1,720,969 research outputs found

    ANTARA ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) DAN MORAL: RELEVANSI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

    Full text link
    Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah memberikan dampak besar pada berbagai bidang, termasuk pendidikan. AI dapat membantu dalam menyediakan pengalaman belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Namun, penggunaan teknologi ini juga menimbulkan tantangan, terutama dalam hal moral siswa yang penting untuk perkembangan karakter siswa. Oleh karena itu, pengintegrasian nilai-nilai moral dalam kurikulum berbasis AI sangat penting untuk memastikan bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka untuk menggali pemahaman mendalam tentang penerapan AI dalam pendidikan dan penguatan pendidikan karakter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun AI dapat memberikan kemudahan dalam pembelajaran, penguatan pendidikan karakter melalui nilai-nilai moral perlu diterapkan untuk menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan pengembangan etika. Oleh karena itu, penting bagi guru, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya berteknologi canggih tetapi juga berbasis pada nilai-nilai moral yang kuat

    PENGARUH PENGGUNAAN METODE GROUP INVESTIGATION (GI) DAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PRESTASI BELAJAR SEJARAH DITINJAU DARI METAKOGNITIF SISWA KELAS XI-IIS SMA NEGERI DI KABUPATEN ONOROGO TAHUN AJARAN 2014/2015

    No full text
    The purpose of this study to analyze (1) The influence differences of the use of group investigation and think pair share metods toward history learning achievement (2) The influence differences of the students high and low metakognition toward history learning achievement (3) The influence of interaction between learning methods and students metakognition toward history learning achievement. The population in this study is the students of class XI Social of SMA Negeri in Ponorogo Regency. The Samples of research was the XI Social of SMAN 1 Jetis as control class and the XI Social of SMAN 1 Sampung as experiment class. The sampling technique employed was Multi Stage Cluster Random Sampling. The research method use in this study is an experimental method with 2x2 factorial design. The data obtained from the analysis of the use of group investigation and think pair share metods, students metakognition and history learning achievement is analyzed using two-way Anava at significance level α = 0,05. THe results of this study are: (1) There are differences in the influence of the use of group investigation and think pair share metods toward history learning achievement. The result of Anava test showed Fhitung 5,024 > Ftabel 4,00. Students learning achievement of history using group investigation method is better than student lerning achievement of history using think pair share. Achievement of history using group investigation obtains an average (mean=75,46) and achievement of history using think pair share obtains an average (mean=67,67). (2)There are differentces in the influence of students high and low metakognition toward history learning achievement. The result of Anava test showed Fhitung 4,910 > Ftabel 4,00. Achievement of students learning history with high metakognition is better than with achievement of students learning history with low metakognition. At the hight metakognition obtains an average (mean=75,27) while low metakognition obtains an average (mean=67,62). (3) There is no influence in interaction of learning methods and students metakognition. The result of Anava test showed Fhitung 0,318 < Ftabel 4,00. Keywords: Learning Method, Student Metakognition, History Learning Achievemen

    THE ESTABLISHMENT OF GEREJA KRISTEN JAWI WETAN (GKJW) TUNJUNGREJO YOSOWILANGUN SUBDISTRICT LUMAJANG

    Full text link
    Tunjungrejo is one of the unique village located in the region of Lumajang. The uniqueness of the village can be seen in the presence of Protestant religion. Other uniqueness are their house of worship, namely Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Brontodiwirjo has an important role to the development of Protestant in Tunjungrejo. Brontodiwirjo as forest loggers Tunjungrejo is also a teacher of the gospel in this region. Along Tunjungrejo forest clearing, many newcomers who are Christians and non Christians. To maintain the existence of Protestant Christianity, Brontodiwirjo as forest loggers Tunjungrejo apply the rule that people who want to settle in the region Tunjungrejo be Protestant. From this Tunjungrejo society formed by the belief in one religion. As a result of the continued development of the Protestant Christian church he built a house of worship that is GKJW Tunjungrejo.Keywords: Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Tunjungrejo, Brontodiwirjo

    BERDIRINYA GEREJA KRISTEN JAWI WETAN (GKJW) TUNJUNGREJO KECAMATAN YOSOWILANGUN KABUPATEN LUMAJANG

    Full text link
    Tunjungrejo is one of the unique village located in the region of Lumajang. The uniqueness of the village Tunjungrejo saw in the presence of the religion believed by locals that Protestant religion. The uniqueness of the others is their house of worship, namely East Java Christian Church (GKJW). In its development, Protestant Christianity in Tunjungrejo is the role Brontodiwirjo. Brontodiwirjo as forest loggers Tunjungrejo is also a teacher of the gospel in this region. Along Tunjungrejo forest clearing, many newcomers who are Christians and non-Christians. To maintain the existence of Protestant Christianity, Brontodiwirjo as forest loggers Tunjungrejo apply the rule that people who want to settle in the region Tunjungrejo be Protestant. From this Tunjungrejo society formed by the belief in one religion. As a result of the continued development of the Protestant Christian church, he built a house of worship that is GKJW Tunjungrejo

    Virtual Field Trips: Alternatif Pembelajaran IPS pada Masa Pandemi Covid-19

    Full text link
    Adanya pandemi Covid 19 berdampak pada berbagai sektor bidang kehidupan manusia salah satunya adalah bidang pendidikan. Oleh karena itu, keberlangsungan pendidikan harus diperhatiakan secara serius agar siswa tetap belajar meskipun dalam masa pandemi Covid 19. Salah satu terobosan agar siswa tetap belajar yaitu dengan menggunakan gawai yang terkoneksi dengan iternet atau sering disebut dengan pembelajaran online. Dalam pembelajaran online melalui virtual field trips atau karyawisata virtual guru dan siswa dapat mengakses berbagai informasi salah satunya mengenai materi pembelajaran berbasis nilai-nilai tradisi kebo-keboan dalam pembelajaran IPS yang termasuk tema 1. indahnya kebersamaan, subtema keberagaman budaya bangsaku di kelas IV sekolah dasar. Desain implementasi pembelajaran IPS berbasis nilai-nilai tradisi kebo-keboan melalui karyawisata virtual diharapkan dapat mempermudah guru menyampaikan materi pembelajaran berbasis budaya lokal kepada siswa, karena tahap-tahap pembelajaran sudah diuraikan secara jelas dan sistematis

    MENUMBUHKAN KECERDASAN EKOLOGIS SISWA MELALUI GREEN CONSUMER DALAM PEMBELAJARAN IPS

    No full text
    Kecerdasan ekologis tidak hanya memahami dan menghargai alam, tetapi juga menghargai kehidupan itu sendiri. Salah satu indikator kecerdasan ekologis adalah memilih dan membuat keputusan menggunkan barang dengan menjadi konsumen yang cerdas yang bisa kita sebut dengan green consumer. Banyaknya siswa yang belum memiliki kepedulian terhadap lingkungan menjadi masalah yang perlu diperhatikan lebih lanjut. Salah satu solusinya dengan pembelajaran IPS yang harus diimbangi dengan sikap peduli terhadap lingkungan dan keterampilan hidup yang selaras dengan kelestarian alam. Tidak hanya itu dalam pembelajaran IPS guru harus menerapkan model pembelajaran aktif dan kontekstual yang dapat menumbuhkan kecerdasan ekologis siswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah eksploitasi lingkungan harus segera diatasi dengan mensosialisasikan berperilaku ramah lingkungan yang berkaitan dengan kecerdasan ekologis. Untuk mewujudkan hal itu, pemerintah Kabupaten Banyuwangi meluncurkan program Inspektur Cilik yaitu program pengawasan yang dilakukan oleh sesama peserta didik untuk tidak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. Inspektur Cilik dapat diimplementasikan dalam pembelajaran IPS dengan mengintegrasikan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dikembangkan untuk meningkatkan kecerdasan ekologis dengan menganalisis masalah lingkungan yang berada di lingkungan sekitar siswa

    Nilai-Nilai Karakter dalam Cerita Rakyat Banyuwangi Serta Relevansinya Terhadap Pembelajaran Sejarah

    Full text link
    Dalam pembelajaran sejarah kita mengenal istilah tradisi lisan. Tradisi lisan dapat kita temukan salah satunya melalui cerita rakyat. Cerita rakyat yang tergolong dalam tradisi lisan atau bisa disebut juga dengan folklor merupakan pesan verbal yang disampaikan secara turun-temurun dan dari generasi ke generasi. Cerita rakyat Banyuwangi merupakan salah satu cerita rakyat yang ada di Indonesia yang memilki nilai-nilai karakter yang patut kita teladani. Dalam cerita rakyat Banyuwangi yang berjudul Asal–usul Banyuwangi, Mas Ayu Melok dan Joko Wulur banyak nilai karakter yang dapat kita jadikan materi dalam pembelajaran sejarah. Hal ini dapat menjadikan salah satu cara untuk melestarikan cerita rakyat Banyuwangi dibidang pendidikan. Metode penelitian ini menggunakan studi literatur. Penelitian studi literatur berkenaan dengan pengumpulan sumber pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan yang disesuaikan dengan judul penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan mempelajari cerita rakyat siswa dapat membedakan cerita rakyat yang tergolong mitos, legenda atau dongeng. Nilai-nilai karakter yang didapat dalam cerita rakyat Banyuwangi terbagi menjadi dua kategori yakni karakter positif dan karakter negatif. Nilai Karakter positif diantaranya: kerja keras, tanggung jawab, pengabdian, jujur, adil, dermawan, religius, bijaksana, gotong royong. Sedangkan nilai karakter negatif yaitu  mudah terpengaruh, iri, pemberontak, serakah, malas dan acuh tak acuh.

    Taman Siswa: Pemikiran Ki Hajar Dewantara Dalam Tinjauan Historis

    Full text link
    This study aims to explore the history of the Taman Siswa, the development of Taman Siswa and how the government reacted at that time. This study uses historical research methods with several steps, namely: heuristics, criticism, interpretation and historiography. The research results show that: (1). Taman Siswa was founded by Suwardi Suryaningrat or Ki Hajar Dewantara. Taman Siswa plays a role in fostering a sense of Indonesian nationalism. In its educational process Taman Siswa adheres to three mottoes, namely: Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madyo Mangun Karso and Tut Wuri Handayani; (2). The development of Taman Siswa began with the formation of Taman Kanak-Kanak, Taman Anak, Taman Muda, Taman Dewasa, Taman Madya, Taman Guru to Taman Masyarakat; (3). The Dutch colonial government’s reaction to the emergence and development of Taman Siswa turned out to be that the colonial government was trying to obstruct the development of Taman Siswa, but Ki Hajar Dewantara was against it. One of the results of Ki Hajar Dewantara’s struggle was that starting in 1938 all civil servants who sent their children to school, both in subsidized public schools and in private schools, had the same right to child support

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore