190 research outputs found

    Metode statistika untuk pangan dan gizi masyarakat/ Syarief

    No full text
    xi, 309 hal. : ill.; 21 cm

    Metode statistika untuk pangan dan gizi masyarakat/ Syarief

    No full text
    xi, 309 hal. : ill.; 21 cm

    Metode statistika untuk pangan dan gizi masyarakat/ Syarief

    No full text
    xi, 309 hal. : ill.; 21 cm

    Website Information Application at Islamic Junior School Ash-Syarief Using Macromedia Dreamweaver MX 2004

    No full text
    Internet media today are very degemari by the community, because the Internet is one ofthe containers / facilities highly efficient and effective way to exchange information. Inscientific writing, the author makes the website of Islamic junior high ash-Starief usingMacromedia Dreamweaver MX 2004 which contains all information about Islamic juniorhigh ash-Syarief, among others: History of Islamic junior high ash-Syarief, Vision andMission Junior High School Ash-Syarief Islam, curriculum, facilities, extracurricularactivities, school participation, School Leadership, Location Map, Contact Us, and theguestbook. In addition to the author using SwishMax program, PHP, and MySQL as aprogram supporter

    Website Information Application At Islamic junior School Ash-Syarief Using Macromedia Dreamweaver MX 2004

    No full text
    Internet media today are very degemari by the community, because the Internet is one ofthe containers / facilities highly efficient and effective way to exchange information. Inscientific writing, the author makes the website of Islamic junior high ash-Starief usingMacromedia Dreamweaver MX 2004 which contains all information about Islamic juniorhigh ash-Syarief, among others: History of Islamic junior high ash-Syarief, Vision andMission Junior High School Ash-Syarief Islam, curriculum, facilities, extracurricularactivities, school participation, School Leadership, Location Map, Contact Us, and theguestbook. In addition to the author using SwishMax program, PHP, and MySQL as aprogram supporter

    NURHIDAYAH SARITILAWAH BASA SUNDA AL-QUR'AN WINANGUN PUPUH (Studi Metode Penafsiran R. Hidayat Suryalaga)

    No full text
    Berangkat dari sebuah kesadaran primordial sebagai pituin (asli) orang Sunda yang merantau (mencari ilmu) ke tanah Mataram. Mencoba mengangkat dan memperkenalkan kekayaan intelektual yang mengkristal di tanah Sunda, karena kurangnya pengetahuan dan sosialisasi tentang kajian al-Qur'an kiwari (kini). ltu merupakan salah satu alasan mengapa skripsi ini mengangkat Nur Hidayah Saritilawah Basa Sunda Al-Qur 'an Winangun Pupuh karya Drs. H. Hidayat Suryalaga, seorang budayawan Sunda yang ditinjau dari sudut kajian tafsir al-Qur'an. Kajian ini membahas studi metode penafsiran yang mencakup kajian sistematika, metode dan corak penafsiran serta kelebihan dan kekurangannya sebagai sumber rumpaka (syair) dalam seni tembang Sunda Cianjuran untuk menyebarkan ajaran (dakwah) Islam dalam bentuk kesenian sebagai altematif baru membumikan al-Qur'an di tanah Sunda. Selain itu, juga mengemukakan sekilas gambaran umum pupuh Sunda sebagai media penafsiran, riwayat hidup, dan latar belakang penulisan karya ini. . Penelitian ini bersifat kepustakaan (library research) yang didasarkan pada karya Hidayat Suryalaga, Nur Hidayah Saritilawah Basa Sunda Al-Qur 'an Winangun Pupuh sebagai data primer dan buku-buku lain yang terkait dengan metodologi penafsiran al-Qur'an ditambah dengan wawancara untuk mendukung dan memperkuat data yang ada. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif analisis, yakni pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat Ialu dianalisis dengan menguraikan data dan sumber yang ada. Hasil penelitian menyatakan bahwa Nur Hidayah Saritilawah Basa Sunda Al-Qur 'an Winangun Pupuh karya Drs. H. Hidayat Suryalaga ini dilatar belakangi oleh keprihatinan beliau terhadap kenyataan hidup orang-orang disekelilingnya yang sering khatam (menamatkan bacaan) al-Qur'an namun tidak mengerti arti dan maksud yang dikandungnya. Dan kesadaran keberagamaan yang tumbuh pada diri beliau untuk berbuat sesuatu atas hal tersebut sehingga diniatkan sebagai ibadah dan salah satu tugas hidupnya scbagai budayawan Sunda. Didalam penafsirannya beliau menggunakan sistematika penulisan tartib musflafi sebagaimana tertib dan susunan ayat dan surah dalam mushaf al-Qur'an. Metode penafsiran yang digunakan adalah metode tafsir ijmiiU yang menjelaskan makna al-Qur'an secara global. Corak penafsiran Nur Hidayah Saritilawah Basa Sunda Al-Qur 'an Winangun Pupuh bercorak um um. Didasarkan pada bentuk pupuh (puisi tradisional Sunda) yang penuh aturan baik isi maupun bentuk. Pupuh yang dipakai dalam karya ini hanya empat buah yakni : Asmarandana, Dangdanggula, Kinanti dan Sinom . Keempat pupuh sengaja dipakai karena frekwensi penggunaannya dalam seni tembang Sunda Cianjuran

    Analisis Determinan Status Dehidrasi Latihan pada Atlet Remaja

    No full text
    During intensive exercise, athlete must able to make right strategy of fluid consumption to replace body water loss to prevent dehydration. Dehydration can compromise physiologic function, increase the risk of exertional injury, blocked the rate of energy production, and negatively influence performance. The main purpose of this study is to analysis of determinant of exercise dehydration status in young athlete. The research has been done at PPLP DKI in August to October 2013 by using cross sectional study design. Based on the percentage of body weight change in exercise, 56,1% of subject catagorized as well dehydrated and 43,9% of subject catagorized as dehydration (minimal dehydration) in exercise. The results of correlation analysis showed that significant relationship between gender, percentage of total body fat, sufficient level of fluid in exercise period, and sweat rate in exercise with exercise dehydration status. The results of multiple linier regression showed that the determinant of exercise dehydration status in young athlete are gender, sufficient level of fluid in exercise period, and sweat rate in exercise

    Karakteristik Konsumsi Pangan Hewani di Berbagai Wilayah Menurut Indikator Kesejahteraan

    No full text
    This study are aim to know about development of characteristic animal food consumption base on welfare indicators. An Ecological design was use in this study. The date of this research is Susenas publication 2009, 2010, and 2011. The result show that share of animal food expenditure in various regions is fluctuation. Share of Animal food expenditure in urban areas more higher than rural. The pattern of animal food expenditure is fish, eggs and milk, meat. Fish, eggs and milk proportion are decrease while the meat increases. Protein contribution of animal food in various regions is increases. Then, the population in urban areas has better protein contribution than rural. Protein adequacy level in various regions is increase continuously. The urban population has a better protein adequacy level than rural. The result of regression test known that the economic and demographic factor has a significant impact on animal food expenditure in various region at 5% level with r = 0.807

    Analisis Hubungan Pelayanan Kesehatan dengan Status Gizi Batita

    No full text
    Under three years of age is a critical in growth and development. During the period health service is very important to maintain health and nutritional status of children. The objective of the study was to analyze health services utilization to nutritional status of children under three years of age. The crossectional study was applied in this research. Data collected from DI Yogyakarta, Sumatera Selatan and Nusa Tenggara Timur Provinces trought Riskesdas (Basic Health Research) 2007 had been used for study. In this study weight-for-height (WHZ), weight-for-age (WAZ) and height-for-age (HAZ) were used as an indicator of nutritional status of children under three years of age . Health services include weighting, health extension, immunitiation, mother and child health, medicare, complementary feeding, suplementary nutrien and consultation risk of disease. It was found that WHZ indicator correlated significantly to weighting service (χ2=9.328, p=0.025), health extention (χ2=8.290, p=0.040), complementary feeding (χ2=6.470, p=0.009) and medicare service (χ2=7.597, p=0.055) in health service. It showed that weight-for-age (WAZ) correlated significantly with weighting service (χ2=6.698, p=0.082), health extension (χ2=7.182, p=0.066), complementary feeding (χ2=5.563, p=0.051). While height-fo-age (HAZ) correlated significantly with weighting service (χ2=7.046, p=0.030) and supplementary nutrient service (χ2=5.387, p=0.068). Moreover study showed that indicator WHZ was significantly affected by number of family member and health services utilization. Both the WAZ and HAZ indicators were significantly influenced by duration of mother‘s education, infectious diseases as well as health services utilization.Umur di bawah tiga tahun merupakan masa yang sangat penting dan kritis dalam proses pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemanfaatan pelayanan kesehatan dengan status gizi batita. Penelitian ini bersifat crossectional design yang menggunakan data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 merupakan data primer yang telah mengalami verifikasi, editing dan cleaning oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Penelitian ini mengambil lokasi di tiga Provinsi yaitu: Provinsi Sumatera Selatan, DI Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur. Contoh adalah anak berumur di bawah tiga tahun (batita) dan berasal dari kuintil 1 dan 2. Dalam penelitian ini berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), berat badan menurut umur (BB/U) dan tinggi badan menurut umur (TB/U) digunakan sebagai indikator status gizi. Pelayanan kesehatan meliputi: penimbangan, penyuluhan, imunisasi, kesehatan ibu dan anak, pengobatan, pemberian makanan tambahan, suplemen gizi dan konsultasi resiko penyakit. Untuk melihat keragaan umum analisis disajikan dalam bentuk tabel univariat, sedangkan untuk melihat hubungan antar variabel digunakan uji statistik chi-square tes dan moment pearson correlation test. Untuk melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi dengan menggunakan regresi linier berganda pada data gabungan ketiga provinsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata z-score status gizi batita dengan indikator BB/TB adalah -0.36 ± 2.2 SD, BB/U -0.88 ± 2.8 SD dan TB/U -0.78 ± 1.76 SD. Secara keseluruhan di ketiga wilayah penelitian angka prevalensi wasting, underweight dan stunting berturut-turut adalah sebesar 20.4%, 41.2% dan 22.7%. Prevalensi wasting, underweight dan stunting pada batita terbanyak terjadi pada keluarga dengan ibu berpendidikan hanya tamat SD, dan berumur antara 26-40 tahun dengan jumlah anggota 5-7 orang. Lama pendidikan ibu berkorelasi positif dengan status gizi batita indikator BB/TB, BB/U dan TB/U. Jumlah anggota keluarga berkorelasi negatif dengan status gizi batita indikator BB/TB. Status gizi batita memiliki hubungan negatif dengan penyakit infeksi, BB/TB (r=-0.061, p=0.011), BB/U (r=-0.061, p=0.011) dan TB/U (r=-0.105, p=0.000)

    Studi Ketahanan Pangan Rumah Tangga Suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara

    No full text
    Ketahanan pangan dan kelaparan masih menjadi isu dan masalah global. Ketersediaan pangan pada tingkat global, nasional dan wilayah ternyata belum tentu menjamin akses pangan pada tingkat rumah tangga dan pencapaian status gizi yang baik bagi individu. Karakteristik sosial ekonomi rumah tangga dan lingkungan terkait dengan kondisi ketahanan pangan. Komunitas masyarakat nelayan dan masyarakat adat diduga memiliki tantangan ketahanan pangan yang spesifik. Suku Bajo merupakan salah ikon etnis maritim yang paling terkenal di wilayah pulau-pulau kecil perairan Sulawesi yang memiliki kehidupan khas yaitu masih bertahan di laut sebagai sumber hidup dan penghidupan. Komunitas terbesar suku Bajo di Indonesia yang sudah mulai menetap dapat ditemukan di Wakatobi. Menurut Wianti (2011) komunitas Bajo di Wakatobi menghadapi tantangan ekologis akibat pembatasan terhadap ruang nafkah oleh taman nasional dan pelarangan untuk menangkap ikan di perairan Australia yang tentu saja dapat mengancam ketahanan pangan rumah tangga. Oleh karena itu kajian terhadap ketahanan pangan pada masyarakat adat seperti pada Suku Bajo di Wakatobi menjadi menarik dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi karakterstik sosial ekonomi rumah tangga suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara; (2) menganalisis ketahanan pangan rumah tangga suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara dilihat dari pilar aksesibilitas; (3) menganalisis status konsumsi energi dan protein rumah tangga suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara; (4) mengidentifikasi consumption coping strategy rumah tangga suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara; (5) menganalisis status gizi balita suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini merupakan obeservasional analitik dengan menggunakan desain cross sectional yang dilakukan di Kampung Bajo Mola Raya yang terdiri atas 5 desa (Mola Utara, Mola Selatan, Mola Bahari, Mola Samaturu, dan Mola Nelayan Bakti) pada bulan Desember 2017 – Januari 2018. Jumlah contoh yang dikumpulkan sebanyak 98 rumah tangga diambil secara acak sederhana. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar rumah tangga Suku Bajo di Kabupaten Wakatobi memiliki jumlah anggota rumah tangga lebih dari 4 orang yakni dengan persentase 63.2%. Usia kepala rumah tangga dan ibu rumah tangga hampir seluruhnya tergolong usia produktif dengan proporsi terbesar pada kelompok dewasa madya (31-50 tahun) yakni kepala rumah tangga sebesar 78.8% dan ibu rumah tangga sebesar 66.7%. Tingkat pendidikan rumah tangga masih tergolong rendah yakni persentase kepala rumah tangga yang tidak sekolah dan hanya tamat SD adalah 71.5%, sedangkan pada ibu rumah tangga adalah 75.5%. Jenis pekerjaan utama digeluti sebagian besar kepala rumah tangga adalah nelayan dengan persentase 75.5%. Proporsi rumah tangga dengan pendapatan per kapita di bawah garis kemiskinan Kabupaten Wakatobi (Rp 239 819) adalah 26.5%. Sebanyak 49% rumah tangga memiliki pangsa pengeluaran pangan yang tergolong tinggi (>60% total pengeluaran). Proporsi rumah tangga Suku Bajo di Kepulauan Wakatobi yang masih tergolong rawan pangan adalah 68.4%. Analisis bivariat menunjukan karakteristik sosial ekonomi rumah tangga yang berhubungan signifikan dengan status ketahanan pangan rumah tangga adalah jumlah anggota rumah tangga, tingkat pendidikan kepala rumah tangga, jenis pekerjaan kepala rumah tangga, pendapatan per kapita, dan pangsa pengeluaran pangan (p4 orang berisiko 2.97 kali mengalami rawan pangan dibandingkan rumah tangga dengan jumlah anggota ≤4 orang (OR=2.97; CI95%: 1.05–8.35). Pangsa pengeluaran pangan yang tinggi (>60% total pengeluaran) berisiko 5.86 kali mengalami rawan pangan dibandingkan rumah tangga dengan pangsa pengeluaran yang rendah (OR=5.86; CI95%:1.9–7.95). Rumah tangga dengan pekerjaan kepala rumah tangga sebagai nelayan berisiko 7.34 kali mengalami rawan pangan dibandingkan dengan pekerjaan bukan nelayan (OR=7.34; CI95%: 2.35–22.98). Coping strategy yang dilakukan untuk dapat tetap mengakses bahan pangan adalah dengan menggunakan uang tabungan, para isteri mencari pekerjaan sampingan untuk membantu keuangan keluarga, atau meminjam uang (berutang) pada koperasi. Cara bertahan yang lain adalah dengan makan di rumah tetangga/keluarga, mengurangi frekuensi dan jenis bahan makanan, serta memprioritaskan konsumsi anak-anak dibandingkan orang dewasa. Selain itu pandangan hidup filosofis sipalele sipaginagina dapat mendukung ketahanan pangan Suku Bajo. Proporsi rumah tangga dengan tingkat konsumsi energi <70%AKE dan protein <80% AKP adalah masing-masing 39.8% dan 21.4%. Proporsi rumah tangga dengan tingkat kecukupan protein lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kecukupan energi. Terdapat hubungan yang signifikan antara status ketahanan pangan dengan tingkat kecukupan energi dan protein (p<0.05). Proporsi status gizi balita yang mengalami stunting (kerdil), underweight (kekurangan gizi), dan wasting (kurus) adalah masing-masing 48.8%, 32.6%, dan 9.3%. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan status stunting pada balita (p<0.05). Tingkat kecukupan energi dan protein serta status ketahanan pangan tidak menunjukan hubungan signifikan dengan status masalah gizi balita karena status gizi diduga dipengaruhi oleh faktor lain seperti status kesehatan yang butuh penelitian lebih lanjut
    corecore