1,720,982 research outputs found
Aruna
Buku ini merupakan buku yang di terbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta. Buku ini ditulis oleh Else Liliani. Else Liliani lahir di Yogyakrta pada 21 Agustus 1979. Beliau merupakan penulis asal Yogyakarta lulusan S3 Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada. Sejak tahun 2002 sampai sekarang, beliau menjadi dosen di Dosen sastra Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Else Liliani telah menulis buku sejak tahun 2011. Beberapa buku yang telah beliau tulis, diantaranya adalah Mimpi-Mimpi dari Girisubo yang ditulis pada tahun 2011. Kemudian Suluh Kartini, Lembayung di Lereng Sumbing, dan Sang Koki, Pelukis, dan Tukang Pidato yang ditulis pada tahun 2014. Saat ini beliau tinggal di Krapyak Bantul. Buku ini menceritakan tentang seorang anak berusia Seklah Dasar yang bernama Aruna. Aruna adalah seorang anak yang pandai menulis puisi dan selalu mendapat juara saat mengikuti lomba puisi. Namun ia mengalami cacat fisik, akibat peristiwa gempa bumi. Ceritanya sangat menginspirasi bukan? Buku ini dapat dijadikan literasi oleh anak-anak, bukan hanya ceritanya yang mudah dipahami tetapi juga karena kisah yang terkandung dalam buku ini sangat mengispirasi dan banyak nilai yang dapat diambil dari membaca buku ini. Pembaca yang dituju adalah anak-anak. Saat membaca buku ini mungkin anak-anak akan merasa bingung mengapa Aruna menjadi pincang, mudah marah dan kurang bersemangat untuk sekolah. Hal ini diceritakan di bab 2. Aruna mengalami kecacatan fisik saat terjadi gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006. Kakinya di amputasi karena mengalami infeksi akibat tertimpa tiang rumah. Kisah ini menjadi sangat mengharukan ketika dokter yang merawat Aruna menjelaskan bahwa mau tidak mau Aruna harus diamputasi. Siapa sih yang tidak merasa sedih mendengar berita ini? Seluruh orang terdekat kita pasti juga sedih mendengarnya. Kita pasti akan merasa tidak percaya diri, tidak bersemangat dalam menjalankan segala aktivitas, dan marah dengan keadaan yang di takdirkan Tuhan pada kita. Namun Aruna tidak seperti itu ia berusaha meyakinkan kedua orang tuanya. Bahwa ia mampu menjalankan kehidupan hanya dengan satu kaki saja. Ia juga berusaha untuk tetap tersenyum dan tidak membabani kedua orang tuanya. Tetapi tetap saja sulit bagi Aruna untuk menulis puisi lagi. Suatu hari, Pak Sis sedang membahas tentang gempa bumi di kelas Aruna. Pak Sis menjelaskan bahwa gempa bumi merupakan salah satu peristiwa alam yang tidak dapat diketahui kapan akan terjadi, yang dapat dilakukan ialah bagaimana menyelamatkan diri ketika gempa bumi terjadi. Pak Sis juga menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan saat terjadi gempa bumi yaitu bersembunyi di bawah meja, atau lari menuju lapangan luas. Kemudian Pak Sis meminta murid-muridnya untuk mempraktikkan cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa bumi. Teman-teman Aruna merasa senang setelah mendapat banyak pengetahuan tentang gempa bumi dari Pak Sis. Namun hal tersebut tidak dirasakan oleh Aruna. Gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta setengah tahun yang lalu itu masih meninggalkan luka mendalam baginya. Saat bel pulang berbunyi, Gesang salah satu teman sekelas Aruna, mengajak Aruna pulang bersama. Saat perjalanan pulang, Gesang bertanya apakah saat terjadi gempa bumi, ia bersembunyi di bawah meja atau tidak. Lalu Aruna menjawab, ia sudah bersembunyi di bawah meja. Kemudian Gesang bertanya lagi, mengapa kakinya sampai seperti itu. Aruna tidak menjawab. Gesang meminta Aruna untuk datang di pertandingan sepak bolanya besok. Tapi Aruna tidak berjanji akan datang saat pertandingan sepak bolanya besok. Ia merasa sakit hati dengan pertanyaan yang diberikan oleh Gesang, maka saat di perjalanan keduanya sama sekali tidak berbicara. Saat dipertigaan jalan, mereka berpisah karena rumah mereka berbeda arah. Namun Gesang berbalik menemui Aruna lagi. Ia menawarkan diri untuk menemani Aruna pulang, namun Aruna tidak mau. Tiba-tiba Aruna terjatuh, kruknya mengijak batu yang lumayan besar. Akhirnya tubuh Aruna terjatuh di tanah yang terdapat kubangan air disampingnya. Hal itu membuat bajunya kotor dan basah. Kemudian datanglah Gesang untuk membantu Aruna. Namun Gesang malah memegang kaki Aruna yang pincang. Gesang menawarkan diri untuk mengantar Aruna pulang lagi. Tetapi Aruna malah membentaknya. Gesang kaget mengapa Aruna menjadi seperti itu padanya, Aruna juga merasa menyesal setelah membentak Gesang. Kemudian Aruna meminta maaf pada Gesang dan mereka pulang menuju rumahnya masing-masing. Saat Aruna sampai rumah, ibunya bertanya apa yang telah terjadi padanya sampai bajunya menjadi kotor. Ibunya menyuruhnya untuk segera mandi dan berganti pakaian. Saat selesai mandi Aruna menceritakan apa yang terjadi saat perjalan pulang tadi pada ibunya. Tiba-tiba adiknya yang bernama Sigra pulang kemudian bertanya bagian tubuh mana yang terasa sakit sambil memegang kaki pincang Aruna. Aruna merasa kesal akhirnya ia masuk ke kamarnya dengan membawa satu kruknya saja. Sigra bingung mengapa kakaknya menjadi seperti itu. Saat dialam kamar, Aruna melihat fotonya bersama Sigra yang terletak di meja belajarnya. Ia teringat acara tujuh belasan di kampungnya. Saat itu mereka sangat senang karena telah berhasil memenangkan lomba tujuh belasan. Aruna menyadari apa yang telah ia lakukan pada adiknya itu adalah hal yang salah, maka ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan berjalan keluar rumah. Saat ia berada di lapangan, ia melihat teman-temannya sedang bermain bola. Tiba-tiba bola yang ditendang salah satu teman Aruna mengenai kakinya. Lalu salah satu teman Aruna yang lain berteriak meminta Aruna untuk menendang bola ke arahnya. Namun Aruna tidak mau, ia merasa kesal. Akhirnya ia pulang. Saat dirumah ibunya bertanya, mengapa ia terlihat kesal. Ia tidak menjawab pertanyaan ibunya itu. Setelah itu ibunya pergi. Aruna merasa bersalah. Lalu ia mencari ibunya untuk meminta maaf. Kemudian ia menceritakan apa yang dialaminya. Ibunya memberi nasihat padanya, bahwa ia harus menjadi Aruna yang dulu. Aruna yang selalu ceria, tidak mudah marah dan selalu bersemangat. Berkat dukungan dari ibunya, akhirnya Aruna memutuskan untuk kembali menulis puisi seperti dulu. Ceritanya sangat menginspirasi bukan? Melalui alur cerita ini, Else Liliana mampu menggambarkan sosok Aruna. Anak yang mudah merasa bersalah, baik hati dan mudah tersinggung. Berkat nasihat yang diberikan ibunya, Aruna menjadi bersemangat dan berusaha menjadi Aruna yang dulu. Walaupun keadaan telah berubah, namun semangat dan keceriaan harus tetap terpancar seperti dulu. Supaya kita dapat membuktikan bahwa orang yang mengalami cacat fisik dapat meraih prestasi. Setiap orang memiliki kekurangan, namun hal tersebut tidak boleh menghambat semangat dan cita-cita kita. Kekurangan tersebut dapat kita tutup dengan kelebihan yang kita miliki. Jadi buku ini sangat menarikkan untuk di baca? Keunggulan dari buku ini adalah bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami ditambah dengan adanya ilustrasi gambar, sehingga dapat menarik perhatian anak-anak. Buku ini memiliki halaman yang sedikit, jadi anak-anak akan merasa tidak cepat bosan saat membaca buku ini. Buku ini juga memiliki kekurangan yaitu buku ini hanya memiliki sedikit gambar. Dalam buku ini setiap bab hanya terdapat satu gambar saja. Gambar yang terdapat dalam buku ini bukanlah ilustrasi kartun, namun ilustrasi seperti gambaran tangan manusia. Cerita buku ini memiliki alur maju-mundur, jadi perlu pemahaman dalam membaca buku ini. Maka perlu adanya pengawasan dari orang tua saat anak merasa kebingungan dalam membaca buku ini. Buku ini memiliki kisah yang sekilas mirip dengan Hafalan Shalat Delisa. Keduanya sama-sama bercerita tentang seorang anak yang kehilangan salah satu kakinya karena musibah bencana alam yang menimpa mereka. Perbedaannya adalah buku Aruna ini khusus dibaca untuk anak-anak, serta buku ini memiliki halaman yang sedikit. Sedangkan buku Hafalan Sholat Delisa merupakan sebuah novel yang dapat dibaca oleh remaja sampai orang dewasa. Buku berjudul Aruna ini sangat cocok dibaca oleh anak-anak berusia Sekolah Dasar hingga remaja. Buku in dapat dijadikan sebagai literasi belajar bagi siswa. Cerita dalam buku ini mengandung berbagai nilai kehidupan dan sangat inspiratif. Jadi tidak ada alasan untuk tidak membaca buku inikan
PEMANFAATAN SASTRA ANAK SEBAGAI MEDIA MITIGASI BENCANA
This article is about a study explaining: (1) kinds of the children literature that could be use as the media for disaster's mitigation; (2) Compatibility and the accuracy of the child's literature for its prospective reader based on the cognitive development stage of the children; and (3) formulated utilization planning of the children literature to the disaster mitigation in Indonesian and literature learning. The children literature studied are twelve Indonesian children literatures, that consisted of the genre of fiction, poetry, the comic, and the non-fiction book (information). Respectively the genre was represented by three works. The children literature was taken through the purposive technique sampling. The data was analyzing by content analysis. The validity of the data was tested through the semantics validity and the reliability was tested by reading the text repeatedly. The results of the studied showed that: (1) The genre of the children literature that was found in this research was poetry, fiction, the comic and information (non-fiction). The elements that had the potential to use as the planting media for the mitigation of disaster were the theme and the message, the conflict, the characterization, the illustration, as well as the sound. ; (2) Based on the use of the point of view, the writing technique (the language) and the explanation of the problem, the poetry, fiction, and non-fiction (information) exact to be given to children age 7-11 years, whereas the comic was more exact given to the age 11 years – the adolescent; and (3) the disaster mitigation efforts could be carried out by understanding the contents of the text, gave the response to the problem of the disaster and the control as well as its prevention, or wrote the phenomenon of the natural or social disaster
CRAKEN SEBAGAI PENGOBATAN TRADISIONAL JAWA UNTUK PENYAKIT BATUK DALAM MANUSKRIPSERAT PRIMBON JAMPI JAWI JILID I KOLEKSI REKSA PUSTAKA SURAKARTA
Makalah ini ditulis dengan tujuan untuk mendeskripsikan craken (racikan dan ramuan/resep jamu) sebagai pengobatan tradisional Jawa untuk penyakit batuk dalam manuskrip Jawa. Deskripsi craken (racikan dan ramuan/resep jamu) meliputi tanaman herbal yang bermanfaat untuk pengobatan penyakit batuk dan deskripsi pengobatan tradisional Jawa, meliputi deskripsi penyakit dan pengobatannya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan filologi modern. Manuskrip Jawa yang digunakan sebagai sumber data penelitian adalah Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I koleksi Reksapustaka MangkunegaranSurakarta. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa craken (racikan/resep jamu) terdiri atas 7 macam craken (racikan dan ramuan/resep jamu) untuk penyakit batuk. Untuk pengobatan tradisional Jawacrakentersebut terdiri atas bahan-bahan jamu yang berupa kayu/kulit kayu, daun, biji, buah, bunga, umbi, dan rimpang serta bahan-bahan lain sebagai pelengkapnya (gula batu, garam, dan air tawar: dingin, panas).Cara pengolahkan jamu ditemukan ada tujuh macam, yaitu: (1) direbus, (2) dibakar,(3) dikerik/dikerok, (4) dituangi air panas, (5) direndam, (6) dijemur, dan (7) dihaluskan/di-pipis.Untuk metode pemberian jamuditemukan ada satu macam, yakni diminumkan
Aruna: cerita anak
buku ini adalah buku cerita anak. Buku ini ditulis oleh Else Liliani, salah seorang penulis cerita anak di Yogyakarta. Buku ini diterbitkan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2017. Buku ini disajikan dalam kerangka penyediaan bahan untuk Literasi Sekolah yang sedang digalakkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
GAYA PENGARANG DALAM MENYAMPAIKAN LOKALITAS JAWA: STILISTIKA CERPEN-CERPEN KARYA GUNAWAN TRI ATDMOJO
ABSTRAK: Gaya kata dan gaya kalimat merupakan unsur penting dalam sebuah karya sastra khususnya cerpen. Penggunaan gaya kata dan gaya kalimat dalam karya sastra membuat pembaca memahami maksud dan tujuan penggarang dalam menulis karya sastra. Selain itu penggunaan diksi dan gaya kalimat digunakan agar pembaca mampu memahami unsur-unsur berkaitan dengan ciri khas penggarang. Terlebih dalam menggunakan aspek lokalitas dalam menulis cerita pendek. Selaras dengan pernyataan tersebut penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk gaya kata dan gaya kalimat yang digunakan penggarang dalam menyampaikan lokalitas Jawa pada cerpen-cerpen karya Gunawan Tri Atdmojo. Serta mendeskripsikan gaya kata dan gaya kalimat dalam menyampaikan aspek lokalitas Jawa yang dominan digunakan dalam cerpen cerpen karya Gunawan Triadtmojo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik analisis data yang digunakan berupa teknik refrensial. Refrensi yang digunakan yaitu pendapat para ahli, serta penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat. Penelitian ini menghasilkan data tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kata yang dominan digunakan oleh penggarang dalam menyampaikan lokalitas Jawa adalah gaya kata kolokial. Gaya kalimat yang dominan digunakan dalam menyampaikan lokalitas Jawa adalah kalimat deklaratif.KATA KUNCI: Leksikal; Gramatikal; Lokalitas Jawa; Cerpen; Gunawan Tri Atdmojo The Author's Style In Delivering Java Locality: Stilistics Of Short Stories By Gunawan Tri Atdmojo. ABSTRACT: Word style and sentence style are important elements in a literary work, especially short stories. The use of word style and sentence style in literary works makes the reader understand the intent and purpose of the author in writing literary works. In addition, the use of diction and sentence style is used so that the reader is able to understand the elements related to the characteristics of the author. Especially in using the locality aspect in writing short stories. In line with this statement, this study aims to describe the form of word style and sentence style used by the author in conveying Javanese locality in the short stories by Gunawan Tri Atdmojo. As well as describing the style of words and sentence styles in conveying aspects of Javanese locality which are dominantly used in short stories by Gunawan Triadtmojo. The method used in this research is a descriptive qualitative method. The data analysis technique used is a referential technique. The references used are the opinions of experts, as well as research relevant to this research. Data collection techniques used reading and note-taking techniques. This research produces written data. The results showed that the dominant style of words used by the author in writing short stories was colloquial. While the dominant sentence style used is declarative sentence.KEYWORDS: Lexical; Grammatical; Java Locality; Short story; Gunawan Tri Atdmoj
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
MARGINALISASI PEREMPUAN DALAM NOVEL ORANG-ORANG OETIMU KARYA FELIX K. NESI (KAJIAN KRITIK SASTRA FEMINIS)
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan (1) bentuk marginalisasi terhadap perempuan dalam novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi; (2) faktor-faktor penyebab marginalisasi terhadap perempuan dalam novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi; (3) dampak marginalisasi terhadap perempuan dalam novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca catat. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada tujuh bentuk marginalisasi terhadap perempuan yang terdapat dalam novel Orang-Orang Oetimu, yakni perempuan dibatasi geraknya, perempuan mengalami kekerasan, perempuan menjadi objek, perempuan mengalami kontrol atas reproduksi, perempuan mengalami kontrol atas seksualitas, perempuan mengalami diskriminasi, dan perempuan menghadapi pengasingan yang berdampak pada tubuh perempuan, baik secara biologis maupun secara sosial; (2) marginalisasi perempuan dalam novel Orang-Orang Oetimu disebabkan oleh budaya patriarki, perang, perbedaan tingkat kecerdasan, dan kehilangan anggota keluarga; (3) dampak marginalisasi perempuan yang ditemukan dalam novel Orang-Orang Oetimu ada empat, yakni luka fisik, trauma psikologis, perempuan tidak punya daya untuk melawan yakni mendapat pembelaan dari laki-laki, pengasingan diri, dan upaya melawan yang berdampak perempuan tidak punya kesempatan untuk mengembangkan diri. Kata kunci: Marginalisasi, Perempuan, Kritik Sastra Feminis, Patriark
- …
