1,725,016 research outputs found
PEMBELAJARAN TAHSIN AL-QURAN DENGAN METODE HANIFA MELALUI MEDIA YOUTUBE PADA MAHASISWA DI PONDOK PESANTREN ULUL ALBAB BALIREJO YOGYAKARTA
Penelitian ini dilatar belakangi oleh keprihatinan peneliti karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam Pendidikan Agama Islam khususnya dalam masalah membaca Al-Quran atau yang berkaitan dengan tahsin Al-Quran. Keprihatinan ini bertambah karena kurangnya kesadaran mengenai ketepatan bacaan Al-Quran juga dialami oleh kategori setingkat mahasiswa. Maksud dari kurang cakap di sini adalah sudah bisa membaca namun belum sempurna dalam penerapan kaidah tajwid yang baik dan benar. Hal ini pun terjadi dikarenakan beberapa faktor yang menjadi penyebabnya seperti latar belakang pendidikan sebelumnya yang kurang menekankan pada baca tulis Al-Quran. Faktor internal sendiri seperti jarang mengaji Al-Quran. Tujuan belajar tahsin Al-Quran menggunakan metode Hanifa dengan media youtube ini untuk memperbaiki bacaan agar baik benar sesuai dengan kaidah tajwid.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu bentuk penelitian yang digunakan untuk memahami atau mengeksplorasi makna yang berasal dari berbagai permasalahan sosial. Teknik pengambilan data dari penelitian ini yakni menggunakan metode wawancara, observasi, serta dokumentasi. Teknik analisis data yang peneliti gunakan yakni dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pemeriksanaan keabsahan data yakni dengan cara trianggulasi sumber.
Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan: (1) Tujuan pembelajaran tahsin Al-Quran metode Hanifa dengan menggunakan media youtube yang diikuti oleh mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah memperbaiki bacaan Al-Quran. Kategori mahasiswa kebanyakan sudah bisa membaca Al-Quran namun untuk penerapan membacanya sesuai dengan kaidah tajwid masih belum diterapkan dengan baik dan benar. (2) Media youtube menjadi salah satu bentuk alternatif untuk belajar tahsin Al-Quran metode hanifa dikarenakan perkembangan teknologi saat ini serta banyaknya kemudahan dan manfaat yang didapat dengan belajar tahsin melalui media youtube. (3) Hambatan pembelajaran tahsin Al-Quran metode Hanifa dengan menggunakan media youtube antara lain konten materi tahsin Al-Quran metode Hanifa sangat formal. (4) Solusi yang dilakukan dalam mengatasi masalah yang timbul selama proses pembelajaran tahsin Al-Quran metode Hanifa yaitu dalam kontennya bisa ditambahkan konten lain yang berbeda namun tetap memuat unsur tahsin
PENERAPAN E-CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT PADA TAMAN KANAK-KANAK HANIFA
Menjaga hubungan dengan para pelanggan merupakan faktor penting yang akan menjadi kunci sukses
TK Hanifa sebagai institusi pendidikan anak usia prasekolah. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu
strategi tepat bagi TK Hanifa sistem yang mendukung strategi tersebut. Metode perancangan dimulai dari
tahapan analisis terhadap proses bisnis berjalan, analisis terhadap faktor eksternal dan internal yang
berpengaruh terhadap sekolah. Analisis tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan Matriks SWOT dan Matriks
Internal-Eksternal yang menghasilkan beberapa strategi alternatif yang dapat diimplementasikan. Hasil yang
diperoleh dari perumusan strategi adalah pembuatan aplikasi E-Customer Relationship Management (E-CRM)
berbasis website dengan fitur-fitur yang mencakup tiga fase dalam Customer Relationship Management yaitu fase
acquire, fase enhance, dan fase retain. Analisis dan perancangan sistem dilakukan menggunakan metode
object-oriented analysis and design (OOA&D) yang didokumentasikan dengan notasi Unified Modelling
Language (UML)
APPLICATION OF POINT-CENTERED QUARTER METHOD FOR MEASUREMENT THE BEACH CRAB (OCYPODE SPP) DENSITY
Point Quarter Method is a plant community structure measurement procedure. The technique is base on measurement of distance of four plants or trees in every quarter that is made by four space in the cross line sampling field studies. In forest sampling, point centered quarter methods is considered as the efficient, reliable and accurate data, not only for mean distance and density, but for frequency and dominance of species. So it is important to try wether these method ould be applicated to animal, especially crab. These method was applicated for crab population in Padang Beach at December 22nd, 2014. Ten points quartered were made and the distance of every Ocypode sp crab burrow was counted by ruler. Mean distance of crabs burrow gained by divided of total number of quarter (20) with mean distance of every burrow to the point. Density per hectare is 10,000 m divided by quadratic of mean distance. Mean distance of burrow to points were counted and prediction of population per hectare could be found. In these case, mean distance was: 0.41 m and crab population is :59,488.34 individu per hectare. Compared to other species , eg Scylla serrata, its population is bigger, eventhough the condition of beach is polluted and waste
Imam Abu Hanifa and Theory of Knowledge
The article analyzes the work of Imam Abu Hanifa “al-Alim wa-al-mutaallim” (“Teacher and student”), which emphasizes how humbly the student should treat the teacher. Abu Hanifa emphasizes the importance of knowledge for a person that before doing any good deed, he must have enough knowledge about it, and then get down to business. In his work, the scientist effectively used simple examples for easy understanding of the reader
The life Abu Hanifa and his methods of fiqh as the object of the pedagogical research
In the following article the life and methods of fiqh of Abu Hanifa and the researches on the Abu Hanifa, the researches on Abu Hanifa, his teaching is widely revealed. At the same time the opinions of the scholars of Islamic studies on Abu Hanifa are presented
IMAM ABU HANIFA AND THEORY OF KNOWLEDGE
The article analyzes the work of Imam Abu Hanifa “al-Alim wa-al-mutaallim” (“Teacher and student”), which emphasizes how humbly the student should treat the teacher. Abu Hanifa emphasizes the importance of knowledge for a person that before doing any good deed, he must have enough knowledge about it, and then get down to business. In his work, the scientist effectively used simple examples for easy understanding of the reader
Jalali, Hanifa
currentMSc, BSc (Simon Fraser University)
Douglas College Faculty Member since May 2009
Perancangan Visual Brand Identity Hanifa Bakery and Chocolate
Hanifa Bakery and Chocolate adalah salah satu cake shop di Semarang yang menghadirkan produk unik dan berbeda yang diharap akan menjadi kegemaran masyarakat Semarang. Namun dengan pertumbuhan dan persaingan dunia bakery, pastry dan coklat yang semakin pesat di Indonesia, khususnya di Semarang membuat kedudukan Hanifa Bakery and Chocolate terancam. Dari sisi internal, Hanifa Bakery and Chocolate belum memiliki identitas diri yang mantab dan konsisten untuk dikenal masyarakat. Untuk itu, agar dapat bersaing dengan para kompetitor Hanifa Bakery and Chocolate perlu memiliki suatu visual brand identity yang mantab dan konsisten kepada masyarakat sehingga perusahaan dapat lebih mudah dikenal secara lebih luas oleh benak masyarakat. Perancangan visual brand identity Hanifa Bakery and Chocolate dilakukan dengan mengangkat citra perusahaan yang exclusive, unique, bergaya asia khususnya Indonesia-Jawa dengan budaya kekeluargaan yang ramah dan hangat. Perancangan ini dilakukan dengan tujuan sebagai penguat brand image dipandang sebagai keperluan perusahan semakin dikenal dan dipercaya oleh masyarakat dan dari dalam HBC itu sendiri. Dengan brand yang kemudian menjadi sebuah image atau citra perusahaan yang baik sehingga dapat mempertahankan eksistensinya di pasar kuliner secara konsisten
THE SECTARIAN IDENTITY OF ABU HANIFA ACCORDING TO MU’TAZILITE LITERATURE
Mezhepler arası etkileşim örneklerinden biri olarak Hanefîlik-Mu'tezile ilişkisinin siyasî, itikadî tezahürleri yanında sosyal birtakım yansımaları da bulunmaktadır. Mezhep aidiyetini pekiştirme, mezhebin saygınlığını veya sayısını çoğaltma gayesiyle bazı meşhur şahısların farklı mezheplerden sayıldığı ve bu doğrultuda bu şahısların mezhebî kimlikleri hususunda bazı problemlerin yaşandığı görülmektedir. Biz de bu çalışmada Mâturîdî ve Mu'tezilî eğilimlerin özellikle de fıkıhta Hanefiliği benimseyen Mu'tezilî şahısların Ebû Hanîfe’nin mezhebi kimliğini sahiplenmesi şeklinde bir problemin varlığından yola çıkmış bulunmaktayız.
Bu çalışmada, Mu'tezile’nin Ebû Hanîfe algısını ortaya çıkarmak amaçlanmaktadır. Çalışmaya Mu'tezilî alimler nezdinde Ebû Hanîfe’nin Mu'tezilî sayıldığı varsayımıyla başlanmış ve Mürcie’nin Ebû Hanîfe’ye bakış açısında ortaya çıkan farklı eğilimler tespit edilmiştir. Bunlar, Mu'tezile içerisinde, Ebû Hanîfe’nin fakih kimliğine odaklanma, Ebû Hanîfe’yi dolaylı bir şekilde Mu'tezile ile ilişkilendirme ve Ebû Hanîfe’yi Mürcie’den sayma gibi eğilimlerdir. Çalışmamız esnasında Mu'tezile tarafından Ebû Hanîfe’nin Mu'tezilî sayıldığı şeklindeki varsayımızın aksine Mu'tezilî âlimlerin Ebû Hanîfe’yi Mürciî saydığı ciddi bir literatür ile karşılaştık. Bu nedenle Ebû Hanîfe’yi Mürcie mezhebinden sayan bu bakış açısına öncelik vermeyi uygun gördük. Bunu yaparken de Mu'tezile’nin Ebû Hanîfe algısını doğru bir zemin üzerine inşa etme gayesiyle öncelikle Mu'tezile’nin Mürcie algısını ortaya koymaya çalıştık. Bu doğrultuda çalışmamızda Mu'tezile tarafından Mürcie içerisinde sayılan Ebû Hanîfe’nin Mürcie içerisinde hangi kategoride değerlendirildiği, hangi görüşlerin Ebû Hanife’ye nispet edildiği gibi meseleler üzerinde durulmuştur.As an example of inter-sectarian interaction, it is possible to
mention some social manifestations of the Hanafite-Mu‘tazilite
interaction as well as political and doctrinal manifestations. It is seen
that some famous figures are counted from different sects in order to
reinforce sectarian belonging and to increase the prestige or number of
the sect, and thus there are some problems regarding the sectarian
belonging of these figures. In this study, we set out from the existence
of a problem that the Maturidite and Mu‘tezilite tendencies, especially
the Mu‘tazilite figures who were Hanafite in fiqh adopted the sectarian
identity of Abu Hanifa.
This study aims to reveal the Mu‘tazilite perception of Abu Hanifa.
The study started with the assumption that Abu Hanifa was considered
a Mu‘tazilite by the Mu‘tazilite scholars. At this point, different trends
that emerged in Murjia’s view of Abu Hanifa are identified. In this
context, we encountered different tendencies in Mu‘tazila that focused
on the jurist identity of Abu Hanifa, indirectly associated Abu Hanifa
with Mu‘tazila, and considered Abu Hanifa a Murjite. During our study,
contrary to our assumption that Mu‘tazila considered Abu Hanifa a
Mu‘tazilite, we found it appropriate to give priority to the point of view
which considered Abu Hanîfe a Murjite because of the serious literature
that Mu‘tazilite scholars considered Abu Hanîfe a Murjite. In this
respect, primarily Mu‘tazila’s perception of Murjia has been identified so
that the perception of Abu Hanifa could be built on a correct ground. In
the light of these findings, the subjects such as the position Murjia gave
to Abu Hanifa who was regarded by Mutazila as a Murjite, the views
associated with Abu Hanifa are dealt with in our study
Hanifa Zakia's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
- …
