7 research outputs found
Hubungan Perilaku Caring Perawat Jiwa dengan Kepuasan Keluarga di Puskesmas Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara
Nurses’ caring behavior is very important in fulfilling clients’ satisfaction. It becomes one of the indicators of health service quality. The objective of the research was to examine the correlation between mental nurses’ caring behavior and family’s satisfaction, to obtain the description of mental nurses caring behavior, and to obtain the description of family satisfaction at Syamtalira Bayu Puskesmas Aceh Utara District. The samples consisted of 141 clients’ families, taken by using purposive sampling technique. The instruments of the research were questionnaires about demographic data, mental nurses’ caring behavior, using caring behavior inventory (CBI), and family satisfaction, using patient satisfaction questionnaires (PSQ). The hypothesis was tested by using Spearman correlation test. Based on the result of the analysis, it was found that the value was 0.000 (p < 0.05) which indicated that there was the correlation between mental nurses’ caring behavior and family satisfaction. The better the mental nurses’ caring behavior, the higher the family satisfaction. The result of the analysis showed that 76 respondents (53.9%) were in good category in the mental nurses’ caring behavior at Syamtalira Bayu Puskesmas, 77 respondents (54.6%) were also in good category in family satisfaction.It is recommended that training program in caring for mental nurses should be implemented in order to improve knowledge, attitude, and particularly skill when the nurses play their role as practitioners with professional nursing care.Perilaku Caring perawat sangat penting dalam memenuhi kepuasan klien, hal ini menjadi salah satu indikator kualitas di pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji korelasi antara perilaku caring perawat jiwa dengan kepuasan keluarga, untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku caring perawat jiwa, dan untuk mendapatkan gambaran tentang kepuasan keluarga di Puskesmas Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara. Sampel penelitian adalah 141 orang keluarga klien yang diambil dengan cara purposive sampling. Instrumen yang digunakan kuesioner data demografi, perilaku caring perawat jiwa menggunakan caring behaviour inventory(CBI), dan kepuasan keluarga menggunakan patient satisfaction questionnaire (PSQ). Uji hipotesis dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Berdasarkan analisa data, diperoleh nilai 0,000 (p<0,05), hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara perilaku caring perawat jiwa dengan kepuasan keluarga. Semakin baik perilaku caring perawat jiwa maka akan semakin tinggi pula tingkat kepuasan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perilaku caring perawat jiwa di Puskesmas Syamtalira Bayu dikategorikan cukup 76 responden (53,9 %). Kepuasan keluarga di Puskesmas Syamtalira Bayu dikategorikan puas 77 responden (54,6 %). Hasil penelitian ini merekomendasikan membuat program pelatihan tentang caring bagi perawat jiwa untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan khususnya keterampilan ketika menjalankan perannya sebagai pelaksana tindakan keperawatan profesional.Tesis Magiste
Hubungan Perilaku Caring Perawat Jiwa dengan Kepuasan Keluarga di Puskesmas Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara
Perilaku Caring perawat sangat penting dalam memenuhi kepuasan klien, hal ini menjadi salah satu indikator kualitas di pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji korelasi antara perilaku caring perawat jiwa dengan kepuasan keluarga, untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku caring perawat jiwa, dan untuk mendapatkan gambaran tentang kepuasan keluarga di Puskesmas Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara. Sampel penelitian adalah 141 orang keluarga klien yang diambil dengan cara purposive sampling. Instrumen yang digunakan kuesioner data demografi, perilaku caring perawat jiwa menggunakan caring behaviour inventory(CBI), dan kepuasan keluarga menggunakan patient satisfaction questionnaire (PSQ). Uji hipotesis dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Berdasarkan analisa data, diperoleh nilai 0,000 (p<0,05), hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara perilaku caring perawat jiwa dengan kepuasan keluarga. Semakin baik perilaku caring perawat jiwa maka akan semakin tinggi pula tingkat kepuasan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perilaku caring perawat jiwa di Puskesmas Syamtalira Bayu dikategorikan cukup 76 responden (53,9 %). Kepuasan keluarga di Puskesmas Syamtalira Bayu dikategorikan puas 77 responden (54,6 %). Hasil penelitian ini merekomendasikan membuat program pelatihan tentang caring bagi perawat jiwa untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan khususnya keterampilan ketika menjalankan perannya sebagai pelaksana tindakan keperawatan profesional.Nurses’ caring behavior is very important in fulfilling clients’ satisfaction. It becomes one of the indicators of health service quality. The objective of the research was to examine the correlation between mental nurses’ caring behavior and family’s satisfaction, to obtain the description of mental nurses caring behavior, and to obtain the description of family satisfaction at Syamtalira Bayu Puskesmas Aceh Utara District. The samples consisted of 141 clients’ families, taken by using purposive sampling technique. The instruments of the research were questionnaires about demographic data, mental nurses’ caring behavior, using caring behavior inventory (CBI), and family satisfaction, using patient satisfaction questionnaires (PSQ). The hypothesis was tested by using Spearman correlation test. Based on the result of the analysis, it was found that the value was 0.000 (p < 0.05) which indicated that there was the correlation between mental nurses’ caring behavior and family satisfaction. The better the mental nurses’ caring behavior, the higher the family satisfaction. The result of the analysis showed that 76 respondents (53.9%) were in good category in the mental nurses’ caring behavior at Syamtalira Bayu Puskesmas, 77 respondents (54.6%) were also in good category in family satisfaction.It is recommended that training program in caring for mental nurses should be implemented in order to improve knowledge, attitude, and particularly skill when the nurses play their role as practitioners with professional nursing care.98 HalamanTesis Magiste
Hubungan Perilaku Caring Perawat Jiwa dengan Kepuasan Keluarga di Puskesmas Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara
Perilaku Caring perawat sangat penting dalam memenuhi kepuasan klien, hal ini menjadi salah satu indikator kualitas di pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji korelasi antara perilaku caring perawat jiwa dengan kepuasan keluarga, untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku caring perawat jiwa, dan untuk mendapatkan gambaran tentang kepuasan keluarga di Puskesmas Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara. Sampel penelitian adalah 141 orang keluarga klien yang diambil dengan cara purposive sampling. Instrumen yang digunakan kuesioner data demografi, perilaku caring perawat jiwa menggunakan caring behaviour inventory(CBI), dan kepuasan keluarga menggunakan patient satisfaction questionnaire (PSQ). Uji hipotesis dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Berdasarkan analisa data, diperoleh nilai 0,000 (p<0,05), hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara perilaku caring perawat jiwa dengan kepuasan keluarga. Semakin baik perilaku caring perawat jiwa maka akan semakin tinggi pula tingkat kepuasan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perilaku caring perawat jiwa di Puskesmas Syamtalira Bayu dikategorikan cukup 76 responden (53,9 %). Kepuasan keluarga di Puskesmas Syamtalira Bayu dikategorikan puas 77 responden (54,6 %). Hasil penelitian ini merekomendasikan membuat program pelatihan tentang caring bagi perawat jiwa untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan khususnya keterampilan ketika menjalankan perannya sebagai pelaksana tindakan keperawatan profesional.Nurses’ caring behavior is very important in fulfilling clients’ satisfaction. It becomes one of the indicators of health service quality. The objective of the research was to examine the correlation between mental nurses’ caring behavior and family’s satisfaction, to obtain the description of mental nurses caring behavior, and to obtain the description of family satisfaction at Syamtalira Bayu Puskesmas Aceh Utara District. The samples consisted of 141 clients’ families, taken by using purposive sampling technique. The instruments of the research were questionnaires about demographic data, mental nurses’ caring behavior, using caring behavior inventory (CBI), and family satisfaction, using patient satisfaction questionnaires (PSQ). The hypothesis was tested by using Spearman correlation test. Based on the result of the analysis, it was found that the value was 0.000 (p < 0.05) which indicated that there was the correlation between mental nurses’ caring behavior and family satisfaction. The better the mental nurses’ caring behavior, the higher the family satisfaction. The result of the analysis showed that 76 respondents (53.9%) were in good category in the mental nurses’ caring behavior at Syamtalira Bayu Puskesmas, 77 respondents (54.6%) were also in good category in family satisfaction.It is recommended that training program in caring for mental nurses should be implemented in order to improve knowledge, attitude, and particularly skill when the nurses play their role as practitioners with professional nursing care.98 HalamanTesis Magiste
Promosi dan prevensi kesehatan jiwa serta manajemen stress di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lhokseumawe
Beberapa dekade terakhir, terjadi peningkatan kekhawatiran tentang kesehatan mental pada siswa. Masalah ini harus diatasi karena berdampak negatif terhadap optimalisasi fungsi-fungsi penting pada kehidupan mereka di masa kini maupun masa depan. Tujuan kegiatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai kesehatan jiwa dan manajemen stress di MAN Kota Lhokseumawe. Metode pelaksanaan dalam kegiatan ini menggunakan pendekatan pengabdian kepada masyarakat dengan melibatkan 30 orang siswa. Sebelum dan setelah kegiatan penyuluhan, dilakukan pengisian kuesioner Perceived Stress Scale (PSS), untuk mendapatkan hasil tingkatan stress yang dialami siswa. Materi penyuluhan mencakup mengelola stress dan manajemen stress. Hasil dari pengisian kuesioner PSS sebelum materi diberikan didapatkan dari 30 siswa MAN dengan jenis kelamin Perempuan dan Laki laki didapatkan hasil 5 siswa (16,7%) mengalami stress tinggi, 20 siswa (66,7%) stress sedang dan sisanya 5 (16,7%) siswa stress rendah. Sedangkan hasil yang didapatkan setelah materi diberikan dan juga role play Teknik relaksasi sederhana untuk mengurangi stress dengan cara Tarik napas dalam didapatkan hasil 7 siswa (23,3%) stress sedang dan sisanya 23 (76,7%) siswa stress rendah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berhasil mendorong siswa untuk lebih berpikiran positif dalam menghadapi permasalahan. Pengetahuan dan sikap siswa meningkat setelah penyuluhan, yang menunjukkan pengaruh positif.Kata kunci: manajemen stress, Perceived Stress Scale, kesehatan jiw
Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kepatuhan Perawat dalam Melaksanakan Hand Hygiene di RSUD Cut Meutia Aceh Utara
ABSTRACT Nurses are health workers who are around patients 24 hours a day and have the largest number of health workers compared to other health workers in hospitals, who have responsibility and accountability so they are required to provide professional nursing actions, maintain and improve quality in order to provide nursing care. which is safe for patients so that they are free from infection during the treatment period. Hand hygiene is currently considered one of the most important key elements in infection prevention efforts. The role of the head of the room is very important in empowering nurses to increase nurse compliance in implementing hand hygiene in hospitals. The head of the room as a manager must be able to carry out his role in nursing management. This research aims to identify the implementation of supervision by room heads on nurses' compliance in implementing hand hygiene at Cut Meutia Regional Hospital, North Aceh. The population of this study were all the executive nurses who served in the inpatient room at Cut Meutia Hospital, North Aceh, totaling 87 nurses. The results of the research stated that 50.60% of the executive nurses at Cut Meutia Regional Hospital had good supervision by the head of the room, 55.2% of the implementing nurses at Cut Meutia Regional Hospital had high compliance with hand hygiene. Apart from that, the research results showed that there were 30 (68.2%) nurses who were well supervised by the head of the room who were compliant in carrying out hand hygiene. Meanwhile, there were 18 nurses (41.9%) who were poorly supervised by the head of the room who had compliance in carrying out hand hygiene. The results of the analysis showed that there was a relationship between the supervision carried out by the head of the room and the nurses' compliance in carrying out hand hygiene in the room (p =0.018). The head of the room should be able to carry out his role as a supervisor in an effort to increase nurses' compliance in carrying out hand hygiene when providing health services to patients. Keywords: Role of Head of Room, Compliance with Hand Washing by Nurses, Five Moments in Handhygiene ABSTRAK Perawat merupakan tenaga kesehatan yang berada 24 jam di sekitar pasien dan memiliki jumlah paling banyak dibanding tenaga kesehatan lain yang ada di rumah sakit, yang memiliki tanggung jawab dan tanggung gugat sehingga dituntut untuk memberikan tindakan keperawatan professional, menjaga dan meningkatkan kualitas agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang aman bagi pasien sehingga terbebas dari terjadinya infeksi selama masa perawatan. Hand hygiene saat ini dipertimbangkan sebagai salah satu elemen kunci terpenting dalam upaya pencegahan infeksi. Peran kepala ruangan sangatlah penting dalam memberdayakan perawat guna meningkatkan kepatuhan perawat dalam pelaksanaan hand hygiene dirumah sakit. Kepala ruangan sebagai manajer harus mampu melaksanakan peran dalam manajemen keperawatan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pelaksanaan supervisi kepala ruang terhadap kepatuhan perawat dalam melaksanakan hand hygiene di RSUD Cut Meutia Aceh Utara. Populasi penelitian ini adalah semua perawat pelaksana yang bertugas di ruang rawat inap RSUD Cut Meutia Aceh Utara berjumlah 87 perawat. Hasil penelitian menyebutkan bahwa perawat pelaksana di RSUD Cut Meutia telah dilakukan supervisi dengan baik oleh kepala ruangan sebanyak 50,60%, perawat pelaksana di RSUD Cut Meutia memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap melakukan Hand Hygiene sebanyak 55,2%. Selain itu hasil penelitian diperoleh bahwa ada sebanyak 30 (68,2 %) perawat yang disupervisi dengan baik oleh kepala ruangan memiliki kepatuhan dalam melakukan hand hygiene. Sedangkan perawat yang disupervisi dengan kurang baik oleh kepala ruangan, ada 18 (41,9 %) yang memiliki kepatuhan dalam melakukan hand hygiene Hasil analisis menunjukan bahwa ada hubungan antar supervisi yang dilaksanakan oleh kepala ruang dengan kepatuhan perawat dalam melaksanakan hand hygiene di ruangan (p=0,018). Kepala ruang hendaknya dapat melaksanakan perannya sebagai supervisor dalam upaya meningkatkan kepatuhan perawat dalam melakukan hand hygiene saat memberikan pelayanan Kesehatan kepada pasien. Kata Kunci: Peran Kepala Ruang, Kepatuhan Cuci Tangan Perawat, Lima Waktu Membersihkan Tanga
PEMERIKSAAN KESEHATAN ODGJ DAN EDUKASI TENTANG HIGIENE DAN DUKUNGAN SOSIAL DI PUSKESMAS SYAMTALIRA BAYU KABUPATEN ACEH UTARA
Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) memerlukan kondisi fisik yang baik dan kebersihan diri yang optimal dukungan sosial dari keluarga untuk membantu mempercepat proses penyembuhan. Tujuan pelaksanaan kegiatan untuk meningkatkan kesehatan ODGJ baik fisik maupun mental serta meningkatkan pengetahuan keluarga tentang higine dan dukungan sosial untuk penyembuhan ODGJ di wilayah Kecamatan Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara. Khalayak sasaran Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) mandiri dan anggota keluarga yang mendampingi ODGJ di wilayah Kecamatan Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara. Metode pelaksanaan dengan memberikn edukasi kepada keluarga dan pemeriksaan kesehatan pada ODGJ. Hasil yang diperoleh terjadi peningkatan pengetahuan khalayak sasaran tentang higiene dan kebersihan diri dan dukungan keluarga terhadap ODGJ. Dari pemeriksaan fisik diperleh hasil semua ODGJ sehat dan hanya terdapat sedikit keluhan. Hasil pemeriksaan kesehatan mental menunjukkan semua sasaran masih memiliki masalah mental
Komunikasi Kesehatan Interpersonal
Komunikasi adalah hal yang sangat penting bagi manusia, sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa menggunakan komunikasi. Cara berkomunikasi yang baik, benar dan efektif merupakan hal yang harus dimiliki oleh tenaga Kesehatan, kemampuan berkomunikasi yang baik perlu terus dikembangkan sehingga menjadi kebiasaan bagi Tenaga Kesehatan dalam menjalankan aktivitasnya sehari hari. Komunikasi bagi tenaga Kesehatan harus dilakukan dengan penuh ketulusan dan komitmen yang kuat sehingga bisa memberikan pelayanan yang baik bagi klien
Buku Komunikasi Kesehatan Interpersonal yang berada di tangan pembaca ini terdiri dari 12 bab, yaitu :
Bab 1 Konsep, Teori Dan Ruang Lingkup Komunikasi Kesehatan
Bab 2 Konsep Komunikasi Dalam Program Kesehatan Masyarakat
Bab 3 Bentuk Dan Model Komunikasi Kesehatan
Bab 4 Media Dalam Komunikasi Kesehatan
Bab 5 Unsur-Unsur, Prinsip, Gangguan Dan Hambatan Komunikasi
Bab 6 Jenis- Jenis Komunikasi Dalam Komunikasi Interpersonal
Bab 7 Komunikasi Verbal
Bab 8 Komunikasi Non Verbal
Bab 9 Self Disclosure/Mengungkap Diri
Bab 10 Konflik dan Hambatan Dalam Komunikasi Kesehatan
Bab 11 Komunikasi Antara Petugas Kesehatan Dengan Rekan Sejawat Dan Klien
Bab 12 Teori Komunikasi Dalam Perubahan Perilaku Kesehata
