1,721,034 research outputs found

    Analisis Efektivitas Pelaksanaan Program Pelatihan Tata Boga dalam Upaya Menekan Angka Pengangguran (Studi Kasus pada UPTD Balai Latihan Kerja Kabupaten Kudus Tahun 2017)

    No full text
    Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Kudus, merupakan lembaga pelatihan kerja yang telah melaksanakan berbagai program pelatihan, diharapkan mampu menekan angka pengangguran khususnya di Kabupaten Kudus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pelakasanaan program pelatihan tata boga, 2) efektivitas pelakasanaan program pelatihan tata boga, 3) dampak setelah pelaksanaan program pelatihan tata boga dalam upaya menekan angka pengangguran. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan (field research) yang disajikan secara diskriptif kualitatif. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, angket, dan dokumentasi. Tenik analisis data menggunakan Reduksi data (data reduction), Penyajian data (data display), Kesimpulan (verification). Hasil penelitian menunjukkan bahwa; Pelaksanaan pelatihan tata boga di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Kudus tahun 2017 berjalan dengan baik, Efektivitas pelatihan tata boga menggunakan alat ukur model indikator yang dikembangkan oleh Kirkpatrik, meliputi: 1) Evaluasi reaksi, 2) Evaluasi belajar, 3) Evaluasi perilaku, 4) Evaluasi hasil, menunjukkan pelatihan tata boga tahun 2017 belum dapat dikatakan efektif sebab indikator evaluasi reaksi dan indikator evaluasi hasil menunjukkan peserta pelatihan belum mampu mewujudkan tujuan dari pelatihan tata boga yaitu menciptakan peserta pelatihan menjadi wirausahawan sepenunya di bidang boga, Dampak setelah pelatihan menunjukkan hal yang positif karena terdapat 6 orang yang memulai usaha kecil-kecilan, sehingga dapat dikatakan bahwa pengangguran belum sepenuhnya teratasi namun upaya menekan angka pengangguran BLK telah berhasil mewujudkannya meskipun alumni pelatihan tata boga tahun 2017 masih dikatakan setengah penganggur

    Penerapan Model Pembelajaran Think-Pair-Share untuk Meningkatan Kemampuan Menulis Surat Lamaran Pekerjaan pada Siswa Kelas XII IPS 1 SMA Negeri 2 Ujung Batu Tahun Pelajaran 2020/2021

    Full text link
    Pada kelas XII terdapat materi menulis surat lamaran pekerjaan. Siswa SMA setelah lulus sebagian besar bekerja. Agar tidak kesulitan menulis surat lamaran pekerjaan, siswa harus memahami kaidah penulisan surat lamaran pekerjaan secara benar. Kemampuan menulis surat lamaran pekerjaan Siswa Kelas XII IPS 1 SMA Negeri 2 Ujung Batu Tahun Pelajaran 2020/2021rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai Ulangan Harian I tentang surat lamaran pekerjaan. Nilai rata-rata hanya 70,87 sedangkan ketuntasan belajar hanya sebesar 66,67%. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana kemampuan menulis surat lamaran pekerjaan siswa dan untuk mengetahui apakah pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share dapat meningkatkan kemampuan menulis surat lamaran siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kemampuan menulis surat lamaran pekerjaan siswa dan untuk mengetahui apakah pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share dapat meningkatkan kemampuan menulis surat lamaran siswa. Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan revisi. Sasaran penelitian ini adalah Siswa Kelas XII IPS 1 SMA Negeri 2 Ujung Batu Tahun Pelajaran 2020/2021. Data yang diperoleh berupa hasil tes subjektif dan lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Hasil penelitian yang diperoleh adalah adanya peningkatan kemampuan menulis surat lamaran dan siswa tertarik dan berminat dengn metode pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar &nbsp

    REKONSTRUKSI PERLINDUNGAN HUKUM PESERTA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL PENERIMA BANTUAN IURAN (PBI) BERBASIS NILAI KEADILAN

    Full text link
    Salah satu upaya pemerintah dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat maka pemerintah menetapkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terutama kepada orang yang tidak mampu di atur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Namun, dalam praktiknya ditemukan beberapa permasalahan seperti ada kecenderungan masyarakat untuk menganggap bahwa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Bidang Kesehatan menanggung semua pembiayaan pelayanan kesehatan dan tidak adanya jaminan kenyamanan yang di terima oleh peserta BPJS PBI. Hal ini menunjukkan belum terwujudnya penegakan perlindungan hukum yang menyangkut hak-hak orang tidak mampu peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan dalam perspektif HAM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis perlindungan hukum dan permasalahan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional Penerima Bantuan Iuran (PBI), untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor hukum yang memengaruhi pelaksanaan sistem Jaminan Kesehatan Nasional terhadap peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan untuk mengetahui dan menganalisis rekonstruksi Pasal 11 Undang-Undang BPJS terhadap peserta Jaminan Kesehatan Nasional Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang berbasis nilai keadilan Penelitian ini menggunakan jenis penelitian penelitiandan pendekatan Socio Legal (socio-legal research). Paradigma uang digunakan adalah Paradigma Konstruktivisme untuk memahami bahwa realitas yang ada itu tidak bisa digeneralisasikan terhadap suatu konteks dalam waktu tertentu. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive non random sampling dengan teknik purposive sampling. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dapat dilihat secara jelas baik dari kajian teoritis maupun kajian empiris, termasuk tinjauan dari produk peraturan perundang-undangan maupun kebijakan pemerintah serta institusi dalam konteks Negara Kesejahteraan (Welfare State) sebagai upaya pemerintah memberikan jaminan sosial dan pelayanan sosial kepada seluruh rakyatnya secara berkeadilan. Perlindungan hukum bagi pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional Penerima Bantuan Iuran (PBI)menjadi sesuatu hal yang penting karena hal ini berkaitan erat dengan penanganan dan pelayanan kesehatan yang nantinya akan diterima oleh pasien. Pelaksanaan perlindungan hukum bagi orang yang tidak mampu sudah dilaksanakan akan tetapi tidak optimal. Faktor-faktor hukum yang paling memengaruhi terhadap pelaksanaan perlindungan bagi orang yang tidak mampu di rumah sakit saat ini adalah faktor masyarakat, yaitu tidak sadar hukum dan atau tidak patuh hukum maka tidak ada keefektifan. Selain itu masih ada pembedaan pelayanan kesehatan yang di terima oleh pasien peserta BPJS PBI dengan pasien BPJS Non-PBI. Konstruksi Ideal Sistem Jaminan Sosial Nasional Bidang Kesehatan Berbasis Nilai Kesejahteraan dapat terwujud dengan upaya merekonstruksi hukum terhadap Pasal 11 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dengan merekonstruksi terhadap 3 (tiga) komponen yaitu penguatan komponen substansi hukum, penguatan komponen struktur hukum dan penguatan komponen kultur hukum. Kata Kunci : Rekonstruksi Hukum, Jaminan Kesehatan, Perlindungan Hukum

    KAJIAN YURIDIS TERHADAP IKRAR TALAK YANG BERUPA AKTA OTENTIK PADA KASUS PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA PURWOKERTO

    Full text link
    Talak adalah ikrar suami di hadapan sidang Pengadilan Agama (Pasal 117 KHI). Talak yang akan diikrarkan oleh suami kepada isterinya, dilakukan oleh si suami dengan mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal isteri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan penjatuhan ikrar talak tersebut (Pasal 129 KHI). Di dalam praktik, permohonan yang diajukan oleh suami tersebut dikenal dengan sebutan permohonan talak, yang mana suami berkedudukan sebagai Pemohon, sedangkan istri sebagai Termohon. Bahwa dalam pengucapan ikrar talak dalam praktek di Pengadilan Purwokerto ada yang tidak diucapkan sendiri oleh pihak Pemohon (suami) tetapi dikuasakan kepada Kuasa hukum dengan menggunakan surat kuasa berbentuk otentik. Terhadap Pengucapan ikrar talak berupa akta otentik pada kasus perceraian di Pengadilan Agama Purwokerto tersebut, diantara para praktisi hukum masih terdapat perbedaan pendapat tentang keabsahan atas surat kuasa berbentuk akta otentik sebagai pengganti pengucapan ikrar talak yang seharusnya diucapkan langsung oleh pemohon (suami). Atas latar belakang ini sehingga perlu adanya keseragaman untuk memastikan keabsahan ikrar talak pada kasus permohonan cerai talak. Hal inilah yang mendorong penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Kajian Yuridis Terhadap Ikrar Talak Yang Berupa Akta Otentik Pada Kasus Perceraian Di Pengadilan Agama Purwokerto”. Atas permasalahan ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut: bagaimana keabsahan Ikrar Talak berupa akta otentik pada kasus perceraian di Pengadilan Agama Purwokerto, bagaimana Putusan Hakim tentang keabsahan Ikrar Talak berupa akta otentik pada kasus perceraian di Pengadilan Agama Purwokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normative, dalam pengumpulan data lebih ditekankan pada sumber bahan primer,berupa peraturan perundang-undangan, menelaah kaidah-kaidah hukum maupun teori ilmu hukum sera di tambah dengan wawancara kepada para pihak yang terkait dengan masalah yang di teliti.Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik simpulan bahwa keabsahan Ikrar Talak berupa akta otentik pada kasus perceraian di Pengadilan Agama Purwokerto harus berdasarkan ketentuan-ketentuan Kompilasi Hukum Islam, yaitu ikrar talak suami di hadapan sidang Pengadilan Agama (Pasal 117 KHI) dengan disertai alasan-alasan perceraian sebagaimana diatur di dalam Pasal 116 KHI. Permohonan yang diajukan oleh suami tersebutdikenal dengan sebutan permohonan talak, yang mana suami berkedudukan sebagai Pemohon, sedangkan istri sebagai Termohon.Pada kasus ini Pemohon mengucapkan ikrar talak diwakili oleh kuasa berdasar kuasa khusus yang berbentuk “autentik” yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang. Dengantegas dicantumkan bahwa pemberian kuasa untuk “mengucapkan ikrar talak”. Jadi di samping bentuk surat kuasa khususnya autentik, redaksionalnya juga secara tegas memberi kuasa untuk mengucapkan ikrar talak. Kedua unsur tersebut merupakan syarat formal keabsahan kuasa.Putusan Hakim tentang keabsahan Ikrar Talak berupa akta otentik pada kasus perceraian di Pengadilan Agama Purwokerto,dalam Konpensi mengabulkan permohonan pemohon dan menetapkan memberi izin kepada Pemohon untuk mengucapkan ikrar thalak terhadap Termohon dihadapan sidang Pengadilan Agama Purwokerto. Dalam Rekonpensi : mengabulkan gugatan Termohon sebagian, menghukum Pemohon untuk membayar kepada Penggugat Termohon berupa : Muth’ah), Nafkah seorang anak setiap bulan hingga anak tersebut dewasa, menolak selain dan selebihnya. Dalam Konpensi Dan Rekonpensi membebankan kepada Pemohon untuk membayar biaya perkara. Kata kunci : ikrar talak, akta otentik, kasus perceraia

    STRATEGI PEMASARAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM (Studi terhadap Strategi Pemasaran di MAN Purwokerto 1 dan MA Wathoniyah Islamiyah Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas)

    No full text
    Madrasah is educational institutions which grew and developed from, by, and for the community. In the era of globalization, madrasah supposedly able to adjust to the times that its presence is still needed by the community. The emergence of Islamic characterized excellent schools makes the madrasah role seemed displaced from Islamic education stage. Displaying MAN Purwokerto 1 and MA Wathoniyah Islamiyah Kebarongan still won the society trust in education services becomes important things to do. The results of this study are expected to be useful for other madrasah in the introducing of educational services to the community. This study aimed to describe the design of the marketing strategy of Islamic educational institutions in MAN Purwokerto 1 and MA Wathoniyah Islamiyah Kebarongan. This study used a qualitative approach. Data collection technique used observation, interview, and documentation. Data were analyzed using data reduction, data presentation, and data verification. This study found that, first, the design of the marketing strategy of MAN Purwokerto 1: 1) to identify and target prospective students, 2) positioning and differentiation of the marketing mix, and 3) forms of marketing activities: forming madrasah promotion team, utilizing RRI and internet media, delivery of the registration brochure, community activities, and competitions for SMP/MTs students. Secondly, the design of marketing strategies MA Wathoniyah Islamiyah Kebarongan are: 1) segmenting and targetting, 2) positioning, 3) differentiation of the marketing mix, and 4) forms of marketing activities: forming promotion madrasah team, distribution of brochures registration, use of Internet media and newspapers, Amaliyah Da'wah activities, and build the loyalty of alumni, especially alumni of MTs Islamiyah Wathoniyah Kebarongan, and empowerment IKAPMAWI. Third, the factors supporting the marketing strategy of Islamic educational institutions in MAN Purwokerto 1 include: good communication with the public and various agencies, promotion of adequate funds, the availability of multimedia and promotion funds. Whereas the inhibiting factors, among others: the limited number of means of transportation, and limited promotion of madrasah professional team. Supporting factors in MA Wathoniyah Islamiyah Kebarongan among others: fanaticism and loyalty of alumni, foundation support POMESMAWI, conducive learning location, the neutrality of the institution, and teamwork promotion. Whereas the inhibiting factors include: there are madrasah elements of passive in promotional activities, and has not had a madrasah promotion management

    Analysis of Industrial Management and Added Value of Tenggiri Fish Pempek, Case Study of IKM Jeol Food Indonesia, Bandung City

    Full text link
    The fishery product processing industry plays a significant role in enhancing product added value and stimulating local economic growth for national development. However, research related to industrial management and added value in SMEs processing Spanish mackerel pempek remains limited, particularly in the post-COVID-19 pandemic period. This study aims to analyze industrial management and the added value of Spanish mackerel pempek at Jeol Food Indonesia SME in Bandung City. The research employed a survey method, collecting data through observations and interviews with the business owner. Both primary and secondary data were utilized. The analysis encompassed three aspects of industrial management: raw material procurement, production, and marketing, along with added value calculation using the Hayami method, a method designed to measure commodity value enhancement due to functional inputs. Results indicated efficient raw material procurement managed via a pre-order system with two main suppliers ensuring quality and supply continuity. Production processes adhered to Good Manufacturing Practices (GMP) standards, utilizing technology such as planetary mixers and vacuum sealers, along with process layout optimized for operational efficiency. Marketing strategies involved market segmentation, cost-plus pricing, digital promotions, and multi-channel distribution, including exports. Added value analysis revealed that processing 10 kg of minced fish yielded 28.57 kg of pempek, generating an added value of IDR 210,624/kg and a high value-added ratio of 42%. Profit margins reached 52.78%. These findings demonstrate that the processing of Spanish mackerel by Jeol Food Indonesia SME contributes significantly to added value and profitability.The fishery product processing industry plays a significant role in enhancing product added value and stimulating local economic growth for national development. However, research related to industrial management and added value in SMEs processing Spanish mackerel pempek remains limited, particularly in the post-COVID-19 pandemic period. This study aims to analyze industrial management and the added value of Spanish mackerel pempek at Jeol Food Indonesia SME in Bandung City. The research employed a survey method, collecting data through observations and interviews with the business owner. Both primary and secondary data were utilized. The analysis encompassed three aspects of industrial management: raw material procurement, production, and marketing, along with added value calculation using the Hayami method, a method designed to measure commodity value enhancement due to functional inputs. Results indicated efficient raw material procurement managed via a pre-order system with two main suppliers ensuring quality and supply continuity. Production processes adhered to Good Manufacturing Practices (GMP) standards, utilizing technology such as planetary mixers and vacuum sealers, along with process layout optimized for operational efficiency. Marketing strategies involved market segmentation, cost-plus pricing, digital promotions, and multi-channel distribution, including exports. Added value analysis revealed that processing 10 kg of minced fish yielded 28.57 kg of pempek, generating an added value of IDR 210,624/kg and a high value-added ratio of 42%. Profit margins reached 52.78%. These findings demonstrate that the processing of Spanish mackerel by Jeol Food Indonesia SME contributes significantly to added value and profitability

    Fortification of Dry Cakes with Fish Flour to Enhance Nutritional Value: A Review

    Full text link
    Fishmeal is a rich source of animal protein and essential nutrients, offering significant potential for food fortification, particularly in cookies and pastries, which are typically low in protein. This article presents a literature review of various studies evaluating the addition of fishmeal derived from local fish species such as biang, anchovy, mackerel, swanggi, and roa in the production of baked goods. The findings show that incorporating fishmeal at concentrations between 10–20% significantly increases products' protein content—for example, Swanggi fish biscuits reaching 19.91% protein and roa fish sticks reaching 15.44%. Several products also showed increased mineral content, such as calcium up to 820.63 mg/100 g. The sensory qualities remained acceptable to consumers, provided the addition levels were not excessive. A primary challenge remains the distinct fishy odor, which can affect consumer acceptance but can be mitigated through appropriate processing techniques. This review concludes that cookie fishmeal fortification is an innovative strategy for improving nutritional quality and utilizing local fishery by-products.Fishmeal is a rich source of animal protein and essential nutrients, offering significant potential for food fortification, particularly in cookies and pastries, which are typically low in protein. This article presents a literature review of various studies evaluating the addition of fishmeal derived from local fish species such as biang, anchovy, mackerel, swanggi, and roa in the production of baked goods. The findings show that incorporating fishmeal at concentrations between 10–20% significantly increases products' protein content—for example, Swanggi fish biscuits reaching 19.91% protein and roa fish sticks reaching 15.44%. Several products also showed increased mineral content, such as calcium up to 820.63 mg/100 g. The sensory qualities remained acceptable to consumers, provided the addition levels were not excessive. A primary challenge remains the distinct fishy odor, which can affect consumer acceptance but can be mitigated through appropriate processing techniques. This review concludes that cookie fishmeal fortification is an innovative strategy for improving nutritional quality and utilizing local fishery by-products

    EFEKTIVITAS PENDEKATAN KONTEKSTUAL TERHADAP MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP NEGERI 6 YOGYAKARTA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas pendekatan kontekstual terhadap minat dan prestasi belajar matematika siswa SMP. Penelitian ini merupakan quasi experiment dengan desain penelitian Pretest- Posttest Control Group Design. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Yogyakarta. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas yang dipilih secara acak yaitu kelas VIIIB yang diberikan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual sebagai kelas eksperimen dan kelas VIIIA yang diberikan pembelajaran secara konvensional sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes untuk mengukur prestasi belajar siswa yang terdiri dari soal pretest dan posttest dan instrumen nontes yang berupa angket untuk mengukur minat belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pembelajaran matematikan dengan pendekatan kontekstual efektif ditinjau dari minat belajar siswa SMP, 2) pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa SMP, 3) pembelajaran matematika secara konvensional efektif ditinjau dari minat belajar siswa SMP, 4) pembelajaran matematika secara konvensional efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa SMP, 5) pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional ditinjau dari minat belajar siswa SMP, 6) pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual lebih efektif dibandingkan pembelajaran matematika secara konvensional ditinjau dari prestasi belajar siswa SMP. Kata kunci: minat belajar, pembelajaran konvensional, pendekatan kontekstual, prestasi belaj
    corecore