119 research outputs found

    ferdian wignyo santuario's Quick Files

    No full text
    The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity

    ferdian wignyo santuario's Quick Files

    No full text
    The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity

    Perbedaan Penggunaan Bahan Desensitizing Dan Tanpa Desensitizing Pasca Bleaching Ekstra-Koronal Terhadap Kekerasan Email

    No full text
    Latar Belakang. Pada bleaching ekstrakoronal diketahui terjadi proses demineralisasi sehingga terjadi hiersensitivitas dentin. UltraEZ salah satu bahan desensitizing yang dapat mengurangi hipersensitivitas akibat demineralisasi email pasca bleaching ekstrakoronal terkini. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kekerasan email pasca pemutihan gigi ekstra-koronal dengan aplikasi bahan desensitizing dan tanpa aplikasi bahan desensitizing. Metode penelitian ini menggunakan 20 gigi premolar permanen pasca pencabutanyang masih utuh dan direndam dalam saliva buatan, kemudian dilakukan pemolesan pada bagian bukal dengan menggunakan pasta profilaksis kemudian gigi dicuci dan dikeringkan. Bahan pemutih Opalescence Xtra Boost diaplikasikan pada semua permukaan bukal gigi premolar kemudian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok I, II, masing-masing kelompok sebanyak 10 gigi. Kelompok I sebagai kelompok control setelah dilakukan pemutihan, tidak dilakukan aplikasi Ultra-EZ, dimasukkan dalam wadah botol dan direndam dalam saliva buatan kemudian disimpan dalam incubator. Mahkota dan akar gigi,kemudian ditanam dalam resin akrilik sesuai kelompok sebelumnya dengan permukaan bukal menghadap ke atas. Semua sampel diuji kekerasannya dengan uji kekerasan Vickers menggunakan beban 100 g selama 15 detik. Permukaan bukal menghadap ke atas, kemudian dijepit dengan alat penjepit pada meja alat Micro Vickers Hardness Tester. Sampel diatur sedemikian rupa sehingga akan terlihat gambar yang dapat diukur panjang diagonalnya langsung dengan micrometer yang ada pada lensa okuler. Nilai kekerasan email dalam Vickers hardness number (VHN) juga dapat diperoleh dari table setelah mengetahui rata-rata panjang diagonal, berat badan yang digunakan dan waktu yang digunakan untuk uji kekerasan. Pengujian ini dilakukan pada setiap kelompok. Selanjutnya diuji dengan uji-t. hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara aplikasi ultraEZ lima menit dibandingkan tanpa aplikasi ultraEZ terhadap kekerasan email pada p>0,05. Background. One of the side effect of bleaching agent is a dentine hypersensitive and ultraEZ is an agent can diminish this process. The purpose of this study was to evaluate difference of enamel microhardness post external bleaching with or without ultra-eze application. Method. Twenty extracted permanent bicuspid used in this study were divided into two group, each group contains 10 bicupids. Group I was treated external bleaching without ultra-eze application and group II was treated external bleaching with application ultraEZ for five minutes. After that all of the subject were seaked the artificial saliva and kept in the incubator 24 hours. Teeth were embedded into acrylic resin with the buccal sirface facing up. Further all of the subject was evaluated by Vickers using 100 g load for 15 seconds. Teeth were stapled on the Micro Hardness Tester table diagonal of emage was measure using micrometer attach on ocular lesnse. Email hardness can be known after calculating, the everage diagonal length, the load used and the duration of hardness test. Further the data was analize using t-test. The result shows there is significant difference between bleaching with and without the application of ultra-eze

    The Progress of the SDGs Research

    No full text
    The global Sustainable Development Goals (SDGs) provide an evidence-based policy for sustainable development planning and programming to halt poverty, gain prosperity and protect the planet by 2030. The SDGs consist of 17 goals and 169 targets that emphasize the balance between economic, social and environmental sustainability. Since the framework launched in 2015, there is growing international policies, practices, innovations, assessments and research activities related to such issue

    PENGARUH TERHADAP TEKANAN INTRAOKULER PERBANDINGAN ANTARA PRETREATMENT ROKURONIUM-SUKSINILKOLIN DENGAN ROKURONIUM

    No full text
    Background: Succinylcholine is one of the depolarizing muscle relaxant, which until now was still often being used to facilitate intubation on patients with the risk of aspiration from full stomach, especially in emergency anesthesia and ambulatory anesthesia. Succinylcholine will raise intra-ocular pressure due to direct effect on extra-ocular muscles contraction. Increment of intra-ocular pressure following administration of succinylcholine is one of the redundant effects, especially on patient with ocular trauma. Pre-curarisation effectivity with a small dose of muscle relaxant non depolarizing in order to prohibit and also lessen the incidence and the degree of fasciculation turn out to be better compared to any other pre-treatment medication. Rocuronium, a non-depolarizing muscle relaxant, having effect on extra-ocular muscles relaxation, consequently, has no effect op intra-ocular pressure. Objective: To obtain objective evidence of the effect of pre-treatment administration with rocuronium-succinylcholine compared to rocuronium toward the intra-ocular pressure. Method: This study designed as a double blind randomized clinical trial on 48 patients of ASA I-II aged 16-40 years who had undergone elective surgery using endotracheal intubation located in Dr. Kariadi Hospital-Semarang. The patients were divided into two groups. Group I got rocuronium 0,06 mg/kg-succinylcholine 1,5 mg/kg as the pre-treatment and group II got rocuronium 0,9 mg/kg. All of the patients had received midazolam 0,1 mg/kg IV as pre-medication 5 minutes before induction of anesthesia. Maintenance of anesthesia were using isoflurane 1-2% and N20 50% in oxygen. The intraocular pressure was measured before administration of muscle relaxant, 1 minute after administration of muscle relaxant, and 1 minute after endotracheal intubation. This measurement only applied to one eye, using the Schiotz tonometer. The statistical analysis were performed by Chi-square, t-test, and Mann-Whitney test, p is significant if p < 0,05. Result: We found no significant differences between the two groups in patients characteristic datas. In rocuronium-succinylcholine group, after the administration of muscle relaxant, we observed the decline of intra-ocular pressure from 13.65 ± 1.00 to 13.28 ± 1.14, whereas in rocuronium group from 13.75 ± 1.09 to 13.05 ± 1.44. After endotracheal intubation, the rocuronium-succinylcholine group encountered increment in intra-ocular pressure from 13.28 ± 1.14 to 14.32 ± 1.05, whereas in the rocuronium group from 13.05 ± 1.44 to 13.77 ± 1.14. There were no significant differences in the decline or increment of intra ocular pressure after administration of muscle relaxant or after intubation (p > 0,05) between the two groups. Conclusion: Administration of pre-treatment rocuronium-succinylcholine or else rocuronium was able to prohibit intra-ocular pressure increment. Latar Belakang : Suksinilkolin adalah obat pelumpuh otot golongan depolarisasi yang saat ini masih sering digunakan untuk fasilitas intubasi pasien dengan resiko aspirasi pada lambung penuh, terutama pada anestesi emergensi dan anestesi rawat jalan. Suksinilkolin meningkatkan tekanan intraokuler akibat efek langsung dari kontraksi otot ekstraokuler. Peningkatan tekanan intraokuler setelah pemberian suksinilkolin adalah salah satu efek yang tak diinginkan, terutama pada pasien dengan trauma tembus mata. Efektivitas prekurarisasi dengan dosis kecil pelumpuh otot non depolarisasi dalam mencegah dan mengurangi insidens dan beratnya fasikulasi temyata lebih balk dibandingkan dengan obat pretreatment lain. Tujuan : Mendapatkan bukti obyektif pengaruh terhadap tekanan intraokuler antara pemberian pretreatment rokuronium-suksinilkolin dibandingkan dengan rokuronium Metode : Penelitian dilakukan dengan uji klinis acak terbuka, terhadap 48 pasien bedah elektif dengan intubasi endotrakhea, berusia antara 18-40 tahun, dengan status fisik ASA Pasien dibagi dua kelompok ( 1 dan II ), masing-masing 24 orang. Semua pasien diberikan premedikasi dengan midazolam 0.1 mg/kg BB intra vena, 5 menit sebelum induksi. Induksi pada kelompok I dan II menggunakan propofol 2 mg/kg BB dan fentanil 2 ug/kg BB intra vena. Pada kelompok I diberikan pretreatment rokuronium 0.06 mg/kg BB intra vena 3 menit sebelum pemberian suksinilkolin 1.5 mg/kg BB intra vena untuk fasilitas intubasi endotrakhea. Pada kelompok II diberikan NaCL 0,9 % 3 menit sebelum pemberian rokuronium 0.9 mg/kg BB infra vena sebagai fasilitas intubasi endotrakhea. Pengukuran TIO dilakukan sebelum pemberian pelumpuh otot,1 menit setelah pemberian pelumpuh ptot dan 1 menit setelah dilakukan intubasi endotrakhea. Pengukuran TIO dilakukan pada salah- satu mata, dengan Tonometri Schiotz. Uji statistik dilakukan dengan Chi-square, t-test dan Mann whitney test. Basil : Data karakteristik penderita tidak didapatkan perbedaan yang bermakna diantara kedua kelompok penelitian. Pada kelompok rokuronium-suksinilkolin, setelah pemberian pelumpuh otot terjadi penurunan TIO dan 13,65 ± 1,00 menjadi 13,28± 1,14, sedangkan pada kelompok rokuronium dan 13,75 ± 1,09 menjadi 13,05 f 1,44. Setelah dilakukan intubasi endotrakhea pada kelompok rokuronium-suksinilkolin terjadi peningkatan TIO dari 13,28 ± 1,14 menjadi 14,32 ± 1,05, sedangkan pada kelompok rokuronium, setelah intubasi endotrakhea terjadi peningkatan TIO dari 13,05 ± 1,44 menjadi 13,77 ± 1,14. Penurunan maupun peningkatan TIO baik setelah pemberian pelumpuh otot maupun setelah intubasi tidak didapatkan perbedaan yang bermakna ( p > 0,05 ) antara kedua kelompok. Kesimpulan : Pemberian pretreatment rokuronium-suksinilkolin maupun rokuronium mampu mencegah peningkatan tekanan intraokuler

    Analisa teori value chain terhadap kompetensi pada perusahaan kontraktor kelas A di Surabaya

    No full text
    Semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia membawa dampak terhadap pertumbuhan perusahaan konstruksi, terutama perusahaan kontraktor yang lebih berperan aktif untuk melakukan suatu pembangunan. Pertumbuhan perusahaan kontraktor tersebut mengakibatkan terciptanya persaingan yang ketat untuk memperebutkan para konsumen.. Didalam persaingan yang terjadi dalam bidang usaha kontruksi ini sangat tidak menguntungkan bagi perusahaan pendatang baru. Karena itu dicoba ditelusuri urutan prioritas dari faktor-faktor pada teori value chain, agar memiliki nilai lebih dibandingkan dengan perusahaan yang lain sehingga mampu bertahan dan bersaing. Teori value chain adalah salah satu teori yang digunakan untuk menganalisa keuntungan dalam suatu persaingan (competitive advantage) dari suatu perusahaan. Di dalam value chain terdapat 2 jenis aktivitas utama yaitu primary activities dan support activities, dimana primary activities terdiri dari inbound logistic, operation, outbound logistic, marketing and sales, dan service, sedangkan support activities terdiri dari firm infrastructure, human resource management, technology developmemt, dan procurement. Tujuan mendasar dari penelitian untuk mencari urutan prioritas faktor-faktor yang ada pada teori value chain dalam perusahaan kontraktor untuk berkompetisi. Dari penelitian ini dihasilkan sebuah analisa yang menunjukkan bahwa inbound logistic menempati prioritas pertama yang kemudian diikuti oleh human resource management, service, firm infrastructure, technology development, operation, marketing and sales, serta procurement. Walaupun perlu dicatat bahwa urutan prioritas tersebut tidak menunjukkan faktor yang satu lebih penting dari yang lain, tetapi lebih cenderung mengarah pada adanya suatu perhatian yang lebih pada faktor prioritas awal. Dapat disimpulkan bahwa peranan sumber daya manusia baik dalam hubungan internal perusahaan maupun hubungan eksternal dengan owner maupun supplier sangat berpengaruh terhadap kompetensi perusahaan kontraktor

    PENAMBAHAN KALSIUM HIDROKSIDA PADA SEMEN IONOMER KACA TIPE II UNTUK SEMEN SALURAN AKAR : (Kajian Eksperimental Uji Fisis Waktu Pengerasan dan Kekerasan)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk meneliti waktu pengerasan dan kekerasan semen ionomer kaca tipe II yang ditambah puder kalsium hidroksida murni. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan secara in vitro pada semen ionomer kaca tipe II. Semen ionomer kaca tipe II merupakan bahan tumpatan yang terdiri dari puder dan cairan. Pada penggunaan untuk penumpatan kavitas gigi merupakan campuran puder dan cairan dengan perbandingan menurut petunjuk pabrik yaitu 1 sendok takaran puder dengan satu tetes cairan atau setara dengan 3,5 gram puder dengan 1 gram cairan. Pada penelitian ini jumlah puder dikurangi 0,1 gram, 0,2 gram, 0,3 gram, 0,4 gram dan 0 gram dan ditambahkan puder kalsium hidroksida sejumlah berat yang sama dengan jumlah pengurangan, sedangkan cairan tetap 1 gram. Penelitian dilakukan pada 50 sampel, yang dibagi menjadi lima kelompok masing-masing terdiri dari 10 sampel dan 10 sampel sebagai kelompok kontrol yang terdiri dari semen ionomer kaca tipe II tanpa campuran kalsium hidroksida. Menggunakan uji anava dua jalur, hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan sangat bermakna antara kelompok waktu pengerasan dan kekerasan (p< 0.05)
    corecore