88 research outputs found
Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Bibit Kelapa Sawit Dengan Metode SAW (Simple Additive Weighting)
Dengan adanya sistem pendukung keputusan dapat meningkatkan kualitas sistem pendukung keputusan yang akan dibuat. Sebagai contoh, dalam pemilihan bibit kelapa sawit yang berkualitas baik yang digunakan untuk proses penanaman kelapa sawit dilahan baru. Pemilihan bibit kelapa sawit biasanya berdasarkan berbagaimacam keinginan tidak hanya melihat dari segi financial saja akan tetapi dari berbagai kriteria lain seperti cuaca yang sangat berpengaruh dalam proses pemilihan, dan lain – lain. Jika saja bibit kelapa sawit yang akan dipilih sudah sesuai dengan keinginan, maka sudah tentu bibit kelapa sawit tersebut akan menjadi factor pendukung yang baik. Sistem yang akan dibuat dalam untuk pengambilan keputusan ini adalah dengan menggunakan metode SAW (Simple Additive Weighting) Metode SAW dalah mencari penjumlahan terbobot dari rating kinerja pada setiap alternatif pada semua atribut. Metode SAW membutuhkan proses normalisasi matriks keputusan (X) ke suatu skala yang dapat diperbandingkan dengan semua rating alternatif yang ada. Laporan Tugas Akhir ini akan menguraikan sistem pendukung keputusan dalam proses pemilihan bibit kelapa sawit dengan kualitas baik dengan menggunakan SAW. Dsain sistem pendukung keputusan ini meliputi Data bibit berkualitas unggul
Optimalisasi Produksi Bibit Tanaman dengan Bioteknologi System Kultur Jaringan pada PT. Dafa Teknoagro Mandiri
�
RINGKASAN EKSEKUTIF
DENDI IRAWAN. 2001. Optimalisasi Produksi Bibit Tanaman dengan
Bioteknologi System Kultur Jaringan pada PT. Dafa Teknoagro Mandiri. Di
bawah pembimbing SYAMSUL MA'ARIF dan SRI HARTOYO.
PT. Dafa Teknoagro Mandiri merupakan perusahaan baru yang bergerak
dibidang perbanyakan tanaman dengan sistem kultur jaringan. Didalam
pelaksanaan produksi dan operasi kesehariannya dibutuhkan suatu perencanaan
teknis berproduksi dan optimalisasi usaha untuk mencapai keuntungan sesuai
dengan yang diinginkan pihak perusahaan. Permasalahan yang dihadapi adalah
penentuan perencanaan produksi dan komposisi produk dalarn mencapai target
keuntungan dan pemenuhan permintaan pasar sesuai dengan kapasitas sumber
daya yang tersedia.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan optimalisasi produksi
serta menganalisis kombinasi produksi dari berbagai jenis bibit tanaman yang
dibuat dengan sistem kultur jaringan sesuai dengan permintaan pasar, sehingga
dapat memberikan alternatif perbaikan bagi jalannya proses produksi dan
perusahaan mampu mencapai keuntungan optimal.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan metode deskriptif studi kasus dibantu dengan berbagai alat
analisis antara lain untuk peramalan untuk tahun produksi 2002 dengan
mempergunakan QSB (Quantitative System for Business) dan optimalisasi
permodelan goal programming dengan QM (Quantitative Method).
Dari hasil peramalan, dengan melihat nilai MSE yang terkecil, maka untuk
produk pisang tanduk, mempergunakan metode single exponential smoothing
dengan nilai MSE sebesar 2481505. Perkiraan nilai penjualan pada tahun 2002
hasil dari peramalan sebesar 7944 bibit. Untuk peramalan kentang granola
mempergunakan metode Double Exponential Smoothing dengan nilai terkecil
dari MSE sebesar 68800000. Dari hasil peramalan tersebut didapatkan nilai
perkiraan penjualan pada tahun 2002 sebesar 75.600 plantlet untuk kentang
Granola.
Jurnlah permintaan untuk jati kencana sebesar 120.000 bibit,
Phalaenopsis sebesar 120.000 plantlet, Dendrobium sebesar 20.000 plantlet,
dan Krisan sebesar 120.000, dijudgment berdasarkan keputusan pihak
manajemen dengan melihat order atau pesanan yang diterima mulai tahun 2001
sampai tahun 2002. Pesanan yang diterima tersebut diperkirakan jumlahnya dan
disesuaikan dengan kemampuan kerja dari sumberdaya perusahaan (mesin dan
tenaga kerja) yang ada.
Berdasarkan formulasi goal programming untuk melihat optimalisasi
produksi sesuai dengan sumberdaya yang ada di perusahaan sebagai
permodelan pertama, Nilai keuntungan optimal dihasilkan sebesar Rp.
1.139.716.720,00. Nilai tersebut dihasilkan dari produksi bibit jati kencana
sebanyak 169.550 bibit dengan keuntungan Rp. 1.102.072.400,00, Kentang
Granola 75.600 plantlet dengan jumlah keuntungan Rp. 26.838.000,00, Krisan
sebanyak 7063 bibit dengan keuntungan Rp. 7.062.293,OO dan plantlet anggrek
Phalaenopsis sebanyak 2.496 sebesar dengan keuntungan Rp. 3.744.000,OO.
Pada alat pemanas, ruang stock, Ruang Pendingin dan Rumah Kaca,
terjadi idle capacity karena mesin menganggur atau tidak melakukan kerja.
Pemanas mengalami idle capacity sebesar 118.290,6 menit, ruang stock
�
media sebanyak dua jam perminggu dan di ruang aklimatisasi sebanyak 12
orang.
Dari kombinasi produksi permodelan tahap pertama, untuk
mengantisipasi produk yang berlebih divisi pemasaran harus secara aktif
melakukan penetrasi pasar sehingga mampu menjual kelebihan jati yang
diproduksi. Penetrasi pasar yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan
promosi mengenai produk perusahaan baik melalui media internet yang sudah
ada, maupun mengikuti pameran pertanian yang ada dan memanfaatkan jalur -
jalur hubungan dan kerja sama antar perusahaan sejenis. Untuk mengantisipasi
jumlah produksi yang kurang sehingga perusahaan kehilangan pasar, maka
langkah yang bisa ditempuh adalah dengan melakukan pembelian produk dari
perusahaan lain yang dibutuhkan konsumen sesuai dengan permintaan pasar
dimana dari pihak PT. Dafa Teknoagro Mandiri tidak dapat memenuhinya. Selain
itu juga menjalin kerjasama dengan perusahaan sejenis untuk bisa saling
mengisi kekurangan produksi dari masing -masing perusahaan tersebut.
Untuk permodelan tahap kedua, dimana perusahaan menginginkan
semua produk sesuai dengan permintaan pasar dapat terproduksi semua, maka
langkah yang bisa dilakukan adalah dengan menambah semua kapasitas
produksi. Mesin Autoclaf perlu ditambah 3 buah, mesin laminar airflow ditambah
8 buah dan bahkan untuk mesin rotary shaker dibutuhkan dalam jumlah yang
banyak yaitu 110 buah. Untuk penggunaan rotary shaker bisa diganti
pemakaiannya atau tidak dipergunakan dalam proses produksi anggrek. Ruang
Pendingin perlu penambahan luas ruangan sebesar 15,7 m2 untuk bisa
menampung tambahan botol sebanyak 4485 buah. Sedangkan R. Nursery perlu
penambahan ruangan seluas 64 m2 untuk bisa menampung polibag sebanyak
5244 buah.
Dari kombinasi permodelan tahap kedua, kebutuhan penambahan tenaga
kerja mutlak diperlukan. Tenaga kerja di formulasi media perlu penambahan
sebanyak 2 orang, tenaga kerja di ruang laminar airflow perlu penambahan 8
orang dan tenaga kerja di aklimatisasi perlu penambahan sebanyak 11 orang.
Apabila penambahan jumlah tenaga kerja tersebut dirasakan sangat berat, maka
dapat dilakukan dengan kombinasi adanya kerja lembur dan penambahan
tenaga kerja sebagian dari yang ditentukan.
Dengan berjalannya waktu, semakin meningkatnya kemampuan tenaga
kerja dan meningkatnya permintaan produk, maka perlu dilakukan spesialisasi
produksi, dimana perusahaan hanya akan memproduksi jenis bibit tertentu yang
mempunyai nilai keuntungan dan tingkat permintaan tinggi secara kontinyu. Oleh
karena itu dibutuhkan kesiapan tenaga kerja, ketersediaan dan penguasaan
teknologi untuk penanganan proses produksi tanaman.
Perlu dilakukannya penjadwalan terhadap kegiatan produksi mulai dari
proses formulasi media, proses penanaman dan perbanyakan, proses
pertumbuhan dan perkembangan di ruang kultur dan pemeliharaan dirumah
kaca.
Dengan adanya rencana penambahan mesin dan peralatan baru serta
penambahan jumlah tenaga kerja, maka pihak perusahaan khususnya bagian
pemasaran lebih giat dalam mencari konsumen sehingga diharapkan mampu
meningkatkan jumlah pesanan. Semakin banyak jumlah permintaan pasar yang
disesuaikan dengan kemampuan kerja perusahaan, akan semakin meningkatkan
nilai keuntungan perusahaanperlu kajian lebih mendalam terhadap manajemen
finansial yang berhubungan dengan penentuan biaya produksi dan investasi baru
untuk penambahan mesin dan peralatan yang digunakan serta tenaga kerja
sesuai dengan rekomendasi yang diberikan dalam penelitian ini.
Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Bibit Kelapa Sawit Dengan Metode SAW (Simple Additive Weighting)
Dengan adanya sistem pendukung keputusan dapat meningkatkan kualitas sistem pendukung keputusan yang akan dibuat. Sebagai contoh, dalam pemilihan bibit kelapa sawit yang berkualitas baik yang digunakan untuk proses penanaman kelapa sawit dilahan baru. Pemilihan bibit kelapa sawit biasanya berdasarkan berbagaimacam keinginan tidak hanya melihat dari segi financial saja akan tetapi dari berbagai kriteria lain seperti cuaca yang sangat berpengaruh dalam proses pemilihan, dan lain – lain. Jika saja bibit kelapa sawit yang akan dipilih sudah sesuai dengan keinginan, maka sudah tentu bibit kelapa sawit tersebut akan menjadi factor pendukung yang baik. Sistem yang akan dibuat dalam untuk pengambilan keputusan ini adalah dengan menggunakan metode SAW (Simple Additive Weighting) Metode SAW dalah mencari penjumlahan terbobot dari rating kinerja pada setiap alternatif pada semua atribut. Metode SAW membutuhkan proses normalisasi matriks keputusan (X) ke suatu skala yang dapat diperbandingkan dengan semua rating alternatif yang ada. Laporan Tugas Akhir ini akan menguraikan sistem pendukung keputusan dalam proses pemilihan bibit kelapa sawit dengan kualitas baik dengan menggunakan SAW. Dsain sistem pendukung keputusan ini meliputi Data bibit berkualitas unggul
Media Tanam dan Super Bionik Mempengaruhi Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Main Nursery
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis media tanam dan pupuk cair Super Bionik yang sesuai terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di Jalan Beringin V dengan ketinggian ± 25 m di atas permukaan laut yang dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 2004. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terpisah (RPT) dengan dua faktor dan tiga ulangan. Media tanam merupakan faktor utama dengan 3 taraf, yaitu M0 (top soil), Mx (top soil + kompos), M2 (top soil+ sludge). Pemberian Super Bionik sebagai anak petak dengan 4 taraf, yaitu S0 (0 cc/1 air), S} (2.5 cc/1 air), S2 (5.0 cc/1 air), dan S3 (7.5 cc/1 air). Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, total luas daun, berat basah dan berat kering bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, total luas daun, berat basah dan berat kering bibit, dimana pertumbuhan yang terbaik didapat pada perlakuan M2 (top soil + sludge). Pemberian Super Bionik berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, total luas daun, berat basah dan berat kering bibit Interaksi antara perlakuan media tanam dan pemberian Super Bionik berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter yang diamati.80 HalamanSkripsi Sarjan
PENGARUH NAUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN MUTU BIBIT CEMPAKA WASIAN (Elmerrilia ovalis (Miq.) Dandy) DI PERSEMAIAN
Cempaka wasian (Elmerrillia ovalis (Miq) Dandy)) adalah salah satu jenis tanaman kehutanan yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Pengembangan cempaka wasian dalam bentuk hutan-hutan rakyat di provinsi Sulawesi Utara perlu didukung oleh ketersediaan bibit yang berkualitas. Pada umumnya setiap jenis tanaman memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap cahaya yang diterimanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas naungan terhadap pertumbuhan bibit cempaka wasian di persemaian. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap. Perlakuan yang dicobakan antara lain naungan dengan kerapatan 25% (intensitas cahaya ±37.350 lux), naungan dengan kerapatan 50% (intensitas cahaya ±19.100 lux) dan naungan dengan kerapatan 75% (intensitas cahaya ±8.018 lux). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan tingkat kerapatan naungan 50% (Intenitas cahaya ±19.100 lux) memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan mutu bibit di persemaian.Kata kunci: Cempaka wasian, naungan, bibit</jats:p
Pemanfaatan Tepung Cangkang Telur Ayam Dan Pupuk Kandang Sapi Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma Cacao L.)
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Seantis, Jl. Damarwulan Kecamatan
Percut, Kabupaten Deli Serdang. Ketinggian tempat ± 25 meter di atas permukaan
laut. Dilaksanakan pada bulan April sampai bulan Juli 2018. Metode penelitian
yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan dan
terdiri dari 2 faktor yang diteliti, yaitu: Faktor Dosis Tepung Cangkang Telur
Ayam (T) dengan 4 taraf (T0= 0 g/tanaman, T1= 25 g/tanaman, T2= 50 g/tanaman,
T3= 75 g/tanaman), dan faktor Dosis Pupuk Kandang Sapi (S) dengan 4 taraf (S0=
0 g/tanaman, S1= 50 g/tanaman, S2= 100 g/tanaman, S3 = 150 g/tanaman).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung cangkang telur
ayam hanya berpengaruh nyata pada parameter berat kering bagian atas dan
bagian bawah bibit tanaman kakao, pemberian pupuk kandang sapi hanya
berpengaruh nyata pada pada parameter total klorofil, sedangkan kombinasi dari
kedua perlakuan tersebut berpengaruh nyata pada jumlah daun umur 10 MSPT,
diameter batang umur 4 MSPT, serta berat kering bagian atas dan bagian bawah
bibit tanaman kakao
Meta-Analysis: Smoking and Proverty as Risk Factors of Tuberculosis Multidrug Resistance
Background: The financing burden for tuberculosis treatment is increasing along with the increasing number of cases of Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR-TB). The main problems that arise in MDR-TB patients are difficult and expensive treatment, high mortality rates and the potential to transmit resistant bacilli to others. The purpose of the study was to estimate the magnitude of the influence of smoking behavior and poverty on the incidence of MDR-TB.Subjects and Method: This was a meta-analysis with PICO, population: active patients on TB treatment. Intervention: Smoking behavior and poverty. Comparison: not smoking and not poor. Result: MDR TB. The articles used in this study were obtained from three databases, namely Google Scholar, Pubmed, and Science Direct. Keywords to search for articles are “poverty” OR “smoking” AND “multidrug resistant tuberculosis”. Articles included are full-text English from 2012 to 2022. Articles were selected using a PRISMA flow diagram. Articles were analyzed using the Review Manager 5.3 application. Results: A total of 12 articles came from the continents of Asia (China India, Indonesia), Africa (Sudan, Ethiopia, Tanzania), North America (Georgia), and South America (Peru). The results of this meta-analysis showed that smoking increased the risk of MDR TB 1.94 times compared to those who did not smoke (aOR = 1.94; 95% CI = 1.64 to 2.30; p = 0.005), and poverty increased the risk of MDR TB 1.85 times compared to those who did not. not in poverty (aOR= 1.85; 95% CI= 1.35 to 2.53; p= 0.004), and both results were statistically significant.Conclusion: Smoking behavior and poverty increase the risk of MDR TB.Keywords: smoking behavior, poverty, MDR TB.Correspondence:Bibit Irawan. Masters Program in Public Health, Universitas Sebelas Maret. Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126, Central Java, Indonesia. Email: [email protected]. Mobile: +6293111570225.Journal of Health Promotion and Behavior (2022), 07(04): 284-298DOI: https://doi.org/10.26911/thejhpb.2022.07.04.0
DAMPAK PEMBERIAN DOSIS DAN INTERVAL WAKTU PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elais guineensis jacq)
Bibit kelapa sawit yang dibudidayakan memiliki peran besar untuk pertumbuhan dan hasil produksi selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dampak penggunaan dosis dan selang waktu pemberian pupuk hayati terbaik pada pertumbuhan bibit kelapa sawit. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor: konsentrasi atau takaran (T) dan selang waktu (S). Faktor T memiliki empat tingkat (T1: 25%, T2: 50%, T3: 75%, T4: 100%), sedangkan faktor S memiliki tiga selang waktu (W1: 5 hari, W2: 10 hari, W3: 15 hari). Variabel yang diamati berupa data pertumbuhan tanaman selama fase vegetatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaplikasian pupuk cair biofitalik dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit berumur tiga bulan. Konsentrasi 100% dan selang waktu 5 hari berpengaruh positif terhadap tinggi tanaman dan total luas daun. Konsentrasi 100% dan selang waktu 15 hari berpengaruh baik pada jumlah daun. Konsentrasi 100% dan selang waktu 10 hari berpengaruh positif pada diameter batang. Konsentrasi 100% dan selang waktu 5 hari juga berdampak baik pada total luas daun
SISTEM INFORMASI PERSEDIAAN BIBIT TANAM PADA PERKEBUNAN RERANABA KOTA BINJAI BERBASIS WEB
Kemajuan teknologi informasi (IT) sekarang ini mengalamin perkembangan yang sangat pesat yang dapat dimanfaatkan di dunia bisnis atau perdagangan. Tujuan penelitian adalah Menghasilkan aplikasi berbasis web persediaan bibit tanam dan Mendapatkan informasi data stok bibit tanaman secara efisien dan akurat dengan adanya aplikasi web. Sistem yang dibangun untuk mempermudahkan admin dalam mendata stok yang tersedia. Pengolahan data dan informasi yang sangat cepat,tepat dan efisien adalah hal penting yang dibutuhkan oleh pembisnis seperti pembisnis pembibitan pada perkebunan Reranaba. Sehingga kegiatan dapat berjalan lebih efektif. Sehingga waktu yang di butuhkan untuk mencari data persedian tidak terlalu panjang. Perancangan system informasi ini melalui beberapa tahap,dimulai dengan perancangan,analisis sistem desain model dengan UML dan pada akhirnya dengan merancang sistem informasi dengan menggunakan database MYSQL dan bahasa pemrograman PhP.penelitian ini mengumpulkan data dengan cara wawancara dan observasi secara langsung. Metode sistem yang digunakan dalam pengembangan adalah air terjun model (Waterfall Model). Waterfall biasanya di sebut dengan model sequential liniar atau classic cycle
Tuberculosis Paru (TB) Pada Penderita Diabetes Millitus Tipe 2 (dmt2) (Studi Case Control DI Wilayah Kerja Puskesmas Patrang, Kabupaten Jember)
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis (M.tb). Penyakit TB paru sebagi penyebab kematian
pertama dalam kategori penyakit menular didunia. Data WHO Global TB Report
pada tahun 2018, di Indonesia ada 842 ribu insiden TB dan sebesar 107 ribu kasus
menjadi angka mortalitas. Provinsi Jawa Timur menjadi posisi tertinggi kedua
setelah Jawa Barat dengan prevalensi 23.703 kasus pada tahun 2016. Sedangkan
ditahun 2018 terjadi kenaikan kasus sebesar 9% dan Kabupaten Jember memiliki
jumlah kasus TB di tahun 2016 sebesar 3.299 kasus menjadi 3.767 kasus di tahun
2018.
Berdasarkan data International Diabetes Federation di tahun 2017 ada 425
juta penderita DM di dunia dan sebanyak 4,2 juta mengalami kematian. Indonesia
menempati keenam dunia dengan besar prevalensi 10,3 juta penderita DM.
Prevalensi di Jawa Timur di tahun 2013 sebesar 2,1% meningkat menjadi 2,6%
ditahun 2018. Laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember jumlah kasus pada
tahun 2018 terdapat 7.845 penderita, terjadi kenaikan menjadi 17.297 penderita DM
tipe 2 di tahun 2019. TB-DM menjadi masalah dunia utamanya 80% pada negara
endemis TB dan memiliki penghasilan rendah. Jumlah prevalensi secara global
423.000 kasus berada di Asia Tenggara, Indonesia menempati peringkat ke empat
dengan jumlah Insiden 48.000 kasus. Prevalensi DM pada seseorang yang
menderita TB sekitar 10-15%. Jumlah kasus TB-DM sendiri di Kabupaten Jember
dua tahun terakhir dengan jumlah 975 kasus dengan rincian di tahun 2018
berjumlah 502 kasus dan pada tahun 2019 berjumlah 473 kasus.
Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan
pendekatan case control. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Patrang Kabupaten
Jember. Subjek penelitian adalah pasien TB-DMT2 dan pasien DMT2 sebanyak 84 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling
pada responden TB-DMT2 dan consecutive sampling pada responden kontrol. Hasil
penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis menggunakan uji chi square
dan uji regresi logistik dengan tingkat kemaknaan sebesar 95% (α = 0,05).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari variabel independen
menunjukkan bahwa ada empat variabel yang berhubungan, yaitu jenis kelamin,
lama menderita DMT2, perilaku merokok dan kontak erat dengan penderita TB.
Sedangkan variabel independen yang tidak memiliki hubungan signifikan dengan
kejadian TB-DMT2, yaitu umur, riwayat DMT2 pada keluarga, tingkat pendidikan,
pekerjaan dan pendapatan. Berdasarkan faktor risiko individu responden kasus dan
kontrol sebagian besar berusia ≥45 tahun sebesar 64 responden atau 76,2%, berjenis
kelamin laki-laki sebesar 44 responden atau 52,4% dan lama menderita DMT2 >10
tahun sebesar 37responden atau 44,1%, selanjutnya faktor risiko perilaku responden
kasus dan kontrol sebagian besar memiliki perilaku tidak merokok sebesar 51
reponden 51 atau 60,7% dan faktor risiko lingkungan sebagian besar responden
kasus dan kontrol pernah kontak dengan penderita TB sebesar 58 responden atau
69%. Sedangkan dari faktor risiko DMT2 responden kasus dan kontrol sebagian
besar memiliki riwayat DMT2 pada keluarga sebesar 55 responden atau 65,5%,
berpendidikan SD/sedrajat yaitu 35 responden atau 41,7%, memiliki pekerjaan
sebagai wiraswasta yaitu 20 responden atau 23,8% dan memiliki penghasilan
<UMK yaitu 53 responden atau 63,1%
- …
