1,721,129 research outputs found
KAJIAN VISUAL WAYANG BEBER KARYA PUJIANTO KASIDI
ABSTRAK
KAJIAN VISUAL WAYANG BEBER KARYA PUJIANTO KASIDI
(Khoirul Anwar, halaman 82) skripsi S-1 Jurusan Seni Rupa Murni, Institut Seni
Indonesia Surakarta.
Skripsi ini fokus mengkaji tentang kajian visual wayang beber karya
Pujianto Kasidi, meliputi latar belakang pembuatan wayang beber karya Pujianto
Kasidi, proses pembuatan, konsep, dan karakter visual wayang beber karya
Pujianto Kasidi.
Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang
bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan teori Lexy.J.Moleong. Obyek
yang diteliti adalah karakter visual wayang beber karya Pujianto Kasidi. Penulis
menggunakan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi, dan
wawancara. Validitas data menggunakan triangulasi data dengan memanfaatkan
sumber data dan review wawancara yang telah dilakukan. Analisis data yang
digunakan adalah analisis interaksi dengan Pujianto Kasidi secara langsung untuk
mengetahui latar belakang pembuatan wayang beber karya Pujianto Kasidi, proses
pembuatan, konsep, dan karakter visual wayang beber karya Pujianto Kasidi dan
menggunakan interpretasi melalui pendekatan teori estetika Monroe Beardsley.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, latar belakang penciptaan karya dan
proses penciptaan karya ditujukan untuk pelestarian seni tradisi Indonesia. Pada
proses penciptaannya membutuhkan serangkaian proses. Dari hasil penelitian
tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Pujianto Kasidi merupakan seorang
perajin sekaligus satu-satunya pelestari wayang beber di Kota Sragen. Dalam proses pembuatan karya wayang beber, Pujianto Kasidi tidak hanya terpaku pada bentuk-bentuk hiasan atau ornamen-ornamen, corak, dan warna yang pakem, namun Pujianto Kasidi mengembangkan sendiri bentuk-bentuk hiasan ornamenornamen, corak, dan warna pada setiap karyanya.
Kata kunci: Visualisasi, Wayang beber, Pujianto Kasid
Pembangunan Kota Surabaya Pada Masa Pemerintahan Walikota Poernomo Kasidi Tahun 1984-199
Kota Surabaya merupakan kota metropolitan, kota industri, dan tempat perputaran ekonomi yang menjadi tujuan urbanisasi berbagai daerah yang ada di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan terjadinya beberapa permasalahan, salah satunya adalah pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi. Dalam mengatasi permasalahan kepadatan penduduk dibutuhkan kebijakan dan tindakan dari Pemerintah Kota Surabaya. Berbagai pembangunan juga dilakukan sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut. Pada tahun 1984 hingga 1994 selama pemerintahan Walikota Poernomo Kasidi, terdapat beberapa kemajuan pembangunan yang telah dilakukan secara signifikan. Dengan menggunakan metode sejarah yang terdiri dari pengumpulan data (heuristik), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, skripsi ini memilih fokus pembahasan pembangunan Kota Surabaya pada masa Walikota Poernomo Kasidi. Pembangunan yang dilakukan sebagai upaya mengatasi kepadatan penduduk pada masa tersebut antara lain meliputi pembangunan sarana dan prasarana serta fasilitas yang mendukung seperti perumahan, rumah susun, akses jalan dan jembatan, saluran pematusan, sarana kebersihan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan pengembangan sektor pariwisat
SURABAYA SEBAGAI KOTA ADIPURA PADA MASA KEPEMIMPINAN POERNOMO KASIDI PADA TAHUN 1984 – 1994
Pembangunan tidak akan lepas dari peranan sumber daya alam sebagai peletak dasar adanya kehidupan, begitu juga pembangunan di Surabaya. Surabaya adalah salah satu kota yang mengalami fase perkembangan melalui pembangunan yang menyeimbangkan dengan lingkungan. Surabaya adalah kota metropolitan yang sarat akan potensi pengembangan kota dan tingginya urbanisasi. Meningkatnya jumlah penduduk menimbulkan permasalahan khas perkotaan yang lebih kompleks yaitu masalah kebersihan dan keindahan kota, termasuk diantaranya adalah masalah persampahan dan perkampungan yang tergolong kumuh. Permasalahan tersebut tentunya akan menghambat perkembangan pembangunan, maka dari itu pemerintah mengembangkan konsep pembangunan yang selaras dengan lingkungan hidup sehingga akan tercipta keseimbangan antara lingkungan dan pembangunan. Dalam mendukung penyeimbangan antara lingkungan hidup dan pembangunan, pemerintah pusat memberikan apresiasi berupa penghargaan Adipura yang menjadi lambang supremasi terhadap kota yang dinilai memiliki tingkat kebersihan yang tinggi. Rumusan masalah yang kemudian muncul sebagai bahan penelitian adalah (1) Bagaimana kebijakan Walikotamadya Surabaya Poernomo Kasidi dalam mengatasi permasalahan lingkungan hidup di Surabaya ? (2) Bagaimana implementasi dari kebijakan-kebijakan pemerintah Walikotamadya Surabaya Poernomo Kasidi untuk menjadikan Surabaya sebagai kota Adipura ? (3) Bagaimana dampak dari kebijakan lingkungan yang diterapkan oleh pemerintah Walikota Surabaya bagi perkembangan kota Surabaya ?. Permasalahan tersebut dikaji berdasarkan sumber yang telah ditelaah. Pemerintah Walikotamadya Surabaya Poernomo Kasidi dalam masa baktinya melakukan beberapa program untuk mengatasi permasalahan lingkungan yaitu Program Perbaikan Kampung, Program Kebersihan dan Keindahan Kota serta Program Kali Bersih. Program-program tersebut berdampak pada keberhasilan Surabaya untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan asrih sehingga mendorong Surabaya untuk memperoleh penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup yaitu penghargaan Adipura dapat membantu untuk mempercepat laju pembangunan di Surabaya.
Kata Kunci: Lingkungan Hidup, Surabaya, Adipur
KOHESI SEBAGAI PENANADA WACANA DALAM DESKRIPSI VIDEO ESSI 449: KASIDI MENJADI KEPALA NEGARA KARYA TRI BUDHI SASTRIO
AbstrakPuncak penelitian ini, mendedah kohesi sebagai penanda wacana dalam deskripsi video Essi 449: Kasidi Menjadi Kepala Negara Karya Tri Budhi Sastrio. Tulisan dalam deskripsi video tersebut merupakan salah satu bentuk wacana. Salah satu hal yang menjadi penandanya adalah kohesi. Sebagai unsur yang menjadi penentu keutuhan sebuah wacana, kohesi mengkaji tentang pertalian kalimat-kalimat yang disusun secara padu dan utuh sehingga menghasilkan wacana yang utuh. Dalam analisis-kajiannya peneliti menggunakan konsep Sumarlam sebagai acuan klasifikasi penanda kohesi leksikal dan gramatikal dalam wacana. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan deskripsi video Essi 449: Kasidi Menjadi Kepala Negara Karya Tri Budhi Sastrio sebagai objek kajian. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka dengan teknik deskriptif analitis sebagai teknik analisis data. Hasil temuan penelitian menunjukkan kohesi sebagai penanda wacana terbagi menjadi kohesi leksikal dan kohesi gramatikal. Kohesi leksikal ditandai oleh: (i) repetisi, (ii) sinonimi, (iii) antonimi, (iv) hiponimi, (v) kolokasi, dan (vi) ekuivalensi. Sedangkan, kohesi gramatikal ditandai oleh: (i) referensi, (ii) substitusi, (iii) penghilangan, dan (iv) konjungsi. Variasi penggunaan kohesi leksikal dan kohesi gramatikal dalam Essi 449: Kasidi Menjadi Kepala Negara Karya Tri Budhi Sastrio adalah salah satu wujud penerapan jenis-jenis penanda kohesi dalam wacana
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
