320 research outputs found
Integriti menurut Hadith Nabi : kajian terhadap kefahaman kakitangan pentadbiran UiTM Shah Alam / Hanafi bin Hamdani
Kajian ini adalah analisis mengenai nilai teras integriti yang terdapat dalam hadith Nabi s.a.w. merujuk kepada al-Sahihayn iaitu hadith di dalam Sahih Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Kefahaman terhadap nilai teras yang menjadi dasar kepada integriti itu dibincangkan dalam bab satu disertasi ini. Nilai amanah dijadikan sebagai nilai teras integriti berdasarkan sifatnya yang dominan dan merentasi nilai-nilai agama lain. Pemilihan nilai amanah ini bukan semata-mata berdasarkan sifatnya yang universal itu bahkan nilai kesucian “Qudusnya” itu digali dari matan hadith Nabi s.a.w. menambahkan lagi mutu integriti itu bukan setakat amalan duniawi sahaja bahkan berpanjangan hingga ke ukhrawi ini diterangkan di dalam bab dua. Seterusnya kajian ini mengupas kefahaman dan amalan kakitangan pentadbiran Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam terhadap integriti dan nilai amanah sebagai nilai teras integriti yang didasari oleh sifat-sifat mahmudah dan mazmumah. Kajian ini menggunakan metod analisis deskriptif untuk menghurai frekuensi dan kebolehpercayaan kajian (cronbachs alpha) terhadap item-item yang dikemukakan. Hasil kajian dalam bab empat menunjukkan bahawa tahap kefahaman kakitangan pentadbiran UiTM Shah Alam terhadap integriti adalah tinggi dan tahap memahami integriti yang dirujuk kepada pembentukan nilai amanah sebagai nilai teras berdasarkan Hadith Nabi juga adalah memuaskan. Kajian ini juga turut dapat membuktikan persetujuan responden terhadap amalan kerja berintegriti dianggap sebagai satu ibadah
Complex entanglements: Moving from policy to public sociology in the Arab world
In this article, the author surveys his own career to illustrate some of the dilemmas of research, especially when it assumes a critical and public face. He shows how his work on Palestinian refugees, their socioeconomic rights, their right of return and their camps evolved toward complex forms of traditional and organic public sociology. The article concludes with reflections on one of the major dilemmas researchers face: conducting public research without losing its critical edge, even toward the deprived groups it seeks to protect. The moral of the story: good scientists are not always popular. © The Author(s) 2014.Adorno T, 1980, ADORNO READER, P239; Burawoy M, 2005, AM SOCIOL REV, V70, P4; Government of Lebanon, 2008, COMM CHALL SHAR RESP; Hale CR, 2006, CULT ANTHROPOL, V21, P96, DOI 10.1525-can.2006.21.1.96; Hanafi S, 2012, IDAFAT, V20-21, P4; Hanafi S, 2011, CURR SOCIOL, V59, P291, DOI 10.1177-0011392111400782; Wolff KH, 1992, RENAISSANCE SOCIOLOG, P2010
Explaining spacio-cide in the Palestinian territory: Colonization, separation, and state of exception
This article argues that the Israeli colonial project is 'spacio-cidal' (as opposed to genocidal) in that it targets land for the purpose of rendering inevitable the 'voluntary' transfer of the Palestinian population primarily by targeting the space upon which the Palestinian people live. The spacio-cide is a deliberate ideology with unified rational, albeit dynamic process because it is in constant interaction with the emerging context and the actions of the Palestinian resistance. By describing and questioning different aspects of the military-judicial-civil apparatuses, this article examines how the realization of the spacio-cidal project becomes possible through a regime that deploys three principles, namely: the principle of colonization, the principle of separation, and the state of exception that mediates between these two seemingly contradictory principles. © The Author(s) 2012.Abu-Saba C, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P413; Agamben G, 1998, HOMOSACER SOVEREIGN; Ajzenstadt M, 2008, 1 ISA FORUM SOCIOLOG; Arendt Hannah, 1985, ORIGINS TOTALITARIAN; Azoulay Ariella, 2008, REGIME WHICH IS NOT; Bogdanovic B, 1993, NEW YORK REV BOOKS, VXL; Coward M, 2007, THEORY EVENT, V10, P234; Dayan H, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P281; Farsakh L, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P379; Foucault M., 1995, DISCIPLINE PUNISH BI; Funk M, 2010, VICTIMS RIGHTS ADVOC; Gordon N, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P239; Graham Stephen, 2004, CITY, V8, P165, DOI 10.1080-1360481042000242148; Haggerty K.D., 2006, NEW POLITICS SURVEIL; Hanafi Sari, 2009, CONT ARAB AFFAIRS, V2, P106; HEWITT K, 1983, ANN ASSOC AM GEOGR, V73, P257, DOI 10.1111-j.1467-8306.1983.tb01412.x; Monterescu D, 2009, PUBLIC CULTURE, V21, P403, DOI 10.1215-08992363-2008-034; Ophir Adi, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P15; Pandolfi M., 2002, ANTHR SOC, V26, P29, DOI 10.7202-000701ar; Pappe Ilan, 2006, ETHNIC CLEANSING PAL; Parizot C, 2001, THESIS EHESS PARIS; Peace Now, 2006, BREAK LAW W BANK PRI; Ran G, 2009, ISRAELI REGIME SEA R; ROY S, 1987, J PALESTINE STUD, V17, P56, DOI 10.1525-jps.1987.17.1.00p0144f; Shamir R, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P587; Weizman Eyal, 2007, HOLLOW LAND ISRAELS; Yehouda Shenhav, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P337; Yiftachel O, 2006, ETHNOCRACY: LAND AND IDENTITY POLITICS IN ISRAEL-PALESTINE, P121
Siri webinar Kelab Penolong Pendaftar
Kelab Penolong Pendaftar UiTM dengan kerjasama Bahagian Hal Ehwal Islam UiTM Shah Alam telah mengadakan Siri Webinar Naskhah Cendekia- sebuah platform intelektual yang membincangkan karya-karya hebat dan penuh inspirasi pada 25 Jun 2025. Buku yang menjadi pilhan bertajuk Konsep Integriti Menurut Hadis Nabi yang ditulis oleh Faisal Ahmad Shah dan Hanafi Hamdani. Tetamu jemputan adalah Ustaz Haji Hanafi bin Haji Hamdani (Pengarah Bahagian Hal Ehwal Islam, UiTM Shah Alam) dan moderator ialah Ustaz Abdul Mutalib Abd Jamil (Timbalan Pengarah II, Bahagian Hal Ehwal Islam UiTM Shah Alam)
Ketentuan Masa ‘Iddah Wanita Hamil Yang Diceraikan Qobla Dukhul Menurut Mazhab Hanafi dan Syafi’i
This study aims to protect and prevent the author, especially Muslims in general, from falling into the practices prohibited by Islam and to be able to understand the \u27iddah regulations for divorced pregnant women to find out when the qobla dukhul occurred, which in this case the author is from the Hanafi school From the perspective of Shafiyi. The reason why the author only gives the views of the Hanafi and Shafi’i schools is that only these two schools believe that women who become pregnant through adultery can marry without waiting for the birth of a child. Her fetus. The research method used in this work is a qualitative method, which belongs to the type of library research (library research). Research analysis shows that Islam is a perfect religion and Allah has ordained everything that is good for the servant. An example in this case is how Islam strictly forbids adultery among its people, this is for the protection of Maqasid Sharia, one of which is to protect future generations. Also, the period of \u27iddah for a pregnant woman divorced from Qobla Dukhul is determined according to the Hanafi and Syafi\u27i schools, so in this case the two schools of thought differ in the meaning of Qobla Dukhul, which may have legal implications. Therefore, the two schools of thought hardly differ in their determination.Keywords: The period of \u27Iddah; Qobla Dukhul; Hanafi; Shafi\u27i AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjaga dan mencegah diri penulis secara khusus dan kaum muslimin secara umum agar tidak terjatuh pada perbuatan yang diharamkan oleh Islam serta dapat mengetahui ketentuan ‘iddah wanita hamil yang diceraikan apabila terjadi qobla dukhul, yang dalam hal ini penulis ambil dari perspektif mazhab Hanafi dan Syafi’i. Adapun alasan penulis hanya mencukupkan perspektif mazhab Hanafi dan Syafi’i adalah karena hanya kedua mazhab inilah yang memandang bahwa wanita yang hamil karena sebab zina maka ia boleh dinikahi tanpa harus menunggu lahirnya janin yang ia kandung. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode Kualitatif, dengan jenis penelitian kepustakaan (Library Research). Analisa penelitian menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, sehingga segala hal yang merupakan hal baik bagi seoang hamba menurut Allah telah diatur dengan sedemikian rupa. Sebagai contoh dalam hal ini adalah bagaimana Islam itu melarang keras ummatnya melakukan zina, hal ini untuk menjaga maqashid syari’ah yang mana salah satunya adalah untuk menjaga keturunan. Begitu pula tentang penentuan masa ‘iddah wanita hamil yang diceraikan qobla dukhul menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, maka dalam hal ini kedua mazhab tersebut berbeda pandangan dalam maksud dari qobla dukhul yang dapat berimplikasi hukum, sehingga dalam penentuannya ada sedikit perbedaan pandangan antara kedua mazhab tersebut.Kata kunci: Masa ‘Iddah; Qobla Dukhul; Hanafi; Syafi’
Problematika Iddah dan Ihdad (Menurut Madzhab Syafi’i dan Hanafi)
Memang iddah sudah dikenal sejak zaman jehiliyah. Kemudian setalah datangnya Islam, iddah dilanjutkan karena bermamfaat bagi kelangsungan hidup antara istri dan suami. (Al-hamdani, 1989:251). Begitu pula dengan ihdad, yakni suatu konsisi dimana kaum perempuan yang harus saja ditinggal mati suaminya, bahkan anggota keluarganya juga mengisolasikan diri didalan ruang yang terpisah, tidak boleh ganti pakaian dan tidak boleh memakai wewangian dan ini dilakukan selama saru tahun pennuh, bahkan diilustrasiakan dalam sebuah hadis, begitu busuknya badan perempuan yang ber-ihdad tersebut sehingga tak seorangpun berani menghampirinya, dan seandainya ia keluar ruangan dengan segera burung-burung gagak akan menyergapnya lantaran bau busuknya yang ditimbulkan. (Ghazali, 2000:138). Menghadapi problem model tradisi seperti ini secara perlahan Islam datang melakukan perubahan-perubahan yang cukup mendasar, Islam datang dengan mengupayakan adanya pengurungan waktu berkabung dengan seorang istri, dan ini dilakukan tidak dengan cara merendahkan atau menistakan diri. Maka dibuatlah suatu ketentuan Iddah. Nah, Iddah dan Ihdad ini menjadi fokus utama yang perlu dibahas secara jelas dan terperinci dan mendalam atas problematika iddah dan ihdad dengan menampilkan pendapat Madzhab Syafi’I dan Mazhab Hanafi. Memang iddah sudah dikenal sejak zaman jehiliyah. Kemudian setalah datangnya Islam, iddah dilanjutkan karena bermamfaat bagi kelangsungan hidup antara istri dan suami. (Al-hamdani, 1989:251). Begitu pula dengan ihdad, yakni suatu konsisi dimana kaum perempuan yang harus saja ditinggal mati suaminya, bahkan anggota keluarganya juga mengisolasikan diri didalan ruang yang terpisah, tidak boleh ganti pakaian dan tidak boleh memakai wewangian dan ini dilakukan selama saru tahun pennuh, bahkan diilustrasiakan dalam sebuah hadis, begitu busuknya badan perempuan yang ber-ihdad tersebut sehingga tak seorangpun berani menghampirinya, dan seandainya ia keluar ruangan dengan segera burung-burung gagak akan menyergapnya lantaran bau busuknya yang ditimbulkan. (Ghazali, 2000:138). Menghadapi problem model tradisi seperti ini secara perlahan Islam datang melakukan perubahan-perubahan yang cukup mendasar, Islam datang dengan mengupayakan adanya pengurungan waktu berkabung dengan seorang istri, dan ini dilakukan tidak dengan cara merendahkan atau menistakan diri. Maka dibuatlah suatu ketentuan Iddah. Nah, Iddah dan Ihdad ini menjadi fokus utama yang perlu dibahas secara jelas dan terperinci dan mendalam atas problematika iddah dan ihdad dengan menampilkan pendapat Madzhab Syafi’I dan Mazhab Hanafi
University systems in the Arab East: Publish globally and perish locally vs publish locally and perish globally
This article attempts to demonstrate how the university system and the system of social knowledge production greatly influence elite formation in the Arab East (in Egypt, Syria, the Palestinian territory, Jordan and Lebanon) by focusing on three intertwined factors: compartmentalization of scholarly activities, the demise of the university as a public sphere and the criteria for publication that count towards promotion. Universities have often produced compartmentalized elites inside each nation-state and they don’t communicate with one another: they are either elite that publish globally and perish locally or elite that publish locally and perish globally. The article pays special attention to elite universities.</jats:p
HERMENEUTIKA AL-QURAN HASSAN HANAFI: IMPLIKASI TAFSIR TRANSFORMATIF DALAM KONTEKS KEKINIAN
The purpose of this research is to find out the urgency of al-Quran hermeneutics which was initiated by Hassan Hanafi as a solution to revitalize religious understanding in the era of globalization. In addition, to determine the ability of hermeneutics in reflecting texts on social realities that occur in the current era. Through the interpretation of liberation, Hasan Hanafi tries to position the Koran so that it can describe humans according to their human capacities in terms of relationships between fellow humans, tasks while in the world, as well as analyzing experiences within themselves that lead to the meaning of the text and even the existing reality. The interpretation of liberation initiated by Hassan Hanafi goes through three phases of analysis, namely historical criticism, eidetic criticism, and practical criticism. In essence, Hassan Hanafi seeks to understand the original meaning of a text without forgetting the past context. This research was conducted using library research methods and using descriptive analysis methods. The sources used by the author come from research journals, articles, and books related to the discussion. And from this research it can be concluded that Hassan Hanafi uses hermeneutics to reflect on a text that comes from the past so that it can be understood and applied according to the present context
Tafsir ayat-ayat kewirausahaan perspektif teologi humanisme Hassan Hanafi
Penelitian ini bermaksud menelusuri lebih mendalam penafsiran tentang ayat-ayat kewirausahaan dalam al-Qur’an perspektif teologi humanisme Hassan Hanafi. Problem akademik dalam penelitian ini adalah terjadinya gap antara penafsiran para ulama klasik dan modern dalam memahami ayat-ayat kewirausahaan tersebut. Peneltian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan teologi humanisme Hassan Hanafi. Penulis menemukan bahwa ada perbedaan yang terlihat sekali dalam menjelaskan istilah-istilah yang menjadi kata kunci ayat-ayat kewirausahaan dalam al-Qur’an. Perbedaan itu bisa dianalisa secara kritis dengan teologi humanisme Hassan Hanafi yang memiliki empat dasar pijakan dalam memahami al-Qur’an yang berhubungan dengan isu-isu sosial yaitu dialektik, fenomenologi, hermeneutik dan eklektik. Penelitian ini memberikan kontribusi baru sebagai tafsir modern berbasis teologi humanisme Hassan Hanafi, yang digunakan untuk mencari relevansi makna ayat-ayat kewirausahaan dalam al-Qur’an dalam konteks kekinian.
ABSTRACT:
This research will be explore more deeply the interpretation of entrepreneurial verses in the AlQuran. The academic problem in this research is that there is a gap between the classical interpretations and modern interpretive scholars in understanding these entrepreneurial verses. This research is qualitative and uses Hassan Hanafi's theory of theology of humanism approach. The author found that there is a very visible difference in explaining the terms that are the keywords for the entrepreneurial verses in the Qur'an. This difference can be analyzed critically with Hassan Hanafi's theology of humanism, which has four bases in understanding the Koran which deals with social issues, namely dialectics, phenomenology, hermeneutics and eclectics. This research provides a new contribution as a contemporary interpretation based on the theology of humanism, which is used to find the relevance of the meaning of entrepreneurial verses in the Qur'an in the contemporary context
Writing sociology in the Arab world: knowledge production through Idafat, The Arab Journal of Sociology
This article analyses the 18 issues of Idafat, The Arab Journal of Sociology, published from 2008 to 2012, including some specific variables (submission data, author nationality, article keywords, use of references). While all published materials are analysed, only 120 articles written by Arab authors are scrutinized. The objective is to unfold the way Arab sociologists produce knowledge in sociology. A special focus will be placed on the language of citations and references. This article argues that some institutional settings in addition to the economy of knowledge production make the balanced use of references in Arabic and foreign languages difficult. What are the resources upon which they rely? To answer to this question, the article presents the results of an online 27-question survey about the use of references by researchers who hold a master's or a PhD degree from any university in the Arab world or who have dealt with a topic related to the Arab world
- …
