633 research outputs found
GOENAWAN MOHAMAD: STUDI SEJARAH INTELEKTUAL 1960-2001
This study attempts to review vitae Goenawan Mohamad as an intellectual
in the history of modern Indonesia literature, especially his acts as a of man of
letters and journalist. Further of showing thought Goenawan Mohamad
concerning power, freedom, and democracy set out in his works. Limit early this
study is 1960, when Goenawan Mohamad start intersect with community
intellectual in Jakarta during he began in the University of Indonesia and his
writings start shown on a number of literature magazines. While, the ends of this
study was the year 2001, when Goenawan Mohamad aged sixty years and a few
years before Goenawan back in front Tempo magazine after being ‘pembredelan’.
In 2001 chosen also as an momentum authorship Goenawan Mohamad career,
characterized by publishing a complete essays and poems.
This research in a historical presented in the form of descriptive analysis.
As for source used is the source of written, good primary and secondary. Source
written primary used between of essays and poem written by Goenawan
Mohamad. While, of secondary written was the relevant books, newspaper, and
magazines in accordance with discussion on the and writing Goenawan
Mohamad.
The results of study show that the background of families who have
attention to books and intellectuality and experiences intersection of a number of
communities with intellectual participate help he horizon intellectuality
Goenawan Mohamad to the modern Indonesia history. Then pertaining to thought
Goenawan concerning power, freedom, and democracy was one links could not
be separated. Because criticism of power, Goenawan shows that individual
freedom is the tahat should be esteemed and precedence, and democracy is a
sytem that enables it was reached. Because democracy is management essence
hope to an effort to freedom man unkempt. This is closely related to experience
and acts of Goenawan Mohamad as individuals wrought by a history
Recommended from our members
Dylan
The Indonesian poet and public figure Goenawan Mohamad published "Bob Dylan" in the magazine Tempo and it was also published in the English version of Tempo. Reprinted by permission of the author Goenawan Mohamad and the translator Jennifer Lindsay
Sajak-sajak Goenawan Mohamad dan sajak-sajak Taufik Ismail
Buku Sajak-sajak Goenawan Mohamad dan Sajak-sajak Taufiq Ismail ini merupakan naskah laporan penelitian yang berjudul "Sajak-sajak Goenawan Mohamad dan Sajak-sajak Taufiq Ismail", yang disusun oleh tim peneliti Dami N. Toda dan Pamusuk Nasution dalam rangka kerja sama dengan Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta tahun 1975/1976
Sejarah sosial daerah Daerah Istimewa Yogyakarta
Buku ini merupakan usaha menulis Sejarah Sosial Kota
Yogyakarta dengan mobilitas sosialnya sejak awal abad 20-an. Disadari oleh penulis bahwa menggambarkan pengertian mobilitas sosial atas Kota Yogyakarta tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan batasan pengertian kota sendiri masih belum sepenuhnya benar mengingat bahwa sejarah pertumbuhan kota di Asia Tenggara relatif masih muda. Menurut Daldjoeni hakekat kota adalah adanya mobilitas sosial dengan taraf individualisasi yang tinggi serta sekularisasi
FIGURATIVE LANGUAGE IN POETIC GOENAWAN MOHAMAD’S CATATAN PINGGIR
AbstractCatatan Pinggir is one of essay forms which belong to journalistic writing. The objectives of the study are to describe the linguistic pattern used by Goenawan Mohamad in Catatan Pinggir that creates a certain kind of poetic language and to describe the poetic language in Catatan Pinggir. The sample is derived from various collections of Goenawan Mohamad’s Catatan Pinggir 2 which was published in Tempo magazine. It consists of five essays, namely, Dari 17 Oktober, Gajah Amerika, 1,600 Bangau, Politik sebagai Panglima, and Ming. The result shows that the linguistic patterns appear in each essay of Goenawan Mohamad’s Catatan Pinggir. The study of Catatan Pinggir proves that the most various linguistic pattern using concrete word in each essay, then imaginative, suggestive, semantic deviation and register, respectively. While the most various poetic language used comparison, personification, hyperbola, metaphor, synecdoche and irony, respectively.This proves that author in presenting news fact in Catatan Pinggir is more positioning himself as a literary man than as a journalist.AbstrakCatatan Pinggir merupakan salah satu bentuk esai yang masuk dalam kategori penulisan jurnalistik.Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pola linguistik yang digunakan oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir yang menciptakan satu jenis bahasa puitis yang secara estika menjadikan karya ini menjadi satu kesatuan artistik secara menyeluruh/terpadu.Penelitian ini bersifat deskriptif dan kualitatif menggunakan pendekatan berbasis bahasa dan jurnalistik sastra. Sample diperoleh dari berbagai kumpulan Catatan Pinggir 2 Goenawan Mohammad yang dipublikasikan dalam majalah Tempo. Sampel tersebut terdiri dari lima yakni dari 17 Oktober, Gajah Amerika, 1,600 Bangau, Politik Sebagai Panglima dan Ming. Hasil menunjukkan bahwa pola linguistik tampak terbentuk di setiap esainy tersebut.Penelitian Catatan Pinggir yang menggunakan linguistic-based approach membuktikan bahwa pola linguistik terbanyak digunakan adalah kata kongkrit dalam setiap esai, kemudian imajinasi, sugestif, penyimpangan semantik dan register, secara berurutan. Sementara penggunaan terbanyak bahasa puitik adalah komparasi, personifikasi, hiperbola, metapora, sinekdot and ironi, secara berurutan.Ini terbukti bahwa penulis dalam menunjukkan fakta-fakta berita melalui Catatan Pinggir lebih memposisikan dirinya sebagai seorang penyair dibandingkan sebagai seorang jurnalis
Gaya Kepemimpinan dan Gaya Manajerial Goenawan Mohamad di Majalah Tempo : Sebuah Studi Biografis
Penelitian ini berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan: bagaimanakah kepemimpinan dan gaya manajemen Goenawan Mohamad selama bekerja di TEMPO. Dalam rentang waktu mulai mendirikan majalah TEMPO hingga berkembang dan mengalami pembredelan, namun dapat terbit kembali dan sampai akhirnya Goenawan memberikan jabatannya kepada Bambang Harymurti. Untuk menganalisis masalah tersebut, digunakan metode studi biografi dengan dibantu teori psikologi industri dan organisasi yang dimiliki oleh penulis. Dengan berdasarkan penggunaan data historis, skripsi ini terbagi dalam lima bagian. Bab pertama, berusaha membantu pembaca untuk mengerti konsep pemikiran dan masalah yang diangkat oleh penulis. Bab kedua, menggambarkan konteks Indonesia, dunia bisnis, industri pers, dan majalah TEMPO ketika Goenawan Mohamad mulai mendirikan majalah ini. Penggambaran konteks dibuat untuk menunjukkan adanya keterkaitan dalam keseluruhan penjelasan. Bab ketiga bercerita tentang asal-usul Goenawan. Bab keempat berisi analisa penulis dalam usahanya memahami perilaku Goenawan selama berkarya. Gayanya memimpin, me-manage, dan mengambil keputusan untuk menyelesaikan suatu masalah. Dan bab terakhir berisi kesimpulan akan hal-hal yang didapat dan dipahami oleh penulis. Penekanan pertama, Goenawan Mohamad adalah learning leader. Dia selalu belajar untuk memaknai masalah yang dihadapi, dengan memperhitungkan situasi yang ada (contingency leadership). Hal ini membentuk majalah TEMPO sebagai organisasi yang terus belajar (learning organization). Kedua, Goenawan lebih sering memformulasikan masalah yang dihadapinya berdasarkan pengalaman pribadi, sehingga keputusan pribadi lebih sering digunakannya sebagai solusi masalah yang ada. Meskipun akhirnya, keputusan organisasi banyak digunakan. Sebab keputusan pribadi pernah menghasilkan tindakan tegas karyawan yang meninggalkan majalah TEMPO
Pigura tanpa penjara : Esai-esai seni rupa
Buku Pigura Tanpa Penjara : Esai-Esai Seni Rupa penulisannya berdasarkan pengalaman dari penulis yaitu Goenawan Mohamad.Penulis merasa tergugah untuk menulis kritik lantaran melihat fenomena para seniman, khususnya seniman muda yang membutuhkan panduan untuk menuangkan bakatnya. Penulis juga mengingatkan, para seniman muda jangan takut dengan proses. Karena, proses kreatif dirasakannya merupakan sebuah proses pematangan berfikir
Goenawan Mohamad dan Pers Indonesia (Studi Communication History berbasis Performance Research dalam Eksibisi Sadajiwa
Goenawan Mohamad adalah sosok tokoh pers di era yang menjunjung tinggi kebebasan dalam berbicara. Penelitian ini menggunakan communication history untuk menjelaskan fenomena sejarah tokoh pers dan nilai-nilai kebebasan yang diangkat oleh Goenawan Mohamad. Goenawan Mohamad sebagai pemilik perusahaan media yang bernama Tempo, kerap melakukan sindiran-sindiran maupun kritik terhadap pemerintahan. Dalam kasus ini adalah rezim Orde Baru.
Performance research adalah bentuk penelitian kritis dalam ranah seni yang digunakan untuk memproduksi segala aktivitas sebagai media komunikasi. Performance research merupakan sebuah metode yang meletakkan kritis terhadap keberlangsungan imajinasi sosial dan budaya yang diimplementasikan melalui praktik kerja pengalaman individu. Penelitian ini menggunakan media seni yang berupa seni visual, puisi, teater, dan lagu sebagai bentuk manifestasi performance research. Penelitian ini dipergunakan untuk meliterasi masyarakat mengenai tokoh pers khususnya Goenawan Mohamad dalam perspektif non-barat.
Hasil penelitian ini menenjukan bahwa masih sedikitnya masyarakat yang mengeneal Goenawan Mohamad sebagai seorang tokoh pers yang memperjuangkan kebebasan. Data ini didapatkan peneliti dari hasil wawancara yang telah dilakukan dengan beberapa pengunjung yang datang. Hadirnya Sadajiwa sebagai bentuk praktik metode performance research menjadi ajang untuk memperkenalkan tokoh pers khususnya Goenawan Mohamad dengan nilai-nilai kebebasan yang ia perjuangkan
- …
