1,720,966 research outputs found

    Efektivitas Ekstrak Metanol Alga Cokelat terhadap Kadar Malondialdehid dan Kreatinin Serum sebagai Prevensi Gangguan Fungsi Ginjal

    No full text
    Nefropati diabetik merupakan komplikasi mikroangiopati Diabetes Melitus (DM) yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal. Hiperglikemia kronik pada penderita DM dapat menyebabkan terjadinya glikasi nonezimatik asam amino, lipid, dan protein (reaksi Mallard dan Browning) yang mengarah ke pembentukan Advanced Glycation End-Products (AGEs) dan Advanced Lipid Peroxidation End-Products (ALEs). Salah satu marker untuk mengetahui tingginya peroksidasi lipid yang mengarah ke pembentukan ALEs dapat melalui pemeriksaan kadar MDA serum. Pembentukan AGEs dan ALEs mengakibatkan terjadinya ekspansi mesangium, kerusakan glomerulus, dan atau atau fibrosis tubulointerstitial. Kerusakan glomerulus ginjal menyebabkan penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) yang mengarah kepada terjadinya peningkatan kreatinin serum. Antioksidan dapat digunakan untuk mencegah nefropati diabetik. Alga Cokelat (Sargassum sp.) memiliki beberapa kandungan antioksidan, antara lain sargachromenol (derivat tocotrienol vitamin E), phlorotannins, dan vitamin C. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis efektif maksimum dari ekstrak metanol alga cokelat (Sargassum sp.) dalam menghambat peningkatan kadar malondialdehid serta kreatinin serum sebagai prevensi gangguan fungsi ginjal pada tikus putih (Rattus novergicus strain Wistar) model nefropati diabetik. Jenis penelitian ini menggunakan quasi experimental secara in vivo dengan rancangan posttest only control group design. Sampel penelitian yaitu tikus putih jantan (Rattus novergicus strain Wistar), berumur 2-3 bulan, berat badan 150-200 gram. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol normal yang diberikan larutan Na-CMC 0,5% (K1), kelompok kontrol negatif yaitu tikus diabetes dan diberikan larutan Na-CMC 0,5% (K2), kelompok tikus diabetes dengan diberi ekstrak dosis 150 mg/kgBB (K3), kelompok tikus diabetes yang diberi ekstrak ekstrak dosis 300 mg/kgBB (K4), kelompok tikus diabetes yang diberi ekstrak dosis 450 mg/kgBB (K5). Masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Tikus diadaptasi selama satu minggu, kemudian tikus dipuasakan selama delapan jam dan diperiksa kadar Glukosa Darah Puasa (GDP) selanjutnya tikus diinduksi STZ secara intraperitoneal sebanyak 55 mg/kgBB. Tujuh hari kemudian, tikus dipuasakan dan diperiksa kembali kadar GDP, untuk menilai terjadinya hiperglikemia. Nefropati diabetik terjadi tiga minggu setelah diinduksi STZ. Ekstrak diberikan dalam 14 hari setelah tikus dinyatakan hiperglikemia, karena tujuan penelitian adalah mencegah gangguan fungsi ginjal. Pemberian ekstrak beserta pelarutnya dilakukan peroral. Pada hari ke-21 setelah induksi STZ, dilakukan terminasi. Data kontrol normal dan kontrol negatif kemudian di uji menggunakan analisis statistik parametrik One Way Annova, sedangkan untuk mencari dosis efektif maksimum dari ekstrak metanol alga cokelat terhadap kadar viii ix malondialdehid serta kadar kreatinin serum digunakan uji regresi model quadratic dengan berdasarkan pada hasil curve estimation. Hasil pengukuran kadar MDA serum yakni pada kelompok kontrol normal didapatkan hasil 6,820±0,261 nmol/mL, sedangkan dosis ekstrak 150 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, dan 450 mg/kgBB didapatkan hasil berturut-turut 7,783±0,456 nmol/mL; 6,904±0,475 nmol/mL dan 7,176±0,429 nmol/mL, lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif yaitu 7,957±0,345 nmol/mL. Hasil pengukuran kadar kreatinin serum yakni pada kelompok kontrol normal didapatkan hasil 0,4072±0,0994 mg/dL, sedangkan kelompok dosis 150 mg/kgBB, 300 mg/kgBB dan 450 mg/kgBB didapatkan hasil berturut-turut 0,4314±0,2313 mg/dL; 0,7167±0,0605 mg/dL dan 0,8613±0,0904 mg/dL, lebih rendah dibanding kelompok kontrol negatif yaitu 2,322±0,2338 mg/dL. Hasil pengukuran kadar MDA serum serta kadar kreatinin serum menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) pada kelompok kontrol normal dibandingkan kelompok kontrol negatif yang tidak diberikan ekstrak, hal tersebut menunjukkan tikus model nefropati diabetik telah mengalami gangguan fungsi ginjal. Hasil uji regresi menggunakan kurva quadratic didapatkan dosis efektif maksimum untuk menghambat peningkatan kadar MDA serum yakni 433 mg/kgBB, sehingga penggunaan ekstrak metanol alga cokelat yang melebihi dosis tersebut telah menunjukkan penurunan efek penghambatan peroksidasi lipid. Hasil uji regresi menggunakan kurva quadratic didapatkan dosis efektif maksimum untuk menurunkan kadar kreatinin serum yakni 238 mg/kgBB, sehingga penggunaan ekstrak metanol alga cokelat yang melebihi dosis tersebut telah menunjukkan penurunan efek penghambatan gangguan fungsi ginjal

    TINJAUAN MEDIKOLEGAL REKAM MEDIS SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Kajian Kasus dalam Putusan Nomor 18/Pid.B/2020/PN Bkl)

    Full text link
    Putusan Nomor 18/Pid.B/2020/PN Bkl menyatakan dua orang terdakwa bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan secara bersama-sama. Dalam putusan tersebut disebutkan bahwa alat bukti berupa visum et repertum dibuat berdasarkan rekam medis. Kajian kasus ini bertujuan untuk menganalisis peran rekam medis yang digunakan sebagai salah satu landasan untuk menentukan unsur dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain pada putusan tersebut melalui tinjauan pustaka menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Pembunuhan termasuk delik materiil sehingga tidak cukup hanya dengan dilakukannya perbuatan, akan tetapi timbulnya akibat yang berupa matinya orang dalam kejahatan ini merupakan syarat mutlak sehingga harus dapat dibuktikan adanya hubungan kausal antara perbuatan dari masing-masing orang dengan akibat berupa kematian korban. Visum et repertum kasus pembunuhan yang dibuat hanya berdasarkan rekam medis tanpa autopsi forensik tidak dapat menyimpulkan penyebab kematian. Autopsi forensik diperlukan untuk menentukan adanya hubungan kausal antara perbuatan para terdakwa dengan kematian korban yang dapat dimanfaatkan untuk menentukan pertanggungjawaban pidan

    DNA Quality and Quantity on Blood Spot Post Soil and Ultraviolet-C Exposure

    Full text link
    Bercak darah dapat ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) pada banyak kasus tindak kekerasan. Asam deoksiribonukleat (DNA) pada darah dapat digunakan sebagai data primer untuk proses identifikasi akan tetapi bercak darah di TKP berisiko rusak akibat pajanan tanah dan ultraviolet. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mempelajari efek kombinasi dari pajanan sinar ultraviolet-C dan tanah terhadap kualitas dan kuantitas DNA pada bercak darah. Sebanyak 20 gelas berisi 200 gram tanah ditetesi 900µl darah dan diberikan pajanan sinar ultraviolet-C dalam tiga kelompok berdasarkan durasi pajanan yakni satu hari, tiga hari, dan lima hari. Satu kelompok digunakan sebagai kontrol. Ekstraksi DNA dilakukan menggunakan DNAZol dilanjutkan dengan pengukuran spektrofotometri untuk mengetahui kualitas dan kuantitas DNA. Peningkatan konsentrasi DNA dapat diamati yaitu 681,1 pada hari pertama menjadi 1274,7 pada hari ketiga dan mulai menurun menjadi 1090,6 pada hari kelima, sedangkan kemurnian DNA terus menurun secara konstan seiring dengan meningkatnya durasi pajanan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pajanan sinar ultraviolet-C dan tanah menyebabkan degradasi molekul DNA menjadi fragmen-fragmen molekul yang lebih kecil sehingga terjadi peningkatan kuantitas DNA yang disertai penurunan kualitas DNA. Penurunan kualitas DNA dapat mempersulit proses identifikasi sehingga isolasi DNA sampel pada tanah terbuka yang terpajan matahari harus dilakukan sesegera mungkin. &nbsp; Kata Kunci: DNA, darah, tanah, ultraviolet C, patologi forensi

    Kadar IL-10 Mencit Balb/C Terinfeksi Plasmodium berghei dengan Pemberian Fraksi Metanol Bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) sebagai Terapi Komplementer (The IL-10 level of Plasmodium berghei-infected Balb/C Mice after Methanolic Fraction of Bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) administration as a Complementary Therapy)

    No full text
    e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 6 (no. 1), Januari 2018Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Plasmodium spp. Mortalitas akibat malaria adalah hasil dari resistensi parasit terhadap Obat Anti Malaria (OAM) dan ketidakseimbangan sistem imun. Interleukin-10 merupakan sitokin anti-inflamasi pada infeksi malaria. Bangle merupakan obat herbal dengan kandungan curcumin tinggi dan mempunyai efek imunostimulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar IL-10 mencit Balb/C terinfeksi Plasmodium berghei dengan pemberian fraksi metanol bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) sebagai terapi komplementer. Penelitian ini menggunakan true experimental dengan rancangan posttest control group yang menggunakan subjek 25 ekor mencit Balb/c dibagi menjadi 5 kelompok (A, B, C, D dan E). Semua kelompok kecuali kelompok A diinfeksi P. berghei, setelah positif terinfeksi, kelompok B tidak diberikan terapi, kelompok C diberikan terapi artemisinin, kelompok D diberikan terapi artemisinin dan fraksi metanol bangle 0,017 mg/gBB/har, kelompok E diberikan terapi fraksi metanol bangle 0,017 mg/gBB/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar IL-10 serum kelompok D mempunyai nilai kadar IL-10 tertinggi diantara kelompok perlakuan. Uji Post Hoc LSD menunjukkan nilai p ≥ 0,05. Kesimpulannya, bahwa tidak didapatkan perbedaan bermakna kadar IL-10 mencit Balb/C terinfeksi P. berghei dengan pemberian fraksi metanol bangle (Z. cassumunar Roxb.) sebagai terapi komplementer

    DNA Methylation from Bloodstain as a Forensic Age Estimation Method

    Full text link
    Forensic identification is an effort to help law enforcement officers to reveal a person's identity. Personal identity is often a problem in criminal and civil cases as well as  cases related to death without identity and mass disasters. Age estimation is very important in forensic identification. DNA methylation is a potential epigenetic modification for age estimation because the aging process of DNA resembles the developments regulated in processes that are tightly controlled by specific epigenetic modifications. In most cases of violent crime, bloodstains can be found at the crime scene. Bloodstain may come from victims, perpetrators of crime, or both. Bloodstain can be used to scientifically reveal the correlation between DNA methylation from bloodstain and the age of unknown person. This study aimed to determine the correlation betweeen DNA methylation from bloodstain and a person's age. The study was conducted at the Institute of Tropical Disease of Universitas Airlangga from July to October 2019 using the analytic observational approach on 10 samples consisting of 5 male and 5 female samples. It was discovered that the correlation coefficient between DNA methylation and age in male subjects was 0.888 with a significance value of 0.04 and 0.834 in female subjects with a significance value of 0.079. In conclusion, there is a significant correlation between percent methylation and age in male subjects. However, this correlation is not statistically significant in female subjects. Metilasi DNA pada Bercak Darah sebagai Metode Forensik untuk Perkiraan UmurIdentifikasi dalam bidang kedokteran forensik adalah upaya untuk membantu penegak hukum dalam menentukan identitas seseorang. Identitas personal sering menjadi masalah dalam kasus pidana, kasus perdata, kematian tanpa identitas, dan bencana massal. Estimasi umur sangat penting dalam identifikasi forensik. Metilasi DNA merupakan suatu modifikasi epigenetik yang potensial untuk memperkirakan umur. Hal ini dikarenakan, DNA pada individu yang mengalami penuaan menyerupai perkembangan yang diatur dalam proses yang dikontrol ketat oleh modifikasi epigenetik khusus. Pada kebanyakan kasus kriminal dengan tindak kekerasan, bercak darah dapat ditemukan pada tempat kejadian perkara. Bercak darah tersebut mungkin berasal dari korban, pelaku kejahatan, atau bahkan dari keduanya. Bercak darah dapat digunakan untuk membantu mengungkap peristiwa tersebut secara ilmiah Sejauh ini korelasi metilasi DNA dari bercak darah dengan umur seseorang belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi metilasi DNA dari bercak darah dengan umur seseorang. Penelitian dilakukan di Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga periode Juli sampai Oktober 2019. Metode penelitian yang digunakan observasional analitik yang dilakukan pada 10 sampel dengan rincian 5 sampel pria dan 5 sampel wanita. Hasil penelitian, korelasi metilasi DNA dengan umur pada subyek laki-laki didapatkan nilai r adalah 0.888 dengan nilai signifikansi 0.04 dan pada subyek perempuan didapatkan r adalah 0.834 dengan nilai signifikansi 0.079. Simpulan, ditemukan korelasi signifikan antara persen metilasi dengan umur pada laki-laki, sedangkan pada perempuan tidak terdapat korelasi yang signifikan secara statistik

    DNA Methylation from Bloodstain as a Forensic Age Estimation Method

    No full text
    Forensic identification is an effort to help law enforcement officers to reveal a person's identity. Personal identity is often a problem in criminal and civil cases as well as cases related to death without identity and mass disasters. Age estimation is very important in forensic identification. DNA methylation is a potential epigenetic modification for age estimation because the aging process of DNA resembles the developments regulated in processes that are tightly controlled by specific epigenetic modifications. In most cases of violent crime, bloodstains can be found at the crime scene. Bloodstain may come from victims, perpetrators of crime, or both. Bloodstain can be used to scientifically reveal the correlation between DNA methylation from bloodstain and the age of unknown person. This study aimed to determine the correlation betweeen DNA methylation from bloodstain and a person's age. The study was conducted at the Institute of Tropical Disease of Universitas Airlangga from July to October 2019 using the analytic observational approach on 10 samples consisting of 5 male and 5 female samples. It was discovered that the correlation coefficient between DNA methylation and age in male subjects was 0.888 with a significance value of 0.04 and 0.834 in female subjects with a significance value of 0.079. In conclusion, there is a significant correlation between percent methylation and age in male subjects. However, this correlation is not statistically significant in female subject

    Long-Term Effects of Low-Dose Chlorpyrifos Exposure on Serum Albumin Levels in Male Wistar Rats

    Full text link
    Background: Chlorpyrifos is one of the organophosphate pesticide types frequently utilized as a pest control agent in Indonesia. Despite its effectiveness in combating pests, the residue levels of chlorpyrifos in the environment and plants have raised serious concerns. Long-term accumulation of chlorpyrifos in the body can lead to organ damage, particularly in the liver and kidneys, which may decrease serum albumin levels.Objective: To investigate the impact of low-dose chlorpyrifos exposure over time on serum albumin levels in Wistar rats.Methods: Thirty male Wistar rats were divided into five groups: the normal control group (Kn) received normal saline solution (+5% Tween 20) orally for 56 days, while the treatment groups (K1, K2, K3, and K4) were administered chlorpyrifos at a dose of 5 mg/kg body weight for 7 days (acute), 14 days (subacute), 28 days (subchronic), and 56 days (subchronic) orally. Serum albumin levels were measured using the dye-binding method with a spectrophotometer.Results: The measurement results indicate that the normal control group (Kn) had the highest serum albumin levels (4.326±0.519 g/dL). Serum albumin levels decreased in the groups treated with chlorpyrifos. The longer the chlorpyrifos exposure, the lower the serum albumin levels. The lowest serum albumin levels were found in group K4 with chlorpyrifos exposure for 56 days (2.826±0.358 g/dL). Statistical analysis using One-way ANOVA and Post Hoc LSD tests showed significant differences (p<0.05) between all treatment groups (K1, K2, K3, and K4) and the control group (Kn).Conclusion: This study shows that administering low-dose chlorpyrifos over a period of 7 to 56 days has a significant effect in reducing serum albumin levels in Wistar rats. The clinical implications of this decrease in serum albumin levels need to be considered in the context of exposure to organophosphate pesticide residues in humans

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore