33,488 research outputs found

    Arthur dimmesdale’s hypocrisy as a puritan clergyman in Nathaniel Hawthorne’s The Scarlet Letter (a sociological approach)

    Full text link
    Kemunafikan adalah salah satu persoalan sosial yang biasa terdapat dalam karya sastra. Karakater Arthur Dimmesdale dalam The Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne merupakan salah satu karakter yang merepresentasikan persoalan sosial tentang kemunafikan. Penelitian ini difokuskan pada kemunafikan Arthur Dimmesdale berdasarkan status sosialnya sebagai pendeta Puritan dan reaksi masyarakat Puritan yang merupakan masyarakat dimana dia tinggal. Sumber data penelitian ini adalah novel karya Nathaniel Hawthorne yang berjudul The Scarlet Letter. Data utama diambil dari sumber data yang mengimplikasikan kemunafikan Arthur Dimmesale beserta reaksi dari masyarakat Puritan. Data utama dianalisis bersama dengan data pendukung yang diambil dari buku-buku, artikel, essai, kritik sastra, dan tulisan lain yang berkaitan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif pustaka. Peneliti menggunakan pendekatan sosiologi untuk mengetahui hubungan sosial dalam novel yang berkaitan dengan kemunafikan Arthur Dimmesdale dan reaksi masyarakat Puritan. Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Arthur Dimmesdale adalah seorang pendeta Puritan yang munafik. Kemunafikanya diwujudkan dalam kehidupan parokinya. Kemunafikannya disebabkan oleh peran dari status sosialnya sebagai pendeta Puritan dan harapan masyarakat terhadap sosoknya sebagai pendeta Puritan. Kemunafikannya menimbulkan rasa bersalah yang membuat hidupnya sedih dan menyakitkan. Sebelum rahasinya terungkap, masyarakat Puritan menghormatinya dan menunjukkan sikap baik padanya. Herannya, ketika rahasianya terungkap, masyarakat Puritan tetap menghormatinya dan bersimpati padanya karena Dimmesdale telah melakukan banyak kebaikan dalam menjalankan tugas parokinya. ABSTRACT Hypocrisy is one of the social issues contained within the literary work. Arthur Dimmesdale, the main character in The Scarlet Letter by Nathaniel Hawthorne represents the social issues of hypocrisy. The research is focused on Arthur Dimmesdale’s hypocrisy dealing with his social status as a Puritan clergyman and the Puritan society’s reaction to his hypocrisy. The thesis is aimed at finding out the relation between Dimmesdale’s hypocrisy and his social status as well as the relation between his hypocrisy and the society he belongs to. The source of data of the research was a novel by Nathaniel Hawthorne entitled The Scarlet Letter. The main data were taken from the source of data that implied Dimmesdale’s hypocrisy and the Puritan society’s reaction. The main data were analyzed based on the supporting data which were taken from books, articles, essays, critics, and other related writings. The thesis was a descriptive qualitative library research. The researcher used sociological approach to find out the social implication in the novel dealing with Dimmesdale’s hypocrisy and the Puritan society’s reaction. From the research, it is found that Arthur Dimmesdale is a hypocrite Puritan clergyman. He manifests his hypocrisy in his parochial life. His hypocrisy is caused by the role of his social status as a Puritan clergyman and the Puritan society’s expectation on his figure as a Puritan clergyman. His hypocrisy causes guilt which then affects his life to be miserable and torturing. Before Dimmesdale’s secret was revealed, the Puritan society showed their respect and good manner to him. Surprisingly, after his revelation, instead of giving negative reaction, the Puritan society still keeps respecting him and gives him sympathy since Dimmesdale has made good deeds in running his parochial duty

    Alaskan Author and Historian Dan O'Neill

    No full text
    Dan O'Neill has become a living legend in Alaska. He is the author of The Firecracker Boys: H-Bombs, Inupiat Eskimos, and the Roots of the Environmental Movement; A Land Gone Lonesome: An Inland Voyage Along the Yukon River; The Last Giant of Beringia: The Mystery of the Bering Land Bridge, and recently Stubborn Gal: The True Story of an Undefeated Sled Dog Racer, a children's book published by the University of Alaska Press. Dan came to Alaska in 1975 and has done a variety of things including dog mushing, trapping, hunting, working in construction, and on the pipeline. As research associate at the UAF Oral History program, he produced radio and television documentaries for public broadcasting, and for several years he wrote a column of political opinion for the Fairbanks Daily News-Miner

    Efek Hawthorne dalam Pelaksanaan Lesson Study pada SMP Berakredtiasi Berbeda di Kabupaten Bantaeng

    Full text link
    ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) apakah Efek Hawthorne dalam Pelaksanaan Lesson Study efektif dilaksanakan pada sekolah yang berakreditasi berbeda, (2) bagaimana pengaruh efek hawthorne dalam pelaksanaan Lesson Study, dan (3) Bagaimana Perbandingan pengaruh efek hawthorne dalam penerapan Lesson Study berdasarkan tingkat kemampuan matematika siswa. Penelitian ini merupakan penelitian Mix Method yaitu kombinasi penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan jenis penelitian pre-eksperimen yang terdiri dari tiga kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan: (1) Tes Hasil Belajar, (2) Lembar Observasi Keterlaksanaan Lesson StudyEfek Hawthorne, (3) Lembar Observasi Aktivitas Siswa, (4) Respons Siswa, (5) Pedoman Wawancara, dan (6) Panduan Focus Group Discussion (FGD) Populasi penelitian adalah semua siswa kelas VIII SMP di Kabupaten Bantaeng yang berakreditasi A B, dan C. Teknik pengambilan sampel dengandoublepurposive random sampling. Adapun sampel yang terpilih adalah kelas VIII.A SMP Negeri 2 Tompobulu (Akreditasi A), kelas VIII.C SMP Negeri 1 Eremerasa (Akreditasi B), dan kelas VIII.C SMP Negeri 2 Bissappu (Akreditasi C) Hasil penelitian menunjukkan; (1) EfekHawthorne dalam Pelaksanaan Lesson Study efektif dilaksanakan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIII pada SMP Berakreditasi A, B, dan C di Kabupaten Bantaeng. Indikator keefektifan ditandai dengan (a) rata-rata gain ternormalisasi pada tiga sekolah berbeda secara deskriptif dan inferensial berada pada kategori minimal sedang, (b) rata-rata aktivitas siswa pada tiga sekolah berbeda secara deskriptif dan inferensial berada pada kategori minimal baik, (c) rata-rata respons siswa pada tiga sekolah berbeda secara deskriptif dan inferensial berada pada kategori minimal cenderung postif, dan (d) tidak terdapat perbedaan secara signifikan di tiga sekolah berbeda baik gain ternormalisasi, aktivitas siswa, dan respon siswa(2) Pengaruh Efek Hawthorne dalam Pelaksanaan Lesson Study secara umum berpengaruh positif. Pengaruh Efek Hawthorne bagi siswa dengan tingkat kemampuan Matematika tinggi (ekstrim tinggi/SET) adalah (1) SET menunjukkan sikap sungguh-sungguh dan memperbaiki diri, (2) SET menunjukkan sikap sungguh-sungguh dan termotivasi (3) SET senang dengan Kamera dan Pengamat, dan (4) SET bersemengat dengan megulang kembali pembelajaran di rumah. Sedangkan bagi siswa dengan tingkat kemampuan Matematika rendah (ekstrim rendah/SER) adalah (1) SER hanya menunjukkan sikap sungguh-sungguh, dan (2) SER merasa senang jika dilakukan terus menerus, dan (3) SER tidak mengulang kembali pembelajaran dirumah

    ANALISIS GENDER NOVEL SCARLET LETTER KARYA NATHANIEL HAWTHORNE: SUATU PENDEKATAN FENIMISME RADIKAL

    No full text
    Analisis gender yang dilakukan pada novel Scarlet Letter Karya Nathaniel Hawthorne menggunakan pendekatan feminisme radikal merupakan analisis yang bertujuan mengupas kehidupan masyarakat yang masih mendiskriminasikan gender. Dalam novel tersebut kedudukan wanita dianggap berada di bawah laki-laki dengan mengangkat masalah-masalah feminisme, kebudayaan, agama, serta perjuangan tokoh utama Hester Prynne dalam memperjuangkan hak-haknya yang dikemas dalam uraian cinta kasih antar insan manusia, yang berupa kisah cinta terlarang. Dengan adanya tokoh pembawa ideologi feminisme dalam novel tersebut maka analisis yang dilakukan dalam novel tersebut menerapkan teori kritik sastra feminisme radikal. Penelitian ini difokuskan untuk menjawab rumusan masalah yaitu, 1) Bagaimana keterkaitan unsur-unsur yang terdapat dalam novel Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne yang meliputi tema, tokoh dan perwatakan, konflik, serta latar? 2) Bagaimanakah analisis feminisme radikal yang terdapat dalam novel Scarlet letter karya Nathaniel Hawthorne? Tujuan penelitian yaitu: 1) mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur yang terdapat dalam novel Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne yang meliputi judul, tema, tokoh dan perwatakan, konflik, serta latar; 2) Mendiskripsikan analisis feminisme radikal yang terdapat dalam novel Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne. Kajian teori yang mendasari permasalahan dalam penelitian ini dilakukan secara struktural yang meliputi: judul, tema, tokoh dan perwatakan, konflik. serta latar. Pragmatik meliputi: Diskriminasi Gender Terhadap Perempuan dan Perjuangan perempuan. Sedangkan metode yang digunakan metode kualitatif deskriptif. Adapun langkah-langkah metode kualitatif deskriptif dalam penelitian ini sebagai berikut: 1) vii mencari data dengan cara membaca dan memahami novel, 2) mengklasifikasikan data yang terkait dengan unsur struktural dan pragrnatik yang berupa feminisme radikal 3) menganalisis data dengan menggunakan pendekatan struktural dan pragmatik, 4) menarik kesimpulan atau manfaat dari analisis tersebut. Hasil analisis dari penelitian ini adalah judul, pertama, tema mayor dalam novel tersebut adalah seorang perempuan yang menjadi korban kejamnya sanksi sosial dalam struktur masyarakat puritan yang hipokrit, sedangkan tema minornya adalah Seorang Dokter yang berusaha menyembuhkan pasiennya, Seorang anak yang peka terhadap sesuatu yang tidak baik dari pada orang dewasa. kedua, tokoh utama dalam novel Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne adalah Hester Prynne yang mempunyai watak datar. Sedangkan tokoh bawahannya adalah Arthur Dimmesdale mempunyai watak datar, Dr. Roger Chillingworth mempunyai watak bulat, Pearl mempunyai watak datar, dan Gubernur Bellingham mempunyai watak datar. Keempat tokoh bawahan tersebut sangat mendukung keberadaan tokoh utama. ketiga, latar yang terdapat dalam novel Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne meliputi latar tempat, latar waktu. dan latar sosial. Latar tempat dalam novel tersebut meliputi lapangan. penjara lane, pondok kecil, rumah gubernur, gedung pertemuan, pantai dan tepi sungai. Latar waktu meliputi pagi hari, sore hari dan malam hari. Latar sosialnya adalah kehidupan sosial masyarakat kota Boston. keempat, konflik dalam novel Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne yaitu konflik fisik dan konflik batin. Konflik fisik terdiri dari konflik yang terjadi antara manusia yang satu dengan yang lain, konflik yang terjadi antara manusia dengan masyarakat. Konflik batin terdiri atas konflik yang terjadi antara manusia dan kata hatinya, konflik yang terjadi antara ide dengan ide. kelima, analisis feminisme radikal dalam novel Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne terdiri atas diskriminasi gender terhadap perempuan meliputi: kekerasan terhadap perempuan (kekerasan fisik dan kekerasan psikis), objek penghinaan, pengucilan dari masyarakat, dan perjuanagan perempuan. viii Berdasarkan penelitian ini penulis menyimpulkan bahwa diskriminasi gender dalam memutuskan sanksi sosial membuat perempuan melakukan perjuangan untuk menyamakan kedudukannya dengan laki-laki. Walaupun perempuan itu disiksa dan dikucilkan dari masyarakat, ia tetap diam dengan melanjutkan hidupnya. Dengan sifat diam tersebut, membuat pihak laki-laki yang tidak dijatuhi sanksi menjadi sakitsakitan dan merasa berdosa. Akhirnya pihak laki-laki tersebut mengungkap sendiri perbuatan dosanya di depan semua orang

    Hawthorne Grade School

    No full text
    Photograph of Hawthorne Grade School, Third Grade Class, Oklahoma City, OK, c.1942. Front Row: Joseph Snyder, Dan Leonhart, Daniel Rork, Beverly Ann Wright, Howard Smotherman, Nancy McGinley, Jimmy Shaver, Roger Pyle, Jack Harris. 2nd Row; John Lee Wallace, Malcolm Soule, Bertha Wilderman, Marilyn Huntsaker, Juanita Rohde, Bill Ringle, Jimmy Stravlo, Judy Smith, Dorothy Ann Pierce, Barbara Shepherd, Mahota Wooldridge, H. O. Price. Back Row: David Radant, Mrs. Oaks, Marion Vaughn, Paul Blott, Warren Moses, David Dickson, Jacqueline Morrow, "Woody" Woodcook, Billy Joe Spurlock, Glen Masapust, Joan Shelby, Jimmy Lakin

    VALIDATING AND EXPANDING THE HAWTHORNE STUDIES: EVIDENCE FROM INDONESIAN PUBLIC EMPLOYEES

    No full text
    Since Hawthorne study deconstructed Taylor’s time and motion studies, scholars of organization studies have shifted their attentions to human relations in the workplaces. The major implication is that employees’ relationship with supervisors as well as their peers, and their participation in decision-making process determine productivity. Although the Hawthorne experiments were conducted in the private sector, scholars of public administration believe that the implication from the experiment can be applied to the public sector as well. However, current discussion on the public-private distinction leads to an important research question: can lessons from the Hawthorne study apply to public organizations? The purpose of this study is to validate and expand the original Hawthorne studies and Jung and Lee (forthcoming) conducted in the public organizations by analyzing a large sample of Indonesian public officials. Findings suggest that physical conditions have no or weak impacts on self-assessed and client-evaluated work performance while human relations show positive effects. For the supervisor-assessed performance, participation and physical conditions are the significant predictors. This study gives a unique opportunity since this study investigates the Hawthorne effects in the Asian context for the first time

    The analysis of symbols in the novel "Scarlet Letter" by Nathaniel Hawthorne

    No full text
    xii, 49 hlm.; 29 c

    PERANCANGAN APLIKASI ELECTRONIC MEDICAL RECORD (EMR) PADA INSTALASI RAWAT INAP BERBASIS WEB

    Full text link
    Pelayanan medik dewasa ini membutuhkan sistem yang lebih efektif dan efisien, baik dalam penggunaan waktu, tenaga maupun sarana. Dalam pengelolaan rekam medik, kenyataan masih umumnya penggunaan rekam medik manual yang dinilai tak lagi andal menangani data medik melahirkan ide konversi rekam medik manual kertas ke rekam medik elektronik karena efektivitas dan efisiensinya. Penelitian ini bertujuan menciptakan aplikasi rekam medik elektronik yang lebih dikenal sebagai EMR (Electronic Medical Record) dari rekam medik kertas di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Ananda Salatiga. Rekam medik elektronik dirancang dengan membuat form-form isian catatan-catatan medik dalam proses perawatan pasien selama dirawat. Data-data medik ini kemudian disimpan dalam basis data sistem dan dikelola secara digital. Setiap kali pengisian data medik pada form-form tertentu, sistem akan menghasilkan kode yang membawa informasi khusus. Pada akhirnya, sistem akan menghasilkan deret kode ICD (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems) dari kode-kode yang dihasilkan pada pengisian form-form catatan medik. Deretan kode-kode ini mampu menggambarkan perkembangan kondisi pasien dan penanganan medik yang diberikan selama perawatan. Data-data medik yang tersimpan dapat ditampilkan kembali dalam bentuk catatan medik digital. Kata kunci: rekam medik, rawat inap, EMR, IC

    Correspondence regarding the possiblity of a Kephart Memorial

    No full text
    This 1968 correspondence, between Jackson E. Price and Dan Davis, discusses the possibility of “Memorial Center” to Horace Kephart (1862-1931), noted naturalist, woodsman, journalist, and author and promoter of the Great Smoky Mountains National Park

    Analisis Tata Kelola Maritim Indonesia: Implementasi Visi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta

    Full text link
    Indonesia sebagai negara maritim memiliki banyak peluang dan ancaman. Hal tersebut memerlukan adanya perhatian yang lebih besar terhadap wilayah laut. Penelitian ini membahas strategi Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan peluang ekonomi dan mengatasi tantangan melalui Poros Maritim Dunia. Tujuan riset ini adalah menganalisa kebijakan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam pengembangan wilayah pesisir menggunakan teori geopolitik dan teori kekuatan laut. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif studi kasus. Data yang digunakan berupa data primer melalui wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari buku, artikel jurnal dan publikasi daring. Penulis menemukan bahwa sinergitas penegak hukum, diplomasi maritim sudah cukup baik, namun perlu lebih aktif melibatkan masyarakat untuk pengelolaan sumber daya hayati yang berkelanjutan dan peningkatan SDM masyarakat pesisir. Sementara Visi Gubernur DIY bernama Abad Samudera Hindia belum terlaksana dengan maksimal. Masyarakat membutuhkan tambahan pembangunan TPI baru dan pengembangan TPI menjadi PPN dan PPS untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan nelayan. Dapat disimpulkan bahwa pemerintah pusat dan daerah harus selalu memperhatikan pengelolaan laut, khususnya untuk pemanfaatan sumber daya dan pangan. Bahwa laut memiliki kekayaan alam yang berlimpah dapat digunakan meningkatkan gizi masyarakat dan pendapatan negara. Title: Indonesian Maritime Governance Analysis: Implementation of the Vision of the Yogyakarta Special Region GovernmentIndonesia, as a maritime country, has many opportunities and threats. This condition requires greater attention to the sea area. This research discusses the strategy of the Government of Indonesia to increase economic opportunities and overcome challenges through the World Maritime Fulcrum. This research aims to analyze the policies of the Government of Indonesia and the Provincial Government of DIY in developing coastal areas using geopolitical theory and the theory of sea power. This study uses a qualitative case study method. The data used are primary data through interviews and secondary data obtained from books, journal articles and online publications. The author finds that the synergism between law enforcement and maritime diplomacy is good enough. However, it is necessary to involve the community more actively in the sustainable management of biological resources and to increase the human resources of coastal communities. Meanwhile, the vision of the Governor of DIY called the Century of the Indian Ocean, has not been implemented optimally. The community needs additional construction of new TPI and development of TPI to become PPN and PPS to increase the productivity and welfare of fishermen. It can be concluded that the central and regional governments must always pay attention to marine management, especially for utilising resources and food. That the sea has abundant natural wealth can be used to improve people’s nutrition and state income
    corecore