12 research outputs found
THE EXISTENCE OF TRADITIONAL BIRTH ATTENDANTS (DUKUN PARAJI) IN THE PRACTICE OF BIRTH ASSISTANCE SERVICES IN BOGOR REGENCY: EKSISTENSI DUKUN PARAJI DALAM PRAKTIK PERTOLONGAN LAYANAN PERSALINAN DI KABUPATEN BOGOR
Introduction: The role of traditional birth attendants, known as "dukun paraji," remains significant in childbirth assistance, particularly in Bogor Regency, West Java. Objective: This study aims to explore the existence and practices of dukun paraji in childbirth assistance and their impact on maternal and infant health in the region, with the hope of providing a deeper understanding of traditional healthcare dynamics within the context of the modern healthcare system. Method: A quantitative survey was conducted with 235 mothers retrospectively to determine the involvement of dukun paraji in the childbirth process. Results: Findings reveal that 31.4% of mothers in Bogor Regency utilized the services of dukun paraji during childbirth, while the remainder received assistance from healthcare professionals. This suggests that while traditional birth attendants still play a significant role in childbirth assistance, the majority of the population prefers assistance from healthcare professionals. Conclusion: Despite the prevalence of healthcare professionals, the existence of dukun paraji in childbirth assistance remains significant in Bogor Regency. This underscores the importance of preserving cultural heritage while ensuring universal access to safe healthcare. Increasing awareness of the importance of safe and accessible maternal healthcare in communities needs to be continually promoted. Efforts to strengthen collaboration between dukun paraji and healthcare professionals in providing safe childbirth services are essential. Additionally, inclusive and comprehensive maternal health education should be enhanced to ensure communities have sufficient knowledge to make informed choices regarding maternal care
Edukasi dan Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pasca Banjir di Panti Asuhan Furqan Sumang Kota Makassar
Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pasca banjir dapat meminimalisir dampak buruk terhadap kesehatan di panti asuhan sebagai lokasi terdampak. Kondisi lingkungan pasca banjir di panti asuhan seringkali diabaikan sehingga menyebabkan penghuni panti asuhan menderita berbagai penyakit. Pengetahuan tentang perilaku sanitasi juga belum pernah didapatkan oleh anak asuh karena tidak banyak masyarakat yang peduli dengan kondisi ini. Salah satu cara yang dilakukan pengabdi adalah dengan mengedukasi dan mensosialisasikan terkait dengan PHBS. Sasaran kegiatan ini adalah para penghuni panti asuhan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang PHBS sehingga nantinya anak panti dapat menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini terdiri dari tiga tahap, yaitu pemaparan materi, tanya jawab, dan praktek cuci tangan. Hasil pengabdian ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman anak panti mengenai pengertian PHBS sebesar 31,5%; jenis kegiatan yang tergolong PHBS sebesar 37,9%; waktu yang tepat mencuci tangan sebesar 51,4%; dan dampak penyakit yang timbul jika tidak menjaga kebersihan sebesar 43,3%. Secara umum dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman anak panti tentang PHBS
Keterkaitan Pengetahuan Ibu, Praktik Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan Kejadian Stunting: A Crossectional Study
Stunting adalah kondisi di mana anak gagal tumbuh atau mengalami keterlambatan pertumbuhan akibat kekurangan gizi jangka panjang. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bertujuan untuk memperbaiki status gizi dan memenuhi kebutuhan gizi sesuai dengan usia mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan praktik pemberian PMT dan hubungannya dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Maros Baru, Kabupaten Maros. Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode multiple random sampling terhadap 171 balita. Pengukuran tinggi badan anak dilakukan menggunakan Length Board. Kuesioner digunakan untuk mengukur pengetahuan ibu, ketepatan pemberian PMT, dan kecukupan komponen PMT siap saji. Uji validitas kuesioner dilakukan pada 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu (91%) memiliki pengetahuan yang cukup tentang PMT, namun 95% ibu memberikan PMT dengan tidak tepat. Selain itu, 77% ibu memberikan komponen PMT siap saji dengan benar. Kesimpulannya, meskipun sebagian besar ibu memiliki pengetahuan yang cukup tentang PMT, ketepatan pemberian PMT masih tergolong tidak akurat, meskipun mayoritas ibu memberikan komponen PMT siap saji dengan benar
BREAKFAST QUALITY AS A POLICY ENTRY POINT TO PREVENT MALNUTRITION IN EARLY CHILDHOOD: KUALITAS SARAPAN SEBAGAI STRATEGI KEBIJAKAN UNTUK MENCEGAH MALNUTRISI PADA ANAK USIA DINI
Malnutrition in early childhood remains a persistent challenge in Indonesia, particularly in rural communities. While existing interventions emphasize breastfeeding, complementary feeding, and main meals, the role of breakfast has been largely overlooked despite its potential contribution to preventing malnutrition. This study aimed to assess the relationship between breakfast quality and malnutrition among preschool children, as well as to identify policy gaps between actual practices and national nutrition standards. A cross-sectional study was conducted among 98 preschoolers aged 4–6 years in two rural kindergartens in Enrekang District, South Sulawesi. Nutritional status was determined using WHO BAZ, while breakfast quality was assessed using a locally adapted Breakfast Quality Index (BQI). Chi-square tests were applied for bivariate analysis, and logistic regression was used to determine protective factors. Policy gap analysis compared field data with national nutrition policies and the Free Nutritious Meal (MBG) program. The results showed that 69.4% of children had normal nutritional status, while 22.5% were undernourished and 8.1% overnourished, reflecting a double burden of malnutrition. Low-quality breakfast was significantly associated with malnutrition (p=0.018), and children with low-quality breakfasts were 4.2 times more likely to be malnourished than those with high-quality breakfasts (OR=4.20; 95% CI: 1.12–15.70). Policy gap analysis indicated that breakfast practices did not meet national standards, especially regarding dietary diversity, energy, protein, and micronutrient intake. These findings highlight breakfast quality as a potential policy entry point to address early childhood malnutrition through improved dietary diversity, parental awareness, school-based interventions, and local food utilization
Empowering Diabetes Management through Nutritional Innovations: The Role of Golden Rice Cookies Enriched with Piper crocatum Extract
Diabetes mellitus (DM) is a growing global health issue, with dietary management posing significant challenges for patients. The habit of consuming high-sugar and high-fat snacks, as observed at Bajeng Community Health Center, Gowa Regency, increases the risk of serious complications, including diabetic ulcers and cardiovascular diseases. This program aimed to develop and optimize Golden Rice Cookies, a healthy snack enriched with locally sourced Piper crocatum extract, as a nutritional alternative for DM patients. A participatory approach was employed, involving an initial analysis of partner conditions, product development through organoleptic and hedonic testing, and education on diabetes dietary management. Over three months, patients consumed Golden Rice Cookies, and outcomes were evaluated based on fasting blood glucose (FBG), body mass index (BMI), and dietary compliance levels. The results demonstrated that Golden Rice Cookies were well-received, with high satisfaction scores for taste, aroma, and texture (≥4 on a 5-point scale). Regular consumption significantly reduced FBG by an average of 29.9 mg/dL, BMI by 1.3 kg/m², and increased dietary compliance by 20.5%. The flavonoids and polyphenols in P. crocatum contributed to oxidative stress suppression, inflammation reduction, and modulation of key biomarkers such as MMP-9 and NGAL. This program successfully empowered DM patients to manage their condition through a sustainable and locally based nutritional innovation. This approach holds promise for replication in other regions with high diabetes prevalence to support more effective and sustainable diabetes management
FAKTOR RISIKO SELF AWARENESS DAN PERILAKU KONSUMSI MAKANAN PENDERITA DM TIPE 2 DENGAN KEJADIAN KOMPLIKASI DM DI KOTA MAKASSAR
Komplikasi DM adalah penyakit yang baru timbul kemudian sebagai tambahan dari penyakit DM yang sudah ada. Penyakit diabetes melitus yang dibiarkan tidak terkendali atau penderita tidak menyadari penyakitnya maka akan timbul berbagai macam komplikasi kronis yang dapat berakibat fatal serta menyebabkan meningkatnya mortalitas akibat penyakit degeneratif.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan komplikasi DM pada penderita DM tipe 2 di Kota Makassar. Desain penelitian yang digunakan adalah observational studi case control dengan pendekatan retrospektif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode non probability sampling melalui consecutive sampling disertai matching karakteristik dengan jumlah sampel 40 orang.Hasil penelitian yang diperoleh variabel yang berhubungan dengan komplikasi DM adalah self awareness kurang pada penderita DM tipe 2 memiliki risiko empat kali mengalami komplikasi DM (OR=4,247;95%CI=1,828-21,515) dan perilaku konsumsi makanan yang buruk juga memiliki risiko tiga kali mengalami komplikasi DM (OR=2,867;95%CI=1,750-10,965). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara selfawareness dan perilaku konsumsi makanan pada penderita DM tipe 2 dengan komplikasi DM di Kota Makassar.\ud
Kata kunci: Komplikasi DM, faktor risiko, penderita DM tipe
GAMBARAN KEBIASAAN SARAPAN DAN DURASI TIDUR PADA REMAJA GIZI LEBIH DI SMP MUHAMMADIYAH LIMBUNG
Pendahuluan: Salah satu masalah gizi yang sering terjadi di lingkungan remaja adalah fenomena gizi lebih (overweight dan obesitas). Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gizi lebih pada remaja adalah kebiasaan melewatkan sarapan dan durasi tidur. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebiasaan sarapan dan durasi tidur pada remaja status gizi lebih di SMP Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deksripstif. Sampel penelitian merupakan remaja usia 13-15 tahun kelas VII dan VIII yang mengalami gizi lebih. Penentuan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 79 orang. Kebiasaan sarapan dan kualitas sarapan diperoleh melalui kuesioner wawancara dan recall 24 jam, serta durasi tidur diperoleh melalui kuesioner Sleep Timing Questionnaire (STQ). Hasil: Sebagian besar responden memiliki kebiasaan jarang sarapan <4 kali/minggu (64,5%) dan masih memiliki kualitas sarapan yang kurang yaitu <15% dari AKG (50,6%). Durasi tidur sebagian besar remaja masih kurang yaitu <8 jam/hari baik weekdays (58,2) maupun weekend (51,9%). Kesimpulan: Sebagian besar remaja gizi lebih di SMP Muhammadiyah Limbung memiliki kebiasaan jarang sarapan dan kualitas sarapan yang masih kurang. Durasi tidur sebagian besar remaja masih kurang yaitu <8 jam/hari baik weekdays maupun weekend
SOCIO-ECONOMIC RELATIONSHIP WITH FEEDING PATTERNS FOR STUNTED CHILDREN 24-59 MONTHS IN THE WORKING AREA OF THE MALIMONGAN BARU HEALTH CENTER IN MAKASSAR CITY
Introduction: Stunting is a linear growth disorder caused by malnutrition and chronic infectious diseases as indicated by a Z-Score for height for age (TB/A) less than -2 standard deviations (SD) based on WHO standards. Objective: To determine the socio-economic relationship (education, employment and income) to the feeding patterns of stunted toddlers aged 24-59 months in the working area of the Malimongan Baru Health Center. Materials and Methods: This research was conducted on 66 stunted toddlers aged 24-59 months in Makassar City using the random sampling method and chi-square analysis using the SPSS application. Results: There is a relationship between mother\u27s education, mother\u27s occupation, father\u27s occupation, and parental income with feeding pattern (p-value<0.05) and there is no relationship between father\u27s education and feeding pattern (p-value>0.05 ) Conclusion: High maternal education, working mothers and fathers, high family income have proper feeding patterns for toddlers compared to low maternal education, mothers and fathers do not work, and low family income
PENYULUHAN DAN PENGENALAN MPASI LOKAL SECARA ORGANOLEPTIK KEPADA IBU BADUTA DI PULAU BARRANG LOMPO
The evaluation of the sensory attributes in locally formulated complementary feeding for infants receiving breast milk, commonly referred to as Complementary Feeding of Breast Milk (MP-ASI), represents a pivotal element within the broader framework of the Family Nutrition Improvement Program (UPGK). In this organoleptic test, the main ingredients used are breadfruit and Moringa leaves. The nutritional content of breadfruit is fiber, complex carbohydrates, proteins, minerals (phosphorus, calcium, magnesium, iron) and vitamins. Likewise, Moringa plants are found in many tropical and subtropical regions, including South Asia. Moringa also has many nutritional contents in antioxidants, vitamins, essential amino acids, anti-inflammatory and other compounds. Therefore, a processing process is needed for both breadfruit and Moringa leaves before consumption to be used as complementary food in baduta. The primary objective of this community service initiative is to enhance maternal understanding regarding the assessment of sensory attributes in complementary foods intended for organoleptic evaluation. The methodology employed in this undertaking involves educational sessions encompassing instructional content and providing complementary foods designed explicitly for organoleptic assessment. The material presented is related to the timing of giving complementary food, the texture of complementary food, and essential signs when giving complementary food. The Results showed that the final test with p-value = 0.345 (p>0.05) significantly. This phenomenon is attributable to the fact that mothers residing on Barrang Lompo Island have received prior nutritional education pertaining to complementary feeding. The Organoleptic Test, which encompassed assessments of color, texture, aroma, and flavor for children aged 6-24 months, revealed that the majority of participants exhibited a favorable preference for the evaluated menu. --- Uji Organoleptik terhadap Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang disusun menggunakan bahan lokal merupakan elemen kunci dalam kerangka Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Pada uji organoleptik ini bahan utama yang digunakan adalah buah sukun dan daun kelor. Buah sukun merupakan salah satu komoditas pangan yang signifikan sebagai sumber utama karbohidrat di berbagai kepulauan di wilayah tropis, terutama di Pasifik dan Asia Tenggara. Buah ini kaya akan komponen gizi, termasuk serat, karbohidrat kompleks, protein, serta mineral seperti fosfor, kalsium, magnesium, dan zat besi. Selain itu, buah sukun juga mengandung beragam vitamin, termasuk vitamin A, vitamin B, dan vitamin C. Tentu hal yang serupa dapat dikatakan tentang tanaman kelor yang tersebar luas di wilayah tropis dan sub-tropis, termasuk Asia Selatan. Kelor juga memiliki banyak kandungan gizi berupa anti oksidan, vitamin, asam amino essensial, anti Anti-inflammatory dan kandungan senyawa lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan proses pengolahan baik untuk bahan buah sukun dan daun kelor sebelum dikonsumsi untuk dijadikan MP-ASI pada baduta. Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pemahaman ibu mengenai Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang akan dilakukan pengujian organoleptik. Metode Pengabdian Metode yang diterapkan dalam kegiatan ini yaitu penyuluhan berupa materi dan pemberian MP-ASI untuk di uji secara organoleptik. Materi yang disampaikan terkait dengan waktu pemberian MP-ASI, tekstur MP-ASI, dan tanda-tanda penting saat memberikan MP-ASI. Hasil Pengabdian menunjukkan Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank dengan p-value = 0,345 (p>0,05). Hal ini dikarenakan ibu-ibu di Pulau Barrang Lompo sudah terpapar dengan edukasi gizi mengenai MP-ASI. Pada Uji Organoleptik MP-ASI dimana diuji cobakan warna,tekstur, aroma, dan rasa untuk baduta usia 6-24 bulan rata-rata menyukai menu MP-ASI yang dilakukan pengujian
Parental Preferences in Children\u27s Menu Provision at Home: An Exploratory Study in West Sumatra
Indonesia continues to face significant challenges in achieving optimal nutrition, as malnutrition persists despite advancements in the health sector. This study explores how parents in West Sumatra make decisions about their children\u27s meals, focusing specifically on their understanding of stunting and the role of dietary variety. The goal is to assess how parental awareness of stunting affects their choices in providing balanced, nutritious meals for their children. The study collected data from 387 parents using a structured questionnaire, analyzed through descriptive and correlational methods. Results showed that rice is the primary staple, consumed an average of 2.78 times per day. Although animal protein sources like fish and eggs are commonly included, vegetable and fruit consumption remain below recommended levels. A weak but positive correlation was identified between parental knowledge and food variety, especially regarding fruits and vegetables. However, this relationship was generally weak (ρ < 0.2), likely shaped by additional factors like household income and food access. The research also uncovered notable variations in parental knowledge depending on socioeconomic status, with higher-income families demonstrating greater awareness of stunting. These outcomes imply that while nutrition education is important, it must be paired with strategies that address broader structural challenges such as affordability and food availability. Further studies using longitudinal or qualitative methods are recommended to better understand the behaviors that influence dietary choices and to inform more effective nutrition policies
