1,721,693 research outputs found
PEMIKIRAN H. ABDULLAH AHMAD TENTANG PENDIDIKAN DASAR ISLAM
This research aims to develop a series of studies on H. Abdullah Ahmad's thoughts on Islamic basic education. The author brings back the thoughts of these figures, because he is a figure who has a major contribution to the modernization of Islamic basic education, especially in West Sumatra but not too many know about it. With hope, the conception of basic Islamic education offered by this figure is able to inspire elements of education implementers.
The focus of the problem in this study are (1) H. Abdullah Ahmad's thoughts on Islamic basic education seen from the aspects of curriculum, methods, and learning media, (2) Implementation of H. Abdullah Ahmad's thoughts on Adabiah's Islamic basic education in Padang today.
This study uses descriptive analytical qualitative research with the type of library research. The subjects in this study are books relating to H. Abdullah Ahmad's thoughts on Islamic basic education and field research as supporting data.
The results of this study indicate that (1) H. Abdullah Ahmad's thoughts about Islamic basic education are seen from various aspects, namely: curriculum aspects, method aspects, media aspects. He applied the three aspects by creating a school called 'Adabiah School'. (2) The implementation of H. Abdullah Ahmad's thoughts on Adabiah Islamic basic education in Padang at the present time there are still some that are applied but are more varied than in the early days of the establishment of
Adabiah schools both in terms of curriculum, methods and learning media. It aims to improve the quality of Adabiah schools in the future
Konsep Dakwah K. H Abdullah Gymnastiar
Dakwah pada dasarnya merupakan seruan untuk berbuat baik. Dalam hal ini dakwah tidak berarti berusaha menghilangkan perbedaan pemahaman keagamaan, tetapi lebih pada upaya penyadaran untuk ikhlas membangun kualitas masing- masing.
Dalam konteks inilah kehadiran K. H Abdullah Gymnastiar menjadi bagian dalam perkembangan dakwah melalui tausiyah penyejuk hati yang disampaikan kepada para jamaahnya. Ia berkeinginan menebarkan nilai- nilai agung dan universal di dalam Islam kepada seluruh umat. Dengan berbagai pengemasan pesan- pesan yang bervariatif melalui konsep Manajemen Qalbu yang dikembangkannya.
Konsep Manajemen Qalbu merupakan sebuah konsep yang mengajak orang lain untuk mampu menselaraskan olah pikir, olah hati, dan olah tindakan ( dzikir). Intinya adalah memenej dan memelihara kebeningan hati dengan cara mengenal Allah lebih mendalam ( dengan amalan dan dzikir ), untuk kemudian mengisinya dengan nilai- nilai ruhani islam.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep dakwah K. H Abdullah Gymnastiar. Yaitu untuk mengetahui hakikat Manajemen Qalbu, untuk mengetahui penyampaian pesan- pesan dakwah melalui konsep Manajemen Qalbu dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pengembangan Manajemen Qalbu.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan menggambarkan keadaan yang sebenarnya melalui pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, kepustakaan dan studi dokumentasi, yang menitik beratkan pada gambaran mengenai Konsep Dakwah K. H Abdullah Gymnastiar.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Konsep Dakwah K. H Abdullah Gymnastiar adalah sebuah format dakwah dengan cara ceramah monolog dan dialog interaktif. Meliputi metode, media dan materi dengan tema- tema disesuaikan dengan pemasalahan masyarakat yang sedang dihadapi saat ini, tetapi tetap menitik beratkan pada keadaan hati. Sehingga kegiatan dakwah K. H Abdullah Gymnastiar tetap eksis dengan nuansa Islam dan dapat diterima oleh masyarakat
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Konsep pendidikan multikultural bagi pengembangan afeksi anak : studi pemikiran Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M.A. tentang pendidikan multikultural berbasis afektif sufistik
Skripsi ini dilatarbelakangi Arus globalisasi yang terjadi pada masa ini, di samping membawa banyak kemudahan bagi warga dunia, juga membawa dampak negatif yang berisiko adanya disintegratif. Dunia sufistik menawarkan konsep pendidikan multikultural berbasis afektif (rasa) dengan karakteristik pada pengembangan paradigma keberagaman yang inklusif. Pengembangan kesadaran untuk dapat belajar hidup dalam perbedaan, penanaman, sikap toleran, cinta keharmonisan, kebaikan, dan kemaslahatan, saling menghargai, menghormati dan saling menyayangi Studi ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: 1) Bagaimanakah konsep pendidikan multikultural?, 2) Bagaimana pemikiran Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M.A. tentang pendidikan multikultural berbasis afektif sufistik?, 3) Bagaimana relevansi pemikiran Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M.A. tentang pendidikan multikultural berbasis afektif sufistik bagi pengembangan afeksi anak? Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan jenis penelitian intelectual biography. Dengan sumber data primer adalah wawancara langsung Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M.A. dan data sekundernya dari tulisan Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M.A.. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, metode library research. Selanjutnya dianalisis menggunakan metode content analysis dan metode deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) konsep pendidikan multikultural adalah pengakuan akan martabat manusia yang dapat hidup dalam keberagaman kebudayaan yang masing-masing cenderung unik. 2) Konsep pendidikan multikultural berbasis afektif sufistik menurut Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M.A merupakan pendidikan ini mengarah ajaran suifistik, yaitu saling menolong, dan kasih sayang dengan mengembangakan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan spiritual secara seimbang melalui kinerja qalb untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dan berperilaku sebagaimana sifat-sifat Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari. 3) Relevansi pemikiran Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M.A. tentang pendidikan multikultural berbasis afektif bagi pengembangan afeksi Anak terletak pada proses pembelajaran yang mengedepankan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan spiritual dalam setiap proses yang dilakukan dengan menekankan pada penghargaan terhadap keberagamaan setiap individu anak dan mengedepankan kasih sayang dalam mengajar anak dengan menekankan pada kekuatan qalb pada diri anak
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
PERAN K. H. ABDULLAH MARZUKI DALAM BIDANG KEAGAMAAN DI SURAKARTA JAWA TENGAH (TAHUN 1968-1990 M).
K. H. Abdullah Marzuki lebih dikenal sebagai pebisnis percetakan dan
penerbitan Tiga Serangkai setelah mundur dari pekerjaannya sebagai Pegawai
Negeri Sipil (PNS) guru sekolah dasar. Tahun 1979 M ia melembagakan kegiatan
pengajian keluarga besar menjadi lembaga majelis ta’lim yang bernama Majelis
Pengajian Islam yang saat itu belum dalam bentuk yayasan. Pelembagaan
kegiatan pengajian mendapat sambutan luas dari masyarakat, hal itu menunjukkan
bahwa MPI mengalami perkembangan yang cukup pesat serta besarnya keinginan
masyarakat Surakarta terhadap kegiatan majelis ta’lim. Oleh karena itu, peneliti
ingin mengetahui bagaimana peran dari K. H. Abdullah Marzuki dalam bidang
keagamaan di Surakarta.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Biografi. Biografi adalah cara
mendekati suatu peristiwa dengan melihat catatan tentang hidup seorang tokoh
mulai dari lahir hingga wafat. Penelitian ini menggunakan teori peran yang
dikemukakan oleh Soerjono Soekanto. Menurut teori ini, peran adalah aspek
dinamis kedudukan (status), apabila seseorang menjalankan hak dan
kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peran.
Penggunaan teori ini dimaksudkan untuk mengetahui peran K. H. Abdullah
Marzuki dalam bidang keagamaan di Surakarta. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode sejarah yang meliputi empat langkah yaitu heuristik,
verifikasi, interpretasi, dan historiografi sehingga dapat membantu dalam
mengungkap peristiwa secara kronologis, sistematis, serta sesuai dengan fakta
sejarah.
Hasil dari penelitian ini memberikan informasi bahwa peran Abdullah
Marzuki dalam bidang keagamaan di Surakarta di awali ketika ia menjadi seorang
pendidik Sekolah Dasar di Wuryantoro, Wonogiri. Ia merasa prihatin dengan
banyaknya siswa kelas 6 SD yang tidak lulus ujian, hingga akhirnya ia
menggumpulkan semua naskah ujian dari tahun ke tahun dan di jadikan sebagai
diktat, dari situlah Abdullah Marzuki dapat mendirikan Penerbitan Tiga
Serangkai. Tahun 1968 ia pindah ke Surakarta dan melanjutkan bisnis Penerbitan
Tiga Serangkai di Surakarta, melalui Perusahaan Tiga Serangkai ide pembaharuan
pendidikan Islam muncul hingga ia mampu mengembangkan Majelis Pengajian
Islam Surakarta yang kemudian dilanjutkan dengan mendirikan Pondok Pesantren
Modern Islam Assalam yang sampai saat ini tetap hidup dan mengalami
perkembangan yang cukup pesat.
Kata kunci: Peran, Biografi, Surakart
- …
