5,643 research outputs found
Nasr Hamid Abu Zayd
This chapter discusses the life and work of Nasr Hamid Abu Zayd (1943–2010). Abu Zayd is part of a group of contemporary intellectuals from the Arabic-speaking part of the Muslim world known as the turāthiyyūn, or “heritage thinkers.” This strand of Islamic thinking developed in the 1970s and 1980s in response to the traumatic outcome of the 1967 war between Israel and the surrounding Arab countries. Abu Zayd advocated the rigorous scholarly investigation of the Quran using innovative methods and techniques of textual criticism and discourse analysis used in literary studies, which was considered anathema by Islamist activists and made him the target of persecution. Abu Zayd and his wife sought asylum abroad, and he has since been recognized internationally as a scholar who has made pioneering contributions to move the study of the Quran and of the wider Islamic intellectual legacy forward.</p
MEMPERTIMBANGKAN NILAI ADIL DALAM WARISAN (Perspektif Nasr Hamid Abu Zayd)
Nasr Hamid Abu Zayd who has some thoughts related to the Qur'an is a contemporary Islamic critical thinker . He said that al Qur’an is a cultural product, this statement made him get under public criticism. However, besides that there are interesting things in the thought of Nasr Hamid Abu Zayd when discussing gender issues including in terms of division of inheritance which according to the author has not been known to the public. The idea that carried Nasr Hamid Abu Zayd is what the author needs to describe conceptually. Research on Gender Deconstruction Perspective Nasr Hamid Abu Zayd was done in order to answer: 1) How is the Qur'an according to Nasr Hamid Abu Zayd? 2) How is the legacy in the Qur'an according to Nasr Hamid Abu Zayd? This paper would like to reconstruct the thoughts of Nasr Hamid Abu Zayd on the Qur'an and the concept of justice in the inheritance. In order to reconstruct the thought of Nasr Hamid Abu Zayd, the author used theoretical hermeneutical of Schleirmacher’s. theory
WAHYU DALAM PANDANGAN NASR HAMID ABU ZAID
Wahyu merupakan suatu perkara yang sangat penting dalam agama Islam bahkan menjadi asas kepada kewujudan Islam itu sendiri. Begitu pula tema wahyu dalam khazanah ‘‘ulÅ«m al-Qur’Än. Oleh sebab itu, berbagai kajian tentang wahyu banyak dilakukan oleh para pemikir Muslim, ia sentiasa dijadikan sasaran musuh Islam untuk melemahkan Islam dan umatnya. Nasr Hamid Abu Zaid adalah satu nama besar dalam dunia Pemikiran Islam yang mencoba menawarkan gagasan baru mengenai wahyu tersebut.Dalam mengkaji tradisi (turath) di bidang pemikiran terutama pada kajian‘ulÅ«m al-Qur’Än, Nasr Hamid Abu Zaid berbeda dengan para pendahulunya. Jika para pendahulunya lebih cendrung mengekor atau taqlÄ«d dengan pemikiran yang sudah ada, justru Nasr Hamid Abu Zaid lebih memilih untuk mengkritisi pemikiran- pemikiran tersebut,. Bahkan lebih jauh lagi Ia bukan sekedar mengkritisi, tetapi tidak segan-segan untuk menolaknya. Sikap kritis Abu Zaid diwujudkan dengan menggiring, ‘‘ulÅ«m al-Qur’Än sebagaii objek kajiannya menuju taraf ilmiah rasional. Karena kajian ini masih dianggap jalan di tempat, yakni masih berada pada wilayah teologis-mitologis. Sehingga belum ada upaya-upaya untuk menuju ke taraf yang lebih tinggi, yaitu taraf ilmiah-rasional.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan Nasr Hamid Abu Zaid tentang wahyu. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah deskriptif analisis. langkah awal yang ditempuh adalah dengan mengumpulkan data-data primer dan sekunder kemudian mengklasifikasikan, mendeskripsikan dan selanjutnya menganalisis.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Abu Zaid mengkaji wahyu dengan analisis unsur budaya sehingga yang membedakannya dengan penafsir lainnya adalah antara wahyu dan budaya,. budaya-sosial sangat berperan dan berpengaruh penting terhadap munculnya sebuah teks. Abu Zaid menjelaskan proses pewahyuan Alquran dengan meminjam teori model komunikasi Roman Jakobson, meskipun tidak sama persis.“Proses pewahyuan menurutnya adalah sebuah tindak komunikasi yang secara natural terdiri dari pembicara, yaitu Allah, seorang penerima, yakni Nabi Muhammad, sebuah kode komunikasi, yakni bahasa Arab, dan sebuah canel, yakni Ruh Suci (Jibril). Nasr Hamid Abu Zaid juga dipengaruhi oleh Toshihiko Izutsu, dan al-Jurjani
Abu Hamid, Jordanie. Premiers résultats
Dollfus Geneviève, Kafafi Zeidan Abdel-Kafi. Abu Hamid, Jordanie. Premiers résultats. In: Paléorient, 1986, vol. 12, n°1. pp. 91-100
Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd
pengkajian keislaman dengan mengambil al-Qur’an sebagai objeknya sudah banyak dilakukan, dengan menggunakan berbagai pendekatan dan metode tertentu. Salah satu bentuk pengkajian tersebut, dilakukan oleh Nasr Hamid Abu Zayd dengan menggunakan pendekatan hermeneutika. Dalam kajiannya, secara umum Abu Zayd mengatakan bahwa pemaknaan terhadap teks al-Qur’an, tidak terlepas dari konteks zaman pada masa turunnya, keduanya pasti memiliki saling keterkaitan sehingga dari situlah, Abu Zayd mengeluarkan teori mengenai Ta’wil, Talwin, dan Pembaacaan Produkti
HERMENEUTIKA NASIR HAMID ABU ZAID
Kajian atau Penelitian Islam yang menjadikan al-Quran sebagai objeknya, sudah sangat banyak di lakukan oleh para tokoh maupun pelajar dengan menggunakan berbagai pendekatan dan metode-metode tertentu, salah satunya adalah penelitian Nasr Hamid Abu Zaid yang menggunakan pendekatan hermeneutika. Dalam studi penelitiannya, secara umum Abu Zaid mengatakan teks al-Quran tidak bisa terlepas dengan konteks zaman penurunannya, kedua hal ini sangat saling berkaitan, dari hal inilah Abu zaid mengeluarkan teori Takwil dan Membaca Produktif
NASR HAMID ABU ZAYD
Nasr Hamid Abu Zayd was one of the most renowned Arab Muslim scholars of the last two decades. The main focal points of the scholarly work that established his brilliant reputation worldwide were a valiant hermeneutical approach to the Qurʾan, a radical critique of the highly politicized religious discourse in Egypt and other Arab countries, and a penetrating view of Islamic culture.</jats:p
Teori Interpretasi Nasr Hamid Abu Zayd
This paper describes the thought of Nasr Hamid Abu Zayd on the theory of interpretation/method of interpretation of the al-Qur’an, the discussion of which is the study of descriptive-analitif. In the method, Nasr Hamid seeks to reveal the meaning and significance (maghza) with the meaning of "unspeakable". Nasr Hamid distinguish these three terms. Meaning is what is represented by the text or in the sense that letting the text speak about himself. then from that meaning discussed with conditions / context that surrounds a reader. Therefore, the meaning of the static nature as it contains a textual-historical significance (historical meaning), and the dynamic nature of significance according to the horizon of each reader.Tulisan ini mendeskripsikan pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd tentang teori interpretasi/metode penafsiran terhadap al-Qur’an, dengan pembahasan yang bersifat telaah diskriptif-analitif. Dalam metodenya, Nasr Hamid berusaha untuk mengungkap makna dan signifikansi (maghza) yang kemudian memunculkan makna “yang tak terkatakan”. Nasr Hamid membedakan ketiga istilah tersebut. Makna adalah makna yang direpresentasikan oleh teks atau dalam artian bahwa membiarkan teks berbicara tentang dirinya sendiri. kemudian dari makna tersebut didialogkan dengan kondisi/konteks yang mengitari seorang reader. Karena itu, makna sifatnya statis karena memuat makna tekstual-historis (historical meaning), dan signifikansi sifatnya dinamis sesuai dengan horizon masing-masing pembaca
Nasr Hamid Abu Zeyd. Reformation of Islamic Thought
Nasr Hamid Abu Zayd (1943-2010) Nasr Abu Zayd, Reformation of Islamic Thought. A Critical Historical Analysis, Amsterdam University Press, Amsterdam 2006. Reformation of Islamic Though
Critique of Religious Discourse, by Nasr Hamid Abu Zayd
Nasr Hamid Abu Zayd, Critique of Religious Discourse, Translated by Jonathan Wright; With a Scholarly Introduction by Carool Kersten, Yale University Press, 2018. An important work of contemporary Islamic thought argues against the programmatic use of Islamic religious texts to support fundamentalist beliefs First published in Arabic in 1994, progressive Muslim scholar Nasr Hamid Abu Zayd’s controversial essay argued that conventional fundamentalist interpretations of the Quran and other Isl..
- …
