1,721,139 research outputs found
PERUBAHAN FUNGSI DAN PERAN ABDI DALEM POLOWIJAN MASA PEMERINTAHAN SULTAN HAMENGKUBUWONO IX HINGGA SULTAN HAMENGKUBUWONO X
Abdi dalem Polowijan adalah abdi keraton yang memiliki ciri fisik yang berbeda. Mereka memiliki peran penting dalam menjalankan roda pemerintahan keraton. Abdi dalem Polowijan dianggap sakral dan dilanggengkan oleh Keraton Yogyakarta. Karena kekurangan fisik yang dimiliki abdi dalem Polowijan dianggap memiliki kekuatan magis. Oleh sebab itu peran abdi dalem Polowijan sangat penting yaitu sebagai otoritas spiritual keraton. Perlahan perubahan terjadi pada institusi keraton ketika masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX. Hal-hal tersebut berdampak pada pandangan keraton akan fungsi dan peran abdi dalem Polowijan. Perubahan tersebut tidak hanya mengubah institusional keraton saja, melainkan juga pada fungsi dan peran abdi dalem Polowijan. Hingga pada masa akhir pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX dan masa Sultan Hamengkubuwono X, abdi dalem Polowijan dilanggengkan sebagai simbol budaya keraton dan simbol kebijaksanaan Sultan.
Penelitian ini menggunakan metode pustaka dan observasi lapangan dengan metode wawancara terhadap informan yang berkaitan. Alat analisis yang digunakan adalah pendekatan sosiologi. Pendekatan ini bertujuan untuk menganalisis kondisi sosial agama yang ada di Keraton Yogyakarta. Teori perubahan sosial dari Selo Soemardjan, dipilih untuk mengetahui perubahan pandangan keraton dari fungsi dan peran abdi dalem Polowijan berdasarkan adanya perubahan dalam institusional keraton di masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX. Perubahan pandangan keraton tersebut berlangsung hingga masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono X.
Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang memiliki empat tahapan. Heuristik yakni pengumpulan data, verifikasi yakni kritik sumber, interpretasi yakni penafsiran, dan historiografi yakni penulisan sejarah. Bertujuan untuk menganalisis dari perubahan fungsi dan peran dari abdi dalem Polowijan yang terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX yang berlangsung hingga masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono X
KONTRIBUSI SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO VII PADA PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH (1912-1921)
Kasultanan Yogyakarta pada 1877-1921 dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Pada masa kepemimpinannya, Kasultanan Yogyakarta dihadapkan dengan berbagai tantangan. Tantangan yang terjadi disebabkan oleh penjajahan Belanda dan arus modernisasi. Untuk mengatasi hal tersebut, perubahan dilakukan Sri Sultan Hamengkubuwono VII dalam bidang politik dan agama. Usaha yang dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII adalah memberangkatkan beberapa orang untuk berhaji dan menimba ilmu ke Arab Saudi. Ahmad Dahlan adalah salah seorang tokoh yang diberangkatkan. Setelah kembali ke Yogyakarta, Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Lahir dan berkembangnya Persyarikatan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari kontribusi Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Meskipun memiliki paham yang berbeda, namun Sri Sultan Hamengkubuwono VII dapat menyeimbangkan posisinya di antara kedua lembaga tersebut. Selain itu Persyarikatan Muhammadiyah merupakan hierarki yang berbeda dengan hierarki Kasultanan Yogyakarta. Namun keduanya dapat saling bersinergi untuk menghadapi tantangan modernisasi. Oleh karena itu, menarik diteliti interaksi yang terjadi antara Kasultanan Yogyakarta dengan Muhammadiyah melalui Sri Sultan Hamengkubuwono VII sebagai raja yang menjabat pada masa lahir dan perkembangan awal Muhammadiyah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi dan politik. Pendekatan sosiologi dan politik digunakan untuk melihat serta menganalisis pengaruh seseorang dalam bidang sosial dan politik terhadap suatu kelompok. Pengaruh tersebut baik secara individu dan sebagai pemimpin dari suatu institusi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori peranan sosial yang dikemukakan oleh Ervin Goffman serta teori integrasi politik yang dikemukakan Carl G Rosberg. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah. Dalam metode penelitian sejarah terdapat tahap-tahap penelitian, seperti heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Dalam tahap heuristik, penelitian kepustakaan digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh sumber. Dalam tahap verifikasi, penelitian ini melakukan kritik sumber baik secara intern maupun ekstern. Dalam tahap interpretasi, berupaya untuk menganalisis fakta sejarah yang didapat dengan bantuan teori yang digunakan. Sementara itu, dalam tahap historiografi, penelitian ini berusaha ditulis secara sistematis dan kronologis
PERAN ABDI DALEM DALAM PELAKSANAAN TRADISI SEKATEN PADA PEMERINTAHAN SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX – SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X DI KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi serta menilai peran Abdi Dalem dalam tradisi Sekaten selama kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sampai Sri Sultan Hamengkubuwono X di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Metode yang diterapkan oleh peneliti dalam skripsi ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sekaten merupakan sebuah tradisi yang hadir sejak zaman Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Demak. Pada masa Kerajaan Majapahit tradisi sekaten dilaksanakan dalam bentuk sesaji yang diberikan kepada para arwah leluhur sedangkan pada masa Kerajaan Demak pelaksanaan upacara sekaten ini adalah sebagai usaha untuk memperluas dan memperdalam rasa jiwa keislaman bagi seluruh masyarakat Jawa. Peran abdi Dalem sangat signifikan dalam menjaga dan melestraikan kebudayaan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang terkait dengan pelaksanaan tradisi Sekaten maupun tradisi-tradisi lainnya. Pada tahun 2023, berdasarkan hasil prasurvei peneliti menunjukkan bahwa peran abdi dalem dalam proses pelaksanaan tradisi sekaten dari tahun ke tahun tidak ada perbedaan hanya saja terdapat sedikit pergeseran dari segi minat partisipasi para pengunjung. Dimana saat perayaan sekaten selalu ada pasar malam selama seminggu yang sudah ada sejak Raja Sri Sultan Hamengkubuwono I sampai Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tetapi pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono X pasar malam telah ditiadakan. Dan tentu hal ini menjadi penyebab kurangnya antusias masysrakat untuk datang ke tradisi sekaten
ARTI SIMBOLIS PAES AGENG MASA HAMENGKUBUWONO IX TAHUN 1940-1988
ABSTRAK
Paes Ageng adalah tata rias pengantin Yogyakarta yang pada awalnya merupakan tata rias Keraton. Tata rias tersebut digunakan sejak masa pemerintahan Hamengkubuwono I dan digunakan oleh para penari Bedhaya keraton Yogyakarta. Namun seiring perkembangan zaman masyarakat mulai berani menggunakan Paes Ageng ketika melangsungkan pernikahan. Saat ini, masyarakat cenderung lebih menyukai segala hal yang instan dan praktis termasuk dalam merias dengan Paes Ageng. Kepraktisan dalam berias dapat mempengaruhi pergesaran makna yang terkandung dalam riasan tersebut.
Rumusan masalah penelitian ini yaitu 1) Apa latar belakang Hamengkubuwono IX pada tahun 1940 mengizinkan Paes Ageng diperbolehkan digunakan untuk masyarakat umum? 2) Bagaimana respon dalam keraton dan masyarakat luas mengenai kebijakan Hamengkubuwono IX memperbolehkan paes ageng digunakan untuk masyarakat umum? 3) Apakah makna simbolis yang terkandung dalam unsur riasan pengantin Paes Ageng? Penelitian ini menggunakan metodologi sejarah dengan pendekatan etnografi, meliputi: heuristik berupa tahap pertanyaan, metode pemerolehan data, dan metode pengumpulan data. Tahap kritik meliputi sumber data lain, fokus pertanyaan, dan informasi/partisipan. Interpretasi berupa paradigma penulis, dan tahap terakhir yaitu historiografi yaitu tipe hasil yang diharapkan.
Penelitian ini menjelaskan alasan Hamengkubuwono IX mengizinkan Paes Ageng diperbolehkan digunakan oleh masyarakat umum yang tidak terlepas dari usaha keempat empu perias keraton Yogyakarta seperti: Ibu RAy Rochaya Donolobo (Almarhumah), Ibu RAy Pradjoko Halpito (Almarhumah), Ibu RAy Trenggono Sosronegoro (Almarhumah) dan Ibu RAy Marmien Sardjono Yudosipuro (Almarhumah). Kebijakan tersebut mendapat respon positif dari pihak keraton dan masyarakat ditandai dengan berdirinya HARPI sebagai wadah bagi perias yang ingin belajar merias yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sehingga pada masa akhir pemerintahan Hamengkubuwono IX, masyarakat mulai berani menggunakan Paes Ageng ketika menikah dengan syarat tetap mempertahankan pakem yang berlaku. Mempelajari dan memahami arti simbol yang terkandung dalam tata rias Paes Ageng sama dengan melestarikan warisan leluhur yang kaya nilai-nilai kehidupan.
Kata Kunci: Paes Ageng, Arti Simbolis, Hamengkubuwono I
PENGARUH PEMBELAJARAN SEJARAH DAN PERSEPSI TERHADAP KETOKOHAN SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX PADA SIKAP SISWA DI MA ASKHABUL KAHFI SEMARANG
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Pengaruh pembelajaran sejarah
submateri Sri Sultan Hmengkubuwono IX dan persepsi siswa dengan sikap siswa
terhadap ketokohan Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada kelas XII MA Askhabul
Kahfi. Jenis penelitian ini adalah penelitian ex-postfacto. Populasi dalam penelitian ini
adalah siswa kelas XII MA Askhabul Kahfi dengan sampel penelitian yaitu siswa kelas
XII yang terdiri dari empat kelas yang diambil masing-masing 20 anak setiap kelas
dengan total 80 siswa. Rumus penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin
dan teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Variabel dalam
penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu pembelajaran sejarah Sri Sultan
Hmengkubuwono IX (X1), dan persepsi siswa terhadap ketokohan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX (X2) serta variabel terikat yaitu sikap siswa terhadap ketokohan
Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Y). Metode pengumpulan data dengan menggunakan
metode angket dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif
persentase dan analisis regresi berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajarn sejarah dan persepsi siswa
berpengaruh dengan sikap siswa terhadap ketokohan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Hal ini dibuktikan dengan Uji F yang diperoleh Fhitung lebih besar dari Ftabel 4,151>2,72
sehingga H3 berbunyi: “Ada pengaruh positif pembelajaran sejarah dan persepsi
dengan sikap siswa terhadap ketokohan Sri Sultan Hamengkubuwono IX”, diterima.
Pada pengujian secara parsial (uji t) untuk variabel pembelajaran sejarah submateri Sri
Sultan Hamengkubuwono IX (X1) diperoleh thitung lebih kecil dari ttabel = (-1,009)
<1,664 sehingga H1 yang berbuny: “Ada pengaruh positif pembelajaran sejarah dengan
sikap siswa terhadap ketokohan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.”, ditolak. Untuk
variabel persepsi siswa terhadap ketokohan Sri Sultan Hamengkubuwono IX (X2)
diperoleh thitung lebih besar daripada ttabel 2,700>1,664, sehingga H2 yang berbunyi
“Ada pengaruh positif persepsi dengan sikap terhadap ketokohan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX pada siswa.”, diterima. Secara simultan pembelajaran sejarah
dan persepsi siswa berpengaruh dengan sikap siswa terhadap ketokohan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX sebesar 7,4% . Secara parsial pengaruh pembelajaran sejarah
dengan sikap siswa terhadap ketokohan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebesar 1,3
% dan pengaruh persepsi siswa dengan sikap siswa terhadap ketokohan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX sebesar 8,6 %
KESUSASTRAAN: AJARAN NILAI-NILAI MORAL MASA HAMENGKUBUWONO V
Kajian mengenai nilai-nilai kepemimpinan Hamengkubuwono V dapat ditemukan pada karya-karya sastra yang berkembang pada masa itu. Karya sastra pada masa Hemangkubuwono V berkembang pesat dan mengandung ajaran-ajaran moral yang dapat menjadi acuan pada zaman sekarang. Salah satu karya sastra yang berkembang, yaitu Serat Jatipusaka Makutharaja yang berisi keteladanan seorang pemimpin dalam bertindak, nilai-nilai kepemimpinan sebagai bentuk keteladanan dan nilai-nilai kepemimpinan yang diimplementasikan dalam kehidupan. Kajian nilai kepemimpinan pada karya sastra dalam tulisan ini dapat disebut sebagai model kepemimpinan Jawa-Islam. Kata kunci: karya sastra, nilai-nilai moral, Hamengkubuwono V
BATIK KLASIK SEBAGAI MEDIA LEGITIMASI KEKUASAAN SULTAN HAMENGKUBUWONO VIII TAHUN 1927-1939 DAN RELEVANSINYA DALAM PENGEMBANGAN MATERI SEJARAH SOSIAL
The objectives of this study were: (1) to identify the development of classical batik at the Sultanate of Yogyakarta during the Sultan Hamengkubuwono VIII reign, (2) to find out the meaning of classical batik motifism during the age of Sultan Hamengkubuwono VIII, (3) to identify how classical batik was used as a medium of legitimacy of power during the time of Sultan Hamengkubuwono VIII, (4) to identify the relevance of the results of the study as the development of Social History material.
This study used a historical method consisting of four stages: heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Data collection techniques were carried out through interviews, observation and literature. The data analysis techniques in the form of historical analysis techniques.
The results showed that: (1) the development of classical batik during the time of Sultan Hamengkubuwono VIII was marked by the issuance of regulations regarding the use of batik cloth in 1927, batik activities in the Hadiningrat Yogyakarta Palace which were carried out by the wives and daughters of the Sultan as part of education the most refined character and introduction of the palace culture, and the development of several batik motifs such as the motif of semen rojo, plenik hok naga, tambal, gringsing lindri, parang sisik, kawung and huk which were the result of a grant from the son in law of Sultan Hamengkubuwono VIII; (2) the meaning of classical batik motif symbolism during the reign of Sultan Hamengkubuwono VIII affirmed the system of social stratification in the feudal palace society. It could be seen by the name, type, color, fabric style, and structure of the pattern that represents the overall purpose to be conveyed in a system of social stratification; (3) batik as a medium for the legitimacy of the power of Sultan Hamengkubuwono VIII was used as a symbol of affirmation of social position, complementary means of power and authority of a king, social control, and as an order and guidance in relations between gurus; (4) the relevance of the results of this study is to develop (enrich) Social History course material mainly regarding the chapter on the concept of Javanese power during the Mataram Islamic kingdom, a sub-section of legitimacy for the power of the kings of Mataram
Muhammadiyah di hadapan saksi sejarah/ Sri Sultan Hamengkubuwono IX (dkk)
vii, 268 hal.; 21 cm
PERANAN SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX DALAM MEMPERTAHANKAN KEDAULATAN RI PADA MASA AGRESI MILITER BELANDA KEDUA (1948-1949)
Agresi Militer Belanda ke Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948 mengakibatkan lumpuhnya pemerintahan RI. Pucuk pimpinan RI ditawan oleh Belanda, sehingga eksistensi RI mengalami masa-masa yang kritis. Pada saat
inilah Sri Sultan Hamengkubuwono IX tampil melawan Belanda dengan mendukung penuh para gerilyawan dalam melawan Belanda. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX
dalam mempertahankan kedaulatan RI pada masa Agresi Militer Belanda II.
Metode dalam penulisan skripsi ini ada1lah metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat langkah. Pertama adalah heuristik, yaitu menghimpun sumbersumber
baik dengan mengkaji buku-buku yang relevan serta wawancara dengan beberapa pihak. Langkah kedua adalah kritik sumber dimana penulis meneliti sumber yang diperoleh baik secara ekstern maupun intern sehingga diperoleh data yang dapat dipertanggungjawabkan. Setelah dilakukan kritik sumber, tahap ketiga yaitu menafsirkan secara analisis atau sintetis dari bahan yang telah diperoleh sebagai tahap interpretasi. Tahap keempat adalah historiografi (penyajian), dimana pada bagian ini penulis menyajikan hasil penafsiran tersebut secara
kronologis dan deskriptif analitis dalam bentuk karya sejarah. Berdasarkan masalah yang dikaji dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang dilahirkan pada tanggal 12 April
1912 atau menurut hitungan Jawa jatuh pada tanggal 25 Rabingulakir tahun Jimakir 1842, menduduki tahta Kasultanan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940. Ketika Republik Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia melalui Amanat 5 September 1945, dimana Yogyakarta adalah daerah istimewa di bawah Republik Indonesia. Pada masa Agresi Militer Belanda Kedua, Sri Sultan Hamengkubuwono IX mendukung penuh perjuangan para gerilyawan dalam menghadapi Belanda. Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga berinisiatif agar diadakan serangan umum yang kemudian dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949. Serangan ini ternyata mampu mendesak Belanda baik di medan pertempuran maupun dalam meja diplomasi. Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak agar Belanda mengembalikan ibukota Republik Indonesia di
Yogyakarta, membebaskan pemimpin-pemimpin RI yang ditawan serta melanjutkan perundingan perdamaian yang pada akhirnya akan berujung dengan diserahkannya kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia Serikat.
Kata Kunci : Sri Sultan HB IX, Agresi Militer Belanda II, 1948-194
- …
