1,720,992 research outputs found
Madrasah di pesisiran Jawa : kasus madrasah di Kecamatan Wedung Kabupaten Demak (ringkasan disertasi)
Disertasi ini mendiskusikan madrasah di pesisiran Jawa, yaitu tentang karakter dan strategi adaptasinya terhadap perkembangan dan perubahan zaman (globalisasi). Problem akademis (academic problem) dalam penelitian ini adalah tentang eksistensi madrasah di pesisiran Jawa yang bertahan dan dibertahankan bahkan berkembang hingga saat ini, dengan dua pertanyaan penelitian (research questions), yaitu 1) Bagaimanakah karakter (identitas) madrasah di peisiran Jawa? dan 2) Bagaimanakah strategi adaptasi madrasah di pesisiran Jawa terhadap perkembangan dan perubahan zaman (globalisasi)? Penelitian disertasi ini merupakan penelitian kualitatif fenomenografik dengan pendekatan emik, dan metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara mendalam (indepth interview), observasi terlibat (participant obsevation) dan dokumentasi. Sedangkan metode analisis yang diterapkan adalah analisis data, analisis teoretik, dan analisis paradigmatik. Adapun yang menjadi setting kajian penelitian ini adalah pesisiran Jawa sebagai wilayah kebudayaan (culture area), yang berbeda dan dibedakan dengan wilayah pedalamn Jawa, yaitu di Kecamatan Wedung Kabupaten Demak Jawa Tengah, yakni di tiga madrasah: MI Salafiyah Kenduren Wedung, MTs NU Raudlatul Mu’alimin Wedung, dan MA Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan Muslim (YPKM) Raden Fatah Jungpasir Wedung. Hal terpenting yang menjadi temuan dari disertasi ini adalah: Pertama, madrasah di pesisiran Jawa tumbuh dan berkembang di tengah dinamika kebudayaan pesisiran, sedemikian rupa sehingga madrasah di pesisiran Jawa memiliki ciri khas atau karakter unik, yang berbeda dan dibedakan dengan lembaga pendidikan di luarnya. Madrasah di pesisiran Jawa memiliki empat karakter utama yaitu: 1) Madrasah di pesisiran Jawa merupakan lembaga pendidikan berbasis pada ideologi Ahl al-sunnah wa al-jama’ah atau Aswaja (ideological identity). 2) Madrasah di pesisiran Jawa berbasiskan pada kepercayaan dan partisipasi masyarakat (social capital identity); 3) Madrasah di pesisiran Jawa merupakan lembaga pendidikan populis (populace identity); dan 4) Madrasah di pesisiran Jawa merupakan lembaga pendidikan yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dengan kyai (kyai based identity). Kedua, strategi adaptasi yang dilakukan oleh madrasah di pesisiran Jawa dapat dikelompokkan ke dalam dua bentuk yaitu :1) Strategi reproduksi (reproduction strategy) yakni berupa Madrasah di pesisiran Jawa menempatkan pembelajaran agama (tafaqquh fi al-di>n) sebagai penangkal dan penyaring serta melawan dampak-dampak negatif globalisasi, sehingga tafaqquh fi al-di>n menjadi sesuatu yang sangat krusial bagi madrasah di pesisiran Jawa, dan 2) Strategi adopsi inovasi (inovation-adoption strategy) berupa penerapkan pendidikan berperspektif global yakni pembelajaran Bahasa Inggris, dan pembelajaran Sains dan Teknologi. Strategi-strategi tersebut sebagai perwujudan dari prinsip al-muh}}a>faz}ah ’ala qadim als} a>lih} wa al-akhzu bi al-jadi>d al-as}lah}. Sedemikian rupa temuan disertasi ini sehingga, secara keilmuan, berkontribusi pada konstruksi teoritik (theoretical construction) tentang karakter/identitas dan strategi adaptasi madrasah di pesisiran Jawa di tengah perubahan dan perkembangan zaman (globalisasi)
Pengembangan PAI kontra radikalisme
Radikalisme perlu ditangani dari berbagai sektor. Tidak hanya berhenti pada tataran penegakkan hukum. Namun, perlu ada upaya preventif agar penyebaran paham dan gerakan radikalisme tidak berkembang di lingkup madrasah. Upaya yang dilakukan yakni dengan cara memberikan pemahaman komprehensif tentang Islam. Nilai-nilai kontra radikalisme yang diajarkan di MA Al- Asror meliputi, pemahaman tentang jihad inklusif, memupuk toleransi, pemahaman yang komprehensif tentang khilafah, mencegah terorisme dan kekerasan dalam menegakkan Islam. Nilai-nilai ini diaplikasikan dalam sebuah sistem sebagai wujud pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam dengan cara mengaitkan nilai-nilai kontra radikalisme ke dalam komponen kurikulum yakni; (1) Tujuan meliputi tiga ranah; kognitif, afektif, dan psikomotor. (2) Materi secara eksplisit terdapat pada materi PAI MA. Bisa pula materi disampaikan sebagai sisipan ketika proses pembelajaran di kelas. (3) Strategi yang digunakan adalah pembelajaran kontekstual dengan beragam metode. (4) Evaluasi dari sisi sikap dan perilaku peserta didik. Proses transfer nilai kontra radikalisme juga dilaksanakan berupa kegiatan intrakulikuler dan ekstrakulikuler. Internalisasi nilai juga disisipkan pada pengondisian madrasah, pemahaman dan pendekatan guru, metode yang digunakan guru, dan program-program yang terencana dan sistematis. Hal itu merupakan bagian dari kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) di MA Al- Asror
Madrasah pesisiran : a theoretical construction on the identity of madrasah in Java
This paper discusses madrasah pesisiran (madrasah in the north coastal area of Java) in terms of their identities and adapting strategies to the development and the dynamics of globalization era.. There are two most important findings. Firstly, madrasahs pesisiran grow and develop in the dynamics of the culture of the area in such a way that they have unique characteristics and features, which are different and distinctive from other educational institutions. Madrasah pesisiran have four main characteristics: 1) they have the ideology of Ahl al-sunnah wa al-jama’ah (ideological identity); 2) they are based on community trust and participation (social capital identity); 3) they are populist educational institutions (populace identity); and 4) they are institutions whose existence cannot be seperated from their religion leader (kyai) (kyai based identity). Secondly, the adapting strategies done by madrasahs in north Java coastal area can be devided into two forms, i.e. 1) reproduction strategy by which madrasahspeisiran place religious teachings (tafaqquh fi al-din ) as prevention and filter in the against the negative influene of globalization, so the religious teaching becomes the crucial part of madrasahs in the area, 2) innovation adoption strategy in applying education with global perspectives, i.e. the teaching of English, science and technology. The strategies are realizations of the principle of al-muhafazah ’ala qadim al-salih wa al-akhzu bi al-jadid al-aslah (Maintaining the old values are good, and accepting new values better)
Epistemologi pemikiran pendidikan kaum radikal : analisis kritis tentang pendidikan jihad Abdullah Azzam dalam buku Fi al-Tarbiyah al-Jihadiyah wa al-Bina’
Judul lengkap dari penelitian ini adalah “Epistemologi Pemikiran Pendidikan Kaum Radikal (Analisis kritis tentang pendidikan jihad Abdullah Azzam Buku Fi al-Tarbiyah al-Jihadiyah wal Bina’)”. Pokok masalah penelitian ini ialah: Bagaimana epistemologi pendidikan kaum radikal menurut Abdullah Azzam dalam buku Fi al-Tarbiyah al-Jihadiyah wal Bina’? Bagaimana implikasi pemikiran Abdullah Azzam tentang jihad dalam buku Fi al-Tarbiyah al-Jihadiyah wal Bina’terhadap gerakan radikalisme? Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang menggunakan pendekatan rasionalistik dengan metode pembahasan induksi dan deduksi, metode komparasi, serta metode interpretasi.
Temuan dari penelitian ini adalah 1) Pengalaman masa kecil Abdullah Azzam berada di wilayah konflik dan terlibat dalam perjuangan melawan Israel mempengaruhi pemikirannya yang terkonsentrasi pada perang dengan segala cara sebagai satu-satunya jalan untuk memperoleh kemenangan; 2) Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh dan pemikir yang dia idolakan yaitu Ibnu Taimiyah dan Sayyid Qutb; 3) Menurutnya, negara-negara berpenduduk Muslim yang mengadopsi sistem negara Barat adalah bathil dan wajib diperangi; 4) Pemikirannya berpijak pada teori bahwa hakekat negara Islam adalah satu negara yang berbentuk pemerintahan Islam (daulah Islamiyah). Praktek agama Islam (dinul Islam) tidak sempurna tanpa kehadiran Daulah Islamiyah; 5) Menjaga keutuhan wilayah Islam merupakan tanggung jawab seluruh umat Islam dengan cara jihad yang bermakna qital; 6) Istinbath hukum yang dilakukan Abdullah Azzam tidak mempertimbangkan aspek maqashid al-syariah dan tidak menggunakan metode yang biasa digunakan para mujtahid yang mengambil sumber dari al-Qur’an, Hadits, Ijma’, Qiyas, Istihsan dan seterusnya. Serta tidak memperhatikan prosedur ilmiah yang benar; 7) Pemikirannya berpengaruh suburnya radikalisme dan terorisme di dunia, di antaranya al-Qaeda, ISIS, dan beberapa kelompok dan perorangan di Indonesia yaitu Jamaah Islamiyah (JI), Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Imam Samudra, Amrozi, Ali Ghurfon, dan beberapa kelompok lainnya; 8) Solusi terhadap radikalisme-terorisme bisa dilakukan dengan deradikalisasi, rehabilitasi-reintegrasi, dan pendekatan kesejahteraan
Karisma kiai dalam membentuk karakter santri
Model kepemimpinan kiai di pondok pesantren dikenal dengan kepemimpinan karismatik. Konsep karismatik tersebut sesuai dengan teorinya Weber yang menyatakan bahwa pemimpin karismatik didasarkan pada individu yang memiliki kemampuan khusus atau ciri-ciri luar biasa yang diyakini oleh pengikutnya dan bisa menciptakan suatu perubahan radikal dan dinamis. Karisma tersebut merupakan karunia dari yang maha kuasa kepada orang beriman dan sanggup menjadi pemimpin. K.H Ahmad Hadlor Ihsan mengasuh pondok pesantren dari tahun 1996 sampai sekarang. Beliau merupakan kiai yang karismatik. Di antara faktor karisma yang menjadikan beliau memiliki pengaruh besar dan disegani masyarakat yakni: penguasaan terhadap berbagai ilmu, kepribadian kiai, amalan rutin kiai, silsilah kiai, jaringan kiai, kemampuan supranatural kiai. Kiai merupakan cerminan bagi santri untuk mengembangkan karakter santri di pondok pesantren. Di antara karakter santri yang dikembangkan di Pondok melalui karisma kiai yakni: relijius, jujur, toleransi, disiplin, mandiri, semangat kebangsaan, kreatif, bersahabat, peduli sosial, tawaḍu’, dan kesederhanaan. Kiai dalam pesantren merupakan figur yang berdiri kokoh di atas kewibawaan moralnya, besarnya wibawa kiai terhadap diri santri sehingga santri menjadikan kiai sebagai sumber inspirasi dan dalam kehidupan pribadinya
Madrasah : dari Nizamiyah hingga pesisiran Jawa
Growth and development in the Coastal Java madrasah in the early twentieth century until now generally spearheaded by scholars/religious leaders who graduated in Islamic centers in the Middle East. At first they established the boarding school, followed by the establishment of madrasah to the coast of Java
can be regarded as children of a boarding school. The educational institutions have bonding formation of madrasah was first built by Niz{am al-Mulk in Baghdad in 1057, later known as madrasah Nizamiyah . This school is an educational institution that aims to teach Fiqh Sunni schools. Institutions of higher education has become one of the eleventh century and became the blueprint for the development of similar madrasah in the Islamic world. Historically, madrasah in Java can not be separated from the Middle East, especially the relationship
Haramayn scholars of al-Azhar and Cairo with the students in Java, Indonesia.
ABSTRAK:
Pertumbuhan dan perkembangan madrasah di Pesisir Jawa pada awal abad ke XX hingga kini, umumnya dipelopori oleh para kiai atau tokoh agama yang menamatkan pendidikan di pusat-pusat Islam tersebut. Pada awalnya mereka mendirikan pondok pesantren, lalu diikuti dengan pendirian madrasah, sehingga
madrasah di pesisir Jawa bisa dikatakan sebagai anak-anak pesantren. Lembaga pendidikan ini memiliki ikatan dengan madrasah pertama kali dibangun oleh Niz{am al-Mulk di Baghdad pada tahun 1057, kemudian dikenal dengan madrasah
Niz{amiyah. Madrasah ini merupakan lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mengajarkan fikih mazhab Sunni. Lembaga pendidikan tinggi ini ada pada abad kesebelas dan menjadi cetak biru bagi pengembangan madrasah-madrasah serupa
di dunia Islam. Secara historis, keberadaan madrasah di Jawa tidak dapat dipisahkan dari hubungan ulama Timur Tengah, khususnya Haramayn dan al- Azhar Kairo dengan para murid di Jawa, Indonesia
Pandangan dan respon guru agama terhadap gerakan radikalisme ISIS, dan implikasinya dalam pembentukan karakter anak di sekolah : studi kasus guru PAI sekolah dasar di Kecamatan Mijen Kota Semarang
Gerakan radikalisme ISIS akhir akhir ini telah menjadi perhatian dan isu global. Penelitian ini sangat berkaitan isu ini. Studi ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi sehingga penulis hanya melakukan interpretasi data yang terkumpul. Data yang menjadi fokus penelitian ini adalah pandangan dan respon guru PAI terhadap gerakan radikalisme ISIS, dan implikasinya dalam pembentukan karakter anak di sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar di kecamatan Mijen Kota Semarang. Temuan dari penelitian ini adalah pertama, pandangan guru agama Sekolah Dasar di Kecamatan Mijen Semarang tentang gerakan radikalisme ISIS adalah bahwa gerakan yang dilakukan ISIS telah menyalahi ajaran-ajaran agama Islam yang dibawa Rasulullah saw. Pandangan tersebut berdasarkan gerakan yang dilakukan ISIS selama ini, yang diantaranya adalah Pemahaman tentang Jihad yang salah, doktrin mati syahid yang dibelokkan, pengkafiran (takfir) terhadap orang di luar kelompoknya, praktek pemaksaan masuk Islam, praktek pembunuhan keji dan biadab, perekrutan tentara anak-anak, perbudakan dan pemerkosaan, dan perusakan situs-situs bersejarah. Kedua, respon atau tanggapan Guru Agama (Pendidikan Agama Islam) Sekolah Dasar (PAI SD) di Kecamatan Mijen Semarang adalah bahwa mereka menolak dan tidak setuju dengan gerakan radikalisme ISIS karena apa yang dilakukan oleh ISIS tidak bisa dibenarkan jika dilihat dari sudut ajaran agama Islam, tuntunan Rasulullah, dan telah melawan negara yang sah. Keberadaan Islam dan umat Islam seharusnya menjadi rahmat tidak hanya bagi manusia saja tapi bagi semesta alam, serta mengedepankan sikap dan perilaku yang berakhlakuk karimah, sebagaimana tujuan diutusnya Rasulullah saw. Dan ketiga, implikasi dari pandangan dan respon tersebut dalam pembentukan karakter di sekolah adalah bahwa guru: melaksanakan pembelajaran PAI sesuai kurikulum, menanamkan agama dengan benar, tidak melakukan pembelajaran secara ekstrim, menekankan akhlakul karimah dan mauidhoh hasanah, dan menanamkan kasih sayang kepada teman
Kurikulum madrasah di Bangka : studi kasus Madrasah Dinyah Tarbiyatul Hidayah Sungailiat Bangka
Madrasah di Bangka dihadapkan pada ancaman dan tantangan yang diakibatkan oleh perkembangan dan kemajuan zaman (globalisasi). Madrasah di Bangka memandang globalisasi sebagai ancaman terhadap identitasnya, terutama integritas tradisi keagamaan dan akhlak serta moralitas generasi muda. Selain itu madrasah di Bangka juga melihat globalisasi sebagai tantangan yang harus dihadapi, bukan dihindari. Sedemikian rupa sehingga madrasah dituntut untuk beradaptasi secara baik terhadap segala ancaman dan tantangan yang dihadapinya dengan sebaik-baiknya. Dari penelitian terhadap madrasah ditemukan dua bentuk strategi adaptasi yang dilakukan oleh madrasah di Bangka, sebagai madrasah yang adaptif dan terbuka terhadap segala bentuk perubahan dan perkembangan zaman, globalisasi, yaitu strategi reproduksi (reproduction strategy) dan strategi adopsi inovasi (inovation - adoption strategy). Strategi reproduksi yakni berupa Madrasah di Bangka menempatkan pembelajaran agama (tafaqquh fi al-din) sebagai penangkal dan penyaring (filter) serta sebagai instrumen untuk melawan semua dampak negatif globalisasi, sehingga tafaqquh fi aldin menjadi sesuatu yang sangat krusial dalam madrasah di Bangka
- …
