22 research outputs found
DIVERSITY OF MOSQUITO SPECIES THAT POTENTIALLY AS A DISEASE VECTOR IN SABANG
Mosquitoes are insects that belong to Diptera order. Mosquitoes related to public health and act as vectors of disease. The mosquito genus that has been confirmed as a vector consists of Anopheles, Culex, Aedes, Mansonia, and Armigeres. This study aims to map the diversity of mosquito species in Sabang City. This study uses the Magoon trap method, which uses animals as attractants to get zoophilic mosquitoes in four different places. Locations of data collection were carried out in Iboih Village, Balohan Village, Kenekai Village, and Paya Village. The results showed that the diversity of mosquitoes at four locations in the city of Sabang found 19 species of mosquitoes. The mosquito species found were An. leukosphyrus group, An. tesselatus, An. subpictus, An. kochi, An. vagus, An. indefinitus, Ae. albopictus, Ae. Verralina, Ae. aurentius, Ae. vexans, Cx. fuscocephalus, Cx. vishnui, Cx. quinquefasciatus, Cx. tritaeniorynchus, Cx. sitiens, Cx. gelidus, Cx. hutchinsoni, Ar. subalbatus, and Ma. dives. The entire mosquito identified are mosquitos that has been confirmed as vectors of malaria, filariasis, and arbovirosis
TINGKAT KEMATIAN LARVA CULEX QUINQUEFASCIATUS HOMOZIGOT SELEKSI INDUKAN TUNGGAL TERHADAP INSEKTISIDA MALATION 1PPM
Nyamuk Culex quinquefasciatus terlapor sebagai vektor penyakit menular tak langsung yaitu limfatik filariasis atau penyakit kaki gajah. Pengendalian penyakit tular vektor adalah dengan pemberantasan vektor penyebab penyakit itu sendiri. Tiga cara pengendalian vektor yaitu secara fisik, biologis dan kimiawi dengan menggunakan insektisida. Secara kimiawi, penggunaan jenis insektisida tertentu yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan populasi serangga target yang resisten, resurjensi, ledakan hama sekunder, serta penumpukan residu insektisida di alam yang menimbulkan masalah terhadap manusia, hewan dan hasil pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kematian larva Culex quinquefasciatus homozigot seleksi indukan tunggal (skala laboratorium) terhadap insektisida malation konsentrasi 1 ppm dan 0.001 ppm. Pengamatan kematian larva dimulai dari menit ke 10, 20, 30, 40, 50, 60 dan 24 jam setelah kontak. Pengumpulan data dilakukan di Laboratorium PEK FKH-IPB dari Desember 2013-April 2014. Penelitian ini bersifat eksperimen dengan rancangan acak lengkap 3x4 pada sampel larva Culex quinquefasciatus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematian larva Culex quinquefasciatus konsentrasi malation 1 ppm adalah 96,5% (F2), 99,9% (F3), 100% (F4/ F5), sedangkan konsentrasi malation 0.001 ppm yaitu 48,5% (F2), 46% (F3), 64,2% (f4), 62% (F5).</jats:p
STATUS KERENTANAN AEDES AEGYPTI (LINN.) TERHADAP INSEKTISIDA DAN KAITANNYA DENGAN KEJADIAN KASUS DEMAM BERDARAH DI KOTA BANDA ACEH
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi virus akut menular. Penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue dalam kelenjar saliva untuk di transmisikan ke tubuh hospes melalui gigitan. Pengendalian vektor secara kimiawi dengan menggunakan insektisida merupakan cara yang paling efektif dalam memutuskan rantai penularan penyakit DBD. Penggunaan insektisida yang sama secara terus menerus akan menyebabkan resistensi terhadap serangga sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data status kerentanan nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida malation dan deltametrin. Sampel telur nyamuk dari empat kecamatan yang dipilih lokasinya sesuai dengan banyaknya kasus selama lima tahun terakhir. Telur Ae. aegypti yang dikumpulkan dari masing-masing lokasi ditetaskan secara terpisah. Insektisida yang digunakan untuk pengujian menggunakan kertas berinsektisida (impregnated paper) malation 0,8% dan deltametrin 0,05% dengan menggunakan WHO test kit. Hasil analisis menunjukkan lima dari delapan lokasi yang di uji telah resisten terhadap malation 0,8%, dan tujuh dari delapan gampong telah resisten terhadap deltametrin 0,05%. Adapun dua gampong yang masih rentan terhadap malation yaitu Gampong Ateuk Pahlawan, dan Jeulingke. Gampong yang masih toleran terhadap malation yaitu Punge Blang Cut. Sedangkan gampong yang masih toleran terhadap deltametrin yaitu Ateuk Pahlawan. Gampong Sukaramai merupakan daerah yang paling resisten terhadap malation yang merupakan daerah yang paling tinggi angka kasus DBD di Kota Banda Aceh periode tahun 2013-2017.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious acute viral infection that is often found in tropical and subtropical regions, including Indonesia. DHF is transmitted through the bite of Aedes aegypti mosquitoes that contain the dengue virus in the salivary glands to be transmitted to the host’s body through bites. Chemical vector control using insecticides is the most effective way to break the chain of transmission of DHF. The use of the same insecticide continuously will cause resistance to the target insect. This study aims to obtain data on the susceptibility status of Ae. aegypti mosquitoes to malation dan deltametrin insecticides. Samples of mosquito eggs from the four sub-districts that were chosen were located in accordance with the number of cases in the last five years. Insecticides used for testing were inpregnated paper malathion 0.8% and deltamtrin 0.05% using WHO test kit. The analysis showed that five of eight gampongs tested were resistant to malathion 0.8%, and seven out of eight gampongs were resistant to deltametrin 0.05%. The two Gampongs susceptible to malathion were the Ateuk Pahlawan Gampong, and Jeulingke Gampong. Gampong which was still tolerant of malathion is Punge Blang Cut. Gampong is Ateuk Pahlawan was still tolerant of deltametrin Gampong Sukaramai is the most resistant area to malation which is the area with the highest number of dengue cases in Banda Aceh for the last five years
EFFICACY TEST OF LIME LEAF ETHANOL EXTRACT (Citrus aurantifolia) AGAINST Aedes aegypti LARVAE
The primary carrier of the dengue virus-caused disease dengue hemorrhagic fever is the Aedes aegypti mosquito.By eliminating the flick using larvacides, the effort of seeding can be avoided. Tannin concentration in lime leaf extract (Citrus aurantifolia) is known to suppress the growth of larval cuticles. The objective of the study was to assess how C.aurantifolia lime leaf extract affected the development of Ae. aegypti larvae. This form of research is experimental, and this extract is produced by macerating lime leaves in 90% ethanol before extracting it via evaporation. The study included four groups: aquades used as a negative control for testing on larvae and concentrations of 12.5%, 25%, and 50% lime leaf extract. Testing and observations have been conducted for 24 hours. The findings showed that different concentrations of lime leaf ethanol extract (C. aurantifolia), which is 100% poisonous to Ae. aegypti larvae, can impede its growth. To conclude, biolarvasida can be created by using the lime leaf extract. No morphological modifications were made to the Ae. aegypti larvae used in this investigation
Determinasi Strain Aedes aegypti (Linn.) yang Rentan Homozigot dengan Metode Seleksi Indukan Tunggal
Aedes aegypti is a type of mosquito that can carry dengue virus, yellow fever and chikunguya. Thespread of this mosquito is very broad, covering almost all tropical regions worldwide. This study aims todetermine the vulnerability status of homozygous Ae. aegypti. Sample of Ae. aegypti is mosquito strain fromHealth Entomology Laboratory Bogor Institute of Agriculture and at random sampling. Ae. aegypti eggswhich comes from the breeders hatched separately. Insecticide‐treated paper (impregnated paper)malathion, bendiokarb and deltamethrin are use for insecticides testing using WHO test kit. The analysisshowed that the mosquito Ae. aegypti tested with a single sib‐selection method and were exposed to theinsecticide malathion, propoksur, and showed an increasing trend sipermetrin vulnerability homozygous ateach generation. As for the fourth generation (F4) has not shown changes into a strain that is homozygoussusceptible to three types of insecticides. The formation of homozygous susceptible strains take over fivegenerations
STUDI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) TERHADAP KEBERADAAN VEKTOR AEDES AEGYPTI DI GAMPONG ATEUK PAHLAWAN KOTA BANDA ACEH
Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang tergolong arthoropod-borne virus, genus Flavivirus dan famili Flaviviridae. DBD itu sendiri ditularkan melalui gigitan nyamuk Ae. aegypti maupun Ae. albopictus, namun Ae. aegypti lebih berperan dalam proses penularan DBD saat ini. Tingginya kasus DBD tidak lepas dari keberadaan nyamuk Ae. aegypti sebagai vektor penular yang membawa sumber penyakit DBD. Gampong Ateuk Pahlawan merupakan daerah dengan kasus DBD tinggi berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh periode tahun 2011-2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan keberadaan vektor Ae. aegypti dengan tingginya kasus DBD. Penelitian ini bermanfaat untuk mencegah tingginya kasus DBD di suatu wilayah dengan pola hidup yang sehat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dilaksanakan di Gampong Ateuk Pahlawan Kota Banda Aceh pada bulan Februari tahun 2018. Penelitian ini dirancang dengan teknik kuantitatif non eksperimental dengan jumlah sampel sebanyak 100 rumah yang terdiri dari 5 dusun dan setiap dusun terdapat 20 rumah. Hasil penelitian di analisis dengan menggunakan analisa data univariat dengan menghitung frekuensi distribusi dalam bentuk persentase dan bivariat dengan menggunakan aplikasi SPSS. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan keberadaan jentik nyamuk Ae. aegypti dengan angka kejadian kasus DBD di Gampong Ateuk Pahlawan Kota Banda Aceh dengan p-value = 0,10 ( p-value =0,10 lebih besar dari α=0,05 ).
Dengue disease is caused by dengue virus belonging to arthoropod-borne virus, genus of Flavivirus and Flaviviridae family. Dengue it self is transmitted through the bite of Ae. aegypti and Ae. albopictus, but Ae. aegypti is more involved in the current transmission of DHF. The high case of dengue fever can’t be separated from the presence of Ae. aegypti mosquitoes as a transmitting vector that carries the source of dengue disease. Gampong Ateuk Pahlawan is an area with high dengue cases based on data from Banda Aceh City health office period 2011-2016. This study aims to determine the existence of existence of vector Ae. aegypti with high dengue cases. This research is useful to prevent high dengue cases in an area with a healthy lifestyle. This research uses quantitative research type carried out in Gampong Ateuk Pahlawan Banda Aceh City in February 2018. This research is disigned with non experimental quantitative technique with the number of samples of 100 houses consisting of 5 hamlets and each hamlet there are 20 houses. The results of research in though by using univariate data analysis by calculating the frequency of distribution in the form of percentage of graphs and bivariate by using SPSS application formula. The results show that there is no correlation to the presence of Ae mosquito larvae. aegypti with the incidence of dengue cases in Gampong Ateuk Pahlawan Banda Aceh with p-value =0.125 (where p-value =0.125 is greater than α=0.05)
Gambaran Status Gizi Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar
Status gizi merupakan keseimbangan antara asupan gizi yang diterima dengan yang dibutuhkan tubuh. Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan malnutrisi, baik dalam bentuk gizi kurang maupun gizi lebih, yang berpengaruh terhadap kesehatan anak usia sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi status gizi anak sekolah dasar di Kecamatan Kuta Baro, Provinsi Aceh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data melalui pengukuran antropometri. Sampel penelitian terdiri atas 164 siswa sekolah dasar. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk melihat distribusi status gizi responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58,3% siswa memiliki status gizi baik, 33,5% mengalami gizi kurang, 6,1% mengalami gizi lebih, dan 3,1% tergolong obesitas. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki status gizi baik, namun masih terdapat proporsi yang mengalami gizi kurang dan gizi lebih. Diperlukan perhatian lebih lanjut terhadap status gizi anak sekolah guna mencegah dampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan mereka
Determinasi Strain Aedes aegypti (Linn.) yang Rentan Homozigot dengan Metode Seleksi Indukan Tunggal
PREVALENSI KASUS PUTUS OBAT DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA PADA PENDERITA TB DI KOTA BANDA ACEH
Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini membutuhkan waktu pengobatan yang lama. Pengobatan dengan waktu yang lama membuat penderita putus minum obat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian putus minum obat di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan metode potong silang (cross sectional) dengan jumlah responden sebanyak 18 orang. Variabel independen pada penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, fase pengobatan, efek samping obat, pengetahuan, motivasi dan peran pengawas menelan obat. Variabel dependen penderita TB yang putus minum obat di Puskesmas dan Rumah Sakit. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik binomial dengan signifikasi hubungan < 0.05 (p-value < 0,05). Analisis chi-square dan regresi logistik binomial mendapatkan bahwa pengetahuan memiliki hubungan dengan kejadian putus minum obat pada penderita TB (p-value 0.024 dan 0,035). Usia p-value 0,474, jenis kelamin p-value 0,308, pendidikan p-value 0,163 dan fase lama waktu pengobatan p-value 0,171 nilai ini tidak mendapatkan hubungan. Efek samping obat p-value 0,732, motivasi p-value 0,747 dan peran pengawas menelan obat p-value 0,732 juga tidak mendapatkan hubungan yang bermakna. Terdapat hubungan pengetahuan dengan kejadian putus minum obat. Pengetahuan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi kejadian putus minum obat. Peneliti lebih lanjut diharapkan menambahkan jumlah responden dan tempat penelitian untuk hasil yang lebih baik
LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN TERBIMBING (PLT) DI SMA NEGERI 5 YOGYAKARTA
Praktik Lapangan Terbimbing (PLT) adalah kegiatan latihan kependidikan yang wajib dilakukan oleh mahasiswa UNY yang bertujuan agar mahasiswa memiliki pengalaman faktual tentang proses pembelajaran dan kegiatan kependidikan sehingga dapat digunakan sebagai bekal untuk mengembangkan diri sebagai tenaga keguruan dan atau kependidikan yang profesional yang memiliki nilai, sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dperlukan dalam profesi.
Kegiatan selama PLT yang berlaku di SMA Negeri 5 Yogyakarta antara lain: observasi pra PLTm yang meliputi kegiatan observasi fisik, dan observasi proses belajar mengajar. Praktik mengajar dilakukan pada tanggal 15 September 2017 hingga 15 November 2017. Dalam kegiatan PLT ini, mahasiswa melakukan praktik mengajar di kelas XII IPS 1, XII IPS 2, dan XII IPS 3 untuk mata pelajaran akuntansi yang setiap minggunya terdiri dari 3 jam pelajaran. Selain melakukan praktik mengajar, mahasiswa juga harus melaksanakan praktik persekolahan. Dalam praktik mengajar, mahasiswa menggunakan metode, ceramah, diskusi, dan penugasan dengan bentuk permainan. Kegiatan praktik mengajar dilaksanakan selama delapan minggu dengan jadwal yang sesuai dengan jadwal pelajaran yang terdapat di sekolah. Materi yang digunakan dalam praktik mengajar adalah laporan keuangan perusahaan dagang, pencatatan persediaan barang dagang dengan sistem fisik dan perpetual, jurnal penutup, serta buku besar setelah penutup dan neraca saldo setelah penutup.
Selama PLT dilaksanakan, mahasiswa melaksanakan kegiatan mengajar sebanyak 24 kali tatap muka, dimana 3 diantaranya merupakan tahap evaluasi (ulangan harian). Mahasiswa juga melaksanakan praktik persekolahan berupa kegiatan labelisasi buku baru di perpustakaan sebanyak satu kali, piket harian sebanyak 8 kali, piket di perpustakaan sebanyak 6 kali, dan piket di UKS sebanyak 2 kali
