121 research outputs found
Pengujian biji koleksi Kebun Raya Purwodadi
Purwodadi Botanic Garden is a conservation institution of ex-situ plants which goes to do conservation, research, education andecotourism activities. The main characteristic of the botanic garden is the collection of plants, some supported collections, and their documentation. Seed collection is one of the supported collection, which is responsible for handling the management of seed material collections. Seed collection as an active collection needs to be tested to know the quality of seeds during storage (viability/germination). Seeds viability activity is routinely done in the Purwodadi Botanic Gardens. This research aims to know the quality of seed collections in the Purwodadi Botanic Gardens where the result can be used as a guidance in to do the later conservation of the seed in rider to improve the quality of Purwodadi Botanic Garden collection. The stocktaking result of the plants which produce fruit and seed showed that there are 524 species from 77 genus, with a range of seed collection is around 10-65 species every year. Thus, seed collection viability in 2010 amounts 64 species
Keanekaragaman vegetasi mangrove di Pesisir Kota Surabaya dan potensinya sebagai fitoremediator lingkungan
Ekosistem hutan mangrove merupakan kawasan yang paling terancam mengalami kerusakan dan pencemaran lingkungan. Di sisi lain secara ekologis hutan mangrove mempunyai berbagai fungsi yang sangat penting dan sangat berdampak bagi kehidupan terutama kawasan pesisir. Aktivitas pembangunan dan perkembangan perkotaan seperti di Kota Surabaya perlu memperhatikan kawasan mangrovenya. Sehingga jenis-jenis keanekaragaman hayati yang telah ada tetap terjaga dan lestari. Oleh karena itu diperlukan penelitian mengenai keanekaragaman jenis mangrove di pesisir Kota Surabaya dan upaya penggalian potensi jenis-jenis tumbuhan pada eksositem hutan mangrove yang berpotensi sebagai agen fitoremediasi lingkungan Fitoremediasi merupakan proses remediasi menggunakan tumbuhan untuk menghilangkan, memindahkan, dan/atau mengurai pencemar dalam lingkungan. Berdasarkan pencarian kajian pustaka diperoleh 55 artikel, namun setelah dicermati hanya 2 artikel yang terkait dengan fitoremediasi di kawasan Mangrove Surabaya. Oleh karena itu penelitian mendalam mengenai potensi kawasan mangrove sebagai fitoremediator masih belum/kurang dan perlu dilakukan. Apabila dilihat hasil inventarisasi mangrove tahun 2012 tercatat 41 jenis, tahun 2017 tercatat 46 jenis dan tahun 2018 tercatat 47 jenis. Hasil penelitian keanekaragaman vegetasi mangrove di pesisir Kota Surabaya total terdapat 70 jenis dengan 25 jenis mangrove sejati dan 45 jenis mangrove asosiasi, sedangkan berdasarkan hasil monitoring 2019 hanya tercatat 24 jenis saja pada kawasan mangrove di Kebun Raya Mangrove Kota Surabaya
Phytomonitoring of heavy metal from aquatic plants collected in Purwodadi Botanic Garden
PERAN NIPAH SEBAGAI VEGATASI KUNCI, HABITAT BURUNG DAN PENYEBARANNYA DI SUNGAI KETINGAN SIDOARJO
Nipah (Nypa fruticans) termasuk dalam suku Arecaceae (palem) yang hidup pada kawasan mangrove. Mangrove adalah tipe ekosistem yang khas dan terdapat di daerah pantai tempat pertemuan muara daratan dan lautan. Seperti halnya tumbuhan Arecaceae lainnya, yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi di Indonesia, juga memiliki berbagai potensi yang telah dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat, nipah juga diketahui memilki beragam potensi sebagai pemanis, bahan makanan, bahan minuman, bahan bakar dan bahan kimia. Namun selain itu vegetasi ini dalam ekosistem mangrove dijumpai berperan penting sebagai keyspecies/vegetasi kunci dari habitat burung pantai. Sehingga peran penting nipah sebagai habitat burung perlu diungkapkan beserta dengan penyebarannya di sepanjang sungai Ketingan - Sidoarjo menarik untuk dilakukan. Penelitian ini dilakukan secara eksploratif deskriptif selama Maret 2013. Hasil tercatat 41 titik sebaran Nypa fruticans yang sering dijumpai pada sepanjang tepi sungai yang bermuara ke laut. Kata Kunci: Mangrove, Palem (Arecaceae), Vegetasi kunci, Nipah (Nypa fruticans), Ketingan - Sidoarjo
Tumbuhan Echinodorus Radicans Dan Sagittaria Lancifolia Sebagai Fitoremediator Detergen Dan Logam Berat
Indonesia is a tropical country that wellknow as mega-biodiversity, but a small diversity is known and utilized. The predicate as mega biodiversity country, now augmented with predicate as hot spot country, a term that high levels of forest destruction and loss biodiversity. Others high development efforts that ignore of environmental aspects, improving the quality and quantity of various types of pollutants, which directly or indirectly will affect the environment. Water pollutants came from, agricultural and industrial wastewater domestic that polluted rivers. While the condition of waste water is still directly discharged into the drainage channel that will lead to water bodies without processing. The concept of using plants as natural technologies framework to solve environmental problems are known as phytotechnology. One of phytotechnology application is phytoremediation. Phytoremediation is used of plants process in restoring environmental quality from pollutants that contaminate environmental. Given the potential of aquatic plants as phytoremediators, the effort to conserve the aquatic plants diversity in Purwodadi Botanic Garden (PBG) is very important. Therefore, research related to phytoremediation using aquatic plants needs to be done. This study aims to determine the ability of aquatic plants Echinodorus radicans and Sagittaria lancifolia in phytoremediation of organic wastewaste (detergent) and inorganic wastewaste (heavy metals). This research is descriptive with observation and experimental, based on literature study, observation on aquatic plants collection and green house experiment at PBG, and laboratory analysis in Universitas of Brawijaya. Aquatic plants from PBG are Echinodorus radicans and Sagittaria lancifolia based on previous studies are known to have potential in wastewater treatment, not only form river quality but also used in household treatment, leachate, water treatment plant installation, industrial leather waste, slaughterhouses, tofu industry, even hospital wastewater. While the test results of heavy metal content such as Cd, Cr, Cu, Hg and Pb is known to exist and accumulated in plant leaf tissue in fields. Also evidenced by results of morphological and experimental observations in PBG greenhouses using both species, has demonstrated its ability in phytoremediation against organic contaminants and heavy metal.
Keywords: Phytoremediation, Echinodorus radicans, Sagittaria lancifolia, Wastewater
Peran Strategis Kebun Raya Dalam Konservasi Riset Dan Edukasi Lingkungan: Peran Strategis Kebun Raya Dalam Konservasi Riset Dan Edukasi Lingkungan
Indonesia is one of the world's centers of biodiversity but has a fairly high threat of extinction. The main causes of extinction include loss and habitat destruction. Therefore, a conservation strategy is needed in Indonesia. The purpose of this paper is to determine the conservation strategy in Indonesia, especially the Scientific Conservation Area (KKI) - Purwodadi Botanical Garden in managing conservation, research and environmental education. This research is descriptive narrative, starting in April 2024 through direct observation while at KKI - Purwodadi Botanical Garden (KRP) and also searching for references. KRP is one of the ex-situ plant conservation areas for the purposes of conservation, research, education, ecotourism and environmental services. Internationally, KRP is a Biosphere Reserve (CB). The Strategic Position of KRP in CB Bromo Tengger Semeru Arjuno is a conservation area whose existence is internationally recognized. However, the management of botanical gardens may need to be adjusted to the dynamics, needs and developments of the times. So it is necessary to create a new management flow and regulations, which are more relevant.lndonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia namun memiliki ancaman kepunahan yang cukup tinggi. Penyebab utama kepunahan disebabkan diantaranya kehilangan, kerusakan habitat. Oleh karena itu diperlukan strategi konservasi di Indonesia. Adapun tujuan dari penulisan ini untuk mengetahui strategis konservasi di Indonesia khususnya Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) - Kebun Raya Purwodadi dalam pengelolaan konservasi, riset dan edukasi lingkungan. Penelitian ini bersifat naratif deskriptif, dimulai April 2024 melalui pengamatan langsung selama di KKI - Kebun Raya Purwodadi (KRP) dan juga pencarian referensi. KRP adalah salah satu kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ untuk tujuan konservasi, riset, edukasi, ekowisata dan jasa lingkungan. Secara internasional KRP merupakan sebuah Cagar Biosfer (CB). Posisi Strategis KRP dalam CB Bromo Tengger Semeru Arjuno merupakan kawasan konservasi yang keberadaannya diakui secara internasional. Namun pengelolaan perkebunrayaan mungkin perlu disesuaikan dengan dinamika, kebutuhan dan perkembangan zaman. Sehingga perlu dibuat alur kelola dan aturan yang baru, yang lebih relevan
Keberadaan koleksi tumbuhan Kebun Raya Purwodadi asal Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur
Fitoforensik Logam Berat Pb (Timbal) dan Cd (Kadmium) Pada Tumbuhan Akuatik Jeruju (Acanthus ilicifolius) dan Jali (Coix lacryma-jobi) Koleksi Kebun Raya Purwodadi
Perkembangan pembangunan mengakibatkan peningkatan aktivitas di
berbagai sektor, baik sektor industri, pemukiman, pertanian, dan sektor lainnya.
Semakin bertambahnya aktivitas manusia di berbagai sektor kehidupan seringkali
menghasilkan bahan pencemar yang dapat menganggu dan membahayakan
lingkungan. Pencemaran logam berat mendapat perhatian yang serius, karena bila
terserap dan terakumulasi dalam tubuh manusia dapat mengganggu kesehatan dan
menyebabkan kematian. Logam berat yang bersifat toksik dan merupakan
pencemar di semua media lingkungan, adalah Pb (timbal) dan Cd (kadmium).
Konsep yang memusatkan peran tumbuhan dalam kerangka teknologi alami untuk
menyelesaikan permasalahan lingkungan dikenal dengan istilah Fitoteknologi.
Fitoteknologi dapat diterapkan dalam fitoproteksi, fitoremediasi, fitomonitoring
maupun fitoforensik pencemaran lingkungan. Pendekatan fitoforensik digunakan
dalam melacak waktu kejadian dan target spesifik suatu pencemar masuk dalam
tumbuhan. Penelitian fitoforensik masih belum banyak dilakukan. Sehingga
penelitian ini bertujuan mengetahui jangka waktu dan lokasi spesifik pencemar
logam berat Pb dan Cd dalam tumbuhan jeruju (Acanthus ilicifolius) dan jali (Coix
lacryma-jobi).
Penelitian dilakukan secara bertahap mulai November 2013 sampai
Desember 2014. Penelitian bertempat di greenhouse Teknik Lingkungan - ITS
dengan menggunakan material tumbuhan koleksi Kebun Raya Purwodadi - LIPI.
Pemilihan tumbuhan akuatik didasarkan pada kriteria: jenis asli setempat,
ditemukan liar di alam, dan memungkinkan dalam perbanyakannya. Penelitian
diawali dengan perbanyakan, aklimatisasi, dan penentuan RFT (Range Finding
Test) untuk konsentrasi kematian. Kemudian penelitian utama berupa uji
fitoforensik dengan konsentrasi paparan Pb sebesar 10000 ppm dan Cd 400 ppm.
Variasi yang digunakan meliputi: (1) variasi zat pencemaran (Pb dan Cd), (2)
variasi jenis tumbuhan (Jeruju dan Jali) dan (3) variasi jumlah tumbuhan (tiga dan
lima individu) dalam reaktor. Reaktor berupa bak plastik kapasitas 10 L
berdimensi 30x25x10 cm dengan dua ulangan (duplo). Parameter yang diamati
berupa morfologi tumbuhan, berat kering tumbuhan dan konsentrasi logam pada
bagian tumbuhan (akar, batang dan daun). Data yang diperoleh disajikan dalam
tabel dan grafik. Metode analisis logam berat menggunakan AAS (Atomic
Absorption Spectrophotometer).
iv
Hasil perpindahan dan penyerapan logam Pb pada tumbuhan Acanthus
ilicifolius (Jeruju) 3 individu di akar 8.958 ppm, batang 33,5 ppm dan daun 27,7
ppm; pada 5 individu di akar 8.850 ppm, batang 119,6 ppm dan daun 44,5 ppm.
Untuk logam Cd pada 3 individu di akar 237,2 ppm, batang 2,72 ppm dan daun
1,06 ppm, pada 5 individu di akar 147,2 ppm, batang 4,2 ppm dan daun 3,26 ppm.
Sedangkan perpindahan dan penyerapan logam Pb pada tumbuhan Coix lacrymajobi
(Jali) 3 individu di akar 7.235 ppm, daun 250,7 ppm dan batang 149,2 ppm,
pada 5 individu di akar 8.197 ppm, daun 274,5 ppm dan batang 242,8 ppm. Untuk
logam Cd pada 3 individu di akar 174,9 ppm, daun 6,81ppm dan batang 4,32 ppm,
pada 5 individu di akar 194,1 ppm, daun 18,1 ppm dan batang 2,93 ppm.
=======================================================================================================
Growth of population and development resulted in increased activity in the
various sectors, such as industrial, residential, agricultural, and other sectors. The
increasing human activity in various sectors often produces some pollutants that
can contaminate and harm the environment. Heavy metal is a serious pollutant,
that can absorbed and accumulate in the human body. Its reduce human health and
cause death. Heavy metals is toxic pollutants in all environmental, such as Pb
(lead) and Cd (cadmium). The concept focus on the plants role in framework of
natural technology to solve environmental problems known as Phytotechnology.
Phytotechnology can be applied in phytoprotection, phytoremediation,
phytomonitoring and phytoforensic for environmental pollution. Phytoforensic
approach used to track time and specific targets of a pollutant into part of the
plant. The phytofrensic research not much examined and still rarely. Therefore,
this research aims to determine the duration and the specific location of heavy
metal pollutant (Pb and Cd) in aquatic plants Acanthus ilicifolius and Coix
lacryma-jobi.
The research has been carried out during November 2013 to December
2014. The study took place in a greenhouse Environmental Engineering - ITS
with plant material from Purwodadi Purwodadi Botanic Garden - LIPI. Selection
of aquatic plants is based on the following criteria: native species, wild in nature,
and easy propagation. The premerly research begins with propagation seedling,
acclimatization, and RFT (Range Finding Test) for the determination of letal
concentration. Then the main research of phytoforensic with concentration of
heavy metals Pb 10000 ppm and Cd 400 ppm. Variations used: three variations:
(1) variation of heavy metal pollution substances (Pb and Cd), (2) variation of
plant spesies (Acanthus ilicifolius and Coix lacryma-jobi) and (3) variation of
plants specimen in the reactor (three and five specimen). Reactor form plastic
capacity 10 L with dimension 30x25x10 cm and two replications (duplo). The
parameters observed are plant morphology, dry weight and metal concentrations
in the parts of plant (root, stem and leaves). The data obtained are presented in
tables and graphs. Methods of analysis of heavy metals using AAS (Atomic
Absorption Spectrophotometer).
The results acumulation of Pb from Acanthus ilicifolius (jeruju/sea holly)
in 3 specimen in roots, stems and leaves are 8,958 ppm, 33.5 ppm and 27.7 ppm;
in 5 specimen in roots, stems and leaves are 8,850 ppm, 119.6 ppm and 44.5 ppm.
vi
For Cd in 3 specimen in roots, stems and leaves are 237.2 ppm, 2.72 ppm and
1.06 ppm;in 5 specimen in roots, stems and leaves are 147.2 ppm, 4.2 ppm and
3.26 ppm. While the absorption of Pb from Coix lacryma-jobi (jali/job’s tear) in 3
specimen in roots, leaves and stems are 7235 ppm, 149.2 ppm and 250.7 ppm, in
5 specimen in the roots, leaves and stems are 8,197 ppm, 274.5 ppm and 242,8
ppm. For Cd in 3 specimen in roots, leaves and stems are 174.9 ppm, 6,81ppm
and 4.32 ppm; in 5 specimen in roots, leaves and stems are 194.1 ppm, 18.1 ppm
and 2.93 ppm
- …
