1,354,530 research outputs found
Nalar Ijtihad Jilbab Dalam Pandangan M. Quraish Shihab (Kajian Metodologi)
Discussion of the jilbab is truly very interesting. In several past studies, the concept of wearing the jilbab has been seen as very controversial. There have been several contemporary Islamic scholars (ulama) with interesting perspectives on the jilbab. One of these Indonesian scholars is the Islamic interpretor (Mufassir) M. Quraish Shihab, who has written a book on the jilbab. Although the jilbab is not the area of concern of the author, using prior knowledge I will look at M. Quraish's rationale in making the controversial decision to write on the jilbab and also at his research methodology. It is his research methodology on law-making that the author particularly focuses on in this paper
Ajaran Jilbab Dalam Al-- Hadits
Jilbab adalah pakaian terusan panjang yang menutupi seluruh badan kecuali muka, tangan dan kaki yang biasa dikenakan oleh para wanita muslimah. Jilbab disyariatkan dalam Islam untuk menanamkan suatu tradisi yang menyeluruh (universal) dan penting untuk mencabut akar-akar kerusakan akhlak yang buruk atau dalam bahasa umum disebut sebagai rusaknya moral. Syariat jilbab atau pakaian esensinya adalah untuk menutup pergaulan bebas. syarat jilbab/ pakaian wanita adalah sebagia berikut: Pertama, Menutup seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Kedua, Longgar sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh wanita. Ketiga, Pakaian atau jilbab terbuat dari bahan yang cukup tebal sehingga dapat menyembunyikan warna kulit yang ditutupinya dan sekaligus juga bentuk tubuh wanita. Keempat, Tidak berwarna mencolok, yang sama artinya dengan memamerkan tubuh dan menarik perhatian orang. Kelima, Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita non muslim atau kafir Keenam, Tidak menyerupai pakaian kaum laki-laki
IDEOLOGI JILBAB: PERGESERAN MAKNA DAN RELIGIUSITAS PEMAKAIAN JILBAB DI INDONESIA
Jilbab is a popular fashion of Indonesian female Muslims, worn by all social and educational levels as well as found in all geographical locations. This fact cannot be separated from the struggle of Muslim activists to popularize it. As a part of religious teaching, jilbab is closely related to the understanding and experience of Islam as a religion. However, in its real manifestation of wearing jilbab, religious considerations are not the only reasons for female Muslims to wear it. Jilbab has meant differently from time to time. Nowadays, various models of jilbab are easily found and the motives of its users vary and determine the model they choose. This fact leads to a typology of jilbab which is influenced by the need of its users
JILBAB SEBAGAI ETIKA DAN ESTETIKA (STUDI PEMAKAIAN JILBAB PADA MAHASISWI UNU SUNAN GIRI BOJONEGORO)
Mengenakan jilbab merupakan hal yang wajib dilakukan oleh seluruh wanita muslim di dunia, termasuk Indonesia. Jilbab yang pada awalnya identik dengan keterkungkungan dan dianggap sangat berlawanan dengan modernitas. Namun dalam perkembanganya jilbab berbalik arah, berkembang dan maju
seiringan dengan modernan. Jilbab memikat para mahasiswi untuk berjilbab tanpa meninggalkan modenitas, dan memunculkan pemahaman jilbab yang berbeda. Untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti jilbab sebagai etika dan estetika (studi pemakaian jilbab pada mahasiswi UNU Sunan Giri Bojonegoro).
Penelitian ini bertujuan untuk mrngungkapkan Jilbab Sebagai Etika dan Estetika (Studi Pemakaian Jilbab Pada Mahasiswi UNU Sunan Giri Bojonegoro) dengan focus penelitian : (1) Bagaimana Etika Pemakaian Jilbab pada Mahasiswi UNU Sunan Giri Bojonegoro (2) Bagaimana Etika Pemakaian Jilbab pada Mahasiswi UNU Sunan Giri Bojonegoro.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan reduksi data, penyajian data, interpretasi dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dengan cara perpanjangan keikutsertaan peneliti, teknik trianggulasi dengan menggunakan berbagai sumber, teori, dan metode serta ketekunan pengamatan. Informan penelitian yaitu Mahasiswi UNU Sunan Giri Bojonegoro dan TU Sunan Giri Bojonegoro.
Hasil penelitian ini menyumbangkan teori berjilbab yang terdiri dari : (1) Etika Pemakaian Jilbab pada Mahasiswi UNU Sunan Giri Bojonegoro yaitu (a) Jilbab Sebagai Syariat (b) Jilbab sebagai Akhlak (c) Jilbab sebagai Lingkungan. (2) Estetika Pemakaian Jilbab pada Mahasiswi UNU Sunan Giri Bojonegoro yaitu (a) level estetika (b) level etik (c) level religiou
Al-Quran: Antara Hijab dan Jilbab
In tradition of previuos society, jilbab or veil habitually was weared by some one who did priglimage or someone who had predicate ustadzah and kiai’s wife, and in education area, jilbab was identically with someone who was graduated from pesantren. Then, It is hard to find someone wear jilbab at that time because jilbab is identic with the quality of someone’s faith. However, on nowdays, jilbab can not longer become a measurement of someone’s faith, but it is as part of fashion and what people wear. Next, there is a confusing term between jilbab and hijab, because some people see it as similar thing, but another see it as different. So, in this article is showed about the comparison, the difference and similarity between hijab and jilbab. This article tends to highlight the concept or hijab and jilbab either in its meaning, the explanation of al-qur’an about jilbab and hijab and the opinion of al-qur’an about hijab and jilbab
THE INFLUENCE OF TURKISH JILBAB STYLE TOWARD INDONESIAN JILBAB STYLE DEVELOPMENT THROUGH "ELIF" SOAP OPERA
Jilbab is one of the most popular religious issues in Indonesia since 19th century. Today, jilbab is not only as a religious attribute, but it also as a necessity of clothing especially for Muslim women. There are many popular jilbab sytles today, one of them is Turkish Jilbab style
Interpretasi Khimar dan Jilbab dalam Al-Qur’an
This paper aims to explain the meaning, function and position of the words khimar and jilbab in the Qur’an. In Surat al-Nur verse 31 Allah explains the limitations of the aurat of a Muslim woman and details the meaning of khimar as a cloth (veil) used to cover her hair (head), neck and chest. Meanwhile, in Surat al-Ahzab verse 59, Allah explains about the clothes that serve to cover the entire body of women. Both words have the same meaning and purpose, namely as a cover for women's aurat. Generally, people understand that the hijab is a khimar (veil), such an understanding will affect its users and obscure its true meaning. This study is a literature study, data used from various scientific works that lead to the problems studied. The main data sources used are tafsir books, to find the meaning and position of the two terms. The results show that khimar and jilbab are two words with different meanings. Khimar is a garment that reaches half of the jilbab, while the jilbab is a garment that covers the entire body. It can be concluded that the word jilbab which is understood by the public as the veil, is basically the meaning of khimar, while the jilbab is a garment or wide shirt that is able to cover the entire body of women. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan makna, fungsi dan kedudukan kata khimar dan jilbab dalam al-Qur’an. Dalam Surat al-Nur ayat 31 Allah menjelaskan tentang batasan aurat perempuan muslim dan merinci makna khimar sebagai kain (kerudung) yang digunakan untuk menutup rambut (kepala), leher dan dadanya. Sedangkan dalam Surat al-Ahzab ayat 59, Allah menjelaskan tentang pakaian yang berfungsi untuk menutup seluruh tubuh perempuan. Kedua kata tersebut memiliki maksud dan tujuan yang sama, yaitu sebagai penutup aurat perempuan. Umumnya, masyarakat memahami bahwa jilbab adalah khimar (kerudung), pemahaman demikian akan mempengaruhi penggunanya dan mengaburkan makna sebenranya. Kajian ini bersifat kepustakaan, data yang digunakan dari berbagai karya ilmiah yang mengarah pada permasalahan yang diteliti. Sumber data utama yang digunakan ialah kitab-kitab tafsir, untuk menemukan makna dan kedudukan dua istilah tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa khimar dan jilbab merupakan dua kata dengan makna yang berbeda. Khimar adalah pakaian yang mencapai setengah dari jilbab, sementara jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh. Dapat disimpulkan bahwa kata jilbab yang dipahami oleh masyarakat secara umum dengan maksud kerudung, pada dasarnya adalah pengertian dari khimar, sedangkan jilbab merupakan pakaian atau baju lebar yang mampu menutupi seluruh tubuh perempuan.
ANALISIS PERILAKU KONSUMEN MUSLIMAH PADA KOMUNITAS HIJABERS DALAM TREND JILBAB PERSPEKTIF KONSUMSI ISLAM (Studi Kasus Pada Hijabers Community Malang)
Jilbab adalah kerudung besar yang dipakai untuk menutupi aurat yang dimulai dari kepala sampai dada. Namun dengan perkembangan zaman makna jilbab ini tidak lagi dianggap sebagai penutup aurat, yang dulunya jilbab ini seharusnya menjadi sebuah kewajiban dan busana yang harus dikenakan oleh muslimah dan menjadi sebuah cerminan bagi seorang muslimah, kini jilbab mengalami pergeseran makna dengan banyaknya trend mode yang semakin tahun semakin berkembang. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana makna jilbab bagi Hijabers Community Malang. 2) Bagaimana perilaku konsumsi Hijabers Community Malang dalam mengikuti trend jilbab perspektif konsumsi Islam. penelitian ini beralokasi di daerah Malang, Jawa Timur, yang berfokus pada sebuah komunitas yaitu Hijabers Community Malang, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Cara pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yaitu metode yang digunakan untuk menganalisis data kemudian mendeskripsikan data yang terkumpul dan membuat kesimpulan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Hijabers Community Malang mengartikan jilbab sebagai sarana penutup aurat, bukan hanya penutup aurat mereka mengartikan jilbab merupakan suatu identitas bagi seorang muslimah dan sebuah kewajiban bagi perempuan untuk menutupi auratnya, seperti yang telah di anjurkan oleh agama islam. dengan model jilbab yang selalu update mereka ingin tampil lebih modis dan staylish supaya tidak ketinggalan zaman, maka timbul keinginan untuk memebeli jilbab model baru yang membuat mereka mengarah pada perilaku konsumtif. Dan tanpa disadari sebagian dari Hijabers Community Malang ini sering mengikuti trend jilbab yang sedang berlangsung
Jilbab Sebagai Simbol Perjuangan Identitas (Studi atas Pemakaian Jilbab di Kalangan Waria D.I. Yogyakarta)
Waria (wanita pria) atau transgender adalah sebuah identitas gender lian di khalayak awam. Di samping dianggap sebagai sebuah keanehan, identitas ini pun dipersoalkan dan banyak diperdebatkan, hingga mendapat stigma negatif. Waria sendiri dituntut harus tetap eksis dan sanggup berjuang dalam kehidupan mereka. Hal ini disebabkan oleh pemahaman mereka sebagai waria bahwa, identitas mereka bukanlah sebuah kepura-puraan. Identitas mereka sebagai waria yang memiliki jiwa dan rasa perempuan, harus mendapatkan pengakuan dan perhatian yang sama dengan perempuan lainnya. Salah satu simbol yang melekat dengan perempuan yaitu jilbab, yang digunakan sebagai alat untuk membuktikan identitas mereka. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan pandangan masayarakat awam atas mereka. Sehingga permasalahan ini sangat menarik dan pantas untuk diteliti. Penelitian ini akan menjawab apa makna jilbab dan alasan waria menggunakan jilbab? Serta bagaimana pengaruh penggunaan jilbab bagi pengakuan identitas mereka di kehidupan sosial? Permasalahan tersebut akan dijawab lewat wawancara, dan observasi. Kemudian data yang didapat akan dianalisis dengan metode kualitatif, deskriptif-analisis dan pendekatan fenomenologi. Asumsi peneliti, bahwa penggunaan jilbab sebagai simbol perjuangan memberikan pengaruh positif pada waria secara khusus, setidaknya lebih mudah dalam menggunakan faslilitas umum atau publik. Pada akhirnya penggunaan jilbab dengan berbagai tujuan dan maknanya merupakan realitas kehidupan sosial keagamaan yang akan selalu dan terus berkembang.[Transgender is another gender identity for common people. Apart from being considered as a weird, this identity was also questioned and debated and sometimes it leads in a negative stigma. However, for them, being transgender is not about pretense or deception. People need to recognize and respect them as people with the women soul. One symbol attached to women is hijab. It is used as a tool to prove their identity as women. This problem is very interesting to study in order to find the meaning of the hijab the reasons to use the hijab? How does the influence of using the veil to their social recognition? These problems will be answered through interviews and observations. Then the data obtained will be analyzed by qualitative methods, descriptive analysis and phenomenological approaches. The assumptions of researcher is that the use veil is a symbol of struggle and gives a positive influence on trasgender in particular, at least it is easier for them to use public or public facilities. Hence, the use of the veil is not only about religious symbol, but has various purposes and meaning.
JILBAB ANTARA KESALEHAN DAN FENOMENA SOSIAL
<p>Close the genitals for a Muslim woman is a liability as embodied in the Qur'an. Clothes that cover the genitals is commonly called hijab. In the development of the hijab is not simply understood as a religious duty. However, it extends into the lifestyle of women in part. Hijab eventually not only a manifestation of piety as hoped religious orders. On the other hand hijab is a manifestation of social phenomena. This is reinforced by the widespread use of the hijab in some communities for reasons of politics, law, and others. Religious reasons behind the use of hijab among Muslim women. This reality ultimately refers to a conclusion that hijab is not merely a representation of Muslim piety but the hijab is also a life style for some Muslim women to be impressed or present a religious atmosphere in the life she lived.</p><p align="center"><strong>***</strong></p><p>Menutup aurat bagi seorang muslimah adalah kewajiban sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an. Pakaian yang menutup aurat ini biasa disebut jilbab. Dalam perkembangannya jilbab bukan sebatas dipahami sebagai sebuah kewajiban agama. Namun meluas menjadi gaya hidup sebagaian perempuan. Jilbab akhirnya tidak hanya sebuah perwujudan kesalehan sebagaimana yang diharapkan perintah agama. Jilbab disisi lain merupakan manifetasi dari fenomena sosial. Hal ini diperkuat dengan maraknya penggunaan jilbab pada sebagian masyarakat karena alasan politik, hukum, dan lainnya. Beragama alasan yang melatarbelakangi penggunaan jilbab di kalangan muslimah. Realitas ini pada akhirnya merujuk pada sebuah kesimpulan bahwa jilbab bukan semata-mata representasi kesalehan muslimah. Tetapi jilbab juga menjadi life style bagi sebagian muslimah agar terkesan atau menghadirkan suasana religius dalam kehidupan yang dijalaninya. </p></jats:p
- …
