133 research outputs found

    PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENGADILI PERKARA PERMOHONAN DISPENSASI KAWIN AKIBAT KECANDUAN PORNOGRAFI DALAM PERSPEKTIF PERLINDUNGAN ANAK(Studi Kasus di Pengadilan Agama Kabupaten Kediri)

    Full text link
    Muhammad Saiful Huda NIM. 12102193095. Skripsi.Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum. Program: Hukum Keluarga Islam. Pertimbangan Hakim dalam Mengadili Perkara Permohonan Dispensasi Kawin Akibat Kecanduan Pornografi dalam Perspektif Perlindungan Anak (Studi Kasus di Pengadilan Agama Kabupaten Kediri). Pembimbing: Dr. Rohmawati, M.A. Kata-Kata Kunci: Pertimbangan hakim, permohonan dispensasi, perlindunan anak Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria dan wanita mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun. Perkembangan media sosial banyak mempengaruhi bawah sadar anak-anak hingga akhirnya banyak anak yang terjebak dalam pusaran kecanduan pornografi. Atas dasar kepentingan yang mendesak dan demi perlindungan anak banyak pengajuan dispensasi perkawinan, yaitu upaya melangsungkan perkawinan sebelum usia 19 (sembilan belas) tahun.Kasus di Kediri, sebagaimana pemberitaan pada hari Minggu, 29 Jan 2023 17: 01 WIB menerangkan bahwa sebanyak 569 anak di Kediri, Jawa Timur, mengajukan dispensasi nikah atau rencana nikah dini. Salah satu faktor utama yang menjadi alasan para pemohon dispensasi nikah ini adalah kecanduan pornografi Fokus Pembahasan penelitian ini adalah 1). Bagaimana pertimbangan hakim dalam mengadili permohonan dispensasi perkawinan karena kecanduan pornografi dalam perspektif perlindungan anak di Pengadilan Agama Kabupaten Kediri? 2). Bagaimana kecanduan pornografi dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan hakim untuk mengadili calon pasangan pengantin yang mengajukan dispensasi perkawinan dalam perspektif perlindungan anak di Pengadilan Agama Kabupaten Kediri? Metode Penelitianini menggunakan pendekatan yuridis empiris dengan metode studi kasus, metode penggalian data: observasi, wawancara dan dokumentasi. Serta analisis data: analisis dengan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian: 1). Semua alasan pengajuan dispensasi perkawinan oleh hakim dianggap penting untuk disidangkan. Pertimbangan hakim diberikan kepada pemohon antara lain didasarkan atas tidak adanya hubungan darah dari pemohon dispensasi, keadaan sangat darurat, dan adanya dukungan dari orang tua. Persyaratan umur 19 tahun merupakan indikasi kematangan, maka yang diutamakan dari pemohon adalah status mukallafnya sehingga terdapat komitmen untuk bertanggung jawab. 2). Akibat buruk kecanduan pornografi adalah terjadinya kehamilan sehingga hal ini menjadi pertimbangan sangat mendesak dan utama bagi hakim dalam mengadili pemohon dispensasi perkawainan, adanya dukungan orang tua untuk melangsungkan perkawinan, untuk menjaga dari perbuatan zina yang berkelanjutan, dan untuk menjaga aspek kemaslahatan terutama untuk memberikan perlindungan anak, calon ibu dan nasab bayi yang ada dalam kandungan

    Konsepsi Islami dalam korpus sastera / Mohd Zuhdi Ismail, Muhammad Saiful Anuar Yusoff and Muhamad Luqman Ibnul Hakim Mohd Saad

    Full text link
    Kajian ini mengetengahkan korpus konsep Sastera Islami. Dalam menyepadukan Sastera Islami yang domain, konsep ini perlu disepadukan bersesuaian dengan arus kemajuan tanpa meninggalkan komponen penting nilai-nilai Islam. Ia adalah kajian kepustakaan dengan mengetengahkan realiti yang berlaku selaras dengan tasawur Islami. Metodologi kajian ini tertumpu pada metode komparatif serta pengamatan nilai Islami yang tercerna daripada ajaran Islam. Sastera Islami terhasil dari pelbagai aspek kesusasteraan, sama ada tema, ciri estetik, karya, karyawan dan sebagainya. Justeru, keselarasan aspek-aspek di atas amat penting agar model atau kerangka genre sastera tidak tersasar daripada Islam dan norma-normanya, serta tidak dimanipulasikan oleh sesetengah golongan yang mencalarkan imej Islam. Kesimpulan yang dapat dirumuskan dalam kajian ini menunjukkan konsep Sastera Islami tulen berteras nilai yang terdapat dalam Islam perlu diterapkan dalam penghasilan sastera, di samping kesedaran serta pengamatan dan penghayatan ajaran Islam dalam kalangan sasterawan demi menyampaikan hasil Sastera Islami yang sebenar, khususnya kepada khalayak Musli

    Perancangan Social Media Marketing bagi Dinas Perdagangan dan Perindustrian dalam Mempromosikan Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Kota Surabaya

    Full text link
    Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu elemen penting dalam perekonomian suatu negara. keberhasilan UMKM memiliki dampak langsung terhadap pembangunan ekonomi baik pada negara maju maupun negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Dari tahun 2009 sampai tahun 2012, jumlah UMKM di Indonesia terus meningkat hingga mencapai angka 56,6 juta. Hal tersebut menjadikan UMKM sebagai penopang perekonomian nasional. Peningkatan jumlah UMKM juga terjadi di Kota Surabaya. Peningkatan jumlah UMKM di Surabaya membuat persaingan menjadi semakin kompetitif, sehingga UMKM harus memiliki strategi marketing yang baik agar bisa bersaing. Salah satu strategi marketing yang bisa digunakan oleh UMKM di Surabaya adalah dengan memanfaatkan social media sebagai alat pemasaran. Namun, masih sedikit UMKM di Kota Surabaya terutama UMKM binaan pemerintah yang menggunakan social media untuk memsarkan dan mempromosikan produk mereka. Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Surabaya selaku biro pemerintah yang menaungi UMKM di Surabaya kemudian berinisiatif untuk membantu UMKM binaan dengan melakukan promosi menggunakan social media yang akan dikelola oleh Disperdagin. Penelitian ini bertujuan untuk Mengidentifikasi dan mengevaluasi social media yang tepat bagi Disperdagin Kota Surabaya, Kemudian membuat rancangan implementasi social media marketing bagi Disperdagin untuk branding UMKM, dan yang terakhir merancang panduan operasional social media marketing yang efektif bagi Disperdagin untuk branding UMKM binaan. Metode yang digunakan mengadopsi model House of Quality (HOQ). Hasil dari penelitian ini yakni ada tiga social media yang sesuai untuk digunakan oleh Disperdagin yaitu Facebook, Twitter dan Instagram. Selain itu, dari hasil analisis juga didapati 15 poin rencana aksi social media marketing yang bisa dijadikan landasan dalam pembuatan dan pengelolaan akun social media oleh Disperdagin

    Kecekapan sosial, teknikal dan komunikasi dalam pembelajaran dalam talian di kalangan pelajar UiTM Cawangan Kelantan / Muhammad Saiful Anuar Yusoff, Muhammad Luqman Ibnul Hakim Mohd Saad and Mohd Zuhdi Ismail

    Full text link
    Pembelajaran secara maya (ODL) merupakan proses yang menjadi satu kemestian dalam era Covid19. Dalam keadaan ini, kefahaman terhadap kesediaan pelajar untuk mengikuti pembelajaran dalam talian dan hubungannya dengan pencapaian amat diperlukan. Antara faktor yang boleh merealisasikan kecemerlangan dalam pembelajaran adalah kecekapan teknikal, kecekapan sosial dengan pensyarah dan rakan dan kecekapan berkomunikasi. Walau bagaimanapun, kesan kesemua pemboleh ubah ini terhadap penguasaan bahasa Arab masih belum dibuktikan secara empirikal. Oleh itu, kajian ini dijalankan bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemboleh ubah di atas terhadap penguasaan bahasa Arab selain daripada mengenal pasti faktor paling penting yang perlu diberi keutamaan melalui analisis IPMA. Sebanyak 220 borang soal selidik telah diedarkan kepada pelajar-pelajar peringkat Ijazah Sarjana Muda UiTM Cawangan Kelantan dan 214 daripada soal selidik tersebut digunakan selepas dijalankan proses pembersihan data. Data yang diperolehi telah di analisis dengan menggunakan perisian SmartPLS 3.0. Hasil kajian menunjukkan faktor kecekapan sosial dengan pensyarah (β=0.328, t=3.796, p<0.01, f 2=0.082) dan kecekapan komunikasi (β=0.222, t=2.259, p<0.05, f 2=0.042) mempengaruhi secara positif penguasaan bahasa Arab. Kecekapan sosial dengan rakan dan kecekapan teknikal didapati tidak mempengaruhi penguasaan bahasa Arab. Hasil analisis IPMA pula menunjukkan bahawa kecekapan sosial dengan pensyarah merupakan faktor paling penting yang mempengaruhi penguasaan bahasa Arab. Penemuan ini dengan jelas membuktikan interaksi aktif dalam talian dengan pensyarah dan komunikasi yang aktif dalam pembelajaran dalam talian merupakan aspek yang perlu diberi keutamaan untuk menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan seterusnya menjamin kejayaan yang cemerlang dalam pembelajara

    Analisis putusan Mahkamah Agung Nomor 710 K/Pid/2003 tentang Tindak pidana penggelapan oleh Saiful Salam Saputro yang diduga berasal dari perkara tindak pidana korupsi pada pengadilan sebelumnya / oleh M Hafid Wibowo

    No full text
    abstrak (A). Nama : Muhammad Hafid Wibowo (B). NIM : 205030018 (C). Judul Skripsi : Analasis Putusan Mahkamah Agung Nomor 710/K/PID/2003 Tentang Tindak Pidana Penggelapan Oleh Saiful Salam Saputro Dari Perkara Yang diduga Berasal Tindak Pidana Korupsi Pada Pengadilan Sebelumnya. (D). Halaman : ix + 79 + 2009. (E). Kata Kunci : Tindak Pidana Penggelapan, Tindak Pidana Korupsi, Merugikan Keuangan Negara. (F). Isi : Tindak Pidana Penggelapan dan Tindak Pidana Korupsi seringkali sulit untuk dibedakan. Dalam Undang ? Undang No. 31 Th 1999 tidak jelas mengatur tentang definisi Korupsi. Mengapa dalam pertimbangan Majelis Hakim Agung memutus Tindak Pidana Korupsi yang dilakukan oleh Saiful Salam Saputro sebagai Tindak Pidana Penggelapan? Penulis Meneliti masalah tersebut dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif, dimana data yang dihasilkan merupakan data sekunder. Data penelitian menunjukan adanya kesalahan Jaksa Penuntut Umum dalam menerapkan Undang ? Undang. Sebaiknya Jaksa Penuntut Umum lebih memahami apa yang dimaksud dengan merugikan keuangan Negara agar tuntutan Jaksa Penuntut Umum tidak terkesan mengada ? ada. (G). Acuan : 12 (1982 ? 2008). (H). Pembimbing : Soetan Budhi Satria Sjamsoeddin, S.H.,M.H. (I). Penulis : Muhammad Hafit Wibow

    Artefak Batu Preneolitik Situs Leang Jarie: bukti teknologi Maros point tertua di kawasan budaya Toalean, Sulawesi Selatan

    No full text
    The Preneolithic Stone Artefact of Leang Jarie Site: The Oldest Evidence of Maros Point Technology in the Toalean Culture Region, South Sulawesi. Maros Point is one type of flake tool that shows characteristics of the techno-complex Toalean from South Sulawesi. Early emergence of the Toalean Culture phase is still debated, but most experts agree that this tool only appeared no more than 4000 years ago and is positioned include with pottery or Neolithic period. The Maros Point is considered to be made by the early occupants of Sulawesi after the arrival and contact with Austronesian speakers migration in South Sulawesi. The problem is that the results of the latest research are contrary to previous opinions. This paper aims to show new evidence of excavation at the Leang Jarie Site, as the oldest Maros Point technology ca. 8,000 years ago in the Toalean Cultural Region. Maros Point is made simpler with the support flake without using reduction pattern of flake-blade technology. Flakes with an asymmetrical shape can also be utilized as long as it have a pointed and thin tip. The "backed" retouched technique is also used to maximize flakes with steep sharp edges. Thus, the phase of Toalean Culture compiled by previous studies needs to be reviewed and the presence of Maros Points can no longer be used as a marker of the youngest phase. Maros Point is produced from the early holocene or Preneolithic Period and has possibility its continuation until Neolithic period.Full Tex

    KONSEP KESETARAAN GENDER DALAM ISLAM (Studi Terhadap Hermeneutika Muhammad Syahrur)

    Full text link
    Sejak abad ke-20 hingga abad ke-21, model penafsiran feminis berkembang pesat. Mayoritas penafsir feminis, baik lakilaki atau pun perempuan, mengkritik sentralitas laki-laki dalam melakukan penafsiran al-Qur’an, mereka menekankan argumentasi bahwa bias gender penafsir hingga kini masih didominasi pria, sebagian besar telah membentuk paradigma pemahaman al-Qur’an dan Islam secara umum. Berbeda dengan feminis sekuler, sarjana feminis Muslim tidak menolak Islam itu sendiri. Sebaliknya, mereka mengacu pada al-Qur’an dan sunah Nabi untuk mendukung klaim mereka bahwa al-Qur’an perlu ditafsirkan kembali. Penelitian ini secara khusus mencoba mengkaji dan menelusuri konsep kesetaraan gender dalam Islam, khususnya dalam perspektif pemikiran hermeneutika Muhammad Syahrur. Penelitian ini menganalisis tentang bagaimana sesungguhnya hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, apakah pandangan-pandangan ulama masa lalu masih relevan dalam memposisikan status laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain, penelitian ini mencoba melakukan pembacaan kontemporer terhadap konsep kesetaraan gender dalam Islam, yang secara khusus mengacu pada pemikiran hermeneutika Muhammad Syahrur. Atas dasar tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan analisis-hermeneutik. Melalui hermeneutika Syahrur, peneliti membedah secara kritis hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam, serta dilakukan pembacaan kontemporer terhadapnya. Penelitin ini menghasilkan empat poin berikut ini; pertama, hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam kekeluargaan tidak hanya didasarkan atas sifat komplementer atau saling melengkapi, tetapi juga dapat mengantikan perannya, misalnya ketika perempuan dapat berkarir atau bekerja, maka istri dapat menjadi pemimpin dalam hal ekonomi keluarga, begitupun dengan hal-hal lainnya. Kedua, viii perempuan memiliki hak kerja yang sama dengan laki-laki, semua bidang pekerjaan di ruang publik boleh dilakukan oleh perempuan selama ia mampu dan dapat menjalankannya tanpa ada intervensi atau dihalangi oleh laki-laki. Ketiga, perempuan juga memiliki hak politik yang sama dengan laki-laki di ranah pemerintahan, sekalin itu perempuan juga dapat menjadi hakim atau perumus undang-undang, dalam konteks ini peranan perempuan dan laki-laki setara. Keempat, hubungan antara lakilaki dan perempuan secara umum, bahwa perihal hubungan ini, tergantung konteks dan waktu tertentu, setiap wilayah atau negara memiliki aturan dan norma-norma yang berbeda perihal hubungan antara laki-laki dan perempuan, sehingga hukum dan aturannya dipasrahkan secara langsung pada orotitas setempat

    PENDISIPLINAN SANTRI STUDI DI PONDOK PESANTREN LUBABUL FATTAH

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem pendisiplinan santri di Pondok Pesantren Lubabul Fattah, Tulungagung, Jawa Timur. Pendisiplinan santri merupakan aspek fundamental dalam pembentukan karakter dan akhlak di lingkungan pesantren yang menghadapi tantangan modernisasi dan perkembangan teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif santri dalam menjalani proses pendisiplinan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan informan yang dipilih secara purposive sampling, meliputi pimpinan pesantren, pengasuh, dan santri. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber dan teknik untuk menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Lubabul Fattah yang didirikan pada tahun 2018 oleh KH. Muhammad Saiful Anam telah mengalami pertumbuhan pesat dari 80 santri menjadi 500 santri dalam kurun waktu tujuh tahun. Sistem pendisiplinan yang diterapkan mengintegrasikan empat unsur disiplin Hurlock (peraturan, hukuman, penghargaan, dan konsistensi) dengan filosofi pembentukan pribadi Qur'ani. Keunikan sistem ini terletak pada tidak adanya tata tertib tertulis, melainkan mengandalkan transmisi nilai secara lisan dan keteladanan. Implementasi mencakup disiplin waktu melalui jadwal kegiatan 24 jam dan disiplin perbuatan melalui pembinaan karakter. Sistem sanksi bersifat edukatif- transformatif dengan tingkat efektivitas 80%, terbukti dari transformasi akhlak santri yang dirasakan di lingkungan pesantren maupun rumah. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman model pendisiplinan pesantren yang menggabungkan tradisi klasik dengan pendekatan modern dalam pembentukan karakter santri. Kata kunci: pendisiplinan santri, pondok pesantren, pembentukan karakter, akhlak, pendidikan Isla

    Islamic Economics: A Survey of the Literature

    Full text link
    A central thesis of this paper is that social science is the study of human experience, and hence strongly conditioned by history. Modern Western political, economic and social structures have emerged as a consequence of the repudiation of religion, and are based on secular principles. Many of these are inimical to Islamic principles, and cannot be adapted to an Islamic society. Muslim societies achieved freedom from colonial rule in the first half of the twentieth century and sought to construct institutions in conformity with Islam. The development of Islamic economics is part of this process of transition away from Western colonial institutions. This paper focuses on the contrasts between Western economic theories and Islamic approaches to organization of economic affairs. Neoclassical theory is centered around the acquisitive instinct of humans, and makes competition the driving force of economic analysis. Islamic approaches foster cooperation and encourage generosity as the fundamental principle for handling economic affairs. Human beings have potential for good and evil, and are free to choose between the two; their behavior is not subject to mathematical laws postulated by neoclassical economic theory. The main message of Islam is that we must strive to achieve the potential for good both at the individual and at the social level. Behavior in the economic realm is also governed by this goal. Islamic law (Shari’ah) provides the framework for all activity within an Islamic society. In the economic domain, Islamic law regulates both methods by which money may be earned and also the ways it may be spent. Acquisition of wealth is permissible only in ways which are just to all parties concerned; exploitation, arbitrary taxation, and individual profit resulting in social harm is not permissible in Islamic law. This puts numerous restrictions on business practices utilized to make profits. For example, polluting the environment, or selling products which lead to moral corruption would not be permissible in Islamic law. Wealth which has been acquired becomes private property, which is both a trust and a test according to Islamic concepts. The “trust” aspect means that property must be used in ways beneficial to the individual and society. The “test” aspect means that those who have more than they need should take care of those who are in need. Ways in which acquired wealth can be spent is also subject to Islamic law. People are expected to strive to be self-sufficient and not ask from others. Thus striving to acquire wealth and spending it on personal and family needs is encouraged by Islamic law. Islam does not preach austerity and encourages a comfortable standard of living. At the same time, it strongly discourages spending on idle desires, luxuries, and ostentation. There is also a strong encouragement to spend what is beyond ones needs on social welfare. These fundamental principles for acquiring wealth, using property (acquired wealth), and spending it impact on all realms of economic activity. Since these are substantially different from Western ideas in all three areas, there are substantial contrasts between Western economic institutions and Islamic ones. The paper traces out these differences in many realms of economic activity. The primary objective of an Islamic state is to provide justice, and Islamic public finance is concerned with tracing the concrete implications of this abstraction in the economic realm. Western financial institutions have the acquisition and multiplication of wealth as their prime objective. Since acquisition of wealth can only be a means to an end, these institutions require modification in an Islamic society. Similarly, Islamic imperatives for social welfare require construction of certain uniquely Islamic types of institutions which do not have counterparts in the West. The paper discusses these issues in some detail.Islamic Economics, Neoclassical Economics

    HOUSE of QUALITY METHOD for DEVELOPING SOCIAL MEDIA MARKETING INITIATIVES

    Full text link
    The number of SMEs in Indonesia keeps increasing anually. To winning the competition SME must be stand out from the SME crowd. One way to win competition is by using Social Media Marketing, Unfortunately until now the use of social media is only limited for point of sales. Department of Trade and Industry (Disperdagin) of Surabaya as an agency accomodating SMEs in Surabaya has initiated to help its managed SMEs to promote their products by using social media which later will be organized by Disperdagin.This paper aimed to identify prioritize action needed for Disperdagin to Initiate Social media marketing. The method use in this paper is using House of Quality Framework. The result shown that there are 4 prioritize action needed to carry on to ensure succesful social media strategy. Majority of the action is concerning with capabilities in managing social media marketing
    corecore