1,720,974 research outputs found
Teknik Penulisan Ilmiah Bidang Seni
Sesuai dengan kurikulum bahasa Indonesia di perguruan tinggi (seni), perkuliahan bahasa Indonesia dititikberatkan pada kemampuan berbahasa Indonesia para mahasiswa. Dalam hubungan ini, yang dimaksud dengan kemampuan berbahasa Indonesia itu adalah kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara tertulis maupun secara lisan. Oleh karena itu, dalam buku ajar ini disajikan materi yang akan menunjang tujuan tertera di atas.
Kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sangat diperlukan oleh para mahasiswa sebagai alat untuk mengungkapkan diri baik secara lisan maupun tertulis, dari segi rasa, karsa, dan cipta serta pikir baik secara etis, estetis, maupun logis.
Karena mahasiswa diharapkan kelak dapat menyebarkan pemikiran dan ilmunya, mereka diberi kesempatan melahirkan karya tulis ilmiah dalam berbagai bentuk dan menyajikannya dalam forum ilmiah. Kesempatan berlatih diri dalam menulis akan mengambil proporsi sebesar 70 persen dibandingkan dengan penyajian lisan. Jadi, praktik menggunakan bahasa Indonesia dalam dunia akademik/ilmiah mendapatkan perhatian sangat tinggi dalam perkuliahan ini. Kerja sama dalam meningkatkan kualitas karya tulis hendaknya dipadukan dalam strategi belajar bersama dalam saling menyunting karya ilmiahnya. Untuk mendukung materi menulis ilmiah, dalam buku ini juga dibahas sejarah, kedudukan, dan fungsi bahasa Indonesia; ragam bahasa Indonesia; bahasa Indonesia ragam ilmiah; dan kesalahan kalimat dalam karya tulis ilmiah bidang seni. Adapun materi tentang menulis ilmiah terdiri atas menulis makalah, proposal, laporan, dan artikel jurnal ilmiah
REGISTER ISTILAH BAHASA INGGRIS BIDANG KONSERVASI DAN PRESERVASI SENI WARISAN BUDAYA
Indonesia is rich in cultural heritage which is well-known in the world and most has been recognized by UNESCO. Cultural heritage can be in the form of objects, such as monuments, artefacts, and regions, or no objects, such as tradition, language, and ritual. The study discusses the register of English terms in the realm of conservation and preservation of cultural heritage art. It is aimed at learning English terms in the realm of conservation and preservation of cultural heritage to enrich English vocabulary, finding the form of specific terms in the field of conservation and preservation of cultural heritage, and providing an alphabetical list for terms in the field of conservation and preservation of cultural heritage in English and Indonesian. It is descriptive qualitative research with discourse analysis as a data analysis technique. Data collection techniques used are identification techniques in journal articles and books that discuss the conservation and preservation of cultural heritage. The use of registers in writing out the language in the field of art conservation and preservation, and a glossary of terms arranged systematically and in alphabetical order are urgently needed by academics, conservators, and students. Besides, the English terms in the field of conservation and preservation of the art of cultural heritage are aimed to facilitate students, lecturers, researchers, conservators, and others in understanding and applying them
A narrative study on the development of english instructional software: a third-grade junior high school case
Pengenalan Budaya Dalam Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing Di Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Penelitian tentang Pengenalan Budaya dalam Pembelajaran Bahasa
Indonesia Bagi Penutur Asing di ISI Yogyakarta telah melalui beberapa tahap
pelaksanaan, yaitu:
1. Studi Pustaka, di mana hal ini digunakan untuk memperoleh data pustaka guna
mendukung penulisan penelitian ini.
2. Obeservasi dengan melakukan pendistribusian kuisioner, dan wawancara yang
berguna untuk menganalisa pendapat awal mereka terhadap Indonesia yang
meliputi bahasa, bangsa, dan kebudayaannya.
3. Penyusunan materi yang dipergunakan sebagai acuan pembelajaran bahasa
Indonesia yang memuat aspek pengenalan budaya dan seni tradisi Jawa, dan
pemahaman akan lintas budaya yang membawa dampak dan pengaruh bagi para
peutur asing dan masyarakat Indonesia serta masyarakat Jawa pada khususnya
dalam menghargai budaya orang lain
Designing a set of instructional materials to teach english grammar through games to the sixth grade students of the elementary school
“Ajeg Bali” and Preserving the Balinese Lontar in Dukuh Penaban, Bali
The necessity to comprehend lontar manuscripts arises from the imperative to preserve the ancestral values of the Balinese people embedded within this medium. The investigation of the lontar manuscript social movement, aimed at cultural preservation within religious rites and as a framework for daily existence (smerti), remains underexplored. This is evidenced by the situation in the Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem, Bali, where few Balinese Hindus have minor thought for which lontar manuscripts are just the sacred things, and possess the ability to read and write lontar manuscripts in Balinese. This represents a novel contribution aimed at addressing a research vacuum that has not been explored by scholars in Indonesia, where an understanding of the social movement, integral to Hindu cultural and religious rites, is necessary. The research necessitates an examination of the Dukuh Penaban Traditional Village community’s response to the legitimacy of the Bali Provincial Government and the preservation initiatives for lontar manuscripts, which have been transmitted through generations. It will reinforce the values of life and the teachings of AJAWERA, ultimately enhancing the character and awareness of the Balinese populace regarding the significance of preserving their esteemed culture. This phenomenon prompts research inquiries on how “Ajeg Bali”, a Balinese society’s discourse to combat globalization, is implemented through cultural preservation actions in the Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem, Bali. This qualitative descriptive research employs an ethnographic methodology, utilizing observation, in-depth interviews, and documentation for data gathering. The research site is Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem Regency, Bali Province. The research participants comprised ten individuals, specifically the Bendesa of Dukuh Penaban Traditional Village, the apparatus of Dukuh Penaban Traditional Village, the Coordinator and members of the Balinese Language Care Alliance of Karangasem Regency, members of the Bebasan Lontar group (readers of lontar manuscripts) from Dukuh Penaban, and Penedun (writers and translators of lontar manuscripts).“Ajeg Bali” and Preserving the Balinese Lontar in Dukuh Penaban, Bali. Munculnya kebutuhan untuk mengetahui dan memahami naskah lontar adalah untuk menyelamatkan nilai-nilai adat warisan leluhur masyarakat Bali yang terkandung dalam media lontar. Riset mengenai gerakan sosial naskah lontar sebagai upaya preservasi budaya sebagai bagian dari ritual keagamaan dan sebagai pedoman kehidupan sehari-hari (smerti) belum banyak dikaji. Hal itu didukung dari fenomena yang ada di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali bahwa naskah lontar hanya sebagai benda sakral saja dan belum banyak masyarakat Hindu Bali yang bisa membaca dan menulis naskah lontar dalam Bahasa Bali. Hal ini sekaligus merupakan kebaruan dan digunakan untuk mengisi celah riset yang belum pernah diteliti oleh peneliti di Indonesia, di mana perlu adanya pemahaman akan gerakansosial yang sekaligus menjadi bagian ritual budaya dan agama Hindu. Riset ini perlu untuk diteliti terkait respons masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban pada legitimasi Pemerintah Daerah Propinsi Bali serta usaha preservasi naskah lontar yang dimiliki secara turun temurun yang akan menguatkan nilai-nilai hidup dan ajaran AJAWERA yang berdampak pada peningkatan karakter dan kesadaran masyarakat Bali akan pentingnya melakukan pelestarian budaya mereka yang adiluhung. Fenomena tersebut memberi pertanyaan penelitian bagaimana “Ajeg Bali” memberikan wacana masyarakat Bali untuk melawan globalisasi dengan implementasi melalui gerakan sosial pelestarian budaya di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan pendekatan etnigrafi, dengan metode penelitian yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk pengumpulan data. Lokasi riset adalah Desa Adat Dukuh Penaban, Kabupaten Karangasem, Propinsi Bali. Informan riset berjumlah 10 orang, yaitu Bendesa Desa Adat Dukuh Penaban, Perangkat Desa Adat Dukuh Penaban, Koordinator dan Anggota Aliansi Peduli Bahasa Bali Kabupaten Karangasem, anggota kelompok Bebasan Lontar (pembaca naskah lontar) Dukuh Penaban, dan Penedun (penulis dan penterjemah naskah lontar)
Membaca Cepat Untuk Pemula
Buku ini diterjemahkan sebagai pendukung perkuliahan Bahasa Inggris bagi mahasiswa seni sehingga bisa sebagai sumber acuan untuk menambah nilai pemahaman mahasiswa seni tentang membaca cepat, baik dan bena
Walt Disney’s Movie Soundtracks as Media in Developing Character Education for Children
As a medium of communication, a song has a great impact on children’s development. A small number of children song generate children to sing adult songs, however, there are some adult songs which are not suitable the children in relation to lyrics and theme. The incomprehension of the lyrics and meaning existed in the song can be psychologically influential for the child’s development. This study analyzes the role of Walt Disney’s cartoon soundtracks for character education to children. This is a qualitative-descriptive research, taking observation and in-depth interview to 10 informants who have children of 7-11 years old in Yogyakarta, Indonesia. The results stated that the soundtracks How Far I’ll Go and Let It Go bring positive characters in contents that are useful for character education. The character education taken from lyrics of the songs is conveyed and developed by vocabulary enrichment, the discussion in easy-digested language, and storytelling. These require special time. The good changes in children’s good characters happen by time and process. Therefore, character education needs to be continued and developed in different ways
Analisis Aisas Model Terhadap Product Placement dalam Film Indonesia Studi Kasus: Brand Kuliner di Film Ada Apa Dengan Cinta 2
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis AISAS Model atas product placement dari brand(tempat) kuliner pada film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2. Film ini menjadi objek penelitiankarena tingginya minat menonton dari masyarakat hingga membuatnya menjadi salah satufilm terlaris di Indonesia pada tahun 2016. Penelitian ini mengambil dua teori utama dalambidang komunikasi pemasaran, yaitu teori AISAS dan product placement. Jenis penelitian iniadalah kualitatif deskriptif, dengan teknik observasi dan wawancara mendalam kepada 12orang informan yang telah menonton film tersebut minimal 1 kali dan berdomisili di JakartaTimur. Hasil dalam penelitian ini menyebutkan bahwa berdasarkan analisis AISAS, productplacement atas brand (tempat) kuliner dalam film membantu promosi brand kuliner tersebut.Poin Search, Action, dan Share memberikan peluang besar dan sangat baik dalam keberhasilanpromosi sehingga konsumen dapat dekat, mengalami, dan merasakan brand.The Analysis of AISAS Model towards Product Placement of Indonesia Movie: A CaseStudy on the Culinary Brand of Ada Apa Dengan Cinta 2 Movie. This study aims to analyzeAISAS Model on product placement of culinary brand on Ada Apa Dengan Cinta (AADCWhat’sup with Cinta) 2 movie. The movie becomes the object of research because of the highinterest from the public to watch, making it one of the best-selling movies in 2016 in Indonesia.This study takes two main theories in the field of marketing communications, namely AISASand product placement. The research is a qualitative descriptive by observation and in-depthinterviewtechnique to 12 informants staying in East Jakarta who have seen the film at leastonce. The result of study mentions that based on the AISAS analysis, product placement ofculinary brand (places) on the film helped the promotion of the culinary brands. Some pointssuch as Search, Action, and Share provide great opportunities to the success of the campaignso consumers can be close, experience and feel the brand
Analisis Metafora Pendidikan dan Perkembangan Sosioemosional Tokoh Utama Film “Beauty And The Beast” Versi Live-Action
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan konsep pendidikan yang terjadi di struktur sosial masyarakat Perancis pada abad ke-18. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis metafora pendidikan dan perkembangan sosioemosional sang tokoh utama film “Beauty and the Beast” versi live-action, Belle. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan studi kepustakaan mengambil teori-teori utama, yakni teori metafora pendidikan dan perkembangan sosioemosional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora pendidikan digambarkan secara jelas oleh tokoh utama dalam kaitannya dengan buku, perpustakaan, pendampingan membaca, dan book discussion. Hal ini pada akhirnya membawa pengaruh baik bagi kondisi masyarakat saat itu. Perkembangan sosioemosional tokoh utama berkaitan pula dengan mikrosistem, mesosistem, dan makrosistem yang menjadi satu rangkaian proses perkembangan aspek psikososialnya, yaitu kepercayaan, otonomi, inisiatif, rajin, identitas, dan keintiman. ABSTRACTAnalysis on Educational Metaphors and Socio-emotional Development of Live-Action Version “Beauty and the Beast” Main Character. This research was encouraged by the differences in the concept of education that occurred in the social structure of French society in the 18th century. This study aims to provide an analysis on educational metaphors and socio-emotional development of live-action version “Beauty and the Beast”, the main character, Belle. This research is a qualitative descriptive one, applying the theory of educational metaphor and socio-emotional development. The results showed that the main character clearly described the educational metaphor by doing many activities in relation to books, libraries, reading assistance, and book discussion. These brought good influence to the condition of the community at that time. Microsystems, mesosystems, and macrosystems related the main character to socio-emotional development. They led to be a series of processes in the development of psychosocial aspects, namely trust, autonomy, initiative, diligence, identity, and intimacy
- …
