinnamomum, Meistera, dan Wurfbainia, telah diidentifikasi. Tumbuhan walay (Zingiberaceae) merupakan salah satu tanaman endemik Sulawesi Tenggara yang memiliki khasiat sebagai pengobatan. Skrining fitokimia rimpang walay menunjukkan kandungan senyawa fenolik, flavonoid, alkaloid dan terpenoid dan memiliki aktivitas sebagai antibakteri pada Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans dan Bacillus subtilis. Formulasi produk gigi menggunakan bahan dasar herbal sedang menjadi sorotan utama dalam upaya mengurangi peradangan gusi. Oleh karena itu, penting untuk menyesuaikan perawatan gigi dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan gigi, termasuk dalam pemilihan bentuk produk gigi yang sesuai. Salah satu produk yang digunakan ialah mouthwash. Penelitian ini bertujuan untuk formulasi mouthwash berbasis herbal rimpang walay dan efektivitasnya sebagai antibakteri penyebab plak dan karies gigi. Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Ekstrak rimpang walay dibuat dalam bentuk Mouthwash dengan tiga formula konsentrasi A(10%), B(20%) dan C(30%). Pengujian evaluasi sediaan dilakukan dengan parameter pengujian yaitu uji organoleptik, homogenitas, pH, dan kejernihan. Selanjutnya sediaan dilakukan pengujian antibakteri pada Streptococcus mutans ATCC 25175. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak rimpang walay pada formula A, B, C dapat dibuat sediaan mouthwash dan memenuhi persyaratan evaluasi sediaan, yaitu sediaan memiliki aroma mentol, berwarna bening kecoklatan, tekstur cair, homogen, pH berkisar 6-7. Aktivitas antibakteri pada bakteri Streptococcus mutans ATCC 25175 memiliki daya hambat dengan diameter zona bening secara berturut-turut pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30% sebesar 6,47 mm, 9,3 mm dan 12,57 mm serta kontrol positif (moutwash herbal x) sebesar 1,49 mm. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan sediaan mouthwash dapat digunakan sebagai produk gigi untuk pengobatan plak dan karies gigi

    Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Murbei (Morus alba) Menggunakan Metode BCB, CUPRAC, dan FRAP

    No full text
    Morus alba dikenal sebagai sumber senyawa antioksidan alami yang dapat menangkal radikal bebas yang berkontribusi terhadap penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol dan fraksi daun M.alba menggunakan metode BCB, CUPRAC, dan FRAP. Ekstraksi dilakukan menggunakan pelarut metanol, kemudian difraksinasi dengan n-heksana, etil asetat, n-butanol, dan air. Metode BCB digunakan untuk menentukan IC50, metode CUPRAC untuk mengukur kapasitas antioksidan dalam GAEAC (Gallic Acid Equivalent Antioxidant Capacity), dan metode FRAP untuk menilai kemampuan reduksi ion besi dalam FeEAC (Ferri Sulfate Equivalent Antioxidant Capacity). Pengujian aktivitas antioksidan pada metode FRAP dilakukan dengan reagen dapar asetat, TPTZ, dan FeCl? yang diukur menggunakan microplate reader pada panjang gelombang 595 nm berdasarkan kemampuan sampel dalam mereduksi ion besi. Metode CUPRAC menggunakan reagen CuCl? 10 mM, neocuproine 7,5 mM, dan ammonium sulfat 1 M. Hasil uji BCB menunjukkan bahwa fraksi n-heksana memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dengan IC50 sebesar 64,85 ppm dibandingkan dengan etil asetat (437,23 ppm). Pada CUPRAC, ekstrak metanol menunjukkan kapasitas tertinggi (342,74 µM/g), diikuti oleh etil asetat (342,43 µM/g). Uji FRAP menunjukkan fraksi etil asetat memiliki aktivitas tertinggi (809,28 mmol/g), diikuti oleh metanol (761,03 mmol/g), dan n-butanol (613,03 mmol/g). Ekstrak metanol, fraksi etil asetat, dan n-butanol menunjukkan kemampuan signifikan dalam mereduksi ion Cu²? dan Fe³? dibandingkan dengan n-heksana dan air. Hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak M. alba bervariasi tergantung pada fraksi dan metode yang digunakan. Oleh karena itu, pemilihan metode yang tepat sangat penting dalam mengevaluasi potensi antioksidan dari suatu sampel

    Aktivitas Analgesik Ekstrak Etanol 70% Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) pada Mencit Secara In Vivo

    No full text
    Nyeri ditandai rasa tidak nyaman akibat adanya kerusakan jaringan tubuh sehingga memerlukan pengunaan obat golongan non steroid antiinflamatory disease (NSAID) untuk mengatasi nyeri. Penggunaan obat NSAID jangka panjang memiliki resiko efek samping pada saluran pencernaan. Ekstrak Etanol 70% kayu secang mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, dan terpenoid yang dapat menghasilkan efek analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas analgesik menggunakan beberapa varian dosis ekstrak etanol 70% kayu secang pada mencit secara in vivo yang diinduksi asam asetat. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan proses ekstraksi menggunakan maserasi ultrasonik dengan pelarut etanol 70%. Uji analgesik dilakukan menggunakan metode writhing test. Hewan uji yang digunakan adalah mencit yang dikelompokkan menjadi kontrol negatif, kontrol positif, dan kelompok varian dosis 50mg/kgBB (S1), 100mg/kgBB (S2), dan 200mg/kgBB (S3). Aktivitas analgesik dilihat berdasarkan %Proteksi geliat dan %Daya analgesik serta dianalisis secara statistik menggunakan kruskal-wallis dan Post-Hoc Pairwise Comparisons. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol 70% kayu secang mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Hasil uji analgesik didapatkan %Proteksi geliat S1, S2, dan S3 masing-masing sebesar 54,62%, 80,81%, dan 87,62%, serta %Daya analgesik masing-masing sebesar 115,20%, 170,45%, dan 184,81%. Hasil analisis statistik menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan (<0,05) antara varian dosis S2 dan S3 dengan  kontrol negatif. Hasil penelitian ini menunjukan ekstrak etanol 70% kayu secang memiliki aktivitas sebagai analgesik dengan semakin tinggi jumlah ekstrak yang digunakan aktivitas analgesik yang dihasilkan semakin tinggi sehingga ekstrak etanol 70% kayu secang dapat dikembangkan menjadi sediaan obat berbasis herbal sebagai analgesik

    Wound Healing Activity of Ethyl Acetate Extract of Piper crocatum Leaves Combined with Geniotrigona thoracica Propolis

    No full text
    Wounds are a common health issue caused by various types of injuries, burns, or infections. Although several wound healing methods are available, many rely on synthetic chemicals that may have side effects. Therefore, there is a need for safer and more effective alternatives. Piper crocatum leaves and Geniotrigona thoracica propolis are known to contain flavonoid compounds that have the potential to accelerate wound healing naturally. However, limited research has explored the combination of these two substances to enhance wound healing effectiveness. This study aims to provide scientific evidence regarding the potential of the combination of ethyl acetate extract of P. crocatum leaves and G. thoracica propolis as a more effective, safe, and natural alternative for wound healing treatment. The research involved creating wounds on the backs of male rabbits, which were divided into seven groups. Each group received different treatments, including ethyl acetate extract of P. crocatum leaves and G. thoracica propolis, combinations of both (P1-P5), and a positive control (bioplacenton), while the negative control received no treatment. The preparations were applied topically, and wound healing was monitored daily. The results indicate that the combination of ethyl acetate extract of P. crocatum leaves and G. thoracica propolis (1:3) promoted faster wound healing compared to other combination

    Ambroxol Therapy as an Antibiofilm Candidate in Diabetic Ulcer Patients

    No full text
    Patients with diabetic ulcers are susceptible to infection because the tissue in their extremities is constantly exposed to various pathogenic bacteria, so biofilm formation plays an important role in developing the disease. Based on previous studies, ambroxol can inhibit the formation of biofilm bacteria. The purpose of this study was to identify biofilm-forming bacteria, prove that ambroxol has the potential to inhibit and eradicate biofilms formed by bacteria in diabetic ulcers and analyse the potential of ambroxol in eradicating biofilms formed by bacteria in diabetic ulcer patients based on PEDIS and SEM scores. The method used was a 96-well microtiter plate assay (MtPA) with crystal violet and MTT staining techniques, a test using human samples with a quasi-experimental method with sampling carried out by nonprobability sampling. The samples used were diabetic ulcer patients with culture results forming biofilms. The results obtained identified 3 clinical isolates that formed biofilms with 100% Gram-negative bacteria, including two isolates of Pseudomonas aeruginosa and one isolate of Escherichia coli with the ability to form biofilms are moderate. Ambroxol effectively inhibits and eradicates 50% of biofilms formed by diabetic ulcer bacteria at a minimum concentration of 1 mg/ml. Based on the PEDIS score and SEM images of diabetic ulcer patients, there was a decrease in the PEDIS score in each patient, with an average score of 2. Several studies have demonstrated that combining Ambroxol with antimicrobials can synergistically enhance the antibiotic's efficacy against biofilms. The co-administration of Ambroxol with other antimicrobial agents represents a promising approach to improving antibiotic effectiveness. Nevertheless, careful consideration must be given to the concentration of Ambroxol used

    Efek Neuroprotektif Kombinasi Jus Buah Tomat dan Lamotrigin pada Mencit yang Diinduksi Lipopolisakarida

    No full text
    Neuroinflamasi merupakan respon peradangan pada sistem saraf pusat yang dapat berkontribusi terhadap berbagai gangguan neurologis. Pada epilepsi, neuroinflamasi dapat terjadi sebagai akibat dari aktivitas kejang berlebihan yang kemudian akan berkontribusi terhadap perkembangan epiloptogenesis. Lamotrigin (LTG) merupakan salah satu obat antiepilepsi namun diketahui memiliki keterbatasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi jus buah tomat (JBT) bersama (LTG) pada mencit yang diinduksi dengan lipopolisakarida (LPS). Mencit dibagi menjadi 6 kelompok; kelompok sehat ( KI), kelompok LPS ( K2), kelompok LTG + LPS (K3), kelompok JBT 50 mg/kg +LTG +LPS (K4), kelompok BT 150 mg/kg +LTG +LPS (K5), dan kelompok JBT 600 mg/kg +LTG +LPS ( K6). LTG diberikan secara oral (p.o) setelah satu jam pemberian JBT (p.o), selama tujuh (7) hari berturut-turut. LPS diberikan melalui rute intraperitonial pada hari ke empat (4) perlakuan. Kadar MDA diukur sebagai penanda stres oksidatif, dan pemeriksaan histopatologi dilakukan untuk melihat adanya kerusakan pada jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian LPS dapat menginduksi neuroinflamasi pada mencit yang ditandai dengan terjadinya penurunan berat badan, gangguan penglihatan, peningkatan kadar MDA dan perubahan histopatologi pada organ otak. K4 dan K5 secara signifikan lebih efektif dalam menurunkan kadar MDA dengan gambaran histopatologi yang lebih baik dibandingkan K2. Perbaikan terbaik ditunjukkan pada K5 dengan kerusakan paling ringan, sementara K6 tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap parameter yang dianalisis. Dapat disimpulkan pemberian kombinasi LTG dan JBT dosis 50 mg/kg dan 150 mg/kg dapat menunjukkan efek neuroprotektif pada mencit yang diberi LPS

    Antibacterial Activity of Bajakah Tampala (Spatholobus littoralis Hassk.) Methanol Extract in Roll-On Deodorant against Staphylococcus epidermidis

    No full text
    Body malodor results from the bacterial breakdown of apocrine gland secretions, with Staphylococcus epidermidis identified as a key contributor. Conventional deodorants often rely on synthetic compounds that may cause skin irritation or pose long-term health risks. This study aimed to formulate and assess an antibacterial roll-on deodorant containing methanolic extract of Spatholobus littoralis Hassk., a Kalimantan-native medicinal plant known for its antibacterial properties. The extract, prepared via maceration, was incorporated into a multiphase emulsion base comprising zinc ricinoleate, aluminum potassium sulfate, Carbopol 940, triethanolamine, Lexemul CS20, BHT, and phenoxyethanol. The formulations were evaluated for their physicochemical characteristics—pH, spreadability, adhesiveness, and homogeneity—as well as antibacterial activity against S. epidermidis using the disc diffusion assay. The extract-containing formulations (F1–F3) exhibited a beige color, herbal aroma, and uniform texture. The pH values (4.12–4.35) were within the dermally acceptable range. The spreadability varied from 4.59 to 4.81?cm, while the adhesiveness ranged from 0.34?s to 5.25?min, indicating favorable application and retention properties. Antibacterial testing showed inhibition zones of 10.40–12.37?mm, comparable to a commercial control (p?>?0.05). These findings suggest that S. littoralis extract is a potential natural, skin-compatible antibacterial agent for topical deodorant application

    Penetapan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanol 96% Daun Sembung (Blumea balsamifera L.) Berdasarkan Variasi Ukuran Partikel Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv-Vis

    No full text
    Salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional adalah daun sembung (Blumea balsamifera L.). Secara empiris, daun sembung dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat penurun demam. Metabolit sekunder yang terdapat pada daun sembung salah satunya adalah flavonoid. Flavonoid berfungsi sebagai penurun demam (antipiretik), antioksidan, dan antiinflamasi. Dalam proses ekstraksi, ukuran partikel menjadi salah satu faktor yang berpengaruh, diketahui ukuran partikel yang lebih kecil menghasilkan kadar flavonoid yang lebih tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar flavonoid total ekstrak etanol 96% daun sembung berdasarkan variasi ukuran partikel menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Metode penelitian ini yaitu deskriptif observasional hanya mendeskripsi penetapan kadar flavonoid ekstrak etanol 96% daun sembung berdasarkan variasi ukuran partikel mesh 40/60 dan mesh 60/80. Hasil penelitian pada analisis kualitatif senyawa flavonoid menunjukkan hasil positif, ditandai dengan perubahan warna menjadi hijau kehitaman. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun sembung dengan ukuran partikel mesh 40/60 mengandung flavonoid sebesar 108,3 ± 0,10 mg QE/g (10,83%) sedangkan ukuran partikel mesh 60/80 sebesar 121 ± 0,14 mg QE/g (12,1%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Kadar flavonoid total dalam ekstrak etanol 96% daun sembung dengan ukuran partikel mesh 60/80 menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran mesh 40/60

    Quercetin-Lesitin Kompleks dalam In Situ Vaginal Gel Sebagai Peningkat Terapi Kanker Serviks

    No full text
    Secara global kanker serviks menduduki posisi kedua tertinggi di dunia dari seluruh kanker yang menyerang perempuan. Quercetin (QC) merupakan flavonoid yang telah terbukti memiliki efek antipoliperatif dan sitotoksik. QC tergolong BCS kelas II dengan permeabilitas tinggi namun kelarutan rendah sehingga sulit mencapai bioavabilitas yang tinggi. Kompleksasi antara lipid dan zat aktif diketahui dapat meningkatkan kelarutan zat aktif. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kelarutan QC yang selanjutnya dimasukkan dalam formula in situ gel vagina untuk meningkatkan efektifitas terapi kanker serviks. Quercetin-Lecitin Kompleks (QC-LK) dibuat dalam 13 formula menggunakan Central Composite Design (CCD) aplikasi Design-Expert®. Formula optimum selanjutnya dibuat in situ gel vagina menggunakan Poloxamer (PX) dan HPMC. Karateristik gel ditentukan dengan penentuan suhu gelasi, daya lekat, uji permeasi retensi secara ex vivo dan uji MTT secara in vitro pada sel HeLa. Formula 4 dengan perbandingan polimer 1:5 dipilih sebagai formula optimum yang mampu melarutkan QC sejumlah 0,44 ± 0,15 mg/mL dengan efisiensi penjerapan sebesar 95,8% yang berbeda signifikan dengan QC murni (p<0.05). Formula in situ gel berhasil menahan QC sebanyak 3,3 ± 0,22 mg/mL pada membran mukosa. Hasil uji MTT menunjukkan IC50 sediaan QC-LK sebesar 18,42 ± 2,13 dengan persentasi viabilitas sebesar 3,48 ± 0,42%

    Potential Bioactive Compounds of Mahogany Seeds (Swietenia mahagoni Jacq.) as Antidiabetics through Computational Studies in Silico Molecular Docking

    No full text
    Diabetes is a chronic endocrine metabolic disorder in insulin production or insulin resistance. Mahogany seeds are plants that have bioactive compounds that can treat diabetes mellitus. This study was conducted to determine the interaction between bioactive compounds of mahogany seeds and the Protein Tyrosine Phosphatase-1B (PTP1B) receptor with PDB ID code: 1T49. Bioactive compounds from mahogany seeds were subjected to docking simulations of 15 compounds with the reference ligand glibenclamide. In silico studies showed an interaction between bioactive compounds of mahogany seeds and PTP1B, the results obtained were in the form of binding energy between the ligand and the target protein. The compound with the best binding energy value was MSC15 (Chisocheton) with a binding energy value of -8.86 kcal/mol. The PyMOL program was used to visualize the 3D conformation of the molecule and ligand-protein interactions, the output was in the form of a Root Mean Square Deviation (RMSD) value of 1,363 Å show good value. The mahogany seed test ligand was also tested pharmacokinetically using the website https://preadmet.bmdrc.kr/  ,Pharmacokinetic parameter tests showed that mahogany seed compounds have excellent intestinal absorption (HIA >90%), strong plasma protein binding (>80%), and variable clearance rates, indicating high potential as an antidiabetic candidate

    46

    full texts

    334

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia (JMPI)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇