8,425 research outputs found
Studi analisis persepsi Muhammad Inwannudin terhadap keberadaan hilal
Rukyat adalah kegiatan mengamat visibilitas hilal yaitu penampakan bulan sabit yang pertama kali muncul setelah terjadinya ijtimak. Muhammad Inwannudin merupakan anggota LFNU Gresik yang sudah berulang kali berhasil menyaksikan hilal dengan mata telanjang. Ketinggian hilal yang berhasil dilihat oleh Muhammad Inwanuddin bervariasi, mulai dari ketinggian lebih dari 2 derajat sampai dengan hilal yang memiliki ketinggian kurang dari 2 derajat. Penelitian ini bertujuan untuk, pertama persepsi Muhammad Inwannudin terhadap keberadaan hilal. Kedua, untuk mengetahui sikap Muhammad Inwannudin pada saat kesaksian hilalnya ditolak.
Penelitian ini berjenis field research dengan metode kualitatif fenomenologi. Sumber data primer dari hasil wawancara dan dokumentasi, sedangkan data sekunder bersumber dari buku Berita Acara Rukyatul Hilal Awal Bulan Hijriyah/Kamariah LFNU Gresik dan juga dari buku, tesis, skripsi, dan karya tulis ilmiah lain yang berkaitan dengan rukyatul hilal.
Penelitian ini menghasilkan dua temuan. Pertama, Persepsi Muhammad Inwannudin terhadap keberadaan hilal sudah memenuhi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persepsi milik Walgito, yaitu memiliki informasi, paham akan kebutuhan dari rukyatul hilal, menetralkan emosi sebelum pelaksanaan rukyatul hilal. Sedangkan untuk dua faktor lainnya yaitu impresi dan konteks yaitu persepsi Muhammad Inwannudin dinilai dari keadaan hilal dan juga lokasi dilaksanakannya rukyatul hilal. Kedua, Sikap yang diberikan oleh Muhammad Inwannudin terkait dengan penolakan hasil kesaksian rukyat yang dilakukannya pada awal bulan Muharram 1439 H yaitu menerima bahwa kesaksiannya tidak diterima oleh Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LFPBNU), tetapi Muhammad Inwannudin sendiri tetap meyakini bahwa malam itu sudah masuk awal bulan baru karena hilal sudah terlihat. Muhammad Inwannudin tidak menganjurkan atau memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang diyakininya
Teknik rukyatul hilal tanpa alat optik : analisis hasil rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin
Rukyatul hilal merupakan salah satu metode dalam menentukan awal bulan kamariah baik menggunakan alat optik rukyat atau hanya menggunakan mata. Muhammad Inwanuddin merupakan perukyat yang sering bersaksi melihat hilal menggunakan mata tanpa alat bantu. Hilal dilihat dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 2º di atas ufuk bahkan kurang dari 2º di atas ufuk. Studi ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: (1) Bagaimana analisis astronomis terhadap hasil rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin tanpa alat optik? (2) Bagaimana analisis klimatologis terhadap hasil rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin tanpa alat optik pada hari Rabu, 20 September 2017 M/29 Zulhijah 1438 H di Pasuruan? Tesis ini merupakan penelitian kualitatif berupa studi kasus dengan pendekatan astronomis dna klimatologis. Data diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi yang kemudian akan dianalisis dengan metode analisis deskriptif terhadap hasil rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin tanpa alat optik dalam penentuan awal Ramadan, Syawal, Zulhijah dengan pendekatan astronomis dan menganalisis hasil rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin pada hari Rabu, 20 September 2017 M/29 Zulhijah 1438 H dengan pendekatan astronomis dan klimatologis.
Kajian ini menunjukkan bahwa: (1) Secara astronomis, hasil analisis rukyatul hilal Muhammad Inwanuddin untuk posisi hilal kurang dari 2 derajat sangat sulit untuk diamati. Sebagaimana dalam penentuan awal Muharram 1439 H dengan umur hilal 4 jam 55 menit menyebabkan bentuk hilal tipis rentan terkecoh oleh noisy (gangguan). Meskipun nilai elongasi sudah mencapai batas minimum 3 derajat (kriteria imkanur rukyat), kondisi langit di ufuk barat tertutup awan rendah dan matahari sebelum waktunya terbenam sudah tidak terlihat karena tertutup awan serta cahaya syafak lebih kuat dari cahaya bulan, sehingga untuk objek yang terlihat bukan hilal melainkan noisy (gangguan) dari hamburan sinar matahari mengenai awan. (2) Secara klimatologis, hasil rukyatul hilal pada hari Rabu, 20 September 2017 M/29 Zulhijah 1438 H, tidak terdapat curah hujan untuk daerah Pasuruan. Sementara itu, suhu rata-ratanya adalah 21,0°C dengan tinggi tempat 5 meter menyebabkan cuaca di tempat cukup dingin pada sore hari. Namun untuk nilai kelembaban udara sebesar 72%, menyebabkan gumpalan awan di ufuk barat dan matahari 5 menit sebelum terbenam sudah hilang karena mendung tertutup awan. Sehingga hilal tidak terlihat
Hermeneutika Dan Dekonstruksi Hadis Rukyah Al-Hilal
Salah satu objek kajian ilmu falak adalah penentuan awal Ramadhan dan Syawal. Penentuan tersebut dapat dilakukan dengan rukyat, dan hisab. Metode rukyat dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, sahabat, tabiin sampai sekarang. Rukyat yang dapat dilakukan oleh semua ini orang dilakukan dengan cara melihat hilal ketika matahari terbenam di akhir bulan. Hisab adalah perhitungan posisi dan ketinggian hilal saat matahari terbenam. Jika hilal tidak dapat terlihat karena cuaca maka bulan Syakban menjadi 30 hari. teori seperti ini dapat disebut dengan istikmal. Cara lain dapat ditempuh dengan cara mengkira- kirakan posisi hilal, teori ini diesebut dengan faqduru lahu. Masalah penentuan hilal hingga sekarangOne of the objects of Islamic Astronomic sciene is determining the beginning of Ramadhan and Syawal.. That determining can do by rukyat and, hisab. The method of rukyat which done by Prophet Muhammad saw, friends, tabiin until now. Rukyat can do all off people with see the hilal when the sunset in the end of month. Hisab is calculating position and altitude of hilal at the sunset. If hilal couid not be seen because of weather or the other things so entire numbering of Sya’ban become 30 days. This theory like this called istikmal. Onthe other way, If hilal couid not be seen, so it can be predicted by calculatingof hilal position. This called faqduruu lahu. This object of determining hilal till now take an crucial problerm which has not been solved yet. The problem come from the understanding of Nabi’s hadis SAW. So it’ll better should be understood with hermeneutic theory and deconstruction theo
Transkrip wawancara bersama Muhammad Dain Othman (Pak Dain) dalang wayang kulit dan pemilik Galeri Wayang Kulit Melayu Tradisional Kelantan / Muhammad Azmi Kamaruddin, Muhammad Nur Hilal Rahmat and Mohd Farhan Mohd Rashid
Encik Muhammad Dain bin Othman atau dikenali ramai dengan panggilan Pak Dain merupakan seorang Tok Dalang dan pemilik kepada Galeri WAYANG KULIT MELAYU TRADISIONAL KELANTAN yang ditubuhkan olehnya sekitar 2008 dan masih beroperasi sehingga kini. Wawancara bersama Pak Dain ini dikendalikan oleh Muhammad Azmi bin Kamaruddin bersama dua lagi rakan seperjuangan, Muhammad Nur Hilal bin Rahmat dan Mohd Farhan bin Mohd Rashid, Pelajar Sepenuh Masa Universiti Teknologi Mara (UiTM) Kampus Machang, Fakulti Pengurusan Maklumat, Pengajian Ijazah Sarjana Muda (Kepujian) pada 14 April 2014 (Isnin). Lokasi temubual adalah di pejabat Pak Dain yang terletak di dalam galeri miliknya pada jam 11.00 pagi hingga 2.00 petang. Transkrip disediakan mengikut temubual yang telah dijalankan bersama penglibatan Pak Dain yang menyentuh tentang soal latar belakang, wayang kulit, galeri serta pengalaman beliau sepanjang penglibatan. Secara keseluruhan, sesi temubual ini berjalan dengan lancar dan mendapat kerjasama dan sokongan sepenuhnya daripada Pak Dain sendiri
Pioneers of Library Movement in Pakistan
The paper aims to describe in brief the contribution of seven leaders of Pakistan librarianship, viz. K.B. Khalifa M. Asadullah, Prof. Dr. Abdul Moid, Dr. Abdus Subuh Qasimi, Muhammad Shafi, Fazal Elahi, Khawaja Nur Elahi and S. V. Hussain. The early library developments are given for better understanding of the role of these leaders
Keberhasilan rukyatul hilal oleh Muhammad Inwanuddin pada Ramadan 1431 H dan Muharram 1439 H dalam perspektif nalar ‘irfani
Dalam pelaksanaan rukyatul hilal, Muhammad Inwanuddin selalu menggunakan mata langsung atau tanpa alat bantu rukyat. Beberapa laporan keberhasilannya dalam melihat hilal dinilai tidak sesuai dengan kriteria imkan ar-rukyat yang dipakai oleh Kementerian Agama RI, seperti pada penetapan awal Ramadan 1431 H dan Muharram 1439 H. Hipotesis awal menunjukkan adanya faktor spiritualitas dan religiusitas yang mempengaruhi keberhasilannya dalam melihat hilal, sehingga penelitian ini bermaksud untuk memahami dan menjawab pertanyaan terkait: 1) Bagaimana keberhasilan rukyatul hilal oleh Muhammad Inwanuddin pada Ramadan 1431 H dan Muharram 1439 H dalam perspektif nalar ‘irfani. 2) Bagaimana relevansi antara nalar ‘irfani oleh Muhammad Inwanuddin dengan fakta scientific dalam keberhasilan rukyatul hilal.
Jenis penelitian ini masuk ke dalam kategori kualitatif dengan kajian penelitian lapangan, kemudian penelitian ini menggunakan pendekatan epistemologi ‘irfani dan fenomenologi untuk menguraikan data yang telah diperoleh. Sumber data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah wawancara kepada subjek penelitian sebagai data primer dan berbagai buku, artikel jurnal, karya tulis ilmiah serta dokumen yang berkaitan dengan pembahasan dalam penelitian ini sebagai data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah teknik wawancara semi terstruktur dan teknik observasi partisipan, sedangkan untuk menganalisis datanya penulis menggunakan teknik eksplikasi data.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Nalar ‘irfani yang berkaitan mengenai spiritualitas dan religiusitas yang dilakukan oleh Muhammad Inwanuddin berpengaruh positif dengan tingkat keberhasilan rukyatul hilal, terutama pada pelaksanaan rukyatul hilal awal Ramadan 1431 H dan Muharram 1439 H. 2) Relevansi antara nalar ‘irfani yang berkaitan mengenai spiritualitas dan religiusitas yang dilakukan oleh Muhammad Inwanuddin dengan fakta scientific dalam keberhasilan rukyatul hilal nyatanya terdapat kesesuaian dan signifikansi di antara keduanya.
ABSTRACT:
In the implementation of rukyatul hilal, Muhammad Inwanuddin always uses direct eyes or without rukyat aids. Several reports of its success in seeing the hilal were judged not to be in accordance with the criteria of imkan ar-rukyat used by the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia, such as the initial determination of Ramadan 1431 H and Muharram 1439 H. The initial hypothesis indicated that there were spirituality and religiosity factors that influenced his success in seeing the new moon, so that This study intends to understand and answer related questions: 1) How successful was the rukyatul hilal by Muhammad Inwanuddin in Ramadan 1431 H and Muharram 1439 H in the perspective of 'irfani reasoning. 2) What is the relevance of Muhammad Inwanuddin's 'irfani reasoning with scientific facts in the success of rukyatul hilal.
This type of research is included in the qualitative category with field research studies, then this study uses an epistemological approach of 'irfani and phenomenology to describe the data that has been obtained. Sources of data used by the author in this study were interviews with research subjects as primary data and various books, journal articles, scientific papers and documents related to the discussion in this study as secondary data. The data collection technique used by the author in this study is a semi-structured interview technique and participant observation technique, while to analyze the data the author uses a data explication technique.
The results of this study indicate that: 1) 'Irfani reasoning related to spirituality and religiosity carried out by Muhammad Inwanuddin has a positive effect on the success rate of rukyatul hilal, especially in the implementation of rukyatul hilal at the beginning of Ramadan 1431 H and Muharram 1439 H. 2) Relevance between reasoning ‘irfani related to spirituality and religiosity carried out by Muhammad Inwanuddin with scientific facts in the success of rukyatul hilal in fact there is a match and significance between the two.
الملخص
في تنفيذ رئية الهلال ، يستخدم محمد عنوان الدين دائمًا عيونًا مباشرة أو بدون مساعدات رئيات. تم الحكم على عدة تقارير عن نجاحها في رئية الهلال على أنها لا تتوافق مع معايير إمكان الرئيات التي تستخدمها وزارة الدين في جمهورية إندونيسيا ، مثل التحديد الأولي لشهر رمضان ١٤٣١ هـ ومحرم ١٤٣٩ هـ. أشارت الفرضية الأولية إلى أن هناك عوامل روحانية وتدين أثرت في نجاحه في رئية الهلال ، بحيث تهدف هذه الدراسة إلى فهم والإجابة على الأسئلة ذات الصلة: ١) ما مدى نجاح رئية الهلال لمحمد عنوان الدين في رمضان ١٤٣١ هـ ومحرم. ١٤٣٩ هـ في منظور عرفاني. ٢) ما علاقة منطق العرفاني لمحمد عنوان الدين بالحقائق العلمية في نجاح رئية الهلال.
يندرج هذا النوع من البحث ضمن الفئة النوعية مع الدراسات البحثية الميدانية ، ثم تستخدم هذه الدراسة المنهج المعرفي للعرفاني والظواهر لوصف البيانات التي تم الحصول عليها. كانت مصادر البيانات التي استخدمها المؤلف في هذه الدراسة هي المقابلات مع موضوعات البحث مثل البيانات الأولية والكتب المختلفة والمقالات الصحفية والأوراق العلمية والوثائق المتعلقة بالمناقشة في هذه الدراسة كبيانات ثانوية. تقنية جمع البيانات المستخدمة من قبل المؤلف في هذه الدراسة هي تقنية مقابلة شبه منظمة وتقنية ملاحظة المشاركين ، بينما لتحليل البيانات يستخدم المؤلف تقنية شرح البيانات.
تشير نتائج هذه الدراسة إلى أن: ١) استنتاج عرفاني للروحانية والتدين الذي قام به محمد عنوان الدين كان له تأثير إيجابي على معدل نجاح رئية الهلال ، خاصة في تنفيذ رئية الهلال في بداية شهر رمضان ١٤٣١ هـ. محرم ١٤٣٩ هـ ٢) الصلة بين التفكير العرفي المرتبط بالروحانية والتدين الذي قام به محمد عنوان الدين مع الحقائق العلمية في نجاح رئية الهلال في الواقع هناك تطابق ودلالة بين الاثنين
KORELASI PENENTUAN AWAL BULAN KAMARIAH MENGGUNAKAN PROGRAM HILAL CALC 3.0 DAN ACCURATE TIMES TERHADAP RUKYATUL HILAL
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan penentuan awal bulan Kamariah dapat dihitung secara astronomi (Ilmu Falak). Penentuan awal bulan Kamariah ini penting bagi umat islam dalam melaksanakan ibadahnya. Dalam menentukan awal bulan Kamariah terdapat beberapa metode, maka peneliti akan mencari korelasi antara aplikasi hilal calc 3.0 dengan program accurate times Muhammad odeh. Dengan tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui penetuan awal bulan Kamariah menggunakan program hilal calc 3.0., tingkat keakurasian program hilal calc 3.0 terhadap penentuan awal bulan Kamariah, untuk mengetahui korelasi penentuan awal bulan Kamariah menggunakan program hilal calc 3.0 dengan program Accurate Times Muhammad Ode
Akurasi data posisi matahari dan bulan aplikasi Islamicastro untuk rukyatul hilal
Seiring perkembangan teknologi, ilmu falak mengalami masa digitalisasi yang berkembang pesat. Aplikasi –aplikasi android falak mulai banyak bertaburan di Playstore atau Internet. Namun, aplikasi-aplikasi tersebut belum dikaji sisi keabsahan teorinya dan belum ada verifikasi terkait dengan algoritma dan penerapan dalam rukyatul hilal.
Fokus kajian penulis terhadap aplikasi islamicastro karya Muhammad Faishol Amin dalam fungsi untuk rukyatul hilal. Dalam penelitian ini, penulis mengangkat dua permasalahan pokok: pertama, Bagaimana algoritma aplikasi Islamicastro dalam menentukan posisi Matahari dan Bulan untuk rukyatul hilal? Kedua, Bagaimana akurasi aplikasi Islamicastro dalam menentukan posisi Matahari dan Bulan untuk rukyatul hilal?
Dalam menyelesaikan permasalahan ini penulis menggunakan penelitian kualitatif deskriptif evaluatif. Dengan metode tersebut, penulis berupaya mengungkap dan memahami sistem hisab penentuan posisi Bulan dan Matahari dalam aplikasi android Islamicastro karya Muhammad Faishol Amin. Tahap selanjutnya melakukan evaluasi terkait kekurangan dan kelebihan dengan cara membandingkan Islamicastro dengan aplikasi WinHisab dan Stellarium. Aplikasi WinHisab untuk menverifikasi data ephimeris Islmicastro dan aplikasi Stellarium digunakan untuk menverifikasi hasil pengamatan hilal dengan Islamicastro.
Hasil dari penelitian ini yaitu pertama, Penyusunan aplikasi islamicastro diambil dari berbagai algoritma sesuai dengan tahapanya. Tahap pencarian data ephimeris algoritma yang dipakai adalah algoritma Jean Meuss baik untuk data Matahari maupun data Bulan sementara dalam tahap perhitungan tinggi dan azimuth hilal memakai algoritma dari beberapa buku yaitu karangan Slamet Hambali, Ahmad Izzuddin, Muhyiddin Khazin dan Rinto Anugraha. Kedua,Uji akurasi posisi Matahari dan Bulan dalam Islamicastro dilakukan dalam beberapa tahap: 1. Untuk akurasi waktu dalam android berkisar antara 0 sampai dengan 4.407 detik. sementara untuk lokasi berkisar antara 0,85 meter sampai dengan 13 meter. 2. secara umum akurasi data ephimeris yang dihasilkan dalam aplikasi Islamicastro telah bagus yaitu dalam orde detik. Tetapi ada yang harus digaris bawahi yaitu pada nilai akurasi Equation of time di bulan Maret yang mencapai selisih sampai dengan 0 menit 29,29 detik. 3. Akurasi tinggi mar’i baik itu dari tinggi Matahari maupun Bulan memiki nilai yang cukup besar dengan selisih paling besar untuk Bulan yaitu 15 menit 13.99 detik sementara untuk Matahari sebesar 13 menit 33.06 detik
Kinerja Bimbingan 201080200179 MUHAMMAD HILAL HAMDI
Bukti Kinerja Bimbingan_Mahasiswa_201080200179_MUHAMMAD HILAL HAMD
Studi analisis pemikiran KH Muhammad Umar Bashri Garut tentang rukyatul istitar dalam kitab Tahqiqul Hilal
Perdebatan mengenai tata cara dalam penentuan awal bulan Kamariah yang terkait dengan prosesi ibadah umat Islam dengan cara melihat Hilal telah lama menjadi kontroversi selama lebih dari empat puluh tahun di Indonesia. Pada dasarnya perbedaan hasil penentuan awal Ramadlan dan Syawal ini sangat beragam. Penyebab lain dari perbedaan hasil pendekatan yang sama, antar rukyah dan antar hisab, terbit dari cara maupun tolok ukur penilaian terhadap keabsahan hasilnya. KH Muhammad Umar Bashri yang merupakan salah satu ulama yang sangat berpengaruh di tataran Sunda pada paruh pertama abad ke-XX yang juga pendiri Pondok Pesantren Al-Fauzan, mengharuskan adanya rukyah untuk menentukan awal bulan Kamariah dalam karyanya yaitu kitab Tahqiqul Hilal. Namun berbeda dari metode rukyah pada umumnya, metode tersebut bernama Rukyatul Istitar. Lalu muncul sebuah keingin tahuan bagaimana ketepatan metode Rukyatul Istitar dalam menentukan awal bulan Kamariah yang pada umumnya ditentukan oleh kemunculan hilal. Maka dari itu, penulis tertarik untuk meneliti metode Rukyatul Istitar dalam kitab Tahqiqul Hilal serta tingkat keakurasian metode tersebut terhadap kemungkinan kenampakan hilal pada akhir bulan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode Rukyatul Istitar dalam menetukan awal bulan Kamariah dan mengetahui tingkat keakurasian Rukyatul Istitar terhadap kemungkinan kenampakan hilal melalui perhitungan hisab sistem ephemeris.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (Lybrary Reseach). Data primer yang digunakan adalah kitab Tahqiqul Hilal dan wawancara langsung dengan sesepuh Pondok Pesantren Fauzan yang masih menggunakan metode tersebut, serta data sekunder yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang terkait dengan objek penelitian. Adapun proses analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Penelitian ini berfokus kepada keterangan dalam kitab tersebut yang penulis coba ubah ke dalam algoritma.
Penelitian ini menghasilkan dua temuan: pertama, metode Rukyatul Istitar yang dilakukan setelah terbitnya Fajar dan sebelum terbitnya Matahari kemungkinan hanya terjadi dalam 2 (dua) hari yaitu tanggal 28 dan/atau 29 setiap bulannya. Kedua, Rukyatul Istitar memiliki akurasi yang baik terhadap kemungkinan kenampakan hilal melalui perhitungan sistem Ephemeris yang dibandingkan dengan Keputusan Menteri Agama RI
- …
