320 research outputs found

    IMPLEMENTASI MANAJEMEN PESERTA DIDIK DI MTs ISMARIA RAJABASA BANDAR LAMPUNG

    No full text
    Manajemen peserta didik merupakan suatu penataan dan pengaturan segala aktifitas yang berkaitan dengan peserta didik mulai masuknya peserta didik sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu madrasah atau lembaga pendidikan.Kegiatan manajemen peserta didik merupakan bagian penting yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan di madrasah. Dalam implementasi manajemen peserta didik di MTs Ismaria Rajabasa Bandar Lampung telah dilaksanakan, namun manajemen peserta didik mengalami permasalahan yaitu peserta didik kurang antusias dalam proses pembelajaran, dan peserta didik juga banyak yang tidak disiplin dalam peraturan di madrasah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu untuk mengetahui bagaimana implementasi manajemen peserta didik di MTs Ismaria Raja Basa Bandar Lampung. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara/interview, observasi dan dokumentasi.Penelitian ini menggunakan model penelitian lapangan yang bersifat deskriptif kualitatif.Sumber data penelitian diantaranya adalah kepala madrasah,waka kesiswaan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi Manajemen Peserta Didik di MTs Ismaria Raja Basa Bandar Lampung sudah terlaksana dengan baik. Hal ini dilihat dari indikator yang ada mengenai manajemen peserta didik yaitu: analisis kebutuhan peserta didik, rekruitmen peserta didik meliputi (Pembentukan panitia, Merumuskan syarat pendaftaran, Penyebaran informasi, Menyediakan formulir pendaftaran, Pelaksanaan pendaftaran dan Pelaksanaan pendaftaran), seleksi peserta didik, orientasi, pengelompokan peserta didik, pembinaan dan pengembangan peserta didik meliputi (Pembinaan disiplin peserta didik, Kegiatan Ekstra Kurikuler, Bimbingan dan Konseling, Layanan Khusus), pencatatan dan pelaporan, juga lulusan dan alumni

    PENGARUH UPAH DAN JAM KERJA TERHADAP KINERJA DRIVER GRAB ONLINE DI KOTA

    No full text
    Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, manajemen sumber daya manusia sering dihadapkan pada masalah-masalah yang bersifat dinamik, masalah tersebut timbul seiring dengan berkembangnya perusahaan. Salah satu masalah yang sering timbul adalah masalah kinerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh upah dan jam kerja terhadap kinerja karyawan, terutama pada Driver Grab Online di Kota Kudus. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi yang digunakan dalam penelitian adalah seluruh Driver Grab Online di Kota Kudus. Sedangkan pengambilan sampel menggunakan teknik quota sampling. Terdapat 100 responden yang menjadi sampel penelitian. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda, uji hipotesis secara parsial maupun berganda dan koefisien determinasi (adjusted R square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial upah dan jam kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Driver Grab Online di Kota Kudus. Secara berganda juga demikian, bahwa upah dan jam kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Driver Grab Online di Kota Kudus. Koefisien determinasi (adjusted R square) sebesar 0,846, artinya sebesar 84,6% upah dan jam kerja memberikan kontribusi terhadap kinerja driver grab online Kudus, sedangkan sisanya 15,4% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model

    PEMBELAJARAN APRESIASI CERPEN MELALUI MODEL DISCOVERY LEARNING BERBASIS NILAI-NILAI KARAKTER(Studi Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas XI SMAN 16 Garut Tahun Ajaran 2014-2015)

    No full text
    Pembelajaran apresiasi cerpen pada hakikatnya merupakan kegiatan untuk dapat menggauli sebuah karya sastra. Banyak nilai-nilai karakter positif dalam cerpen yang dapat dijadikan cerminan kehidupan bagi siswa. Salah satu upaya untuk mengembangkan kemampuan siswa agar dapat mengapresiasi cerpen dengan baik adalah dengan memilih model pembelajaran yang mampu mengaktifkan serta mengasah karakter positif dalam diri siswa. Penggunaan model pembelajaran Discovery Learning berbasis nilai-nilai karakter dalam pembelajaran apresiasi cerpen mengembangkan kemampuan siswa untuk dapat belajar aktif dan mandiri. Penelitian ini dilakukan untuk dapat menemukan tiga hal: (1) profil pembelajaran apresiasi cerpen yang selama ini berlangsung di kelas XI SMAN 16 Garut; (2) proses pelaksanaan pembelajaran apresiasi cerpen yang menggunakan model pembelajaran Discovery Learning berbasis nilai-nilai karakter di kelas XI SMA N 16 Garut; (3) efektivitas pembelajaran apresiasi teks cerpen dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning berbasis nilai-nilai karakter di kelas XI SMAN 16 Garut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuasi eksperimen. Adapun populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XI SMAN 16 Garut tahun ajaran 2014-2015. Dari populasi tersebut diambil sampel sebanyak dua kelas yaitu kekas XI IPA 1 dan kelas XI IPA 4. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data diperoleh kesimpulan bahwa: (1) profil pembelajaran apresiasi cerpen siswa SMAN 16 Garut kelas XI tahun ajaran 2014-2015 kurang mengaktifkan siswa dalam belajar, karena masih menggunkan model pembelajaran ekspositori; (2) proses pelaksanaan pembelajaran apresiasi cerpen yang menggunakan model pembelajaran Discovery Learning berbasis nilai-nilai karakter di kelas XI SMA N 16 Garut tahun ajaran 2014-2015 dilaksanakan dengan tiga kali perlakuan mengikuti tahapan-tahapan sesuai dengan konsep yang tertera dalam model pembelajaran Discovery Learning yaitu: Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan), Problem Statement (pernyataan/identifikasi masalah), Data Collections (pengumpulan data), Data Processing (pengolahan data), Verification (pembuktian), dan Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi); (3) model pembelajaran Discovery Learning berbasis nilai-nilai karakter efektif diterapkan dalam pembelajaran apresiasi cerpen pada siswa SMAN 16 Garut kelas XI tahun ajaran 2014-2015 karena hasil uji signifikansi dengan uji t, diperoleh hasil t hitung lebih kecil dari t tabel yaitu 0,000<0,05. Appreciation learning stories is essentially an activity to be able to have intercourse with a literary work. Many positive character values in the stories that can be used as a reflection of lifes for students. One of the efforts to develop the capabilities of students to be able to appreciate the stories well is to choose a learning model that is able to activate and hone positive character in students. Usage-based learning model Learning Discovery character values in appreciation learning stories develop students' ability to learn actively and independently. This research was conducted to find three things: (1) short stories appreciation learning profile that has been taking place in class XI SMAN 16 Garut ; (2) execution of the learning process that uses short stories appreciation Discovery Learning-based learning model character values in class XI SMA N 16 Garut; (3) the effectiveness of the short story text appreciation learning by using model-based Learning Discovery character values in class XI SMAN 16 Garut. The method used in this study is quasi-experimental. The population in this study is a class XI student of SMAN 16 Garut 2014-2015. Of the population sample taken two classes of grade XI IPA 1 and XI IPA 4. The sampling technique is done by selecting two classes for the research sample. Based on the analysis and discussion of the data we concluded that: (1) profile stories appreciation learning SMAN 16 Garut class XI 2014-2015 is lack to enable students to learn, because they use the model of expository; (2) execution of the learning process that uses short stories appreciation Discovery Learning-based learning model character values in class XI SMA N 16 Garut 2014-2015 implemented by three stages of treatment to follow in accordance with the concept stated in the learning model Discovery Learning namely: stimulation (stimulation / administration stimulus), problem Statement (statement / identification problem), data Collections (collecting data), data Processing (data processing), verification (verification), and generalization (draw conclusions / generalizations); (3) discovery Learning-based learning model character values effectively applied in appreciation of stories on student learning SMAN Garut 16 class XI 2014-2015 because the results of tests of significance with the t test, t count result is smaller than t table is 0.000 < 0.05

    PENGARUH LATIHAN ASERTIF TERHADAP PERILAKU DISRUPTIF SISWA DI MADRASAH DINIYAH AL-ALAWIYAH

    No full text
    Penelitian dalam skripsi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari latihan asertif terhadap perilaku disruptif salah satu siswa di Madrasah Diniyah Al-Alawiyah Kabupaten Bandung. Perilaku disruptif yang merupakan variabel terikat dalam penelitian ini melingkupi perilaku disruptif fisik dan perilaku disruptif verbal. Perilaku disruptif fisik dibatasi dalam tiga perilaku, yakni perilaku berguling-guling di lantai, perilaku memukul-mukul meja dan perilaku melakukan tindakan fisik dengan sengaja (mendorong teman). Perilaku disruptif verbal dibatasi dalam dua perilaku, yakni mengeluarkan bunyi-bunyian aneh serta berkata-kata kasar dan tidak sopan. Sedangkan jenis latihan asertif yang diberikan adalan latihan asertif dengan menggunakan metode atau teknik petunjuk bergambar dengan pencerminan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksprimen dengan menggunakan Single Subject Research (SSR). Desain penelitian yang digunakan adalah desain A1-B-A2. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi yang menggunakan pencatatan kejadian (tally) frekuensi munculnya perilaku disruptif siswa. Sedangkan analisis data dilakukan melalui analisis dalam dan antar kondisi. Hasil dari penelitian ini adalah latihan asertif berpengauh terhadap perilaku disruptif siswa yang bersifat fisik. Namun kurang berhasil terhadap perilaku disruptif verbal. Hal ini ditunjukkan dengan mean level dan data overlap frekuensi perilaku disruptif siswa pada setiap fasenya. Untuk perilaku disruptif fisik pada setiap fase intervensi (B) dan baseline 2 (A-2), memiliki mean level lebih rendah daripada fase baseline 1 (A-1) dengan data overlap yang kecil sebesar 25% dan ada yang tanpa diiringi oleh data overlap. Untuk perilaku disruptif verbal, mean level pada fase intervensi (B) dan baseline 2 (A-2) cenderung lebih besar dari baseline 1(A-1) dengan data overlap yang besar berkisar 50%-75%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikatakan bahwa pemberian latihan asertif dapat mengurangi frekuensi munculnya perilaku disruptif siswa yang bersifat fisik. Karena itu penulis menyarankan kepada guru dan segenap pendidik untuk tidak mudah menyerah dalam menangani perilaku disruptif siswanya. Sebelum mencoba berbagai metode untuk menangani perilaku tersebut. Untuk peneliti selanjutnya penulis menyarankan untuk meneliti pemberian latihan asertif dengan metode dan teknik yang berbeda, tetapi dengan subjek yang perilakunya sama. Sehingga hasilnya dapat disempurnakan dan dapat menambah khasanah keilmuan dalam proses KBM

    21 Tips Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus

    No full text
    Apakah yang dialami orang tua ketika dianugerahi anak berkenutuhan khusus? Apakah bayangan masa depan terasa begitu kelam dan hampa? Agar tidak demikian, orang tua harus memiliki pandangan cukup jernih ke depan yang disertai optimisme dalam mendampingi anaknya. Optimisme inilah yang dimiliki pengarang yang kini kedua remaja berkebutuhan khususnya sudah mampu bekerja. Optimisme ini pula yang membuatnya mendirikan sebuah bimbingan konseling bagi para orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus serta pelatihan minat dan bakat bagi anak-anak tersebut.Dalam buku ini dituliskan berbagai kisah nyata yang banyak terjadi pada anak berkebutuhan khusus yang dirangkum menjadi 21 Tips Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus. Tulisan yang menyentuh dan membuka pikiran orang tua untuk menjadikan anaknya sebagai manusia yang bermanfaat untuk orang lain.978-602-1667-70-

    Analisis Kondisi Keuangan Daerah Kabupaten Subang Tahun Anggaran 2012-2016

    No full text
    Penelitian ini berangkat dari adanya desentralisasi fiskal yang menuntut pemerintah daerah mampu mengelola keuangannya sendiri dan memberikan transparansi berupa pertanggungjawaban dalam wujud laporan keuangan pemerintah daerah. Fenomena yang terjadi di Kabupaten Subang adalah Kabupaten Subang dari tahun-ke tahun masih memperoleh opini wajar dengan pengecualian (WDP), bahkan tahun 2014-2015 memperoleh opini tidak mendapatkan pendapat (TMP) dan Kemandirian keuangan daerahnya masih rendah, sehingga tingkat ketergantungan kepada pemerintah pusat masih sangat tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi keuangan daerah Kabupaten Subang Tahun Anggaran 2012-2016 secara mendalam sebagai gambaran kemampuan pemerintah daerah dan keberhasilan pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerahnya sendiri. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Subang selaku badan yang mengelola seluruh keuangan pemerintah daerah Kabupaten Subang. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer yang berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Dalam pengumpulan datanya, peneliti menggunakan teknik dokumentasi dan wawancara semi terstruktur dengan teknik penentuan informan melalui Purposive Sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan daerah Kabupaten Subang memiliki kondisi keuangan yang baik ditinjau dari dimensi solvabilitas anggaran, solvabilitas layanan dan fleksibilitas keuangan. Dan kondisi keuangan daerah Kabupaten Subang yang masih belum baik ditinjau dari dimensi solvabilitas jangka pendek karena tidak mampu memenuhi kewajiban jangka pendek sesuai waktu yang telah ditentukan, dimensi solvabilitas jangka panjang karena pertumbuhan kewajiban yang cukup besar dan kemandirian keuangan daerah karena rendahnya pendapatan asli daerah yang disebabkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam membayar pajak

    Identifikasi Persentase Kandungan Formalin pada Tahu di Pasar Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon

    No full text
    Latar Belakang Formalin adalah bahan pengawet yang masih sering digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk mengawetkan makanan, padahal formalin merupakan zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia karena beracun, karsinogenik, mutagenic, korosif dan iritatif. Formalin berpengaruh negatif terhadap sauran pernapasan, mata, saluran pencernaan, saraf, dan lain-lain. Oleh karena itu, dalam Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/88, formalin merupakan salah satu bahan yang dilarang digunakan sebagai pengawet. Bawang putih bisa dijadikan pengawet makanan karena mengandung daya antimikroba yang bisa menekan pertumbuhan mikroba pada makanan, sehingga bawang putih bisa dijadikan sebagai pengawet pengganti formalin. sebagai pengawet makanan khususnya pada tahu. Metode Jenis penelitian survei. Metode yang digunakan adalah pemeriksaan laboratorium  pada  30 tahu dijual oleh 15 pedagang tahu dengan pabrik yang berbeda dengan menggunakan alat ukur destilat serta wawancara menggunakan kuesioner kepada 15 pedagang tahu di pasar Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan Total sampling. Hasil Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium UPTD Kesehatan Lingkungan menunjukan bahwa semua (100%) dari 30 sampel  yang diperiksa, 15 tahu putih dan 15 tahu kuning tidak mengandung zat pengawet formalin. Hasil penelitian kuesioner menunjukan bahwa pengetahuan pedagang dengan kategori baik sebanyak 4 responden (26,7%), untuk kategori sedang 7 responden (46,7%) dan kategori kurang 4 responden (26,7%). Kesimpulan Tidak di temukan kandungan formalin pada tahu Kata kunci: Identifikasi, Kandungan Formalin, Tahu Background        Background Formaldehyde is a preservative that is commonly used by the people of Indonesia to preserve food, whereas formaldehyde is a substance that is harmful to human health due to toxic, carcinogenic, mutagenic, corrosive and irritating. Formalin sauran negatively affect the respiratory, eye, gastrointestinal, neurological, and others. Therefore, the Minister of Health of Republic of. 722/Menkes/Per/IX/88, formaldehyde is one of the prohibited substance is used as a preservative. Garlic can be used as a food preservative because it contains antimicrobial power that can suppress the growth of microbes in food, so the garlic can be used as a substitute for formalin preservative. as a food preservative, especially in the tofu. Method Type of survey research methods. The method used is a laboratory examination in 30 out sold by 15 vendors tofu the different factories using measuring devices distillate and interviews using questionnaires to 15 traders tofu the market Palimanan District Cirebon. Sampling technique using total sampling.  Results Based on the results of laboratory test results UPTD Kesehatan Lingkungan showed that all (100%) of the 30 samples tested, 15 out of white and yellow 15 tofu not contain formaldehyde preservatives. The results of the questionnaire study showed that both categories of tofuledge traders with as many as 4 respondents (26.7%), for the medium category 7 respondents (46.7%) and less than 4 categories of respondents (26.7%).  Conclusion  laboratory tests found no formaldehyde content in the tofuKey words Identification, Content Formalin, Tof

    Moral Values ​​in Classical Folklore Literature "The Legend of Curug Orok" in Cikandang Village, Cikajang District, Garut Regency as an Effort to Preserve Cultural Values

    No full text
    Fairy tales are one of the cultural products originating from Indonesian society. The existence of fairy tales itself today is almost extinct, eroded by the sophistication of communication technology, and many young people today do not even know that in the area where they live, there are stories stored. In fact, if we dig into the contents of the messages in these fairy tales, there are many moral values ​​that can be used as guidance for living life. Moral values ​​are values ​​that regulate the way of life when we are in a social environment. The aim of this research is to analyze the moral values ​​in the folklore entitled "Legend of Curug Orok". This fairy tale comes from Cikandang Village, Cikajang District, Garut Regency. The research method used is descriptive analysis. The results of the researcher\u27s analysis of the moral values ​​contained in the folklore entitled "Legend of Curug Orok" are honesty, responsibility, independence, moral courage and humility. It is hoped that the results of this research will increase insight into the wider community regarding the richness of Indonesian culture in the form of folk tales originating from areas in Garut Regency, as well as an effort to preserve them, so that the existence of these folk tales does not become extinct just

    IDENTIFIKASI KONTAK BATUAN MENGGUNAKAN METODE RESISTIVITAS KONFIGURASI HALF SCHLUMBERGER DAN KONFIGURASI DIPOLEDIPOLE DI DESA GUNUNGGAJAH, BAYAT, KLATEN

    No full text
    Telah dilakukan penelitian mengenai identifikasi kontak batuan menggunakan metode resistivitas konfigurasi half schlumberger dan konfigurasi dipole-dipole di desa Gununggajah, Bayat, Klaten. Gununggajah merupakan daerah Bayat yang memiliki batuan yang kompleks yaitu terdapat batuan metamorf, sedimen (formasi Wungkal-Gamping) dan beku (Diorit). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persebaran nilai resistivitas batuan di daerah penelitian, mengkaji kontak batuan berdasarkan persebaran nilai resistivitas, dan memadukan hasil interpretasi dari kedua konfigurasi. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 15 s.d. 16 April 2016, 09 s.d. 10 Januari 2017 dan 20 Mei 2017 sebanyak lima lintasan dengan panjang masingmasing lintasan yaitu, lintasan 1 s.d. 4 adalah 200 meter dan lintasan 5 dengan panjang 220 meter. Hasil dari penelitian diperoleh nilai resistivitas batuan yaitu batuan Sekis 92,6 s.d. 207 Ωm, batugamping Nummulites 12,3 s.d. 27,6 Ωm dan diorit 27,6 s.d. 207 Ωm. Lintasan 1 terdapat kontak antara batuan sekis dengan batugamping Nummulites dan batugamping Nummulites dengan diorit. Lintasan 2 terdapat kontak antar batuan sekis dengan batugamping nummulites dan batugamping nummulites dengan Diorit. Lintasan 3 terdapat kontak antar batuan sekis dengan batugamping Nummulites. Lintasan 4 terdapat kontak batuan sekis dengan batugamping nummulites. Lintasan 5 terdapat kontak antar batuan sekis dengan diorit dan batuan sekis dengan batugamping nummulites. Konfigurasi half schlumbereger dan konfigurasi dipole-dipole memiliki hasil yang sama terhadap kontak batuan berdasarkan nilai resistivitas
    corecore