1,720,957 research outputs found
Rabab Pasisia sebagai Pertunjukan Seni Tutur di Kabupaten Pesisir Selatan
Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa keberlangsungan dan perubahan pada pertunjukan Rabab Pesisir Selatan, terutama sekali di wilayah Lengayang telah meluas menjadi suatu bentuk seni multifungsi. Nyanyian Sikambang merupakan ungkapan bermakna komunal bagi masyarakat Pesisir Selatan, yang memiliki makna filosofi kehidupan dan pengertian lokal tertentu. Beberapa gaya seni populer ditemukan pula sebagai bagian yang terintegrasi dalam pertunjukan musik tradisi ini. Tujuannya adalah untuk tetap memiliki daya tarik di tengah masyarakat Sumatera Barat dan merupakan pula satu bentuk cara bertahan hidup bagi para seniman dan masyarakat pendukung kesenian Pesisir Selatan. Rabab Pasisia as a Tutur Art Show in The Pesisir Selatan District. The research has come-up with the conclusion that cotinuity and change in Pesisir Selatan rabab performance, particularly in sub-district of Lengayang has been expanded to a multifunctional arts. Sikambang song has become a means of communal expression in Pesisir Selatan, with its certain local meanings and philosophy of life. Some genre of popular-art has been found-out as integrated in the musical style, in order to maintain attractiveness amongst the West Sumatera community and survival for its musicians and its Pesisir Selatan supporting society.Keywords: rabab; pasisia; sikambang; tutu
Eksistensi Lagu/Musik Anak (Musik Populer, Tradisi dan Media Masa)
Indonesia Chiledren Son
Kreasi Kebaya Desainer Bebri Wahyudi Dalam Fotografi Fashion
Fashion berfungsi sebagai fenomena budaya, yang memungkinkan individu untuk mengekspresikan identitas mereka melalui pakaian. Merek fashion global seperti Dior, Chanel, dan Gucci secara signifikan mempengaruhi perkembangan industri, termasuk di Indonesia, di mana pakaian tradisional seperti kebaya sedang dimodernisasi. Studi ini mengeksplorasi dampak mode global pada kebaya Indonesia dan promosinya melalui fotografi mode komersial. Ini berfokus pada desain kebaya unik oleh desainer dari kota Padang Bebri Wahyudi, yang memiliki ciri khas nya sendiri terutama dalam bentuk pola detail dari payet dan sulaman yang menggambarkan suatu ide dan gagasan. Tujuan penciptaan ini adalah memperkenalkan kreasi kebaya Bebri Wahyudi hingga memberi tambahan pada nilai jualnya serta daya tariknya pada item fashion yang di komersilkan. Proses penciptaan karya ini dilakukan dengan empat tahap sebagai proses penciptaan karya yaitu persiapan, perancangan, perwujudan dan penyajian karya. Keseluruhan kebaya yang diaplikasikan kepada model dengan menggunakan teknik high key dalam fotografi fashion
Songket Halaban dalam Fotografi Fashion
Fashion adalah gaya hidup, tentang suatu tatanan yang salah satu dasaranya bersifat mewah dan elegan. Kostum, busana, pakaian adalah pilihan yang dikenakan seseorang. Salah satu yang bisa menjadi fashion dari sebuah kerajinan adalah Songket. Songket terbuat dari benang emas dengan berbagai motif yang akan menjadi busana modern dan tentunya fashionable. Jika dilihat dari perkembangan dunia fashion sekarang ini, songket tidak hanya dijadikan sebagai bawahan saja namun sudah banyak songket yang sudah dikombinasikan menjadi baju dan tas. Dalam penciptaan karya ini, teknik yang digunakan adalah teknik light painting. Light Painting berarti melukis cahaya dengan cara digerakkan menggunakan tangan dan direkam oleh kamera. Songket Halaban dalam fotografi fashion dengan songket menjadi objek dan light painting akan mendukung estetika karya foto nantinya. Tujuan penciptaan karya ini adalah untuk memperkenalkan Songket Halaban dengan menggunakan Eksplorasi light painting sebagai penambah daya Tarik atau nilai estetikanya. Proses penciptaan karya ini dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu persiapan, perancangan, perwujutdan dan penyajian karya. Keseluruhan Songket yang dipakai di eksplorasikan dengan light painting akan menunjukkan ciri khas dari songket serta pola light paintinya. lensa, memori. Karya fotografi yang dihasilkan seluruhnya berjumlah 20 foto dengan ukuran yang sama (40x60)
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
CERITA RANDAI NURSIA DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER
Tulisan ini ditujukan untuk menjelaskan proses pencipta karya fotografi dokumenter dengan judul Cerita Randai Nursia dalam Fotografi Dokumenter. Randai adalah salah satu permainan tradisional di Minangkabau yang dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran, kemudian melangkahkan kaki secara perlahan, sambil menyampaikan cerita dalam bentuk nyanyian secara berganti-gantian. Randai maggabungkan seni lagu, musik, tari, drama dan silat menjadi satu. Pengkarya mengangkat randai nursia karena ingin mengenalkan ke masyarakat luar dari kototuo sehingga dapat di nikmati banyak orang. Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk memperluas pengetahuan masyarakat tentang fotogarfi dokumenter. Landasan teori yang digunakan dalam penciptaan karya ini adalah fotografi jurnalistik, fotografi dokumenter, foto story, dan digital imaging, yang menjadi point penting dalam penciptaan karya ini. Serta metode dalam perwujudan dan penyajian karya. Karya yang dihasilkan berupa 20 karya foto yang memvisualkan randai nursia dalam fotografi dokumenter
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
