126 research outputs found
Web Based Information System for Motoric and Mental Development in Early Childhood
The period of the first five years of children (early childhood/toddler), a period which is very sensitive to the environment , and known as the "golden age" , "windows of opportunity” and "critical period". Fostering child development in a comprehensive and quality are carried out through the stimulation, early detection and intervention developmental aberrations toddlers. Currently, medical information systems are so various, but there is rare to assist the medical personnel especially in helping early childhood development.
Motoric and mental development in early childhood is one of the most important things to educate the toddler. This early childhood development decision support system research aims to facilitate medical personnel (health centers) in determining and monitoring of early childhood development. System design method used is waterfall method that uses a systematic and sequential approach starting from the level of defining the system requirements to maintenance. While the methods used in decision an early childhood development status is a method of AHP (Analytical Hierarchy Process) that a comprehensive model of decision-making with multiple criteria, the AHP model is a comprehensive model of decision making. Priorities are taken to decide the status of the development of correct answers is half the value of the number of questions. So that the developmental status is determined based on the statement /question criteria.
Based on the results of the test system, medical personnel (health centers) can easily determine and monitor from the system in determining the status of early childhood development.
Keywords : motoric and mental development in early childhood; decision support system
penambahan tepung ubi madu dalam pembuatan kue kering bagiak
ABSTRAK Ratnasari, Ika. 2014. Penambahan Tepung Ubi Madu Dalam Pembuatan Kue Kering Bagiak. Tugas Akhir, Program Studi D3 Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si., (II) Laili Hidayati, S.Pd, M.Si. Kata kunci: Bagiak, Penambahan, Tepung Ubi Madu Kue kering bagiak merupakan salah satu warisan kuliner khas Banyuwangi. Bahan dasar bagiak adalah tepung garut, tepung tapioka, santan kental, gula halus, margarin, susu bubuk, kuning telur, dan soda kue. Tepung ubi madu digunakan dalam pembuatan bagiak sebagai pengganti tepung tapioka. Tepung ubi madu adalah tepung yang dihasilkan dari ubi madu yang diiris tipis, direndam dalam air, kemudian dikeringkan dan dihancurkan, dilanjutkan dengan pengayakan sehingga didapatkan tepung ubi madu yang halus. Tepung ubi madu merupakan bahan setengah jadi yang mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi bagiak ubi madu yang tepat dan mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap rasa, warna, dan tekstur produk bagiak ubi madu. Uji coba formulasi resep bagiak dengan penambahan tepung ubi madu dilakukan sebanyak dua kali. Uji coba formulasi yang pertama menggunakan tepung ubi madu sebanyak 500g dan tepung tapioka sebanyak250g, menghasilkan bagiak dengan rasa ubi yang kurang kuat dan warnakuning terang. Uji coba formulasi resep yang kedua menggunakan tepung ubi madu sebanyak 750gdan jumlah bahan lain tetap seperti formulasi dasar. Hasil yang diperoleh dari uji coba formulasi keduayaitu warna bagiak kuning kecoklatan dan rasa ubi pada bagiak lebih terasa. Berdasarkan hasil uji coba formulasi bagiak ubi madu, formulasi kedua dipilih sebagai formulasi yang digunakan untuk uji kesukaan. Panelis terdiri dari 30 panelis tidak terlatih, yaitu mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga 2012. Uji kesukaan panelis terhadap bagiak ubi madu dilakukan dengan cara memberi sampel produk dan dilanjutkan mengisi angket uji kesukaan. Hasil uji kesukaan menyatakan bahwa (63.3%) panelis menyatakan suka pada rasa bagiak ubi madu yang manis, (46.6%) panelis agak menyukai warna bagiak ubi madu yang berwarna kuning kecoklatan, dan (60%) panelis menyatakan suka terhadap tekstur bagiak yang renyah. Sebaiknya proses pengeringan ubi madu dilakukan menggunakan mesin pengering sehingga dalam satu hari ubi madu bisa benar-benar kering, karena apabila ubi madu tidak benar-benar kering akan menimbulkan tumbuhnya jamur. ABSTRACT Ratnasari, Ika. 2014. Added of Honey Sweet Potatoes Flour on Making BagiakCookieFinal Project, D3 Studies Program ofCulinary,Faculty of Engineering, State University of Malang. Advisor: (I) Dr.Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si., (II) Laili Hidayati, S.Pd, M.Si. Key word: added, bagiak, honey sweet potato flour Bagiak cookie is one of the unique culinary heritage of Banyuwangi. The basic ingredients of bagiak are arrowroot flour, tapioca flour, coconut milk, sugar, margarine, milk powder, egg yolks, and baking soda. Honey sweet potato flour was used on making bagiak as a tapioca flour substitute. Honey sweet potato flour is a flour was produced from honey sweet potato which thinly sliced, soaked in water, then dried and crushed, followed by sifting to obtain a smooth honey sweet potato flour. Honey sweet potato flour is a semi-finished material that has the potential to be used as raw materials in the food industry. The aims of this study were to obtain appropriate formulations of honey sweet potato bagiak and to determine the panelists’s preference level of the flavor, color, and texture of the product. The trials of prescription formulation with the added ofhoney sweet potato flour were done twice. The first recipe, were used 500g honey sweet potato flour and 250g tapioca flour, these recipe produce the bagiak with a less strong of honey sweet potato flavor and the color was bright yellow. The second recipe, were used 750g honey sweet potato flour and also was used other ingredients which fixed amount as the basic formulation. These recipe produce thebagiak with brownish yellow color and the honey sweet potato flavor was more tasted. Based on the results of theformulations test of honey sweet potato bagiak, the second recipe was selected as a formulation that was used to hedonic test. Panelistsconsists of30 untrained panelists, namely S1 students ofCulinary Education 2012. The hedonic test were used by giving a sample product and fill the questionnaire. Hedonic test results showed that (63.3%) of panelists expressed liked the taste of honey sweet potato bagiak, (46.6%) of panelists rather liked the color of honey sweet potato bagiak which brownish yellow, and (60%) of panelists liked the texture bagiak which crispy. Honey sweet potato drying process should be done used drier machine i.e use oven so it can be completely dry on one day, because if not, that will be cause the growth of mold
STRATEGI SANGGAR DALAM REPRODUKSI BUDAYA BETAWI Studi di Sanggar Tari Ratnasari Anjungan DKI Jakarta Taman Mini Indonesia Indah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi apa yang dilakukan
Sanggar Ratnasari dalam reproduksi budaya guna melestarikan budaya Betawi dan
kendala apa yang dihadapinya. Peneliti berharap agar hasil penelitian ini dapat
bermanfaat bagi seluruh masyarakat pada umumnya dan bagi para pemilik sanggar
khususnya untuk dijadikan gambaran bagaimana cara mereproduksi kebudayaan di
era modern seperti seperti sekarang ini disaat budaya populer semakin berkembang.
Ada pun kasus pengklaiman yang dilakukan oleh negara lain terhadap kebudayaan
Indonesia memberikan peringatan kepada masyarakat Indonesia untuk terus menjaga
kelestarian kesenian budaya Indonesia, terutama dalam penelitian ini adalah
masyarakat Betawi untuk terus menjaga kelestarian budaya Betawi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan mendapatkan
pemahaman tentang strategi reproduksi budaya yang dilakukan oleh sebuah sanggar.
Subjek penelitian ini adalah Sanggar Ratnasari. Penelitian ini dilakukan di Anjungan
DKI Jakarta Taman Mini Indonesia Indah sejak bulan Februari hingga bulan Mei
2017. Peran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai insrumen utama pengumpul
data. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi
pustaka. Kemudian teknik analisis data dilakukan dengan memeriksa kebenaran data
dengan bukti-bukti data yang lainnya. Adapun kerangka konseptual yang digunakan
dalam penelitian ini adalah konsep kebudayaan Raymond Williams dan konsep
produksi, distribusi dan penerimaan budaya Griswold yang dijelaskan melalui skema
sistem industri budaya Paul Hirch.
Temuan penelitian memperlihatkan strategi reproduksi budaya yang dilakukan
oleh Sanggar Ratnasari beserta kendala yang dihadapinya dalam proses reproduksi
budaya Betawi. Strateginya adalah Sanggar Ratnasari sebagai institusi artis atau
institusi utama memproduksi produk kebudayaan yang berupa tarian kreasi
tradisional Betawi, kemudiam mensosialisasikannya melalui pendidikan dan
pelatihan. Selain itu, sanggar sebagai institusi artis membangun hubungan sosial
dengan institusi pasar untuk mengadakan promosi melalui sosial media dan
membangun hubungan sosial dengan pasca institusi pasar yang terdiri dari Lembaga
Kebudayaan Betawi dan Pemerintah. Sedangkan kendala yang dihadapinya yaitu
keterbatasan sumber daya manusia dan keterbatasan modal finansial.
This research aims to find out the strategy that is used by Sanggar Ratnasari in
culture reproduction in their way to preserve Betawinese culture and what kind of
obstacles that they need to overcome. The author hopes that this research can be
useful for both the owner of Sanggar Ratnasari and the people widely as an
illustration of how to reproduce the culture in this modern era when popular culture is
growing significantly. Some „culture claiming‟ cases that happened to Indonesian
culture need to be considered as an alarm for us to keep preserving our culture, in this
case, the Betawinese culture.
This research uses qualitative approach to get a whole understanding about the
culture reproduction strategy, with Sanggar Ratnasari as the subject. This research
took place in Anjungan DKI Jakarta Taman Mini Indonesia Indah from February to
May 2017. The researcher played a role as the main instrument who collect the data,
which was taken through interviews, observations, and literature study. The data then
was analyzed to find its validity using some evidences. The conceptual framework
that is used in this research is Raymond William‟s concept of culture and Griswold‟s
concept of culture production, distribution, and reception, which is elaborated using
Paul Hirch‟s scheme of the system of culture industry.
The results reveal both the culture reproduction strategy that is used by
Sanggar Ratnasari and the obstacles they faced. The strategy that they use as the artist
institution or main institution is to produce the cultural product in form of Betawinese
traditional dance then spread it through education and training. Moreover, they also
build a strong social relationship with market institution to create some promotions
throughout the social media as well as with the post-market institution such as
Lembaga Kebudayaan Betawi and the government. Meanwhile, the main obstacles
that they faced are the limited number of human resources and the lack of financial
support
Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Gula Jawa Di Desa Jatigunung Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan
ABSTRAK
Ratnasari, Hesti. 2020. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Gula Jawa di Desa Jatigunung Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan. Skripsi. Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing Ika Rusdiana, M.A.
Kata Kunci: Jual Beli, Gula Jawa, Penetapan Harga.
Jual beli dalam istilah fiqih disebut dengan al-bai’ yang berarti menjual, mengganti, dan menukar sesuatu dengan sesuatu lainnya. Dalam jual beli terdapat syarat dan rukun yang harus dipenuhi. Akan tetapi jual beli gula jawa di Desa Jatigunung Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan ini dalam rukun dan syarat jual beli ada yang tidah terpenuhi yaitu rukun dan syarat objek jual beli/ ma’qud{ ’alaih nya yang berupa tidak disebutkannya secara jelas tentang kualitas, sifat dan ukuran yang jelas saat dilakukannya jual beli gula jawa campuran tersebut. Penjual tidak memberi penjelasan bahwa gula jawa yang dijual adalah gula jawa campuran melainkan penjual mengatakan kepada pembeli bahwa gula jawa yang dijual adalah gula jawa asli. Selain pada rukun dan syarat jual beli tentang objek jual beli yang belum terpenuhi, dalam penetapan harga gula jawa campuran tersebut penjual menggunakan harga yang sama dengan harga gula jawa asli agar pembeli percaya bahwa yang dijual adalah gula jawa asli.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana Objek dalam Jual Beli Gula Jawa di Desa Jatigunung Kec. Tulakan Kab. Pacitan Menurut Hukum Islam.2. Bagaiamana Penetapan Harga Gula Jawa di Desa Jatigunung Kec. Tulakan Kab. Pacitan Menurut Hukum Islam.
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif (field research). Metode pengumpulan data dilakukan dengan interview (wawancara), observasi (pengematan) dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah Editing, Pengorganisasian Data dan Penemuan Hasil Data.
Berdasarkan analisis ditemukan bahwa praktik jual beli gula jawa di Desa Jatigunung Kec. Tulakan Kab. Pacitan belum sesuai dengan Hukum Islam, hal ini dapat dilihat dari dua aspek : 1. Berdasarkan objek jual beli dalam Hukum Islam tidak sesuai dengan syarat objek jual beli yang harus ada kejelasan dalam kejelasan sifat, dan ukuran yang jelas. Sedangkan dalam praktiknya penjual tidak menjelaskan kepada pembeli bahwa gula jawa tersebut adalah campuran. 2. Berdasarkan penetapan harga yang digunakan oleh penjual dalam jual beli gula jawa tidak adanya unsur keadilan. Karena pada praktiknya penjual menggunakan harga gula jawa asli untuk membuat pembeli percaya. Hal tersebut dilarang dalam Islam karena seharusnya penjual menggunakan harga yang sesuai dengan barang yang dijual. Jika yang dijual tersebut adalah gula jawa campuran seharusnya harganya juga lebih murah dari harga gula jawa asli, karena jika penjual menggunakan harga yang sama dengan harga jual gula jawa asli sama saja penjual mendapatkan riba
KEMAMPUAN GURU MENGIMPLEMENTASIKAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA SISWA SMP (Studi Kasus di Kelas VIII SMP Negeri 2 Karangdowo Kabupaten Klaten)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan: (1)
persepsi guru-guru SMP Negeri 2 Karangdowo Kabupaten Klaten mengenai
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP); (2) kemampuan guru Bahasa
Indonesia dalam merencanakan pembelajaran membaca, yang meliputi
penyusunan RPP, pemilihan materi, penerapan metode, dan penggunaan media;
(3) kemampuan guru Bahasa Indonesia dalam melaksanakan penilaian
pembelajaran membaca; (4) kendala-kendala yang dialami guru Bahasa Indonesia
dalam pelaksanaan pembelajaran membaca; dan (5) upaya yang dilakukan guru
Bahasa Indonesia untuk mengatasi kendala-kendala yang timbul dalam
pelaksanaan pembelajaran membaca.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berupa
penelitian studi kasus dengan mengambil tempat penelitian di SMP Negeri 2
Karangdowo, Kabupaten Klaten. Sumber data yang digunakan yaitu: tempat dan
peristiwa, informan, dan dokumen. Teknik sampling menggunakan purposive
sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
pengamatan, wawancara, analisis dokumen, dan angket. Uji validitas data dengan
triangulasi metode, triangulasi sumber, dan review informan. Teknik analisis data
dilakukan dengan analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data,
dan penarikan simpulan atau verifikasi.
Berdasarkan temuan hasil penelitian di lapangan dapat disimpulkan bahwa:
(1) persepsi guru-guru SMP Negeri 2 Karangdowo mengenai KTSP cukup baik;
(2) kemampuan guru Bahasa Indonesia dalam merencanakan pembelajaran
membaca cukup baik; (3) kemampuan guru Bahasa Indonesia dalam
melaksanakan penilaian pembelajaran membaca sudah sesuai tuntutan KTSP
yakni terdiri dari penilaian proses dan penilaian hasil; (4) kendala-kendala yang
dialami guru Bahasa Indonesia dalam pelaksanaan pembelajaran membaca yaitu:
(a) siswa kurang antusias mengikuti pelajaran, (b) banyak siswa kurang
konsentrasi saat pembelajaran, (c) terdapatnya sekat atau pembatas ruangan
menggunakan besi antarkelas VIII, (d) masih ada siswa yang kemampuannya
masih jauh di bawah KKM, (e) guru kesulitan dalam hal penilaian, dan (f)
sebagian besar siswa berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah; (5)
upaya yang dilakukan guru Bahasa Indonesia untuk mengatasi kendala yang
timbul yaitu: berusaha menggunakan strategi (metode) dan memberikan materi
yang menarik serta mengajak siswa keluar kelas; menegur siswa yang gaduh atau
berbicara sendiri, menyuruh membaca nyaring di hadapan siswa lain, dan
memberikan pertanyaan; memberi himbauan pada para siswa sebelum pembelajaran agar benar-benar memperhatikan penjelasan guru dan meningkatkan
konsentrasi saat membaca; memberikan pembinaan di luar jam pelajaran;
mendalami konsep penilaian dari buku yang telah dibaca dan menerapkannya
secara perlahan-lahan dalam pembelajaran; guru memaklumi dan tidak
mengharuskan siswa untuk membeli dan memiliki buku atau referensi tertentu
serta mengajak siswa agar lebih memanfaatkan fasilitas yang ada, misalnya
perpustakaan
Kesalahan Penggunaan Fukushi Taihen dan Totemo dalam Kalimat Bahasa Jepang Pada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang Angkatan 2013 Universitas Brawijaya.
Penelitian ini dilatarbelakangi karena banyaknya mahasiswa yang tidak mengetahui bahwa fukushi taihen dan totemo memiliki makna yang sama jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia yaitu ‘sangat’. Selain tidak tahu bahwa kedua fukushi tersebut memiliki makna yang sama, mahasiswa juga tidak tahu mengenai fungsi fukushi taihen dan totemo. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian Kesalahan Penggunaan Fukushi Taihen dan Totemo dalam Kalimat Bahasa Jepang Pada Mahasiswa Pendidikan Bahsa Jepang Angkatan 2013 Universitas Brawijaya. Masalah dalam penelitian ini adalah kesalahan penggunaan fungsi fukushi taihen dan totemo yang sering dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang angkatan 2013 dan faktor penyebab terjadinya kesalahan. Penelitian ini menggunakan metode campuran atau biasa disebut dengan mix method dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa tes dan angket. Sampel dalam penelitian berjumlah 50 orang dengan jumlah populasi 75 orang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, kesalahan penggunaan fungsi fukushi taihen sering terjadi pada fungsi II sebesar 71% dengan jumlah 32 responden. Kesalahan penggunaan fungsi fukushi totemo yang sering terjadi yaitu pada fungsi V sebesar 56% dengan jumlah 28 responden. Penyebab kesalahan yaitu sebagian besar responden sebanyak 68% dari 34 orang responden menjawab bahwa fukushi taihen dan totemo memiliki makna yang berbeda jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Serta kurangnya pengetahuan mengenai fungsi fukushi taihen dan totemo. Berdasarkan hasil temuan dilapangan penulis menyimpulkan bahwa masih terdapat banyak kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang angkatan 2013 mengenai penggunaan fungsi fukushi taihen dan totemo. Penulis menyarankan kepada mahasiswa agar lebih banyak mencari referensi mengenai fukushi taihen dan totemo, serta saran kepada pengajar agar pemberian materi lebih luas mengenai fungsi fukushi taihen dan totemo
Kandungan Logam Berat Cd, Pb, dan Cr Tanah Dan Beras Pada Lahan Sawah di Sub Daerah Aliran Sungai Tajum, Kabupaten Banyumas
Peningkatan permintaan beras di Indonesia salah satunya disebabkan karena adanya peningkatan jumlah penduduk yang cukup signifikan. Beras merupakan bahan makanan utama yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat dunia khususnya Indonesia, sehingga permintaan beras di masyarakat cenderung meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan beras di masyarakat, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan produksi beras, salah satunya adalah dengan pemberian input yang dapat berupa pemberian pupuk dan pestisida, Pemberian input sebagai upaya untuk membantu meningkatkan produksi beras banyak dilakukan oleh petani dengan pemberian input kimia sintetik. Pemberian input kimiasintetik secara berlebihan dan dalam jangka waktu yang lama juga dapat berdampak negatif bagi lingkungan maupun kesehatan manusia. Dampak bagi lingkungan yaitu berupa akumulasi logam berat di tanah, sehingga Ketika logam berat sudah terakumulasi di dalam tanah akan masuk ikut terserap oleh tanaman bersamaan dengan penyerapan unsur hara. Logam berat yang terserap ke dalam tanaman maka akan terakumulasi ke dalam bulir padi yang akan di konsumsi. Akumulasi logam berat di beras dapat menyebabkan dampak negative bagi kesehatan manusia. Perlunya mengetahui persebaran logam berat baik didalam tanah maupun beras, sebagai tindakan awal untuk mengetahui lokasi dengan akumulasi logam berat yang tinggi, sehingga dapat dilakukan remediasi logam berat.
Penelitian dilakukan pada bulan April 2020 hingga Januari 2021 di 10 lokasi yang di Kabupaten Banyumas yaitu Kecamatan Pekuncen yang meliputi Desa Kranggan, Desa Karangkemiri, Desa Pasiraman Kidul, Kecamatan Ajibarang yang meliputi Kecamatan Ajibarang Kulon, Kecamatan Wangon yang meliputi Desa Cikakak 1 dan Desa Cikakak 2, Kecamatan Rawalo yang meliputi Kecamatan Menganti dan Kecamatan Pesawahan, dan Kecamatan Purwojati yang meliputi Kecamatan Karangtalun Kidul. Lokasi pengambilan sampel dilakukan pada sawah irigasi yang berada di wilayah Sub DAS Tajum Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan selama satu musim tanam padi dengan mengambil sampel tanah sebelum musim tanam, sampel tanah, daun, dan beras setelah musim tanam yang kemudian dilakukan analisis menggunakan AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometer), selain itu dilakukan wawancara semi terstruktur kepada petani dengan metode RRA (Rapid Rural Appraisal) sebagai informasi penunjang.
Hasil dari pengukuran di dapatkan data logam berat Pb, Cd, dan Cr pada tanah awal musim tanam (ppm), tanah, daun dan beras akhir setelah musim tanam. Data logam berat tersebut dapat dijadikan acuan dalam mengetahui kadar logam berat Pb, Cd, dan Cr yang melebihi ambang batas aman, serta penentuan Faktor Transfer (FT) dan Indeks Pencemaran (IP
Pengembangan e-module interaktif berbasis double loop problem solving(DLPS)pada pokok bahasan aritmatika sosial SMP kelas VII
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS SISWA DALAM PENGEWLAAN KOPBRASI DENGAN SIKAP MENTAL WIRASWASTA PADA KOPEKASI SISWA SMK1NEGERI 2 BONDOWOSO
Keberadaan koperasi siswa sebagai wujud dari gerakan memasyarakatkan
koperasi di sekolah, dapat dimanfaatkan oleh anggotanya sebagai labotartorium
serta praktek untuk mengenal nilai-nilai praktis dari koperasi. Dilain pihak masih
banyak pengangguran sebagai akibat dari out put pendidikan yang masih belum
mampu untuk menciptakan lapangan kerja sendiri sehingga dikatakan sikap mental
wiraswasta mereka masih perlu dibina. Dari latar belakang itu maka penulis tertarik
untuk mengadakan penelitian tentang: "Hubungan antara aktivitas siswa dalam
mengelola koperasi dengan sikap mental wirasawasta pada koperasi siswa
SMK. Negeri 2 Bondowoso". Bagaimana keterkaitan antara aktivitas siswa dalam
mengelola koperasi dengan sikap mental wirasawasta yang dimiliki siswa
merupakan tujuan dari penelitian ini. Untuk itu dirumuskan hipotesis kerja yaitu "
Ada hubungan antara aktivitas siswa dalam mengelola koperasi dengan sikap mental
wirasawasla pada koperasi siswa SMK. Negeri 2 Bondowoso". Analisis data yang
digunakan adalah statisitik deskliptif dengan distribusi frekuensi dan prosentase.
Dari hasil analisis djperoleh rh = 0. 78 > r1 5 o/o = 0.361, yang berarti H. diterima
dan Ho ditolak. Aktivitas siswa dalam pengelolaan koperasi termasuk dalam kategori'
baik dengan tingkat keaktifan mencapai 80.42 % dan sikap mental wiraswasta juga
dalam kategori baik yaitu menunjukkan pada angka 88.42 %. Jadi dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan antara aktivitas siswa dalam mengelola koperasi
dengan sikap mental wiraswasta pada koperasi siswa SMK. Negeri 2 Bondowoso.
Sedangkan kata kunci dalam penelitian ini adalah Aktivitas siswa dalam pengelolaan
koperasi dan Sikap mental wiraswasta.Universitas Jembe
TINJAUAN ATAS PEMBLOKIRAN REKENING WAJIB PAJAK DI KANTOR PELAYANAN PAJAK (KPP) PRATAMA SUKABUMI
This Final Assignment Report was prepared by Desvia Ratnasari with Student Identification Number 1741211023 entitled "REVIEW ON BLOCKING OF TAX MANDATORY ACCOUNT IN TAX SERVICE OFFICE (KPP) PRATAMA SUKABUMI" This report was prepared based on the results of observations and interviews conducted by the author at the Tax Service Office of Pratama Sukabumi. Every taxpayers who still has tax arrears unpaid debts will be issued a forced letter, if he still does not have a good intention, a confiscation letter will be carried out, but in the case of tax payer has sufficient fund in his bank account, his bank account will be blocked.
This research on bank account blocking is conducted to find out the level of blocking on bank accounts that have been carried out by KPP Pratama Sukabumi, step by step of the process of blocking bank accounts, steps in the process of blocking bank accounts if outside the Tax Office working area, parties involved and have authority in the process of blocking bank accounts, follow-up to the process of blocking bank accounts and obstacles in the implementation of bank account blocking, in this field study the method used is descriptive method to analyze an object by focusing attention to the problems being examined and describe the object of research in accordance with field conditions and when interpreting the research must be rational and in accordance with the actual meaning.
Based on research that has been done that the level of bank account blocking on taxpayers is quite a lot, the procedure of account blocking is fairly easy to understand and the people involved in blocking bank accounts do not involve many people such as tax bailiffs, tax service office and the minister of finance
- …
