10 research outputs found
Seni tari dan tradisi yang berubah : Studi terhadap penciptaan kolektif dan perubahan tari tangan oleh masyarakat Padang Laweh
Buku ini menjelaskan bentuk (teks) tari tangan dan konteksnya dalam kehidupan masyarakat Mingkabau di nagari Padang Laweh, Sijunjung, Sumatera Barat. Penciptaan tari tangan berawal dari kesepakatan para datuak dan penghulu dari 5 suku untuk menanamkan nilai kehdiupan pada masyarakat nagari Padang Laweh. Tangan dipandang sebagai anggota badan yang berperan penting dalam melakukan berbagai aktivitas kehiduapan, dan mengandung petuah kehidupan sosial. Demi kelangsungan hidup tari tangan di tengah kehidupan yang semakin modern, para pemuka adat nagari Padang laweh memutuskan untuk mengadakan beberapa perubahan teks dan konteks dari tangan
KAJIAN TEKSTUAL TARI KELIK LANG PUSAKO LAMO PADA MASYARAKAT PULAU TEMIANG KABUPATEN TEBO JAMBI
Jurnal ini merupakan hasil penelitian yang memiliki tujuan utama yaitu mengetahui kajian tekstual pada tari Kelik Lang Pusako Lamo. Tari Kelik Lang Pusako Lamo tercipta dari kisah seorang anak laki-laki bernama Cucur Ambor yang hilang karena disandera oleh seorang nenek tua, dan kemudian diselamatkan oleh seekor burung elang yang sedang terbang di udara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan studi lapangan, data yang diperoleh kemudian dianalisis. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai ajang untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat tentang pentingnya melestarikan tari Kelik Lang Pusako Lamo ditengah-tengah masyarakat pendukungnya. Penelitian ini menggunakan pendapat dari Soedarsono yang membahas kajian tekstual
Panggung - Pemuliaan Sumber Budaya sebagai Sistem Gagasan : Vol. 20, No. 2, April - Juni 2010
1. Pengembangan Potensi Seni Tradisi sebagai Objek Daya Tarik Wisata Daerah / Darsihardjo, Sri Rustiyanti
2. Tari Indang Tagak pada Masyarakat Padang Magek Sumatera Barat / Daryusti
3. Relasi Bolak-Balik antara Seni dan Daya Hidup / M. Dwi Marianto
4. Ornamen Tradisional Batak dalam Teknik Batik / Wahyu Tri Atmojo
5. Formalisme Plural Seni Pertunjukan Tari di DIY sebagai Strategi Pengembangan Industri Pariwisata Kreatif / Y. Sumandiyo Hadi
6. Visualisasi Kostum Tari Topeng Cirebon dari Masa Klasik ke Masa Kini / Ayoeningsih Dyah Woelandary
7. Tari Tangan: estetika dari praktik adat Nagari Padang Laweh / Hasnah SY
8. Inti Tari Bukanlah Gerak / Ine Arini
9. Konsep Garap \u27Ledhek Mendres\u27 Ritual Ledhek dalam Mencapai Ketenaran / Subayon
Guna dan Fungsi Tari Bedana bagi Masyarakat Etnis Arab Melayu Jambi
Abstrak
Etnik Arab Melayu merupakan salah satu sub-etnik Melayu Jambi.
Mayoritas mereka bermukim di Desa Seberang yang berseberangan dengan Angso Duo Kota Jambi. Bedana berupa tarian dengan iringan ansambel musik gambus berkhas Arabic telah diwarisi secara turun-temurun dari leluhur mereka. Tulisan ini mengkaji aspek guna dan fungsi tari Bedana yang telah fungsional untuk memeriahkan dan memberi suasana hiburan bagi pelaksanaan berbagai upacara berciri khas budaya Islami yang dimiliki masyarakat etnis Arab Melayu Jambi tersebut, sehingga tari Bedana menjadi identitas etnik Arab Melayu di tengah-tengah masyarakat etnis lain di Kota Jambi. Capaian tulisan ini berupa deskripsi kualitatif pada aspek guna tari Bedana sebagai pemeriah helat, hiburan, dan menjadi wadah komunikasi dalam sebuah interaksi sosial mereka. Pada sisi fungsi, tari ini berhubungan dengan aspek status sosial ekonomi masyarakat pendukung, identitas budaya, masalah keberlanjutan status budaya, dan sebagai penguat sosial budaya etnis Arab Melayu di Jambi.
Abstract
Ethnic of Malay Arab represent one of the Malay sub-ethnic of Jambi. Their Majority live in countryside defect which is beside with Angso Duo of Jambi Town. Bedana in the form of dance with music ensemble accompaniment of gambus typical of Arabic have inherit hereditaryly from their ancestor. This article study aspect use and function of Bedana dance which have functional to enliven and give entertainment amusement atmosphere to execution various ceremony have cultural special of Islami had by ethnical society of Arab Malay of Jambi, that Bedana dance become ethnic identity of medial Arab Malay of other ethnical society in Town of Jambi. This Performance Article in the form of descriptions qualitative at aspect utilize dance of Bedana as ceremonial of party, entertainment, and become the place of communications in a social interaction of them. At function side, this dance relate to social status aspect of supporter society economics, cultural identity, problem continue cultural status, and as social of ethnical culture of Arab Malay in Jambi
The Spirituality of Indang Tigo Sandiang Performance and Godliness in the Pariaman Community of Minangkabau
This study aims to reveal the spirituality of Indang Tigo Sandiang performance and godliness in the Pariaman community of Minangkabau. Spirituality is living with an awareness that God is always close to us, and it is this awareness that cultivates the impulse for human action. Indang Tigo Sandiang (three sides) is a performing art concept in the art of “Indang” that represents the education system of the surau or langgar, a religious center used for worship and education in Minangkabau which is based on tasawwuf or Sufi teachings. Tigo sandiang here refers to the formulation of a performance that originates from three different surau styles or Indang groups that exist in the Pariaman community and are known as guguih (group). These guguih are: (1) Guguih Kulipah (Khalifah) Husein; (2) Guguih Kulipah (Khalifah) Mak Amuik; and (3) Guguih Kulipah (Khalifah) Tan Karim.All three guguihare known for their predominance of tasawwuf teachings – spirituality; such as knowledge of the body, the ma’ani attributes and the 20 attributes of God. These tasawwuf teachings are mystified in the number 7, with 7 anak indang or indang players; the length of performance lasting 14 nights (2 x 7); and the number of participants being in multiples of 7, up to 21 groups of anak indang. Keywords: Spirituality, Indang Tigo Sandiang, Godliness, Pariaman DOI: 10.7176/ADS/83-09 Publication date:July 31st 202
Pelatihan Pengembangan Tari Dan Musik Kreasi Baru pada Sanggar Mustika Minang Duo, Nagari Kampuang Baru, Pariaman
Program Pengabdian Masyarakat Mandiri ini dilakukan dalam bentuk pelatihan tari dan musik pada Sanggar Mustika Minang Duo. Pelatihan diawali dengan pengenalan teknik-teknik dasar dalam melakukan gerak tari maupun teknik memainkan alat musik. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi, diakhiri dengan kolaborasi tari dan musik. Kolaborasi ditujukan untuk mengasah kreativitas tanpa meninggalkan kearifan lokal. Program Pengabdian Masyarakat Mandiri ini juga bertujuan untuk mendorong kerjasama dengan Dinas Pariwisata sebagai wadah apresiasi guna mengenalkan kesenian kepada masyarakat luas. Pengabdian Masyarakat Mandiri ini menghasilkan perbaikan manajemen Sanggar Mustika Minang Duo yang semula masih bersifat tradisional, agar memiliki struktur organisasi formal, guna menjamin keberlanjutan dari pengembangan berbagai nomor tari dan musik kreasi baru di masa yang akan datang.AbstractCommunity Service Program is carried out in the form of dance and music training at the Mustika Minang Duo Studio. The training begins with an introduction to basic techniques in performing dance moves and techniques for playing musical instruments. This activity was carried out using demonstration and discussion methods, ending with dance and music collaboration. Collaboration is aimed at honing creativity without abandoning local wisdom. This Independent Community Service Program also aims to encourage collaboration with the Tourism Office as a forum for appreciation to introduce art to the wider community. Community Service resulted in an improvement in the management of the Mustika Minang Duo Studio, which was originally still traditional in nature, so that it has a formal organizational structure, to ensure the continuity of the development of various dance numbers and new music creations in the future
Pertunjukan Simuntu dan Tari Kreasi Karya Yeni Eliza dalam Sepekan Kesenian Tradisi di Nagari Andaleh Baruh Bukik
This article discusses the Sepekan Kesenian Tradisi, an event for the creativity and potential of Andaleh Baruh Bukik's young generation in building their nagari through performing arts activities, games and traditional performances. Two of the forms of creativity that are produced and displayed in Sepekan Kesenian Tradisi are the new creation of dance and the Simuntu performance. Through the application of qualitative research methods with a dance ethnology approach, data on the creativity and potential of the Andaleh village youth are described and analyzed using the concepts of creativity, biography, and folk festivals. Sepekan Kesenian Tradisi was then followed by the holding of various games and performing arts, which were basically the result of the creativity of the nagari youth, where Yeni Eliza took on the role of initiator of activities and creator of new dance creations which became the material for the activities.Keywords: Traditional Arts Week; Andaleh Baruh Bukik; Simuntu; Creative Dance; festivalAbstrakArtikel ini membahas tentang Sepekan Kesenian Tradisi, sebuah ajang kreativitas dan potensi generasi muda Andaleh Baruh Bukik dalam membangun nagari mereka melalui kegiatan seni pertunjukan, permainan dan pertunjukan tradisional. Dua di antara bentuk kreativitas yang dihasilkan dan ditampilkan dalam Sepekan Kesenian Tradisitersebutadalah seni tari kreasi baru dan pertunjukan Simuntu. Melalui penerapan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnologi tari, data-data tentang kreativitas dan potensi generasi muda nagari Andaleh dideskripsikan dan dianalisis menggunakan konsep kreatifitas, biografi, dan festival rakyat.Penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan Simuntu, berperan penting sebagai daya tarik kegiatan,di mana kehadirannya menjadi awal mula keramaian.Proses kegiatan Sepekan Kesenian Tradisi kemudian dilanjutkan dengan digelarnya berbagai permainan dan seni pertunjukan, yang pada dasarnya adalah hasil kreatifitas pemuda nagari, di mana Yeni Eliza mengambil peran sebagai inisiator kegiatan dan kreator tari kreasi baru yang menjadi materi kegiatan.Kata Kunci: Sepekan Kesenian Tradisi; Andaleh Baruh Bukik; Simuntu; Tari Kreasi; festiva
THE HYBRID PERSEMBAHAN DANCE: CROSS-CULTURAL COLLABORATION AND ART TOURISM IN PASA HARAU ART AND CULTURE FESTIVAL 2018
This paper discusses the process of creating a collaborative dance work entitled Cross-Cultural Offering Dance, which was created jointly by three choreographers of different cultural backgrounds in the 2018 Pasa Harau Art and Culture Festival. The three choreographers involved in the collaboration are Siska Aprisia (Minangkabau, Indonesia). ), Kiki Rahmatika Syaher (Lampung, Indonesia), and Visaka Saeui (Thailand). The three of them tried to create a dance offering by offering the idea of a dance with the same theme, namely a dance to welcome guests in their respective cultural backgrounds. Applying a qualitative approach with research methods centered on performance events, this paper is intended to describe the stages of the creation process, and the modes of collaboration agreed upon by the three choreographers. Primary data was collected through involved observation, namely by participating directly as a choreographer, dramaturg, and administrator of the intended collaborative dance performance process. Secondary data were collected from narrative interviews with the three choreographers and by observing the responses and reactions of the audience and dancers. The results showed that the creation of the Performance Dance by the three choreographers was a hybridization process that began with sharing views on the world of traditional dance in order to build a shared spectrum, followed by a process of division of parts in the plot, where the embodiment of the atmosphere from solemn to joyful became the common thread. The result of the collaboration is a dance number entitled Cross-Cultural Offering Dance, which not only meets the criteria as a presentation in a festival, but can also be a tourism art presentation.Keywords: Persembahan Dance; Hybrid; Cross-Cultural Collaboration; Tourism Arts; FestivalTARI PERSEMBAHAN HIBRIDA: KOLABORASI LINTAS-BUDAYA DAN SENI PARIWISATA DALAM PASA HARAU ART AND CULTURE FESTIVAL 2018AbstrakTulisan ini membahas tentang proses penciptaan sebuah karya tari kolaboratif bertajuk Tari Persembahan Lintas Budaya, yang diciptakan bersama oleh tiga koreografer berbeda latar belakang budaya dalam kegiatan Pasa Harau Art and Culture Festival 2018. Ketiga koreografer yang terlibat di dalam kolaborasi adalah Siska Aprisia (Minangkabau, Indonesia), Kiki Rahmatika Syaher (Lampung, Indonesia), dan Visaka Saeui (Thailand). Ketiganya mencoba menciptakan sebuah karya Tari Persembahan dengan menawarkan gagasan dari tari bertema sama, yakni tari penyambutan tamu di masing-masing latar budaya mereka. Menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian yang berpusat pada peristiwa pergelaran, tulisan ini dimaksudkan untuk menguraikan perihal tahapan-tahapan proses penciptaan, dan moda kolaborasi yang disepakati oleh ketiga koreografer. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan terlibat, yakni dengan ikut serta secara langsung sebagai koreografer, dramaturg, dan administrator dari proses kolaborasi Tari Persembahan yang dimaksudkan. Data sekunder dikumpulkan dari wawancara naratif dengan ketiga koreografer serta dengan mengamati respons dan reaksi penonton dan penari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciptaan Tari Persembahan oleh ketiga orang koreograger adalah suatu proses hibridisasi yang dimulai dengan sharing pandangan atas dunia tari tradisional guna membangun spektrum bersama, dilanjutkan dengan proses pembagian bagian dalam plot, di mana perwujudan suasana dari khidmat menuju riang gembira menjadi benang merahnya. Hasil dari kolaborasi adalah sebuah nomor tarian bertajuk Tari Persembahan Lintas Budaya, yang tidak saja memenuhi kriteria sebagai sajian dalam festival, namun juga dapat menjadi sajian seni pariwisata.Kata Kunci: Tari Persembahan; Hibrida; Kolaborasi Lintas-Budaya; Seni Pariwisata; Festiva
Antimycobacterial activity and in silico study of highly functionalised dispiropyrrolidines
Two series of novel and highly functionalised dispiropyrrolidines were synthesized using 1,3-dipolar cycloaddition reaction. The synthesized compounds were screened for their antimycobacterial activity against M. tuberculosis H37Rv using the Promega reagent BacTiter-Glo™ Microbial Cell Viability (BTG). Molecular docking analysis was carried out for the active compounds against the target enzyme enoyl-ACP reductase (InhA) to understand the possible binding mode. Of the 24 novel synthesized compounds, seven dispiropyrrolidines revealed inhibition with EC5
Land and land conflict in the Palestinian-Israeli peace process:1990-1999
This thesis examines the importance of the debates and struggle over land in the Oslo Accord and immediately post-Oslo. It does this by first situating the conflict
over land in the historical context of the spread of Zionism from the 1880s, culminating in the establishment of the State of Israel in Palestine in 1948. It then reviews and contrasts the policies on land and settlement of the Israeli Labour and Likud parties. The focus of the thesis is an assessment of Israeli settlement policy on the West Bank and Gaza-Strip after the Oslo Agreement of 1993. It examines the sequences of Israeli-Palestinian agreements that have divided Palestinian land into different categories and argues that these categories and the problems they have created have ignored the historical importance of land in the conflict between Israel
and Palestine.
The thesis argues that the classification of land is intended to further subjugate Palestine to the political and economic dominance of Israel, and that the
formulation for discussing land issues undermines the possibility for the establishment of a strong and economically independent Palestinian state. The thesis submits that the persistence of Israeli settlement policy and the manner of Israeli withdrawal from the West Bank has not encouraged the Palestinian National Authority (PNA) to conduct a comprehensive land survey and registration
procedure. Moreover. Israeli strategy in the post-Oslo period has been to promote the cantonisation of Palestine to ensure that any future Palestinian state will remain
economically weak and politically disjointed
