Sarwahita
Not a member yet
286 research outputs found
Sort by
International Community Development: Edukasi IMS dan HIV/AIDS pada Remaja Santri di Pondok Pesantren, Johor Bahru, Malaysia
Community development programs have the potential to enhance adolescents' awareness of the risks associated with sexually transmitted infections (STIs) and the preventive measures that can be taken to mitigate those risks, including HIV/AIDS. The International Community Development program was organized by the Research Centre on Global Emerging and Re-emerging Infectious Diseases (RC-GERID) of Universitas Airlangga. The topic of the program was the prevention of STIs and HIV/AIDS among adolescent boarding school students. The objective of this activity is to enhance the student's knowledge and comprehension of STIs and HIV/AIDS, as well as the measures that can be taken to prevent the transmission of infectious diseases. The participants were 100 Madrasah Tahfidz Al-Quran An-Nur students in Johor Bahru, Malaysia. The methodology employed in this activity comprised pre-test and post-test questionnaires completed by participants, lectures, question-and-answer sessions, and discussions. The results demonstrated a statistically significant increase in knowledge and understanding of STIs, HIV/AIDS, and infection prevention among adolescent students, with an average increase of 22.0% in pre-test and post-test scores. This indicates that the educational material was effectively conveyed to the participants. The activity was conducted in an orderly, conducive, and interactive manner. Further community service with similar activities to be better than now
Abstrak
Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap IMS dengan jumlah terbesar mengidap HIV/AIDS. Program pengabdian masyarakat dapat membantu meningkatkan kesadaran remaja tentang risiko dan langkah pencegahan penyakit IMS dan HIV/AIDS. International Community Development ini diselenggarakan oleh Research Center on Global Emerging and Re-emerging Infectious Diseases (RC-GERID) Universitas Airlangga, dengan topik pencegahan IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS pada remaja santri pondok pesantren. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai IMS dan HIV/AIDS serta langkah pencegahan penyakit infeksi. Peserta kegiatan yaitu remaja santri di Madrasah Tahfidz Al-Quran An-Nur, Johor Bahru, Malaysia yang berjumlah 100 orang. Metode dalam kegiatan ini yaitu pengisian pre-test dan post-test oleh peserta, ceramah, tanya jawab dan diskusi. Hasil menunjukan bahwa adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang IMS, HIV/AIDS, dan pencegahan infeksi pada remaja santri, dengan kenaikan nilai pre-test dan post-test sebesar 22,0%. Hal ini berarti materi edukasi tersampaikan dengan baik kepada peserta. Kegiatan berlangsung dengan tertib, kondusif, dan interaktif. Pengabdian masyarakat selanjutnya dengan kegiatan serupa agar lebih baik dari sekarang
Human Resources Skills and Agricultural Product Selling Power Through A Workshop on Processing Tomatoes Into “Torakur” Sweets
The high volume of tomatoes during the peak harvest season often results in low selling prices and financial losses for farmers. This problem is exacerbated by the limited shelf life of tomatoes and the lack of skills in processing the harvest into high-value products. To address this problem, a leadership project was implemented to improve the skills of family welfare empowerment (FWE) mothers in the Dirgantara Asri Housing Complex in utilising tomato harvests to make products with high market value. The purpose of this workshop was to improve the skills of the community, especially among FWE mothers in the Dirgantara Asri Housing Complex, through training in processing tomatoes into a candied product called “Torakur” (Tomatoes with Date Flavour), which has significant market potential. Furthermore, participants are expected to market this processed product directly and through social media promotion efforts. The implementation method includes delivering educational materials, demonstrations of processing tomatoes into “Torakur,” and simple packaging and marketing techniques, both directly and digitally. This workshop aims to improve the skills of FWE mothers in producing and marketing “Torakur” independently, thereby creating sustainable local business opportunities. The measurement results were 100% very satisfied and 87.25% very useful. The results of this community service initiative show that the workshop has positively impacted community empowerment and strengthened interdisciplinary collaboration.
Abstrak
Tingginya volume tomat selama musim panen raya seringkali mengakibatkan harga jual yang rendah dan kerugian finansial bagi petani. Masalah ini diperparah oleh terbatasnya masa simpan tomat dan kurangnya keterampilan dalam mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tinggi. Untuk mengatasi masalah ini, sebuah proyek kepemimpinan dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan ibu-ibu pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK) di Perumahan Dirgantara Asri dalam memanfaatkan hasil panen tomat untuk menghasilkan produk bernilai pasar tinggi. Tujuan lokakarya ini adalah untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK di Perumahan Dirgantara Asri, melalui pelatihan pengolahan tomat menjadi manisan “Torakur” (Tomat Rasa Kurma), yang memiliki potensi pasar yang signifikan. Selanjutnya, para peserta diharapkan dapat memasarkan produk olahan ini secara langsung dan melalui promosi di media sosial. Metode pelaksanaannya meliputi penyampaian materi edukasi, demonstrasi pengolahan tomat menjadi “Torakur”, serta teknik pengemasan dan pemasaran sederhana, baik secara langsung maupun digital. Lokakarya ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan ibu-ibu PKK dalam memproduksi dan memasarkan “Torakur” secara mandiri, sehingga menciptakan peluang usaha lokal yang berkelanjutan. Hasil pengukurannya adalah 100% sangat memuaskan dan 87,25% sangat bermanfaat. Hasil dari inisiatif pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa lokakarya ini telah berdampak positif terhadap pemberdayaan masyarakat dan memperkuat kolaborasi interdisipliner
Peran Mahasiswa dalam Edukasi Anti Korupsi: Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Service Learning
Corruption remains a serious challenge in realizing clean and accountable governance in Indonesia. Higher education institutions play a strategic role in instilling anti-corruption values through the curriculum, as mandated by Regulation of the Ministry of Research, Technology, and Higher Education No. 33 of 2019. This study aimed to equip students with both knowledge and practical experience in anti-corruption education through a service learning approach. The program involved 20 students of the Environmental Health Study Program at Universitas Sriwijaya under the guidance of two field supervisors, implemented at two secondary schools: SMAN 1 Indralaya (representing a suburban context) and SMAN 15 Palembang (representing an urban context). The activities were conducted in three stages: pre-implementation (classroom learning and action planning), implementation (counseling and socialization using presentations, posters, and interactive games), and post-implementation (evaluation through pre-tests, post-tests, and feedback questionnaires). The results showed a significant increase in students’ knowledge and awareness, with 97% of participants stating that the program was beneficial and 100% committing to uphold integrity values and reject corruption. This program not only strengthened awareness among secondary school students but also enhanced university students’ skills in communication, leadership, and integrity values. Thus, integrating anti-corruption education through service learning provides a concrete contribution to shaping student change agents in society’s collective effort to prevent corruption.
Abstrak
Korupsi masih menjadi persoalan serius dalam upaya mewujudkan tata pemerintahan yang bersih dan berintegritas di Indonesia. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai antikorupsi melalui kurikulum, sebagaimana diamanatkan dalam Permenristekdikti No. 33 Tahun 2019. Penelitian/pengabdian ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pengetahuan sekaligus pengalaman praktis dalam edukasi antikorupsi melalui pendekatan service learning. Kegiatan dilaksanakan oleh 20 mahasiswa Program Studi Kesehatan Lingkungan Universitas Sriwijaya dengan bimbingan dua dosen lapangan di dua sekolah menengah, yaitu SMAN 1 Indralaya (pinggiran) dan SMAN 15 Palembang (perkotaan). Metode pelaksanaan meliputi tahap pra-implementasi (pembelajaran kelas dan perencanaan aksi), implementasi (penyuluhan dan sosialisasi dengan media presentasi, poster, dan permainan interaktif), serta pasca-implementasi (evaluasi melalui pre-test, post-test, dan kuesioner umpan balik). Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan dan kesadaran siswa, dengan 97% peserta menyatakan kegiatan bermanfaat dan 100% berkomitmen menolak praktik korupsi. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman pelajar, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan nilai integritas mahasiswa. Dengan demikian, integrasi pendidikan antikorupsi melalui service learning berimplikasi nyata dalam membentuk agen perubahan yang berkontribusi pada upaya pencegahan korupsi di masyarakat
Penerapan Peningkatan Kapasitas Produksi Pengupasan Sabut Kelapa Menggunakan Mesin Pengupas Semi-Otomatis pada Kelompok Tani Perak Jaya di Provinsi Riau
Coconut fiber is an agricultural waste that has high economic value if processed properly. The manual process of peeling coconut fiber takes a long time and a lot of energy, so it is not efficient in high production scale. This study aims to increase the production capacity of coconut fiber peeling through the development and implementation of a semi-automatic coconut fiber peeling machine. This machine is designed to combine the cutting and releasing mechanism of the fiber efficiently by utilizing an electric motor and a simple mechanical control system. Testing was carried out by comparing the production capacity between the manual method and the use of a semi-automatic peeling machine. The results showed that the use of a semi-automatic machine was able to increase production capacity up to 3 times compared to the manual method, with faster processing time and reduced operator fatigue levels. These findings provide a practical solution for the coconut processing industry to improve production efficiency and market competitiveness.
Abstrak
Sabut kelapa merupakan limbah pertanian yang memiliki nilai ekonomis tinggi jika diolah dengan baik. Proses pengupasan sabut kelapa secara manual memerlukan waktu yang lama dan tenaga yang besar, sehingga tidak efisien dalam skala produksi yang tinggi. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi pengupasan sabut kelapa melalui pengembangan dan implementasi mesin pengupas sabut kelapa semi-otomatis. Mesin ini dirancang untuk memadukan mekanisme pemotongan dan pelepasan sabut secara efisien dengan memanfaatkan motor listrik dan sistem kendali mekanis yang sederhana. Pengujian dilakukan dengan membandingkan kapasitas produksi antara metode manual dan penggunaan mesin pengupas semi-otomatis. Hasil Pengabdian ini menunjukkan bahwa penggunaan mesin semi-otomatis mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga 3 kali lipat dibandingkan metode manual, dengan waktu proses yang lebih cepat dan tingkat kelelahan operator yang berkurang. Temuan ini memberikan solusi praktis bagi industri pengolahan kelapa untuk meningkatkan efisiensi produksi dan daya saing pasar
Program Tutorial Kaligrafi Jepang pada Nihon Club SMA/Sederajat di Bandung
The Japanese Calligraphy tutorial program at 7th Nihongo Club of Senior High Schools/Equivalent in Bandung aims to increase insight about Japanese calligraphy techniques (Shodo) and to find out the extent of students' interest in traditional Japanese culture, especially Japanese calligraphy. The implementation of the activity uses the Community Based Participatory Research (CBPR) approach method, which is a collaborative pattern between the community and the world of higher education that is action-oriented with service learning. After the tutorial carried out, the target audience gains the latest knowledge and skills about Shodo (Japanese calligraphy). The results of this activity are that participants can understand basic kanji calligraphy techniques, namely kaisho, with a focus on four material skills, namely mastering line and tome techniques on kanji 一, kanji 十. Then master the technique of making a combination of horizontal and vertical lines, and can make hidari harai and hane on kanji 口 and kanji 行. Participants can also master the technique of making kagi hane on kanji 円、kanji 先. In addition, participants can also master the technique of making migi harai on the kanji 本 and kanji 永. Participants also showed a high interest in Japanese calligraphy, this can be seen from the answers to the satisfaction questionnaire which stated that participants wanted to learn additional material on Japanese kanji calligraphy.
Abstrak
Program tutorial Kaligrafi Jepang pada 7 Nihongo Club SMA/Sederajat di kota Bandung ini bertujuan untuk untuk menambah wawasan mengenai Shodo atau teknik kaligrafi Jepang yang merupakan budaya tradisional Jepang dan mengetahui sejauh mana minat siswa terhadap budaya tradisional Jepang, khususnya kaligrafi Jepang. Pelaksanaan kegiatan menggunakan metode pendekatan Community Based Participatory Research (CBPR), yaitu pola kolaborasi antara komunitas dengan dunia pendidikan tinggi yang berorientasi aksi dengan service learning. Setelah kegiatan tutorial dilaksanakan khalayak sasaran mendapatkan pengetahuan dan keterampilan terbaru mengenai Shodo (kaligrafi Jepang). Hasil dari kegiatan ini peserta dapat memahami teknik kaligrafi kanji tingkat dasar yaitu kaisho, dengan fokus keterampilan empat materi yaitu menguasai teknik garis dan tome pada kanji 一, kanji 十. Kemudian menguasai teknik membuat garis kombinasi antara horizontal dan vertikal, dapat membuat hidari harai dan hane pada kanji 口dan kanji 行. Peserta juga dapat menguasai teknik membuat kagi hane pada kanji 円、kanji 先 dan menguasai teknik membuat migi harai pada kanji 本 dan kanji 永. Selain itu berdasarkan jawaban kuesioner sekitar 60% peserta juga menunjukkan minat tinggi terhadap kaligrafi Jepang dan menyatakan ingin belajar materi tambahan mengenai kaligrafi kanji Jepang
Peningkatan Produktivitas UKM Cahya Interior Decoration (CID) Melalui Pemanfaatan Teknologi Mesin Pelapis High Pressure Laminated (HPL)
UKM Cahya Interior Decoration (CID) in Kabupaten Madiun faces challenges in the High Pressure Laminated lamination process on multiplex wood, which is currently performed manually. This process requires 5 minutes per m², resulting in prolonged production times and low efficiency. The community service initiative aims to design and implement an HPL laminating machine that can enhance the time efficiency of the lamination process. The developed machine integrates a spring adjustment mechanism and roll press, and is equipped with a ½ hp motor and a 1:30 gearbox, enabling the lamination process to be completed in only 0.75 minutes per m². Designed to be compact and efficient, the machine is capable of increasing the production capacity from 3 to 4 products per day. Furthermore, the machine has successfully reduced the total production time per product from 135 minutes to 101 minutes, leading to an increase in the monthly product output from 78 to 104 units. The implementation of this HPL laminating machine technology has significantly improved both efficiency and production capacity, thereby enhancing CID’s competitiveness and its ability to meet higher market demand. It is hoped that this technology can be adopted by similar industries to support the development of small manufacturing enterprises.
Abstrak
UKM Cahya Interior Decoration (CID) di Kabupaten Madiun menghadapi tantangan dalam proses pelapisan HPL pada kayu multiplex yang dilakukan secara manual. Proses ini memerlukan waktu 5 menit per m², menyebabkan durasi produksi yang lama dan efisiensi yang rendah. Inisiatif pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk merancang dan menerapkan mesin pelapis HPL yang dapat meningkatkan efisiensi waktu pelapisan. Mesin yang dikembangkan mengombinasikan elemen penyesuaian pegas (spring adjustment) dan roll press, serta dilengkapi dengan motor ½ hp dan gearbox 1:30 yang memungkinkan pelapisan selesai dalam waktu hanya 0,75 menit per m². Mesin ini dirancang dengan ukuran yang kompak dan efisien, serta mampu meningkatkan kapasitas produksi dari 3 menjadi 4 produk per hari. Selain itu, mesin ini juga berhasil mengurangi waktu total produksi per produk dari 135 menit menjadi 101 menit, yang berdampak pada peningkatan jumlah produk bulanan dari 78 menjadi 104 unit. Penerapan teknologi mesin pelapis HPL ini memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi, sehingga meningkatkan daya saing dan kemampuan CID untuk memenuhi permintaan pasar yang lebih tinggi. Teknologi ini diharapkan dapat diadopsi oleh industri sejenis guna mendukung pengembangan industri manufaktur kecil
Implementasi Program Rumah Pintar dalam Meningkatkan Keterampilan Literasi dan Numerasi Dasar Siswa SD
This community service activity aims to address the challenges of low reading, writing, and arithmetic (literacy and numeracy) skills at SDN 1 Surodakan elementary school, especially in rural areas. The community service activity was carried out at SDN 1 Surodakan, Trenggalek Regency, by describing the implementation of the "Smart House" program which aims to improve basic literacy and numeracy skills of students in grades 1-3. The community service program was implemented for 12 weeks involving 27 students in creative and interactive literacy-based learning, facilitated by Elementary School Teacher Education (PGSD) students from Malang State University using descriptive qualitative methods. These activities included reading picture stories, creative writing, dictation, and arithmetic with concrete media, such as counting wheels. The results showed significant improvements in reading (28%), writing (28%), and arithmetic (43%), with an average total increase of 33%, accompanied by increased student activity and self-confidence. However, this program faced obstacles such as difficulty in maintaining student focus and minimal parental support at home. The effectiveness of the approach was measured by comparing students' pre-test and post-test results on the three basic skills. Furthermore, effectiveness was also observed through increased student participation in direct learning. The program's sustainability requires integration of the method into regular learning and synergy between schools, families, and communities as the primary supporters of children's education.
Abstrak
Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengatasi tantangan rendahnya kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (literasi dan numerasi) di sekolah dasar SDN 1 Surodakan, khususnya di wilayah pedesaan. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di SDN 1 Surodakan, Kabupaten Trenggalek, dengan mendeskripsikan implementasi program “Rumah Pintar” yang bertujuan meningkatkan keterampilan literasi dan numerasi dasar siswa kelas 1-3. Program pengabdian dilaksanakan selama 12 minggu dengan melibatkan 27 siswa dalam pembelajaran berbasis literasi yang kreatif dan interaktif, difasilitasi oleh mahasiswa PGSD Universitas Negeri Malang menggunakan metode kualitatif deskriptif. Kegiatan ini mencakup membaca cerita bergambar, menulis kreatif, dikte, dan berhitung dengan media konkret, seperti kincir berhitung. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada membaca (28%), menulis (28%), dan berhitung (43%), dengan rata-rata total peningkatan 33%, disertai peningkatan aktivitas dan kepercayaan diri siswa. Meskipun demikian, program ini menghadapi kendala seperti sulitnya siswa menjaga fokus dan minimnya dukungan orang tua di rumah. Efektivitas pendekatan diukur melalui perbandingan hasil pre-test dan post-test siswa pada tiga aspek keterampilan dasar. Selain itu, efektivitas juga diamati melalui peningkatan partisipasi siswa dalam pembelajaran langsung. Keberlanjutan program membutuhkan integrasi metode ke pembelajaran reguler serta sinergi antara sekolah, keluarga, dan komunitas sebagai pendukung utama pendidikan anak
Pemberdayaan Keuangan Masyarakat Pedesaan Melalui Literasi Finansial Studi Program di Kabupaten Jeneponto
*Penulis korespondensi
Abstract
Low levels of financial literacy remain a challenge in many regions of Indonesia, including Jeneponto Regency, South Sulawesi. This community service program aimed to improve the basic understanding and skills of local communities in managing personal finances through contextual and participatory financial literacy socialization and training.The implementation methods included problem identification, material preparation, direct training, simple mentoring, and evaluation through pre-test and post-test. The results indicated a significant improvement in participants’ financial knowledge, behavioral changes toward wiser financial management, and increased access to formal financial services such as savings accounts. The main challenges encountered were limited digital literacy and the persistence of traditional financial management habits within the community. This activity demonstrates that simple yet contextual educational approaches can create a tangible impact on the financial empowerment of rural communities. Similar programs are recommended to be further developed on a sustainable basis with cross-sectoral support, particularly from local governments, financial institutions, universities, and community organizations. Cross-sectoral synergy is expected to expand program outreach, strengthen continuous mentoring, and create an inclusive and resilient financial literacy ecosystem to support the welfare of rural communities.
Abstrak
Tingkat literasi keuangan yang rendah masih menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dasar masyarakat dalam mengelola keuangan melalui sosialisasi dan pelatihan literasi keuangan berbasis kontekstual dan partisipatif. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi masalah, penyusunan materi, pelatihan langsung, pendampingan sederhana, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan keuangan peserta, perubahan perilaku ke arah yang lebih bijak dalam mengelola keuangan, serta peningkatan akses terhadap layanan keuangan formal seperti rekening tabungan. Tantangan utama yang dihadapi antara lain keterbatasan literasi digital dan kebiasaan lama masyarakat dalam pengelolaan keuangan. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang sederhana namun kontekstual dapat memberikan dampak nyata terhadap pemberdayaan finansial masyarakat desa. Program serupa direkomendasikan untuk dikembangkan lebih lanjut secara berkelanjutan dengan dukungan lintas sektor, khususnya pemerintah daerah, lembaga keuangan, perguruan tinggi, serta organisasi masyarakat. Sinergi lintas sektor diharapkan mampu memperluas jangkauan program, memperkuat pendampingan berkelanjutan, dan menciptakan ekosistem literasi keuangan yang inklusif serta berdaya tahan dalam mendukung kesejahteraan masyarakat desa
The Implementasi Pelatihan Computer Vision dan (IoT) untuk Meningkatkan Kompetensi Industri 4.0 pada Siswa SMK Negeri 9 Bandar Lampung
Developing the competence of vocational students in the field of Artificial Intelligence (AI) is a critical need to face industrial transformation 4.0. This research aims to implement a training kegiatan pelatihan on Computer Vision and Internet of Things (IoT) based on Edge Computing at SMK Negeri 9 Bandar Lampung. The kegiatan pelatihan was implemented for 6 months involving 30 students of class XII. Computer Vision is a technology that enables computers to understand and process visual information from images or videos, such as object, face, or motion recognition. Edge Computing-based Internet of Things (IoT) refers to a network of interconnected devices that process data locally (at the edge of the network) to reduce latency and cloud load. The implementation method used a mixed method approach through the stages of preparation, implementation, and evaluation. The training focused on developing practical skills using low-cost microcontroller devices for AI implementation in industry. The results showed a significant increase in student competence, with an average post-test score increase of 82% compared to the pre-test. A total of 85% of participants successfully developed AI implementation projects that are applicable to industry. The main challenges in implementation included limited infrastructure and variations in participants' basic skills. The kegiatan pelatihan produced a learning module that can be replicated in similar institutions, as well as an edge computing implementation model for AI learning at the vocational secondary level. The research contributes to the development of affordable practical AI learning methods for vocational education institutions.
Abstrak
Pengembangan kompetensi siswa SMK dalam bidang Artificial Intelligence (AI) menjadi kebutuhan kritis menghadapi transformasi industri 4.0. Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan kegiatan pelatihan pelatihan Computer Vision dan Internet of Things (IoT) berbasis Edge Computing di SMK Negeri 9 Bandar Lampung. Kegiatan pelatihan dilaksanakan selama 6 bulan dengan melibatkan 30 siswa kelas XII. Computer Vision adalah teknologi yang memungkinkan komputer untuk memahami dan memproses informasi visual dari gambar atau video, seperti pengenalan objek, wajah, atau gerakan. Internet of Things (IoT) berbasis Edge Computing mengacu pada jaringan perangkat yang saling terhubung dan memproses data secara lokal (di tepi jaringan) untuk mengurangi latensi dan beban cloud. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan mixed method melalui tahapan persiapan, implementasi, dan evaluasi. Pelatihan berfokus pada pengembangan kemampuan praktis menggunakan perangkat mikrokontroler berbiaya rendah untuk implementasi AI dalam industri. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada kompetensi siswa, dengan rata-rata kenaikan nilai post-test sebesar 82% dibanding pre-test. Sebanyak 85% peserta berhasil mengembangkan proyek implementasi AI yang aplikatif untuk industri. Tantangan utama dalam pelaksanaan meliputi keterbatasan infrastruktur dan variasi kemampuan dasar peserta. Kegiatan pelatihan ini menghasilkan modul pembelajaran yang dapat direplikasi di institusi sejenis, serta model implementasi edge computing untuk pembelajaran AI di tingkat menengah kejuruan. Penelitian memberikan kontribusi pada pengembangan metode pembelajaran AI praktis yang terjangkau untuk institusi pendidikan kejuruan
Pelatihan Berbusana Jawa Gagrag Ngayogyakarta bagi Pelajar: Upaya Meluruskan Pemahaman dan Keterampilan Berbusana Adat
The training on Javanese attire of the Ngayogyakarta style serves as a response to students’ mistakes in practicing the proper way of dressing in the Ngayogyakarta Javanese style during Thursday Pon at schools in the Special Region of Yogyakarta. The aim of implementing the training is to correct and improve the understanding and skills of training participants who are middle school and high school students in wearing Ngayogyakarta Javanese style clothing. The training was held in Bangunrejo Hamlet, Merdikorejo Village, Tempel District, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta. This training was organized by students of Javanese Language B Professional Teacher Education for Prospective Teachers, Yogyakarta State University. The method used in this activity is Service Learning (SL). There are four stages of activities, namely planning, implementation, monitoring and evaluation. There are four main points of discussion in this article, namely the socialization of Ngayogyakarta style Javanese fashion, the practice of tying techniques for Ngayogyakarta style fabric, the practice of wearing Javanese Ngayogyakarta style clothing, and the training participants' achievements in understanding the material. Based on the pretest and posttest conducted before and after the training, this program was able to correct and improve the participants’ understanding of Javanese fashion in Ngayogyakarta style. The participants’ skills also improved, namely in draping and dressing in Ngayogyakarta Javanese fashion properly and correctly. Sustainability of the program is carried out through monitoring the consistency and development of the Javanese Ngayogyakarta style of dress by students during Thursday Pon or other activities by program organizers who are part of the community and educators.
Abstrak
Pelatihan berbusana Jawa gagrag Ngayogyakarta merupakan bentuk tanggapan terhadap kesalahan penggunaan busana Jawa gagrag Ngayogyakarta oleh peserta didik pada Kamis Pon di sekolah-sekolah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan pelaksanaan pelatihan adalah meluruskan dan meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta pelatihan yang merupakan peserta didik SMP dan SMA dalam berbusana Jawa gagrag Ngayogyakarta. Pelatihan dilaksanakan di Dusun Bangunrejo, Kelurahan Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelatihan ini diselenggarakan oleh mahasiswa Pendidikan Profesi Guru bagi Calon Guru Bahasa Jawa B Universitas Negeri Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Service Learning (SL). Terdapat empat tahapan kegiatan, yakni perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi. Terdapat empat pokok bahasan dalam artikel ini, yakni sosialisasi busana Jawa gagrag Ngayogyakarta, praktik mewiru jarik gagrag Ngayogyakarta, praktik berbusana Jawa gagrag Ngayogyakarta, dan ketercapaian peserta pelatihan dalam memahami materi. Berdasarkan pretest dan posttest yang dilaksanakan sebelum dan setelah pelatihan, pelatihan ini dapat meluruskan dan meningkatkan pemahaman peserta pelatihan dalam hal busana Jawa gagrag Ngayogyakarta. Keterampilan peserta pelatihan juga bertambah, yakni terkait keterampilan mewiru dan berbusana Jawa gagrag Ngayogyakarta dengan baik dan benar. Keberlanjutan program dilaksanakan melalui pemantauan konsistensi dan perkembangan cara berbusana Jawa gagrag Ngayogyakarta oleh peserta didik ketika Kamis Pon atau kegiatan lainnya oleh penyelenggara program yang merupakan bagian dari masyarakat dan pendidik