1,724,457 research outputs found
Strategi Kepala Madrasah dalam Pemberdayaan Guru PAI di Madrasah Ibtidaiyah MI AL Ghozali Panjerejo, Rejotangan Tulungagung
Kata Kunci: kepala madrasah, pemberdayaan guru PAI
Penelitian dalam skripsi ini dilatar belakangi oleh sebuah anggapan bahwa kegiatan pemberdayaan dianggap pilihan paling tepat dalam upaya menjawab tantangan zaman, dan kepala madrasah sebagai pemimpin lembaga pendidikan harus mempunyai strategi yang tepat dalam pemberdayaan guru PAI
Fokus penelitian dalam penulisan skripsi ini, “1) Bagaimana pendekatan kepala madrasah dalam pemberdayaan guru PAI di MI AL Ghozali Panjerejo, Rejotangan Tulungagung? 2) Bagaimana motivasi kepala madrasah dalam pemberdayaan guru PAI di MI AL Ghozali Panjerejo Rejotangan Tulungagung?”
Penelitian ini berdasarkan lokasi sumber datanya termasuk kategori penelitian lapangan, dan ditinjau dari segi sifat-sifat data termasuk dalam penelitian kualitatif, berdasarkan pembahasannya termasuk penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisa data dilakukan mulai dari reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data dilakukan perpanjangan kehadiran, triangulasi, pembahasan teman sejawat dan klarifikasi dengan informan.
Pembahasan hasil penelitian, Strategi kepemimpinan kepala madrasah dalam pemberdayaan guru PAI di MI AL Ghozali Panjerejo, Rejotangan Tulungagung adalah: 1) pendekatan kepemimpinan kepala madrasah dalam pemberdayaan guru PAI di MI AL Ghozali Panjerejo, Rejotangan Tulungagung.
Dalam kepemimpinannya, kepala MI AL Ghozali Panjerejo menentukan tipe atau gaya kepemimpinan berdasarkan dengan melihat situasi dan kondisi yang dihadapi oleh kepala madrasah. Dengan arti kepala madrasah dalam menggunakan gaya atau tipe kepemimpinan disesuaikan dengan situasi yang dihadapi. Dalam pemberdayaan guru PAI, kepala MI AL Ghozali Panjerejo, ketika bertindak selalu melihat keadaan dan kemampuan guru PAI. Kepala madrasah juga selalu berusaha melakukan pendekatan secara personal. Kepala madrasah selalu bertanya tentang keberadaan mereka seputar kompetensi akademik, dan tanggap akan keberadaan para guru PAI. 2) Kepala madrasah memberikan motivasi kepada guru PAI untuk meningkatkan kinerjanya Kepala madrasah sebagai motivator memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada guru PAI dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif, dan penyediaan pusat sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar. Peran tersebut kemudian dimanifestasikan dalam upaya strategis pemberdayaan guru PAI
di MI AL Ghozali Panjerejo yaitu: a) kepala madrasah memberikan kesempatan pada guru untuk meningkatkan profesinya melalui penataran, diklat, seminar dan lokakarya, b) kepala madrasah memberikan dorongan dan kesempatan kepada guru PAI untuk melanjutkan studi, c) kepala madrasah memperhatikan rencana kebutuhan akan guru secara jelas, d) kepala madrasah memberikan motivasi kepada guru PAI untuk meningkatkan produktifitas kerjanya, e) memperhatikan kesejahteraan guru, f) melaksanakan kerjasama dengan guru dan perusahaan atau lembaga lain dalam pelaksanaan program madrasah, g) pembinaan disiplin guru. Strategi yang telah dilakukan kepala MI AL Ghozali Panjerejo, dapat dipahami bahwa kepala madrasah telah mempunyai usaha yang kuat dalam melakukan pemberdayaan guru PAI, dan terkandung makna bahwa upaya yang telah dilakukan kepala madrasah sebagian telah mencakup kepada pengembangan potensi atau sumber daya manusia dengan berusaha menciptakan situasi dan kondisi yang nyaman dan hubungan kerjasama yang baik dan seimbang dengan para guru atau lembaga terkait
SEJARAH DAN KARAKTERISTIK MANUSKRIP AL-QUR’AN KH. IBROHIM GHOZALI (KAJIAN FILOLOGI)
Penyalinan al-Qur’an secara tradisional diperkirakan berlangsung pada
abad ke-19 diberbagai pelosok Nusantara, meliputi beberapa wilayah penting
masyarakat Islam pada masa lalu. Kegiatan menyalin Al-Qur’an tersebut dilakukan
sebagai bentuk semangat penyebaran agama Islam saat itu. Al-Qur’an yang di salin
di Nusantara berjumlah sangat banyak, baik yang ditemukan maupun yang belum
ditemukan. Karya-karya salinan al-Qur’an tersebut, diantaranya terdapat di daerah
Babadan, Ponorogo, Jawa Timur yaitu al-Qur’an salinan KH. Ibrohim Ghozali.
Penelitian terhadap mushaf tersebut akan memberikan pengetahuan tentang
bagaimana sejarah penulisan al-Qur’an di Dusun Bedi, Desa Polorejo, Kecamatan
Babadan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Mushaf al-Qur’an salinan KH. Ibrohim Ghozali sebagai kajian penelitian,
penulis mengungkap dan menjawab karakteristik yang ada dalam mushaf salinan
tersebut, dan juga sejarah penulisan al-Qur’an di Dusun Bedi, Ponorogo.
Karakteristik mushaf al-Qur’an salinan KH. Ibrohim Ghozali dapat diketahui secara
mendalam, setelah peneliti melakukan wawancara mendalam (indept interview)
untuk menggali data dari seorang informan kunci (key informan) menyangkut
proses penulisan mushaf atau hal-hal khusus berkaitan dengan sejarah penulisan alQur’an.
Selain itu, peneliti juga menggunakan pendekatan ilmu filologi metode
naskah tunggal, mengingat mushaf yang ditemukan hanya berjumlah satu.
Menggunakan metode naskah tunggal edisi kritis, yakni menampilkan kesalahankesalahan
naskah
dan
menyertakan
pembenarannya.
Mushaf al-Qur’an salinan KH. Ibrohim Ghozali memiliki karakteristik
sebagai berikut; pertama, mengaplikasikan rasm Usmani secara utuh, meskipun
kasus tertentu terdapat penulisan rasm dari inisiatif penyalin naskah. Kedua, tidak
memberikan tanda sifir, imalah, isymam dan tasyhil. Ketiga, mempunyai bulatan
tanpa nomor pada setiap akhir ayat. Keempat, memiliki scholia yang bervariatif
seperti tanda awal juz, hizib, maqra’, nomor halaman dengan angka Arab, lafadz
bantu berupa potongan ayat setelahnya, nomor juz menggunakan lafadz Arab,
potongan lafadz setiap awal juz, nama surat berbahasa Arab dan rujukan cara
membaca imam qiraat. Kelima, memberikan tanda makki, madani, syami kufi dan
bashri pada ayat tertentu. Keenam, memberlakukan tanda nun idzhar. Ketujuh,
setiap awal surat terdapat persegi berisi nama, turun surat, jumlah ayat, jumlah
kalimat, jumlah huruf dan jumlah ruku’. Kedelapan, terdapat rujukan cara baca
qiraat imam arba’ah asyarah meskipun teks dalam mushaf merupakan qiraat
riwayat ‘Ashim ‘an Hafsh
NALURI KEMASYARAKATAN DALAM PENCIPTAAN KUMPULAN CERPEN SONG OF SEPTEMBER KARYA MALIM GHOZALI PK.
Pengarang kreatif, Malim Ghozali Pk terkenal dalam genre cerpen dan novel yang kebanyakan ideanya terhasil semasa mengembara di luar negara. Sumbangannya diiktiraf hingga pernah menerima Anugerah SEA Write Award dari kerajaan Thailand. Bagaimanapun, karya kreatif Malim Ghozali Pk tidak diberi perhatian oleh mana-mana pengkaji untuk dianalisis secara ilmiah. Justeru, situasi ini menjadi permasalahan yang mendorong kepada kajian ini dibuat dan menggunakan Teori Sastera Perjalanan atau Pengembaraan dan Model Proses Kreatif Teksnaluri. Kajian ini bertujuan mengkaji naluri kemasyarakatan disebabkan pengembaraan yang mendorong pengarang Malim Ghozali PK menghasilkan cerpen dalam Kumpulan Cerpen Songs of September. Kumpulan cerpen ini mengandungi 20 buah cerpen, namun hanya enam sahaja cerpen dianalisis. Kajian ini menggunakan kaedah kualitatif, iaitu kajian kepustakaan dan analisis teks melalui Teori Sastera Perjalanan atau Pengembaraan dan naluri kemasyarakatan berdasarkan Model Proses Kreatif Teksnaluri. Hasil dapatan kajian menunjukkan bahawa Malim Ghozali Pk adalah seorang pengarang kreatif yang memaparkan naluri kemasyarakatan dalam menghasilkan cerpen melalui pengalaman yang diperolehnya ketika melakukan pengembaraan. Cerpen yang bertajuk “Aku diSini, Sayang”, “ꓕ!”, “Tika Hujan di Bogor”, “Di Kantor Suryadi”, “Nyet” dan “Song Of September” menjadi fokus utama pengkaji untuk mencungkil naluri kemasyarakatan pengarang Malim Ghozali PK. Secara keseluruhannya, boleh dikatakan bahawa cerpen Malim Ghozali PK ini mencerminkan kehidupan yang pernah dilalui ketika pengarang melakukan pengembaraan di luar negara.
The creative author, Malim Ghozali Pk which is well known in genre of short stories and novels created during his journey to other countries. The contribution has been recognized as he received the SEA Write Award from the government of Thailand. However, the creative writing of Malim Ghozali Pk are not catching any attention to any researcher for academic purpose. Thus, this situation become a problems that driven to the author Malim Ghozali PK to create a short stories in "Songs of September". These short stories contained 20 short stories, however there are only six has been analyzed. This research will use the qualitative type of method, which is the library research and analyzing texts through the Theory Journey or Adventure of Literature and society instinct based on the Model of Process Creative Instinctive Text. The findings of this study indicates that Malim Ghozali Pk is the creative author that shows his society instinct in creating the short stories based on his past experience that he gain during his journey. The short story entitled "Aku di Sini Sayang", ''Tika Hujan di Bogor'', Di Kantor Suryadi”, “Nyet” dan “Song Of September” become the main focus for the researcher to find the society instinct in Malim Ghozali Pk himself. All in all, it can be said that the short stories of Malim Ghozali PK reflecting his life during the journey to other countries. 
Reading Hizb Ghozali In Boarding School Luqmaniyyah Yogyakarta
Abstract
Reading Hizb Ghozali in Pondok Pesantren Luqmaniyyah Yogyakarta Hizib Ghozali is one of the many benefits of Hizb. As for the practice, Santri must do the Tirakat. Besides, Tirakat of Santri is obliged to do readings Hizib Ghozali every day. If Santri violates will be punished by the caretaker of Pesantren Luqmaniyyah Yogyakarta. By using Karl Mannheim's Sociology of knowledge theory, it is hoped that this research could reveal meaning the Santri in the reading of Hizb Ghozali. Karl Mannheim discusses in detail the behavioural behaviour and meaning of human behaviour. Karl Mannheim distinguishes between three different meanings in social action, i.e. objective, expressive and documentary meaning. As for the results of this research, the objective meaning contained in the reading Hizb Ghozali in Pondok Pesantren Luqmaniyyah is reading Hizib Ghozali is a form of Ijazahan from Kyai Na'im as caretaker of Pesantren Luqmaniyyah, besides, the recitation of Hizb Ghozali believed to grant all the Hajat desired. The meaning of expressive is the recitation of Hizb Ghozali performed by the students because of the sense of Ta'dzim on the teacher and can be trusted to give many benefits. The meaning of the documentary in the reading of Hizb Ghozali is the recitation of Hizb Ghozali in Pondok Pesantren Luqmaniyyah Yogyakarta is a practice that can be a thorough culture..
Keywords: Hizib Ghozali, Karl Mannheim's, Sociology of knowledge theory.
Abstrak
Membaca Hizib Ghozali dalam Pondok Pesantren Luqmaniyyah Yogyakarta, Hizib Ghozali adalah salah satu banyak manfaat dari Hizib. Adapun prakteknya, Santri harus melakukan Tirakat tertentu. Selain itu, Tirakat Santri wajib melakukan pembacaan Hizib Ghozali setiap hari. Jika Santri melanggar akan dihukum oleh penjaga Pesantren Luqmaniyah Yogyakarta. Dengan menggunakan Karl Mannheim tentang ilmu pengetahuan teori, diharapkan bahwa penelitian ini dapat mengungkapkan makna Santri dalam membaca Hizb Ghozali. Karl Mannheim membahas secara rinci perilaku dan makna perilaku manusia. Karl Mannheim membedakan antara tiga makna berbeda dalam aksi sosial, seperti makna, ekspresif dan dokumenter. Adapun hasil penelitian ini, tujuan yang terkandung dalam membaca Hizb Ghozali di Pondok Pesantren Luqmaniyyah adalah bentuk dari Ijazahan dari Kyai Na'im sebagai pengurus dari Pondok Pesantren Luqmaniyyah. Makna ekspresif pembacaan Hizib Ghozali dilakukan oleh Santri karena rasa takdzim pada Kyai dan dapat dipercaya untuk memberikan banyak keuntungan. Makna dari film dokumenter dalam pembacaan dari Hizib Ghozali adalah pembacaan dari Hizb Ghozali di Pondok Pesantren Luqmaniyyah Yogyakarta adalah latihan yang dapat menjadi budaya menyeluruh.
Kata Kunci : Hizib Ghozali, Karl Mannheim, Sosiologi Teori Pengetahuan
KODE ETIK PENDIDIK DALAM PERPEKTIF IMAM GHOZALI
Abstrak: Guru merupakan sosok sebagai pembimbing dalam segala aspek baik dalam aspek spiritual, sosial, akhlak, dan lain-lainnya. Maka kalangan masyarakat banyak menaruh harapan lebih pada sosok guru, untuk kesuksesan pada anak-anak yang dititipkan pada sang gurunya. Oleh karenanya seorang guru haruslah mempunyai hukum sebagai landasan dalam menjalankan kehidupannya. Salah satu ulama yang memberikan hukum bagi kalangan pendidik adalah Imam Ghozali. Penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan, dengan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang menggunakan teknik pengumpulan data meliputi pada buku, journal, kitab, internet, serta bacaan-bacaan yang relevan pada judul. Salah satu hukum yang dikemukakan oleh Imam Ghozali adalah kode etik pendidik. Imam Ghozali, memebrikan kode etik sebanyak delapan yang harus diaplikasikan oleh pendidik meliputi; menunjukkan, memberikan kasih sayang kepada peserta didiknya, meneladani pada prilaku, serta sifat-sifat Rosulullah, selalu memberikan nasihat pada peserta didiknya, memberikan pangajaran dengan cara alus, serta mencegah peserta didiknya dari perbuatan keji dengan akhlak yang lembut, tidak diperkenankan untuk melecehkan pada mata pelajaran diluar kompetensi yang dimilikinya, harus dapat mempersingkat pada pelajaran menurut tingkat pemahaman pada peserta didiknya, untuk peserta didiknya yang tingkat pemahaman yang rendah, maka guru memberikan pelajaran yang jelas dan sesuai. Sehingga seorang guru haruslah berkomitmen untuk mengamlakan ilmunya sepanjang hidupnya, serta perkataannya tidak membohongi pada perbuatannya.?Kata Kunci: Kode Etik, Pendidikan, al-Ghazali?Abstract: The teacher is a figure as a guide in all aspects, both spiritual, social, moral, and others. So many people put more hope in the figure of the teacher, for the success of the children entrusted to the teacher. Therefore a teacher must have law as a foundation in carrying out his life. One of the scholars who gave law to educators was Imam Ghozali. The author uses the library research method, with a qualitative approach, namely research that uses data collection techniques including books, journals, scriptures, the internet, as well as relevant readings on the title. One of the laws put forward by Imam Ghozali is the code of ethics for educators. Imam Ghozali, gave eight codes of ethics that must be applied by educators including; showing, giving love to their students, emulating the behavior and characteristics of the Prophet, always giving advice to their students, giving lessons in a nice way, and preventing students from heinous acts with gentle morals, not allowed to harass the eyes lessons beyond their competence, must be able to shorten the lesson according to the level of understanding of the students, for students who have a low level of understanding, the teacher provides clear and appropriate lessons. So that a teacher must be committed to practicing his knowledge throughout his life, and his words do not lie to his actions.?Keyword: Code of Ethics, Education, al-Ghazal
MODERNISASI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN AL-GHOZALI BOGOR
AbstrakKemajuan zaman sangat berpengaruh terhadap sistem dan model pendidikan. Perubahan dan pengembangan sistem pendidikan pesantren yang semakin lama semakin terbuka dengan pola dari luar, untuk menjawab tuntutan zaman. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan menjawab permasalahan: Apakah kebijakan Pondok Pesantren Modern al-Ghozali Bogor sesuai dengan kebutuhan pendidikan sekarang dan bagaimana Pondok Pesantren Modern al-Ghozali Bogor. Penulis menganalisis mengenai Pondok Pesantren Modern al-Ghozali. Hasil penelitian yang dilakukan di Pondok Pesantren al-Ghozali Bogor meliputi pengembangan aspek kependidikan dengan memasukkan pelajaran umum di pesantren, memadukan dua sistem pendidikan tradisional dan modern, dan manajemen pesantren. Modernisasi yang dilakukan menjadikan pondok pesantren dapat melahirkan generasi sumber daya manusia yang memadai dalam menyikapi perkembangan zaman
Pendidikan Islam Ferspektif Imam Al Ghozali
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pendidikan islam menurut Imam Al Ghozali dan dapat menerapkannya dalam proses pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif studi kepustakaan dengan mengumpulkan sumber data primer berupa buku, jurnal dan artikel mengenai topik pendidikan islam menurut Imam Al Ghozali. Hasil dari penelitian bahwa pendidikan islam menurut Imam Al Ghozai yaitu menghilangkan ahklak buruk dan menanamkan ahklak yang baik yang dilakukan dengan sistematis untuk melahirkan perubahan pada tingkah laku manusia dan sentral dalam pendidikan menurut Imam Al Ghozali yaitu hati
KECERDASAN EMOSIONAL REMAJA DI SMPIT AL-GHOZALI
Kecerdasan emosional ialah keterampilan individu yang bisa memahami perasaannya dan sekitarnya, kemampuan stimulus dalam diri, bertahan terhadap frustasi, dorongan hati, serta kemampuan mengolah emosi dalam diri maupun dengan lingkungan sekitar. Faktor internal dan eksternal merupakan faktor-faktor yang bisa memengaruhi tingkat kecerdasan emosional pada masa remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecerdasan emosional remaja di SMPIT Al-Ghozali Jember. Pada artikel ini memakai metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskripsi analitik dengan Survey Research. Jumlah anggota keseluruhan dalam penelitian ini sejumlah 329 orang, dengan pengambilan sampel sebesar 115 remaja di SMPIT Al-Ghozali Jember menggunakan metode pengambilan simple random sampling. Pengambilan data menggunakan angket Schutte Emotional Intelligence Scale (SEIS) yang memuat 30 pernyataan positif (favorable) dan 3 pernyataan negatif (unfavorable). Penilaian kriteria kecerdasan emosional pada artikel ini dibedakan menjadi dua, ialah tinggi =100-165 rendah =33-99. Pada hasil penelitian ini diketahui frekuensi kecerdasan emosional remaja dengan nilai tinggi ialah sebesar 107 responden (93,04%) dan tingkat kecerdasan emosional rendah sebesar 8 responden (6,96%). Kesimpulan dari penelitian ini ialah kecerdasan emosional remaja di SMPIT Al-Ghozali Jember diketahui frekuensi kecerdasan emosional remaja dengan nilai tertinggi adalah sebesar 107 responden (93.04%). Data tersebut menunjukkan tingkat kecerdasan emosional dengan nilai tinggi merupakan kecerdasan emosional yang paling dominan bagi remaja di SMPIT Al-Ghozali Jember sehingga remaja dapat mengoptimalkan berpikir positif pada saat menangani situasi dan menangani tekanan yang terjadi di dalam hidupnya
- …
