165 research outputs found

    Tegak lurus dengan langit : kumpulan cerpen tahun 2004

    No full text
    Cerpen - cerpen Iwan simatupang mempunyai 'cap iwan' yang khas dalam menggali - menggali kesepian manusia, irasionalisme dan tragedi manusia - manusia kecil, ironi serta bias - biasnya... yang bergerak dalam cerpen - cerpen maupun novel - novel iwan hampir selalu bayangan manusia yang sama, yakni manusia problematis, yang sejarah - identitas serta tujuannya selalu dipertanyakan..xviii, 155 hlm, 21 x 14 c

    Tegak lurus dengan langit : kumpulan cerpen tahun 2004

    No full text
    Cerpen - cerpen Iwan simatupang mempunyai 'cap iwan' yang khas dalam menggali - menggali kesepian manusia, irasionalisme dan tragedi manusia - manusia kecil, ironi serta bias - biasnya... yang bergerak dalam cerpen - cerpen maupun novel - novel iwan hampir selalu bayangan manusia yang sama, yakni manusia problematis, yang sejarah - identitas serta tujuannya selalu dipertanyakan..xviii, 155 hlm, 21 x 14 c

    Drama Rt 0 Rw 0 Karya Iwan Simatupang: Tinjauan Strukturalisme Genetik Goldmann

    No full text
    Pandangan dunia menjadi mediasi antara karya sastra dengan masyarakat. Pada penelitian ini diteliti pandangan dunia Iwan Simatupang drama RT 0 RW 0. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menjelaskan pandangan dunia Iwan Simatupang drama RT 0 RW 0 yang menjadi mediasi antara struktur drama tersebut dengan struktur yang ada di masyarakat. Struktur yang dimaksud merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat karya sastra bersangkutan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah strukturalisme genetik Goldmann yang mempercayai bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur bermakna. Hasil dari penelitian ini ialah Iwan Simatupang menggambarkan pandangan dunianya tentang filsafat eksistensialisme yang berusaha diwujudkan sebagai pandangan dunia epik. Filsafat eksistensialisme yang ada drama RT 0 RW 0 melalui pandangan dunia Iwan Simatupang tersebut, yaitu kedirian manusia dalam situasi konsep yang absurd tokoh-tokoh merupakan gambaran dari situasi-situasi yang ada ketika itu pada tahun 1960-1966. Dalam perjalanan Iwan Simatupang ternyata membawa persoalan filsafat eksistensialisme dan bersentuhan langsung dengan situasi politik indonesia yang sedang dihadapi. Iwan Simatupang telah memandang apapun yang dihadapinya dengan pandangan filsafat eksistensialisme yang telah jadi anutan bagi dirinya, situasi sosial politik itu sendiri Iwan pandang dengan filsafat eksistensialisme. Itulah cara pandang Iwan yang dituliskannya drama RT 0 RW 0 Karya Iwan Simatupang

    EKSISTENSIALISME MANUSIA DALAM NOVEL KOOONG KARYA IWAN SIMATUPANG

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan peneliti menganalisis eksistensialisme manusia dalam novel Kooong karya Iwan Simatupang. Masalah khususnya adalah bagaimanakah kejujuran, kehilangan, kehendak bebas, kecemasan dan rasa bersalah yang terdapat dalam novel Kooong karya Iwan Simatupang. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan masalah penelitian. Metode yang digunakan adalah metode dekriptif dengan bentuk kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah sosiologi sastra. Sumber data berbentuk novel berjudul Kooong karya Iwan Simatupang yang terdiri atas 100 halaman. Data penelitian adalah eksistensialisme manusia yang tercermin dalam bentuk kata, frasa, dan kalimat yang terdapat dalam novel Kooong karya Iwan Simatupang. Hasil penelitian yaitu: 1) kejujuran ditemukan melalui tokoh masinis, Pak Lurah, dan burung perkutut; 2) kehilangan ditemukan melalui tokoh Pak Sastro, penduduk desa, dan Ibu pemilik warung; 3) kehendak bebas ditemukan melalui tokoh Pak Sastro, penduduk desa, burung perkutut; 4) kecemasan ditemukan melalui tokoh kawan baik Pak Sastro, Pak Lurah dan Pak Sastro; 5) rasa bersalah ditemukan melalui tokoh masinis, Pak Lurah, penduduk desa. Kata kunci: eksistensialisme, novel Kooong. Abstract: This research is back grounded by the writer’s interest to analyzedthe human existentialism in the novel Kooong by Iwan Simatupang.  The main problem is how does the honesty, lost, freewill, anxiety and guilt contained in the novel Kooong by Iwan Simatupang. The purpose of this study is to describe the research problems. The method of this research is descriptive method in form of qualitative. The approach of this research is bellesletter sociology. The source of this research is a novel entitled Kooong, a novel by Iwan Simatupang consist of 100 pages. Data of this research are human existentialism which is reflected in the form of words, phrases, and sentences contained in the work of Iwan Simatupang Kooong novel. The results of the research are: 1) honesty found through machinist figures, Mr. Lurah, and doves; 2) the loss was discovered through Mr. Sastro, villagers, and Mrs. owner of the stall; 3) free will is found through Mr. Sastro, villagers, doves; 4) anxiety was found through a good friend of Mr. Sastro figures, Mr. Lurah and Mr. Sastro; 5) guilt is found through machinist figures, Mr. Lurah, and villagers. Keywords: existentialism, Kooong novel

    Konsep Penyutradaraan Drama “BUJUR SANGKAR” Karya Iwan Simatupang

    No full text
    ABTRACT This article is about the concept of directing the drama "Bulan Bujur Sangkar" by Iwan Simatupang. The author\u27s interest in this text, because its creation is a universal human problem, namely the problem of clashing between wrong and right, good and bad, and right and relative. The problem of this drama is a philosophical issue that has always been a debate that has never been resolved until now. In addition, because the drama script is in the absurd genre, the cultivation of this script is full of challenges. Other people may consider it \u27heavy\u27, but there are also those who consider it \u27light\u27. In the writer\u27s work, these popular assumptions were dismissed, because actually in the production of a theatrical performance basically there are different challenges, so heavy and light are not an appropriate division for works of art. Keywords: Iwan Simatupang, absurd, philosophical, theatrical performanc

    Eksistensialisme dalam pemikiran Iwan Simatupang: Studi terhadap novel “Kooong” karya Iwan Simatupang

    No full text
    Manusia diciptakan berbeda dari makhluk lainnya, keberadaan manusia menuntut akan kebebasan yang merupakan fitrah manusia sebagai anugrah Tuhan. Kalau ada manusia yang merampas kebebasan, kehendak dan eksistensi manusia lainnya, maka ia telah menodai kefitrahannya sendiri. Memang, manusia selalu bersamaan dengan budaya, sosial, ilmu pengetahuan, pengalaman serta agama. Dengan itu, kebebasan menjadi polemik yang panjang dalam sejarah manusia. Seiiring dengan kemajuan teknologi yang seharusnya menjanjikan kemudahankemudahan bagi manusia, sehingga manusia mempunyai waktu yang banyak untuk mendapatkan kebebasannya, pada kenyataan itu hanya terlahir dalam mimpi. Kooong adalah novel Iwan simatupang yang berangkat dari permasalahan hidup dan kebebasan manusia, permasalah-permasalahan yang berkaitan dengan tema-tema eksistensi manusia. Eksistensi merupakan cara manusia berada di dalam dunia. Cara manusia berada di dalam dunia berbeda dengan cara berada benda-benda lain. Benda-benda tidak sadar akan keberadaannya dan tanpa hubungan dengan yang lain. Persoalan yang di kemukakan Iwan dalam novelnya berupa bagaimana manusia dengan pilihan dan keputusan hidupnya, kesendirian, hubungan dengan orang lain serta pencapaian kebebasan yang ia inginkan merupakan sejumlah persoalan yang selalu berkutat dalam kehidupan manusia dan pada akhirnya dapat disederhanakan bahwa manusia itu hidup senanantiasa mencari atau terus bergerak. Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskripsi, dan metode holistika, serta teknik penelitian “study kepustakaan” (book survey) agar dapat merangkum, khususnya persoalan bagaimana penjelasan tentang eksistensialisme. Sementara sumber rujukan dan data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari karya Iwan Simatupang, serta pelbagai literatur yang sekiranya mendukung terhadap pembahasan tentang hal tersebut. Secara lebih sederhana pemikiran Iwan Simatupang terutama mengenai eksistensialisme yang terdapat dalam novel Kooong ini sangat berkaitan dengan pemikiran para tokoh eksistensialisme dimana pada waktu itu Iwan pernah mengenyam pendidikan di luar negeri khususnya di Prancis tempat dimana berkembangnya karya sastra dengan pengaruh gaya berfilsafat eksistensialisme. Pemikiran seseorang memang tak pernah lepas dari konteks sosio-histiris yang melatarinya

    PROSES PENYUTRADARAAN PETANG DI TAMAN KARYA IWAN SIMATUPANG

    No full text
    Petang di Taman menceritakan tentang keterasingan dan kehampaan manusia dalam menghadapi realitas kehidupannya, dibawakan oleh empat orang tokoh yang bertemu secara tidak sengaja di sebuah taman di waktu petang. Naskah Petang di taman dipilih sutradara sebab mengandung tema besar yang ingin diangkat sutradara yakni kesenjangan generasi yang diakibatkan dari problem eksistensialis dari masing-masing tokoh yang mewakili setiap generasi. Tujuan dari penulisan ini adalah menemukan metode penyutradaraan naskah Petang di taman karya Iwan Simatupang. Metode penyutradaraan yang digunakan oleh sutradara adalah metode penyutradaraan yang dikemukakan oleh Lloyd Anton Frerer yang terbagi menjadi 5 tahapan yakni : script analysis, auditions and casting, rehearsals, performances dan evaluation. Gaya pertunjukan realis dengan pendekatan representasi dipilih sebagai cara ungkap pertunjukan. Sutradara berhasil menemukan metode penyutradaraan dan mementaskan pertunjukan Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Kata kunci: Metode Petang di Taman, Iwan Simatupang, kesenjangan generasi, eksistensialis, Lloyd Anton Frere

    Iwan Simatupang, Merahnja merah "Le rouge est rouge"

    No full text
    Chambert-Loir Henri. Iwan Simatupang, Merahnja merah "Le rouge est rouge". In: Archipel, volume 2, 1971. pp. 259-267

    H. Aveling, The Pilgrim (transl. of Ziarah, by Iwan Simatupang)

    No full text
    Junus Umar. H. Aveling, The Pilgrim (transl. of Ziarah, by Iwan Simatupang). In: Archipel, volume 15, 1978. pp. 207-219

    Iwan Simatupang, Merahnja merah "Le rouge est rouge"

    No full text
    Chambert-Loir Henri. Iwan Simatupang, Merahnja merah "Le rouge est rouge". In: Archipel, volume 2, 1971. pp. 259-267
    corecore