1,720,966 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
Pentingnya Likuiditas dalam manajemen dana pada BMT Maslahah Mursalah Lil Ummah Pasuruan
ABSTRAK
Likuiditas bagi BMT adalah masalah utama dan penting bagi BMT karena berkaitan dengan prinsip utama BMT yaitu amanah. Pengelolaan likuiditas yang benar untuk penyaluran yang benar akan memberikan hasil yang menguntungkan kedua pihak antara Mudharib dan Shohibul Mani. Kasus-kasus penyimpangan pengelolaan BMT yang sering terjadi selalu berhubungan dengan pengelolaan likuiditas. Misalnya, penyaluran pembiayaan menjadi lama karena menipisnya stock atau BMT tidak mampu menyediakan uang untuk penarikan dana nasabah dalam jumlah besar dan bersamaan atau penyaluran zakat untuk para mustakhik tersendat.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif-deskriptif dengan tujuan untuk menganalisa sumber dan penggunaan dana BMT dan untuk mengetahui tingkat likuiditasnya. Analisa data yang digunakan adalah analisa horizontal dan vertikal. Analisa horizontal dilakukan untuk analisa rasio likuiditas. Analisa vertikal dilakukan untuk mengetahui komposisi likuid assets. Analisa sumber dan penggimaan dana dengan pendekatan Pool of Funds Approach (Pusat Pengumpulan Dana), dan juga analisa dana ZIS.
Berdasarkan analisa di atas dapat diperoleh hasil analisa rasio likuiditas BMT bahwa persediaan dana liquiditas BMT di atas standar yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Berdasarkan analisa Pool of Funds Approach diketahui bahwa terdapat selisih kurang dana imtuk menutupi penggimaan dana, hal ini juga terlihat dari perhitimgan LDR dimana prosentasenya di atas 100%. Komposisi sumber dana pada BMT termasuk sumber dana mahal karena komposisinya lebih besar, hal ini dibuktikan dari equivalen bagi hasil yang diberikan cukup tinggi. Penggunaan dana tidak sesuai dengan koridor likuiditas yang ada, dimana seharusnya komposisi terbesar digunakan untuk prornary reserve, secondary reserve, baru kemudian penggunaan dana yang lainnya. Dana ZIS BMT sudah dikelola sendiri oleh BMT, namun penghimpunannya belum melibatkan masyarakat sekitar BMT dan nasabah BMT . sedangkan imtuk pendistribusiaannya belum melibatkan 8 Asnaf karena masih kepada para fakir miskin yang ada disekitar kantor pusat dan kantor cabang BMT, serta kepada anak yatim yang ada di ranting MMU
Strategi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Komunikasi Gender Di Desa Putat
Isu mengenai pemberdayaan masyarakat menjadi hal penting untuk diteliti, terutama jika dikaitkan dengan gender. Kesenjangan gender masih saja terjadi, sebab banyak yang mengalami kesalahpahaman mengenai gender. Kesalahpahaman sering kali disebabkan oleh budaya dan komunikasi yang tidak efektif. Artinya, komunikasi gender adalah hal yang penting terutama dalam kehidupan bermasyarakat. Komunikasi gender dapat digunakan sebagai salah satu strategi dalam pemberdayaan wanita. Penelitian komunikasi gender dalam proses pemberdayaan masyarakat belum banyak dilakukan. Sehingga, penelitian ini penting dilakukan. Tulisan ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diambil melalui wawancara dengan 14 informan dan 11 narasumber, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat empat program pemberdayaan masyarakat sebagai sarana komunikasi gender, yakni Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKS), Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), Program Penataan Lingkungan Berbasis Komunitas (PLPBK) dan Program Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Empat program tersebut menggunakan pendekatan ruang sluas-luasnya sebab memberikan masyarakat kesempatan untuk berpartisipasi seluas-luasnya. Selain itu, empat program ini masuk dalam level makro pada strategi pemberdayaan masyrakat. Pada level makro, hal yang dilakukan meliputi melakukan kebijakan, aksi sosial sekaligus kegiatan yang dapat mengorganisasikan masyarakat. Melalui kegiatan ini, juga dapat dikatakan sebagai komunikasi gender yang dapat meminimalisir konflik. Diharapkan akan ada penelitian lain yang membahas mengenai strategi lain untuk pembedayaan masyarakat, guna melengkapi penelitian lain sebelumnya
Peningkatan Kemampuan Menerjemahkan Bahasa Arab Materi في البيت Melalui Media Gambar Berputar Siswa Kelas V MI Walisongo Sawohan Sidoarjo
Latar belakang penelitian ini adalah problem yang dialami siswa ialah kesulitan dalam materi Bahasa arab terutama ketika siswa diminta untuk menerjemahkan Bahasa arab kedalam Bahasa Indonesia. Kurangnya pemahaman siswa mengenai makna dalam setiap mufrodat merupakan kendala siswa dalam memahami bacaan dalam teks Bahasa arab. Serta kurangnya kreatifitas guru dalam proses pembelajaran juga menjadi salah satu penyebab kegiatan belajar kurang efektif karena siswa merasa bosan sehinga apa yang disampaikan ketika pembelajaran berlangsung tidak dapat difahami siswa sepenuhnya. Siswa yang kurang fokus saat kegiatan belajar di dalam kelas berlangsung mengakibatkan nilai siswa yang kurang memenuhi ketuntasan belajar siswa yang sudah ditetapkan. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian ini bertujuan: 1) untuk mengetahui penerapan media gambar berputar dalam rangka meningkatkan kemempuan menerjemahkan Bahasa arab materi البيت فىkelas V MI Wali Songo Sawahan Sidoarjo dan 2) untuk mengetahui peningkatan kemampuan menerjemahkan Bahasa arab materi البيت فىsetelah diterapkan media gambar berputar di kelas V MI Wali Songo Sawahan Sidoarjo. Peneliti ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan model Kurt Lewin yang menyatakan dalam satu siklus terdapat empat langkah pokok yaitu: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Peneliti mengunakan tehnik pengumpulan data angket, wawancara, observasi, aktifitas guru dan siswa. Data yang dianalisis adalah data yang berhubungan dengan kemampuan menerjemahkan siswa. Penerapan media gambar berputar pada siklus I dalam mata pelajaran Bahasa arab materi البيت فىpada siswa kelas V MI Wali Songo Sawahan Sidoarjo dilaksanakan dengan baik. Dapat dilihat dari nilai aktifitas siswa pada siklus I sebesar 42 dan naik pada siklus II menjadi 55. Penggunaan media gambar berputar untuk meningkatkan kemampuan menerjemahkan Bahasa arab siswa berjalan dengan baik. Terjadi peningkatan kemampuan belajar siswa yang memuaskan karena dari pra siklus yang hanya mendapatkan nilai rata-rata 63 dengan persentase ketuntasan 42%, hasil ini meningkat dengan diadakannya penelitian dengan nilai rata-rata yang diperoleh 73 dengan persentase ketuntasan mencapai 73% pada siklus I dan meningkat pada siklus II diperoleh nilai rata-rata siswa 81 dengan persentase ketuntasan mencapai 88%. Dari hasil nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa media gambar berputar mampu membantu meningkatkan kemampuan belajar siswa
- …
