18 research outputs found
UJI ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DI PROVINSI RIAU
UJI ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS BAWANG MERAH
(Allium ascalonicum L.) DI PROVINSI RIAU
Dedy Affandy (11880213510)
Dibawah bimbingan Rosmaina dan Zulfahmi
INTISARI
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu sayuran yang diminati di Indonesia untuk bumbu masakan dan obat dengan konsumsi yang terus meningkat. Di Provinsi Riau kebutuhan bawang merah belum terpenuhi karena varietas yang kurang adaptif dengan dataran rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kultivar bawang merah terbaik yang dapat berproduksi baik di Provinsi Riau dan mengetahuai nilai heritabilitas masing-masing kultivar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari tiga kelompok dan empat varietas tanaman bawang merah yaitu Bauji, Bima Brebes, SS-Sakato, dan Gayo. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, jumlah umbi, diameter umbi, berat umbi per siung, berat basah per rumpun, dan berat kering per rumpun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas SS-Sakato dan Bima Brebes merupakan kultivar bawang merah terbaik, hal ini terlihat dari tinggi tanaman (37,08 cm dan 34,94 cm), diameter umbi (21,50 mm dan 19,73 mm), serta berat umbi per siung (6,35 g dan 5,86 g) serta nilai heritabilitas yang tinggi sehingga seleksi dapat dilakukan pada generasi awal tanaman. Umur panen pada keempat varietas bawang merah yang diujikan lebih cepat dibandingkan masing-masing deskripsi. Kesimpulan dari penelitian ini SS-Sakato dan Bima Brebes sangat baik ditanam di dataran rendah seperti Provinsi Riau.
Kata Kunci : Adaptasi, Dataran Rendah, Umur Panen, Varieta
Aplikasi Pupuk Organik Cair dan PGPR Untuk Meningkatkan Hasil Tanaman Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) pada Budidaya Hidroponik Sistem Sumbu
Petani masih membudidayakan tanaman bayam merah (Amaranthus tricolor L) di media tanah. Media tanah banyak membutuhkan pemeliharaan dalam budidayanya. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan sistem pertanian hidroponik. Kelemahan dalam sistem hidroponik adalah masih mengggunakan pupuk anorganik sebagai larutan nutrisi. Pupuk organik cair merupakan pupuk berasal dari senyawa organik sehingga dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik. Bio P60 mampu memicu pertumbuhan tanaman karena memiliki Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji pengaruh pemberian pupuk organik cair terhadap hasil tanaman bayam merah, (2) mengkaji pengaruh PGPR terhadap hasil tanaman bayam merah, (3) mengkaji interaksi antara konsentrasi pupuk organik cair dan PGPR terhadap hasil tanaman bayam merah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2019 di Screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dan di Laboratorium Agrohortikultura Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial. Faktor pertama menggunakan konsentrasi pupuk organik cair (P) yang terdiri dari 3 taraf yaitu 10ml/l ; 15ml/l ; dan 20ml/l. Faktor kedua yaitu menggunakan PGPR (B) yang terdiri dari 3 taraf yaitu 10ml/l; 20ml/l; dan 30ml/l. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kehijauan daun, panjang akar, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman. Data hasil pengamatan diolah dan dianalisis menggunakan microsoft excel dengan aplikasi DSAASTAT pada uji F taraf 5%. Uji F yang terbaik maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji F DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penggunaan pupuk organik cair dalam penelitian ini mampu meningkatkan tinggi tanaman setinggi 20,18 cm; kehijauan daun sebesar 10,98 unit; dan bobot tanaman segar sebesar 8,52 g. (2) PGPR dalam penelitian ini tidak meningkatkan hasil tanaman bayam merah. (3) Interaksi pupuk organik cair dan PGPR dalam penelitian ini tidak meningkatkan hasil tanaman bayam merah
Aplikasi Pupuk Organik Cair dan PGPR untuk Meningkatkan Hasil Tanaman Bayam Merah (Amaranthus Tricolor L.) pada Budidaya Hidroponik Sistem Sumbu
Petani masih membudidayakan tanaman bayam merah (Amaranthus tricolor L) di media tanah. Media tanah banyak membutuhkan pemeliharaan dalam budidayanya. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan sistem pertanian hidroponik. Kelemahan dalam sistem hidroponik adalah masih mengggunakan pupuk anorganik sebagai larutan nutrisi. Pupuk organik cair merupakan pupuk berasal dari senyawa organik sehingga dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik. Bio P60 mampu memicu pertumbuhan tanaman karena memiliki Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji pengaruh pemberian pupuk organik cair terhadap hasil tanaman bayam merah, (2) mengkaji pengaruh PGPR terhadap hasil tanaman bayam merah, (3) mengkaji interaksi antara konsentrasi pupuk organik cair dan PGPR terhadap hasil tanaman bayam merah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2019 di Screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dan di Laboratorium Agrohortikultura Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial. Faktor pertama menggunakan konsentrasi pupuk organik cair (P) yang terdiri dari 3 taraf yaitu 10ml/l ; 15ml/l ; dan 20ml/l. Faktor kedua yaitu menggunakan PGPR (B) yang terdiri dari 3 taraf yaitu 10ml/l; 20ml/l; dan 30ml/l. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kehijauan daun, panjang akar, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman. Data hasil pengamatan diolah dan dianalisis menggunakan microsoft excel dengan aplikasi DSAASTAT pada uji F taraf 5%. Uji F yang terbaik maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji F DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penggunaan pupuk organik cair dalam penelitian ini mampu meningkatkan tinggi tanaman setinggi 20,18 cm; kehijauan daun sebesar 10,98 unit; dan bobot tanaman segar sebesar 8,52 g. (2) PGPR dalam penelitian ini tidak meningkatkan hasil tanaman bayam merah. (3) Interaksi pupuk organik cair dan PGPR dalam penelitian ini tidak meningkatkan hasil tanaman bayam merah
PENGARUH JENIS MEDIA TANAM DAN KONSENTRASI ROOTONE-F TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK TANAMAN LADA (PIPER NIGRUM L.)
Pengaruh jenis media tanam dan konsentrasi Rootone-F terhadap pertumbuhan setek tanaman lada merupakan tujuan dari penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Sektor Timur, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei-Agustus 2021. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 4x3 dengan 3 ulangan. Faktor yang diteliti ada 2 yaitu jenis media tanam yang terdiri dari M0 = tanah, M1 = tanah : sekam padi (1:1), M2 = tanah : arang sekam (1:1), M3 = tanah : kompos TKKS (1:1) serta 3 tingkatan konsentrasi Rootone-F yang terdiri atas R0 = 0 ppm (kontrol), R1 = 100 ppm (0,1 ml/L), dan R2 = 200 ppm (0,2 ml/L) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat interaksi sangat nyata antara pengaruh jenis media tanam dan konsentrasi Rootone-F terhadap pertumbuhan setek tanaman lada pada parameter panjang tunas 90 HST, interaksi yang nyata pada umur 30 dan 60 HST, diameter pangkal batang 30 dan 60 HST serta pada parameter berat berangkasan kering 90 HST
Pengaruh Pupuk Kandang Dan Ukuran Lubang Tanam Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Awal Tanaman Jati Emas (Tectona grandis L.)
Kayu jati ( Tectona grandis L. ) atau yang biasa disebut dengan jati emas merupakan tanaman yang dibudidayakan untuk digunakan kayunya sebagai bahan baku mebel dan bangunan. Masalah kekurangan permintaan kayu jati di pasaran maupun di luar negeri dapat diatasi dengan membudidayakan tanaman jati. Namun saat ini dapat diperkirakan bahwa pasokan kayu jati lokal hanya mampu dipenuhi sekitar kurang lebih 30% dari permintaan. Pengetahuan tentang cara budidaya tanaman jati juga harus dimiliki bagi seorang petani. Pemupukan adalah salah satu hal yang harus diperhatikan oleh petani dalam menanam tanaman jati. Pupuk berfungsi sebagai penyedia nutrisi dan unsur hara bagi tanaman jati emas dan lubang tanam merupakan salah satu faktor yang akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan tanaman. Jika ukuran lubang tanam tidak sesuai dengan standar, maka hasil pertumbuhan suatu tanaman menjadi tidak optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara pupuk kandang dan ukuran lubang tanam terhadap pertumbuhan vegetatif awal tanaman jati emas. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh beda nyata antara pemberian jumlah pupuk kandang dan ukuran lubang tanam pada pertumbuhan vegetatif awal tanaman jati emas. Penelitian telah dilakukan di Unit Usaha Akademika Agro Techno Park Universitas Brawijaya yang berlokasi di Kebun Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, pada bulan Mei sampai dengan September 2016. Jenis tanaman yang telah diteliti adalah jati emas. Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) diulang 3 kali. Faktor pertama yaitu ukuran lubang tanam dan faktor kedua adalah aplikasi pupuk kandang kambing. Dalam setiap perlakuan jumlah tanaman sampel sebanyak 6, perlakuan kombinasi didapatkan 12 x 6 x 3 = 216 tanaman. Bibit jati emas ditanam dengan jarak tanam (3 x 3) m2. Bibit yang digunakan telah berumur 6 bulan dengan tinggi tanaman rata-rata ±50 cm. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5%. Apabila terdapat interaksi pengaruh nyata (F hitung > F tabel 5%), maka akan dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5% untuk melihat perbedaan diantara perlakuan. Hasil yang didapatkan setelah penelitian yaitu tidak ada interaksi nyata antara perlakuan ukuran lubang tanam dan pemberian pupuk kandang kambing terhadap pertumbuhan vegetatif awal tanaman jati emas. Perlakuan ukuran lubang tanam menunjukkan pengaruh nyata pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, dan umur daun dewasa. Perlakuan pupuk kandang menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh variabel pertumbuhan tanaman. Analisis ragam pada variabel tinggi tanaman menunjukkan bahwa terdapat hasil beda nyata pada semua umur pengamatan perlakuan lubang tanam. Jumlah daun i menunjukkan hasil beda nyata pada umur pengamatan 11 mst dan 14 mst perlakuan lubang tanam. Variabel pengamatan jumlah pendewasaan daun menunjukkan hasil beda nyata pada umur pengamatan 8 mst, 11 mst, dan 14 mst perlakuan lubang tanam. Sedangkan variabel pengamatan yang menunjukkan tidak berbeda nyata yaitu, diameter batang, jumlah daun gugur, muncul tunas, luas daun, dan presentase kematian
Analysis on 3RWB model (Reduce, reuse, recycle, and waste bank) in comprehensive waste management toward community-based zero waste
PERBANDINGAN PEMBERIAN SEDUHAN BUAH ASAM JAWA (Tamarindus indica L) DAN MULTIVITAMIN TERHADAP KETEBALAN KOLAGEN PASCA GINGIVEKTOMI PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) JANTAN
Kesimpulan:
Pemberian seduhan asam jawa dan multivitamin membantu proses penyembuhan
dengan meningkatkan jumlah kolagen
2. Pemberian seduhan asam jawa lebih meningkatkan ketebalan kolagen
dibandingkan dengan multivitamin.
5.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang asam jawa dan multivitamin dalam
membantu proses penyembuhan dalam dosis yang tepat sesuai dengan kebutuhan
yang diperlukan.
2. Asam jawa dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional yang bisa digunakan
sebagai alternatif pengganti multivitamin dalam membantu proses penyembuhan
Skrining fitokimia pada tanaman penyembuh luka di Lombok Timur
The ethnomedicinal study which conducted in East Lombok revealed 5 potentially plants that have wound healing properties (Jatropha multifida L., Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl, Centella asiatica (L.) Urban, Euphorbia pulcherrima Willd, and Angelica keiskei). The five plants have been no further research related to the presence of compounds that have activity in wound healing. This study aims to screen the plants secondary metabolites from above plants. The sample was maserated with 96% solvent methanol. The viscous extract was determined by physical characterization including consistency and color as well as chemical characterization, namely the phytochemical screening test. The results showed that the five plants contained flavonoids, phenolics, saponins, and steroids, except for Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl showed negative results for saponins and Angelica keiskei showed negative results for steroid compounds. Keywords: phytochemical screening, total phenolic content, wound healing herbs, East Lombo
Tampilan Pubertas Sapi PO Jantan Muda pada Pengelolaan Kandang yang Berbeda
Tampilan Pubertas Sapi PO Jantan Muda pada Pengelolaan Kandang yang Berbed
Konsentrasi Testoteron dan Luteunizing Hormone Sapi PO Jantan Muda pada Model Kandang yang Berbeda terhadap Percepatan Pubertas
Konsentrasi Testoteron dan Luteunizing Hormone Sapi PO Jantan Muda pada Model Kandang yang Berbeda terhadap Percepatan Puberta
