141 research outputs found

    Keragaman & Karakterisasi Genetik Galur Mutan Kedelai (Glycine max L. Merril) Generasi M5 pada Kandungan Asam Lemak Berdasarkan Marka SSR (Simple Sequence Repeats)

    No full text
    BAYU ATMAJA NIRZA, 2020. Keragaman dan Karakterisasi Genetik Galur Mutan Kedelai (Glycine max (L.) Merril) Generasi M5 Pada Kandungan Asam Lemak Berdasarkan Marka SSR. Dibimbing oleh Ir. Hot Setiado, MS. dan Dr. Diana Sofia Hanafiah, SP, MP Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi pola pita dan identifikasi genetik galur mutan kedelai generasi M5 yang terkait karakter asam lemak menggunakan marka SSR. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Genetika Molekuler Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada Maret s/d Juli 2020. Sebanyak 12 galur mutan, 1 tetua dan 1 varietas pembanding telah diisolasi. Digunakan Primer Satt303, Satt581, FAD-3B, didapatkan pita dengan ukuran berkisar antara 74-106 bp dan berdasarkan analisis PCOA terdapat 3 galur mutan kedelai yang menyebar M100-25-5-3, M100-25-3-7 dan M200-11-32-3. Penentuan ukuran pita menggunakan software UVITEC Cambridge FireReader dan perhitungan kesamaan genetik dan pembentukan kelompok menggunakan software Multivariate Statisticical Package (MVSP ver. 3.2). Hasil analisis menunjukkan bahwa 14 individu terbagi atas 2 kelompok utama dengan nilai kesamaan genetik berkisar 0,49-1.BAYU ATMAJA NIRZA, 2020. Diversity and Genetic Characterization of Soybean (Glycine max (L.) Merril) M5 Generation in Fatty Acid Based on SSR Markers. Supervised by Ir. Hot Setiado, MS. and Dr.Diana Sofia Hanafiah, SP, MP This study aims to characterize the banding pattern and genetic identification of M5 generation of mutant soybean lines associated with fatty acid characters using SSR markers. This research was conducted at the Molecular Genetics Laboratory of the Faculty of Agriculture, University of North Sumatra, Medan in March to July 2020. A total of 12 mutant lines, 1 parent and 1 comparative variety were isolated. Satt303, Satt581, FAD-3B Primers were used, obtained bands with sizes ranging from 74-106 bp and based on PCOA analysis there were 3 soybean mutant strains that spread M100-25-5-3, M100-25-3-7 and M200-11-32-3. Determination of tape size using the Cambridge FireReader UVITEC software and calculation of genetic similarity and group formation using the Multivariate Statistics Package (MVSP ver. 3.2). The analysis showed that 14 individuals were divided into 2 main groups with genetic similarity values ranging from 0.49-1.62 HalamanSkripsi Sarjan

    Keragaman & Karakterisasi Genetik Galur Mutan Kedelai (Glycine max L. Merril) Generasi M5 pada Kandungan Asam Lemak Berdasarkan Marka SSR (Simple Sequence Repeats)

    No full text
    BAYU ATMAJA NIRZA, 2020. Keragaman dan Karakterisasi Genetik Galur Mutan Kedelai (Glycine max (L.) Merril) Generasi M5 Pada Kandungan Asam Lemak Berdasarkan Marka SSR. Dibimbing oleh Ir. Hot Setiado, MS. dan Dr. Diana Sofia Hanafiah, SP, MP Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi pola pita dan identifikasi genetik galur mutan kedelai generasi M5 yang terkait karakter asam lemak menggunakan marka SSR. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Genetika Molekuler Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada Maret s/d Juli 2020. Sebanyak 12 galur mutan, 1 tetua dan 1 varietas pembanding telah diisolasi. Digunakan Primer Satt303, Satt581, FAD-3B, didapatkan pita dengan ukuran berkisar antara 74-106 bp dan berdasarkan analisis PCOA terdapat 3 galur mutan kedelai yang menyebar M100-25-5-3, M100-25-3-7 dan M200-11-32-3. Penentuan ukuran pita menggunakan software UVITEC Cambridge FireReader dan perhitungan kesamaan genetik dan pembentukan kelompok menggunakan software Multivariate Statisticical Package (MVSP ver. 3.2). Hasil analisis menunjukkan bahwa 14 individu terbagi atas 2 kelompok utama dengan nilai kesamaan genetik berkisar 0,49-1.BAYU ATMAJA NIRZA, 2020. Diversity and Genetic Characterization of Soybean (Glycine max (L.) Merril) M5 Generation in Fatty Acid Based on SSR Markers. Supervised by Ir. Hot Setiado, MS. and Dr.Diana Sofia Hanafiah, SP, MP This study aims to characterize the banding pattern and genetic identification of M5 generation of mutant soybean lines associated with fatty acid characters using SSR markers. This research was conducted at the Molecular Genetics Laboratory of the Faculty of Agriculture, University of North Sumatra, Medan in March to July 2020. A total of 12 mutant lines, 1 parent and 1 comparative variety were isolated. Satt303, Satt581, FAD-3B Primers were used, obtained bands with sizes ranging from 74-106 bp and based on PCOA analysis there were 3 soybean mutant strains that spread M100-25-5-3, M100-25-3-7 and M200-11-32-3. Determination of tape size using the Cambridge FireReader UVITEC software and calculation of genetic similarity and group formation using the Multivariate Statistics Package (MVSP ver. 3.2). The analysis showed that 14 individuals were divided into 2 main groups with genetic similarity values ranging from 0.49-1.62 HalamanSkripsi Sarjan

    Pengaruh Naungan Terhadap Indeks Stomata Empat Varietas dan Satu Genotipe Kedelai [Glycine max (L.) Merill]

    No full text
    Atmaja, Rohmat Priya. 2009. “Pengaruh Naungan Terhadap Indeks Stomata Empat Varietas dan Satu Genotipe Kedelai [Glycine max (L.) Merill]” Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Endang Kartini A. M., Dra., M. S., Apt. (II) Dr. Titik Sundari, M. P. Kata Kunci: Naungan, Indeks stomata, Kedelai Naungan dapat mengurangi intensitas cahaya yang diterima olah tanaman. Intensitas cahaya yang berkurang berpengaruh terhadap hasil fotosintesis dan morfogenesis. Salah satu contoh bentuk morfogenesis yang dipengaruhi oleh intensitas cahaya adalah stomata. Intensitas cahaya yang berkurang tidak hanya mengurangi jumlah stomata tetapi juga sel epidermis. Indeks stomata menyatakan persentase jumlah stomata dari jumlah total sel epidermis bersama dengan stomata. Indeks stomata memberikan informasi tentang kerapatan stomata. Penelitian bertujuan untuk mengetahui: pengaruh naungan, varietas-genotipe, dan interaksi antara naungan dengan varietas-genotipe terhadap indeks stomata permukaan abaksial daun. Informasi kerapatan stomata dapat digunakan untuk menentukan laju fotosintesis, transpirasi, serta peluang masuknya patogen ke dalam jaringan. Penelitian dilakukan di empat tingkat naungan: 0%, 25%, 50%, dan 75% dengan menggunakan empat vaietas (Pangrango, Tanggamus, Wilis, Lokon) dan satu genotip (IAC-100). Penelitian dilakukan dengan menghitung indeks stomata permukaan abaksial daun. Data perubahan bentuk sel epidermis dan stomata dipaparkan secara deskriptif, sedangkan indeks stomata dianalisis dengan Anava dalam rancangan penelitian petak terbagi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa naungan tidak mengubah bentuk sel epidermis dan tipe stomata. Hasil uji Anava menunjukkan bahwa penambahan tingkat naungan menyebabkan indeks stomata bertambah besar. Naungan 75% berpengaruh lebih besar dalam peningkatan indeks stomata bila dibandingkan dengan tiga naungan yang lain. Indeks stomata dipengaruhi oleh varietas-genotipe. Kedelai genotipe IAC-100 memiliki indeks terbesar sedangkan varietas Wilis memiliki indeks terkecil. Indeks stomata tidak dipengaruhi oleh interaksi antara naungan dengan varietas-genotipe. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengukur faktor lingkungan selain intensitas cahaya dan mengukur luas daun. Penelitian lanjutan sebaiknya mengambil sampel daun di bawah daun no. 3 dari tunas terminal batang pokok atau daun yang sudah dewasa

    UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL BUAH Psidium guajava L, Melaleuca leucadendron L, Capsicum frutescens L, Anethum graveolens L DENGAN METODE DPPH BESERTA PENETAPAN KADAR FENOLIK TOTALNYA

    No full text
    Antioksidan alami dari luar tubuh diperlukan untuk mencegah munculnya penyakit karena terpapar oleh radikal bebas yang berlebih. Buah Psidium guajava L, Melaleuca leucadendron L, Capsicum frutescens L dan Anethum graveolens L diketahui memiliki kandungan fenolik dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi antara kandungan fenolik total dengan aktivitas antioksidannya. Aktivitas antiradikal ditentukan dengan menggunakan metode DPPH kemudian dihitung nilai Inhibitory Concentration (IC50) yaitu konsentrasi sampel yang mampu menghambat 50% radikal DPPH. Kandungan fenol ditetapkan dengan menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteu dan dihitung sebagai GAE (Gallic Acid Equivalent). Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol buah Psidium guajava L, Melaleuca leucadendron L, Capsicum frutescens L dan Anethum graveolens L memiliki nilai IC50 berturut-turut 167,347; 6,074; 139,801; dan 237,984 μg/mL. Sedangkan nilai GAE berturut-turut 23,73; 257,34; 21,44; 11,78 mg/g sampel. Nilai koefisien korelasi antara kandungan fenolik dengan aktivitas antioksidan adalah R2 = 0,847, yang menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol buah yang diuji 84,7% merupakan kontribusi dari senyawa fenolik

    Pengaruh Pemberian Abu Sabut Kelapa dan Monosodium Glutamat Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Semangka Kuning (Citrullus lanatus)

    No full text
    Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2017 sampai Februari 2018 di lahan Growth Center Kopertis Wilayah – I Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi Desa Laut Dendang, Kecamatan Medan Estate, Medan, Sumatera Utara dengan ketinggian ± 26 meter di atas permukaan laut. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan, terdiri dari 2 faktor yang diteliti, yaitu Perlakuan Abu Sabut Kelapa terdiri atas 4 taraf yaitu K0 (0 kg/plot), K1 (2 kg/plot), K2 (4 kg/plot) dan K3 (6 kg/plot), perlakuan Monosodium Glutamat terdiri atas 3 taraf yaitu M0 (0 ml/l air), M1 (3 ml/l air), M2s (6 ml/l air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Abu Sabut Kelapa tidak memberikan pengaruh terhadap semua paramater yang diamati. Perlakuan Monosodium Glutamat berpengaruh pada jumlah cabang tanaman pada umur 4 minggu setelah pindah tanam. Tidak terdapat pengaruh interaksi pada semua parameter pengamatan

    Proses upstream dalam produksi enzim L-asparaginase oleh mikroorganisme (kaji ulang literatur)

    No full text
    L-Asparaginase merupakan salah satu agen terapi pengobatan leukemia limfoblastik akut. Mikroorganisme baik bakteri maupun fungi merupakan alternatif penghasil enzim L-Asparaginase. Produksi enzim L-Asparaginase oleh fungi menggunakan proses upstream dan dilanjutkan dengan proses downstream. Beberapa parameter penting dalam proses upstream meliputi kondisi fermentasi, pH, suhu dan kebutuhan nutrisi. Kaji ulang literatur ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kondisi fermentasi, pH, suhu, dan kebutuhan nutrisi terhadap produktivitas enzim L-Asparaginase. Pada kaji ulang literatur ini digunakan metode kajian literatur sistematik. Hasil literatur yang diperoleh membahas mengenai kondisi fermentasi, pH, suhu, dan kebutuhan nutrisi seperti sumber karbon dan nitrogen terhadap produktivitas L-Asparaginase. Berdasarkan hasil kajian literatur ini dapat disimpulkan bahwa kondisi optimal dalam produksi L-Asparaginase oleh bakteri dan kapang pada rentang suhu 37ºC-40ºC, rentang pH 6,0-8,0, sumber nitrogen berasal dari L-Asparagin, sumber karbon berasal dari gula (sakarida) dan pengkondisian fermentasi dengan memperhatikan komponen beserta konsentrasi bahan dari media yang digunakan, ukuran partikel media, ketebalan media padat, pH media, suhu fermentasi, pemberian aerasi, dan pengaturan kelembaban

    Pemanfaatan Limbah Cair Tahu Sebagai Sumber Irigasi Pada Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.)

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini ialah : 1) Memanfaatkan limbah cair tahu sebagai air irigasi pada tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.), 2) Mempelajari pengaruh lama waktu penyimpanan limbah cair tahu sebagai sumber irigasi pada tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.). Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Februari 2011 sampai April 2011 di Rumah Kaca Universitas Brawijaya, Malang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 kali ulangan. Perlakuannya meliputi : P0 = Tanpa limbah cair tahu, P1 = Limbah cair tahu tanpa disimpan, P2 = Limbah cair tahu yang disimpan 3 hari, P3 = Limbah cair tahu yang disimpan 6 hari, P4 = Limbah cair tahu yang disimpan 9 hari, P5 = Limbah cair tahu yang disimpan 12 hari, P6 = Limbah cair tahu yang disimpan 15 hari. Hasil penelitian menunjukkan limbah cair tahu dapat digunakan sebagai sumber irigasi pada tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.). Lama penyimpanan limbah cair tahu mempengaruhi hasil tanaman sawi, dimana lama penyimpanan minimal selama 9 hari memberikan perubahan bobot segar konsumsi dan bobot segar total per tanaman yang lebih baik dibanding tanaman yang tidak diberikan perlakuan limbah cair tahu. Penyimpanan limbah cair tahu selama 12 hari memberikan hasil terbaik pada peningktan bobot segar total dan bobot segar konsumsi per tanaman. Peningkatan bobot segar konsumsi per tanaman akibat pemberian limbah cair tahu yang disimpan 12 hari yaitu sebesar 89,83% bila dibanding dengan sawi tanpa diberi limbah cair tahu

    KADAR PROTEIN TERLARUT HASIL FERMENTASI UBI KAYU (Manihot esculenta Crantz) VARlET AS SAO PEDRO PETRO DENGAN Aspergillus niger L.

    No full text
    Proses fermentasi dengan kapang Aspergillus mger L memberikan suatu peluang yang baik dalam upaya meningkatkan kadar protein terlarut ubi kayu. sejauh ini masih merupakan pilihan dalam memperbaiki kualitas ubi kayu. Aspergillus niger L merupakan salah satu rnikroba yang bisa menghasilkan enzim protease sehingga mempunyai kemampuan untuk memproteolisis pada ubi kayu menjadi senyawa protein dengan berat molekul rendah. Fermentasi ubi kayu dengan kapang Aspergillus niger L akan dapat meningkatkan daya cema bewan temak terhadap zat gizi yang terdapat pada ubi kayu sebagai akibat dan aktivitas enzim yang dihasilkan oleh Aspergillus niger L.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan dosis A. niger terbadap kadar protein hasil fermentasi ubi kayu. Data basil penelitian diperoleh melalui eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri dari 1 faktor dengan 3 ulangan, yakni perlakuan dosis A. niger terdiri dari 5 level (0 mll lOOg, 3 ml/100g, 4 ml/lOOg, 5ml/100g dan 6 ml/lOOg). Data hasil penelitian dianahsis dengan menggunakan analisis sidik ragam, dilanjutkan dengan uji BNT 5% dan MOP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis A. niger berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein terlarut, berat kering dan kadar air hasil ferrnentasi ubi kayu. Pada dosis A. niger 5 ml diperoleb kadar protein terlarut hasil fermentasi ubi kayu yang tertinggi, yaitu 0,14583% dengan kadar air sebesar 57,4% dengan wama hitam merata dan berbau khas basil fermentasi.Universitas Jembe

    Pengaruh Konsentrasi Nutrisi Dan Umur Bibit Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Pakcoy (Brassica Rapa L ) Dengan Hidroponik Sistem NFT

    No full text
    Tanaman Pakcoy merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak mengandung vitamin C, B2, B6, B, A, tembaga, kalsium, serat, fosfor, protein, magnesium, dan zat besi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.Tanaman pakcoy dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Tanaman pakcoy bila ditinjau dari aspek ekonomis dan bisnisnya layak untuk dikembangkan atau diusahakan guna memenuhi permintaan konsumen yang semakin lama semakin meningkat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui interaksi yang terjadi antara perlakuan konsentrasi nutrisi dengan umur bibit pada pakcoy (Brassica rapa L). Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pompa air, pipa, Tandon, benih pakcoy nauli F1, nutrisi ab mix dan rockwool. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan rancangan petak terbagi  (split plot) dengan menggunakan fua faktor. penelitian dilakukan pada bulan Januari 2021 hingga April 2021 di Hero Farm yang terletak di jalan perumahan pns malang, Jawa timur. Hasil percobaan ini menunjukkan adanya interaksi antara perlakuan konsentrasi nutrisi dan umur bibit terhadap beberapa parameter dan pada umur bibit 5 HSS dengan pemberian konsentrasi 1150 ppm menunjukkan hasil yang paling tinggi terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun berat kering dan berat basah. Kesimpulan percobaan ini yaitu terdapat interaksi antara perlakuan konsentrasi nutrisi dengan umur bibit terhadap tinggi tanaman pada umur 2 MST, jumlah daun, berat basah tanaman pakcoy dan berat kering tanaman pakcoy. Pada parameter laju pertumbuhan tanaman, luas daun dan indeks klorofil tidak terdapat interaksi antara perlakuan konsentrasi nutrisi dengan umur bibit
    corecore